MIRAT
KBBI: mi·ratn1 cermin; 2 gejala optik berupa gambar bayangan di dl udara yg berasal dr suatu benda, yg dapat tunggal atau majemuk, tegak atau terbalik, dan dapat tampak lebih besar atau lebih kecil dp yg sebenarnya
Severus Snape, Harry Potter, dan Minerva McGonagall adalah kepunyaan JK Rowling
Rate T, angst
Diikutsertakan dalam Challenge Infantrum: Sans Romance
-o0o-
II
Tiga sorot mata yang berbeda.
Severus membereskan tumpukan perkamen tugas siswa-siswanya dan mengesampingkannya. Dibukanya laci dengan satu sentuhan tongkat. Dan diambilnya segulungan perkamen. Dibukanya gulungan itu. Ada beberapa lembar perkamen dalam gulungan itu, kesemuanya sudah hampir penuh dengan catatan, tulisannya yang kecil-kecil dan rapi.
Ditariknya kalender di dinding, diletakkannya di atas meja, di samping perkamen-perkamen catatannya. Dengan hati-hati, ditunjuknya sebuah kalimat dari perkamen dengan tongkat, lalu ditunjuknya sebuah tanggal dari kalender.
Mendadak tanggal itu berubah warna, merah.
Lalu diulanginya lagi proses tadi, ditunjuknya sebuah kalimat lain lagi; dipindahkannya arah tunjukan tongkatnya pada kalender.
Kali ini tanggalnya berubah menjadi biru.
Berulang kali ia menunjuk kalimat dan memindahkan tunjukannya pada kalender. Sampai semua kalimat di perkamen selesai ditunjuknya, dan semua tanggal dalam kalender berubah warna.
Ada tiga warna.
Merah, hijau, biru.
Severus menghela napas.
Sudah beberapa bulan tahun ajaran di Hogwarts berjalan, dan selama itu juga Severus mencatat dengan teliti perilaku demi perilaku pemuda Potter itu, perubahan demi perubahan. Mengherankan, karena dalam kesibukannya yang sedemikian rupa, ia masih punya waktu untuk mengumpulkan fakta-demi-fakta, mengolahnya sedemikian rupa sehingga ia bisa sampai pada satu keputusan sementara.
Severus menarik napas sekali lagi.
Digulungnya perkamen-perkamen itu, dibawanya sekalian dengan kalender dengan tanggal-tanggal yang sudah berubah warna. Ia berdiri. Menuju perapian, ia meraih wadah kecil tempat bubuk berwarna kehijauan. Diambilnya sejumput, lalu dilemparnya ke arah perapian.
"Minerva McGonagall!"
Api kehijauan muncul di perapian, berikut sebuah kepala berkacamata. "Severus! Ada apa?"
"Kau ada waktu sejenak?"
Mengangkat bahu, Minerva memandang ke sekelilingnya, tersenyum, "Tugas-tugas anak-anak belum selesai kuberi nilai, tetapi rasanya aku agak lelah. Mungkin sejam minum teh?"
Severus mengangguk. "Baiklah. Aku segera menuju kantormu—"
Kepala berkacamata itu menghilang, dan api hijau pun padam.
-o0o-
Minerva meletakkan baki berisi poci, cangkir-cangkir dan piring scone di atas meja. Dituangkannya teh panas harum dari poci ke dalam dua cangkir. Satu cangkir diletakkannya di depan Severus, satu lagi di hadapannya. Dibukanya tutup pot gula, dibiarkannya Severus mengambil gula sesukanya, atau mungkin susu. Ia sendiri mengambil dua potong gula, dan menuangkan sedikit susu ke dalam tehnya.
Tapi Severus tak menghiraukan semua itu. Cangkir tehnya tak diberi apa-apa, dihirupnya pelan-pelan hanya karena panas. Setelah itu disimpannya di tatakan.
Tak berbicara sepatah katapun, menunggu Minerva membuka gulungan perkamennya, membacanya teliti kalimat-demi-kalimat, lalu membandingkannya dengan warna-warna yang ada pada tanggal-tanggal di kalender. Agak lama juga, karena saat Minerva ingat untuk menghirup tehnya lagi, teh itu sudah dingin.
Minerva mengetuk cangkirnya dengan tongkat, dan tehnya kembali hangat. Dihirupnya perlahan, hingga habis. Baru ia membuka pembicaraan.
"Aku harus mengakui, catatan ini sangat teliti. Dan kau memilahnya dengan akurat—" Minerva menunjuk pada warna-warna yang ada pada kalender. "Apakah—apakah kita bisa mengatakan bahwa—ada tiga kepribadian di dalam tubuh Harry?"
Severus mengangguk perlahan. "Sepertinya. Walau, aku mengira, masih akan ada satu atau lebih kepribadian yang lain lagi—tapi tiga ini yang bisa kutarik dari pengamatan selama beberapa bulan ini—"
Minerva menghela napas.
"Jadi, apakah kejadian yang dulu akan berulang lagi?"
Tanpa menunggu jawaban Severus, Minerva berdiri, lalu menuju lemari bukunya. Di antara deretan buku-buku Transfigurasi dan aneka buku-buku sihir lainnya, ia menarik sebuah tuas, yang ternyata adalah pembuka dari rak buku yang lain lagi di belakang deretan buku-buku sihirnya.
Tidak banyak buku yang berada di rak tersembunyi ini. Dari warnanya yang sudah kekuningan, sepertinya buku-buku ini sudah lumayan berusia.
Diambilnya satu.
Sybil: The Classic True Story of a Woman Possessed by Sixteen Personalities 1)
"Ini favoritku. Dari apa yang aku baca, dari sumber-sumber Muggle, yang aku tahu—Schizophrenia itu masalah genetik. Ada kemungkinan menurun. Jadi—"
"—jadi, kemungkinan peristiwa dulu memang terulang kembali?"
Minerva mengangguk pelan.
Severus mengangkat cangkirnya, membawanya ke bibir, bermaksud untuk menghabiskan teh tersisa, tetapi cangkirnya terdiam di udara.
-o0o-
"Severus, aku tak tahu harus menceritakannya pada siapa, tapi aku tahu kau akan menyimpannya sebagai rahasia kalau aku meminta—" gadis berambut merah itu berbisik, napas sedikit terengah, mata memindai ke sana ke mari, takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Ada apa?" Severus tak melepaskan pandangan dari buku di hadapannya.
Masih dengan nada berbisik, gadis itu menceritakannya dengan cepat, tak beraturan, kadang menceritakan hal yang sama dua atau tiga kali, kadang terputus di tengah jalan dan menggantinya dengan cerita fakta yang lain. Tak sistematis. Tak kronologis.
Selesai.
Gadis itu menarik napas panjang.
"Kau pikir—apakah kau pikir James—gila?"
Kini gantian Severus menghela napas panjang. Benaknya sibuk mencerna apa yang barusan diceritakan Lily padanya, menata semua fakta, menyimpannya pada urutan yang benar, dan mencoba menemukan analisisnya.
"Lily, apakah—apakah ada orang lain yang mengetahui?"
Lily menghela napas. "Mungkin—mungkin, sepertinya, Profesor McGonagall mencurigainya—"
Severus terdiam lagi.
Setelah beberapa saat, ia meneruskan, "Bagaimana kalau—bagaimana jika kita konsultasikan pada Profesor McGonagall?"
Dan akhirnya bukan hanya Profesor McGonagall yang menangani, tetapi juga Madam Pomfrey dan Kepala Sekolah.
Melalui pengamatan teliti, pencarian di kepustakaan sihir, ternyata gejala yang mereka amati dari perilaku sehari-hari James Potter itu belum ada dalam catatan. Ada banyak kejadian mirip, akan tetapi tak mendapat penangan serius, dan hanya terhenti di cap 'gila'.
Lily Evans, selaku penyihir kelahiran Muggle, kemudian mencarinya di kepustakaan Muggle. Berbagi dengan Profesor McGonagall dan Severus—lebih mudah karena keduanya Half-Blood—dan menjelaskannya dengan hati-hati pada Madam Pomfrey dan Dumbledore.
"Kepribadiannya seperti—terbelah. Dan itu tidak disadarinya. Tidak begitu terlihat, karena antara kepribadian yang satu dengan kepribadiannya yang lain tidak begitu jauh berbeda—" jelas Profesor McGonagall. "Kita tidak begitu tahu apa penyebabnya, karena dari sejarah keluarganya, sepertinya tidak ada sesuatu yang berarti. Keluarga besar Potter sepertinya biasa-biasa saja, keluarga kaya yang tak banyak membuat ulah di dunia sihir. Entah jika ada hal lain yang tak terungkap—"
-o0o-
Severus kembali menghela napas. Cangkir yang terhenti di udara tadi, tak jadi dihirup. Dikembalikan ke tatakannya.
"Menurutmu, apakah Dumbledore harus diberitahu?"
Minerva mengangguk pelan. "Sepertinya harus, walau aku ragu ia belum tahu. Waktu kasus James juga, kukira ia sudah mulai curiga—"
Severus mendengus. Mau tak mau ia harus selalu mendengar nama yang paling dibencinya, disebut berulang kali.
"Apakah kau kira penanganannya akan sama dengan Potter senior dahulu?"
Minerva menggeleng. "Aku tak tahu. Semua pengetahuan Muggle ini harus kita baca ulang, mungkin bahkan ada kemajuan dalam pengetahuannya—"
Keduanya terdiam sementara.
Minerva memecah kebisuan, "Kau—tidak apa-apa? Maksudku, lagi-lagi kau harus berurusan dengan—"
Severus menghela napas, kemudian menyeringai. "Apa boleh buat. Kau tahu sendiri seperti apa perasaanku, tetapi ada hal-hal yang harus didahulukan—"
Diraihnya cangkir tadi, dihabiskan tehnya.
TBC
1) Flora Rheta Schreiber
