MIRAT

KBBI: mi·ratn1 cermin; 2 gejala optik berupa gambar bayangan di dl udara yg berasal dr suatu benda, yg dapat tunggal atau majemuk, tegak atau terbalik, dan dapat tampak lebih besar atau lebih kecil dp yg sebenarnya

Severus Snape, Harry Potter, dan Minerva McGonagall adalah kepunyaan JK Rowling

Rate T, angst

Diikutsertakan dalam Challenge Infantrum: Sans Romance

-o0o-

III

"Yang aku tahu, Legilimency dan Occlumency bisa saja diajarkan pada semua penyihir, tetapi efeknya tentu saja berbeda pada mereka yang berbakat atau pada mereka yang biasa-biasa saja—"

Severus ingat betul, kalimat ini diucapkan oleh Dumbledore padanya, saat menyelesaikan pelajaran privatnya. Dumbledore mengajarkan Legilimency dan Occlumency, privat padanya. Pada tahun kelima sekolahnya. Hanya sekali pelajaran—dibanding dengan beberapa session pelajaran pada penyihir normal.

Sesuai kecurigaannya, Dumbledore melakukan Legilimency pada beberapa siswa yang diduga mempunyai karunia bakat pada pelajaran-pelajaran sihir tertentu. Atau, jika siswa mempunyai kasus khusus, yang mempunyai masalah dan tak mau mengungkapkannya.

Begitu menggunakan Legilimency pada bocah Snape ini, Dumbledore tahu bahwa siswanya yang ini punya bakat besar dalam Legilimency, dan juga Occlumency. Bahkan, setelah ditawari pelajaran privat, ternyata hanya diperlukan sekali untuk mengajarkannya. Hanya sekali untuk mengajarkan prinsip-prinsip utamanya, plus praktek, baik Legilimency maupun Occlumency, dan selanjutnya Severus sudah bisa mengatasinya sendiri.

Tapi Severus tak pernah tahu bahwa bakatnya ini ternyata harus digunakan untuk hal yang paling dibencinya.

Awal tahun ketujuh, Dumbledore memanggilnya. Di kantornya, sudah ada Lily Evans, Profesor McGonagall, dan Madam Pomfrey. Dumbledore memaparkan situasi—yang sudah diketahuinya lewat curhatan Lily, sudah diketahuinya berdasarkan penelusurannya bersama Lily dan Profesor McGonagall pada kepustakaan Muggle—keadaan jiwa Potter.

Kesimpulannya, ada kemungkinan penyembuhan. Mungkin tidak menyembuhkan 100 persen, mungkin hanya sekedar menekan kambuhnya penggandaan kepribadian. Mungkin juga hanya membuat Potter sadar apa yang sedang dialaminya.

Pada para penyihir, kemungkinan-kemungkinan itu diperbesar dengan adanya—Legilimency.

Menurut Dumbledore, pelaku Legilimency terbaik saat ini, tak lain dan tak bukan, adalah Severus. Beliau bahkan mengaku, bahwa dirinya sendiri tidak sebaik kinerja Legilimency yang ditampilkan Severus.

Masuk ke dalam benak musuhnya? Mungkin akan menyenangkan. Masuk ke dalam benak musuh tanpa diketahui? Mungkin akan menyenangkan, plus sedikit menantang. Masuk ke dalam benak musuh, tanpa diketahui, lalu menanamkan satu kesadaran bahwa si musuh ini punya kepribadian ganda? Jika sampai diketahui si musuh, mungkin akan berakibat fatal, jangan-jangan bahkan si musuh malah menjauh dan menciptakan kepribadian lain—

—tapi Severus terpaksa menerima tugas ini dalam permohonan Lily yang sangat, dan tentu saja tepukan Profesor McGonagall di bahunya.

Severus menutup matanya, dan menghela napas dalam-dalam. Benak Potter berhasil ia selusupi, Severus berhasil menanamkan kesadaran akan adanya kepribadian ganda pada kedua—ya, memang hanya dua kepribadian yang berhasil mereka identifikasi—kepribadian Potter. Perlahan dan sedikit-sedikit ditanamkan juga oleh Lily, akhirnya Potter memilih satu kepribadian.

Dengan bantuan Legilimency tentu saja, terus menerus dan teratur selama beberapa bulan.

Hasil akhirnya sudah diketahui tentu saja.

Potter dengan kepribadian matang dan stabil, lulus Hogwarts dengan sempurna, dan menikah dengan Lily.

Severus menghela napas, lagi.

.

.

.

.

.

—dan sekarang ia harus melakukan hal yang sama pada Potter muda?

-o0o-

Ketukan di pintu.

"Masuk!"

Potter junior muncul di pintu, masuk dan menutup pintu. Detensi dari guru Ramuan sudah menjadi semacam kebiasaan, sehingga sepertinya ia sudah hapal ritualnya.

Masuk, menerima tugas, kerjakan, dan lapor kalau sudah selesai. Tanpa bicara—sesedikit mungkin bicara jika mungkin.

Mata hitam Severus mengamati siswanya dari kepala hingga kaki, kemudian mengucap hanya beberapa kata, "Bersihkan kuali-kuali bekas pelajaran tadi siang. Tanpa sihir."

Lalu mata hitam itu kembali menekuni buku tebal yang sedang dibacanya. Atau—seolah-olah sedang dibacanya. Karena begitu Potter junior itu melangkah menuju tumpukan kuali, begitu bocah itu menyingsingkan lengan sweaternya, begitu ia mulai konsentrasi menggosok kuali-kuali, begitu pula Severus mulai merapalkan Legilimency.

Agak susah untuk merapal Legilimency jika kita tidak saling berkontak mata, tapi itu bukan soal untuk seorang master Legilimens. Tak memakan waktu lama, Severus sudah masuk ke dalam lorong-lorong benak bocah itu.

Peristiwa demi peristiwa berkelebat dengan cepat dalam benak. Tapi bukan itu yang dicari oleh Severus. Pengakuan identitas, biasanya tidak berada di awal perjalanan dalam benak. Malah mungkin berada jauh di dasar, tertumpuk sekian juta peristiwa—

—oke. Jalan pintas saja.

Konsentrasi. Lebih konsentrasi. Tujukan pada satu titik—

"—siapa kau?"

Alam bawah sadar bocah itu menyadari akan adanya penyusup di benaknya. Severus tak menjawab, tetapi terus menekan.

"Kau sendiri siapa?"

"Aku Harry—"

"Harry—siapa?"

"Harry Dursley."

Severus memberi tanda dalam hati. Bocah ini mengidentifikasi diri dengan keluarga Dursley, keluarga Muggle tempatnya tinggal selama ini. Hm. Harus ada penyebabnya—

Kilasan-kilasan peristiwa itu 'diputar' mundur, agar bisa diamati.

Harus membuat sarapan. Sarapan gosong. Serentetan caci maki. Lalu bocah itu tidak mendapat jatah sarapan, sarapan gosong itu yang harus dihabiskannya.

Keluarga Dursley bertamasya. Harry dititipkan di Mrs Figg.

Keluarga Dursley pergi ke kebun binatang. Dudley mendapat eskrim besar. Harry hanya mendapat sebuah es loli kecil.

Harry memecahkan piring saat mencucinya. Tak mendapat makan malam. Disuruh kembali ke tempatnya—yang ternyata adalah sebuah lemari di bawah tangga—

Severus tercekat.

Dengan satu jentikan, ia keluar dari rentetan peristiwa itu, kembali ke tempatnya duduk membaca di meja kerjanya. Diam-diam ia mengamati bocah yang masih berkutat menggosok kuali demi kuali.

Tipe satu, pikirnya. Teridentifikasi sebagai Harry Dursley. Lemah. Berusaha mengidentifikasi diri sebagai salah satu dari keluarga di mana ia tinggal—berusaha meraih kesetaraan derajat.

Severus mengingat perilaku-perilaku yang sudah dikelompokkan dalam gulungan-gulungan perkamennya. Penurut. Pendiam. Sorot matanya seperti minta dikasihani, seperti berusaha mencari pengakuan.

Menghela napas Severus terus mengamati bocah yang kini sudah menyusun kuali-kuali yang sudah dibersihkan.

Jadi, seperti itu perilaku keluarga Muggle di mana ia tinggal? Jadi, ia bukanlah seorang selebriti? Sepertinya ia mulai mengerti kenapa bocah ini mengalami kepribadian ganda. Penyiksaan, bukan, penganiayaan juga terlalu keras, mungkin bullying?

Selain memang ada unsur genetik, tapi genetika semata tak akan muncul ke permukaan jika tak ada pemicunya.

Harry Dursley. Baiklah.

—tapi, haruskah ia dihukum dengan masuk ke dalam lemari bawah tangga? Ataukah—mungkinkah lemari itu justru tempat tinggalnya? Melihat barang-barang yang ada di dalamnya, kemungkinan itu besar.

"Sir—"

Severus kembali ke alam nyata.

"Sudah selesai?"

Bocah itu mengangguk.

Severus mengamati sekilas tumpukan kuali-kuali itu.

"Kembali ke asrama. Minggu depan, waktu yang sama—"

Seperti hendak protes, tetapi bocah itu membatalkannya. "B-Baik, Sir—"

Dan ia berjalan menuju pintu. Membukanya, keluar, dan menutup kembali pintunya.

Severus termenung sesaat.

-o0o-

"Sejauh ini, aku temukan tiga. Satu Harry Dursley, seorang penurut, introvert. Walau keluarga Muggle-nya sering memperlakukannya dengan kejam, tetapi laku pertahanannya justru dengan berupaya untuk dikenal sebagai salah satu dari mereka—"

Severus tak menghiraukan kepulan panas teh dari cangkir di hadapannya. Ia terus saja memilah informasi yang berhasil ia kumpulkan, lalu menyajikannya pada Minerva.

"Lalu, satu individu mengaku bernama Harry Potter. Perilakunya selalu seakan mempertanyakan segala hal. Dan—" Severus menatap Minerva, "satu lagi beridentitas Harold. Tak jelas nama belakangnya. Sifatnya—pemberontak," Severus menyerahkan gulungan perkamen yang berbeda pada Minerva.

Minerva membaca kesemuanya dengan seksama.

"Severus, apakah kau pikir—Harry perlu diberitahu?" Minerva mengangkat wajah dari gulungan perkamen.

Terdiam sejenak, Severus mengangguk perlahan. "Aku akan memberitahunya sedikit demi sedikit, via alam bawah sadar. Melalui Legilimency. Dan kau bisa memberitahunya dalam versi kesadaran penuh. Tetapi, harus sangat berhati-hati. Jika ia menerima informasi dengan cara yang salah, kemungkinan ia justru akan lebih menutup diri, kepribadian yang mengemuka mungkin adalah Harry Dursley. Atau, lebih parah lagi, ia akan membangun kepribadian yang lain—"

Minerva menatap Severus lurus-lurus. "James dulu—diberitahu Lily, bukan? Apakah—apakah tidak lebih baik jika Ron dan Hermione diberitahu, kemudian biarkan mereka yang memberitahu Harry pelan-pelan?"

Severus kembali mengangguk. "Itu juga bisa. Yang penting, pemberitahuannya harus pelan-pelan, tak boleh mengejutkan."

"Kuperhatikan," Minerva menyorongkan cangkir teh yang sedari tadi diabaikan Severus.

"Satu hal lagi, Minerva," Severus menerima cangkirnya, "jangan sebut namaku. Jangan sampai ada namaku, walau hanya berupa kalimat tersirat. Please?"

Minerva memandang mantan murid yang sekarang menjadi koleganya tajam-tajam. Kenapa ia tak ingin terlihat terlibat?

Tapi ia mengangguk juga.

-o0o-

Tahp demi tahap dilaksanakan. Severus terus masuk ke dalam benak Potter junior, hampir tiap kali bocah itu mendapat detensi. Pelan-pelan ia menanamkan kesadaran, bahwa hanya bisa satu kepribadian saja yang bertahan. Pelan-pelan.

Minerva memberitahu Ron dan Hermione, dan meminta mereka pelan-pelan juga menanamkan kesadaran agar Harry mempertahankan hanya satu kepribadian. Setelah banyak kali bercakap ringan dengan Harry, Minerva kemudian memberitahunya. Setelah yakin bahwa yang sedang diajak bicara adalah Harry Potter, bukan Harold, atau Harry Dursley tentunya.

"Anda yakin? Anda yakin itu yang sedang terjadi pada diri saya?" tanya Harry pelan.

Minerva harus meyakinkan dirinya dulu bahwa yang sedang diajak bicara ini adalah Harry Potter, si banyak tanya, bukan Harry Dursley yang menerima apapun tanpa protes. Setelah itu barulah Minerva kemudian meyakinkan Harry, bahwa hal itu memang sedang terjadi di dalam dirinya.

"Pantas—" Harry menunduk, berbisik pelan, "pantas saya sering sekali mendapati—"

Minerva menunggu lanjutan kalimatnya.

"—sering saya tiba-tiba mendapati saya sudah berada di sebuah tempat, yang saya tidak sadar bahwa saya sudah pergi ke sana. Yang saya ingat, misalnya, saya pergi ke kamar untuk tidur, tetapi hal berikutnya yangterjadi adalah, saya sudah berada di perpustakaan sedang membaca, atau sedang berada di Kandang Burung Hantu—"

"Ada waktu-waktu yang tak kau rasakan, seperti hilang begitu?"

Harry mengangguk.

Minerva menghela napas. "Kita akan berusaha untuk menghilangkan waktu-waktu yang seperti hilang itu, Harry. Berjanjilah, bahwa kau akan berusaha untuk itu. Aku, teman-temanmu: Ron dan Hermione, akan membantumu. Tapi kau sendiri juga harus berusaha keras untuk kembali pada kepribadianmu yang ini. Karena hanya kau sendiri yang bisa membuat perubahan—"

Harry mengangguk kembali, berjanji teguh.

-o0o-

Sepertinya minum teh di kantor Minerva lama-lama bisa menjadi kebiasaan, pikir Severus, saat ia menerima cangkir berisi teh berkepul. Minerva kini yang sedang melaporkan tahap-tahap apa saja yang sudah ia kerjakan: memberitahu Ron dan Hermione, memberitahu Harry, dan bekerjasama untuk menarik kepribadian-kepribadian Harry yang lain agar tak muncul ke permukaan.

"—dan yang masih menjadi pertanyaanku sekarang adalah, kenapa kau sampai bisa bersusah payah meneliti masalah Harry ini? Bukankah kau—bisa dibilang—sangat membenci James, dan kukira juga membenci Harry?"

Severus menghela napas. Menghirup sedikit tehnya, sebelum ia menyimpan cangkirnya di meja. "Kukira—hanya sedikit membayar utang—"

"Membayar utang?"

"Kau tahu, apa yang menyebabkan Potter senior dan Lily—dibunuh oleh Pangeran Kegelapan?"

Minerva mengangguk. "Kukira, sedikit banyak kau berperan di sini. Laporanmu yang menyebabkan Kau-Tahu-Siapa memburu keluarga Potter—"

Severus kembali mengangguk. "Pangeran Kegelapan membunuh Lily. Dan aku tak akan berhenti sebelum Pangeran Kegelapan dimusnahkan. Bagaimanapun caranya—"

"Walaupun dia anak dari orang yang sangat kau benci—"

"Walaupun.

"Walaupun ia bagai cermin dari James?"

"Itu menjadi masalah kedua nanti, jikalau Pangeran Kegelapan sudah dimusnahkan."

Minerve menghela napas. "Baiklah. Jadi, kau bersedia dengan segenap hatimu untuk membantu Harry?"

Severus menatap Minerva tajam. "Ia harus kembali menjadi Potter seutuhnya, tidak menjadi Dursley, tidak menjadi Harold. Kau tahu kenapa?"

Minerva menggeleng.

"Karena kedua kepribadiannya yang lain itu tidak mengetahui mengenai Pangeran Kegelapan—" Severus mengeluh, "Sudah aku telusuri hingga ujungnya, dalam benak Harry Dursley maupun benak Harold, tak ada tanda-tanda pengenalan Pangeran Kegelapan, maupun antek-anteknya. Berbeda dengan saat menjadi Potter, ia tahu siapa Pangeran Kegelapan, ia waspada," wajah Severus mengeras, dan melanjutkan.

"Bagaimana jika ia harus berhadapan dengan Pangeran Kegelapan saat ia menjadi Harry Dursley? Saat menjadi Harold?" kedua mata hitam itu tak terselami.

Minerva menjawab lirih, "Ia bisa saja mati, karena ia tak waspada. Atau bahkan, ia bisa saja terbujuk dan pergi ke seberang pihak—"

Severus mengangguk.

Minerva mengangguk juga, pelan-pelan. "Aku mengerti. Kita harus terus menjaga agar ia tetap menjadi Harry Potter, tetap berada di pihak kita, dan tetap hidup—di saat kita berhasil memusnahkan kejahatan—"

Keduanya menghabiskan teh di cangkir masing-masing.

-o0o-

Sebentar lagi Pesta Akhir Tahun Ajaran. Anak-anak pasti sedang berjalan berbondong-bondong menuju Aula.

Di hadapan Dumbledore, Severus dan Minerva sedang memaparkan kemajuan dari kepribadian Harry.

"Sudah bisa kujamin, sekitar 99 persen, ia sudah utuh Harry Potter. Aku akan tetap mewaspadainya, sebab bahkan peluang sebesar 1 persen pun masih akan bisa muncul—" Severus mengakhiri laporannya.

"Baik. Terima kasih atas kerja kalian yang sangat penuh dedikasi. Kita akan terus mengawasinya," sahut Dumbledore sambil berdiri, memberi isyarat agar keduanya berdiri juga, "Pesta!"

Keduanya berdiri, dan berjalan mengikuti Dumbledore, ke Aula.

FIN

.

.

.

.

.

.

.

.

... Severus terus memantau. Sekali-sekali dilihatnya dengan seksama, bocah Potter di tengah kerumunan siswa-siswa lain.

Sepertinya sudah aman sekarang.

Severus menghela napas.

Ia menarik piring pudingnya mendekat, dan mulai menyendok sepotong puding, hendak menyuap, ketika tiba-tiba dilihatnya sesuatu yang benar-benar mengejutkannya.

Mata anak itu.

Bukankah anak itu benar-benar cerminan ayahnya, kecuali matanya yang merupakan warisan ibunya? Berarti, seharusnya warnanya hijau?

Ya, biasanya juga hijau.

Mata hitam itu menatap bocah Potter dengan seksama.

Matanya biru.

FIN. AGAIN