Title : Broken Angel (Sequel of Wedding Scheme)
Chapter : 1/1 (oneshoot)
Pairing : SiWook *broken* - KyuWook
Rated : T
Genre : Romance, angst
Author : Cho Ryeona
Warning : Genderswicth
...
..
Beberapa puluh lembar foto tersebar di ruangan berlantai kayu. Dua di antaranya tengah tergenggam di tangan yeoja berparas cantik yang tengah terbaring dikelilingi foto-foto berobjek sama. Gadis ini adalah gadis yang selama 5 bulan ini telah sah menjadi istri Choi Kyuhyun.
Kim ryeowook.
"Bagaimana kabarmu?"
"Kau bahagia, Hm?" gumam yeoja ini pada selembar potret yang menampilkan dirinya tengah dirangkul seorang namja berlesung pipit.
Pandangan sayu yeoja itu kini beralih pada seuntai kalung berliontin hati digenggamannya yang perlahan menggeser posisi foto sedikit berada di belakang. Kilau kuning cerahnya bersaing dengan kilau cincin bertuliskan 'Kyuhyun' di jemari manisnya.
Bibir mungil Ryeowook tersenyum hambar. Dipeluknya benda-benda tak bernyawa yang berada di genggamannya.
"Aku…. kesepian tanpamu Oppa…"
Ryeowook memejamkan mata. Menghayati halusinasi yang merasuki akal sehatnya. Merasakan tubuhnya kini berada di tempat lain.
Sebuah taman di pinggir danau.
Dengan ditemani cerahnya warna pohon sakura, Ryeowook tersenyum riang. Tubuhnya masih terbaring. Bedanya, kini beralaskan bunga sakura yang berguguran. Di hadapannya, seorang namja bertubuh tegap berwajah ramah namun terkesan dingin tengah merengkuh tubuh ringkihnya dalam sebuah pelukan.
Choi Siwon.
"Kau masih ingat tempat ini?" ucap Ryeowook dengan mata tetap terpejam. Pipi tirusnya makin naik ke atas, seiring senyumnya yang perlahan mengembang.
Sangat enggan membuka mata.
Sangat enggan menghadapi kenyataan bahwa kini ia hanya memeluk lembaran foto.
"Ini tempat favorit kita…. Sampai sekarang. Kkkkkk"
Ryeowook memeluk foto makin erat, merasa seolah Siwon tengah membalas pelukannya dengan sangat erat juga.
"Kau sering membawa motor besarmu kesini. Kita juga sering piknik di sini saat Oppa libur. Naik perahu berdua, Memancing ikan di danau itu, kemudian aku yang memasaknya. Aku masih ingat ikan pertama yang kita dapat. Hihihi.. ukurannya sangat kecil."
Ryeowook menarik nafas sejenak, merasa dadanya kini seolah tersengat. "Di sini juga pertama kali kau mengatakan sangat mencintaiku. Memberiku sebuah kalung dan kau bilang dengan memeluk kalung ini semua masalah akan teratasi. Tapi… Kau bohong…" suara Ryeowook perlahan berubah serak.
"Kenapa kau diam saja? Hikzz…" Ryeowook memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit. "kau pembohong! Siwon Oppa pembohong!"
"Ada ap…." Kyuhyun yang baru saja membuka pintu itu tak jadi meneruskan kata-katanya. Menyadari teriakan Ryeowook pasti karena lembaran foto yang tengah berserakan di lantai itu.
Kyuhyun berusaha tersenyum saat melihat Ryeowook yang terburu-buru bangun sambil mengusap air mata.
Pandangannya menyayu. Yeoja berwajah polos nan dingin yang kini berstatus sebagai istrinya terlihat seperti seorang berpenyakitan. Badannya mengurus, cahaya tubuhnya memucat.
Usia pernikahannya sudah berjalan lima bulan. Tapi istrinya… raut wajahnya tak pernah jauh dari kata muram. Kegiatannya sehari-hari hanya berdiam diri di kamar.
"Makanlah dulu…" perintah Kyuhyun yang masih berdiri di ambang pintu.
Ryeowook mengangguk kecil tanpa minat.
Kyuhyun berkacak pinggang, membulatkan mata beriris coklat tua yang ia punya. Menirukan ekspresi orang yang sedang marah.
"Lihat. Tubuhmu makin kecil! Kau ingin semua memarahiku karena aku tak bisa menjagamu." Kyuhyun akhirnya terkekeh kecil. Menyadari ia sama sekali tak bisa marah pada yeoja ini.
"Hm," Ryeowook kembali mengangguk tanpa menggeser posisinya selangkah pun.
"Aku anggap kau sudah berjanji untuk makan. Semua sudah siap di meja. Aku mau keluar dulu,"
Kyuhyun menutup pintu tanpa menunggu jawaban. Sudah bisa dipastikan tak akan ada jawaban apa pun dari yeoja berambut secoklat madu yang kembali terduduk setelah sang suami menutup pintu.
..
^Cho Ryeona^
..
Pintu kaca berdaun tunggal perlahan terbuka. Menampilkan Kyuhyun tengah menggamit sebuah map berwarna hijau. Sementara sebelah tangannya sibuk membersihkan salju yang mengotori rambut hitam dan mantelnya. Dengan tergesa namja itu menutup pintu dan berjalan ke arah meja makan, membuka tudung yang tadi ia gunakan untuk menutupi makanan.
Namja itu tersenyum tipis saat melihat makanan masih utuh, tanpa ada bekas sentuhan sama sekali.
"Baiklah. Masakan ke-empat puluh dua, Gagal."
"Ahjummaa!"
Seorang pembantu rumah tangga berjalan tergesa setelah mendengar teriakan Kyuhyun.
"Tolong bereskan semua ini. Dan besok pagi, ajari aku membuat makanan yang lebih enak,"
"Baik Tuan," tanpa bertanya macam-macam yeoja paruh baya ini segera mengangkuti satu persatu makanan di meja.
..
^Cho Ryeona^
..
"Oppa! Kkkkkk. Jangan cepat cepat!" Seru Ryeowook pada Siwon yang tengah mengemudikan motor besarnya. Membonceng Ryeowook menyusuri jalan yang hampir seluruhnya tertutup guguran bunga sakura.
"Kita mau kemana?" tanya Ryeowook setelah Siwon mengurangi laju motornya.
"kau akan tahu sendiri nanti,"
"iiiii… cepat jawab," manja Ryeowook sambil melingkarkan lengannya di perut Siwon, dan meletakkan dagunya di pundak kekasihnya.
"Benar-benar mau tahu?"
Ryeowook mengangguk mantap sambil memajukan bibirnya manja.
"Tempat yang indah untuk orang yang saling mencintai,"
"Jinja? Dimana?"
Siwon hanya tersenyum, kemudian sedikit mempercepat laju motornya. Tak berapa lama keduanya berhenti di bawah pohon sakura yang ukurannya paling besar di dalam perkebunan itu. Letaknya tepat di pinggir danau.
"Di sini?" tanya Ryeowook sembari turun dan melihat-lihat sekeliling.
"Benar-benar tempat yang indah,"
Ryeowook merona ketika sebuah tangan tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Mencium tengkuknya yang dihiasi untaian kalung hati berwarna kuning.
"Kau suka chagi?"
"Heum," jawabnya sedikit menoleh ke belakang. Mata sipitnya membulat menggemaskan. Raut bahagia terpancar jelas di wajahnya.
Tak berapa lama, ekspresi bahagianya sekarang berubah heran. Siwon seperti melakukan sesuatu dengan lehernya. Sedetik kemudian, benda berwarna kuning terlihat melayang dan terjatuh di danau.
Seuntai kalung…
"Ke… Kenapa dibuang?" Ryeowook berbalik, melipat tangannya di dada. Iris caramelnya beradu dengan obsidian milik Siwon. Ryeowook mengerucutkan bibirnya, merasa tak terima.
"Buanglah semua yang membuatmu sakit…." ujarnya singkat.
" Kau bersikap tidak adil pada suamimu. sangat hangat dan ceria saat bersamaku. Tapi ketika bersama Kyuhyun... kau tak ubahnya seperti bongkahan es berwujud manusia. Kau…" Siwon berhenti sebentar, menajamkan pandangannya pada sosok yang sangat ia cintai, "membuat pengorbananku menjadi sia-sia,"
"Ta.. tapi…" Ryeowook tertegun. Alisnya menyatu menanggapi raut tegas Siwon.
"Mulai sekarang kau harus bisa membedakan, mana suamimu dan mana yang bukan siapa-siapa."
Selesai mengucapkan kalimat itu, Siwon membalikkan badannya. Mengendarai motor besarnya dan meninggalkan Ryeowook seorang diri.
Tanpa sadar kaki mungil Ryeowook berlari membelah tumpukan bunga sakura. mengejar motor Siwon yang semakin menjauh.
Siwon tidak boleh pergi.
"Oppa…!"
Dengan sekali hentakan, mata sipit Ryeowook terbuka. Nafasnya terengah, bibir cherry nya bergetar. Melirik namja berambut ikal yang sedang memunggunginya seperti tengah tertidur lelap.
"Cuma mimpi…" gumamnya di sela buruan nafas dan keringat dingin yang bercucuran.
Ryeowook membuka selimut yang menutup tubuhnya. Tergesa - gesa ia duduk di lantai, Mengambil sebuah kotak dari laci terbawah di samping tempat tidurnya.
"Haruskah aku melakukannya?" tanyanya sambil memeluk seuntai kalung yang baru saja ia keluarkan dari kotak itu.
"Siwon Oppa… aku mencintaimu…" Ryeowook kembali menangis. Diciumnya kalung itu tanpa ada rasa bosan sedikit pun.
Mata Kyuhyun yang sedari tadi hangat seketika terasa panas. Sebulir air turun menetesi bantal putih yang menjadi penjanggal kepalanya.
Ya, Ia memang terjaga.
Dan.. .Tak pernah tidur.
..
^Cho Ryeona^
..
Kyuhyun mondar-mandir dari dapur ke meja makan. Sekitar sepuluh macam makanan hasil jerih payahnya kini tertata rapi di meja.
"Satu lagi… yak! Selesaaai!" teriaknya kekanakan setelah selesai menuang susu pada dua buah gelas.
Namja bermata coklat gelap ini kemudian merapikan dasinya sambil melirik jam tangan di lengannya. Memastikan tampilannya enak dilihat. "Setengah jam sebelum berangkat ke kantor."
Ia kemudian duduk. Menata gelas berisi susu di mejanya, dan satunya lagi tepat di seberangnya.
"Silakan diminum Chagi… Kkkkkk." Kyuhyun terkekeh, menyadari betapa kakunya ia memanggil istrinya dengan sebutan itu.
"Pagi ini istriku sangat cantik," imbuhnya. Matanya lekat menatap kursi yang jelas-jelas kosong di hadapannya.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Tetes-tetes air mengelilingi tempat kaki mungil Ryeowook berpijak tanpa alas kini.
Tubuh tegap Kyuhyun setengah berputar mengikuti kepalanya yang kini berbalik menoleh ke arah sumber suara.
Sebuah isakan kecil.
Namja bersurai ikal itu mendekati Sang istri yang sepertinya tengah kedinginan memeluk tubuhnya yang masih terbalut gaun tidur putih dengan keadaan basah kuyup. Isakannya semakin menjadi tatkala Kyuhyun menghampirinya dan menatapnya lekat.
Seakan teringat kewajibannya sebagai seorang istri untuk selalu mencintai suaminya.
Seakan teringat bahwa ia harus melupakan seseorang yang sudah lama berada di hatinya.
"Kenapa menyakiti diri sendiri seperti ini?" Kyuhyun tak tahan untuk bertanya. Sudah bisa ditebak. Ryeowook baru saja berendam, mengguyur jiwanya yang kian rapuh.
Ryeowook memeluk tubuhnya makin erat. Kakinya melangkah mantap. Isakannya semakin jelas terdengar.
"Mau kemana? Sarapan dulu!" Perintah Kyuhyun. Alisnya menyatu melihat Ryeowook yang tak kunjung berhenti. Malah memutar kenop pintu kaca yang menghubungkannya dengan halaman rumah.
"Ryeowookiie!"
"Kau boleh kemana pun! Tapi sarapan dulu ne?"
Kyuhyun menyusul berlari keluar. Menatap nanar Ryeowook yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil dan mengendarainya meninggalkan halaman rumah dengan kecepatan sedang.
Hanya bisa menghela nafas panjang. Kyuhyun tak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang.
Beberapa menit sibuk dengan pertimbangannya, Kyuhyun melangkah gontai memasuki kamar. Suasana hatinya kacau. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan membawa sebuah map berwarna hijau yang semalam susah payah ia cari keluar. Namja berpipi cubby itu meletakkan map di meja makan.
"Aku tak menyangka akan mengeluarkannya secepat ini." Kyuhyun tersenyum sebentar dengan ekspresi wajah yang keruh, "Aku terlalu egois… Semoga kau bahagia..." Gumamnya.
Perlahan namja tegap itu meraih jasnya yang tersampir di kursi. Menyampirkannya kembali di lengan kiri. Sedangkan tangan kanannya menggamit tas kerja.
Selangkah sebelum mencapai pintu, diedarkan pandangannya mengelilingi sudut ruangan yang dapat ia jangkau. Masih teringat jelas bagaimana dulu waktu kecil, ia sering berkejar-kejaran dengan kakaknya. Bagaimana Sang Kakak melindunginya saat ia terluka. Bahkan Tak akan membiarkan seekor nyamuk pun menyakiti kulitnya yang tergolong sensitif.
Hubungan mereka semakin erat dari waktu ke waktu hingga keduanya beranjak dewasa.
Hingga keduanya mengenal cinta dari seorang gadis yang sama.
"Mianhae Hyung…" Kyuhyun bergumam lirih. Dilangkahkan kakinya sekuat yang ia bisa. Mengalahkan rasa sesak yang menyuruhnya untuk tetap berdiam di sini.
..
^Cho ryeona^
..
Ryeowook menginjakkan kaki tanpa alasnya di tanah yang tertutup guguran bunga sakura. Di hadapannya telah terpampang sebuah danau luas. Tanpa memperhatikan penampilan kusutnya, Ryeowook turun dari mobil. Membawa sebuah kotak yang ia pegang dengan kedua tangannya.
Kotak kecil yang tak seberapa besar, tapi terasa begitu berat karena menyangkut separuh hidupnya.
"Kau yang meminta aku melakukan ini…" Dengan tangan gemetar Ryeowook membuka kotak itu. Mengambil beberapa lembar foto yang menjadi sumber kemuraman hidupnya.
"cintamu sempat membuatku lemah… membuatku jadi egois." Ryeowook menyayu, pandangannya kosong.
"Aku melupakan satu hal…" yeoja itu menarik nafasnya dalam. " dia memegang tanganku ketika aku benar-benar sendirian… Dia… mencintaiku seperti belum ada seorang pun yang pernah ia cintai sebelumnya,"
"Selamat tinggal…" desisnya lirih. Tangan mungilnya kini sudah tertarik ke atas. Bersamaan dengan tertiupnya angin, ryeowook mengibaskan lembaran-lembaran itu melayang hingga mencapai permukaan danau.
Detik selanjutnya, di tangan Ryeowook telah tergenggam erat seuntai kalung berliontin hati yang ia lekatkan di dada. Mencoba menyalurkan rasa cinta yang masih tersisa di dalam jiwanya.
Isakannya kembali lolos.
Ryeowook melempar kalung itu ke tengah danau. Bak seekor harimau kelaparan, gelombang air kecil itu memakan lambang cinta Choi Siwon seperti seekor mangsa.
Terduduk lemas. Ryeowook meremas rambutnya yang telah berubah setengah mengering. Tubuhnya memberat seiring tenggelamnya benda bersejarah itu ke dasar danau.
Rasa cintanya seolah ikut tenggelam…
Hangat kasihnya terkubur dalam dinginnya air danau…
Hatinya sedikit demi sedikit berubah kosong. Bersiap menerima cinta dari seseorang yang baru.
To : Kim Ryeowook
Terkadang aku merasa seperti seorang pendosa besar. Bersenang-senang di atas kematian. Menikahimu…
Terdengar sangat sederhana.
Tanpa menyentuhmu sekali pun…
Aku tak pernah mengeluh tentang hal ini.
Menikahimu….
Hanya untuk menjagamu. Memenuhi permintaan Hyung.
Menikahi Kim Ryeowook…
Hanya dengan cara inilah aku bisa menebus kesalahanku pada Hyung.
Aku memang tidak mempunyai cinta sebesar hidup Hyung…
Aku hanya mempunyai cinta yang merenggut kebebasanmu.
Maaf…
Membuatmu menangis setiap malam. Mataku tak pernah semenit pun terpejam. Hanya untuk mendengar seberapa besar kegagalanku sebagai seorang suami yang membiarkan istrinya tersakiti …
Kau tidak mencintaiku… Kau tidak bahagia bersamaku.
Jadi, bukankah kewajibanku untuk melepaskanmu?
Ah iya, di belakang tulisanku ini sudah terlampir surat cerai, surat rumah, surat mobil, beserta tabungan atas nama Kim Ryeowook.
Jaga kesehatan dan pola makanmu,
Semoga kau bahagia, malaikatku….
Pengagum mu
Choi Kyuhyun
Mata Ryeowook kembali memanas. Manic caramelnya semakin sembab tatkala membuka lembar kedua. Surat cerai beserta tanda tangan Kyuhyun di pojok kiri bawah. Hanya tersisa sebuah tempat kosong di pojok kiri yang di bawahnya sudah tertera nama 'Kim Ryeowook'.
Ryeowook meremas surat itu hingga menyerupai bulatan. Kemudian melemparnya ke tempat sampah. Tanpa pikir panjang gadis itu masuk ke dalam kamar. Memungut handphone yang masih tergeletak di ranjang.
Sedetik kemudian ia membanting HPnya kembali ke ranjang. Ia hempaskan tubuhnya kasar pada ranjang yang sama. Beberapa saat tubuhnya berguling-guling frustasi.
Menyadari kebodohannya yang sampai sekarang tidak menyimpan nomor handphone suaminya.
Ryeowook benar-benar bingung. Kyuhyun hanya beberapa menit meninggalkannya.
Kenapa ia harus secemas dan setakut ini?
"Aish… Kenapa tidak terfikir dari tadi?" rutuknya.
Secepat mungkin ia bangun dan memakai sweater ungu yang beberapa detik lalu ia ambil dari dalam almari. Dengan berbekal dompet, HP dan kunci mobil, gadis itu berlari cepat keluar rumah.
"Aku ingin bertemu dengan Tuan Choi Kyuhyun," ucap Ryeowook pada recepsionist cantik yang berdiri di seberang meja.
"Maaf, Tapi Tuan Choi Kyuhyun sedang tidak ada di tempat. Silakan tinggalkan pesan,"
"Aku ingin bertemu. Bukan meninggalkan pesan."
"Tapi Tuan Choi tidak ada di tempat, Nyonya."
"Kemana?"
"Tuan Choi berpesan untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun kemana dia akan pergi,"
"Bisa minta nomor handphone nya?" sengit Ryeowook sedikit tidak sabar.
"Dia meninggalkan pesan untuk tidak memberikan nomornya pada siapapun,"
"aku istrinya."
"lalu? Apa hubungannya?" Recepsionist itu terlihat bingung.
"Arrggghhh! Berikan aku nomor handphone nya!" teriak Ryeowook sambil menggebrak meja. Semua orang kini melihat ke arahnya. "kau hanya recepsionist! Aku yang harusnya berhak tahu lebih banyak tentangnya!" Ryeowook kehilangan kesabaran. Perasaan kalah bersaing dengan seorang recepsionist sedikit membuatnya putus asa.
Recepsionist itu menatap dingin, "Kalau kau istrinya harusnya kau memang tahu lebih banyak."
"mwo? Diamlah dan cepat beri tahu aku dimana suamiku. Noona Kim Seohyun!" ujar Ryeowook beberapa saat setelah melihat name tag recepsionist itu.
"Hanya aku yang tahu kemana Tuan Choi pergi. Dia mempercayakannya padaku untuk tidak memberi tahu siapa pun. Aku hanya menjalankan perintah. Sekali lagi maaf…" ucap recepsionist itu semakin mempersulit Ryeowook.
"Tuan Choi dipindah tugaskan di luar negeri."
Bukan hanya mempersulit. Recepsionist itu kini malah membuat Ryeowook terbelalak hingga akhirnya terisak kecil karena kata-katanya.
"Silakan tinggalkan tempat ini. Pintunya tepat di belakang nyonya." ucap yeoja itu sopan, namun tak mengurangi raut kesal karena dipermalukan di depan umum seperti tadi.
Ryeowook berjalan lunglai ke arah pintu keluar. Kemana ia harus mencari? Untuk mengelilingi Seoul saja ia bisa tersesat. Apalagi ke luar negeri?
Baru beberapa menit yang lalu ia merasa seseorang yang mencintainya seperti belum ada seorang pun yang dicintai sebelumnya.
Semudah membalikkan telapak tangan, kini… cahaya cinta di hatinya kian meredup.
Inilah balasan Tuhan atas sebuah keegoisan…
"Hikz…"
Gadis itu menelan ludah kelu. Untuk kedua kalinya ia harus menerima kenyataan…
Ia telah kehilangan cinta dan separuh hatinya...
Kyuhyun melirik malas yeoja bertubuh gempal di samping kanannya. Yeoja itu tak hentinya menyapukan bedak pada pipi tambunnya sejak semenit terakhir duduk tepat di samping Kyuhyun. Merasa dilirik, yeoja itu mengedipkan sebelah matanya.
Jujur, wajah yeoja itu jadi terlihat kontras dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman. Efek ketebalan bedak.
Kyuhyun bergidik ngeri. Ia menggeser duduknya sampai tepat menempel jendela pesawat. Di sana ia bisa menikmati pemandangan yang jauh lebih menarik. Tanpa diduga badan bongsor yeoja itu kini turut menempel di bagian tubuh sebelah kanan Kyuhyun.
"kau punya tempat sendiri kan? Jangan membuat masalah." Ujar Kyuhyun dengan tatapan dingin.
Gadis itu merapikan rambutnya. Tersenyum lebar. Memamerkan gigi tonggosnya sambil mengulurkan tangan. "Aku Kim Sam Soon. Kau bisa memanggilku Soonie.."
"Hm," Kyuhyun mengangguk malas, kembali memperhatikan deretan bintang di luar sana.
Gadis yang mengaku bernama Sam Soon itu tanpa basa basi merangkul lengan Kyuhyun yang terbalut kemeja putih, "Pernahkah kau berfikir, seorang pemuda dan seorang gadis naik pesawat sendiri, mendapat tempat duduk bersebelahan. Tak cukup kah petunjuk bahwa kita berjodoh? Hihihi…"
"Mwo?!" jerit Kyuhyun membuat semua orang di dalam pesawat menatap ke arahnya. Disentakkan tangannya hingga rangkulan gadis itu terlepas.
"Bolehkah aku pindah tempat duduk?!" Kyuhyun menaikkan suaranya beberapa oktaf. Gadis ini gadis kedua yang menghancurkan image cool nya setelah Ryeowook.
"Ssssttt…." Penumpang yang duduk di depan Kyuhyun mengisyaratkan untuk tidak berisik.
Kyuhyun terpaksa kembali duduk. Melempar deathglarenya sebelum kembali menikmati pemandangan di luar. Mencoba menghidupkan ingatan tentang ryeowook agar ia tidak terancam gila.
"Pangeran tampan. Hihi…."
Kyuhyun merogoh i-pod merah dari sakunya. Untungnya ia mempersiapkan benda ini. Detik selanjutnya ia tak lagi mendengar apa pun celotehan yeoja tak tahu malu itu karena dengan cepat tangannya mengaitkan headset pada kedua telinga. Ia hanya merasakan cahaya kelap – kelip. Mungkin kamera.
Entahlah… Kyuhyun memilih memejamkan mata. Menikmati alunan lagu ballad kesukaannya.
Tepat ketika lagu ke delapan dimulai, Kyuhyun sudah setengah terlelap. Sebuah benda kenyal nan basah terasa menempel di pipi putih Kyuhyun agak lama. Setengah sadar Kyuhyun menyadari benda itu adalah …bibir.
'mwo?!'
Kyuhyun seketika membulat. Marah. Tanpa memperhatikan apa pun lagi, ditariknya kerah yeoja yang duduk di sampingnya. Headset di telinga kanannya terlepas seiring pergerakannya.
Kyuhyun semakin membulatkan matanya beberapa mili. Di pupil matanya kini terpantul bayangan gadis berwajah aegyo tengah bersikap sepolos mungkin, seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Pukul saja." Yeoja itu malah tersenyum, "aku berhak kau pukul."
"Ma…maaf.." Kyuhyun melepas jeratan di kerah baju. Sedikit memukuli keningnya. Salah tingkah karena bertindak ceroboh.
"Kau … sejak kapan di sini? Dan ….dimana yeoja gila itu?" tanya Kyuhyun sedikit gemetar. Antara kaget, senang dan gugup.
"Sejak pesawat ini mulai terbang. Dia aku suruh pindah ke belakang."
"Kau … mau kemana, ryeo..maksudku… wook-ah?"
"Bodoh. Tentu saja mengejarmu."
Ryeowook membantu Kyuhyun menegakkan tubuh yang tadi setengah miring hampir tertidur.
Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, "Aku? Mengejarku?"
"Heum…"
"Jadi… Siapa yang memberitahumu hingga bisa sampai kesini?"
Ryeowook menceritakan awal dia menemukan surat di meja makan itu, hingga akhirnya bertengkar dengan recepsionist di kantor Kyuhyun.
"Beberapa langkah setelah menutup pintu, rupanya tadi ada seseorang yang mengaku bernama Sungmin menarikku ke tempat yang agak sepi. Ia memberi tahu tujuanmu. Dia juga bilang kau keluar dari kantor baru sekitar setengah jam yang lalu. Ia juga yang mengantarku kesini. Hingga sekarang aku bisa duduk di sini. Di samping seseorang yang membangunkan cinta dalam diriku sekali lagi…" Ryeowook mengakhiri penjelasannya dengan senyuman. Merapikan rambut ikal Kyuhyun yang sebenarnya sudah rapi.
"cinta? Mencintaiku?" Kyuhyun masih saja sulit percaya.
Ryeowook mengangguk sekedar membenarkan, ditariknya pipi Kyuhyun gemas. "Maukah kau menjawab sebuah pertanyaan sederhana?"
Kyuhyun berkedip beberapa kali. Ia tersenyum. Kemudian sedikit menggigit bibirnya.
"aku tidak pernah memberimu setetes cinta…. Tapi kau terus menghujaniku dengan cintamu. Bagaimana bisa kau mencintaiku begitu besarnya?"
Kyuhyun kemudian menggelengkan kepalanya tanpa arti. Sinar wajahnya sarat akan kebahagiaan. " cukup sederhana… aku melihatmu sebagai seorang malaikat. Ketika bersama mu hatiku merasa damai. Dan ketika aku melihatmu tertawa, aku melihatmu bahagia…. Hatiku jauh terasa lebih damai. Jadi apa pun akan ku lakukan untuk membuat malaikatku tersenyum."
Kyuhyun tergetar, membelai rambut Ryeowook kemudian turun, membingkai kedua pipi Ryeowook dengan kedua belah tangannya, "Wook-ah, jika ini adalah sebuah cinta… maka aku mencintaimu lebih dari Tuhan,"
Ryeowook merasakan tekanan darahnya naik 10 kali lipat. Detak jantungnya tak terkontrol. Sebuah kebahagiaan mengalir dari hati, menyebar ke seluruh tubuh. Tanpa sadar ia memeluk tubuh tegap suaminya. Rasa nyaman dan hangat semakin melangkapi kebahagiaannya. Air matanya menetes, mulut mungilnya terisak kecil.
"Tidak tidak… Tolong jangan menangis." Kyuhyun melepas pelukan kemudian menghapus aliran air yang hampir terbentuk pada pipi Ryeowook, "Aku… akan ku cabut kata-kataku. Dan berhentilah menangis."
Ryeowook menggeleng selanjutnya tersenyum, meski tak bisa berhenti menangis. Dipeluknya tubuh tegap yang tampak sedikit takut itu sekali lagi.
"Tuhan tidak akan marah kan kalau aku lebih mencintaimu dari pada-Nya?"
Ryeowook menggeleng cepat. Ditenggelamkan wajah mungilnya pada dada bidang Kyuhyun dan terisak di dalamnya. Kebahagiaan kali ini yang ia rasakan terasa sangat sempurna.
Mencintai dan dicintai.
Terkadang dalam menemukan kebahagiaan sejati, memang diperlukan sebuah pengorbanan berat. Ya, jodoh memang di tangan Tuhan. Tapi percayalah, semua keputusan-Nya tak pernah lepas dari seberapa besar usahamu.
Hanya terus bertahan, dan yakinlah semua perjuanganmu tak akan pernah sia-sia.
END
Aigoooo! Maap makin menggila. Kkkkk.
Sequel kali ini terinspirasi dari lagu lawas dengan judul yang sama "Broken Angel" yang dipopulerkan Arash ft Helena. Ditambahi sedikit banget bumbu dari sebuah film tidak akan aku sebutkan di sini. Ada yg mau nebak? Kkkk.
Sumpah ya…. Lagunya ngena banget. Giliran nyampek di tanganku, jadinya aneh. Hihihihi…
Hatur nuwun buat yg mau baca. Double hatur nuwun buat yg mau ninggalin jejak.
