Disclaimer: The owner of all characters in this story is Masashi Kishimoto. I owned nothing but this story.

Genre: Supranatural, Romance, Sci-fi.

Warning: a Little OOC in some characters, Genderbender, and some dark themes.


Second Verse: The Quill


09.34AM

"Hmm,"

"Hm?"

"Hmm..."

"Sensei, tolong ucapkan sesuatu selain 'Hmm', anda mulai membuat saya kesal,"

"Maa maa, Sasuke-kun. Kau tidak sabaran ternyata,"

Sasuke sedang berada di dalam ruang BP sejak bel istirahat delapan belas menit yang lalu. Dia bertanya sesuatu kepada orang di depannya ini tentang apa yang telah ia temukan kemarin malam. Memang bukan tempat yang tepat jika seseorang ingin menceritakan masalah yang seperti dialami Sasuke kemarin, karena pasti akan dicap sebagai orang yang suka mengarang cerita. Namun ruang BP sekolah Sasuke berbeda, karena orang yang menjadi guru BP bukanlah orang biasa.

"Seperti yang kau kira, Sasuke-kun. Terdapat sesuatu didalam orang yang kau temui semalam, tidak mungkin ada orang yang bisa membuatmu mengaktivkan 'itu' hanya untuk menyelamatkan diri,"

Hatake Kakashi, guru BP yang murah senyum, dan murah hukuman. Guru BP unik yang selalu memakai masker hitam untuk wajah bagian bawahnya dengan alasan karena dia memiliki wajah yang buruk rupa, meskipun orang-orang tidak pernah percaya akan hal itu. Selain pribadinya yang unik dan kesukaannya dalam buku porno, dia bukanlah orang biasa. Dia adalah orang yang pernah membuat Sasuke berhutang nyawa padanya.

"Well, anda benar. Lalu, apa saran anda? Jika ini dibiarkan, akan terus terjadi pembunuhan di kota ini,"

Sasuke berkata dengan nada datar namun tetap menjaga kesopanannya. Matanya menjelajahi ruangan berukuran lima kali delapan meter persegi banyak yang berubah sejak terakhir kali dia kesini. Ruangan dengan cat putih untuk tembok dan lantai berkeramik putih yang selalu dibersihkan setiap hari. Yang menarik perhatian Sasuke hanyalah sebuah kelambu yang menutupi dua buah kasur, seperti sebuah kllinik saja. Memang ada yang bilang kalau ruang BP akan di fungsikan sebagai ruang UKS juga, tapi Sasuke tidak terlalu memperhatikan hingga saat ini dia melihatnya.

"Hmm-"

"Tolong jangan ucapkan kata tidak jelas itu lagi, saya muak mendengarnya,"

"Ah, baiklah. Begini,"

Kakashi tersenyum dengan matanya dan berdiri untuk mengambil sesuatu dari lemari kayu di sudut ruangan, beberapa meter dari mejanya. Setelah bergumam sebentar, dia lalu kembali untuk duduk di kursinya dan meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja. Kotak itu berukuran kecil dengan panjang tiga puluh senti dan lebar sepuluh senti. Sebuah ukiran huruf yang tidak Sasuke mengerti ada di bagian atas tutupnya.

"Ini..."

"Ini adalah [Spell Tracer], sebuah Relic yang digunakan oleh seorang Alchemist barat untuk meneliti bentuk 'Mana' yang ada di dalam tubuh suatu mahluk,"

Kakashi menjelaskan sebelum Sasuke sempat bertanya.

Wajah Sasuke mengkerut. Dia memang tidak tahu benda apa ini, meskipun sudah dijelaskan oleh guru BPnya yang berwajah rawan kebohongan ini. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan benda ini, meneliti 'Mana' yang berada di dalam tubuh mahluk, lalu? Dengan benda ini, dia akan meneliti 'mana'? Untuk apa?

"Jangan memasang wajah seperti itu, aku belum selesai menjelaskan,"

Pria berambut putih seperti ubanan itu menyentuh kotak diatas meja. Memang tidak terlalu terlihat, tapi Sasuke bisa merasakan orang itu sedang melakukan pelepasan segel yang menjadi gembok kotak ini.

Dengan suara *Klak* Kakashi mulai membuka tutup kotak kayu itu dengan tangan kanannya. Sasuke langsung bisa merasakan sebuah magic berintensitas tinggi terpancar dari dalam kotak itu. Tidak diragukan, isi dari kotak itu adalah sebuah [RELIC], salah satu dari Magic Tool yang memiliki kekuatan 'lebih' dari Magic Tool biasa. Dengan hati-hati Kakashi mengambil apa yang berada di dalam kotak itu. Entah kenapa Sasuke menahan nafasnya. Lalu, sesuatu yang dikeluarkan dari kotak itu adalah...

"Pena?"

Sasuke hampir berteriak ketika melihat apa yang menjadi [RELIC] didalam kotak itu. Dia menatap pena itu tajam, mencoba memperhatikan kebenaran benda itu. Namun matanya tidak pernah berbohong, pena ini memang sebuah [RELIC]. Mata Sasuke memandang Kakashi heran.

"Yeah yeah, semua orang bereaksi seperti itu ketika melihat ini. Tapi untuk seorang antisosial dan emo sepertimu ikut kaget, adalah sesuatu yang pantas diingat, Sasuke-kun,"

Kakashi memutar bola matanya, sepertinya dia sedikit kesal karena barang yang menjadi kebanggaannya mendapakan reaksi semacam itu. Memangnya penampilah luar lebih penting daripada kemampuan? Dasar anak muda jaman sekarang.

"Tapi..."

"Sudahlah, aku akan jelaskan apa fungsi dari benda yang tidak terlalu menakjupkan di sisi penampilan ini,"

Kakashi mengangkat pena itu hingga sejajar kedua matanya dan mata Sasuke, sisi tajam pena mengarah kebawah. Lalu, dengan jempolnya dia menekan ujung tumpul pena.

*Deg*

Mata sasuke langsung berubah merah ketika jempol Kakashi menyentuh ujung tumpul pena itu. Dia tidak sengaja melakukanya- tidak, instingnya yang menjadi waspada secara otomatis dan mengaktifkan 'mata'nya. Dia dapat melihat energi mana murni yang terkompres kuat diujung pena itu. Apa-apaan benda itu? Sasuke hampir berkeringat dingin ketika Kakashi mengarahkan ujung lancip benda itu ke dada Sasuke.

"Kau paham Sasuke-kun? Benda ini adalah [RELIC] asli yang tidak bisa diremehkan,"

Kakashi tersenyum dalam maskernya. Matanya yang biasa tersenyum ramah dan memancarkan aura innocent kini berubah menjadi mata seseorang yang sudah sering mengambil jantung orang lain. Butir keringat kecil muncul dari kening Sasuke. Entah kenapa dia tidak bisa bergerak. Seperti ada sesuatu yang menekan tubuhnya, tidak, yang tertekan bukanlah tubuhnya, namun mana yang ada di dalam tubuhnya.

"Bagaimana-"

"Benda ini dinamakan [Spell Tracer] karena dapat mempengaruhi mana yang disentuhnya. Aku sedang mengalirkan mana yang telah aku simpan selama ini kedalam benda ini, dan hasilnya, kau merasakan tekanan besar karena perbedaan level mana kita,"

Kakashi melepaskan jempolnya dari pena itu, tekanan yang tadi dirasakan Sasuke langsung menghilang begitu saja. Dia hampir tertunduk kalau saja tidak segera menahan tubuhnya dengan berpegangan ke meja.

"Maa, lebih jelasnya, benda ini dapat menyimpan, mengubah, menghentikan, atau memusnahkan aliran mana tergantung kepada tingkat mana tergetnya dan penggunanya. Semakin kuat tingkatan manamu dan targetmu, kekuatan pena ini semakin kuat,"

Dia meletakkan pena itu keatas meja tepat di depan Sasuke. Senyumnya kembai menjadi normal seperti biasanya, meski tertutup masker. Sasuke ragu untuk memegang benda itu. Entah kenapa, dia menjadi gugup sepreti ini. Selama ini dia tidak pernah menyentuh [RELIC], dan sekarang dia akan menggunakannya. Mata Sasuke menatap pena itu sebentar sebelum kembali memberi Kakashi sebuah tatapan curiga.

"Sensei, kalau memang benar- tidak, benda ini memang [RELIC], dan yang saya tahu, benda seperti ini hanya dimiliki oleh sebagian orang dengan magic tingkat tinggi bukan? Kenapa anda memberikannya kepada saya? Bukankah akan lebih cepat jika Sensei sendiri yang mengatasi masalah ini? Lagipula, belum tentu saya bisa menggunakannya,"

"Hmm,"

Kedua tangan Kakashi terlipat di depan dada. Dia memajukan tubuhnya hingga dada dan tangannya bersandar di atas meja. Matanya melihat lurus kearah mata sasuke.

"Aku adalah bagian dari sesuatu yang mengawasi dunia ini, dan ada peraturan yang tidak boleh kulanggar. Berinteraksi dengan sesuatu yang jauh dibawahku akan membuat keseimbangan melonggar. Akan terjadi ketidakimbangan yang akan mengerogoti dunia ini jika itu terjadi,"

Kakashi kembali ke posisinya yang semula. Kini dia melipat kedua tanganya dibelakang kepala sambil memejamkan matanya.

"I see,"

Sasuke menatap pena itu lagi, dan mencoba memegangnya dengan tangan kanan.

*Deg*

Sasuke merasakan benda ini merespon terhadap aliran mana yang terdapat dalam tubuhnya. Dia melihat kakashi yang sekarang tengan mengawasinya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sasuke berdiri, lalu membungkuk hormat.

"Terima kasih, Sensei. Akan aku kembalikan jika sudah selesai,"

"Ara, itu tidak perlu, benda itu sudah tidak kubutuhkan lagi. Aku sudah tidak akan berinteraksi secara langsung di dunia itu lagi. Kau bisa menyimpannya, Sasuke-kun,"

"Tapi-"

Sasuke menatap pena yang ia pegang di tangan kanannya. Kemudian dia mengangguk kepada Kakashi yang sedang tersenyum dengan matanya.

"Terimakasih,"

Dengan itu Sasuke membungkuk sekali lagi sebelum beranjak menuju pintu.

"Good luck, Sasuke-kun..."

Kakashi tersenyum penuh arti setelah Sasuke keluar dari ruangan itu. Tangan kirinya mengambil sebuah file. Di file itu terdapat informasi seseorang dan sebuah foto. Didalamnya terdapat informasi yang memberi tahu nama lengkap, hobi, keluarga, hingga ke data pribadi. Sekolah ini memang sengaja memiliki informasi yang mendetil dari murid-muridnya. Ini dipergunakan agar para petinggi sekolah dapat mengetahui data murid secara langsung jika ada masalah, karena banyak yang mengincar nama sekolah ini. Kakashi memanfaatkannya untuk mendapatkan data-data penting yang ia gunakan untuk mengawasi segalanya, Dan dengan adanya file ini, separuh dari waktunya terhemat dengan baik. Nama yang tercantum dalam file itu adalah, Uzumaki Naruko.


09.45AM

Istirahat makan siang selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Naruko. Kebanyakan orang memang berpikiran sama, namun Naruko menganggap istirahat makan siang lebih spesial. Entah kenapa dia merasa demikian. Dia selalu merasa lebih fresh lima kali lipat ketika bell makan siang berbunyi. Terkadang dia sendiri merasa aneh dengan otaknya. Ah, semua orang pasti memiliki persepsi masing-masing dalam menilai sesuatu bukan? Itu yang Naruko pikirkan. Apapun itu, sekarang waktunya makan siang. Senyum manis gadis berambut kuning keemasan yang dikuncir twin tail ini membuat murid-murid tidak dapat untuk tidak menoleh kembali saat berpapasan dengannya, baik itu laki-laki maupun perempuan. Naruko hanya tersenyum kembali saat beberapa dari mereka menyapanya.

Langkahnya sedikit ia percepat karena ingin segera sampai di atap sekolah dan menikmati bekal yang telah dia buat sendiri...dan, bertemu dengan 'dia'?. Wajah Naruko mengkerut. Kenapa jadi terpikirkan wajah laki-laki tanpa ekspresi berrambut pantat ayam itu? Naruko menggelengkan kepalanya. Well, meskipun orang itu terkadang menyebalkan, tapi Naruko senang menggodanya. Bisa dibilang hanya orang itu yang menemaninya memakan bekal di atas atap. Err, lebih tepatnya, mereka berdua kebetulan sama-sama ingin makan di bawah naungan langit secara langsung. Lagipula, makan sendrian sedikit terasa sepi.

Saat dia sampai diatas atap, orang dengan pantat ayam itu sudah duduk sana sambil menyeruput jus tomat kemasan di tangan kanannya. Naruko sudah menduganya, orang ini tidak perna terlambat datang kesini. Mungkin memang karena kelasnya yang lebih dekat dengan tangga dari pada kelas Naruko yang memang agak jauh.

"Took you long enough to come here,"

Sasuke melirik Naruko yang mulai duduk dan membuka bekalnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya. Naruko hanya menjulurkan lidahnya seagai respon dari pernyataan Sasuke.

"Kau saja yang kerajinan datang di sini. lagipula, kelasmu yang lebih dekat, dasar pantat ayam,"

"Hn,"

Wajah Naruko mengerut karena respon khas dari Sasuke. Dengan sebuah 'hmph' Naruko mulai memakan bekalnya setelah berdoa. Bekal yang dibawanya tidak terlalu spesial karena dia sendiri yang membuatnya. Biasanya adalah Ibunya atau para pelayan dapur yang menyiapkan. Tapi hari ini dia ingin mulai belajar membuat bekal sendiri.

Sebuah telur dadar gulung ia masukkan kemulut. Setelah mengunyah sebentar, dia tersenyum lebar. Buatannya tidak kalah enak dari yang lain, meski belum sempurna. Dia putuskan untuk terus membuat bekal sendiri nantinya.

"Hm, Dobe,"

Naruko yang sedang memutilasi tentakel sosis berbentuk guritanya menoleh kearah Sasuke yang memanggilnya. Matanya menatap pemuda berambut hitam itu dengan tajam. Entah sejak kapan panggilan itu menjadi nickname untuknya.

"Ada apa, Teme?"

Sasuke mendengus pelan. Dia melirik Naruko dengan sinis selama beberapa detik. Tangannya menaruh kemasan jus tomat yang sudah habis kedalam sebuah kantung plastik, lalu mengambil kemasan yang baru.

"Apa ada sesuatu yang kau rasa aneh akhir-akhir ini?"

Naruko memasukkan kentang goreng kedalam mulutnya dan menikmatinya, namun dahinya berkerut saat mendengar pertanyaan Sasuke. Anak ini memang jarang bicara, jika bicara, sering kali hal-hal yang aneh.

"Maksudmu apa, Teme? Sesuatu yang sering muncul di Anime-anime?"

"Kau menonton hal semacam itu?"

Ekspresi yang teerdapat di wajah Sasuke dapat dikategorikan ekspresi orang yang terkejut atas sesuatu yang sangat tidak wajar terjadi di dunia ini. Namun ini adalah Sasuke, ekspresi semacam itu akan diminimaliskan oleh gen sejak lahirnya menjadi sebuah wajah datar dengan sebelah alis yang terangkat.

"Oi, apa maksud dari 'hal semacam itu'? Anime cukup bagus untuk ditonton tahu,"

"Well, terserah. Bisa dibilang seperti hal-hal yang supranatural, atau tidak biasa,"

"Hmm..."

Naruko memasang wajah berpikir dengan alis berkerut dan sumpit dimulut.

"Kalau sesuatu yang aneh di dunia nyata sih tidak ada,"

"Hn...?"

"Tapi, akhir-akhir ini aku bermimpi aneh,"

Sasuke langsung menoleh kearah Naruko. Setelah menghabiskan jus tomat kemasannya yang kedua, dia memberi Naruko tatapan serius. Naruko yang tiba-tiba mendapatkan tatapan seperti itu jadi sedikit merona. Sasuke jarang menatapnya langsung seperti ini, dan laki-laki di depannya ini memang terlihat, ehem, tampan jika dilihat secara langsung.

"Uh, ya...akhir-akhir ini aku sering bermimpi sedang berjalan-jalan di kota, lalu menggoda seseorang sebelum membunuhnya,"

Seperti telah mengalami sesuatu yang sudah biasa bagi semua orang, Naruko menceritakan apa yang ia lihat di dalam mimpinya.

"Kau berkata seakan mimpi semacam itu adalah hal yang biasa, dan kau tadi bilang bahwa mimpimu aneh,"

Tangan kanan Sasuke memegang kepalanya sambil mulutnya meghela nafas dan menggeleng pelan.

"Apaan sih, itu kan hanya mimpi. Seaneh apapun itu, hanyalah mimpi,"

Naruko menelan sebuah tomat kecil. Sasuke memperhatikan dari tomat itu diambil dengan sumpit, hingga gerakan menelan leher Naruko. Namun dia kembali fokus mendengarkan.

"Lagipula, mimpi itu sudah sering muncul sejak dua minggu yang lalu. Aku sudah terbiasa,"

"Hmm..."

"Memangnya ada apa? Tumben kau bertanya semacam ini, Teme. tidak biasanya,"

"Nah, tidak ada maksud apapun, hanya sesuatu yang terlintas di pikiranku saja,"

Tatapan curiga terpancar di mata Naruko. Sasuke hanya melanjutkan acaranya, membuang kemasan jus tomat yang telah kosong di kantung plastik dan mengeluarkan yang baru dari kantung plastik lain. Naruko mengangkat bahu, memutuskan untuk tidak bertanya hal-hal yang tidak jelas lebih jauh lagi.

"Kau tidak bawa bekal, Teme?"

Sasuke sedikit mengangkat kemasan jus tomat yang sedang ia nikmati, membuat Naruko melihat lelaki itu dengan wajah ceberut.

"Yang benar saja, kau butuh bekal yang bervariasi selain jus tomat,"

"Aku yang menikmati, kau tidak perlu menasihatiku soal hal ini, Dobe,"

"Hmph, dasar Teme,"

Selama beberapa menit mereka terdiam sunyi. Hanya Naruko yang menikmati bekalnya yang sisa seperempat dan Sasuke yang menikmati...jusnya yang ketiga. Setelah jusnya habis, Sasuke membuangnya ke kantung plastik yang tadi, lalu dia melirik Naruko yang sedang melamun sambil mengunyah nasi bekalnya. Dia mulai berdiri dan berjalan pergi. Naruko meliriknya kesal namun tidak berkata apapun, dia menggigit sosis terakhirnya dan menutup kotak bekal itu.

"..."

Sasuke berhenti ketika tangannya hendak membuka pintu untuk menuju kebawah. Dia menoleh sebentar untuk melihat Naruko yang sedang membereskan bekalnya sambil memunum jus jeruk kemasan. Tatapan mata Sasuke menajam dan irisnya berubah menjadi merah dengan tiga bintik hitam.

'Tidak ada'

Seperti dugaan Kakashi, Sasuke tidak akan bisa melihat 'itu' yang bersemayam di jiwa dan tubuh Naruko jika 'itu' tidak keluar dengan sendirinya. Berarti dia harus menunggu hingga waktunya tiba. Ini merepotkan.

Dengan helahan nafas, matanya kembali normal. Dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas. Tangan kanannya menyentuh [RELIC] yang ada di dalam sakunya. Kakashi-sensei benar, ini tidak akan mudah.


05.20PM

Seumur hidupnya Sasuke tidak pernah sekalipun mengingjungi rumah teman sekolahnya. Bukan karena dia tidak mau, tapi memang dia jarang memiliki teman sejak dulu. Sifatnya yang kelewat diam membuatnya mendapat tatapan aneh dari temannya. Akhirya dia seringkali mengerjakan sebagian tugasnya, kemudian teman satu kelompoknya yang melanjutkan.

So, dia merasa sedikit aneh ketika mengikuti Naruko hingga kerumahnya. Mungkin orang lain akan mengira dia seorang stalker, tapi untungnya rumah Naruko berada di komleks perumahan orang-orang elit. Hanya sedikit orang yang lewat di sini, dan tidak terlalu banyak yang berkeliaran di luar rumah. Isu tentang kebanyakan orang kaya itu kurang saling berhubungan antara tetangga sepertinya benar.

Rumah Narukobisa dikatakan besar, namun dibandingkan dengan rumah lain yang berdiri di kompleks ini, rumah Naruko mendapat kategori sedang. Walau demikian, Sasuke tetap memuji rumah itu. Poin paling bagus dari rumah Naruko adalah tamannya yang sangat subur dan indah. Pagarnya tidak hanya terbuat dari besi, namun juga dilapisi oleh tumbuhan hijau yang lebat. Jika diperhatikan, rumah ini adalah satu-satunya rumah yang bernuansa 'hijau' di kompleks ini.

Mata Sasuke memperhatikan dari jauh ketika Naruko telah memasuki pintu masuk rumahnya. Seseorang dengan rambut merah panjang terlihat dari bayangan saat menutup pintu. Sasuke mengira itu adalah ibu Naruko. Teman-teman sekelasnya sering membicarakan tentang Naruko, meski dia jarang mendengarkan dengan seksama atau ikut bicara, tapi dia pernah mendengar tentang keluarga Naruko yang terdiri dari ayah tampan berambut pirang, dan ibu cantik berambut merah.

Sasuke menghela nafas pelan, merasa lega tapa oleh alasan yang tidak ia mengerti sendiri. Dia menyendarkan tubuhnya ke pagar rumah yang berada di samping rumah Naruko. Angin sore yang berhembus pelan membuat rambut hitamnya sedikit berayun. Bau sedap sebuah masakan membuat perut Sasuke sedikit merengek. Dia mengeutuk pelan hal itu, lalu memutuskan untuk pulang. Setidaknya dia tahu dimana Naruto tinggal, dan ini akan membantunya jika ada hal yang tidak terduga.

Setelah melirik rumah Naruko sejenak, dia mulai berjalan pergi. Dia memasukkan kedua telapak tangannya kedalam saku untuk menghindari rasa dingin yang dihasilkan dari angin menjelang malam ini. Pikirannya teringat kepada pesan Ibunya yang tidak akan pulang lagi sampai minggu depan karena urusan pekerjaan. Dia akan sendiri lagi malam ini. Karena itu dia memutuskan untuk pergi berbelannja dulu sebelum menuju rumahnya.

"Huh?"

Sasuke langsung membalikkan badang dengan cepat ketika merasakan sesuatu sedang mendekat dari belakangnnya. Sebuah bayanga hitam terlihat di pandanganya.

*Brugh*

Dalam sekejap tubuh Sasuke sudah berada di tanah dengan 'sesuatu' berwarna hitam yang menahannya dengan kedua tanganya. Bukan, Sasuke menyadari jika yang membuatnya seperti ini tidak memiliki tangan, namun cakar. 'Sesuatu' berwarna hitam ini berbentuk seperti seekor anjing dengan mata merah yang menatapnya dan taring yang terbuka lebar siap untuk mengoyak.

Rahang sasuke mengeras dan dia mencoba berontak, namun kedua tangannya tidak dapat ia gerakkan. Cengkraman mahluk itu sangatlah kuat, ditambah dengan berat tubuhnya yang membuat Sasuke sesak nafas. Mahluk itu membuka rahangnya belih lebar lagi, pertanda bagi Sasuke agar lekas bertindak atau dia akan mati di mulut anjing hitam ini.

'Kuso!' Sasuke mengumpat dalam pikirannya.

Dengan seluruh tenaganya dia mengangkat kedua kakinya dan memposisikan telapaknya ke perut mahluk itu. Ketika rahang itu hendak mencabik kepala Sasuke, dia langsung menendang perut mahluk itu. Rahang berliur itu menutup karena medapatkan serangan yang tidak terduga dan mahluk itu terpental kearah pertigaan jalan dibelakang Sasuke.

Sasuke berdiri dengan cepat. Dia merasakan darah mulai mengalir kembali ke lengannya. Mahluk itu cukup berat untuk melumpuhkan lenganya secara permanen jika diteruskan. Mata Sasuke yang berubah merah menatap tajam mahluk hitam yang sedang mencoba berdiri di sana. Tangan kanannya merogoh saku celana untuk mengambil [RELIC] yang diberikan oleh gurunya.

'Familiar? Atau summoned beast?' Dia mengira-ngira.

Tanpa aba-aba, mahluk itu kembali menerjang Sasuke. Langkahnya yang berat namun terlihat ringan ketika berlari menimbulkan suara berdebum yang cukup keras, namun tidak ada orang sama sekali yang datang untuk melihat. Sasuke curiga bahwa terdapat 'bound field' spell yang dipasang di sekitar sini. Dengan susah payah Sasuke melompat kearah kanan untuk menghindari serangan itu.

Dia merasakan sensasi perih di kedua bahunya, membuat pergerakanya melambat. Dengan sebuah lirikan dia mengetahui penyebabnya. Mahluk tadi tidak hanya menahannya dengan cakar, namun juga melukainya. Sasuke telat untuk menyadari hal itu, untung saja dia berhasil menghindar.

Mahluk itu kembali berbalik utuk berlari menerjang Sasuke lagi. Ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus, Sasuke memperkirakan dia akan menjadi santapan mahluk ini jika dia tidak melakukan apapun dua menit kedepan. Dia mengatur nafasnya yang cepat untuk berkonsentrasi. Mahluk itu semakin dekat, Sasuke memasang kuda-kuda rendah dengan [RELIC] ditangan kanannya. Jika dia bisa melukai jalur 'mana' yang menyuplai pergerakan mahluk ini, dia bisa menang. Mata merah Sasuke menatap mahluk itu lebih dalam. Dia bisa melihatnya, bintik 'mana' dan garis alirannya.

"Hmph!"

Sasuke memutar tubuhnya searah jarum jam dan sedikit bergerak kekiri untuk menghindari taring mahluk itu. Lalu, dengan memanfaatkan momentum dari putaran tubuhnya dia menusukkan [RELIC] yang ia pegang terbalik di tangan kanannya ke perut mahluk hitam itu.

Momen itu terjadi dengan cepat. Sasuke dan mahluk berdiri saling membelakangi. Telinga Sasuke dapat mendengar suara nafas berat dari mulut mahluk itu. Dia membalikkan badannya untuk melihat lawannya. Di sana, mahluk itu masih tetap berdiri membelakangi sasuke. Ketika mata Sasuke memperhatikan, dia menghela nafas lega. Dia telah menang.

Tubuh mahluk itu mulai memudar karena 'core' atau inti dari 'mana' yang meggerakkannya telah hancur oleh [RELIC] di tangan Sasuke. Diam-diam Sasuke mengagumi kekuatan dari benda pemberian gurunya ini. Namun dia berfikir siapakah yang mengirim mahluk seprti itu untuk menyerangnya. Ini pasti ada hubungannya dengan Naruko. Sasuke menoleh untuk melihat atap rumah Naruko.

'Whatever'

Dia kembali berjalan, melewati tubuh mahluk itu yang hanya tinggal gumpalan hitam yang mulai hancur.


Ok, nih cerita kayaknya memang agak gak jelas...

Whatever, thanks buat yang telah review.

Saya bakal nyelesaiin nih cerita walau butuh waktu lama. Kemarin g bisa publish2 gara2 banyak yang harus dikerjakan di real world.

Hmm, I don't know what to say, but, your reviews are helping me a lot.

hahahah