Disclaimer:
-Naruto © Masashi Kishimoto-
.
Warning:
-OOC/Canon/Fantasy/Divergence/Typos/Romance/Humor/ Fluffy/Poetry-
-Harap beri tau jika ada kesalahan dan kerancuan dalam penulisan-
.
Spesial to:
-Reviewers and readers-
-Terimakasih sudah berkunjung ke sini ^_^-
-Tapi Akan lebih senang jika kalian mau menReview disini-
.
-^-^-^-^-Happy Reading-^-^-^-^-
.
.
Kupu-kupu memang tidak pernah bohong
Selalu tau apa yang terjadi selanjutnya
Karena kupu-kupu adalah pembawa pesan
Dari Sang Tuhan yang ingin menginformasikan
Hanya karena jika kau percaya
Maka semua itu akan terjadi
.
.
"kupu-kupu sialan, kau akan membawaku kemana?"
Naruto masih terus mengikuti kemana kupu-kupu terbang, kakinya terus berjalan tanpa komando hati, pikiranlah yang menuntunnya hingga terus berjalan sampai sejauh ini. Sampai Ia tiba disuatu tempat yang indah yang ia kenal dan baru-baru ini dikunjungi, taman Nara.
Saat Naruto sedang mengamati sekitar, ia tidak sadar bahwa si kupu-kupu sudah menghilang dari hadapannya, terbang untuk mencari kawanan sespesiesnya atau mencari bunga untuk dihisap sarinya. Naruto tiba di suatu tempat yang indah di konoha yang masih asri alamnya, Naruto tepat berada di ladang ilalang yang ditumbuhi Pohon sakura di sekeliling taman serta deburan air yang terjun dari tempat tertinggi. Tak lupa hewan-hewan cantik dan menggemaskan mendiami tempat yang membuat keadaan tempat ini semakin terlihat istimewa.
Karena tempat ini saking indah, membuat mata Naruto harus berkeliling melihat keindahan yang belum sepenuhnya terlihat serta membuat langkah Naruto harus mundur selangkah demi selangkah, tanpa sadar ada seseorang yang juga sedang mengamati tempat ini, orang itu juga sedang berjalan mundur seperti hewan undur-undur yang hobinya mundur-mundur, orang itu juga selangkah demi selangkah mundurnya membuat jarak di antara mereka semakin dekat perdetiknya. Dan tibalah saat mereka harus mengalami yang namanya...
- Gubrak -
...tabrakan, otomatis tubuh mereka bertemu satu sama lain, dan salah satu dari mereka harus rela menyangga tubuh salah seorang lain, saat itu mata merekapun bertemu, satu sama lain saling menatap tiada berkedip, sebuah kekagetan luar biasa muncul, mata indah Sapphire
bertemu mata indah lavender yang polos. Satu dari mereka kini pipinya merona merah, dan seorang lain matanya menatap serius.
Mereka masih asyik dengan posisi itu, sampai datang kupu-kupu yang mereka kejar tepat di depan mata mereka berdua, membuat seseorang melepas sanggaannya dan akhirnya mereka pun berjauhan lalu saling berbalik untuk menutupi pipi mereka yang kini merona merah bak tomat rebus.
"Apa yang ku lakukan, tadi aku menyangga tubuh Hinata. Aku malu sekali, kenapa Hinata ada di tempat ini. Apakah ini keburuntungan yang dikatakan suara ghaib tadi. Kupu-kupu itu membawa keberuntungan untuk aku supaya bertemu dengan Hinata. Emm sepertinya aku mulai paham dengan ini"
Naruto membatin dalam hati tentang apa yang baru saja terjadi, begitu pula dengan wanita cantik nan polos yang kini ikut membatin dalam hati mengenai kejadian yang baru dialaminya ini. ah kejadian yang sungguh tidak bisa dipercaya.
"Siapa dia, kenapa jantungku berdetak lebih kencang dan kenapa pipiku tiba-tiba memerah. Uhh aku malu sekali, wajah kami begitu dekat. aku tidak membayangkan bagaimana jika dia menatapku lagi, ah sepertinya aku akan pingsan"
Saat Hinata akan menengadah wajah tiba-tiba Naruto sudah ada didepan matanya, membuat jantung Hinata berdetak lebih kencang serta matanya sulit memejam dan kalian tau jarak mereka begitu dekat kira-kira 1 cm, membuat pipi Hinata sekelebat memerah.
"Yo Hinata, bagamaimana kabarmu?" tanya Naruto sambil tersenyum memamerkan giginya yang putih kuat.
Namun tidak ada balasan dari Hinata, yang terdengar hanya suara… Gubrak… seseorang terjatuh menemui lantai bumi yang cukup keras. Hinata pingsan karena melihat Naruto sangat dekat dengan wajahnya. Kepingsanan Hinata membuat Naruto Khawatir segera Naruto memegang pundak Hinata lalu menguncang-guncang tubuh Hinata supaya sadar.
"Hinata hinata, apa kau baik-baik saja, hei Hinata, bangunlah! Jangan membuatku khawatir. Tolong bangunlah"
Akhirnya Hinata pun terbangun karena guncangan Naruto cukup membuat Hinata kembali ke dunianya. Melihat hal itu, Naruto segera memeluk tubuh Hinata senang, sungguh begitu tidak pekaknya Naruto sudah jelas Hinata sudah malu jika ditatap Naruto ini malah memeluk Hinata membuat Hinata kembali ke dunianya yang gelap, pingsan.
"Aku senang kau bangun, Hinata."
Saat Naruto melepas pelukannya, yang ia lihat mata Hinata terpejam dengan tubuh lemas, dan itu cukup membuat Naruto kalang kabut.
"Huaa kau kenapa, Hinata? Apa mukaku sejelek itu, sampai-sampai membuatmu pingsan?"
Naruto kalang kabut, tidak habis pikir dengan kelakuan Hinata yang sering pingsan jika Naruto dekati. Akhirnya Naruto punya akal, dia akan membuat sebuah topeng untuk menutupi mukanya, meski ada cara efektif yaitu dengan jutsu perubahan, tapi cara itu menurutnya malah membuat dirinya bukan seperti Naruto, Hinata akan melihat bahwa dia adalah orang lain. Itu jadi tidak spesial dan menarik lagi.
Akhirnya Naruto pun berhasil membuat topeng dari daun yang ia dapat dari taman, karena disini banyak jenis pepohonan yang daunnya agak lebar hampir seukuran wajah manusia, kemudian topeng itu di beri penyambung berupa tali dari tumbuhan rambat agar tidak mudah lepas jika di pakai.
"Hinata, Oi Hinata bangunlah."
Cahaya putih nan terang mulai terlihat jelas di penglihat Hinata, perlahan sedikit demi sedikit mata Hinata terbuka, membuat Naruto senang. Hinata berkeliling mata, namun tidak menemukan seorang pun, kemana orang tadi yang membuat Hinata pingsan, ah mungkin pergi dari tempat ini. Senang rasanya, sehingga jantung Hinata bisa berdetak normal. Tapi Hinata heran karena jelas tadi mendengar suara yang memanggil-manggil sehingga membuatnya bangun. Dari mana suara itu berasal, membuat Hinata takut saja.
Kemudian Hinata membalikan badan. segera hinata menjerit ketakutan melihat wajah aneh yang ada di depan mata. Hinata mengira dia adalah monster daun karena wajahnya di tutupi daun yang terlihat hanya mata serta 2 lubang hidungnya saja.
Sadar bahwa Hinata menjerit, segera monster daun itu menutup mulut Hinata dengan tangannya agar tidak berteriak lebih keras lagi, namun Hinata malah mengigit tangan Si monster daun sehingga membuat monster daun kesakitan dan melepas bungkaman tangannya yang kini memerah.
Hinata lalu berdiri untuk berniat lari dari tempat yang menurut Hinata menjadi tempat menyeramkan, namun saat akan berlari tangannya telah ada memegang, membuat Hinata sulit berlari.
Kemudian orang itu menarik lengan Hinata, sehingga tubuh Hinata ikut terdorong dan bersentuhan dengan dada bidang sang penarik. lalu sang penarik yang menurut Hinata adalah monster daun mendorong topengnya keatas untuk memperlihatkan wajahnya pada Hinata bahwa dirinya bukanlah Hantu atau apalah yang membuat Hinata ketakutan.
"jangan takut ini aku…"
Saat Naruto akan memberi tau namanya sendiri, Hinata telah menyela..
"J-jadi kau, kenapa k-kau memakai topeng seperti ini? "
Naruto kembali memakai topeng seperti semula.
"karena kau selalu pingsan saat melihat wajahku."
Kemudian pipi Hinata memerah karena malu, dan seperti biasa Hinata selalu memainkan jari telunjuknya . Jika Hinata telah memainkan jari telunjuknya pasti ada yang ingin disampaikan Hinata pada Naruto.
"eto m-maaf, bisakah kau melepas rangkulanmu, ini sangat m-mengganggu."
Hinata mengatakan itu dengan wajah memerah serta telunjuk tangan yang masih terlihat bermain-main. Rupanya saat Naruto menarik lengan Hinata, segeta Naruto lepas pegangan tangannya dan berpindah merangkul pinggang Hinata dengan lengan kanannya, supaya Hinata tidak kabur.
Naruto yang baru sadar dengan kelakuannya, segera melepas rangkulannya.
"Eto aku minta maaf, aku hanya ingin kau tidak kabur saja." Jawab Naruto dengan sedikit ada rasa malu.
Hinata tidak menjawab, ia malah mendudukan bokongnya di rumput yang tingginya sama dengan mata kaki orang dewasa. Hinata menegadahkan wajah lalu memejamkan mata dan menghirup aroma sekitar, semilir angin menerpa wajah Hinata yang lembut, rambutnya melambai-lambai diterpa angin yang membawa bunga sakura yang berguguran.
Naruto yang melihat Hinata seperti itu, tersenyum, dia sangat cantik sekali, membuat degup jantungnya meningkat. Naruto pun mengikuti apa yang dilakukan Hinata, duduk menikmati alam sekitar.
Beberapa menit berlalu, Hinata lelah dengan yang dilakukannya. Ia ingin melakukan aktifitas lain. Saat Hinata melihat ke samping, sudah ada orang itu lagi, orang itu terlihat sedang tiduran dengan telapak tangan yang meyangga kepala. Hinata coba mendekatinya, melepas topeng yang orang itu pakai. Terlihat matanya terpejam saat topeng itu Hinata buka.
Kemudian Hinata amati wajah orang itu, sepertinya Hinata merasa pernah bertemu denganya, wajah itu tidak asing lagi bagi Hinata, tapi Hinata lupa siapa dia. saat sedang mengamati orang itu menggeliatkan badan, membuat Hinata cepat beraksi untuk segera menjauhinya. Namun orang itu telah menahan tangannya.
"Cepat sekali kau pergi, tetaplah di sini."
Hinata menatap orang itu yang diketahui bernama Naruto.
"Kau sudah bangun yah. Maaf aku jadi membuatmu bangun"
"Ahaha tidak apa-apa, sebenarnya aku tidak benar-benar tidur, aku hanya ingin mengetesmu apakah kau akan pingsan saat menatap wajahku, ah rupanya tidak. Sebenarnya apa sih yang membuatmu pingsan, aku masih belum tau. Kau membuatku bingung memahamimu. Hahaha aneh sekali yah aku ini, mungkin itu hanya perasaanku saja"
Cukup mencengkan, ini kali pertama Naruto berkata begitu panjang. Setelah mengatakan itu, Naruto mendudukan Hinata di sebelahnya.
"Kau duduk di sini saja, jangan pergi sebelum aku mengatakan pergi" perintah Naruto lalu melepaskan tangan dari pundak Hinata. Mereka pun duduk berdampingan.
"b-baiklah." Jawab hinata dengan begitu malu-malu.
Setelah itu mereka tidak melakukan aktifitas berarti, mereka malah saling diam mendiami. Hening tidak ada suara apapun yang terdengar hanya kicauan burung serta ranting yang bergesekan akibat angin menerpa.
Naruto bosan dengan keadaan ini yang menurutnya tidak asyik, ia lebih suka keributan atau keramaian yang membuat suasana tidak seperti di kuburan. Naruto coba memutar otak mencari topik yang mungkin bisa mereka bicarakan, tapi Naruto tidak kunjung menemukan membuat Naruto frustasi. Mungkin jika otak Shikamaru bisa di sewa, Naruto bisa sedikit berpikir.
"Huuaa aku bosan dengan keadaan ini." Naruto frustasi " Hinata." Naruto segera berbalik menatap Hinata. Hinata terlihat kaget karena ditatap seperti itu.
Kemudian setelah itu Naruto mengacak-ngacak rambutnya sendiri, karena tidak kunjung mendapat hidayah. Naruto pikir dengan menatap Hinata otaknya bisa mencair mencari topic, tapi ternyata tidak. Hinata yang melihat keanehan dari Naruto mencoba bertanya untuk mencari tau apa yang terjadi.
"Kau kenapa?"
"Aku tidak bisa berpikir jernih, Hinata. Huaa aku hampir frustasi."
"Ohh. O, yah aku mau bertanya?"
"Apa, katakanlah Hinata?"
"dari tadi kau terus memanggilku Hinata, begitu juga dengan orang-orang yang ku temui, memangnya siapa aku? Dan siapa kau, aku tidak mengenalmu, tapi bagiku wajahmu tidak asing? Aku benar-benar tidak paham dengan keadaan ini"
Ting, otak Naruto mencair seketika. Meski Naruto sedikit kecewa, karena Hinata lupa dengan dirinya, tapi dengan kelupaan Hinata justru memberi keberuntungan bagi Naruto, otak Naruto mencair dan karena kecairan otaknya, Naruto akan sedikit bermain-main dengan Hinata. Emm apa yang akan dilakukan anak itu yah…
"Ohh, jadi kau belum tau siapa aku dan kau sendiri?"
Hinata menggangguk.
"jangan-jangan kau juga lupa dengan teman-teman yang lain, seperti Kiba, Shino, Rock lee, Sasuke, Sakura, Sai, Ino, dll."
Hinata kembali mengganguk.
"Aha baiklah, bagaimana kalau kita melakukan perkenalan dari awal."
Naruto berubah posisi duduk dengan bersila. Hinata terlihat memiringkan kepala, karena tidak mengerti apa yang dikatakan Naruto.
"Kau masih bingung yah, nah aku beri contoh yah, seperti ini. Hai namaku Naruto Uzumaki, siapa namamu?" Naruto tersenyum lalu menjabat tangan Hinata seperti baru berkenalaan.
"Maaf, Permisi. Namaku tidak tau." Balas Hinata dengan wajah kebingungan.
Naruto tertawa mendengar ucapan Hinata serta reaksi kebingungan Hinata.
"Ahahaha kau lucu sekali, Hinata. Dalam berkenalan kau tidak usah mengatakan maaf atau permisi dan kau juga tidak boleh mengatakan bahwa kau tidak tau siapa dirimu, kalau begitu bukan berkenalan namanya, berkenalan itu saling mengenal satu sama lain. Tadi 'kan baru contoh, kita ulangi sekali yah, dan kau katakan bahwa Namamu adalah Hinata Hyuuga. Apa kau mengerti?" Tanya Naruto yang otaknya sudah encer, bahkan keenceran otaknya membuat kalimat yang diucapkannya menjadi lebih panjang.
"B-baiklah." Hinata mengganguk.
"Baiklah kita ulangi sekali lagi. Hai Namaku Naruto Uzumaki, aku tinggal di konoha makanan favoritku ramen, aku tidak suka yang namanya keheningan. O, yah siapa namamu?" Naruto mengulurkan tangan kanannya. kali ini perkenalannya cukup panjang, tidak seperti tadi yang Cuma memperkenalkan nama saja.
"Namamu adalah Hinata Hyuuga" lalu Hinata menjabat tangan Naruto yang tersodor.
"tidak tidak, bukan seperti itu."
Naruto sungguh membingungkan, jelas-jelas tadi ia mengatakan seperti ini "... Kau katakan bahwa Namamu adalah Hinata Hyuuga " Hinata menjadi heran, memangnya apa yang salah, Hinata telah menuruti apa yang di intruksikan Naruto padanya, bahkan mengcopy apa yang dikatakan Naruto, berarti benar dong tindakan Hinata ini.
"Kau tidak boleh mengatakan seperti itu. Kalau begitu kau menganggapku adalah Hinata Hyuuga bukan Naruto Uzumaki, katakanlah bahwa Namaku Hinata Hyuuga. Baiklah, kita ulangi sekali lagi dan kali ini harus dipastikan berhasil. Hai Namaku Naruto Uzumaki, aku tinggal di konoha, makanan favoritku ramen dan aku tidak suka yang namanya keheningan. O, yah siapa namamu?" Naruto menyodorkan tangan sekali lagi.
"Namaku Hinata Hyuuga." Hinata menjabat tangan Naruto.
"Senang berkenalan denganmu." Naruto tersenyum, Hinata mengikuti dengan benar intruksinya.
Melihat Naruto tersenyum, membuat Hinata ikut tersenyum juga, dan secara otomatis mengatakan hal yang tidak ada dalam intruksi.
"Senang juga berkenalan denganmu."
Naruto kaget. Lalu Naruto kembali melanjutkan rencana berikutnya, memperkenalkan teman-teman pada Hinata.
"Nah sekarang, aku ingin memperkenalkanmu pada teman-teman, apa kau membawa buku kosong, Hinata?" tanya Naruto yang membuat Hinata bingung, untuk apa buku kosong.
"Maaf, aku tidak membawa barang apapun."
Kemudian Naruto teringat sesuatu saat bertemu Sai yang akan pergi menjalani Misi dengan Yamato dan Anko untuk mencari tau keberadaan Markas akatsuki sekaligus untuk membongkar rahasia tobi, Misi ini terjadi sebelum serangan Pain di konoha.
Flashback On
Naruto sedang makan ramen di kedai langganannya, Ichiraku. Lalu saat Naruto akan menghabiskan ramen terakhirnya. Datanglah Sai menyapa Naruto dengan menepuk pundak Naruto, membuat Naruto harus tersedak dan kesulitan bernafas.
"Hai Naruto"
"Uhuk-uhuk." Naruto bergegas mengambil air yang telah di sediakan Ayame sebelumnya.
"Sai kau ingin membuatku mati tersedak apa.!"
Naruto membentak Sai, yang kini terlihat sedang tersenyum, karena itu memang kebiasaannya namun kali ini semyumnya memiliki arti tidak seperti sebelumnya yang penuh kepalsuan. Karena berkat Naruto, Sai telah menemukan kembali perasaannya yang hilang, sebuah ikatan yang membuat buku sketsa yang masih kosong di tengah halaman tergambar kembali. Ikatan dengan kakaknya, Shin. Berkat Naruto, Sai terlepas dari belengu Danzou, Sai keluar dari organisasi Anbu yang dipimpin Danzou dan ingin coba menikmati kehidupan yang belum pernah ia dapat di kehidupan Anbu serta ingin belajar lebih banyak tentang sebuah ikatan dan perasaan dari sebuah buku yang mungkin bisa sedikit membantu.
"Aku hanya ingin memberimu ini."Sai memberikan sebuah buku pada tangan Naruto.
"Apa ini." Kemudian Naruto melihat isi buku yang diberikan Sai, polos tidak ada coretan apapun. "Kau memberiku buku murahan seperti ini." Naruto membolak balikan buku sai yang tidak bergambar di bagian sampul.
"Buku itu menjadi murahan jika di berikan pada orang yang murahan."
"KAU !" Naruto menatap tajam mata Sai sambil menunjuk dengan telujuk kanannya.
Dalam buku, kejujuran merupakan hal terpenting dalam sebuah ikatan pertemanan karena itu akan membuat temanmu senang, tapi kenapa Naruto terlihat marah. Berarti buku yang dibaca Sai menginformasikan hal yang salah. Sebelum Naruto melampiaskan kekesalannya, datanglah Sakura dan Ino lalu sakura menahan pundak Naruto.
"Akan ku hajar kau ! lepaskan aku Sakura" Berontak Naruto.
"Tenanglah Naruto.!" Sakura mencoba menenangkan.
"Sai, kau telah di tunggu di gerbang oleh Yamato-sensei dan Anko-sensei. Cepatlah kau pergi." Ino menjelaskan kedatangannya pada Sai.
Sai pun menggangguk lalu tersenyum, membuat Ino tersipu melihat senyumnya yang menurut Ino menawan. Sebelum Sai pergi, Ino mengatakan sesuatu.
"Sai, sebelum kau pergi apa kau ingin mengatakan sesuatu pada Sakura dan Naruto"
Sai menatap mereka berdua, terlihat Naruto yang masih berontak membuat Sai tidak ingin mengatakan sesuatu pada Naruto, lalu Sakura yang kini tersenyum menatap Sai penuh pesona. Lalu Sai menatap Sakura dari bawah sampai atas, Sakura yang dilihat seperti itu menjadi malu.
"Sakura harus ku katakan kau memang cantik..." Sai tersenyum, Hati sakura berbunga-bunga dan ada rasa sombong karena ia merasa menang dari Ino yang merupakan saingannya sejak lama.
"...tapi sayang kelakuanmu seperti anjing yang lepas dari sangkar."
Glek, hati sakura miring, uratnya kini bermunculan di jidat lebarnya lalu kepalan tangan mulai terbentuk. Kini giliran Sakura yang berontak dan giliran Naruto yang menyangga perut Sakura.
"Bodoh kau memang Breng***, akan ku hajar kau sampai babak belur !"
"Tenanglah Sakura." Naruto mencoba menenangkan.
Dalam buku mengatakan "Pujilah seorang wanita dengan sebenar-benarnya karena itu membuat hatinya berbunga-bunga."namun yang terjadi malah sebaliknya. Sai heran, buku itu malah membuat kejadian terbalik.
"Sai, sebaiknya kau cepat pergi, sebelum keadaan lebih memanas lagi." Ino mengingatkan.
"Baiklah, Selamat tinggal Ino, jaga baik-baik dirimu, semoga kita berjumpa lagi."
Sai pun pergi lalu melambaikan tangannya pada Ino dan tersenyum. Membuat Ino benar-benar tersipu, ucapan Sai, senyuman Sai membuat Ino jatuh hati padanya. Sai benar-benar berbeda dengan Sasuke yang dulu Ino kagumi, Sai lebih hangat dari Sasuke yang dingin. Meski dalam segi rupa ada sedikit kesamaan. Kepergian Sai membuat Ino merindukan dia kembali, semoga Sai baik-baik saja disana.
Sepertinya kali ini, buku yang Sai baca benar-benar sesuai dengan kejadian sebenarnya. Dalam buku mengatakan 'Jika kau pergi, ucapankanlah salam perpisahan dengan perasaan tulus, tersenyumlah jika kau pergi lalu katakan padanya jaga baik-baik dirimu, semoga kita berjumpa lagi. Itu akan membuat dia bahagia dan akan merindukanmu'
Flashback Off
Naruto mengorek-gorek kantong peralatan ninjanya, dan akhirnya menemukan benda yang ia cari. Buku sketsa yang diberikan Sai sebagai hadiah perpisahan. Sepertinya Naruto akan menari kembali kata-katanya yang mengatakan bahwa buku yang di berikan Sai adalah buku murahan yang tidak ada gunanya. Pasti Naruto akan berpikir sebaliknya, benar juga apa yang dikatakan Sai, kualitas buku tergantung orang yang memakainya. Setelah buku ditemukan Naruto kembali mengorek-gorek kantongnya untuk mencari bolpoint.
Setelah keduanya ditemukan, Naruto lalu meletakan keduanya di depan Hinata. Setelah itu mulai mengoreskan kertas putih dengan tinta hitam dari bolpoint sehingga membentuk gambar manusia-manusia mini, tapi menurut hinata itu seperti gambar abstrak yang bentuknya tidak jelas.
"Naruto, ini gambar apa, apa ini gambar ikan buntal." Tanya Hinata pada salah satu gambar yang Naruto lukis, andai ada Sai yang melukis mungkin Hinata tau siapa gambar ini.
"Bukan hinata, Ini chouji."
"Ohh, kalau ini apa, Serigala yah." Tunjuk Hinata.
"Bukan Hinata bukan, ini Kiba. Ah kau ini"
Naruto jadi bingung, bagaimana cara membuat Hinata ingat sesuatu. Hampir semua teman-teman yang ia gambar, Hinata anggap bukan manusia, melainkan hal-hal aneh yang tidak terpikirkan oleh Naruto.
Dengan perasaan kecewa, Naruto menutup buku sketsa yang menurutnya sudah tidak berguna lagi. Hinata yang melihat itu menjadi terheran.
"Kenapa kau menutup buku sketsanya."
"Percuma. Karena gambarku tidak membuatmu ingat sesuatu."
Melihat Naruto bersedih, Hinata jadi merasa bersalah. Hatinya jadi tidak enak karena bagaimanapun juga Hinata lah yang membuat Naruto bersedih seperti ini. kini giliran Hinata yang memutar otak, memikirkan ide cemerlang agar Naruto tidak bersedih lagi.
Hinata mengambil buku sketsa yang telah Naruto tutup dari tangan Naruto. Kemudian Hinata membuka buku tersebut lalu menyobehkan isinya, cuma satu kertas yang Hinata sobek. Lalu terlihat tangan Hinata sedang membentuk sesuatu dari kertas itu, Hinata tengah membuat sebuah origami.
"Kau ingin membuat apa?" tanya Naruto.
Namun tidak lekas Hinata jawab, Hinata malah terlihat berdiri dari posisinya lalu mencari sesuatu yang Naruto ketahui setelah mengikuti kemana Hinata pergi yaitu tumbuhan rambat. Untuk apa Hinata mencari tumbuhan rambat. Ah rupanya untuk menggantung origami burung yang Hinata buat di dahan pohon Sakura.
"untuk apa kau melakukan ini?" Tanya Naruto
"berharap bisa terbang seperti burung pada umumnya"
"tapi inikan hanya burung kertas, mana mungkin bisa terbang."
"Kata siapa ?! dia bisa terbang hanya harus ada sedikit dorongan."
"Aku masih tidak mengerti?" Naruto menggaruk kepalanya keheranan.
Hinata terlihat meniup origami burung yang di gantungnya, sehingga membuat origami burung itu bergerak seperti sedang terbang. Naruto pun jadi mengerti apa yang tadi Hinata katakan.
"Bagaimana kalau kita buat lebih banyak lagi burung origami ini."
"Sepertinya itu ide yang bagus."
Mereka berdua pun berduyun-duyun membuat burung origami dengan saling membantu satu sama lain, kadang candaan pun terdengar dari mulut Naruto membuat suasana tidak seperti di kuburan. Mereka pun akhirmya selesai membuat origami burung begitu banyak, dua kertas terakhir yang akan di buat origami di beri tulisan yang merupakan pengharapan yang mereka inginkan, usul ini di sarankan oleh Hinata.
Di origami burung yang dibuat Hinata, Hinata tuliskan pengharapan seperti ini 'Aku ingin ingatanku kembali, mengenang apa yang telah aku lalui sebelumnya. dan tolong sampaikan bahwa aku sangat merindukan Okaa-san dan menyayangi Otou-san, Neji-Niisan, serta Hanabi-chan. aku juga berharap dapat menemukan cinta sejatiku.'
Kalau Naruto menuliskan pengharapan seperti ini 'Tolong katakankan pada Hinata 'bahwa aku sangat menyesal, aku benar-benar menyayanginya, aku tidak ingin membuat dia tersiksa lagi. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi Hokage dan bertemu Sasuke serta Okaa-san. Serta bisa menemukan cinta sejatiku yang menerimaku apa adanya'
"Apa kau sudah menuliskan pengharapanmu?" Tanya Hinata
"Sudah, apa kau juga sudah selesai, Hinata?"
"Sudah. Kalau begitu mari cepat buat origaminya lalu kita gantung di pohon Sakura bersama burung origami lain."
"Baiklah."
Setelah menyesaikan origami terakhirnya, mereka lalu membawa origami burung yang dibuat ke pohon Sakura. Setelah diberi gantungan di origaminya dengan tumbuhan parasit yang selalu menempel dengan inangnya yang mereka temukan di sekitar taman. Lalu beduyun-duyun menyematkan atau menggantungkan origami di beberapa dahan sakura. Membuat pohon Sakura itu lebih terlihat seperti pohon kertas.
Setelah selesai, mereka pun mengamati seni yang mereka buat, indah sekali. Akan lebih indah jika origami burung ini benar-benar bisa terbang.
"Indah sekali, aku benar-benar mencintai tempat ini." Hinata menatap pohon Sakura origami.
Namun Naruto malah menatap Hinata " Benar, tempat indah, membuat aku menyayangimu."
Hinata menganggap ucapan Naruto adalah Ucapan sayang pada tempat ini, padahal bukan itu yang dipikirkan Naruto. Ucapan sayang itu ditujukan pada Hinata.
"O, yah apa kau yakin namaku Hinata Hyuuga."Tanya Hinata membuat Naruto mengalihkan pandangannya.
"Memangnya kenapa. Ada yang salah dengan nama Hinata Hyuuga, kau memang benar-benar Hinata Hyuuga."
"Oh begitu, baiklah aku mengerti"
Walaupun mulut mengatakan setuju, tapi pikiran Hinata masih tidak yakin. Hinata jadi menimbang-nimbang apa yang telah Bibi Yoshino ceritakan. Apa benar aku adalah Hinata yang menyelamatkan Naruto, Apa benar aku Hinata yang mencintai Naruto, Apa benar aku Hinata yang dicampakan Naruto karena wanita lain. Apakah memang benar aku adalah Hinata yang bibi yoshino ceritakan atau hanya kebetulan saja karena namanya mirip. Itulah yang sedang dipikirkan Hinata.
Semilir angin berhembus membuat dua insan yang sedang duduk berdampingan kesejukan, origami burung yang tergantung tergerak-gerak seperti Burung yang terbang. Sejenak dua insan itu menutup mata, membayangkan jika origami yang mereka buat terbang menembus angkasa raya, berkeliling jagat raya dengan mereka yang ikut menunggangi. Mereka membayangkan bahwa tubuh mereka itu lebih kecil dari pada sang burung sehingga Mereka bisa menumpang di punggung sang burung.
"Hinata, apa kau membayangkan apa yang ku bayangkan."
"Mungkin."
"Hinata!" panggil Naruto yang kini berbalik menatap wajah Hinata.
"Ada apa?"
"Boleh aku mengatakan sesuatu?"
"Boleh."
"aku sudah lama ingin mengatakan ini, sebenarnya aku... "
Sebelum kalimat itu tersambung. Seekor burung cantik menarik perhatian Hinata, membuat Hinata bermain dengan burung cantik tersebut dan tidak memperdulikan apa yang akan dikatakan Naruto.
"O, yah Hinata ada sesuatu yang ingin ku katakan, kau harus berhati-hati dengan laki-laki berambut panjang bermata polos serta memakai baju putih. Dia sangat berbahaya, kau tau aku hampir saja di buat mati olehnya."
"Benarkah" Jawab Hinata yang sudah berhasil membuat burung cantik tersebut terkurung oleh sangkar buatan telapak tangannya.
"Benar, bahkan sikapnya membuat orang-orang merinding, dia sangat dingin sekali melebihi dinginnya es di kutub utara. Kau tau, dia hampir membuatku depresi…" Naruto menjawab dengan begitu antusias.
"Wah benarkah, dia sangat jahat sekali. Memangnya apa yang membuatmu depresi?"
"Itu karena dia mengancamku untuk menjauhimu, Hinata"
Jawaban Naruto membuat Hinata seketika tersipu malu, entah apa maksud Naruto mengatakan hal itu pada Hinata. Apakah untuk membuat Hinata tersipu atau memang ingin mengeluarkan rasa kekecewaan Hatinya, tapi dilihat dari sikapnya, Naruto bukanlah tipe pengombal melainkan cereboh yang apabila berkata dan berbuat tidak di perhitungkan dulu.
"Makanya kau harus berhati-hati jika dekat dengannya kalau bisa kau harus menjauhinya, ingat dia laki-laki berambut hitam panjang, mata polos lavender, baju mirip yukata berwarna putih cerah."
"ohh, tapi Naruto-kun, sepertinya ciri itu tidak asing, apa laki-laki itu adalah Neji-niisan."
Naruto menjadi kaget ternyata Hinata kenal, Naruto jadi ragu apakah Hinata benar-benar amnesia. Sepertinya niat busuk Naruto untuk menjelek-jelekan Neji akan gagal.
"Kau kenal Neji ! Tapi kenapa kau tidak kenal aku dan teman yang lain.?"
"aku juga tidak tau. Yang dapat ku ingat hanya keluargaku saja. Jadi apakah orang yang harus ku jauhi itu Neji-niisan, tapi dia sangat baik, dia tidak seperti apa yang Naruto-kun maksud"
Pernyataan Hinata sukses membuat Naruto berkeringat dingin, dia benar-benar tidak berani mengatakan kalau laki-laki itu adalah Neji, bagaimana jika Hinata mengatakan itu pada Neji. Hidup Naruto pasti sudah tidak tenang lagi, pasti Neji benar-benar akan menjauhkan Hinata pada Naruto.
"Ah lupakan Hinata, sebenarnya itu tidak benar-benar penting."
Lalu angin yang cukup besar berhembus membuat keadaaan di taman seperti tersedot ke arah yang sama. Rambut Hinata dan Naruto pun melambai-lambai tertarik angin, daun-daun serta guguran kelopak dari berbagai jenis bunga ikut tertarik oleh kekuatan angin. Bahkan gantungan burung origami yang mereka buat bergerak-gerak dengan kecepatan tidak biasa, satu dari beberapa puluh origami terputus talinya dan kini sedang terbang ke arah hembusan angin. Saking kuatnya hembusan angin tersebut membuat Hinata terjatuh berserta burung cantik yang Hinata kurung kini terlepas lalu terbang sebebas-bebasnya. Setelah angin tersebut reda, Naruto kaget karena melihat Hinata terjatuh mencium lantai bumi.
"Hinata, kau tidak apa-apa"
Naruto membantu Hinata bangun. Dilihat wajah Hinata berbedak tanah membuat kulit putihnya terlihat kecoklatan. Segera Naruto membersihkan wajah Hinata begitu lembut dengan kedua telapak tangannya. wajah mereka begitu, membuat Hinata malu dan menundukan wajahnya, namun Naruto menahan.
"jangan menundukan wajah. Jadi aku tidak tau bagian wajahmu yang kotor yang bisa ku bersihkan."
Beberapa detik berlalu, Naruto masih sibuk membersihkan wajah Hinata lalu beralih ke lengan Hinata dan kaki Hinata sampai benar-benar bersih tidak berdebu lagi.
Saat Naruto membersihkan jaket lavender yang Hinata pakai, Naruto merasakan sesuatu yang keras di saku bagian kanan tersebut. Saat Hinata ingin mengambil barang tersebut di sakunya, Naruto menahan tangannya dan mengatakan
"Biar aku yang mengambilnya, kau jangan banyak bergerak."
Hinatapun menurut, lalu Naruto mengodok saku Hinata dan mendapat sesuatu barang yang ia sedang cari, sebuah pelindung kepala.
"Kau menemukan pelindung kepala ini darimana, Hinata?"
"Aku temukan disekitar sini, kemarin pagi."
Naruto jadi ingat, kemarin pagi ia memang kesini, menikmati taman Nara bersama Shikamaru, sebelum pergi ke rumah sakit menemui Hinata.
"Yah, aku ingat. Terimakasih Hinata, kau telah menyimpannya. Sekarang kau jangan bergerak, bajumu masih ada yang kotor"
Beberapa menit berlalu Naruto sudah selesai membersihkan baju Hinata yang kotor di bagian pinggang dan perut. Hinata benar-benar malu begitu perhatiannya laki-laki di hadapannya ini membuat Hinata berharap segera ingat apa sebenarnya hubungan dia dengan laki-laki di hadapannya ini, jantungnya selalu berpacu tidak menentu jika Naruto mendekatinya.
"Nah sekarang kau sudah bersih. Sekarang kau boleh melakukan apa sesukamu, tapi sebelum itu, tolong pakaikan pelindung kepala di kepalaku, sekarang giliranmu membantuku"
Segera Hinata pakaikan pelindung kepala itu sesuai perintah Naruto. Hinata sedikit malu saat akan memaikan pelindung kepala itu, karena secara otomatis wajah mereka saling berdekatan, malahan saling berhadapan. Kesempatan ini dimanfaatkan Naruto untuk menatap wajah Hinata yang malu-malu. Membuat Hinata salang tingkah.
"Terimakasih, Hinata. Wah ternyata kau sangat cantik yah jika di lihat lebih dekat aku baru sadar yah. Hehe."
Naruto memberi cengiran khasnya pada Hinata sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dan itu memberi ruang Hinata untuk kembali tersipu dengan pipi memerah. Bagi Naruto membuat pipi Hinata merah sangatlah mengasikan, Hinata terlihat lucu. Kalau saja rambut Hinata merah, dia benar-benar seperti tomat rebus.
Sayang sekali jika tomat rebus itu tidak di cicipi, dan diluar kesadaran Naruto, Naruto mencium pipi Hinata yang masih memerah membuat pipi Hinata semakin memerah dari sebelumnya.
Sadar kesalahan yang telah dilakukannya, Naruto meminta maaf pada Hinata.
"Maaf Hinata, aku tidak bermaksud. Soalnya kau lucu sekali, seperti tomat rebus. Aku tidak tahan melihatnya. hehe maaf yah Hinata"
Tidak mau berlama-lama dengan kondisi ini, Hinata mengalihkannya pada sesuatu yang lain.
Terlihat Hinata menengok kesana kemari mencari sesuatu yang Naruto tidak tau. Segera Naruto bertanya memastikan apa yang Hinata cari.
"Kau sedang mencari apa Hinata.?"
"Burung pipit cantik yang tadi ku tangkap, dia hilang aku ingin mencarinya."
Mata Hinata beralih ke kepala Naruto, terlihat burung pipit sedang bertengger di rambut jabriknya bahkan kini sedang mematuk-matuk kepalanya seperti sedang mencari makanan. Melihat Hinata menatap kepalanya memuat pupil mata Naruto bergerak ke atas, terlihatlah burung yang mungkin Hinata maksudkan. Saat Naruto akan menangkap Sang Burung pipit, Sang burung pipit dengan gerakan cepat segera terbang menjauhinya. Naruto berdiri lalu mengejar Si burung pipit untuk menangkapnya untuk Hinata.
"Hinata tunggu disini, akan ku tangkap burung pipit itu untukmu, kau jangan kemana-mana, tunggu sebentar, ini tidak lama kok."
Hinata pun menuruti apa yang Naruto bilang. Sekarang yang Hinata lakukan hanya duduk melihat pergerakan Naruto yang sedang sibuk mengejar Burung pipit, membuat Hinata sedikit terkikik karena beberapa kali Naruto terpeleset karena tidak melihat langkah pijakan.
Semilir angin kecil berhembus, membuat Burung origami yang tadi terhembus angin besar yang kemudian tersangkut di dahan pohon dekat Hinata, terjatuh tepat di pangkuannya. Melihat ada burung origami yang telah ada di pahanya membuat tangan Hinata gatal untuk mengambil lalu membuka rangkaian origami hingga ke bentuk semula, sebuah kertas pipih yang tipis. di kertas tersebut ada sebuah tulisan, kemudian Hinata membaca isi didalamnya.
Tolong katakankan pada Hinata 'bahwa aku sangat menyesal, aku benar-benar menyayanginya, aku tidak ingin membuat dia tersiksa lagi. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi Hokage dan bertemu Sasuke serta Okaa-san. Serta bisa menemukan cinta sejatiku yang menerimaku apa adanya.
Hinata tersentak dengan kalimat pembukanya. Naruto benar-benar menyayanginya. Sebuah perasaan yang membuat Hinata bahagia. Walau belum ingat benar bagaimana hubungannya dengan Naruto, tapi hinata percaya hubungan ini sudah berlangsung lama dan ada hubungannya dengan peristiwa besar yang membuat Naruto mengatakan 'aku sangat menyesal'. Hinata coba mengingat apa yang mampu di ingat, tapi tidak kunjung datang.
"Hinata, lihatlah!"
Teriak Naruto, membuat Hinata beralih memandangnya. Terlihat kedua tangannya mencengkram sesuatu yang ternyata itu seekor burung pipit. Naruto berhasil menangkapnya. Kaki Naruto masih melangkah sembarang karena matanya sibuk melihat Hinata untuk menunjukan bahwa dirinya telah berhasil menangkap Sang burung pipit.
Mata Hinata membulat, ia melihat sebatang ranting panjang terselonjor di depan Naruto. Namun Naruto tidak melihatnya, lalu Hinata memperingatkan Naruto segera menghindar dengan isyarat kedua lengannya, namun Naruto malah melambai-lambaikan tangan.
"Naruto-kun, Awas !"
-Gubrak-
Naruto pun terjatuh, dengan posisi yang tidak asing lagi. Tidur dengan badan terngkurap dengan kedua lengan terselonjor ke depan, mirip saat Naruto tertangkap tangan oleh Pain. Membuat pikiran Hinata sedikit bernostalgia.
Hinata teringat saat itu. Naruto tertangkap, tubuhnya di tusuki besi hitam oleh Pain, membuat Naruto sulit bergerak karena cakranya tertekan.
"Hinata, Hei Hinata !"
Naruto berteriak karena Hinata telihat bengong. Teriakan Naruto mengingatkanya kembali pada peristiwa itu, peristiwa yang membuat sekujur tubuhnya hampir tidak berfungsi. Saat itu Pain menerbangkan tubuhnya ke angkasa lalu menjatuhkannya kasar ke tanah, hingga membuat Hinata tidak sadarkan diri dalam beberapa menit.
"Hinata, Hei Hinata. Kau kenapa?"
Naruto masih bersikeras untuk membuat Hinata sadar, dan akhirnya usahanya berhasil, Hinata sadar. Seketika mata Hinata membulat setelah kesadarannya kembali, karena ia melihat puluhan kunai sedang menuju tubuh Naruto yang terjelapat dengan posisi tengkurap. Ranting tadi merupakan kunci untuk membuka jebakan.
"Naruto-kun, awas.!"
Jleb jleb jleb jleb
Sebelum Naruto menghindar Kunai tersebut dengan cepat sudah tertancap pada posisinya masing-masing, Hinata menutup wajahnya dengan telapak tangan, tidak berani melihat keadaan Naruto. Setelah tidak mendengar lagi suara kunai yang tertancap. Hinata memberanikan diri membuka tutupannya sedikir demi sedikit, terlihat puluhan kunai tertancap dan Naruto seperti sedang tidak sadarkan diri karena wajahnya tertunduk.
Dengan khawatir Hinata berlari ke arah Naruto untuk melepas kunai yang tertancap, dan peristiwa ini mengingatkan kita pada saat Hinata menyelamatkan Naruto dengan berusaha mematahkan besi hitam pain yang menekan cakra Naruto.
Satu persatu Hinata lepas kunai yang menancap di tubuh Naruto. Setelah tercabut Hinata memegang tangan Naruto yang terselonjor dengan wajah tertunduk. Ini hampir mirip saat peristiwa penyerangan itu, saat Hinata akan di tusuk besi hitam Pain, pada saat itu Hinata memang tidak secara langsung memegang tangan Naruto, tapi Hinata memegang besi hitam yang menancap di tangan Naruto.
"Naruto-kun, kau bilang 'aku tidak pernah menarik kata-kataku karena itulah jalan ninjaku'. Jika kau mati sekarang, kau tidak bisa membuktikan bahwa suatu saat nanti kau akan menyandang gelar aku juga tidak bisa membuktikan bahwa kata-katamu yang menyayangi adalah suatu kebenaran. Untuk itu janganlah mati sekarang, Naruto-kun"
"Aku tidak akan mati semudah itu, Hinata. Lihatlah aku masih baik-baik saja kok"
Hinata kaget lalu menengadahkan wajahnya yang tertunduk untuk melihat Naruto. Seperti biasa, cengiran khas Naruto terpampang dimata Hinata. Ternyata Naruto tidak benar-benar mati buktinya Naruto masih bisa cengiran Lima jari.
Dengan kecepatan respon yang tinggi antara otak dan alat gerak. Hinata segera memeluk Naruto. Naruto pun bangkit lalu balas memeluk Hinata. Kerana posisi tadi tidak nyaman jika berpelukan, karena Naruto masih tengkurapan di tanah.
"Kenapa kau menangis. Aku tidak akan mati semudah itu kok, ini hanya sebuah jebakan hewan. O,yah kau sudah ingat sesuatu Hinata."
Naruto melepas pelukannya dan beralih menatap mata Hinata yang berkunang-kunang. Hinata mengangguk sebagai pengganti jawaban Ya. Naruto pun senang, karena saking senangnya, ia kembali memeluk Hinata. Beberapa detik kemudian, muncul ganjalan di pikirkannya.
"O, yah kenapa kau tidak pingsan Hinata saat aku peluk."
Naruto kembali melepas pelukannya dan kembali menatap mata Hinata yang tak lagi berkunag-kunang. Hinata menggeleng sebagai pengganti jawaban tidak tau. Tapi masa bodo ah, yang penting ingatan Hinata sudah kembali, itu yang senang dipikirkan Naruto.
Burung pipit kecil dan dua ekor serangga bersayap-kupu-kupu, datang menghampiri meraka yang sedang berbahagia. Mereka bersama-sama sedang terbang mengelilingi dua insan berbahagia itu serta tak lupa guguran bunga Sakura yang tertiup bukan karena hiliran angin melainkan dari sosok transparan yang membawa tongkat bintang bercahaya yang kini sedang memainkan tongkatnya.
Ternyata kupu-kupu yang membawa meraka kesini adalah kupu-kupu pembawa kabar gembira yang mereka beri nama Cinta dan Sayang. Kupu-kupu yang Hinata kejar merupakan teman baru Naruto yang diberi nama kupu-kupu 'Cinta', karena saat menatapnya Naruto jadi mencintaiya. Dan kupu-kupu yang Naruto kejar merupakan kupu-kupu teman baru Hinata yang diberi nama 'sayang'. Dan burung pipit itu merupakan hewan yang pertama mereka temui.
Kupu-kupu Cinta dan sayang itu, seolah ingin mempertemukan tuannya dengan kebahagian. Kupu-kupu bernama 'Cinta' telah mempertemukan Hinata dengan seseorang yang dicintainya, begitu juga dengan Naruto kupu-kupu bernama 'Sayang' telah mempertemukannya dengan orang yang disayangi. Dan burung-burung pipit itu, membawa mereka berdua pada kehidupan baru yang indah.
.
.
Mencintailah dengan segenap hati tanpa nafsu
Sebaik-baik cinta, dia yang berani menjaganya
Bukan dia yang berani menyakitnya.
Cinta tumbuh dari perasaan yang sama
Dan pada akhirnya mereka bisa saling memahami.
Kasih sayang abadi adalah kasih sayang yang tumbuh dari hati yang suci
Bukan dari keinginan kotor untuk saling memanfaatkan.
.
.
.
.
The End
.
.
Eh kok jadi Fantasy dan Poetry gini. Setiap Chapter memiliki Ciri khas tersendiri, supaya tidak bosan dengan hal yang begitu-begitu saja dan itu akan mudah ditebak.
Semoga kalian terhibur dengan sajianku ini.
Maaf jika tidak sesuai dengan apa yang kalian harapan. Saran kalian akan membangun kualitas ceritaku nanti, karena pasti akan ada perbaikan.
.
Sebenarnya cerita ini belum benar-benar berakhir. Aku Cuma mau ngakhiri Section Naruhinanya doang. Kalau kalian baca dengan teliti ada bagian cerita yang rumpang- gak diceritain sampai akhir-. Seperti Pembentukan aliansi Shinobi, Sasuke bergabug dengan Akatsuki dll. Nah itu baru permulaan ke konflik yang lebih besar "Perang dunia Ninja ke 4" dan di ceritaku nanti Pairnya mungkin akan bertambah bukan Naruhina saja.
Semoga cita-citaku di cerita berikutnya bisa sampai ke alur klimaks di manga asli, semoga keinginanku tercapai, aamiin. dan mungkin ceritaku nanti akan Series Fic/multi chapter .hehe
semoga gak bosen aja yah bacanya. Hee :D
