Disclaimer:
-Naruto © Masashi Kishimoto-
.
Warning:
-OOC/Canon/Bromance/Divergence/Typos/-
-Harap beri tau jika ada kesalahan dan kerancuan dalam penulisan-
.
Author:
-Hyuzumaki Sarachan-
.
Title:
-Hinata Love Confession-
.
Spesial to:
-Reviewers and readers-
-Terimakasih sudah berkunjung ke sini ^_^-
-Tapi Akan lebih senang jika kalian mau menReview disini-
.
Notes:
Cerita ini aku update sekali tamat, ini balasan karena aku updatenya kelamaan. O, yah Karena ceritanya cukup panjang, jadi aku bagi ke dalam beberapa chapter. Semoga kalian suka.
.
-^-^-^-^-Happy Reading-^-^-^-^-
.
.
.
Hujan telah mereda, menyisakan kolam kecil dan tanah berlumpur. Terganti dengan garis sinar keperakan yang mencuat dari langit lalu sinarnya melebar ke penjuru wilayah untuk membuatnya nampak jelas. Hamparan karpet hijau telah terbasahi membuat massa daun memberat. Burung-burung terbang dari tempat persembunyiannya untuk mengabarkan kebahagiaan di bumi.
Gadis manis keluar dari tempat persembunyiannya guna mengecek keadaan di luar yang sudah tak terdengar lagi gemericik hujan. Matanya terbuka melihat keindahan yang tercipta, terlihat kuncup bunga merekah lalu burung mungil datang menghampiri begitu pula sang kupu-kupu yang datang berkawanan juga hewan vetebrata yang telah keluar dari tempat persembunyiannya.
Sang gadis terpana, matanya tak mau berkedip. Dalam hati sang gadis bertanya, aku dimana dan siapa aku, tempat ini begitu asing namun terasa de javu. Pertanyaan itu terus menggerogoti pikirannya tak mau hilang barang sejenak meski untuk satu sekon.
Namun tiba-tiba datang burung kecil sehingga mengalihkan pikiran sang gadis. Sang burung terus memutari kepalanya seperti mengajak bermain dan pada akhirnya sang gadis pun bermain mengitari taman yang rumputnya masih basah.
Seorang wanita paruh baya yang masih cantik terlihat sedang memberi makan kawanan rusa, rambutnya hitam tergerai, sedang sebelah tangan menggenggam keranjang dan tangan satu lagi menyodorkan makanan pada mulut rusa yang terbuka.
Saat sedang asyik memberi makan kawanan rusa, ibu tersebut melihat seorang gadis dengan rambut panjang indigo yang tergerai indah serta memakai yukata biru –pakaian rumah sakit konoha- tengah berlari mengikuti kawanan burung mungil. Karena penasaran ibu tersebut menghampiri sang gadis. Sampai disana yang terjadi adalah kekagetan yang disusul dengan ketidak percayaan.
"Hyuuga-hime. Apa yang sedang kau lakukan di sini?" panggil ibu muda tersebut namun tidak mampu mengindahkan pandangan sang gadis dari kawanan burung karena sang gadis merasa bukan dirinya yang di panggil mungkin orang lain.
"Hyuuga-hime. Apa kau mendengarku?" sekali lagi ia bertanya dan kali ini mampu mengindahkan pandangan sang gadis dan itu membuat kawanan burung lepas dari rotasinya.
"Maaf, anda memanggil saya?" Sang gadis malah bertanya membuat kekagetan Si Ibu. Tidak biasanya dia seperti itu, biasanya ketika di panggil selalu menoleh ini malah bertanya.
"Iya, kenapa hyuuga-hime tidak berbalik dari tadi?" ketika di tanya sang gadis malah mengkedutkan alis menatapnya. Aneh ini sungguh aneh, Pikir sang ibu.
"Maaf, anda siapa dan ini dimana?" selidik sang gadis yang membuat kekagetan berlipat Sang Ibu bertambah, pasalnya ini merupakan daerah Favorit yang banyak di kunjungi di konoha mana mungkin orang dalam tidak tau. Dan setau Sang Ibu gadis tersebut merupakan pengunjung tetap yang selalu berkunjung seminggu sekali.
"Hyuuga-hime tidak ingat, ini Bibi Yoshino dan ini merupakan taman Nara yang di jaga Klan kami, Nara." Jelas sang Ibu yang dikenali bernama Yoshino namun itu sukses membuat Si gadis makin menautkan alis dan garukkan dahi sebagai tambahan ketidak pahamannya.
"Ini Bibi Yoshino, Ibunya Shikamaru sekaligus teman Ibumu, namun ibumu sudah meninggal di usia muda saat kalian masih kecil"
Melihat reaksi sang gadis tetap tak berubah, masih dengan wajah ketidakpahaman. Akhirnya bibi Yoshino mencari cara lain untuk membuat dia ingat, mungkin dengan mengingatkannya pada hal yang selalu di pikirkannya seperti…
"Kau ingat Uzumaki Naruto." Nah itulahyang dipikirkan Bibi Yoshino, mungkin dengan ini pikirannya sedikit cerah. Semoga saja.
"Uzumaki Naruto." Hatinya mulai merasa aneh ketika nama itu disebut seperti
akan datang sebuah kejutan.
Bibi Yoshino mulai menjelaskan siapa Naruto dan bagaimana sosoknya, dalam benak sang gadis dia sangat gagah dan berjiwa kesantria karena Bibi Yoshino menjelaskan Bahwa Naruto merupakan Pahlawan penyelamat desa. Lalu wajah Sang gadis terlihat murung dan sedih ketika Bibi Yoshino menceritakan seorang gadis yang rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan pahlawan desa. Gadis tersebut sampai sekarat dan koma beberapa hari, orang-orang menjadi sedih. Bibi Yoshino juga menceritakan bahwa gadis itu amat mencintai Pahlawan desa karena alasan itulah dia bertaruh nyawa.
Ketika Bibi Yoshino sampai pada akhir cerita dimana Si Gadis penyelamat pada akhirnya pingsan dan koma beberapa hari ketika melihat sang pujaan hati memilih yang lain. Dia malah bersedih dan sangat menyesali perbuatan si gadis penyelamat tersebut.
"Bodoh sekali gadis bernama Hinata itu, Bibi. Lebih baik jangan menyelamatkannya saja dari pada berakhir seperti ini. itu sangat menyedihkan. Benar 'kan, Bibi Yoshino?"
Mendengar hal itu sang Bibi malah menepukkan tangan ke jidatnya, bodohnya, berarti penjelasannya sia-sia, merepotkan saja. Sepertinya gadis di hadapannya ini menganggap bahwa diriya sedang menceritakan sebuah kisah roman yang menyedihkan. Padahal nyatanya, Bibi Yoshino menceritakan pengalaman gadis tersebut yang diketahui bernama Hinata Hyuuga.
"Kenapa Bibi menepuk dahi, Bibi sakit kepala yah?"
Namun Bibi Yoshino menjawab dengan helaan nafas yang membuat Hinata harus menggaruk pelipis karena heran. Apa aku salah bertanya yah, Pikir Hinata dalam hati.
"Kau tidak ingat sama sekali dengan cerita ini?"
Namun tidak terdengar jawaban dari hinata, hanya tatapan bingung dan tautan alis yang Hinata perlihatkan. Sepertinya dia benar-benar tidak tau, Bibi Yoshino menyimpulkan dari reaksi Hinata yang terlihat kebingungan. Mungkin satu-satunya cara hanya berdo'a pada Kami-sama, berharap ingatan Hinata cepat kembali.
"Tunggu Bibi Yoshino." Cegah Hinata yang membuat Bibi Yoshino kaget.
"Kau ingat sesuatu?" Tanya Bibi Yoshino antusias.
"Tidak. Aku hanya ingin mengambil sesuatu yang ada di bawah Bibi. Boleh minggir sebentar, Bi?"
Segera Bibi Yoshino mengendurkan jarak, dilihatnya ada pelindung kepaladengan lambang konoha. Mereka semua menautkan Alis. Lalu hinata mengambil pelindung kepalatersebut, di lihatnya secara detail namun yang di dapat hanya ketidaktauan.
"Bibi Yoshino tau, ini milik siapa?" Tanya Hinata sambil mengacungkan benda tersebut namun Sang Bibi malah menautkan alis, menatap intens apa yang di pegang Hinata.
"Bibi juga tidak tau, mungkin milik pengunjung yang datang kemari.?" Jelas Bibi Yoshino yang dibalas dengan Jawaban "Oh" dari Hinata.
"Lebih baik kau simpan saja, di takutkan akan hilang jika di biarkan tergeletak. Lalu sebisa mungkin kau temukan pemiliknya kemudian serahkan."
Lalu Hinata pun mengangguk, mengiyakan apa yang di jelaskan Bibi Yoshino. Setelah cukup lama berbincang, Bibi Yoshino mengajak Hinata minum teh di rumahnya. Hinata pun setuju, lalu mereka pun sama-sama berjalan keluar dari Taman yang dipenuhi Binatang cantik dan bunga-bunga yang bermekaran.
Dalam perjalanannya, Hinata selalu di ikuti burung mungil yang tadi mengajaknya bermain. Terkadang Hinata sedikit bermain dengan burung tersebut. Burung tersebut selalu berputar di kepalanya seperti ingin memberitahukan sesuatu yang akan terjadi, namun akhirnya burung mungil tersebut pergi ketika Hinata masuk ke rumah Bibi Yoshino. Sebelum pergi hinata memberi pesan pada Burung tersebut.
"jaga baik-baik dirimu yah burung kecil. Selamat tinggal.?" Hinata tersenyum melambaikan tangan.
-Hinata Love Confession-
Suasana keharuan masih meliputi kolidor rumah sakit dekat ruangan yang Hinata tempati yang kini telah di sesaki para shinobi yang ingin mengetahui kondisi Sang konoichi cantik yang meninggal. Pipi mereka terlihat basah karena yang mereka lakukan dari tadi hanya menangis. Begitu juga dengan Naruto yang kini tengah di beri ketenangan dari teman-temannya agar tidak lagi bersedih.
Saat mereka masih sibuk menenangkan Naruto seorang Medisin datang. dia telihat sedang panic lalu di susul dengan Hanabi, Kou,Hiashi dan orang-orang klan Hyuuga lainnya.
Tenten yang melihat mereka tengah panic segera menghentikan langkah dari salah satu pemilik mata byakugan yang paling mungil, Hanabi. Lalu tenten menanyakan apa yang sedang terjadi.
"Tunggu Hanabi, Neesan ingin bicara sebentar. Boleh 'kan?" Cegah tenten sambil memegang pundak Hanabi lalu merengkuhkan badannya agar setara dengan Hanabi.
"Boleh, Memangnya apa yang Tenten-Neesan ingin tanyakan.?"
"Begini, Neesan heran kenapa kalian (Orang Hyuuga) terlihat panic dan jalan terburu-buru. Memangnya, apa yang terjadi?" tanya tenten lembut.
"Ini gara-gara Hinata-Neesan hilang, Tenten-Neesan. Jadi semua orang sedang sibuk mencarinya." Jelas Hanabi yang membuat rasa ketidakpercayaan dalam hati tenten. Karena setau tenten, Hinata sudah meninggal dan yang ada diruangan yang mereka sedang berkumpul adalah Jasad Hinata.
"Memangnya Hinata-Neesan belum meninggal? lalu siapa yang ada di ruangan ini." tanya tenten yang seolah-olah menginginkan kematian Hinata, tapi sebenarnya tidak. Tenten hanya penasaran saja, tapi pikiran Hanabi berpikir sebaliknya.
"Neesan seperti tidak senang kabar Hinata-Neesan masih hidup. Aku akan bilang ke Neji-Niisan kalau Tenten-Neesan menginginkan kematian Hinata-Neesan" Jelas Hanabi yang langsung mengalihkan pandang lalu mengembungkan pipi dan bersikedap angkuh di hadapan Tenten.
" Eh eh jangan jangan" Panic tenten segera mengibaskan tagan.. Dasar bocah comel, akan berabe jika Neji berpikir seperti itu, pikir tenten. Tenten panic plus bingung bagaimana cara menjelaskannya. Jika Hanabi sampai melaporkan ke Neji, Nasib Tenten akan berada pada hidup dan mati, Neji 'kan sangat menyayangi Hinata lebih dari saudara. Hidup Tenten akan menjadi tidak tenang dan akan terus dihantui dengan sosok Neji yang jika menatap selalu menusuk. Uhh Menakutkan.
Aduh, bagaimana aku menjelaskannya yah, Panik tenten geregetan dalam hati. tenten terlihat sedang menggaruk kepalanya itu membuat Hanabi terkikik, menahan tawa. Lucu sekali melihat orang panic menggaruk kepala dengan wajah kebingungan seperti orang Frustasi.
"Haha Aku hanya bercanda Tenten-Neesan, jangan dibawa ke hati. Sebenarnya Hinata-Neesan sudah sembuh, sudah bisa angkat kaki dari rumah sakit. Kalau orang yang meninggal di bekas Ruang perawatan Hinata-Neesan, Hanabi tidak tau, tanyakan saja pada Neji-Niisan."
Mendengar penjelasan Hanabi yang cukup panjang membuat tenten bernafas lega. Ternyata bocah di hadapannya ini sedang ingin bermain-main, dasar bocah berani-beraninya dia mempermainkan tenten, kalau bukan keponakan Neji sudah Tenten pukul kepalanya seperti kelakuan konohamaru yang hobinya mengganggu kesenangan orang.
"Uhh kau ini membuat Neesan hampir mati ketakutan saja, Neesan cubit lo" Segera Tenten cubit lembut lengan Hanabi gemas karena kelakuannya, lalu Hanabi terkikik dan memohon maaf pada tenten dan menjelaskan kenapa Hanabi sampai melakukan ini, dia mengatakan bahwa" Soalnya Neesan lucu kalau sedang Panik." Membuat tenten kembali melayangkan cubitannya.
Setelah acara cubit-cubitan selesai. Hanabi pamit, ingin melanjutkan kegiatannya, Mencari kebaradaan sang kaka, Hinata. Tenten mempersilangkan. Namun sebelum pergi Hanabi ingin membisiki sesuatu, ia menyuruh Tenten untuk merapat. Tetenpun menurut, lalu Hanabi pun mulai membisiki sesuatu yang membuat muka Tenten memerah tomat.
"Nah itu yang dikatakannya Neji-Niisan padaku. Sudah ya Neesan aku mau pergi, Jaa…"
Hanabi pun segera melesat keluar mengikuti Otou-sannya yang sudah pergi terlebih dulu untuk mencari keberadaan sang Kaka. Kepergian Hanabi Meninggalkan ketidak percayaan pada diri tenten berkat itu mata tenten tak mau berkedip karena kaget mendengar Informasi dari Hanabi. Setelah sadar, Tenten menggelengkan kepala untuk memastikan bahwa Informasi ini tidak benar.
"Tidak-tidak, Mana mungkin Neji mengatakan itu." tenten masih menolak pernyataan Hanabi. Lalu Tenten mengingat kembali apa yang dikatakan Hanabi "Neji-Niisan pernah bilang padaku, bahwa Tenten-neesan adalah gadis tomboy yang cantik." Pipi Tenten langsung merona merah.
- Hinata Love Confession -
Sementara itu Naruto masih larut dalam kesedihan ia terus saja menyalahkan dirinya yang payah melindungi nyawa seseorang. Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Teman-teman yang melihat keadaan naruto ikut sedih, bahkan di antaranya masih sibuk menenangkan.
"Aku gagal melindungi nyawa seseorang, aku tidak pantas di sebut seorang pahlawan." Isak Naruto.
"Kau tidak boleh menyalahkan dirimu sendiri, ini semua sudah takdir, dan Kau juga tidak boleh larut dalam kesedihan Naruto, Hinata akan sedih jika melihat keadaanmu seperti ini. sudahlah, bebaskan dia, biarkan dia tenang di alam sana." Sakura mencoba menenangkan Naruto, Namun itu tidak mampu membuat Isakan Naruto berhenti.
"Benar, apa yang dikatakan Sakura, Kau tidak boleh larut dalam kesedihan , itu hanya akan menyiksa dirimu saja, Naruto. Hinata akan se-"
Namun perkataan Ino itu harus terhenti karena Tenten telah menyela.
"Kalian ingin aku beri tau tentang sebuah kabar yang pasti akan membuat kalian mengatakan benarkah lalu Syukurlah. yang pasti ini merupakan sebuah kejutan besar bagi kita semua" Ucap tenten dengan kecepatan Kereta api disertai nada tingkat sonar yang membuat mereka harus menutup telinga.
"Bukan waktunya untuk bercerita, Tenten." Kiba menyalak seperti anjing memarahi tuannya.
"Tapi ini merupakan kabar baik."
"Kalau begitu cepat katakan, Tenten." Perintah shikamaru yang penasaran apa kabar baik itu.
Dengan tatapan penuh permainan, tenten tersenyum lalu mulai menghitung dengan jari untuk membuat jantung mereka berkontraksi cepat. Ketika hitungan sudah mencapai tiga mereka semua mendekat kearah tenten guna ingin mengetahui informasi tersebut. Dan ini yang dikatakan tenten…
"Kakashi-sensei akan melanjutkan penulisan Novel Icha-icha milik tuan Ziraya lo"
Gubrak, mereka benar-benar terjungkal bersamaan dengan tidak elitnya. Tenten benar-benar menyebalkan mencoba mempermainkan mereka.
"Kau!" Bentak mereka dengan menunjuk tenten.
Sementara orang yang ditunjuk, malah berkikik—dengan tidak punya simpati, sama sekali—membuat mereka ingin menjitak kepala tenten hingga benjol bertingkat membentuk menara.
"Hihi aku hanya bercanda, sebenarnya bukan itu yang ingin aku katakan. Yang ingin aku katakan adalah bahwa Hinata sebenarnya masih hidup dan sekarang sedang berkeliaran di luar sana. Hehe" jelas Tenten yang di akhiri dengan cengiran lima jari.
Penjelasan tenten membuat mulut mereka terbuka dan mata yang tak mau berkedip, begitu pun Naruto yang sudah berhenti menangis. Lama mereka mencerna untuk memastiskan apa ini mimpi atau tipuan muslihat.
.
1 detik
.
2 detik
.
3 detik
.
"Benarkah.?" Teriak mereka Kompak. Benarkan apa yang diprediksikan tenten.
Tenten membalas dengan sebuah anggukan.
"Kau tidak bohong kan." Naruto memastikan
Tenten tersenyum lalu bersedekap setelah itu menggaguk.
"Lalu siapa konoichi yang meninggal?" Tanya Choiji
"Aku juga tidak tau, Yang pasti itu bukan hinata, itu yang dikatakan Hanabi."
Mendengar itu mereka semua menghela nafas, kabar ini sungguh membahagiakan. Membuat mereka tidak hilang harapan, terutama sang pahlawan yang kini wajahnya berseri.
"Syukurlah." Itu yang mereka katakan mereka katakan, sekali lagi benar 'kan apa yang dikatakan tenten. Huh Tenten seperti paranormal saja yang mengetahui kejadian yang akan datang, mungkin ini penafsiran dari sebuah perasaan sehingga tenten mampu menebak.
"Berarti Kisah roman ini masih terus berlanjut." Seru Shikamaru yang membuat mereka mengalihkan pandangan ke arahnya lalu mengedutkan dahi.
" Apa maksudmu, Shikamaru?" Tatap Ino intens.
Namun yang di tatap malah menguap lalu melengos keluar dengan santainya sepertinya tidak terjadi apa-apa.
- Hinata Love Confession -
Karena keberadaan hinata belum diketahui public. Akhirnya Shikamaru berinisiatif membentuk Tim pencari yang didominasi 2 orang per kelompok. Yaitu Kelompok 1 Ino,Shino. Kelompok 2 Kiba, Chouji. Kelompok 3 Naruto, Tenten, Lee kelompok 4 Shikamaru dan Sakura. Kelompok 1 pergi ke utara, kelompok 2 pergi ke Barat, kelompok 3 pergi ke timur, kelompok 4 pergi ke selatan. Masing-masing kelompok di bekali alat komunikasi jarak jauh supaya mempermudah dalam berteriaksi jika sesuatu yang buruk terjadi.
" mengerti,Shikamaru" Naruto berdiri tegak dari posisi semula yaitu jongkok. Lalu meregangkan otot-ototnya yang tegang. "Ayo tenten, kita pergi." Ajak Naruto.
"Kau terburu-buru sekali Naruto." Tenten berdiri namun sudah tidak mendapati sosok Naruto "Oi tunggu, jangan tinggalkan aku, dasar baka!" tenten pun melesat mengejar Naruto yang sudah terlebih dahulu pergi.
"Bersemangat sekali anak itu." Argumen Kiba lalu di balas dengan guk guk kan Akamaru.
"Aku tidak akan kalah, Naruto. Berkobarlah semangat masa muda.. Yeah aku bersemangat" Lee pun langsung melesat dengan kecepatan cahaya mengejar Naruto dan tenten.
"itu Semua karena hinata. Ayo sakura, sekarang giliran kita." Ajak Shikamaru.
"Baik."
Semua orang pun menyebar ke tujuan mereka masing-masing. Namun masih menyisakan Kiba, yang terlihat bengong.
"Kau, ingin terus berdiri di sana, kiba." Omel Shino yang menyadarkan lamunan Kiba.
"Ah, kemana orang-orang." Tengok kiba.
"dasar bodoh, tinggal kita berdua. Ayo pergi."
"Apa kau bilang ! akan ku hajar kau shino." Bentak Kiba yang tengah mengacuh-ngacungkan tangan.
"Cobalah kalau bisa." Sahut Shino yang langsung menghilang, hanya terlihat hanya serangga-serangga kecil. Rupanya shino memakai bunshin serangga.
"Kau ingin benar-benar ku hajar yah, Shino.! " Kiba pun langsung berlari mengejar Shino yang sudah terlebih dahulu pergi dengan perasaan kesal.
-Hinata Love Confession-
Di Timur, Kelompok Naruto di cegat Neji yang rupanya sedang mencari hinata di arah yang sama. Dengan adanya keberadaan Neji, membuat suasana sedikit menegang dan was-was. Terutama tenten yang pipinya tiba-tiba memerah.
"haha mukamu kenapa Tenten. Seperti tomat rebus saja" Ejek lee sambil menunjuk muka tenten yang menurutnya lucu.
"Berhentilah mengejekku, lee. Itu tidak lucu" Sahut tenten sedikit malu-malu karena ada Neji yang sedang memperhatikannya.
Namun perhatian Neji hanya sebentar, pandangannya langsung teralihkan pada Naruto.
"ada apa kau menatapku, Neji?"
"Aku ingin bicaramu denganmu, Naruto."
"Baiklah."
Neji dan Naruto pun pergi ke suatu tempat yang mereka saja yang ada disana. Perasaan Naruto pun agak sedikt was-was. Semoga apa yang di khawatirkan Naruto tidak terjadi. Sebelum pergi Neji menatap tenten sekilas, begitu dingin yang di rasakan tenten. Tenten jadi mempertimbangkan apa yang dikatakan Hanabi.
"Naruto, kau adalah orang yang membuat Hinata seperti ini. bisakah kau sedikit pekak terhadap perasaannya. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Hinata melakukan sampai sejauh ini hanya karena untuk menolongmu dan membuatmu bahagia. Padahal kau sendiri tidak pernah memperhatikannya, jujur aku sangat kecewa sekali padamu."
"Apa maksudmu. Neji?"
" Apa kau masih belum pekak. Hinata melakukan ini karena mencintaimu.!"
"Ya, aku tau."
"Kalau kau tau, kenapa kau tidak bisa menghargai perasaannya. Kenapa kau diam saat Sakura memelukmu."
"Neji, itu bisa kujelaskan."
"lebih baik kau sekarang menjauhi, Hinata."
"Naruto, Oi Naruto. Apa kau mendengarku." Panggil Neji dari tadi.
Naruto yang sedang bengong, tersadarkan oleh panggilan Neji yang cukup keras. Kejadian tadi seperti nyata, membuat jantung Naruto berkontraksi cepat.
"Fiuh hanya Ilusi." Hela Naruto yang langsung menyeka keringat dingin di pelipisnya.
"Kau kenapa? Seperti baru mendapat kejadian buruk saja." Tanya neji yang di balas cengiran lima jari dari Naruto.
"Hehe, bukan apa-apa. O, iyah. Bukankah ada yang ingin kau bicarakan, Neji."
"Benar, aku hampir lupa. Ini soal hinata. Apa kau sudah tau kalau Hinata sudah sadar."
"ya, aku tau dari Tenten. Lalu apa masalahnya?"
"baguslah, Kau tau hinata begini karena siapa?"
"Siapa? Apakah karena aku?" Jawab Naruto dengan wajah keheranan.
Bletak, Neji segera memukul kepala Naruto yang seperti batok itu dengan tidak manusiawi, Neji benar-benar heran apa isi otak Naruto. Naruto begitu entengnya mengatakan itu.
"Apa yang lakukan, Neji?" berontak Naruto sambil mengelus kepalanya yang sudah benjol.
"Bodoh, sudah pasti Hinata begini karena kau tau. !" Bentak Neji kasar namun tidak membuat Naruto ketakutan, Naruto malah terlihat biasa-biasa saja.
"Oh begitu ya, kalau begitu aku minta maaf." Aku Naruto sambil menyodorkan tangan namun malah getokan manis kembali melayang di kepala indahnya.
"Apakah memukul termasuk hobimu, Neji?" berontak Naruto sambil mengelus nasib kepalanya yang sudah membentuk menara kembar.
"Kau pura-pura bodoh atau benar-benar bodoh sih." Sentak Neji dan itu membuat Naruto tidak terima apa yang dikatakan Neji.
"Heh memangnya apa salahku, bukankah orang bersalah harus meminta maaf? Itu kan konsekuensinya" Naruto menyolot seperti anjing menemukan mangsanya.
"Benar, tapi yang kau lakukan itu salah. Tempatmu meminta maaf bukan padaku tapi pada Hinata. Apakah kau tau Naruto, kau adalah orang yang membuat Hinata seperti ini. bisakah kau sedikit…."
Namun perkataan Neji harus di seka Naruto. Naruto sudah bisa menebak apa yang di katakan Neji, kata-kata Neji sungguh tidak asing lagi karena Naruto pernah mendengarnya di mimpi. Segera Naruto memohon-mohon dengan memelas, membuat Neji keheranan dengan sikapnya yang tidak biasa.
"Iya, aku tau Neji, ini semua salahku. Aku minta maaf, aku benar-benar menyesal, aku janji tidak akan membuat Hinata bersedih lagi. Ku mohon jangan pisahkan aku dengan Hinata." Ucap Naruto dengan satu tarikan nafas, benar-benar hebat dan di luar dugaan. Orang seperti Naruto memelas pada seorang Neji hanya karena seorang wanita, apakah ini mimpi. Orang berisik seperti dia yang hanya dalam hidupnya memikirkan ramen dan Sasuke bisa seposesif ini pada seorang wanita. Apa mungkin hanya perasaan Author saja :D.
"Memangnya siapa yang akan memisahkanmu dengan Hinata." Sahut Neji yang membuat Naruto membulatkan mata dengan keheranan.
Segera Naruto berdiri mensejajarkan posisi dengan Neji.
"Bukankah kau marah padaku, lalu kau akan mengatakan bahwa aku harus menjauhi Hinata."
"Aku memang marah padamu, karena otakmu yang bodoh, tapi aku tidak berniat menjauhimu dengan Hinata, justru itu membuat keadaan Hinata semakin memburuk, tapi jika kau berani menyakiti Hinata sekali lagi, aku tidak akan segan-segan membunuhmu." Neji segera menodongkan shuriken ke leher Naruto sambil memberi tatapan membunuh.
"Uaa Ampun kakak sepupu.." Naruto segera menyingkirkan Shuriken di tangan Neji perlahan hingga jarak dengan lehernya cukup jauh.
"Lalu apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Kakak sepupu.?"
Neji sudah menyimpan Shuriken ke kantongnya, lalu menjawab pertanyaan dan panggilan Naruto yang seenaknya memanggil Kakak sepupu. Memangnya siapa loe, seenaknya memanggil gue kakak sepupu, mau gue banting (hehe V, Just for Fun, readers (^_^)V ).
"Makanya jangan memotong, sebenarnya tadi aku ingin mengatakan 'Kau yang telah membuat Hinata seperti ini, jadi bisakah kau sedikit memperhatikannya dengan selalu berada di dekatnya' jadi apakah kau bersedia menerima permohonanku?" Pinta Neji dengan tatapan sejuk-tidak seperti tadi yang seperti ingin membunuh Naruto- sambil menyodorkan tangan.
"Oh jadi itu yang ingin kau katakan. Baiklah, Aku bersedia menerima permohonanmu..."
Naruto menjabat tangan Neji sambil tersenyum.
"Nah itu baru kakak-adik yang akur." Seru Tenten yang sedang bersembunyi di balik semak-semak bersama Lee.
"Eh memangnya Neji dan Naruto kakak adik?" Sewot Lee yang mendengar bisikan Tenten.
"Bukankah Neji dari Klan Hyuuga dan Naruto dari klan Uzumaki, kakak adik dari mananya?" pikir lee yang sedang mengaruk kepalanya yang mirip batok kepala tengkurap.
"Diamlah Lee, kau membuat penyamaran kita terbongkar." Bisik Tenten.
Kembali ke Neji dan Naruto.
"... aku bersedia menerima permohonanmu, asal.." Kalimat tergantung di bibir Naruto, membuat Neji dan 2 orang mengintip penasaran apa yang ingin dikatakan Naruto selanjutnya.
"Asal apa. Katakan?" Sahut Neji.
"Asal... asal kau berani mengatakan cinta pada Tenten."
Gubrak. Terdengar benda terjatuh di belakang mereka. Membuat mereka harus menoleh.
"Siapa disana?" tengok Neji ke balik semak-semak di belakangnya, lalu terdengar suara 'meong meong meong' dari sana. Dengan cekatan Neji mengaktifkan mata byakugan, terlihatlah seekor kucing sedang memakan sesuatu. Hanya seekor kucing, pikir neji.
"Fiuhh syukurlah. Terimakasih lee, kau memang cekatan. " Tenten menghela nafas sambil mengusap dadanya yang berkontraksi karena kaget lalu otak tenten kembali memanas "Dasar Naruto kurang ajar, Awas kau yah"
"Hehe,, Lainkali kalau mau bersembunyi harus hati-hati, Tenten." Jelas Lee yang membuat tenten nyengir lima jari
Jadi, kejadian yang sebenarnya saat Naruto mengatakan bahwa Neji harus berani mengatakan cinta pada tenten, dari balik semak-semak tenten langsung terjatuh karena kaget. Lalu dengan cekatan Lee segera menyeret Tenten ke tempat lain, lalu melemparkan bekalnya 'sushi dan bento' ke semak-semak tempat mereka bersembunyi lalu datanglah seekor kucing memakan hasil bekal Lee.
Kembali Ke Neji dan Naruto.
"Syarat macam apa itu. aku tidak mau."
"ya sudah aku menolak permohonanmu." Naruto memalingkan wajahnya dari Neji.
"dasar licik." Tatap Neji dengan tatapan dingin dan seperti ingin membunuh. Melihat reaksi Neji malah membuat Naruto tertawa, anak ini benar-benar membuat Neji kesal.
"Haha aku hanya bercanda. Kau ini, sungguh mengelikan Neji, haha" Aku Naruto sambil memegang perutnya yang kesakitan karena kelebihan tertawa.
Neji yang merasa di permainkan, menatap Naruto kejam. Sebenarnya pernyataan Naruto itu sukses membuat jatung Neji berkontraksi lebih cepat. Jika perjanjian itu sampai terjadi entah bagaimana sikap Neji ketika ketika akan menyatakan cinta pada tenten, Karena neji termasuk Makhluk dingin bersama dengan Sasuke dan Shino.
-Hinata Love Confession-
Dari arah selatan. Shikamaru dan Sakura masih sibuk mencari sosok hinata. Namun tiba-tiba di perjalanan mereka melihat kelompok Shinobi Sunagakure sedang beristirahat di pohon. Karena penasaran akhirnya Shikamaru dan Sakura mendatangi mereka.
'Apa yang sedang mereka lakukan di sana.' Gumam Shikamaru.
Lalu seorang konoichi muda berambut coklat menyapa mereka berdua sambil melambaikan tangan.
"Konichiwa Shikamaru-niisan, Sakura-neesan."
"Eh Matsuri. Konichiwa." Sakura kaget karena yang menyapanya ternyata murid kesayangan Gaara.
"Temari-neesan sedang tidak ada di sini, Shikamaru-niisan. Kami sedang menunggu kedatangannya" Matsuri memberi tau, namun malah membuat Shikamaru menyolot, tidak terima dengan apa yang dikatakan Matsuri, Matsuri mengatakan itu seolah-olah Shikamaru sedang merindukan temari saja. Itu tidak bisa terima oleh Shikamaru.
"Hei, memangnya aku kesini untuk menanyakan wanita cerewet itu apa."
"Hei anak cengeng." Seseorang menepuk pundak Shikamaru membuatnya kaget dan segera menoleh.
"Datang juga wanita cerewet kedua." Keluh Shikamaru, membuat Matsuri keheranan siapa wanita cerewet pertama.
"memangnya siapa wanita cerewat pertama, Shikamaru-niisan"
"Kau, Matsuri." Tunjuk Shikamaru yang membuat Matsuri kaget dan menunjuk dirinya sendiri "Hah, aku"
"Kau tidak berubah saat terakhir kita bertemu, masih saja memanggilku wanita cerewet, dasar anak cengeng, kapan kau akan dewasanya?" Temari menyentil dahi Shikamaru membuat rasa sakit berkepanjangan bagi Shikamaru, pasalnya sentilan itu cukup membuat dahi Shikamaru merah.
"Hei memangnya, aku saja yang tidak berubah, kau juga sama masih saja memanggilku anak cengeng. Dasar wanita cerewet" Sewot Shikamaru yang sedang mengelus dahinya yang memerah.
"Karena kau memang pantas di sebut anak cengeng, bodoh." Temari berontak membuat suasana di antara mereka menarik, mereka yang sedang menonton menggangap ini seperti sedang menyimak drama pertengkaran antara suami istri.
Shikamaru cukup terkenal di sunagakure, karena ia sering mendapat Misi ke sana dan anehnya yang selalu menyambut kedatangan utusan Konoha ini selalu Temari, membuat orang-orang berpikir 'ada sesuatu di antara mereka'. begitu juga dengan Temari, ia cukup terkenal di Konoha karena selalu mendapat misi ke sana, dan yang selalu menyambut kedatangan utusan Sunagakure ini selalu Shikamaru, membuat orang-orang konoha berpikir 'mereka adalah pasangan jarak jauh'
"Cukup ! kalian ini seperti pasangan suami istri yang sedang bertengkar saja."
Mendengar Sakura berceloteh membuat Shikamaru dan Temari bersikedap lalu mengalihkan pandangan. Tidak ingin melihat muka orang di depannya.
"Temari, memangnya ada keperluan apa, sampai kau datang kemari?" Tanya sakura.
Sikap temari sudah mendingin karena sudah tidak ada lagi hal yang perlu di permasalahkan. Suasana pun sudah kembali kondusif.
"Kami hanya menyampaikan surat permohonan pertemuan lima kage untuk konoha" Jelas Temari membuat Shikamaru dan Sakura kaget. Memangnya masalah apa yang membuat lima kage harus di pertemukan, itu yang Shikamaru dan Sakura pikirkan.
"Memangnya untuk apa di adakan pertemuan lima kage?" Tanya Shikamaru penasaran.
"Menurut informasi yang beredar, Katanya akan di bentuk Aliansi Shinobi, serta akan memutuskan apakah Sasuke akan menjadi buronan internasional."
Deg, penjelasan Temari membuat jantung Sakura berdetak lebih kencang. Pasalnya seseorang yang di cintainya menjadi buronan internasional. Sasuke menjadi buronan internasional.! Kabar itu mengejutkan hatinya.
"Memangnya, apa kesalahan Sasuke sampai harus menjadi buronan internasional?" Tanya Sakura yang masih kaget dengan kabar ini.
"Sasuke telah bergabung dengan organisasi akatsuki dan ia juga telah membunuh Jinchuriki Hachibi, adiknya Raikage."
Bruk, Sakura terjatuh. Belum hilang kekagetan sebelumnya sudah datang kekagetan yang lebih luar biasa lagi. Sakura masih tidak percaya dengan penjelasan Temari.
"Mana mungkin Sasuke sampai melakukan itu. aku tidak percaya. Kau hanya bercanda 'kan, Temari?" Sakura tersenyum namun hatinya menangis.
"Tapi itulah kenyataannya Sakura, Sasuke telah melakukan kejahatan besar yang tidak bisa di maafkan. Sudah yah, kami pergi. Gaara err maksudku Kazekage telah menunggu kedatangan kami di desa. Jaa Sakura, Jaa anak cengeng?" pamit Temari sambil melambaikan tangan.
Temari beserta rombongannya berangkat menuju gerbang Konoha dengan berlari. Sementara Shikamaru dan Sakura yang masih tertegun dengan kabar mengejutkan terlihat bengong tidak berkedip sama sekali, sampai ada guguran daun yang lewat di depan mata mereka karena tiupan angin, membuat mereka tersadar dari lamunannya.
'aku tidak percaya sasuke sampai melakukan kejahatan, sampai sejauh ini.' Gumam Shikamaru, kemudian ia teringat sesuatu yang membuat isi otak kepalanya terngiang kata-kata 'anak cengeng' . Shikamaru sadar baru saja wanita cerewet itu memanggilnya anak cengeng. Sialan, Namun ketika akan memberontak, wanita cerewet itu sudah tidak ada lagi dihadapannya berserta rombongan.
"Huh rupanya wanita cerewet beserta rombongannya sudah pergi." Bisik Shikamaru. Kemudian matanya terlarih pada Sakura yang terlihat bersedih. 'Sepertinya kabar ini membuat hati Sakura bersedih' gumam Shikamaru. Lalu Shikamaru jadi teringat dengan Naruto, sungguh kasihan Nasib Naruto, masalah satu selesai masalah lain datang. 'Semoga hatinya tidak terpukul dengan kabar ini' harap Shikamaru.
Kemudian Shikamaru berinisiatif untuk pergi kerumahnya, untuk memberitahukan kabar ini pada Ayahnya. Sebelum pergi, Shikamaru menyuruh Sakura memberitahukan kabar ini pada Guru Kakashi, dan jangan memberitahukan kabar ini pada Naruto, karena akan kembali menguncangkan hatinya yang baru pulih.
Setelah itu Shikamaru menyampaikan kepergiannya pada teman-teman yang sedang mencari keberadaan Hinata lewat 'Alat Komunikasi jarak jauh'. Shikamaru mempercayakan Pencarian pada mereka semua.
-Hinata Love Confession-
"Wah bibi Yoshino, terimakasih jamuannya, enak sekali." Ucap Hinata setelah menyesap habis tehnya.
Bibi Yoshino yang mendengar pujian Hinata,tersenyum. Ternyata jamuannya di terima baik oleh Hinata. Senang rasanya, menerima pujian terutama dari seoarang gadis. Tidak seperti Shikaku dan Shikamaru yang menganggap ini biasa-biasanya, katanya 'Semua teh, memang seperi ini rasanya' sungguh menyebalkan, mereka tidak pandai memahami isi hati wanita.
Namun wajah Bibi Yoshino menjadi bersedih, karena Hinata Pamit pulang karena hari sudah mulai sore.
"Maaf Bibi Yoshino. Aku pamit pulang." Hinata berdiri lalu membungkuk di hadapan bibi Yoshino.
"Kenapa pulang ? tinggalah lebih lama disini."
"Maaf bibi, tapi aku tidak mau membuat Neji-niisan dan Tou-san khawatir padaku." Jelas Bibi Yoshino yang hatinya berseri, ternyata Hinata sudah ingat keluarganya.
"Kau sudah ingat dengan Neji-niisan?" tanya Bibi Yoshino untuk memastikan.
"Bukankah Neji-niisan, memang Kakak sepupuku. Bi? Aku benar 'kan?"
"Benar Hyuuga-hime. Syukurlah kau sudah ingat. Bibi senang. Sekarang apa kau sudah ingat dengan Naruto Uzumaki?" tanya bibi Yoshino untuk memastikan sekali lagi bahwa ingatan Hinata sudah benar-benar sudah pulih.
"Dari tadi Bibi terus menanyakan orang yang bernama 'Naruto Uzumaki' memangnya ada hubungan apa aku dengannya, Bi?' tanya Hinata
"Fiuhh" Bibi Yoshino menghela nafas, gadis di hadapanya ini masih belum sepenuhnya pulih dari keadaan Amnesia. Sungguh menyedihkan, Bibi Yoshino menjadi kasian pada anak bernama 'Naruto Uzumaki' itu, ia benar-benar di lupakan oleh gadis yang telah menyelamatkan nyawanya. Bagaimana reaksi anak itu ketika tau gadis penyelamatnya telah melupakan sosoknya yah.
"Sudahlah, Bibi tidak akan memaksamu untuk mengingat. Ya, sudah bukankah kau tidak ingin membuat kakak dan ayahmu khawatir." Jelas Bibi Yoshino mengingatkan.
"Ah, ia aku hampir lupa. Aku pamit pulang bi. Sampai jumpa" Hinata pun berbalik.
Namun saat akan melangkah menemui pintu. Pintu telah ada yang membuka lalu terdengar suara "Tandaima (aku pulang)" dari seseorang lalu seseorang itu masuk tanpa melihat seseorang di depannya, membuat hinata yang akan melangkah terjatuh. Bibi Yoshino yang melihat kejadian itu, segara memarahi orang yang ternyata adalah Shikamaru.
"Kalau berjalan lihat-lihat Shikamaru, kau telah membuat seorang gadis terjatuh." Bentak Ibu Shikamaru. Namun Shikamaru tidak mendengar ia langsung melangkahkan kaki menemui tangga untuk mencari Ayahnya, namun upaya Shikamaru berhasil di gagalkan ibunya yang telah memukul batok kepalanya hingga benjol. Shikamaru pun meringis memegang kepalanya yang benjol. 'Kenapa aku berurusan dengan wanita paling cerewet di rumah ini' gumam Shikamaru dalam hati, yang mengeluh dengan nasibnya yang selalu berurusan dengan seorang wanita. Sungguh menyebalkan.
"Apa yang kau lakukan, Ibu?" Rengek Shikamaru sambil mengelus batoknya yang benjol.
"Apa kau tidak mendengar apa yang ibu katakan, Ibu menyuruhmu untuk hati-hati jika berjalan karena kau telah membuat seorang gadis terjatuh." Bentak ibunya yang tidak kalah hebat dengan rengekan Shikamaru.
"Memangnya siapa gadis yang telah membuat ibu sampai marah seperti ini padaku?" Rongrong Shikamaru yang tidak mau kalah bersemangat dengan ibunya.
Shikamaru segera berbalik pada seseorang yang ia tabrak, dan betapa terkejut Shikamaru ternyata orang yang di tabraknya adalah seseorang (hinata) yang telah Shikamaru bebankan pencariannya (hinata) pada teman-teman. Sungguh di luar dugaan, Berniat menggali tembaga tapi yang di gali adalah tambang emas, sungguh ajaib.
"Hinata!" Kaget Shikamaru
"Lain kali, lihat dulu siapa yang kau tabrak." Sindir ibunya puas, Shikamaru kalah telak dari ibunya, Skor 1-0, dengan sang ibu yang jadi pemenang. Shikamaru memang selalu kalah berdebat dengan seorang wanita terutama ibunya yang masuk daftar Ranking pertama dari 100 wanita paling cerewet yang paling berpengaruh di dunia (Just for Fun,Reader (^_~) V).
"Maaf, aku telah menghalangi jalanmu." Hinata berdiri lalu membungkukan badan di hadapan Shikamaru.
"Sudah tidak apa-apa, aku yang salah, Hinata." Ucap Shikamaru.
"Hinata, siapa Hinata? Dan maaf Anda siapa?" Hinata menegakkan badan, karena kaget di panggil Hinata.
"jangan,jangan kau lupa dengan namamu sendiri." Ucap Shikamaru kaget.
Sementara sang ibu malah terlihat menahan tawa. Rupanya bukan hanya Naruto yang di lupakan ternyata Shikamaru pun. Gumam Ibunya. Shikamaru yang melihat ibunya menahan tawa, menjadi curiga. Segera Shikamaru berbisik.
"Kenapa ibu tertawa, ada yang lucu?"
"Kau telah dilupakan Hinata, itu sungguh menggelikan bagi ibu. Kau tau Hinata itu terkena amnesia setelah sadar dari koma, yang dia ingat hanya keluarganya saja, bahkan Naruto yang selalu di pikirkannya setiap hari, lupa? Untuk itu, ibu mohon tolong antarkan Hinata ke rumahnya, ibu takut dia tidak tau jalan." Bisik Ibunya pada Shikamaru.
Shikamaru yang mendapat penjelasan dari Sang ibu, jadi tau kenapa reaksi hinata menjadi aneh seperti ini. Saat anak dan ibu saling berbisik, mereka di kejutkan dengan Hinata yang akan pamit pulang.
"Maaf aku harus pulang. Aku pamit Bi, sampai jumpa." Hinata pun melangkah keluar, namun saat akan melangkah jauh menemui gerbang utama. Hinata di cegah oleh Bibi Yoshino
"Tunggu, Biar anakku yang mengatarmu pulang. Ini Shikamaru anak tunggal ibu" Bibi Yoshino memperkenalkan Shikamaru.
"Salam kenal Shikamaru." Hinata tersenyum lalu menyodorkan tangan, namun tidak kunjung di balas oleh Shikamaru. Ia terlihat cuek, malah sesekali terlihat kuapan. Membuat Sang Ibu kesal. Segera Ibunya mencubit pinggang anaknya lalu berbisik "Shikamaru sodorkan tanganmu, bersikaplah seperti kau baru pertama mengenalnya" Shikamaru agak kesakitan lalu menuruti apa perintah ibunya.
"yah, salam kenal juga." Jabat Shikamaru agak sedikit malas.
"Shikamaru, cepat antar dia pulang." Perintah sang Ibu.
"Tidak usah repot-repot bibi, aku masih ingat jalan ke rumah?" Tolak Hinata halus.
"Tuh benar apa katanya bu, jadi aku tidak perlu-perlu repot mengantarnya pulang." Sahut Shikamaru dengan kuapan membuat sang Ibu kesal.
"Sudah ya Bi, Aku pulang, jaa" kali ini Hinata benar-benar pergi tidak ada yang mencegatnya lagi. Saat hinata pergi terdengar suara Bibi Yoshino sedang marah-marah, mungkin karena sikap anaknya yang boleh di bilang kurang ajar.
"Kau itu yah. Rubahlah sikap pemalasmu itu,Shikamaru. Jika kau terus begini. Ibu khawatir kau tidak akan memberikan ibu cucu." Bentak Yoshino, namun Shikamaru malah memberi Sang Ibu kuapan, ingin sekali Ibunya menyumpal mulut Shikamaru dengan batu agar tidak menguap terus. Karena kuapan itu menganggu pemandangan.
"Ibu ini cerewet sekali. Aku pasti menikah bu. Tenang saja" Shikamaru mencoba menenangkan, namun alhasil bukan malah menenangkan Sang Ibu untuk diam, malah menambah kadar cerewetan sang ibu. Shikamaru yang mempunyai Firasat buruk langsung mempercepat langkahnya menaiki tangga untuk menemui sang Ayah.
"Memangnya ada wanita yang ingin menikah dengan orang pemalas sepertimu. kalau ada, ayo buktikan. Kenalkan dia pada ibu? Kau itu bisanya membual saja, ibu perlu bukti bukan bualan" Cerewet sang ibu panjang.
"Ia, ia nanti akan ku kenalkan pada ibu. Cerewet sekali ibu ini." Sahut Shikamaru sedikit ragu-ragu pasalnya ia belum menemukan calon menantu yang pas, Ia juga sedikit ragu-ragu jika ada seorang wanita yang menyukainya. Tapi sudahlah, Shikamaru tidak akan merenung lebih dalam tentang seorang wanita, karena hal itu jurus menambah kerepotan di hidup Shikamaru.
Hinata yang curi-curi dengar, menahan tawa. Sungguh geli mendengar pertengkaran Ibu yang menginginkan seorang cucu dari anak yang di harapkan bisa meneruskan kejayaan klannya. Ternyata hidup ini berwarna, banyak hal yang masih Hinata belum pahami. Terutama soal perasaannya yang selalu berdegup ketika nama 'Naruto Uzumaki' di sebut, sungguh mengherankan. Dengan alasan itulah, Hinata ingin mengenal siapa sosok yang bernama'Naruto Uzumaki' apa hubungan dia dan Naruto, sampai membuat perasaannya seperti ini.
Dengan mantap, Hinata melangkahkan kaki, sebelum melangkahkan kaki Hinata menerawang langit untuk memantapkan perasaannya untuk mengenal sosok yang bernama 'Naruto Uzumaki'. Setelah yakin baru melangkahkan kaki sambil tersenyum cerah. Lalu datang seekor kupu-kupu untuk menemani langkah Sorenya, kemudian Kupu-kupu itu hinggap di pundak Hinata. Membuat perasaanya tenang. Setelah di amati, ternyata kupu-kupu itu merupakan kupu-kupu yang tadi pagi mengajaknya bermain di taman Nara.
"Ternyata kau lagi yah, senang berjumpa denganmu kupu-kupu."
Lalu sang kupu-kupu pun terbang mengitari badan Hinata, Hinata yang mendapat mendapat perlakuan Si kupu-kupu tersenyum.
"Baiklah kupu-kupu, sepertinya kau senang berkenalan denganku. Bagaimana kalau kau ku namai 'Cinta' karena kau telah membuatku jatuh cinta padamu." Ungkap Hinata.
Sang kupu-kupu pun kembali memutari badan Hinata, seolah-olah setuju dengan apa yang di katakan Hinata. Hinata pun kembali tersenyum.
"Semoga namamu itu bisa menjadi berkah buat kehidupanku dan kehidupanmu. Ayo cinta, kita pulang, Neesan dan Tousan pasti sedang sibuk mencariku"
Hinata pun melangkah menyusuri tapak demi tapak jalanan Konoha, terlihat banyak anak kecil yang sedang bermain di jalanan, membuat Hinata harus sedikit menyingkir agar tidak mengganggu jalannya permainkan. Hari ini sungguh hari menyenangkan bagi Hinata, Bermain dengan seekor kupu-kupu di taman yang di indah, di undang jamuan teh oleh seorang bibi yang cantik. Huh menyenangkan, semoga besok jauh lebih menyenangkan dari hari ini, itu yang selalu Hinata harapkan.
