Disclaimer: The owner of all characters in this story is Masashi Kishimoto. I owned nothing but this story.
Genre: Supranatural, Romance, Sci-fi.
Warning: a Little OOC in some characters, Genderbender, and some dark themes.
Third Verse: The Beast
Dia menghela nafas pelan. Wajah datarnya sedikit melemah, menunjukkan kerisauannya akan suatu hal. Dia membereskan berks-berkas yang bertumpuk diatas mejanya lalu dia menyandarkan tubuhnya kebelakang dimana sandaran kursi menahan punggungnya. Rapat dewan murid telah selesai sejak satu jam setengah yang lalu. Para anggotanya sudah pulang dan mengurusi urusan masing-masing. Tinggalah Gaara yang sebagai ketua dewan, memeriksa hasil rapat sekali lagi, hanya sekedar memastikan. Dia memejamkan matanya sejenak. Pikirannya kembali ke beberapa jam yang lalu, saat dia dibangunkan dini hari.
Seseorang dari organisasi telah menemuinya. Mereka melaporkan akan adanya gangguan yang ingin segera mereka bereskan, dengan Gaara sebagai pelaksananya. Gaara hanya mendengarkan penjelasan mereka tentang apa yang harus ia lakukan. Telapak tangan kanannya mengepal keras. Dia tidak dapat berbuat apapun selain menerima perintah mereka, meski dia mengutuk organisasi itu dengan seluruh hidupnya.
Seorang Gaara tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melawan. Dia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk mengambil sesuatu yang telah diambil oleh mereka. Namun, dia tidak menyerah.
Gaara mencoba menenangkan dirinya. Dia sedikit tidak setabil tanpa ia sengaja. Pikirannya mencoba meraih obyektif yang harus ia lakukan saat ini. Si 'Pengganggu' yang menjadi target organisasi itu dapat lolos dari mahluk yang ia ciptakan dari manisfestasi magic miliknya. Cukup mengejutkan mengingat bahwa mahluk yang ia kirim memiliki ketahanan Magic ataupun Curse yang cukup tinggi. Seseorang dengan Magic tingkat S saja akan butuh beberapa menit untuk mengetahui kelemahan mahluk itu. Namun Uchiha Sasuke menghabisinya hanya dengan sekali serang. menarik.
Tangan kanan Gaara merogoh kalung rantai yang ia kenakan. dia menatap sebuah plat stainless steel yang menggantung di kalung itu. Raut wajahnya menampakkan sebuah rasa sedih yang mendalam, namun dia langsung menggantinya dengan tatapan ketegaran dan menggenggam benda itu dengan erat. Ada empat nama yang tertera di plat itu.
(Gaara Naruko Temari Kankuro)
09:45 AM
Udara diatam sekolah terasa sedikit dingin pada siang hari ini. Namun itu tidak menghentikan keua orang yang sedang menikmati makan siang mereka di sana. Seperti biasa, Sasuke menikmati jus tomat dan roti melonnya sementara Naruko sedang menghabisi bekal yang tadi pagi dia buat sendiri.
"Ne, Teme. Menurutmu, batas antara ilusi dengan mimpi itu bagaimana?"
Naruko membuka pembicaraan yang sejak lima menit tadi tidak berjalan. Matanya menatap bekal yang berada di pahanya. Dia tidak tahu kenapa dia ingin bertanya hal semacam itu pada teman berambut pantat ayamnya ini.
"Hm,"
Sasuke hanya bergumam pelan sambil meminum jus tomatnya yang kedua. Matanya menerawang keatas untuk melihat awan yang berbentuk seperti ombak lautan. Dia mengira ini akan terjadi hujan.
"Teme..."
"Hm, kau bisa cari itu di mbah Gloockle,"
Wajah Naruko berubah cemberut saat mendengar jawaban Sasuke. Dia ingin mengatakan beberapa caci-makian kepada pemuda yang sedang menikmati jus tomatnya yang ketiga itu, namun dia sedang tidak pada mood untuk beradu mulut. Lagipula, dia pasti yang akan kalah. Tanpa perlawanan, Naruko menghela nafas kecil dan melanjutkan acara makannya.
"Ilusi hanyalah kebohongan yang kita lihat dalam kenyataan. Mimpi adalah hal yang ingin kita lihat dalam kehidupan. Keduanya berhubungan, karena jika kita bermimpi, ada kemungkinan kita melihat ilusi,"
Sasuke tiba-tiba menjelaskan. Membuat Naruko sedikit terkejut. Namun dia berfikir tentang apa yang baru saja dijelaskan orang emo berambut hitam itu. Sayangnya, Naruko tidak begitu mengerti apa yang telah dikatakan Sasuke. Dia hanya mengkerutkan dahinya sambil memiringkan kepalanya.
"Haah, begini. semua orang pasti punya mimpi yang ingin mereka kejar, namun jika mimpi mereka adalah sesuatu yang tidak pasti dan mustahil untuk mereka kejar, mimpi itu akan berubah menjadi ilusi yang menggerogoti hidup mereka,"
Sasuke kembali memberi penjelasan yang lebih lanjut. Sebenarnya dia hanya berkata seadanya, tanpa memikirkan apapun. Dia hanya mengatakan logika yang berada di dalam otaknya tanpa melihat kepada perspektif yang berbeda.
"Hmm, I see,"
Naruko tediam sebentar, tangannya bermain-main dengan sumpit yang ia pegang. Dia sedang memikirkan sesuatu tentang apa yang telah dikatakan Sasuke.
Bell masuk sudah berbuyi. Sasuke membereskan kotak jus tomat yang telah dia minum dan memasukkannya kedalam plastik hitam untuk dibuang ke tempat sampah. Naruko yang sadar juga mulai membereskan kotak bekalnya. Setelah keduanya selesai, mereka mulai berjalan menuju pintu untuk kembali ke kelas masing-masing.
Ketika berjalan, Naruko melirik wajah Sasuke yang datar, namun langsung mengalihkannya saat yang punya menyadarinya. Ada alasan lain kenapa dia bertanya hal semacam itu kepada Sasuke. Itu karena...
'Aku bermimpi tentang, Sasuke,'
09:50 AM
"Bounded Field itu magic tingkat menengah yang merepotkan. Dengan menciptakan ruang dimensi lain yang sama persis dengan aslinya, pengguna magic ini bisa menjebak seseorang dan melakukan apapun di dalamnya tanpa khawatir akan efek yang akan ditimbulkan kepada daerah sekitar,"
Kakashi-sensei, seorang guru yang dulu pernah menyelamatkan nyawa Sasuke dan memiliki hobi membaca novel porno ini menjelaskan meski tanpa melihat wajah orang yang mendengarkannya.
"Saya paham akan hal itu. Namun, saya tidak mengerti kenapa mahluk itu menyerang saya,"
Sasuke berkata dengan wajah datar. Dia dan guru penikmat hentai itu sedang dalam perjalanan meuju kelas dan dia selalu dapat memuji kemampuan gurunya itu dalam berjalan sambil membaca.
"Hmm, kau punya musuh bebuyutan?"
"Benda macam apa itu? Sepertinya tidak,"
"Kalau gadis yang kau tolak?"
"Banyak, tapi tidak ada satupun dari mereka yang memiliki kemampuan magic,"
"hmm, sepetinya ini ada hubungannya dengan masalahmu,"
Sasuke menghentikan langkahnya. Dia berfikir sebentar, lalu menatap gurunya itu dengan pandangan serius. Kakashi masih berjalan tanpa menghiraukan Sasuke yang berhenti di depan kelas anak tingkat akhir. Setelah menghela kecil, dia kembali berjalan menuju kelasnya.
Dia mengingat-ingat bentuk dari mahluk itu. Seekor serigala yang terbuat dari benda berwarna hitam. Jika dipikir dengan baik-baik, benda itu tidak memantulkan cahaya kekuningan dari matahari sore waktu itu. Tidak mungkin itu adalah daging biasa. Saat itulah dia tersadar, ada elemen khusus yang menjadi pelapis mahluk itu. Dilihat dari warnanya dia bisa mengira-ngira, itu adalah elemen 'Dark'. Elemen yang memiliki resistansi magic dan fisik terbesar. Dapat menciptakan sesuatu dengan elemen semacam itu, pasti ada orang berbakat dibalik penyerangannya. Otak Sasuke ingin berfikir lebih jauh, namun dia menghentikannya. Lebih baik fokus ke pelajaran dulu. Ini sekolah.
Sasuke membuka pintu kelasnya. Dia langsung menuju bangkunya setelah memastikan bahwa guru yang mengajar saat ini masih belum datang. Teman-teman sekelasnya yang menyadari keberadaan dari Uchiha ini meliriknya sejenak sebelum kembali kepada urusan masing-masing. Sasuke tidak memperdulikan hal itu, sudah terbiasa. Dia hanya mengeluarkan novel lama yang ia pinjam dari tetangganya. Membaca adalah hal terbaik jika dia ingin menunggu dalam tekanan kelas seperti ini.
11:00 PM
Naruko tertawa pelan. Membuat dua orang laki-laki di depannya menatap heran. Mereka berdua adalah anak dari sekolah lain. Seragam mereka berbeda dengan sekolah Naruko. Tidak ada alasan khusus mengapa Naruko tertawa. Penampilan kedua laki-laki itu tidak ada yang aneh, keduanya malah terlihat tampan. Naruko hanya tertawa, karena dirinya akan mendapatkan sesuatu untuk dimainkan malam ini.
"Baiklah, onii-san. Aku akan ikut kalian bersenang-senang," Naruko berkata sambil mengeluarkan senyuman termanisnya.
Kedua laki-laki itu tersenyum puas. Sepertinya mereka akan benar-benar bersenang-senang. Air liur mereka terasa berkumpul di mulut saat mata mereka menatap wajah manis dan lekuk tubuh indah Naruko. Dilihat dari manapun, gadis didepan mata mereka ini benar-benar menarik. Dan kemudian, ketiga orang ini memasuki hotel yang biasa digunakan anak muda untuk melakukan hubungan intim. Tiada yang menyadari sepasang mata beriris merah yang megawasi mereka.
Setelah memesan sebuah kamar dan memasukinya, mereka memulainya. Naruko melepas tiga buah kancing bajunya sehingga bra berwarna pink dan belahan dadanya tampak menantang, dia duduk di pinggiran kasur berukuran sedang. Kedua laki-laki yang bersamanya menelan ludah ketika melihat hal itu. Mereka mulai mendekati Naruko. Namun sebelum mereka sempat melakukan apapun, Naruko berjalan kearah pintu. Dia mengunci pintu itu dan membuang kuncinya melalui sela-sela bawah pintu.
Senyum Naruko berubah menjadi dingin. Namun kedua laki-laki itu tidak menyadari apapun, mereka hanya memikirkan satu hal. Yaitu menikmati malam ini dengan gadis manis ini. Mengingat hal itu membuat Naruko terkekeh pelan.
Hawa di dalam ruangan itu mulai terasa berat. Lampu yang menerangi ruangan itu mati tanpa sebab. Kedua laki-laki itu mencoba tenang. Tetapi terror langsung menjamah tubuh mereka saat dada mereka tertembus oleh sesuatu. Tidak ada waktu untuk menjerit. Hanya suara dari darah yang mengucur deras.
Naruko menarik kedua tangannya. Dua buah jantung yang masih berdetak dan mengucurkan darah berada di genggamannya. Dia tersenyum manis kepada dua laki-laki yang tergeletak tanpa nyawa dilantai. Kehilangan jantung akan berakibat kematian seketika. Wajah keduanya menunjukkan ekspresi terkejut sekaligus ketakutan, membuat Naruko semakin senang.
"Cih, aku terlambat,"
Seseorang mengumpat. Dari suaranya, itu adalah seorang laki-laki. Suara itu terdengar dari arah jendela yang sedang terbuka. Disana, seseorang dengan rambut hitam dan berperawakan tinggi namun ramping sedang berdiri. Sinar bulan yang nampak karena matinya lampu mebuat tubuhnya terlihat seperti bayangan saja. Namun satu hal yang membuat Naruko mengetahui siapakah itu adalah kedua mata laki-laki itu. Terdapat bintik merah yang menatap langsung.
"Kau datang disaat yang tepat, Sasuke-kun,"
Senyuman Naruko kembali menjadi senyuman seorang gadis yang ceria. Dia mulai berjalan mendekat kearah Sasuke dan membuang kedua jantung itu ke lantai. Suara tetesan darah dari kedua tangannya menghiasi setiap langkahnya.
"Hentikan semua ini, kau bukan Naruko yang sebenarnya,"
Sasuke menatap tubuh Naruko tajam. Matanya dapat melihat bentuk mahluk itu dengan jelas sekarang. Seekor rubah dengan sembilan ekor. Salah satu mahluk yang dipanggil 'Biju' oleh para pengamat sejarah. Namun yang sekarang dihadapannya ini masih berupa 'seed'. Personifikasi Biju yang masih belum sempurna. Dan dia tidak akan membiarkan mahluk ini tumbuh lebih jauh.
"Hm hm, kau ingin menghentikan ku, Sasuke-kun? Apa kau bisa melakukannya?"
Mata Naruko berkilat, senyumannya berubah menjadi senyuman gelap. Aura tubuhnya berubah menjadi pekat. Sesuatu berwarna merah transparan membungkus tubuhnya. Mana pekat yang terfokus untuk membentuk perisai keseluruh tubuh. Tanpa aba-aba, perisai mana yang membungkus tubuh Naruko membentuk dua buah cakar besar yang memanjang dan melesat kearah Sasuke.
Sasuke dapat melihat serangan itu dengan jelas dengan matanya. Dia menghindar dengan melompat kesamping. Kedua cakar itu menabrak jendela yang tadi berada dibelakang Sasuke dan menghancurkannya sehingga membentuk sebuah buah lubang besar. Sasuke sadar, dia tidak bisa melawannya di tempat seperti ini. Terlalu beresiko terlihat oleh publik. Dia mengeluarkan [Spell Tracer] dari dalam sakunya. Saat itu juga salah satu cakar Naruko sudah melesat menuju kearahnya. Sasuke kembali melompat kesamping, namun kali ini dia langsung berlari kearah lubang yang telah dibuat Naruko.
Melihat hal itu, Naruko menggerakkan satu cakarnya untuk kembali mencabik tubuh Sasuke. Namun hal yang tidak dia duga terjadi. Cakarnya langsung terpecah ketika bertemu dengan tubuh Sasuke. Relic ditangan kanan Sasuke telah menghancurkan aliran mana dari cakar itu. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi, naruko mulai menerjang Sasuke sambil membuat empat buah cakar yang baru dari perisai mana miliknya.
Sasuke melompat keluar jendela. Kakinya mendarat diatas atap salah satu bangunan. Beruntung jendela kamar tadi adalah yang menghadap kearah belakang hotel dan bukan yang dibagian depan. Dia tidak mau melompat dan mendarat di jalanan. Sasuke melihat keatas. Naruko melompat kearahnya dengan empat buah cakar yang siap menghancurkan tubuhnya. Dengan sigap Sasuke melompat ke samping untuk menghindar, membuat Naruko menabrak atap bangunan dan menembusnya kebawah. Suara benda hancur dapat terdengar dengan jelas. Sasuke tidak memperdulikan hal itu. Dia terus berlari dan melompat dari atap ke atap. Efek dari matanya tidak bertahan selamanya, dia tidak dapat terus menerus menghindari serangan mahluk itu. Dia harus menggiring
'Gedung Teater lama...'
Dia akan membawa mahluk itu ke bangunan tua itu. Tidak akan ada yang datang ketempat semacam itu di jam seperti ini. Tempat yang jika hancur pun tidak akan terlalu menimbulkan kecurigaan orang. Serta, gedung itu berlokasi hanya beberapa blok dari Hotel tadi. Dia bahkan sudah bisa melihat atap gedung itu dari sini.
"SASUKE!"
Terdengar suara teriakan dari seseorang. Itu adalah suara Naruko, tidak, suara itu keluar dari Naruko namun bukan suara Naruko. Yang terdengar adalah suara bernada dalam seperti bukan suara manusia. Tanpa memperdulikan hal itu, Sasuke melompati pagar pembatas untuk masuk kedalam gedung.
Sasuke menghentikan langkahnya setelah berada di depan pintu gedung teater. Dia mengatur nafasnya yang sedikit pendek. Ternyata kemampuannya semakin menurun karena tidak pernah menggunakannya selama beberapa tahun. Setelah merasa cukup, dia memasuki bangunan tua itu.
Seperti halnya bangunan-bangunan tua yang sudah tidak digunakan, gedung ini berantakan. Kursi-kursi yang dulunya menjadi tempat duduk para penonton kini hanya tersisa sebagian saja, dan hampir semuanya terlihat rusak. Debu yang entah setebal apa menutup seluruh gedung. Aroma kayu dan tembok lapuk teersebar dimana-mana. Sasuke bahkan sedikit terbatuk saat pertamakali mencium bau debu yang berterbangan karena langkah kakinya. Dia menunggu mahluk itu di tengah ruangan dan menghadap kearah pintu. Tangan kanannya memegang erat [RELIC] berbentuk pena pemberian Senseinya.
'Baiklah Sasuke, berharaplah kau masih semahir dulu...'
Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berdoa agar dewi fortuna tidak meninggalkannya terlalu jauh.
BRAK!
Selang beberapa detik, sesuatu menghantam atap gedung dan menembusnya. Sasuke dapat mendengar suara benda mendarat di atas panggung. Dia membalikkan badannya untuk melihat. Di sana, Naruko dengan enam buah 'lengan tambahan' yang terlihat seperti sayap burung merak sedang berdiri menatapnya. Sinar bulan yang memancar dari lubang atap membuat Sasuke seakan sedang melihat sebuah drama dengan Naruko sebagai pemeran utama yang disorot lampu panggung.
Kedua orang yang saling menatap itu pun menyeringai secara bersamaan.
Thank you for everyone who want to read this story.
Super thank you for some of you who give some review *Grin*
