Sebagian besar penghuni cafe bersiul-siul menggoda 'cewek' yang baru saja diseret Bunda Meiko. Dan 'cewek' yang dimaksud berusaha mengacuhkan mereka, walau dia malu setengah sekarat dengan keadaannya sekarang. Mukanya mirip warna tomat, stroberi, dan apel (disingkat tobepel) dijadikan satu.
Sebenarnya apa yang dilakukan Bunda Meiko terhadap Gakupo?
Yah... hal yang biasa... mengucir rambut Gakupo menjadi high twintail dengan kucir berhiaskan bunga warna putih. Rambutnya yang panjang itu dibuat mirip rambutnya Teto, muter mirip angin puting beliung, walau nggak lancip di bawah. Ia memakai rok pendek di atas lutut, memperlihatkan kakinya yang ramping.
Ia juga menggunakan kaus kaki putih panjang sampai di bawah lutut dan sepatu vantovel ungu cerah dengan hiasan bunga kecil pada kancingnya Sebagai atasannya yaitu kaos yang nyaris ketat dan tanpa lengan berwarna putih dilengkapi dengan jaket tipis lengan panjang warna ungu. Di lehernya ada kalung mutiara dan tampaknya Bunda Meiko tidak merias wajahnya.
Dan yah, ada satu kenyataan pahit yang menusuk para pelayan perempuan di restoran itu (yang notabene berbadan bagus), yaitu badan Gakupo terlalu uhukseksiuhuk untuk ukuran cowok. Walaupun misalnya Gakupo itu beneran cewek, tetep aja badannya kebagusan. Bahkan wajahnya nggak menunjukkan kalau dia cowok tulen.
Mizki dan Yuuma, sebagai dua makhluk yang dicap sebagai penghuni baru, memiliki ekspresi tidak percaya. Mizki langsung mengabadikan pemandangan di depannya dengan kamera miliknya sementara Yuuma menganga lebar.
Kaito, yang melihat betapa lebar mulut Yuuma, membanting rahang bawah Yuuma ke atas dengan kekuatan yang sama pada saat ia membanting pintu, membuat sariawan Yuuma tergigit keras.
"Hyaa! Kamu ngapa sih?!" Yuuma mendeath glare Kaito.
"Daripada ada lalat masuk ke mulutmu karena mengira itu gua peristirahatan..." Kaito cuek. Yuuma melengos mendengar alasan Kaito.
Setelah itu, satu persatu korban akibat nosebleed parah berjatuhan. Korban pertama yaitu sang pecinta pisang, Len Kagamine. Disusul oleh sesama shota, Piko Utatane dan Oliver. Lalu Usee (alias SeeWoo), Gumo (alias Gumiya), Akaito, Mikuo, Luki, dan cowok-cowok lain. Sementara yang perempuan mengabadikan tiap detik dengan kamera mereka.
Walaupun sebenarnya mereka nggak kalah irinya dengan para pelayan perempuan yang dari tadi nyakar-nyakar aspal saking irinya.
Eh, cowoknya masih ada yang sisa... Yuuma dan Kaito. Ajaibnya Yuuma nggak kehilangan banyak darah walau dia juga nosebleed sedangkan si biru sudah mandi darah. Dan akhirnya, badannya tidak kuat lagi dan ia jatuh ke pangkuan Yuuma.
Sebelum ia gugur, ia menitipkan surat wasiat pada Yuuma.
"Yuuma, sampaikan pesanku pada Kaiko... aku mau dia menyimpan es krim yang tersisa di lemari es. Terimakasih kawan... sampai jumpa... semoga kau selamat dari serangan maut di medan perang ini..." dan dengan itu dia pingsan di pangkuan Yuuma.
"KAITOOOO! Teganya kau membiarkanku jadi satu-satunya cowok di sini..." Yuuma mengguncang-guncangkan badan Kaito kuat-kuat sampai kepala Kaito kejedot pinggiran meja berkali-kali.
"WOY! AKU JUGA COWOK KALI!" Gakupo sewot.
"BOHONG! KAMU CEWEK GITU KOK!" Yuuma menunjuk Gakupo.
"NGGAK! AKU COWOK!"
Mereka mulai berdebat, membuat para zombie bangkit dari kubur dengan wajah sebel karena tidurnya (yang diakibatkan oleh Gakupo) terganggu.
"HOY! APAAN SIH KALIAN TERIAK-TERIAK?!" Piko berteriak setelah bangkit ke kehidupan kedua (?).
"Masalah?" Yuuma dan Gakupo menatap Piko dengan aura pembunuh. Piko langsung ciut nyalinya.
"Aduh... tulang tengkorakku rasanya remuk..." setiap orang menatap Kaito yang mengelus kepalanya yang tadi dibanting-banting Yuuma ke pinggiran meja.
Tiba-tiba Miku menyahut, "Gakupo! Kemarin Kaito udah joget seksi di depan kelas waktu kalian di hukum, sekarang giliranmu!"
"He?" Yuuma memasang wajah bingung sementara Gakupo sudah bersiap untuk mengambil langkah seribu.
Kaito yang ingat langsung menyahut, "Heh, jangan kabur! Nggak adil tau! Masa aku aja yang nerima hukuman nista dan tidak bisa dibenarkan itu?! Itu pelecehan! ITU FITNAH!"
"Fitnah apaan Kai?" Miku sweatdrop.
"Lha emang apaan?" Kaito masang muka herp.
Miku facepalm plus sweatdrop. Ia lupa sama sekali kalau IQ Kaito itu tengkurep jadi dia bisa dikategorikan baka.
"Sudahlah Mik, sodaraku itu kehilangan separuh kemampuan otaknya... percuma kalau kau mau membenarkan kalimatnya tadi..." Akaito nyambung-nyambung. Detik berikutnya ia sudah tidak berbentuk karena diuleg oleh Kaito dan Miku.
Bunda Meiko tiba-tiba berkata (dengan kondisi masih mabuk berat), "Gakuppyonn... anda seharusnya tidak lari dari kewajibannn... cepat anda goyang ngeborrr di sinniii..."
"Sambil nyanyi!" sebuah suara nyeletuk dari belakang. Gakupo melotot ke arah adiknya yang sedang ngakak.
"Yak! Request lagu apa yang harus dinyanyikan Gakupo! Syaratnya satu, harus lagu dangdut ato campursari!" Gakuko berkata setelah mengambil mikrofon. Ia lalu menggusur para pelayan yang ada di dekat sebuah organ nganggur di sudut ruangan.
Gakupo langsung lari menjauh, tapi dihentikan Bunda Meiko yang entah sejak kapan mengikat kalung Gakupo dengan senar pancing yang kuat. Gakupo merasa nafasnya menghilang waktu kalung menyebalkan itu tertarik ke belakang karena Bunda Meiko menarik senar pancingnya.
"Kalau kabur fotomu ini akan terpajang di mading sekolah..." Bunda Meiko mengibaskan selembar foto di depan wajah Gakupo.
Gakupo membelalak kaget melihat foto itu.
"J- j- j- jangan!"
"Kalau begitu, jangan lari..." Bunda Meiko nyengir.
Gakupo nggak punya pilihan lain selain diam sementara yang lain memasang wajah bingung.
Foto apa itu? Mau tau? Oke, Eri jelaskan... *gaya bak profesor* *dilempar bata*
Jadi, itu adalah foto Gakupo di sebuah ruangan di restoran itu, entah ruangan apa itu, tidur di lantai dengan tangan terikat ke atas. Ia baru memakai rok dan kaos tanpa lengan dan rambutnya tergerai bak selimut. Lututnya menempel satu sama lain dan kakinya terbuka selebar seukuran penggaris. Mulutnya diikat dengan selembar kain putih panjang.
Dan dengan keadaan seperti itu, sudah pasti orang yang melihat berpikir dia baru mau dirape.
Dan siapa yang mau foto semacam itu diketahui seantero sekolah, termasuk kepala sekolah, guru-guru, kakak dan adik kelas, dan tamu yang datang ke sana.
Memalukan... sepertinya harga diri Gakupo nggak akan kuat menahan perlakuan seperti itu.
"Bunda Meiko, sebenarnya itu foto apa?" SeeU bertanya sambil menunjuk-nunjuk foto yang dikibas-kibaskan Bunda Meiko di depan wajah Gakupo.
"Rahasia... yang penting kalian cepat tentukan lagunya..." kata Bunda Meiko.
"Eh, aku ada ide lebih bagus! Bagaimana kalau Kaito yang menentukan, kan kemarin dia pake baju yang lebih memalukan daripada Gakupo sekarang!" celetuk Kaiko.
"Tapi kemarin kan aku juga pake baju balet pink!" Gakupo protes, sayangnya suaranya seakan hanyalah angin lalu. Tak ada yang menanggapi. Bahkan mungkin malah tak ada yang mau berbaik hati mendengar.
"Ide bagus, Kaiko! Hoy, Kaito! Lagu apa yang cocok?" tanya Miku.
"Hummm... apa ya..." Kaito benar-benar memutar otaknya. Memerasnya.
Dan itu tandanya Kaito benar-benar menggunakan otaknya kali ini.
"Bagaimana kalau... Jatuh Bangun dari Meggy Z?" Kaito tersenyum aneh.
Gakupo ingin dia tiba-tiba pingsan selama 7 hari, atau tiba-tiba dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Tapi karena sepertinya pada gulungan takdirnya telah diputuskan ia akan sering mendapat pelecehan secara langsung maupun tidak langsung, ia hanya bisa pasrah.
"Eh, kameraku terbawa..." Kaiko berkata, sengaja dikeraskan.
"Sip!" Gakuko mengacungkan jempolnya ke arah sodara Kaito yang mengeluarkan handycam kecil dengan resolusi tinggi sementara Gakupo merasa dunianya hancur seketika. Ia hanya berdoa semoga kameranya tiba-tiba rusak atau meledak (yang pastinya nggak bakal terkabul).
Bunda Meiko menyerahkan mikrofon pada Gakupo dan mencopot senar yang ia ikat pada kalung Gakupo. Bunda Meiko berkata, "ingat... jangan kabur... atau mading sekolah akan dapat tambahan foto..."
Kaiko mengambil posisi strategis yang memudahkannya untuk merekam setiap gerakan Gakupo sementara teman-teman mereka menyingkir. Gakuko menyalakan organ yang sepertinya ditelantarkan itu dan mengecek apakah organ malang itu masih bisa berfungsi.
Dan masih berfungsi.
Setelah mencoba musiknya, Gakuko meraih mikrofonnya dan berkata, "Sodara-sodara, mari kita saksikan penampilan artis yang baru saja naik angkot, Gakupo Kamui!"
'Sialan kau Gakuko' pikir Gakupo.
"Hari ini ia akan membawakan sebuah lagu yang berjudul ..." kata Gakuko lagi, lalu ia memulai musiknya.
Gakupo mengambil nafas, lalu mulai bergoyang ngebor sebentar di depan sambil tersenyum. Sebenarnya itu senyum yang dipaksakan, tapi dimata teman-temannya, itu senyum menggoda. Gakupo mulai bernyanyi.
Jatuh bangun aku mengejarmu
Namun dirimu tak mau mengerti
Kubawakan segenggam cinta
Namun kau meminta diriku
Membawakan bulan ke pangkuanmu
Wajah bengong ditampakkan oleh teman-temannya.
"Aku baru tau suaranya Gakupo itu cukup bagus buat nyanyi yang begituan..." bisik Miku pada Luka, yang dibalas dengan anggukan.
jatuh bangun aku mencintaimu
namun dirimu tak mau mengerti
kutawarkan segelas air
namun kau meminta lautan
tak sanggup diriku sungguh tak sanggup
Gakupo menelan ludah, sudah lama ia tidak menyanyi lagu penuh vibrato. Entah dia memang menyukai atau apa, Gakupo tetap melanjutkan menyanyi dan bergoyang sana-sini. Sesekali ia memutar-mutar dan bermain-main dengan kabel mikrofon.
sudah tahu luka di dalam dadaku
sengaja kau siram dengan air garam
kejamnya sikapmu membakar hatiku
sehingga cintaku berubah haluan
Kaito tampak menikmati nyanyian Gakupo. Yuuma sempat heran melihat si biru di sebelahnya yang mulai komat-kamit ikutan nyanyi. Yuuma makin bengong ketika akhirnya Kaito menyambar mikrofon lalu jadi suara dua dan ikut goyang di sebelah Gakupo.
Gakupo mengangkat mikrofonnya lalu bergoyang ngebor. Sebelum memasuki bait berikutnya, Kaito membuang mikrofonnya lalu mengamalkan lagu sepiring berdua yang telah diamandemen oleh entah siapa menjadi 'semikrofon berdua' dengan Gakupo dengan posisi berhadap-hadapan.
percuma saja berlayar
kalau kau takut gelombang
percuma saja bercinta
kalau kau takut sengsara
Suasana jadi makin asyik waktu Gakupo dan Kaito adu goyang dan hampir semua penonton di sana berteriak, "eeeek... YA!"
Akhirnya lagu selesai dinyanyikan. Gakuko lari ke sebelah Gakupo dan Kaito. Secara serempak, mereka menunduk hormat seperti habis melakukan pertunjukan sungguhan di panggung. Tepuk tangan meriah terdengar di seluruh penjuru ruangan.
Kaiko meraih mikrofon lalu berkata, "bagi yang ingin memesan video duet maut Gakupo dan Kaito silahkan menulis nama dan jenis video yang ingin di pesan. Ada video kualitas pas-pasan, high quality, high definition, dan VIP."
"Bagi yang memesan VIP mendapat bonus~" Bunda Meiko menambahkan sambil menyiapkan sebuah buku dan bolpoin. Dalam sekejap, terjadi sebuah antrian di depannya.
Gakupo? Entah kenapa dia malah cuek bebek. Dan ia bahkan tidak mencoba untuk mengenyahkan pakaiannya. Dengan santai ia kembali ke tempat duduknya di sebelah Yuuma, menggerai rambutnya dan berusaha untuk meluruskannya kembali dengan air dan sisir. Kaito membantu menyisir bagian belakangnya.
Dan fotografer beraksi kembali. Plus kameramen satu, bedanya yang pegang kamera bukan Kaiko lagi karena Kaiko sudah terlalu terbiasa dengan kebiasaan Kaito untuk menyisir rambut Gakupo.
Yuuma (karena nggak ngerti mau apa) ikut membantu meluruskan rambut Gakupo sambil mencoba untuk menghiraukan jepretan kamera. Dan akhirnya mereka bertiga sukses meluruskan angin puting beliung karya Bunda Meiko dan melanjutkan makan, masih cuek bebek dengan para fotografer yang beraksi.
"Ah iya, Kaiko! Ntar aku dikasih lho!" Kaito menunjuk-nunjuk Kaiko yang sedang sibuk mencatat.
"Iya iya... Gakupo sekalian nanti!" Kaiko balas nunjuk-nunjuk dengan pulpen, matanya masih lekat ke kertas di depannya.
"Heh, aku juga lho..." Gakuko nyeletuk sambil mengayun-ayunkan flashdisk.
"Ngapain kamu bawa-bawa flashdisk?" Gakupo melirik, "dan itu flashdisk-ku pula..."
"Oh, ini..." Gakupo menunjuk flashdisk di tangannya, "aku tadi minta video rekaman CCTV..." katanya sambil menunjuk CCTV di sudut. "CCTVnya mengarah pas lurus dengan TKP tumpukan tadi... aku baru sadar waktu nunduk di depan bareng kalian tadi, dan berhubung fotonya tidak selamat... yah... kau tau lah..." Gakupo dan Yuuma langsung keseleg bebarengan.
"HOI!" Yuuma hampir-hampir saja mau melabrak Gakuko ketika suara Gakupo menghentikan aksinya.
"Yasudah deh... kalau itu mau kalian, mau diapain terserah..."
Berpasang-pasang mata menatap Gakupo dengan pandangan nggak percaya kecuali Bunda Meiko yang justru tertawa setan menikmati kemenangannya.
"Gakupo... kamu nggak di cuci otak sama Bunda Meiko kan?" Kaito bertanya dengan ekspresi horor.
"Nggak kok..." Gakupo menjawab dengan enteng sementara Gakuko yang melihat gelagat Gakupo hanya ngikik geli.
'Pasti dia diancam Bunda Meiko dengan sesuatu yang bisa merusak imejnya sebagai cowok...' batin Gakuko sambil (masih) menahan tawa.
"Kalau begitu, tambahan bonus buat yang pesen VVIP!" kata Kaiko sambil ngakak-ngakak setan. Background hujan uang menghiasi tawanya.
"Hei, Kaiko... kalau kamu nggak ngasih bagian ke aku, Gakupo dan Kaito kamu tau apa yang bakal terjadi..." Gakuko meringis setan.
"Iya, iya... aku bakal hidup di bawah jembatan selama sebulan..." Kaiko melengos.
"Aku nggak dihitung?" Bunda Meiko menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau Bunda Meiko dihitung, nanti kita pesen makanan dua kali lebih banyak, berhubung target kelas bulan ini adalah mengosongkan dompet Bunda Meiko karena kalah taruhan..." kata Gakuko sambil melempar-lemparkan flashdisknya.
"Kalo jatuh kamu beliin aku harddisk..."
"Iya ah... galak amat... bad mood ya..."
Dan Kamui bersaudara itu terlibat silat lidah selama setengah jam sementara yang lain melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.
Akhirnya sore menjelang, satu-persatu murid-murid pulang ke rumah. Lebih tepatnya kabur setelah beramai-ramai mengatakan, "yang bayar ibu-ibu berbaju merah bernama Meiko" pada pelayan pemegang kasir.
Bunda Meikonya sendiri diikat oleh Miku dan Luka di salah satu tiang.
Lalu, pada akhirnya, seluruh murid-murid pulang. Bunda Meiko dikerubungi oleh para pelayan restoran.
"Err... boleh utang dulu nggak?"
Akhirnya, chapter ini selesai...
Terimakasih bagi yang mereview, atau bahkan yang cuma baca... terimakasih sekali XD
Kalau ada kesalahan Eri minta maaf, hehe
oh iya, Eri nggak pernah majang disclaimer ya? O.o (readers: huu! Author apaan tuh!)
oke... oke... saya pajang... di sini dan berlaku buat semua chapter XD #ngeles
Disclaimer: Vocaloid bukan punya Eri, bukan punya Yamahmud, tapi punya YAMAHA. Kalo Vocaloid punya Eri, Eri pasti udah bikinin konser Vocaloid di Indonesia.
