Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning :
-OOC/Canon/Typos-
-Harap beri tau jika ada kesalahan dan kerancuan dalam penulisan-
A/N : Hello semua, Maaf lama update, lagi sibuk-sibuknya belajar kan bentar UN jadi sara abisin untuk itu, ini juga karena Sara lagi males, hehe dari pada diem mening nyalurin imajinasi, keburu ilang imajinasinya, sayang 'kan. Do'ain yah moga Sara lulus dengan hasil memuaskan Aamiin. O, yah makasih untuk Reviewnya, jadi tambah semangat deh.
O, yah gambar itu sengaja aku edit lo (haha emang nanya) 'kan biar ada bayangannya, gimana kekhawatiran Naruto saat mengetahui Hinata…? Ups hampir saja terbongkar. hehe
-Happy Reading-
-Konoha Condition After Pain Invasion Ended-
-Tranquillity in the Konoha-
Setelah beberapa hari berlalu sejak Invasi Pain besar-besaran, keadaan Konoha mulai berangsur membaik, meski masih segar dalam ingatan bahwa Naruto juga ikut andil dalam pengrusakan konoha akibat amukan kyuubi namun itu sudah tidak berarti apa-apa lagi setelah apa yang dilakukan Naruto, mengalahkan Pain seorang diri bahkan berkat negoisasinya dengan Pain, membuahkan hasil yang sangat manis, jiwa orang konoha yang telah mati telah hidup kembali.
Naruto kini benar-benar menjadi pahlawan yang keberadaanya sangat di akui, orang-orang kini sudah menganggapnya harta berharga. Bahkan Naruto sudah mengalahkan ketenaran seorang Hokage di desa, menjadi panutan bagi anak-anak, bahkan idola baru bagi gadis-gadis remaja. Namun masih saja ada yang menganggu pikiran Naruto.
"Tara Ramennya sudah jadi, Silangkah di cicipi." Ayame segera menghidangkan ramen kesukaan Naruto dihadapanya dengan cengiran khas yang biasa ayame perlihatkan.
"Terimakasih." Jawab Naruto lesu dengan tatapan kosong lalu Naruto segera mengaduk-ngaduk ah bukan terlihat memainkannya.
Itu membuat Ayame harus mengkedutkan dahi. Tidak biasanya Naruto seperti ini, biasanya Naruto langsung memakannya dalam satu lahapan besar, namun kali ini malah memandangi bahkan memainkannya seperti sedang mengaduk kopi.
Dukk segera Ayame memukul kepala naruto dengan sendok sayur berbahan kayu dengan ukuran cukup besar karena kesal dengan sikap Naruto yang seolah-olah tidak menyukai makanannya.
"Ittai apa yang kau lakukan." Naruto segera mengaduh lalu memegang kepalanya yang sakit.
"Kalau tidak suka bilang saja, jangan memainkannya seperti itu, dasar bodoh !"bentak Ayame sambil mendecakan pinggang.
"Siapa bilang tidak enak, aku hanya sedang memikirkan seseorang" Naruto tidak sadar dengan apa yang diucapkannya, berkatnya Ayame segera menyeringai genit.
"memikirkan seseorang! Kau pasti memikirkan gadis hyu-"
"Wah Enak sekali Ramennya." Naruto segera mengusap perutnya yang buncit lalu menyerahkannya pada Ayame—dengan tidak ada rasa bersalah, sama sekali-
"Cepat sekali makannya," Ayame hanya bisa berkedip-kedip melihat mangkok yang sudah bersih, tidak heran naruto memang cepat sekali makan ramen.
"Terimakasih Kak Ayame. Aku pergi." Tiba-tiba naruto sudah berada pada jarak yang cukup jauh dengan kedai sambil melambai-lambaikan tangan, sekali lagi Ayame berkedip memastikan apa yang dilihatnya memang naruto, benarlah itu naruto. Tidak heran naruto pewaris Kilat kuning konoha (hokage ke-4) yang memiliki kecepatan super dalam beralih tempat.
Naruto pun berlari sehingga sedikit demi sedikit menghilang dari pandangan Ayame. Ayame yang baru sadar Naruto pergi segera berteriak.
"Oi Naruto, Jangan pergi ketika aku belum selesai bicara, dasar bodoh, itu tidak sopan tau." Ayame mengacung-ngacungkan tangannya kelangit, tanpa sadar sudah ada seseorang dalam kedai dan ternyata itu Kakashi yang sudah siap memesan ramen. Melihat hal itu Kakashi sedikit merinding, melihat Aura iblis dari anak pemilik kedai yang cantik, Ayame.
"Eh Kakashi-san, kau ingin memesan apa?" Tanya Ayame yang sikapnya berubah selembut sutra yang membuat siapapun luluh, namun ketika Kakashi akan mengajukan pesanan. Sang pemilik kedai, Teuchi-san datang menghampiri mereka lalu segera bertanya pada ayame.
"Ayame, Mangkok milik siapa ini.?" Sang pemilik kedai mengacungkan mangkok kotor yang ada di sebelah kakashi.
Ting ! Ilham datang begitu saja, dan membuat Ayame sadar dari keteledorannya. Segera Ayame berbalik lalu mengacungkan sendok kayu ke langit lalu berteriak-teriak seperti iblis kerasukan setan (?)
"Naruto , Kau belum membayar ramennya,dasar baka, tidak akan ku maafkan kau !"
Kakashi yang baru mengacungkan tangan menjadi merinding. "Ah sepertinya aku tidak jadi memesan, maaf aku harus pergi." Ploof asap putih menyelubungi tempat kakashi dan akhirnya menghilang seiring sosoknya. Sepertinya kakashi berniat tidak membayar ramen seperti Naruto itulah yang membuatnya pergi. dasar
"Ayah, ada yang salah denganku." Tanya Ayame sambil menunjuk dirinya sendiri. Sang Ayah hanya menjawab dengan isyarat bahu yang terangkat. Namun seberapa pun Ayame kesal pada sikap Naruto tapi mengingat jasa naruto yang besar terhadap konoha ia sangat berterimakasih. Jasa itu tidak bisa dibeli hanya dengan sebuah ramen. Ayame dan Ayahya tersenyum "Terimakasih, Naruto. Kau telah menjadi pahlawan bagi desa ini."
-Hinata Love Confession-
Konoha hiruk pikuk dipenuhi warga yang ingin melihat sang pahlawan, suara selamat datang terdengar menggema dimana-mana serta suara tepuk-tangan yang menambah keramaian. Naruto yang sedang di gedong senseinya, kakashi, menjadi kaget lalu bertanya
"Ada apa sensei.?"
"Lihatlah kedepan."
Naruto pun segera menengadahkan wajahnya yang tersembunyi, terlihatlah kerumunan orang yang bertepuk tangan bahkan mengangkat tangan disertai ucapan selamat datang.
"Selamat datang"
"Kami tahu kau pasti berhasil!"
Naruto menatap tidak percaya, Semua terasa mimpi. Namun mimpi yang begitu indah, impiannya menjadi orang yang diakui terkabul.
"Mereka semua telah menunggu kepulanganmu"
Ucapan senseinya menambahkan ketidak percayaan pada diri Naruto. Ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan naruto hanya dengan sebuah kata-kata.
Sang guru yang sedang mengendong Naruto menatapnya seraya mengingat momen dimana naruto menyampaikan impiannya.
"Impianku adalah melampaui Hokage sebelumnya, dan membuat semua orang di desa mengakui keberadaanku!"
Kemudian segera melepas gendongnya lalu berkata "Naruto kau telah melakukan yang terbaik." Sang guru tersenyum di balik topengnya.
Setelah itu anak-anak berhamburan datang dari beberapa sisi sambil berteriak "Selamat datang, Kak Naruto." Lalu Berlari menghampiri Naruto yang sedang berdiri mematung.
"A-apa yang terjadi." Naruto yang masih tidak percaya bertanya, lalu dari balik kerahnya menyembul siput kecil, Katsuyu yang merupakan binatang Kuchiyose Tsunade kemudian menjawab pertanyaan Naruto "Aku akan menjelaskan detail peristiwa yang terjadi."
"Hey! Musuh seperti apa yang Kak Naruto hadapi?" Anak-anak mulai mengerubuni Naruto lalu menarik-narik baju Naruto.
"Apa kau terluka, Kak Naruto."
"Ayo ceritakanlah."
Naruto serasa gula yang dikerubuni semut, anak-anak mulai berdatangan dan menarik-narik tubuhya dari beberapa sisi, sehingga membuat keseimbangan Naruto agak oleng. "Hei hei. Jangan mendorongku seperti ini!" sang guru hanya bisa tersenyum, bangga melihat pencapainya terkabul. Begitupun guru pertama sekaligus keluarga pertama yang di miliki, iruka.
Iruka pun tersenyum bangga, ada keharuan yang menyeruak di hatinya. Anak yang selama ini dianggap pembawa sial justru membawa berkah didesa. Bahkan Ebisu orang yang pernah menggapkan Naruto anak pembawa sial kini justru malah berbalik memujinya.
"Naruto benar-benar hebat 'kan?" senyum Ebisu sambil membenarkan letak kacamata hitamnya. Konohamaru dan iruka yang berada dekat dengan Ebisu segera berbalik pandang ke arahnya. Mendengar hal itu iruka kembali terseyum.
"Awalnya, semua orang mengira keberadaannya begitu mengganggu, termasuk aku." Konohamaru segera memandang guru yang selama ini telah menjaganya. "kami takut mendengar takdirnya, jadi kami sengaja menjauhinya dan tidak memperdulikannya. Dan hari ini semua orang benar-benar percaya sepenuhnya pada naruto."
Gurat kebahagian Iruka benar-benar tebuka, Ia semakin banggamendengar pengakuan ebisu. Iruka jadi teringat bagaimana perjuanganNaruto untuk sampai sejauh kini. Benar-benar perjuangan yang sangat sulit.
"Dan sekarang mereka benar-benar mengkhawatirkannya dan berharap semoga dia kembali dengan selamat. Dia benar-benar telah mengubah perasaan semua orang padanya."
Dengan mantap Irukakembali melebarkan senyum lalu matanya beralih pandang kearah Naruto yang masih melepaskan diri dari jeratan bocah-bocah yang penasaran bagaimana pahlawannya bisa selamat, serta kerumunan Shinobi bahkan warga sipil yang ikut penasaran akan sang Pahlawan. Dengan segenap hati iruka mengatakan "Ini karena Semua usaha yang telah dia lakukan." Konohamaru berbalik pandang pada Iruka, senseinya di akademi.
"Iruka."
"Ya, Tuan Hokage."
"Aku setuju denganmu, tapi dia sepertinya mirip denganmu. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang orangtuanya, dan karena peristiwa itu, orang-orang jadi menjauhinya. Jadi, untuk mendapatkan perhatian, dia terpaksa berbuat jahil. Dengan kata lain, apapun keadaannya dia ingin keberadaannya di akui sebagaimana mestinya. Hokage ke-4 ingin penduduk desa memandang Naruto sebagai pahlawan , dia memasang segel dan mati dengan harapan tersebut."
Iruka terharu, itulah pesan Saidaime Hokage padanya. Berkat itu Iruka menjadi lebih memperhatikan Naruto. "Saindaime Hokage, Yondaime Hokage..." Pandang Iruka ke arah Naruto dengan mata berkaca-kaca lalu dengan mantap ia kembali melnjutkanya "Telah muncul seorang pahlawan baru di hadapan kami sekarang." Ucap Iruka bangga. Lalu semua orang pun teharu merasakan kebahagian bersama yang mungkin hanya sekali dalam seumur hidup, karena jarang sekali 1 wilayah konoha merasakan kebahagian yang sama. Merekapun larut dalam kebahagian kemudian sang Pahlawan yang telah menyatukan perasaan mereka di tarik ke atas lalu bersama-sama di terbangkan menemui langit sambil berteriak "Hore-Hore." Sang Pahlawanpun tersenyum.
-Hinata Love Confession-
Konohamaru dkk, sedang berjalan mengendap-endap layaknya pencuri di ikuti teman-temannya yang lain. Melihat objek sasaran telah terlihat jelas. Lalu konohamaru mengibaskan tangan sebagai tanda persiapan penyerangan di mulai. Ketika hitungan jari konohamaru sudah mencapai 3 terdengar suara...
DOORRR yang membuat objek sasaran langsung terjungkal dari kursi bersamaan dengan buku catatan yang sedang di pegang karena kaget yang luar biasa.
Kemudian suara bahakan serta merta terdengar, membuat hati iruka bergejolak. karena mereka sudah lancang menjahili.
"Hihi Guru pasti sedang memikirkan Kak Naruto yah." Kikik konohamaru menahan tawa.
"Hei kalian ini. Guru tidak mungkin pilih kasih dalam memikirkan muridnya."
"Guru guru, lihat itu Kak Naruto."
Sang guru yang mendengar kata Naruto,langsung menoleh sambil memayungkan telapak tanggan di dahi.
"Mana, mana, mana." Namun tidak terlihat seorang pun datang. Iruka yang merasa sedang dipermainkan lalu menatap konohamaru sinis.
"kalian!"
Segera mereka tertawa kompak. Mereka paham betul apa yang sedari tadi dilamunkan gurunya, pasti sedang memikirkan kak Naruto. Siapa lagi kalau bukan dia. ketika sang guru sedang melamun itulah kesempatan bagus untuk menjahili.
"haha benar 'kan, Guru sedang memikirkan kak Naruto."
Sang guru sedikit malu namun tidak nampak, dasar bocah ingusan, pikir iruka.
"Kalian! Cepat bersihkan lapangan, atau tidak nilai kalian dipotong."
"Tapi guru, lapangannya sudah bersih, apa yang harus kami bersihkan."
Kemudian iruka menengok lapangan, benar saja. Lapangan sudah bersih dari sisa-sisa reruntuhan bekas penyerangan pain. Cepat sekali mereka, pikir iruka sambil mengaruk dahi dengan telunjuk kanan.
"Kalau begitu, keliling lapangan 10 putaran." Perintah iruka.
"Yah guru." Seru mereka kompak dengan wajah lesu.
"Dalam hitungan 3, jika kalian tidak lari nilai kalian akan benar-benar guru potong. 1 2..."
"B-baik guru."
Tubuh mereka langsung tegak ketika hitungan sudah mencapai 2 lalu kompak berlari berjejeran dengan konohamaru yang memimpin, meski sedikit kesal dengan sikap sang guru, tapi mengingat kejadian tadi ketika sang guru teledor , itu sedikit membuat mereka terhibur.
Kemudian sang guru kembali melamun, namun kali ini melamunkan mantan anak didiknya yang pemalu. Dalam bayangan itu sangat jelas bahwa dia amatlah pemalu di banding dengan anak lainnya. Dia selalu menyembunyikan wajah ketika di pandang.
"Hn Bagaimana kabar Hinata sekarang yah" lalu pikirannya beralih ke Naruto. "Apa yang sedang dilakukan anak itu yah, apa dia sedang menemani Hinata di rumah sakit". kemudian sang guru tiba-tiba terkikik mendengar nama Hinata dan Naruto disandingkan Naru-hina, hmm cocok. Jujur, ia tidak pernah menyangka akan seperti ini jadinya. Orang pemalu bisa menyukai orang yang hyperaktif . sungguh jelas dalam ingatan bahwa Naruto sangat menyukai Sakura.
Dan sekarang Iruka sedang berpikir 'apa yang membuat Hinata sampai menyukai Naruto' ini sangat membingungkan sekaligus mengejutkan. Saat di akademi Naruto dan Hinata tidak terlalu dekat bahkan Naruto selalu menganggap Hinata aneh, setiap kali didekati malah selalu menjauh, bahkan ia juga pernah mengatakan padanya 'Guru kenapa orang seperti dia, bisa ada di akademi, dia itu sangat aneh.' Mengingat hal itu malah membuat iruka kembali terkikik. Kemudian iruka kembali bergumam "Sekarang, Apa yang akan dilakukan anak itu ketika mendapat pernyataan cinta dari seorang gadis yah. Haha dia kan tidak pekak".
"Hei hei konohamaru."
"Ada apa Moegi."
"Lihat guru Iruka."Konohamaru menoleh dan mendapati gurunya sedang cekikikan gak jelas, ini merupakan Kesempatan bagus. "Kita kerjai yuk!" ajak moegi. Namun kali ini konohamaru menolak "Tidak, nanti kita di hukum lagi, lebih baik kita kabur saja, bagaimana? "
"Ba-baiklah." lalu merekapun berjalan dengan mengendap-endap seperti siput.
"Huh beruntung sekali Naruto bisa di sukai seorang gadis." Keluh iruka yang sampai sekarang belum menemukan gadis impiannya. Kenapa iruka jadi seperti ini yah. Mungkin akibat iri melihat anak didiknya laku keras, seperti Neji yang disukai tenten, sasuke yang di sukai Sakura, Sai yang di sukai Ino, dan Shikamaru yang disukai gadis suna, Temari. Meski heran kenapa Iruka bisa tau informasi ini. karena secara tidak terduga diam-diam Iruka selalu memata-matai mereka.
'Kami-sama, tolong kirimkan jodoh untukku' Ketika melamun ria tiba-tiba ton-ton berlari menghampirinya. Seketika muka iruka memucat.
"Kami-sama, kenapa kau kirimkan seekor babi. Aku ingin seorang manusia" Tiba-tiba seseorang berteriak sambil melambaikan tangan. Iruka menyipitkan mata ternyata itu manusia. syukurlah.
"Shizune-san" ucap iruka ketika melihat sosoknya.
"Iruka-san. Anda di panggil Tetua ke kantor. Ada hal yang ingin dibicarakan?" lapor shizune dengan nafas memburu.
"Tetua memanggil saya?"
"Ia, Anda di minta untuk cepat datang."
"Baiklah, tapi tunggu sebentar, anak-anak harus di beri tau."
"Anak-anak siapa, disini tidak ada siapa-siapa. Iruka-san"
Tidak ada siapa-siapa, Iruka menjadi kaget lalu segera berbalik. Kosong, hening, hanya suara tokek yang terdengar. "kalian!" uratnya mulai bermunculan. Ketika akan meledak tiba-tiba Shizune menarik tangannya, membuat tubuh iruka tertarik.
"Tidak ada waktu lagi, Anda sudah di tunggu tetua." Sejenak iruka tertegun, lalu melihat tangannya yang di tarik kemudian tersenyum. Ia baru sadar ini kali pertama ada seorang perempuan yang memegang tangannya.
-Hinata love Confession-
"Aku senang sekali, Naruto" ucap Hinata yang melihat Naruto sudah kembali dengan selamat dari pertempuran. lalu tetesan Air mata turun membasahi pipinya, Ini merupakan kebahagiaan yang tidak bisa di ungkapkan Hinata dengan sebuah kata-kata.
Semua mata kini tertuju pada satu titik, dimana sang pahlawan berada. Rasa tidak percaya, bangga dan keharuan mereka perlihatkan. Air mata kebahagiaan nampak menetes di pelupuk mereka.
Shikamaru yang sedang dirangkul Choiji pun merasakan kebahagiaan yang sama. dulu Ia sempat meremehkan tekad Naruto yang ingin bertarung sendirian melawan pain.
"Aku sempat tidak percaya dia berhasil mengatasi semuanya sendiri." Senyum Shikamaru, Choiji yang sedang merangkul Shikamaru mengangguk,mengiyakan ucapan shikamaru.
"Sampai membuatku hampir jatuh cinta padanya." Sambung Ino dengan tatapan sejuk. "Hah" Shikamaru dan Choiji yang memang dekat dengan Ino, langsung berbalik menatapnya tidak percaya.
"Dia memang sesuatu, itulah Naruto. Itulah teman sekelasku!"kini giliran kiba yang berseru.
"Dia sudah selangkah didepan kita." Sambung Shino yang berada di sebelah kiba.
"Diam, kita baru akan memulainya sekarang!" bentak Kiba yang tidak masih tidak terima kalau Naruto sudah berkembang melebihi teman seangkatannya. Namun kiba tetap bangga, memiliki teman berharga yang rela melindungi desa dengan mempertaruhkan nyawa.
Lalu Dikerumunan orang, terlihat kaki jenjang melangkah mulus menghampiri seseorang yang tengah sibuk melepaskan diri dari kerumunan bocah.
Menyadari ada seseorang yang mendekat, Naruto berhenti mengoceh begitupun para bocah lalu Naruto menatap orang itu. "Sakura"
"Bodoh. Kau sangat ceroboh!" Bentak Sakura lalu dengan tidak terduga ia memukul kepala Naruto kasar, Keseimbangan Naruto pun oleng, saat ia akan terjatuh sakura telah menyangganya. Lalu perlahan memeluk Naruto,Naruto kaget, ini kali pertama Sakura melakukan seperti ini. dulu Naruto selalu babak belur karena ada niatan untuk memeluk, padahal itu baru niat belum sampai memeluk, Namun kini malah sebaliknya, membuat naruto benar-benar dalam kekagetan yang luar biasa. Semua orang mamandang kaget apa yang dilakukan Sakura.
Hinata yang melihat itu sedikit terkejut, ada rasa sakit yang bersarang di hatinya. Ia mulai berpikir bahwa sakura memang pantas untuk Naruto dan tidak seharusnya ia berharap banyak akan balasan pernyataanya.
Neji yang melihat Sakura memeluk Naruto sama ikut terkejut, lalu pandangannya beralih ke hinata. Nampak ada semburat kesedihan di wajah hinata, melihat hal itu Neji segera mendekat lalu merangkul tubuh hinata hangat. kesedihan ini tidak pantas di perlihatkan saat orang-orang berbahagia.
"Neji." Ucap tenten yang kehilangan sosok Neji, lalu matanya mulai berembun ketika melihat Neji merangkul Hinata. Setelah itu tenten memegang tubuh bagian atas antara paru-paru. "Kenapa bagian ini terasa sakit.".
"Tenten apa kau sakit." Tanya lee yang melihat tenten memegang dadanya.
"Tidak, aku hanya terharu saja." Jawab tenten berbohong lalu di jawab dengan "Oh" dari lee.
Sementara itu Naruto yang sedang dipeluk Sakura, perlahan mulai memegang bahu sakura lalu mendorongnya lembut sehingga jarak diantara mereka renggang. Ada rasa yang mendorong Naruto harus melakukan ini, rasa untuk tidak mengecewakan hati seseorang dan menghargai perasaannya. Ia tau mungkin seseorang itu sedang mengamatinya dari jauh.
"Maaf sakura. !"
"Kenapa, apa ini Karena Hinata?"
Mendengar nama Hinata disebut, naruto segera menudukan wajah, Ia tidak berani menjawab pertanyaan Sakura, karena hal itu akan menambahkan rasa bersalah Naruto terhadapnya.
"Aku sudah bisa menebak. Perasaanmu, rasa bersalahmu itu tidak bisa di bohongi. Aku memakluminya,Naruto " tatap sakura sambil memegang pipi Naruto, ada rasa campur aduk di hatinya antara sedih dan senang, sedih karena perhatian Naruto akan beralih, senang karena dia baik-baik saja, sosok Sasuke yang sudah lama bersarang di otaknya tiba-tiba menghilang terganti dengan sosok Naruto.
"Terimakasih sakura." Ucap Naruto sambil memegang tangan sakura lalu melorotkannya perlahan ke bawah, sampai pegangan itu tidak lagi terikat.
Setelah terlepas dari belengu anak-anak dan sakura, Naruto berniat akan menemui hinata untuk mengucapkan Terimakasih dan hal lain, namun niat itu terhalang ketika Naruto melihat Neji sedang merangkul Hinata, disana Hinata tampak terisak-isak membuat Naruto semakin merasa bersalah.
Naruto mulai berpikir hanya Neji lah yang mampu menjadi penenang hati hinata bukan dirinya yang malah membuatnya repot bahkan sampai berkorban nyawa.
Tidak sanggup melihat pemandangan yang menurutnnya sedikit menusuk, Naruto membalikkan badan, saat akan melangkahkan kaki terdengar keributan dari belakang yang mengatakan bahwa "Ada orang pingsan,dan butuh pertolongan secepatnya." Semula ia tidak terlalu bereaksi, tapi ketika nama itu disebut Naruto dengan Refleks segera berbalik dan berlari ke kerumunan itu.
"Hinata, Hinata, bangunlah." Neji menepak-nepak pipi Hinata.
"Minggir-minggir." Teriak naruto dengan bergegas-gegas. Setelah sampai di TKP, terlihatlah tubuh Hinata yang kaku, mata sayu terpejam, wajah putih pucat. orang-orang yang mengerubuni Hinata langsung berbalik pandangpada sosok yang datang, Naruto.
Dengan ke khawatiran yang tinggi, Naruto segera memangku tubuh Hinata yang ada di pangkuan Neji lalu membawanya pergi tanpa seizin Neji. Neji agak terkejut dengan kehadiran Naruto yang mendadak, kemudian muncul rasa kesal ketika Naruto secara mengejutkan memangku Hinata.
'Aku harus segera menemui Nenek Tsunade' Pikir Naruto yang sibuk mencari keberadaan Tabib terbaik yang sudah tidak diragukan lagi ke ahliannya.
Orang-orang yang melihat reaksi Naruto seperti pangeran memangku sang putri untuk mencari pertolongan bagi sang putri yang tengah di ambang hidup dan mati menjadi terkagum-kagum bahkan menyurakainya serta bertepuk tangan ria. Dari situ mereka mulai berpikir ada sesuatu di antara mereka.
"Naruto, kau akan membawa hinata kemana.?" Tanya Ino yang melihat Naruto sedang sibuk mencari seseorang.
"Aku akan membawanya pada Nenek Tsunade." Jawab Naruto.
"Percuma, Naruto." Seru salah satu anbu pengawal Hokage.
"Kenapa percuma?."
"Hokage sedang kritis, cakranya melemah akibat menggunakan jurus regenerasi untuk menyelamatkan semua orang yang ada didesa." Jelas Anbu tadi yang membuat Naruto kaget karna baru tau kabar ini, ini malah membuat suasana hatinya bertambah kacau.
Saat sedang bingung, apa yang harus Naruto pikirkan. Seseorang berteriak lalu menghampiri, ternyata itu sakura yang menawarkan jasa.
"Bawa Hinata ke tenda medis, aku dan Shizune-san akan segera mengambil tindakan medis secepatnya." Tawar Sakura ramah. Mendengar itu Naruto menjadi senang, segera ia menuruti apa yang dikatakan Sakura, berlari ke tenda medis yang sudah ada Shizune yang tengah meracik obat dan tonton yang menemani. 'Hinata bersabarlah, aku akan segera menolongmu' gumam Naruto dalam hati.
Flashback Off
Awan cumulus berarakan, menambah suasana indah di langit. Burung-burung berkicau memainkan melodi yang indah. Semilir angin berhembus sejuk mengoyangkan rerumputan hijau yang tingginya sama dengan mata kaki. rusa-rusa melompat lincah dengan gemulai bersama kawanannya.
"Taman Nara, Memang indah" seru seseorang yang kini tengah berbaring di rerumputan menikmati keindahannya. Hatinya menjadi damai, beban masalah terasa berkurang, namun masih saja ada ganjalan di hatinya yang tidak hilang, keadaan seseorang dan sikap seseorang yang akhir-akhir ini berbeda.
"Bagaimana keadaannya yah." Gumamnya sambil memandang awan dengan kepala betumpu pada telapak tangan yang jari-jarinya saling bersimpulan rapat.
Saat menikmati Taman Nara, terdengar suara telapak kaki yang semakin kesini semakin terdengar jelas namun ia pedulikan, ia lebih senang menikmati awan dari pada mengalihkan pandang.
"Ternyata kau, Naruto." Baru ia menoleh ketika namanya di sebut, ternyata yang datang adalah Shikamaru. Ini kan memang wilayah Klannya, sudah sewajarnya dia ada disini untuk menjaga rusa yang daging dan obatnya sangat di perlukan untuk pengobatan.
"Tumben kau ada disini.!" Kemudian shikamaru duduk dekat Naruto. Bagi shikamaru mungkin sudah wajar ada di tempat ini untuk memandang awan, tapi bagi Naruto itu hal yang patut di pertanyakan, tidak biasa-biasanya Naruto memiliki Hobi yang sama dengan Shikamaru, Naruto 'kan lebih suka hal yang sifatnya berisik.
"Shikamaru, kenapa kau tidak memberitauku ada tempat seindah ini."
"Kau yang tidak pernah bertanya." Shikamaru kini berbaring dan memenjam mata untuk menikmati keindahan taman Nara. Namun tiba-tiba matanya terbuka karena mengingat satu hal.
"Naruto, Apa kau sedang ada masalah.?" Tanya Shikamaru yang baru ingat perkara yang akan di tanyainya.
"Shikamaru, apa kau melihat ada yang berbeda dari Neji.?" Ucap Naruto yang malah menanyainya balik.
"Memangnya kenapa dengan, Neji?"
"Ah bukan apa-apa, mungkin hanya Firasatku saja." Naruto kembali menengadahkan wajah ke langit untuk melihat awan yang sedang berarakan. Lalu semilir angin berhembus membuat kesejukan di taman itu.
"Naruto, kau adalah orang yang membuat Hinata seperti ini. bisakah kau sedikit pekak terhadap perasaannya. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Hinata melakukan sampai sejauh ini hanya karena untuk menolongmu dan membuatmu bahagia. Padahal kau sendiri tidak pernah memperhatikannya, jujur aku sangat kecewa sekali padamu."
"Apa maksudmu. Neji?"
" Apa kau masih belum pekak. Hinata melakukan ini karena mencintaimu.!"
"Ya, aku tau."
"Kalau kau tau, kenapa kau tidak bisa menghargai perasaannya. Kenapa kau diam saat Sakura memelukmu."
"Neji, itu bisa kujelaskan."
"lebih baik kau menjauhi Hinata mulai dari sekarang!"
Nafas Naruto sudah tidak bisa teratur lagi, dadanya beberapa kali berkontaksi dan Dahinya sudah berpeluh basah, Shikamaru yang melihat keadaan naruto yang tidak wajar, menjadi khawatir. Segera ia mengoyang-goyang tubuh Naruto.
"Naruto kau kenapa? Hei bangunlah. Jangan membuatku khawatir"
Kemudian tubuh Naruto tiba-tiba tegak, membuat shikamaru tercekat karena kaget sehingga mundur beberapa centi.
"kau membuatku kaget saja."
Lalu tiba-tiba Naruto segera berdiri dari posisinya, membuat shikamaru semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Shikamaru aku harus pergi."
Baru Shikamaru akan bertanya Naruto sudah pergi, membuat shikamaru kesal saja."dasar anak itu!" lalu shikamaru pun pergi mengikuti langkah Naruto, Shikamaru berpikir pasti terjadi sesuatu pada Hinata. Melihat ekspresi naruto yang seperti sedang khawatir.
-Hinata Love Confession-
Flashback On
"Kak Shizune, kak Shizune." Naruto berteriak-teriak di dalam tenda mencari sosok Shizune. Shizune yang mendengar teriakan Naruto segera menghambur dari tempat lalu Ia kaget melihat Hinata sedang di pangku Naruto.
"Kenapa dengan hinata.?"
"Sebaiknya, Cepat tolong dia"
Lalu dengan cekatan Shizune segera memerintah orang medis membawakan belangkar, lalu hinata pun segera di tidurkan dan dibawa ke ruangan UGD. Naruto hanya bisa melihat hinata di balik jendela tenda Karena shizune yang memerintah sebab jika Naruto ikut hanya akan menganggu proses tindakan medis.
Dari pintu masuk terlihat orang-orang datang. mereka adalah teman seangkatannya seperti Kiba, Shino, Ino, dll. Mereka berkerumun di tempat Naruto berdiri dengan Wajah yang sama-sama di rundung kesedihan.
"Naruto, Bagaimana keadaan Hinata.?" Tanya Kiba.
"Aku juga tidak tau."
"Ku harap dia baik-baik saja." Ucap tenten.
"Ya, semoga saja." Seru lee.
Naruto tampak mondar-mandir sambil mengigit telunjuknya khawatir, beberapa kali ia menengok ke jendela untuk melihat keadaan di dalam. Terlihat orang-orang medis sedang menginfus Hinata dan memasang tabung oksigen lalu selangnya terhubung ke hidung hinata. Naruto semakin khawatir ketika Shizune sibuk bernegoisasi dengan orang medis lainnya.
Saat Naruto ingin menyimak berbincangan di dalam, tiba-tiba dengan tidak terduga Neji menyeret lengan Naruto keluar.
"Naruto, aku ingin bicara sebentar."
Tenten mendelikan mata, karena melihat neji membawa Naruto keluar. Karena penasaran akhirnya tentenpun mengikuti mereka dengan langkah mengendap.
Setelah sampai di luar tenda, neji melepaskan tangan Naruto sedikit kasar. Kemudian menatap Naruto seperti tidak suka. Suasana pun tampak sedikit tegang dan kaku.
"Kau ingin berbicara apa, neji." Tanya Naruto.
"Naruto, kau yang telah membuat Hinata seperti ini, aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada Hinata."
Tenten yang mendengar pembicaraan itu menghela nafas, ia sudah menduga pasti itu yang akan di bicarakan Neji, mengingat Neji sangat menyayangi hinata lebih dari saudara. Jika sesuatu terjadi pada hinata, maka neji yang akan bertindak. Hatinya menjadi lemah, Cintanya bertepuk sebelah tangan, sebesar apapun pengorbanan tenten sepertinya itu tidak berarti dimata Neji, bukankah dulu neji sangat membenci hinata karena Ayahnya terbunuh untuk melindungi Hinata. Kenapa sekarang malah berbalik menyayanginya. Mungkin akibat rasa bersalah Neji setelah mengetahui fakta yang terjadi, bahwa ayah yang di cintainya, Hizashi Hyuga yang merupakan saudara kembar dari Ayah Hinata, Hiashi Hyuga. Mati bukan karena paksaan melainkan mati karena keinginannya sendiri demi klan dan desa.
"Ya, aku tau neji, kau sudah sepantasnya marah padaku, maafkan aku."
"Apapun yang terjadi, Kau harus ber…."
Namun perkataan neji terhenti karena tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam, segera mereka berdua menghampiri TKP begitu pun tenten. Terlihat orang mendis sedang berbincang dengan teman-temannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Naruto.
"Kami sehabisan Stok darah AB, apakah ada yang mau menolong?" Mereka semua saling berpandangan, menanyakan apakah golongan darahnya cocok. Namun sayang tidak ada yang cocok Lalu mata mereka tertuju pada Neji yang memang satu Klan dengan hinata mungkin darahnya paling cocok untuk di donorkan. Namun secara mengejutkan Naruto menawarkan diri.
"Kebetulan golongan darah saya AB, ambil saja darah saya"
"baiklah, mari ikut saya?" kemudian Naruto pun di giring ke ruang pendonoran, semua orang yang melihat kebaikkan hati Naruto, terkagum-kagum, mereka tidak menyangka Naruto akan sebaik ini pada Hinata.
Flashback OFF
-Hinata Love Confession—
Sejak saat itu, Naruto tidak pernah lagi bertemu Hinata. Karena setiap kali akan menjenguk selalu ada Neji yang sikapnya telah berubah, dan ayahnya Hinata, Hyuga Hiashi yang mungkin akan mengintrogasinya. Ia bingung akan menjelaskan seperti apa jika benar akan di introgasi karena di takutkan malah akan menambah masalah baru. Jadi Naruto hanya bisa melihat Hinata dari balik jendela. Sampai detik ini, naruto masih belum sadar akan perasaannya terhadap Hinata, apakah perasaan ini karena rasa bersalah atau memang benar-benar menyukai Hinata. Naruto memang tidak pekak soal ini. harus ada seseorang yang menyadarkannya.
-Hinata Love Confession-
Naruto tiba di rumah sakit konoha, karena hinata ada disana, semula Hinata di tempatkan di tenda medis karena infrastuktur Rumah sakit yang tidak memungkinkan untuk di tempati. namun kali ini sudah di perbaiki, jadi Hinata langsung di pindahkan ke tempat yang layak.
Tiba di TKP Terlihat kerumunan Shinobi sedang berkumpul di luar ruangan, tempat Hinata di rawat. Muka mereka tampak di rundung kesedihan, membuat Naruto khawatir.
"Kenapa kalian menangis, Apa yang terjadi?" tanya Naruto gelagapan.
"ada seorang Konoichi yang meninggal.?" jawab orang itu.
Deg jantung Naruto terasa mau berhenti dan hatinya terasa di tusuk duri yang tajam. Kabar ini amat memukulnya, Seorang Konoichi meninggal. bukankah ini ruangan Hinata, jangan-jnagn Konoichi itu adalah Hinata. Benar-benar kabar yang membuat hati terjepit. Seketika Tubuh Naruto tiba-tiba kaku, matanya tidak mau berkedip. Tangannya bergetar hebat dan Matanya mulai berembun. Rasa sakit mulai terasa di dadanya.
'Kenapa, kenapa harus Hinata? Kenapa tidak aku saja, Kami-sama" Gumam naruto dengan mata yang berembun yang sebentar lagi akan berkondensasi mengeluarkan zat yang di kandungnya.
Tap tap tap . terdengar suara telapak kaki yang bergesekan dengan permukaan lantai. Mereka adalah teman seangkatan naruto.
"Apa yang terjadi, Naruto.?" Tanya Choiji.
"Hinata." Jawab naruto dengan air mata yang sudah menetes.
"Apa yang terjadi pada Hinata. jawab aku Naruto?" tanya Ino sewot dengan wajah yang sudah menegang.
"Hinata meninggal!" Jawab Naruto yang seenaknya menyimpulkan, karena ia tau ruangan ini hanya di tempati Hinata, jadi yang meninggal di ruangan ini pastilah Hinata.
Ino yang mendengar itu segera terjatuh, Air matanya sudah turun begitu deras tidak tertahan lagi. Sakura yang sudah berjanji akan menolong Hinata menjadi merasa bersalah pada Naruto, karena tidak bisa memegang janjinya. Semua teman seangkatan hinata tidak percaya dengan kabar ini, Hinata begitu cepat berpulang tanpa terlebih dahulu mengetahui jawaban dari naruto. Naruto menjadi menyesal karena selalu menghindari. Ada rasa ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki waktunya yang terbuang sia-sia.
Di langit nampak awan hitam bergumpal-gumpal. Menggambarkan perasaan mereka yang sedang suram. Lalu awan hitam itu mulai berganti dengan titik-titik air yang kemudian jatuh membasahi tanah kering, seolah menggambarkan perasaan mereka ketika kabar itu datang. lalu titik-titik itu berubah menjadi garis panjang dengan aliran yang cukup deras sehingga membuat tanah menjadi lembek dan becek membentuk kolam kecil seolah menggambarkan bagaimana perasaan mereka yang benar-benar kehilangan sosok hinata yang selalu ramah dan tersenyum. Akhirnya kabar itu tersiar ke telinga banyak orang, mereka pun ikut bersedih.
….Dan pada akhirnya cerita ini pun akan berakhir…..
The end
.
.
Upss
.
.
To be Continue .
Karena saya cape ngetiknya. hehe
Tunggu kisah selanjutnya, di chapter depan yah. bye bye
.
.
A/N: Gimana reader.? (nyiapin golok) Huaaaa jangan marah gitu donk, ini kan hanya cerita dari Author payah yang sengaja ingin mempermainkan hati reader. Huaa Kaburrrrrrr, di keroyokin Naruhina Lover.
Jangan menyimpulkan dulu yah, karena cerita ini belum berakhir, masih banyak kejutan yang belum di buka. (haha dasar Author aneh). Di cerita ini pasti diselipi pasangan lain, jangan marah, ok. karena akan sangat berpengaruh pada cerita, nanti jadi tidak nyambung lagi deh.
Sudah yah, sekarang aku mau focus belajar. Mungkin agak sedikit lama Updatenya. Harap maklum 'kan bentar lagi UN.
Saya sangat berharap ada Review dari sobat yang berbaik hati demi kelangsungan cerita ini. yang mau saran dan kritikpun boleh, tapi yang bersifat membangun yah bukan malah yang menjatuhnkan. hehe
Salam hangat persaudaraan dari Author untuk siapapun yang telah berkunjung ke sini. Bye
Balasan Review:
Wkjoan: hehe Kemarin memang kebanyakan ngutip sih. Tapi sekarang mah enggak kok, tapi ada sih Cuma dikit, he :D. Kan biar terlihat seperti nyata di Manga aslinya, itu yang sedang aku rencana'in. hehe. ini aku persembahin buat Naruhina lover yang galau bila benar Naruhina gak jadi di pasangin di manga aslinya. Makasih Reviewnya, kalau bisa Review lagi yah.. he :D
Hyuza Uzuhi : Yaps, ini aku udah update kok Thanks Reviewnya. Kalau bisa Review lagi yah. Biar tambah semangat nulisnya :D
Hohoemu: Dan sekarang nyawa hinata sedang ada di tangan aku, hehe. kalau mau tau gimana nasib hinata,makanya tongkrongin terus ceritaku. (hehe ngarep). di tunggu Reviewnya lagi..
Heiwa: Ok, udah di update kok. Thanks Reviewnya, kalau bisa Review lagi. Hehe
Guest: Huaaa makasih Reviewnya, sampai 2 kali. Udah di update kok, tenang! Kalau bisa review lagi yah,,, hehe
Nalula zurachan : Makasih yah udah bersedia berkunjung dan baca ceritaku yang abal ini. Jadi tambah semangat aja. Yeahh I'm Spirittt../('O')/
