Previous Chapter:
Sanji mengambil rokok baruu disakunya, menyalakannya dengan lighter lalu mulai menghisapnya. Setelah beberapa saat dia lalu menghembuskan asap rokok itu.
"Bersama Nami-san, kita akan me-reka ulang kejadian 7 hari lalu itu... SAMA PERSIS!"
"EEEEEEHHHHH!?"
~oOo~
Our Memories
Chapter 4 : That Memories
One Piece © Oda Eiichiro
~oOo~
"Apa kau gila, Sanji!? Kau pikir apa yang akan terjadi nantinya bila cara ini yang kita lakukan!" bentak sang dokter karena dia tak menyangka sang koki kapal yang memegang teguh pendirian untuk tak pernah menyakiti seorang lady malah memilih cara 'ini'.
"Apa maksudmu, Chopper?" tanya sang kapten yang sepertinya tidak mengerti maksud dan tujuan rencana kokinya.
Chopper menghadap kaptennya, "Cara yang Sanji ajukan tadi sebenarnya bisa dibilang yang paling MUNGKIN bisa mengembalikan ingatan Nami lagi."
Wajah Luffy langsung bersemangat mendengar ada cara cepat yang bisa mengembalikan ingatan navigatornya.
"Bukannya itu bagus?! Dengan begitu Nami bisa mendapatkan kembali ingatannya lebih cepat 'kan?!"
"Memang benar tapi..."
"..."
"Kalau kau menggunakan metode ini, akan ada efek sampingnya," seluruh wajah para kru pria kembali menjadi serius.
"Efek samping?" tanya sang sniper yang memang tak tahu apa-apa soal dunia kedokteran.
"Mm... Kalau kujelaskan, singkatnya bila kita memaksa Nami untuk mengingat kembali kejadian yang membuatnya hilang ingatan maka itu akan membuat otak Nami menjadi stres dan akibatnya Nami akan merasakan sakit yang luar biasa dari kepalanya."
"HAAAAAAAAAAHHH!"
Waktu terasa berhenti. Ada yang mulutnya terbuka lebar, ada yang matanya melebar hingga hampir seperti piring, dan bahkan ada yang tenang-tenang saja!
Zoro, salah satu orang yang terlihat tenang-tenang saja menoleh sedikit kearah senchou-nya, "Jadi... bagaimana... Luffy?"
Sementara orang yang ditanyakan masih diam dengan kepala tertunduk sedikit dan wajahnya terhalang oleh rambut hitamnya.
"Sanji..." sang koki masih diam.
Semuanya melihat kearah Luffy lalu Sanji secara bergantian. Mereka khawatir jika saja Luffy mulai bertindak sembrono lagi karena Sanji yang mengajukan rencana mengembalikan ingatan Nami dengan cara yang (berdasarkan penjelasan singkat Chopper) agak menyakitkan.
Ketegangan diantara mereka terasa memuncak saat beberapa saat tak seorang pun berani memecah keheningan yang begitu menusuk diantara mereka. Tapi, untung saja hal itu tak berlangsung lama lagi karena sang kapten mulai bicara lagi.
"Jika itu cara terakhir yang bisa kita lakukan, maka aku akan menerimanya."
Usopp, Chopper, dan Franky tak habis pikir mendengar penuturan senchou mereka barusan. Dia menerima saran itu begitu saja?
"Tapi, Luffy, bagaimana soal efek sampingnya?" cemas Chopper dan Usopp.
Luffy mengangkat wajahnya lalu menoleh kearah Sanji, "Kalau Sanji percaya cara ini bisa mengembalikan Nami, maka akupun pasti percaya. Iya 'kan, Sanji?"
"Ah, tentu saja."
Semuanya tampak senang karena sepertinya kapten dan koki mereka sudah tidak lagi saling bertengkar soal Nami. Dan mereka pun mulai menyusun scenario yang akan mereka jalankan untuk mengembalikan ingatan navigator cantik mereka.
Tanpa mereka ketahui... hal yang tak terduga akan segera terjadi.
~oOo~
NAMI POV
Perlahan aku membuka kedua mataku, dan hal pertama yang kulihat adalah langit-langit ruangan yang cukup kukenal.
"Nami?"
Kudengar namaku dipanggil orang seseorang, yang tak lain adalah Nico Robin, satu-satunya teman wanitaku di kru ini.
"Robin? Aku... berapa lama aku tertidur?"
"Hanya beberapa jam saja. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
Wajahnya tampak cemas melihatku yang masih terbaring lemah dikasur. Aku pun berusaha tersenyum untuk menenangkan sang arkeolog ini.
"Aku sudah baikan... tenang saja..."
Kami terdiam sejenak. Kedua dahi Robin saling bertaut menandakan dirinya tengah berpikir keras akan sesuatu.
"Ada apa, Robin?" tanyaku.
Tampaknya dia masih ragu akan apa yang ingin diutarakannya. Sesekali dia melihat kearah pintu lalu kembali menoleh kearahku. Dia lalu mendesah pelan dan akhirnya memalingkan seluruh perhatiannya padaku.
"Ne, Nami... sewaktu kau tertidur apakah... ingatanmu soal Luffy... ada yang kembali?"
Sedetik aku terkejut mendengar pertanyaan itu lalu aku tertawa kecil. Dan Robin menatapku dengan keheranan. Jadi itu yang dicemaskannya?
"Hehe... ya begitulah... walau baru beberapa."
"Beberapa?"
Aku mengangguk. "Ya. Tapi kurasa secara garis besar aku mulai mengingatnya. Mulai kami pertama kali bertemu, saat kubilang aku benci bajak laut seperti dia, dan bahkan..."
Aku menggantungkan kata-kataku.
"..."
"... sampai disaat aku menangis dihadapannya dan memintanya untuk menyelamatkanku dari Arlong..."
Aku meraih topi jerami kesayangan senchou-ku itu yang terletak disampingku, seakan sebagai pengganti Luffy untuk menemaniku disini.
"Aku juga ingat kalau Luffy sering sekali memakaikan topi ini padaku. Yaa... salah satunya waktu kasus Arlong itu. Ada juga waktu Luffy akan bertarung dengan Enel lalu dia melemparkan topinya tepat dikepalaku."
Aku tersenyum kecil mengingat kejadian sewaktu kami di Skypiea itu. Padahal waktu itu Luffy berdiri membelakangiku. Saat itu aku begitu cemas karena Luffy akan bertarung melawan orang yang (jelas-jelas) lebih kuat darinya.
Tapi setelah topi itu tersemat dikepalaku lalu dia berkata demikian, aku pun yakin bahwa Luffy pasti akan menang dan mempercayakan semuanya pada dirinya.
"Apa yang harus kita lakukan, Luffy!? Kita semua... eh?"
"Berhentilah berteriak seperti itu."
"Tapi... itu..."
"Kau adalah nakama dari Raja Bajak Laut masa depan. Jadi berhentilah berkata seperti itu."
Padahal itu kata-kata yang menurutku tak ada hubungannya sama sekali dengan pertarungannya ini. Tapi, entah mengapa, cukup dengan perkataannya itu hatiku yang sempat cemas tadi bisa tenang, walau sedikit.
Saat aku melihat ke arah Robin, sebuah senyuman kecil tampak terukir diwajahnya. Sepertinya aku berhasil menenangkan dirinya.
"Ne, Robin?"
"Kenapa, Nami?"
"Boleh aku meminta segelas air putih? Tenggorokanku terasa kering," pintaku padanya.
Robin menganggukkan kepalanya dan dia pun beranjak dari kursi yang sedari tadi didudukinya. Sebelum dia membuka pintu itu dia menoleh sebentar ke arahku.
"Apa kau yakin kutinggalkan sendiri disini?"
"Ya, tak apa-apa. Memangnya kenapa?"
"Ah… tidak. Bukan apa-apa," dan Robin pun pergi ke dapur (mungkin).
Saat yakin Robin sudah menjauh dari pintu ruang perawatan ini, aku mencoba mendudukan tubuhku dan bersandar di dinding. Kuperhatikan lagi topi yang kupegang dari tadi. Jujur saja ingatan yang kudapati sewaktu aku tertidur hanya sampai saat kami akan meninggalkan Thriller Bark. Dan setelah itu aku terbangun disaat ini.
Tapi, ada sesuatu yang membuatku penasaran adalah ingatan setelah itu.
Yang kuingat adalah kami sedang membicarakan soal West Blue yang diserang oleh sesuatu di dek rumput lalu ada orang lain yang masuk ke kapal kami... lalu... semuanya jadi gelap!
Argh! Entahlah! Yang pasti, hal yang lain yang kurasakan saat ingatan itu muncul adalah ... hatiku yang rasanya memanggil-manggil nama pemuda itu.
"Luffy..."
Kupandang lagi topi jerami yang kupegang tadi lalu aku memeluknya dengan erat. Kedua mata karamelku kupejamkan. Lalu aku berusaha mengingat kembali sisa ingatan yang tak terlanjutkan tadi. Hingga tiba-tiba...
"AAAAAARRRGGGHHH!"
~oOo~
NORMAL POV
Perhatian grup yang tengah mengatur rencana 'Mengembalikan Ingatan Nami-san' (oleh Sanji) teralihkan ketika mereka mendengar suara pintu yang dibuka, lalu muncullah sang arkeolog yang dari tadi menemani Nami diruang perawatan.
"Robin? Ada apa?! Apa terjadi sesuatu pada Nami?" sang senchou langsung membombardir wanita berambut hitam itu dengan pertanyaan.
"Tidak ada apa-apa. Dan juga Nami sudah bangun dan tampaknya kondisinya mulai stabil," yang lainnya tampak lega mendengar kabar tersebut.
"Lalu, kau mau kemana?"
"Ke dapur. Nami meminta segelas air putih jadi aku pergi untuk mengambilkannya."
"Kalau begitu biarkan aku saja yang membawakan air itu untuk Nami-swaan, Robin-chwannn~" ujar Sanji yang langsung masuk dalam Love Mode.
Semuanya sweatdrop melihat kelakuan koki mesum itu, kecuali Luffy yang hanya tertawa sendiri melihat koki andalannya itu. Suasana diantara mereka yang tadinya agak tegang kini mulai tergantikan dengan ketenangan.
Tapi suasana damai dan tenang itu tak berlangsung lama ketika mereka mendengar sebuah suara jeritan yang sangat mereka kenal.
"AAAAAARRRGGGHHH!"
Seluruh kru langsung menatap ke arah pintu ruangan dimana suara itu berasal. Luffy yang langsung menyadari pemilik suara itu langsung berlari ke arah ruangan yang dimaksud.
"NAMI!"
Robin (yang paling dekat dengan pintu ruangan) langsung membuka pintu itu dan membiarkan Luffy masuk pertama kali ke dalam ruangan. Pemandangan yang mereka dapati ketika pintu itu dibuka adalah sang navigator mereka yang dalam posisi duduk bersandarkan dinding dengan topi jerami milik kapten mereka berada dalam dekapan sang pecinta uang dan mikan.
Tapi bukan itu yang membuat mereka terkejut, melainkan wajah dan ekspresi gadis itu yang seperti kesakitan itulah yang membuat mereka menjadi ketakutan.
Mengikuti kata hatinya, Luffy langsung menghampiri gadis itu lalu memegang kedua bahunya. "Oy, Nami, kau bisa mendengarku!? NAMI!"
Melihat kondisi Nami yang seperti ini (lagi), Chopper pun angkat bicara, "Luffy, tampaknya Nami mencoba untuk mengingat kembali ingatannya yang sempat hilang!"
"Mencoba?! Jadi, seperti ini efek samping yang kau jelaskan tadi bila Nami memaksakan diri untuk mengingat lagi!?" chopper hanya bisa mengangguk.
Perhatian Luffy kembali lagi ke gadis yang berada dihadapannya. Keringat bercucuran diwajah cantiknya dan kedua dahinya saling bertaut dengan hebatnya.
Dan entah sejak kapan, kedua tangan Nami yang tadinya memeluk topi Luffy kini telah berpindah ke vest merah Luffy dan mencengkramnya dengan begitu kuat.
"Apa yang harus kulakukan, Chopper?" tanya Luffy tanpa berpaling.
"Entah baik atau tidak, tapi kita coba biarkan dulu sebentar."
"Nani!?"
Membiarkan Nami seperti ini untuk sebentar saja?! Rasanya Luffy tidak bisa menerima hal itu bila ternyata hanya akan membuat navigator kesayangannya ini merasa kesakitan. Tapi, bila hal ini benar-benar akan membuat Nami mendapatkan kembali ingatannya, maka Luffy terpaksa harus mengikuti permainan ini.
"Teruslah mencoba mengingatnya, Nami!"
Luffy dapat merasakan cengkraman tangan Nami pada vestnya makin menguat. Dan akhirnya, perlahan-lahan pegangannya itu melemah dan kedua matanya terbuka.
Mata karamel itu bertemu langsung dengan sepasang mata onyx. Lalu pelupuk mata gadis itu langsung dibanjiri oleh air mata dan mengucur langsung ke kedua pipinya. Dan itulah yang terakhir dilihatnya sebelum kegelapan kembali menelannya untuk ke sekian kalinya.
~oOo~
NAMI POV
Aku ingat! Akhirnya, sebagian ingatanku kembali! Yang kuingat tadi adalah soal Shiki yang menculikku dan (lagi-lagi) Luffy-lah yang menolongku. Saat itu aku terkena racun karena berusaha menggagalkan rencana Shiki dan saat Chopper dan Usopp berhasil menemukanku, kami hampir saja diserang Shiki jika tidak karena Luffy datang tepat waktu.
Dan walau tubuhku terasa lemah, tapi saat Usopp dan Chopper meneriaki namanya, akupun berusaha bangun untuk melihatnya.
"Nami, aku akan mengalahkan orang ini dan kita akan pulang bersama."
"... Luffy"
"Disini serahkan padaku. Kalian bawa Nami ke tempat aman."
Aku juga ingat saat kami di Sabaody hingga kami terpisah selama 2 tahun, soal kabar mengenai kematian Ace dan aku yang menangis ketika memikirkan perasaan Luffy saat melihat kakaknya, orang yang begitu penting dalam hidupnya mati di hadapannya.
Juga pertemuan kami setelah 2 tahun kami berlatih, perjalanan ke pulau manusia ikan, hingga Luffy harus bertarung (lagi) dengan sekelompok manusia ikan yang membelot, dan menyelamatkan Gyojin-tou dari kehancuran. Rasanya seperti Deja vu saja.
Lalu, saat kami tiba di Punk Hazard, bertemu dengan anak-anak, hingga bertarung melawan Master mereka. Yang hasilnya, seperti biasanya, Luffy memenangkan pertarungan itu dan menyerahkan anak-anak tadi pada angkatan laut untuk dikembalikan pada keluarga mereka.
Aku juga ingat saat kami hendak berlayar lagi mulut Luffy masih mengunyah sepotong daging dan aku mencoba menarik tulang dari daging itu. Rasanya Luffy terlihat lucu waktu itu hingga aku tertawa ketika menarik tulang itu dari mulut Luffy.
Seluruhnya HAMPIR kembali. Kecuali ingatan itu. Ingatan sewaktu kami akhirnya mendarat di pulau terakhir ini, Pulau Raftel. Kenapa tak ada ingatan sedikitpun tentang kejadian (yang jelas-jelas) baru saja terjadi?!
Saat aku membuka mataku, pemandangan yang kudapati bukan hal yang aku duga. Bukannya ruangan berkayu yang kulihat melainkan lautan nan luas yang berada dihadapanku kini.
"Ini... mimpi!?"
Aku menengok ke bawah dan mendapati hamparan pasir putih dibawah kakiku. "Apa aku dipantai? Tapi... bukannya aku berada di Sunny?"
Aku melihat ke kanan dan ke kiriku, lalu aku melihat sekelompok orang beserta kapal mereka. Walau dari kejauhan tapi aku bisa melihat jelas kapal mereka yang tak asing bagiku, begitu pula dengan orang-orang itu.
"Itu... Sunny-gou!? L-lalu itu... kami s-semua..."
Tak salah lagi, itu adalah kami! Dan pemandangan yang berada dihadapanku sekarang ini... rasanya... aku pernah melihatnya.
"Apakah ini ingatan saat kami tiba di Raftel!?"
Aku berjalan perlahan mendekati mereka, dan saat itu aku melihat Luffy, senchou-ku yang sempat kulupakan, meletakkan topi jerami lalu langsung memelukku. Dapat kulihat wajah diriku (yang disana) mulai menyerupai kepiting rebus. Bahkan wajahku sendiri pun mulai terasa memanas!
Aku juga bisa melihat Sanji yang ditahan (baca: diinjak) oleh Zoro dan terikat oleh akuma no mi milik Robin, sementara yang lainnya sibuk melihat acara lovey-dovey kami.
Huwaa... kalau dilihat secara orang ketiga lebih memalukan dari yang kupikirkan, batinku sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku.
Tapi, semua hal yang menyenangkan ini harus langsung berakhir saat aku mendengar suara menggerisik dari rerumputan yang berada di belakang... Luffy!
Ketika aku melihat lebih jelas apa yang berada dibalik rerumputan itu, aku begitu terkejut.
Angkatan laut!? Dan lagi dia memegang senjata! Apa dia hendak menembak salah seorang dari kami!?
Dan benar saja, pria itu mulai mengarahkan senjatanya ke arah kami, dan bila kuperhatikan baik-baik nampaknya senjata itu mengarah lurus ke arah Luffy!
Sesuatu dalam hatiku menyuruhku untuk segera membawa langkahku ke sana, tapi tiba-tiba saja aku tidak bisa menggerakkan kaki, bahkan seluruh tubuhku terasa kaku! Aku tak bisa menggerakkan badanku sama sekali!
Saat aku menoleh ke arah pria angkatan laut tadi, dia hendak menarik pelatuknya...
.
.
5
.
.
"H-hentikan..."
"LUFFY AWAS!"
.
.
4
.
.
"Larilah... aku... aku tidak mau lagi..."
.
.
3
.
.
"... orang yang... berharga bagiku..."
.
.
2
.
.
"... mati..."
.
.
1
.
.
"... dihadapanku..."
.
.
0
.
.
DORRR!
"NAMI!"
Dan itulah yang terakhir kulihat sebelum aku terjatuh kembali ke dalam dunia yang penuh kegelapan.
~oOo~
NORMAL POV
Nami terbangun dari mimpi akan ingatannya yang sempat hilang. Akhirnya seluruh ingatannya kembali, kembali hingga saat kejadian dimana seluruh kasus ini berawal.
Dia terbangun dengan mata membulat dan keringat dingin menghiasi wajahnya. Saat dia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, dirinya langsung mengenali kalau ruangan itu merupakan ruang perawatan Sunny-gou. Namun anehnya, tak ada seorang pun yang berjaga diruangan itu.
"Luffy... Luffy... LUFFY!"
Nami meneriaki nama kaptennya itu berulang-ulang kali. Dan saat pintu itu terbuka dan muncullah sang pemilik nama, tanpa basa-basi lagi Nami langsung melempar selimutnya ke sembarang arah, berdiri dari kasurnya, lalu langsung memeluk pria yang kepalanya berharga 400 juta berri itu.
Si pemuda begitu terkejut karena ketika mendengar namanya dipanggil dia langsung berlari kemari hingga tiba-tiba saja sesuatu berwarna orange langsung memeluknya.
Luffy tak bisa berkata-kata ataupun berbuat apa-apa. Dia masih terkejut dengan situasi yang sedang terjadi sekarang ini. Hingga dia mendengar suara seperti isak tangis yang berasal dari gadis yang tengah memeluknya.
"G-*hiks*-gomen ne, Luffy..."
"N-Nami? K-kau... kenapa kau meminta maaf?"
"A-aku... su-sudah m-me-mengingatnya..."
Luffy terkejut. "Mengingat... apa? Apa ingatanmu sudah kembali seluruhnya, Nami!?"
Tanpa melepaskan pelukannya Nami mengangguk tanda iya. Dia makin mempererat pelukannya dan Luffy bisa merasakan vest merahnya yang mulai terasa basah.
"G-gomen ne karena a-aku sudah me-membuatmu cemas..."
"..."
"... a-aku hanya ti-tidak mau k-kalau kau..."
"..."
"... orang yang sangat berharga bagiku..."
"..."
"... mati dihadapanku seperti itu... seperti Bellemere-san..."
Dan itulah kata-kata terakhir yang Luffy dengar sebelum dirinya membalas pelukan hangat dari navigatornya yang sempat koma selama 7 hari hingga kehilangan ingatannya tentang sang baka senchou.
Keduanya bertahan dalam posisi itu walaupun nakama mereka yang lain telah berdatangan. Luffy menengok sebentar ke arah mereka untuk membiarkan mereka (dirinya dan Nami) berdua sebentar saja, dan langsung dimengerti oleh mereka (bahkan sang koki pun mengerti dan membiarkan mereka berdua untuk sementara).
Saat Luffy yakin yang lainnya telah menjauh dari mereka berdua, Luffy melonggarkan sedikit pelukannya.
"Nami, coba angkat wajahmu," pinta Luffy.
Tapi yang dipanggil tetap saja membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang kapten. "Mh-mm... tidak mau."
"Kenapa?"
"A-aku...m-malu..."
Luffy tertawa kecil mendengar alasan (konyol menurutnya) yang dilontarkan oleh gadis ini. "Oh ayolah, Nami. Memangnya ada apa diwajahmu hingga kau malu, hah?"
Merasa hal itu takkan mempan, Luffy pun memutuskan untuk melakukannya sendiri. Tangan kanannya yang tadi masih melingkar dipinggang Nami kini ditariknya, diletakkannya dibawah dagu Nami lalu dia mengangkat wajah Nami hingga dia bisa melihat kembali wajah navigatornya.
Saat Nami melihat wajah Luffy yang perlahan mulai mendekat, napas Nami rasanya tercekat. Jantungnya mulai berdetak begitu kuat hingga rasanya Luffy pun bisa mendengarnya. Dia pun bisa merasakan napas hangat yang menyapu wajanya dengan lembut. Bibir mereka tinggal berjarak beberapa sentimeter lagi.
"Okaeri... Nami..." dan akhirnya kedua bibir itu pun bertemu kembali.
.
.
.
.
.
"Tadaima..."
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
~oOo~
Bla-bla Author:
Chapter terpanjang diantara semua chapter di Our Memories (mungkin) *lempar bunga 7 rupa*
Hontou ni arigatou gozaimasu buat readers, reviewers, dan minna-san sekalian yang mau dan masih tetap bersabar menunggu apdetan dari fic ini. HONTOU NI ARIGATOU GOZAIMASU *bungkuk*
Terus... chapter 5 akan menjadi yang terakhir minna~
Dan berhubung chapter berikutnya adalah yang terakhir jadi kali ini tidak ada previous chapter-nya.
Tapi, itu bukan berarti saya akan berhenti dari fandom One Piece untuk pairing yang satu ini! Karena saya (yang entah kejatuhan durian runtuh (?)* lagi*) punya rencana untuk bikin fic LuNa lagi~
Thanks for reviewers:
- mari-chan.41
- NamikazeNoah
- Yurako Koizumi
- sasa-hime
- nanachan
- edogawa Luffy
- clea everlasting
- Namikaze Haruno
- Aurora Borealix
- Guest [2/27]
- Guest [2/28]
- vergodlaw
- putraarya428
- indahazza3
- Guest [3/13]
- Astrid Annisa Mochtar
- putrialinka04
- Guest [3/15]
- xz100001
- Riez Natsumi Khafiza
- Guest [3/18]
- dkill308
Saat saya melihat begitu banyak review-nya dan membaca semua review yang menantikan chapter ini saya jadi terharu dan senang sekali! Arigatou minna~ *bungkuk*
Jaa mata ne, minna~
