Previous Chapter:

"Ne, Robin..."

"Kenapa, Nami?" tanya sang arkeolog cemas saat melihat raut wajah gadis itu.

"... Siapa orang itu?"


~oOo~

Our Memories

Chapter 3 : To Bring You Back

One Piece © Oda Eiichiro

~oOo~


Mendengar penuturan dari gadis itu pikiran Luffy langsung terasa kosong. Dan entah mengapa hatinya pun terasa sakit! Sakit yang begitu mendalam dan lebih sakit dibanding luka yang sering diperolehnya ketika bertarung dengan musuhnya.

Keringat dingin tampak jelas mengucur diwajahnya. Mata onyxnya membulat lebar seperti piring. Dan mulutnya terbuka dan tertutup berusaha untuk mengutarakan sesuatu, namun tampaknya tak sepatah katapun dapat dilontarkan oleh pria dengan kepala seharga 400 juta beri ini.

Sedangkan Nami sendiri, raut wajahnya sudah tidak menampakkan lagi rasa keterkejutannya. Kini wajahnya dihiasi oleh kebingungan yang mendalam.

Siapa sebenarnya pria berambut hitam ini? Kenapa dia seperti begitu terkejut? Atau ada sesuatu yang aneh padaku? Dan lagi, kenapa aku seperti mengenal topi ini? Batin Nami dalam hatinya.

Disisi lain, Chopper begitu terkejut saat mendengar Nami berkata seperti dia tidak mengenal Luffy. Dan Robin, dia tak dapat berkata apa-apa lagi.

Apa mungkin Nami... amnesia!? Tapi, itu hanya tembakan biasa? Pikir Robin mencoba mengingat kejadian itu yang mungkin menyebabkan nakama-nya ini amnesia.

"N-Nami..." Robin, Chopper dan Nami tentunya mengalihkan pandangan mereka pada orang yang memanggil nama gadis pecinta mikan.

Saat sang senchou dan navigatornya saling bertatapan, Luffy dapat melihat dengan jelas bahwa tak ada kata bohong yang terpancar dari mata coklat gadis itu.

"J-ja-jangan bercanda, Nami. I-ini aku, Luffy!" ucap Luffy dengan nada sedikit meningkat.

Tanganya terkepal begitu kuat menahan rasa takut akan kata apa yang akan diutarakan kemudian oleh Nami.

"... Lu...ffy..."

Nami kembali memikirkan nama pria dihadapannya. Namun tak sedikitpun diingatannya bahwa dia mengetahui nama tersebut. Semakin Nami memikirkan nama itu, tiba-tiba sebuah kepingan ingatan yang terasa asing baginya muncul.

"AAARGHHH!"

"NAMI!"

Semua orang disitu langsung menghampiri Nami ketika wanita itu mulai memegang kepalanya dan meringis kesakitan. Bahkan Luffy langsung duduk disamping Nami dikasur itu dan memegang kedua bahu gadis itu.

"Nami! Kau kenapa!? Jawab aku, NAMI!"

Luffy mencoba memanggil-manggil nama gadis itu untuk menyadarkannya, tapi tampaknya tak satupun kata terdengar oleh Nami.

Mata Nami tertutup erat dan kedua tangannya memegang kepalanya berusaha untuk menghilangkan rasa sakit yang terus menerus menyerang kepalanya.

Luffy yang tak tahan melihat wanita yang disayanginya ini menderita lalu melihat kearah Chopper.

"Chopper! Lakukanlah sesuatu!"

"B-baiklah."

Chopper pergi ke mejanya sebentar lalu kembali lagi dengan sebuah suntikan ditangannya. Robin yang mengerti akan apa yang ingin dilakukan dokter kecil ini lalu meraih lengan Nami dan Chopper pun mulai menyuntikkan obat penenang tersebut.

Perlahan kedua tangan Nami yang menahan kepalanya jatuh terkulai disampingnya, badannya mulai rileks dan kedua mata karamelnya mulai tertutup perlahan.

Namun sebelum wanita itu tertidur, dia sempat menoleh ke arah senchou-nya dan menyebut nama pria itu.

"... Luffy," dan Nami pun langsung tertidur tepat dalam pelukan si pemuda.

Melihat wajah Nami yang tenang dan aman disampingnya membuat sang kapten merasa senang. Dia makin mempererat pelukannya sambil menahan air mata yang mencoba keluar dari kelopak matanya.

Akhirnya, setelah seminggu sejak kejadian perih itu terjadi dia, Monkey D. Luffy, si buronan seharga 400 juta beri dapat tersenyum lagi. Dan bukan hanya senyuman biasa, melainkan senyum bahagia dan senang karena orang yang begitu penting dalam hidupnya kini bangun dari komanya dan aman disisinya.

Walau mungkin dia telah melupakan dirinya.


~oOo~


"Aku akan mengabari yang lainnya soal ini. Kau tinggal disini dan jagalah Nami, Luffy," ujar sang arkeolog dan dibalas sang kapten dengan anggukan lalu Robin beranjak dari ruang perawatan Sunny-gou.

Merasa dirinya telah memeluk Nami begitu lama, Luffy memutuskan untuk membaringkan tubuh gadis itu dikasur. Chopper tampaknya masih sibuk dengan urusannya sendiri, mencoba mencari tahu kenapa Nami lupa hanya pada Luffy.

Luffy menatap erat wajah damai gadis yang sedang terbaring lemah dikasur itu. Dia lalu mengambil topi jeraminya yang sempat jatuh saat Nami meringis kesakitan tadi.

Sesaat dia memperhatikan topinya lalu meletakkannya kembali dikepala gadis berambut orange itu.

"Topi ini memang pantas untukmu, Nami," ucapnya masih dengan senyum terukir jelas diwajahnya.

Suasana damai dan hening diruangan itu tak berlangsung lama ketika tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan masuklah sang koki playboy dengan diikuti yang lainnya.

"NAAAAAMMIIII-SWAAANN!"

"URUSAI!"

Luffy langsung memukul pria blonde itu hingga jatuh ke lantai. Dan nakama-nya yang lain hanya dapat diam seribu bahasa dan bersimpati pada koki mereka.

Namun, mereka semua terkejut karena Luffy tidak biasanya memukul Sanji seperti ini (biasanya Sanji yang memukul Luffy karena suka mencuri makanan dan melakukan hal-hal bodoh lainnya).

"Kau akan membangunkan Nami tahu," itulah alasan yang dilontarkan Luffy.

Semuanya kembali terdiam. Entah sejak kapan kru yang biasanya tiada hari tanpa keributan ini menjadi lebih sering diam dari biasanya.

"Luffy," Chopper yang sedari tadi sibuk dengan 'penelitiannya' kini mulai angkat bicara.

"Bisa kita bicara sebentar? Tapi sebaiknya di dek saja supaya tidak menggangu Nami juga," usul si dokter kecil.

"Tapi aku ingin berada disamping Nami! Bagaimana jika dia bangun lagi dan kesakitan seperti tadi!? Aku tidak mau meninggalkannya sendiri!" tegasnya.

"Tenang saja, Luffy, aku yang akan menjaga Nami," ucap Robin.

Luffy menoleh ke arah wanita yang jauh lebih tua darinya itu. Walau sebenarnya dirinya tak mau meninggalkan Nami tapi entah kenapa dia bisa mempercayakan Nami pada wanita berambut hitam itu.

"Aku juga akan tinggal disini," kali ini Zoro yang angkat bicara.

Mendengar suara si marimo yang 'ingin' tinggal diruang perawatan bersama Nami dan Robin, Sanji pun langsung bangkit dan mulai beradu mulut dengan sang kenshin.

"Apa kau bilang, marimo!? Takkan kubiarkan kau disini bersama Nami-san dan Robin-chan!"

"Memangnya kau punya masalah soal itu, ero-cook," keduanya lalu mulai saling beradu pandang.

Luffy yang melihat pertengkaran kecil antara kedua nakama-nya itu hanya terkekeh pelan. Dia seakan merasa rindu akan suasana seperti ini dan biasanya Nami-lah yang akan melerai mereka berdua.

"Jadi bagaimana, Luffy?" tanya Chopper sekali lagi pada kaptennya.

"Baiklah, aku mengerti. Zoro, Robin, tolong jaga Nami sebentar."

Setelah berkata demikian, Luffy lalu meninggalkan ruangan itu diikuti Chopper, Usopp, Brook, dan Franky yang membawa (baca: menyeret) Sanji yang terus menerus meronta untuk dilepaskan.

"NOOOOOO! NAMI-SWAAAAN! ROBIN-CWAAAAHN!"


~oOo~


Sebagian kru Mugiwara saat ini duduk melingkar ditengah-tengah dek rumput.

"Kalian pasti sudah mendengar soal tadi dari Robin tadi 'kan?" semua mengangguk setuju.

Luffy diam saja. Dia duduk bersila dan kedua tangannya dilipat. Namun dia mendengarkan tentang apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.

"Tapi bukannya itu terlalu aneh? Kenapa hanya Luffy saja yang tidak diingat Nami?" bingung Usopp.

"Yohohohoho... apalagi Nami-san saat itu hanya mengenali Robin-san dan Chopper-san," tambah Brook.

Sanji (yang syukurnya telah tenang) menyalakan rokoknya, menghisapnya sebentar lalu menghembuskan asap rokok tersebut.

"Apa mungkin... Nami-san itu... amnesia, Chopper?"

Chopper terdiam sebentar. Dia sebenarnya tidak yakin kalau Nami benar-benar amnesia. Sebab, mengapa dia hanya tidak mengenal satu orang saja?!

"Aku tak bisa mengatakan bahwa Nami sepenuhnya amnesia. Tapi..."

"..."

"Sepertinya racun itulah penyebab Nami lupa akan Luffy."


~oOo~


Robin duduk dikursi disamping kasur dimana Nami berbaring. Sementara Zoro berdiri di kusen pintu dengan sesekali melirik ke arah dek.

"Bukannya aneh Nami lupa hanya pada Luffy?" tanya Zoro pada wanita arkeolog itu tanpa mengalilhkan pandangannya.

"Entahlah. Mungkin bukan sepenuhnya amnesia, tapi hanya sedikit shock."

"Shock!? Shock karena apa?" sang keshin makin merasa bingung mendengar penuturan wanita ini.

"Mungkin sesuatu hal buruk yang hampir sama pernah terjadi pada dirinya hingga dia merasa shock. Dan perasaan trauma akan kejadian itu bisa membuatnya kehilangan ingatannya sementara," jelasnya singkat.

"Tapi... kau tahu..." Robin menoleh ke arah sang kenshin dan ternyata pengguna aliran santoryuu itupun tengah menatapnya.

"Seandainya saja yang tertembak itu aku, kira-kira bagaimana reaksimu ya?"

Zoro memandang intens wanita berambut hitam yang ada dihadapannya ini. Dia tahu kalau Robin hanya ingin menggodanya saja. Tapi tetap saja, kalau seandainya hal itu terjadi, dunianya pasti akan terasa hancur berkeping-keping.

"Keh, sudah pasti orang yang menembakmu itu akan kupotong-potong hingga dia tak sempat berteriak ketakutan," jawab Zoro lalu memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.

Robin hanya terkekeh kecil melihat wajah Zoro yang memerah dan tersenyum. Walau dia tak mengakuinya pada nakama-nya yang lain tapi dia tahu, bahwa dirinya ini perlahan mulai jatuh pada sang kenshin berambut hijau ini.

"Kau lucu sekali, Zoro."

"U-urusai!"

.

.

.

.

.

"Robin?"

Mendengar namanya dipanggil, Robin menoleh ke arah Nami yang masih terlihat setengah sadar.

"Nami, bagaimana keadaanmu?"

"Entahlah. Kepalaku masih terasa sakit," saat tangan Nami hendak memegang kepalanya, dia malah mendapati topi yang dari tadi berada disampingnya.

Nami melepaskan topi itu dari kepalanya lalu diperhatikannya topi jerami itu. Tadi, saat kepalanya terasa sakit, sebuah ingatan tentang topi jerami ini muncul.

Bersama dengan seorang pemuda yang entah kenapa wajahnya terasa kabur baginya.

"Nami, kau tak apa-apa?"

"Robin, topi ini... apa topi ini selalu bersamaku?"

"..." Robin dan Zoro hanya diam melihat navigator mereka yang berusaha mengingat-ingat sebagian ingatannya.

"Entah mengapa... aku merasa topi ini... selalu saja berada dikepalaku..." suara Nami perlahan-lahan mengecil hingga seperti bisikan saja.

"Lalu... pemuda... itu..."

"Tidurlah Nami, kau masih butuh istirahat."

"Walau aku tak mengenalnya, tapi... kenapa hatiku seperti... merindukannya," dan itulah kata-kata terakhirnya sebelum gadis itu akhirnya tertidur kembali.

Zoro tak bergeming dari tempatnya berdiri tadi. Namun dia mendengarkan semua perbincangan singkat antara kedua wanita itu.

Dia tahu betapa pentingnya topi jerami pemberian sang Yonkou itu bagi kapten bodohnya. Bahkan Luffy tak pernah membiarkan orang luar menyentuh seujung jaripun pada topinya.

Tapi, saat Nami sempat meninggalkan kru dan meminta bantuan pada Luffy untuk menolongnya dan tempat tinggalnya, Luffy tak segan-segan menitipkan topi berharganya itu pada Nami. Bahkan sampai-sampai memakaikannya sendiri pada gadis pecinta mikan itu.

Bahkan hingga saat ini topi itu jika tak bersama Luffy pastinya akan berada pada sang navigator mereka. Dan sejak saat itulah Zoro mengerti bahwa kaptennya memiliki perasaan khusus pada navigator mereka yang melebihi perasaan sekedar nakama saja.

"Aku akan mengabari mereka soal ini. Kau tunggu saja disini, Robin," ujar Zoro berbalik membelakangi kedua gadis.

Sesaat Robin memandangi punggung lebar sang kenshin. "Baiklah."


~oOo~


"Oi, minna," suara teriakan Zoro yang berjalan mendekati mereka membuat semua yang merasa dipanggil menoleh ke arah si marimo.

"Kenapa kau, marimo!? Mau panggil berkelahi, ya?" jawab sang koki playboy.

"Aku punya berita soal Nami."

Mendengar nama Nami disebutkan Luffy langsung berdiri tegak dan mencengkram kimono hijau Zoro.

"K-kenapa Nami? Apa dia kesakitan lagi? A-atau-"

"Tenanglah, Luffy. Dia hanya terbangun sebentar dan langsung tertidur lagi," ucap Zoro lalu melepaskan tangan karet kaptennya.

Luffy menghembuskan napas lega. Dia setidaknya merasa lega karena ternyata Nami tidak meronta kesakitan lagi seperti tadi. Kedua pria yang termasuk Trio Monster itu pun lalu duduk di lantai berumput.

Chopper kemudian menjelaskan pada Zoro soal apa yang tadi baru saja mereka ceritakan mengenai teori mengapa Nami bisa terkena amnesia. Dan Zoro pun ikut menambahkan pendapat Robin soal hal tersebut.

"Shock hingga lupa ingatan? Memang bisa seperti itu?" tanya Usopp yang tak tahu apa-apa soal penyakit yang satu ini dan diikuti dengan tawa 'yohohoho' milik Brook.

"Tapi ada juga orang bisa lupa ingatan karena kepalanya terbentur 'kan?" tambah Franky.

"Tapi, Nami-san itu tertembak peluru beracun tahu! Jadi pendapat Robin-chan mungkin ada benarnya," ujar Sanji mendukung teori sang arkeolog.

Chopper memikirkan tentang pendapat Robin. Memang hal itu bisa saja terjadi jika kejadian serupa yang pernah terjadi pada Nami begitu buruknya hingga membuat Nami tak mau mengingatnya lagi.

Tapi masalah Nami yang hanya lupa pada Luffy, itu menjadi pertanyaan lain.

"Memangnya, kira-kira ada kejadian serupa yang pernah Nami alami atau lihat dengan sendirinya?" tanya sang dokter.

Seluruh pria itu mulai memutar kembali ingatan mereka selama bersama dengan si navigator cantik mereka.

.

.

.

.

.

.

.

"Ibu Nami."

2 kata yang dilontarkan sang Monkey D. Luffy itu sukses menyadarkan Zoro, Sanji, dan Usopp. "BENAR JUGA!"

Nakama mereka yang lain pun berhenti berpikir dan menatap ke arah kapten mereka. "Apa maksud kalian?"

"Begini, dulu Nami sempat keluar dari kru kita demi menolong tempat tinggalnya. Yaa... bisa dibilang kasusnya seperti Robin," Usopp mulai menjelaskan.

"Ternyata ada sekelompok bajak laut yang terdiri dari para manusia ikan yang menguasai desanya. Dan Nami-san dipaksa untuk membuatkan peta dunia," tambah Sanji.

"Maksud kalian soal Arlong itu?" tanya Franky yang dijawab dengan sebuah anggukan.

"Saat kami sampai di desa Cocoyashi kami bertemu kakak Nami, Nojiko. Dan diapun menceritakan soal masa lalu Nami serta ibu angkat mereka," tambah Zoro.

"Disitu Nojiko menjelaskan dimana Nami, yang saat itu masih kecil melihat Arlong menembak mati ibu mereka didepan mata kepala mereka sendiri," ucap Luffy mengakhiri cerita singkat tentang masa lalu Nami.

Semuanya kembali terdiam. Yang lainnya tak menyangka kalau masa kecil navigator mereka yang cantik, pintar, sexy, pecinta mikan dan uang itu ternyata begitu kelam.

"Yohohoho... Aku baru tahu kalau masa lalu Nami-san seperti itu."

"Jadi, yang kalian maksudkan disini, Nami yang tak mau lagi orang berharganya... mati, maka dia rela mengorbankan nyawanya. Begitu?" ujar Chopper mencoba merangkum soal cerita mereka barusan dengan keadaan Nami saat ini.

"Begitulah."

Sang kapten tiba-tiba berdiri. Wajahnya tertutup sedikit oleh poni hitamnya hingga membuat krunya tak dapat melihat raut wajahnya.

Saat sang kapten menegakkan kembali kepalanya, para kru melihat perubahan drastis dari raut wajah dari sang pemuda.

Dimana yang awalnya wajahnya penuh kesedihan dan rasa bersalah kini wajahnya menampakkan rasa percaya diri dan semangat yang biasa mereka kenal dari senchou mereka.

"Mau masa lalu atau tidak, aku tak peduli!"

Semua tersenyum kecil saat melihat senchou mereka yang bodoh namun tak pernah putus asa bangkit kembali.

"Akanku lakukan apapun demi mengembalikan Nami-KU!"

Mendengar Luffy menyebut Nami dengan 'Nami-KU' membuat para pria langsung tertawa terbahak-bahak, bahkan Sanji juga. Sanji (dan seluruh kru pastinya) tahu kalau senchou mereka tak menyadari bahwa perkataanya barusan tadi seperti menyatakan bahwa dirinya menyukai Nami.

"Yohohoho..."

"Kata-katamu itu memang suuuupeeerrr keren, Mugiwara!"

Chopperlah orang pertama yang berhenti tertawa. Sebuah keseriusan sedikit terpancar diwajahnya.

"Tapi minna..."

"..." semua berhenti tertawa.

"Jika kalian tidak cepat Nami... mungkin... takkan mengenal Luffy selamanya," ada rasa takut yang menyelimuti si dokter berhidung biru. Tapi ketakutan itu langsung hilang ketika dia melihat wajah tersenyum Luffy.

"Shishishi... tenang saja Chopper. Aku pasti akan membuat Nami mengingat kembali diriku. Dan aku yakin, Nami pasti akan mendapatkan ingatannya kembali. Karena dia adalah Nami."

"Tapi, bagaimana caranya?" tanya Usopp.

Kali ini giliran Sanji yang berdiri. Rokok yang sedari tadi dihisapnya sudah habis dan sisa puntung rokok itu diinjaknya ke rumput.

"Chopper, boleh kau ikut rencanaku?" Semua mata menoleh ke arah sang koki nomor satu mereka.

"Luffy, kau mau 'kan?" kini pria blonde itu berbalik bertanya pada kapten.

"Ya, asalkan itu demi Nami, aku akan lakukan apapun!"

"Oi, ero-cook, jangan-jangan rencanamu itu..."

"Diam kau, marimo! Hanya ini cara tercepat untuk mengembalikan ingatan Nami-san!"

"Cara tercepat?" bingung Luffy dengan tampang bodohnya.

"Biasanya orang yang terkena amnesia ingatannya bisa dikembalikan dengan membenturkan kepalanya. Tapi, jelas hal itu takkan kulakukan pada kepala Nami-san yang begitu cantik."

"..." semua sweatdrop.

"Tapi ada cara yang lain!"

Chopper kini mengerti maksud dan tujuan Sanji. "Sanji, jangan-jangan kau..."

Sanji mengambil rokok baru disakunya, menyalakannya dengan lighter lalu mulai menghisapnya. Setelah beberapa saat dia lalu menghembuskan asap rokok itu.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bersama Nami-san, kita akan me-reka ulang kejadian 7 hari lalu itu... SAMA PERSIS!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"EEEEEHHHHH!?"

.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED


~oOo~


Bla-Bla Author:

*bungkuk 180 derajat (?)* HUWAAA~ GOMENASAI GOMENASAI GOMENASAI MINAA!

Udah sebulan (mungkin) saya enggak apdet nih chappy! Jujur saja sebenarnya nih fic udah setengah jalan pas chapie 2 diapdet. Tapi, penyakit WB (a.k.a Writer Block) menimpa saya!

Trus tiba-tiba aja imotou saya kenalin sebuah game sampai saya keasikan main tuh game dari pagi sampai malam selama hampir seminggu. *dihajar massa*

Nah, minggu berikutnya saya coba lanjutin lagi. Tapi kalau udah bosen ngetik langsung main lagi -_-"

Lalu minggu berikutnya udah selesai chapter ini dan tinggal dicek lagi. Tapi esoknya kota saya kebanjiran sama tanah longsor karena hujan deras berhari-hari.

Akibatnya? INET DIRUMAH NGGAK JADI SELAMA LEBIH DARI SEMINGGU dan SAMPAI SEKARANG MASIH ERROR! T.T

Jadi, saya harus ke sekolah imotou yang berada dipusat kota (disana minjem WiFi sekolah -.-) yang jaraknya 1 jam dari rumah. *pundung*

Okay minna~ kalau mau silahkan abaikan chit-chat saya tadi diatas! -.-

Oya, chap kali ini special saya sisipkan sediki ZoroRobin disitu~ XDD

Sebenarnya ada rencana bikin ZoRo pas ultahnya Robin (6 Feb). Tapi nggak sempat gara-gara keasikan main *ditendang*

Dan sebagai tebusannya, saya bikin sedikit ZoRo moment dific ini deh :D

P.S. : Minna udah baca OP Chap 699 nggak? Udah liat covernya? ADA LUFFYXNAMI DISANA! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! I LOVE U ODA-SENSEI! *caps lock jebol*

Thanks for reviewers:

- Neyta

- mari-chan.41

- Aurora Borealix

- Guest

- putraarya428

- Guest (1/30/13)

- Namikaze Haruno

- Guest (1/26/13)

- edogawa Luffy

- Guest (1/26/13)

- Matt Dragneel

- clea everlasting

- sasa-hime

- yurachan029

- NamikazeNoah

Preview Next Chapter:

"Kalau kau menggunakan metode ini, akan ada efek sampingnya."

"Jika itu cara terakhir yang bisa kita lakukan, maka aku akan menerimanya."

"Teruslah mencoba mengingatnya, Nami!"

"...Luffy...Luffy...LUFFY!"