Previous Chapter:
"Tenang saja, Nami akan kujaga. Kau pergi makan dulu."
"Baiklah. Nami kutitipkan padamu, Robin," dan sang senchou pun membawa langkah kakinya menuju ke ruang makan, dimana nakama-nya yang lain sedang menunggunya.
~oOo~
Our Memories
Chapter 2 : You are . . .
One Piece © Oda Eiichiro
~oOo~
Suasana diruang makan itu tidaklah seperti biasa. Selain karena seorang nakama mereka yang tak dapat hadir karena terluka, tapi juga semua ini disebabkan oleh senchou mereka.
Yap... senchou mereka yang dikenal begitu ribut saat makan dan suka mencuri makanan orang lain kini diam seribu bahasa. Daging dari sea king yang dimasak Sanji pun tak tersentuh seujung jaripun!
"Jadi..." Sanji mulai angkat bicara. Semua pasang mata langsung tertuju pada si koki pirang itu, kecuali Luffy yang masih tertunduk sedih.
"Saat aku dan si baka-marimo-yarou itu..." Sanji memulai ceritanya yang langsung mendapat balasan oleh Zoro 'apa maksudmu, Ero-cook!'.
"Menemukan pelakunya, pria itu mengenakan seragam angkatan laut dan kondisinya sudah babak belur. Kurasa dia adalah anggota dari kaigun yang terakhir kali kita lawan sebelum kita sampai di Raftel ini."
Semuanya kembali terdiam. Lagi-lagi sebuah keheningan meliputi kru yang mulai sekarang akan mendapat julukan sebagai kru dari seorang raja bajak laut.
"Tapi, jarak antara kapal angkatan laut yang kita temui terakhir dengan Raftel cukup jauh," komen Franky.
"Belum lagi lautan disini begitu ganas. Bagaimana dia bisa sampai disini?" tambah Usopp.
"Sewaktu si ero-cook-dengan-alis-keriting itu sibuk memeriksa pria itu," kali ini Zoro yang mulai bicara dan diikuti oleh teriakan protes 'apa-apaan nama itu! Kau pikir aku maho!?' dari sang koki kapal.
"Aku sempat melihat-lihat sekitar dan tanpa sadar menemukan sebuah kapal kecil terikat dibelakang Sunny-gou. Kurasa begitulah caranya dia bisa sampai disini bersamaan dengan kita."
Pernyataan tersebut langsung mengejutkan seluruh kru Mugiwara kaizoku-dan. Mereka tak menyangka ada orang yang berhasil mengikuti mereka sampai sejauh itu. Bahkan si trio monster yang memiliki haki pun tak menyadari kehadiran musuh mereka itu.
BRAK!
Suara meja yang digebrak mengejutkan mereka. Semua orang didalam ruang itu langsung melihat ke arah sumber suara itu yang ternyata berasal dari senchou mereka sendiri.
Kedua tangannya terkepal kuat dan kepalanya masih tertunduk. Dia merasa malu karena tak bisa melindungi orang yang disayanginya yang bahkan berada tepat di depan matanya sendiri.
"Ini semua salahku..." ucapannya begitu pelan seperti suara berbisik, namun cukup kuat untuk terdengar oleh nakama-nya.
"S-seharusnya akulah yang kena peluru itu. Tapi... Nami..."
TESS TESS
Air mata mulai mengucur di mata sang bajak laut dan jatuh ke lantai yang terbuat dari kayu Adam. Kini tangannya menggenggam pinggiran meja makan itu hingga sedikit demi sedikit mulai retak.
"Kalau saja aku tidak lengah, pasti tidak akan ada yang terluka. Dan pasti Nami tidak akan terluka. AKU..."
BRAKKK
Mugiwara no Luffy terlempar ke dinding karena mendapat tendangan langsung dari sang koki. Seluruh kru langsung terkejut melihat apa yang baru saja terjadi dihadapan mereka.
Saat yang lain ingin menolong Luffy, Zoro menghadang mereka dengan pedang hitam Shisui kini berada di tangan kirinya. Tak ada yang berani melewati si ahli pedang itu.
Luffy pun terduduk ditempat dimana Sanji menendangnya. Dari pinggir bibirnya terlihat darah segar mengucur dari mulutnya. Sepertinya si koki mesum itu menendangnya menggunakan haki.
"Luffy..." Chopper dengan nalurinya sebagai dokter ingin sekali menolong Luffy. Namun sebuah gelengan tanda 'tidak' dari sang kenshin berambut hijau itu langsung menghentikan niat si rusa kecil.
Sanji menyalakan rokoknya yang sempat padam tadi saat dia hendak menendang kaptennya. Sejujurnya, dia juga sama menyesalnya dengan Luffy karena tidak bisa menolong 'Nami-swan'nya.
Padahal dia juga memiliki haki yang bisa mendeteksi orang sekitarnya, namun saat mereka sampai di Raftel, dia lengah. Dan tampaknya hal tersebut berlaku untuk kedua nakama-nya yang termasuk dalam trio monster.
Sanji meniup keluar asap rokoknya. Dia memandang kaptennya dengan pandanganan yang tak bisa digambarkan oleh nakama lainnya. Tak biasanya Sanji akan seperti ini.
Karena jika pandangan bisa membunuh, pasti Luffy sudah mati dari tadi.
"JANGAN KAU PIKIR HANYA KAU YANG MERASA BERSALAH!"
Teriakan sang koki yang begitu kerasnya menggema di ruangn itu, bahkan mungkin bisa terdengar hingga sampai keluar kapal.
"Bukan hanya kau yang merasa bersalah! Kita semua juga merasa apa yang kau rasakan, LUFFY!"
Orang yang disebutkan itupun berdiri, menghapus air matanya dengan lengan vest merahnya, dan membalas pandangan dengan pria dihadapannya.
"Apanya yang sama! Aku tepat berada di hadapan Nami! Tapi, apa yang terjadi!? AKU TAK BISA MENOLONGNYA SAMA SEKALI!"
Kemarahan Sanji rasanya tak tertahankan lagi. Dalam sekejap dirinya telah berada tepat dihadapan senchou-nya. Dan dengan kasarnya dia langsung mencengkram vest merah pria itu.
"DENGAR, BAKA! Mau dekat ataupun jauh aku tak peduli! Karena kenyataan Nami-san-lah yang terkena tembakan itu tak bisa kau ubah lagi!"
Luffy tak berbuat apa-apa. Dia masih saling bertukar pandang dengan kokinya. Semua orang yang ada disitupun tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mendengarkan pertengkaran kedua pria tersebut.
"Tapi ..."
"..."
"COBA KAU PIKIRKAN PERASAAN NAMI-SAN YANG TELAH MELINDUNGIMU!"
Mata Luffy membulat. Sejak kejadiaan itu dirinya selalu menyalahkan diri sendiri atas ketidakmampuannya dalam melindungi nakama-nya. Terkadang dia sesekali melampiaskan kekesalannya itu dengan menghancurkan apa saja yang bisa dihancurkannya di pesisir pulau Raftel hingga tangannya terluka.
Dan memikirkan perasaan Nami!? Pikiran tersebut tak pernah terlintas sedikitpun dalam otaknya itu.
Yang ada dipikirannya hanyalah 'apa gunanya menjadi seorang raja bajak laut jika tidak bisa melindungi nakama-nya!? Tidak bisa melindungi orang yang sangat disayanginya!?'
'Sayang?!' kata itu terus membayang-bayangi pikiran Luffy. Entah kenapa dia merasa ada perasaan lain yang muncul jika memikirkan soal navigator pecinta uang dan mikan itu.
Memang Luffy juga menyayangi nakama-nya, tapi itu hanya sebatas seorang teman atau seperti keluarga saja. Tapi, Nami!? Dia tak mengerti 'perasaan misteri' itu yang selalu saja timbul jika dirinya berada dekat dengan Nami.
Dan hal yang paling mencolok adalah hanya pada Nami-lah dia selalu menitipkan topi jerami kesayangannya. Padahal topi itu begitu berharga baginya, karena topi itu adalah tanda perjanjiannya dengan Shanks bahwa suatu hari dirinya akan menjadi seorang raja bajak laut yang hebat.
"OY, apa kau dengar perkataanku tadi, HAH!?" mendengar suara Sanji pikiran Luffy pun langsung buyar dan menyadarkan dirinya bahwa saat ini dia sedang berada dalam cengkraman kokinya.
"..." Luffy masih tak menjawab. Wajahnya tertunduk dan poni hitamnya menutupi sebagian wajahnya hingga sang koki tak bisa melihat jelas raut wajah kaptennya itu.
Tampaknya ketegangan antara kedua pria ini tak ada yang bisa menghentikannya. Kecuali...
TOK TOK TOK
Suara pintu ruang makan yang diketuk membuat seisi penghuninya mengalihkan perhatian mereka dari kedua orang yang sedang berseteru. Saat pintu itu terbuka, nampaklah sang arkeologi dengan sebuah senyuman kecil terukir jelas diwajahnya.
"Minna..."
.
.
.
.
.
"... Nami sudah sadar."
Robin kini duduk menggantikan kaptennya untuk menjaga nakama mereka yang seorang navigator hebat.
Saat Robin memikirkan kembali kejadian itu, dia berpikir mengapa Nami melakukan hal tersebut padahal dia tahu kalau senchou-nya itu adalah manusia karet dan takkan mempan dengan peluru biasa?!
"Nghn... Ro...bin."
Tiba-tiba Robin mendengar namanya dipanggil oleh tak lain dari gadis yang ada dihadapannya saat ini. Melihat nakama-nya perlahan membuka mata coklatnya rasa senang langsung muncul dalam hati sang arkelog.
"Syukurlah kau sudah sadar, Nami," ucapnya sambil membelai rambut orange Nami.
Mata Nami menerawang setiap sudut ruangan yang bisa dijangkaunya. Dan menyadari bahwa dirinya sedang berada diruang perawatan kapal mereka.
"Aku akan memberitahukan pada yang lain. Kau tunggu disini sebentar," dan tanpa basa-basi lagi Robin langsung berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut untuk menyampaikan kabar baik pada nakama-nya.
KLAP
Setelah Robin menutup pintu, Nami mencoba untuk mendudukan badannya walau sedikit kesulitan. Saat dia meletakkan kedua tangannya disamping, tanpa sadar tangan kirinya menyentuh sesuatu.
Nami meraih benda itu dan mendapati sebuah topi jerami yang bagian atasnya terdapat 3 goresan. Nami hendak menyentuh goresan tersebut, namun suara pintu yang dibuka membuat Nami mengurungkan niatnya dan meletakkan topi itu dipangkuannya.
"NAAAAAAAAAAAAAAMMMIIIII" "NAAAAAAMIIII-SWWAAAANN~ "
Tiba-tiba, seluruh kru topi jerami berteriak memanggil nama gadis itu dan mencoba untuk masuk (baca: menerobos) ke dalam ruang perawatan. Untung saja Chopper (dengan naluri dokternya) langsung menahan nakama-nya yang memaksa untuk masuk, terutama koki pirang mereka.
"Cih, dasar bocah," ejek Zoro pada Sanji yang masih mencoba masuk ke dalam ruangan itu.
"APA KAU BILANG MARIMO!?" dan kedua rival itu pun mulai melakukan pertengkaran bak anak 5 tahun hanya karena masalah sepele.
Sementara Nami yang melihat kelakukan nakama-nya hanya bisa mendesah pelan dengan senyum terukir diwajahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak dia melihat pemandangan ini.
Setelah semuanya tidak lagi mencoba untuk menerobos, Chopper kembali menjadi bentuk racoonnya dan mulai mengecek keadaan Nami.
"Syukurlah kau sudah sadar, Nami. Bagaimana perasaanmu?" tanya sang dokter.
"Sudah lumayan. Walau kepalaku masih sedikit sakit."
"Itu mungkin karena racun yang masuk dalam tubuhmu karena peluru itu. Tapi, sebagian besar racunnya sudah kunetralkan," tuturnya.
"Begitu ya? Arigatou Chopper."
"Wa-walau kau memujiku itu takkan membuatku senang, dasar kau~" dan sang dokter pun tak dapat menahan rasa bahagianya saat dia dipuji Nami.
Setelah pengecekkan singkat, Chopper kembali ke meja kerjanya. Kini Robin yang menggantikan Chopper sebagai teman bicara untuk sang navigator kapal. Robin duduk disamping ranjang Nami dan keduanya pun memulai pembicaraan mereka.
Berbicara soal Nami yang sudah sadar, dimanakah senchou mereka yang sejak beberapa hari selalu murung dan menyalahkan dirinya sendiri?
A LITTLE FLASHBACK
Sesaat setelah Robin menyampaikan berita baik itu, seluruh kru langsung berlarian keluar untuk menjenguk navigator mereka. Kecuali Luffy.
Sang kapten masih terpaku ditempatnya, walau Sanji sudah berlalu begitu saja saat mendengar 'Nami-swan'nya telah sadar dan langsung membiarkan kaptennya tanpa mempedulikannya lagi.
Saat semuanya telah 'menghilang' dari ruang makan, Luffy kembali terduduk dilantai kayu yang terbuat dari kayu Adam itu.
Sebenarnya, saat Robin datang dan berkata bahwa Nami telah sadar dia juga ingin pergi menjenguknya dan melihatnya dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nami benar-benar telah sadar.
Tapi, disisi lain dia merasa bahwa dirinya tidak pantas bertemu dengan Nami setelah kejadian itu karena dia tidak bisa melindungi gadis itu yang bahkan berada tepat dihadapannya.
Padahal melindungi nakama-nya bahkan orang yang disayanginya itu adalah tugasnya! Tapi malah kebalikan yang terjadi. Dirinya yang malah dilindungi!
Apa gunanya latihan selama 2 tahun ini dilakukannya bersama Rayleigh!? Bukankah untuk menjadi kuat agar bisa melindungi nakama-nya lagi agar kejadian di Sabaody tidak terjadi lagi!?
Berkali-kali dia mengulang kejadian itu dan berharap hal itu tidak pernah terjadi, kepala Luffy terasa sakit. Apa boleh buat, dia adalah kapten yang kesehariannya hanya bertarung melawan musuh dan angkatan laut dan bagian berpikir bukan dia ahlinya.
Saat dirinya masih terpuruk akan penyesalannya itu, dirinya tidak menyadari teman baiknya yang berhidung panjang datang menghampirinya.
"Hey... Luffy," panggil Usopp pada kaptennya.
"..." namun yang dipanggil masih diam saja.
"Pergilah temui Nami, Luffy. Aku jamin dia pasti sangat merindukanmu."
"... Apanya yang merindukanku!? Aku gagal melindunginya hingga membuat Nami terluka. Aku sudah tak punya muka lagi untuk bertemu dengannya."
Usopp hanya dapat mendesah. Sesama nakama Nami, Usopp juga merasa sedih dengan kejadian itu, walau tak sesedih senchou-nya. Dan sebagai teman baiknnya, Usopp tahu bagaiman perasaan temannya ini.
Dan karena tampaknya Luffy tak akan mau meninggalkan tempat ini, hanya satu hal yang bisa Usopp lakukan demi kebaikan Luffy sendiri.
PLAKK
Luffy begitu terkejut saat Usopp tiba-tiba saja menamparnya. Matanya membulat hebat dan dia melihat wajah sang sniper itu.
"APAKAH KAU BENAR-BENAR LUFFY YANG KUKENAL! LUFFY YANG KUKENAL TAKKAN MUDAH PUTUS ASA SEPERTI INI WALAU APAPUN YANG TERJADI!" teriak Usopp dengan kedua tangannya terkepal.
Luffy masih terdiam dengan tangan kirinya menyentuh pipinya yang memerah karena 'hadiah' tamparan dari sang sniper.
"Kalau kau memang menyesali karena tidak bisa melindungi Nami, maka temuilah Nami sekarang dan minta maaf padanya, BAKA!" dan setelah memberikan nasehat kecil itu pada pria ini, Usopp pun meninggalkan ruangan itu.
Tanpa Usopp ketahui sebuah senyuman kecil yang begitu dirindukan seluruh krunya terukir diwajahnya.
"Arigatou, Usopp. Juga... Arigatou, Sanji."
Dan dengan mendapatkan lagi kepercayaan dirinya, Luffy pun bangkit dari keterpurukannya dan mulai membawa langkah kakinya menuju ke ruang perawatan, dimana seorang gadis berambut orange tengah menunggunya.
Atau begitulah yang dia harapkan.
Saat Luffy sampai didepan pintu ruang perawatan dia mendapati Robin dan Chopper juga hadir diruangan itu sedang menemani Nami.
Saat melihat wajah tersenyum Nami (yang tengah berbincang dengan Robin) Luffy merasa sebuah beban tak terlihat telah terangkat hingga membuat badannya menjadi ringan.
Dan ketika dia melihat topi jerami kesayangannya berada di pangkuan gadis pecinta mikan itu rasa bahagia dan senang makin meliputinya.
Menyadari kehadiran kapten mereka ketiga penghuni ruangan tersebut mengedarkan pandangan mereka ke arah sang senchou.
"Oh Luffy. Ayo masuklah," ajak si dokter kecil yang mendapat anggukan tanda 'ya' dari orang yang dipanggilnya.
Luffy lalu menatap Nami. Namun raut wajahnya terlihat seperti orang yang begitu terkejut akan apa yang ada dihadapan mereka. Tapi perasaan itu dikesampingkan Luffy karena dirinya terlalu senang untuk bertemu dengan Nami.
Sesaat setelah keduanya saling bertatapan, Nami kembali menatap teman wanitanya yang berambut hitam.
"Ne, Robin..."
"Kenapa, Nami?" tanya sang arkelog cemas saat melihat raut wajah gadis itu.
.
.
.
.
.
"... Siapa orang itu?!"
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
Bla-bla author:
Huwaa~ gomansai gomenasai gomenasai!
Mungkin agak lama nunggui ya? Hontou ni gomenasai #ditimpuk readers
Mana dibikin cliff-hanger lagi. Hontou ni gomenasai~ #bungkuk #kicked
Pertama-tama arigatou gozaimasu buat minna-san yang sudah membaca fic ini. Nggak nyangka walau udah lama vakum dari nih fandom ternyata fic saya masih mendapat dukungan dari para minna-san semuanya ^^
Thanks so much for the reviewers:
- clea everlasting
- NamikazeNoah
- Iceburg Water7
- Monkey D. Matt
- Guest
- edogawa Luffy
- putraarya428
- namikaze uchiha
- yurachan029
- sasa-hime
Dan semuanya yang sudah memfave dan follow fic ini. Hontou ni arigatou gozaimasu minna~ ^_^
Preview Next Chapter:
"Sepertinya racun itulah penyebab Nami lupa akan Luffy."
"Walau aku tak mengenalnya, tapi... kenapa hatiku seperti... merindukannya."
"Akanku lakukan apapun demi mengembalikan Nami-KU!"
"Jika kalian tidak cepat Nami... mungkin... takkan mengenal Luffy untuk selamanya."
