Disclaimer: The owner of all characters in this story is Masashi Kishimoto. I owned nothing but this story.
Genre: Supranatural, Romance, Sci-fi.
Warning: a Little OOC in some characters, Genderbender, and some dark themes.
Tidak akan ada orang yang berjalan sendirian di jalanan gelap pada malam hari seperti ini. Gelapnya jalan dapat membuat seseorang bernyali rendah merasa gugup dan merinding. Mereka akan merasa seakan ada mahluk lain yang sedang mengawasi mereka dari dalam kegelapan. Terkadang mereka juga akan mengalami sesuatu yang bernama halusinasi. Imajinasi akan dipicu oleh rasa takut lalu membuat mata seakan melihat gerakan dalam kegelapan. Namun semua hal itu tidak akan berlaku terhadap seseorang yang sedang berjalan diatas pagar pembatas gedung teater tua di sana.
Jubah bertundung berwarna hitam polos tanpa adanya tanda jahitan terlihat seperti sebuah sayap yang sedang membungkus tubuhnya. Langkahnya pelan dan stabil meskipun sedang berjalan diatas pagar yang cukup tinggi dan tidak layak menjadi pijakan telapak kaki manusia. Tidak dapat terlihat apa ekspresi di wajahnya, bahkan tidak memungkinkan untuk melihat wajahnya. Gelapnya malam serta tundung yang dipakainya membatasi pandangan dari sudut manapun. Yang dapat diidentifikasi dari orang ini hanyalah tinggi badannya yang mencukupi tinggi rata-rata pria di kota ini.
Langkahnya berhenti saat dia manolehkan pandangannya kearah gedung teater tua disana. Dia dapat merasakan pancaran mana yang sedang bergejolak dan saling menekan didalam gedung itu. Bibirnya menyunggingkan sebuah seringgai. Sepertinya dia datang tepat pada waktunya. Dia dapat menyaksikan sesuatu yang menarik pada malam ini. Dia mengetahui apa yang akan terjadi, namun dia tetap saja tertarik untuk menyaksikan secara langsung. Melihat sesuatu akan terasa lebih nyata jika kita menyaksikannya secara lagsung bukan? Namun sayang dia tidak mungkin melihat dari dekat. Dia tidak akan mengambil resiko. Seorang Guardian yang terbuang seperti dirinya hanya akan membuat kekacauan saat ada yang melihatnya.
"Sepertinya ini akan menjadi awal dari sesuatu yang besar, apa ini bagian dari rencana para Guardian?"
Dia berbisik diantara kegelapan. Tawa pelan yang keluar dari mulutnya dapat terdegar samar-samar. Lalu, senyumnya berubah menjadi sebuah lekukan yang terkesan dingin.
"Who Knows?"
Fourth Verse: The Stranger
BAM BAM BAM!
Sasuke berhasil menghindari tiga buah lengan yang melesat kearahnya dengan melompat ke kiri dan menundukkan tubuhnya. Ketiga buah lengan yang memanjang dari tubuh Naruko itu menancap di lantai cukup dalam. Mata sasuke sedikit melirik hal itu namun harus kembali melompat kesamping untuk menghindari serangan yang lain. Dia menegakkan tubuhnya untuk menatap Mahluk yang sedang mengambil alih tubuh Naruko diatas panggung, tangan kanannya yang memegang RELIC menunjuk kearah mahluk itu.
"Aku tidak tahu apa motif sebuah seed sepertimu selalu mencari korban, apa hanya untuk kesenangan? Atau ada tujuan lain?"
Sasuke mencoba bertanya dengan tujuan mengulur waktu. Otaknya sedang menyusun skenario yang dapat digunakan untuk menembus pertahanan mahluk dengan mana yang dapat bermaterialisil secara fisik seperti itu. Dengan kemampuannya yang sekarang, dia harus berhati-hati untuk menggunakan kekuatannya.
"HA HA HA..." mahluk itu hanya tertawa dengan senyuman yang seakan tidak dimiliki seorang manusia. Tiga buah lengan kembali melesat menuju Sasuke dengan motif yang sama, meremukkan dan menghancurkan sekaligus membunuh.
Baiklah, mustahil untuk berbicara dengan mahluk ini, Sasuke mengambil kesimpulan. Perkataannya sudah tidak mungkin dapat mempengaruhi Naruko, atau mahluk itu. Sepertinya ini hanya bisa diselesaikan dengan salah satu dari mereka hancur oleh yang lain.
Sasuke berlari cepat kearah kanan. Ketiga lengan itu menghancurkan lantai dan bernasib sama dengan tiga lengan yang tadi menancap cukup dalam. Di sebuah gedung yang udah tidak terpakai ini, tidak ada yang bisa digunakan sebagai pelindung atau senjata sementara. Dia hanya menemui kayu lapuk dan debu yang bertebaran dimana-mana. Ini tidak menguntungkan bagi Sasuke, namun satu-satunya tempat yang dapat digunakan untuk melawan sesuatu yang tidak normal tanpa harus membahayakan orang lain.
Kecepatan serangan mahluk itu memang lebih superior dibandingkan dengan kecepatan lari Sasuke yang hanya manusia dengan sedikit 'Ability' yang bisa ia gunakan saat ini. Mana yang bermaterialisil secara langsung dan murni seperti tidak akan bisa dihancurkan secara langsung menggunakan Spell Breaker. Sederhana saja, dia harus menghancurkan pusatnya, klasik sekali. Beruntung tipe serangan mahluk itu mudah ditebak oleh mata Sasuke. Dia sudah bisa memprediksi arah dan kecepatan serangan mahluk itu hanya dengan melihat beberapa detik saja. Ini sebabnya dia masih bisa bertahan dari lima menit yang lalu. Sedikit kesalahan akan membawa tubuhnya tercabik oleh lengan mana itu. Lebih buruk lagi, dia tidak dapat melihat senyum 'itu' lagi jika ia mati.
Nafas Sasuke masih terlihat normal, namun itu hanya efek dari kekuatan matanya. Dia dapat merasakan tubuhnya mulai melakukan protes. Dengan pikiran yang terfokus pada pandangan untuk memprediksi arah serangan yang memiliki sedikit jeda dan tubuh manusia biasa yang sudah dipaksa untuk mencapai kemampuan maksimum dalam bergerak menghindar, beban yang tidak dapat di remehkan mulai ia rasakan. Penggunaan mana untuk menebaskan Spell Breaker terhadap serangan yang nyaris menghancurkan tubuhnya tidaklah membantu untuk menghemat stamina. Tetapi bukanlah Sasuke jika dia akan jatuh oleh mahluk murahan seperti yang sedang dia hadapi sekarang. Bukankah dia sudah pernah menghadapi sesuatu yang seperti sekarang ini? Tanpa keraguan dia kembali menebas tiga buah lengan yang tidak dapat ia hindari.
Serangan mahluk itu berhenti sejenak dan dia berteriak nyaring, bukan suatu pertanda yang bagus. Insting Sasuke berteriak akan suatu bahaya yang akan datang. Sasuke memasang kuda-kuda rendah dengan tangan kanan dan kaki kiri berada di depan sedangkan tangan dan kaki kanannya bersiap di belakang. Matanya menajam ketika puluhan lengan yang terbuat dari mana meluncur sekaligus menuju kearahnya bagaikan hujan panah merah dari sebuah peperangan. Tidak ada tempat untuk menghindar, tidak ada tempat untuk berlindung. Tidak ada cara lain.
Sasuke menutup matanya sejenak.
Ketika dia membukanya, semua yang terlihat 'diperlambat'. Seluruh kejadian di depan matanya bergerak dengan kecepatan yang rendah seakan waktu di dunia sedang berjalan dengan pelan. Ini hanya efek visual yang ditimbulkan oleh mata Sasuke untuk merealisasikan kemampuan fokusnya. Salah satu dari kemampuan mata Sasuke untuk membuat proses berfikir otaknya berjalan super cepat dengan tingkat fokus yang abnormal. Setelah dia melihat sejenak semua posisi lengan mana yang berpotensi mengenai tubuhnya, penglihatannya kembali normal. Lalu dengan gerakan minimal namun gesit, dia menghindari serangan itu sambil beberapa kali menebas lengan-lengan yang terlalu dengan dengan tubuhnya. Dia melesat kearah mahluk itu tanpa ingin membuang waktu.
Sambil menambah kecepatannya Sasuke menerjang kearah mahluk itu dengan RELIC yang siap untuk mengakhiri pertarungan ini. Cukup satu serangan kedalam core mahluk itu, dan dia bisa segera menghancurkannya. Namun mendekat tidaklah mudah. Empat lengan melesat kearahnya. Dengan terpaksa dia menebas keempat lengan itu sekaligus, membuatnya hancur menjadi serpihan saat bersentuhan dengan spell tracer di tagan Sasuke. Belum selesai dengan itu, ada dua lengan lagi yang melesat kearahnya. Dia melompat kesamping kiri untuk menghindar.
Tanpa memberi jeda, Sasuke kembali berlari kearah tubuh Naruko di atas panggung. Beberapa lengan kembali melesat kearahnya, dia menghindari semuanya dengan berlari zig zag lalu melompat tinggi. Setelah mendarat diatas panggung, dia kembali menghindari dua buah lengan yang hampir mencabik tubuhnya kearah kiri sambil berputar searah jarum jam. Dengan segenap kekuatannya dan momentum putaran yang dipusatkan di kaki kirinya, dia melesat kearah Naruko. RELIC ditangan kanannya sudah siap untuk menembus tubuh Naruko. Pada jarak satu meter, dia menusukkan Spell tracer kedepan.
'Apa...?!'
Dalam pandangan matanya, Sasuke melihat wajah Naruko menyeringai kecil. Saat itu juga, empat buah lengan muncul dari bawah, menembus lantai panggung yang berbahan kayu tua lalu mencengkram kaki dan tangan Sasuke. Wajah syok Sasuke membuat senyuman Naruko semakin lebar.
Sasuke mencoba menggerakkan tubuhnya, namun untuk menggerakkan sikunya saja dia tidak bisa. Yang bisa dilakukannya hanyalah menatap mata merah Naruko. Jika mahluk itu menyerang pada jarak sependek ini, sudah dipastikan tubuh sasuke akan hancur.
'Cih'
"Kena kau Sasuke-kun..." ucap mahluk itu beserta munculnya senyuman manis yang terlihat palsu dimata Sasuke. Dia benar-benar akan menghancurkan orang yang membuat imitasi dari senyuman Naruko, dia berjanji dalam hati.
"Kau akan membunuhku?" Sasuke yang sudah tahu pasti hasil pertarungan ini jika Naruko mengakhiri sekarang juga, masih dapat berbicara dengan ketenangan yang tidak normal. Hal ini membuat senyum mahluk itu menghilang seketika. Kenapa orang di depannya ini masih setenang ini saat berada di ujung sabit dewa kematiannya?
"Kau.."
"Sebenarnya apa arti dirimu? Apa yang kau inginkan?" pertanyaan yang terlontar dengan nada Tanya yang datar dari mulut Sasuke.
"Apa maksudmu?" kebingungan mahluk itu digantikan dengan percikan kesal yang mulai keluar dari sorot mata merahnya.
"Kau adalah salah satu dari eksistensi yang berpotensi memiliki kekuatan lebih, namun kau tidak memiliki tujuan yang pasti,"
"K-kau..." mahluk itu mengeluarkan geraman bernada rendah tanpa ia sadari sendiri.
Dalam sekejap sorotan mata Sasuke menajam dan menatap mata mahluk itu dengan insting membunuh yang tidak normal, membuatnya sedikit goyah dan cengkraman lengan yang menahan Sasuke sedikit melonggar. Namun mahluk itu dapat kembali berkonsentrasi dan memperkuat cengkramannya.
"Aku...memiliki tujuan..." sebuah senyuman kembali terbentuk di bibirnya. Senyuman yang membuat setiap orang akan tahu isi dari kegelapan hati mahluk ini.
Tangan kanannya terangkat ke depan dada Sasuke. Sasuke hanya menatap hal itu dengan pandangan datar. Sebuah senyuman kecil di bibir sasuke membuat mahluk ini sedikit merasa aneh, namun kondisi fikirannya sedang tidak memungkinkan untuk memikirkan lebih jauh. Dengan sekali sentakan dia menembus dada dari sang Uchiha Sasuke. Darah segar mengalir dari lubang yang teertembus tangan itu. Mulut Sasuke dipenuhi oleh darah yang tidak dapat tertahan untuk keluar.
"Tujuan sebuah biju seperti diriku hanyalah menghancurkan, aku eksis hanya untuk membantai, aku tidak memberi, aku mengambil, jika semua orang di dunia ini hancur, maka eksistensiku tidak akan luntur," Dia berkata dengan nada yang seakan ditujukan kepada dirinya sendiri. Seperti orang yang sedang memotivasi diri agar dapat menemukan jalan untuk maju kedepan. Hal ini hanya membuat Sasuke tersenyum sinis.
"K-kenapa kau tersenyum?" melihat hal yang terasa ganjil membuatnya tergagap. Dia tidak menyangka orang yang dadanya tertembus masih bisa tersenyum sepeti itu. Apakah orang di depannya ini manusia?
"Kau bicara tentang eksistensi seakan tuhan yang menciptakanmu hanya membutuhkan sisi gelap dari kehadiranmu, sayang sekali," Sasuke tertawa kecil, hal yang sangat jarang ia lakukan.
"DIAM!" Mahluk itu menarik tangannya dari dada Sasuke dengan keras sampai tubuh Sasuke sedikit tersentak kedepan dan memuncratkan darah yang menodai tubuh naruko dan lantai gedung. Ditangannya, jantung Sasuke masih berdetak pelan dan hangat.
"K-k-kau bukan manusia?" pertanyaan itu muncul tanpa Naruko sadari ketika melihat keanehan yang terjadi di depannya. Jantung manusia tidak mungkin masih bisa berdetak seperti itu ketika sudah keluar dari tempatnya.
"Who knows..." sebuah suara berbisik dari belakang naruko.
Sasuke sedang berdiri sangat dekat di belakang Naruko tanpa ada luka atau darah ditubuhnya, seakan dia tidak pernah melakukan pertarungan sebelumnya. Tangan kanannya memegang spell tracer yang sedang terisi oleh mana dari tubuhnya. Dengan sedikit sentakan, dia menusukkan RELIC itu ke punggung Naruko. RELIC berbentuk pena itu memasuki punggung naruto seperti benda yang sedang memasuki air, tidak ada luka.
Naruko tidak sempat melakukan apapun saat RELIC itu menyentuh tubuhnya. Dia hanya bisa menatap tidak percaya kepada tubuh Sasuke yang dadanya sudah tertembus oleh lengannya. Tubuh itu mulai terlihat transparan dan seakan hanya sebuah ilusi semata. Kenyataannya, itu lebih dari sekedar ilusi.
"Spell Breaker..." Sasuke berbisik pelan ke telinga Naruko.
Sebuah suara kaca yang pecah terdengar di seluruh gedung. Suara yang ditimbulkan saat spell tracer berhasil menghancurkan dan mengunci sebuah mana berskala besar. Sasuke telah berhasil menghancurkan serta mengunci pusat mana yang digunakan biju itu untuk mengendalikan tubuh Naruko.
Tubuh Naruko oleng kebelakang yang kemudian ditangkap oleh dada Sasuke. Sasuke mencabut RELIC itu dari punggung Naruko, lalu memegangnya secara terbalik dan membawanya ke dada Naruko. Mana dengan intensitas yang sama dengan sebelumnya kembali mengalir dari tubuh Sasuke ke dalam spell tracer.
"Aku tidak akan ada kesempatan jika melawanmu yang sudah berkembang," Sasuke berkata pelan di telinga Naruko yang sudah tidak dapat digerakkan oleh biju.
"Namun sepertinya, ini akan menjadi akhirmu," tangan kanan Sasuke yang memegang RELIC sudah siap untuk menusukkan Spell Breaker sekali lagi. Kali ini tepat di Core yang menjadi pusat mahluk itu bersembunyi di dalam tubuh Naruko. Serangan ini akan menjadi serangan terakhir yang akan menghancurkan biju seed itu.
"Sayonara..." Spell tracer pun menembus dada Naruko tanpa melukai tubuh itu.
"Spell Break-"
Sring~ trak!
"Cih.." umpatan pelan melncur melalui mulut Sasuke saat dia harus menghentikan spell breaker untuk melompat sambil membawa tubuh Naruko.
Di tempatnya berddiri tadi, sebuah pedang sedang menancap tegang. Dilihat dari bentuknya yang cukup aneh dimata Sasuke, pedang ini bukanlah pedang biasa. Ukurannya pendek, membuatnya terlihat bukan sebuah pedang, namun lebar dan bentuknya adalah yang biasa ditemukan di sebuah broadsword orang Eropa. Gagang pedangnya memiliki panjang yang sama dengan mata pedangnya, Sasuke hampir mengira bahwa benda itu adalah sebuah javelin. Yang lebih menarik lagi, Sasuke dapat merasakan magic circuit yang seakan berkumpul di sekitar pedang itu, tapi dia tidak dapat melihat bentuknya.
Dengan tangan kiri yang masih memegang tubuh Naruko dia hanya dapat menggunakan tangan kanannya untuk bersiaga. Matanya mencoba mencari pemilik pedang itu di sekitar gedung ini. Sebuah bayangan seseorang yang tinggi terlihat sedang berdiri di tengah pintu masuk gedung.
"Wanderer, dust burner," orang itu berbisik pelan.
Sasuke melirik tajam pedang yang tadi hampir mengambil nyawanya. Matanya sedikit membesar ketika menyadari bahwa magic circuit yang ada di sekitar pedang itu menjadi semakin banyak hanya dalam beberapa milidetik. Tanpa ingin membuang waktu untuk memperhatikan apa yang akan terjadi, Dia langsung berlari menuju belakang panggung. Sebuah ledakan yang cukup untuk membakar habis tubuhnya terjadi. Meskipun sudah berlindung, panas ledakan masih terasa.
"Cih," Sasuke mengumpat pelan karena sedikit kesal dan sepertinya dia masih harus bertarung lagi. Dia melatakkan tubuh Naruko di lantai yang berdebu. Terpaksa dia harus meninggalkannya sebentar untuk melawan orang itu. Bertarung sambil membawa seseorang itu susah dan dia tidak ingin Naruko ikut terluka.
Serangan tadi, Sasuke tidak pernah menyangka ada orang yang dapat menghasilkan magic circuit sebanyak itu hanya dalam waktu singkat. Dia bahkan tidak melihat adanya aliran mana yang cukup untuk sebuah ledakan seperti itu. Memang bukan ledakan yang besar, namun orang itu dapat mengkompres ledakan itu dengan cukup baik sehingga daya ledaknya dapat terkontrol. Seakan orang itu memberi Sasuke peringatan untuk segera mengamankan Naruko. Hal ini membuat Sasuke meghela nafas. Yang diinginkan orang itu adalah Naruko, hidup-hidup.
Jika demikian, pasti ada alasan. Jika ada alasan, pasti ada jawaban.
Dia akan mencari tahu alasan orang itu di sini dan mengapa Naruko menjadi seperti ini. Sebuah nafas panjang mengawali langkah Sasuke keluar dari belakang panggung. Sepertinya dia miskalkulasi apa yang akan terjadi besok. Besok, dia akan telat berangkat sekolah dan tidak dapat berkonsentrasi dengan baik. Karena bertarung seperti ini dengan kondisi kekuatannya yang sekarang akan menguras banyak tenaga.
Panggung bagian depan seperti telah tergigit oleh raksasa panas, hancur. Namun tidak ada kobaran api besar yang akan membakar gedung ini, seakan rusaknya panggung bagian depan ini terjadi sejam yang lalu. Orang itu benar-benar bisa memfokuskan serangannya dengan baik.
"Sebaiknya kau tidak menghapus apa yang sedang berada di dalam gadis itu," orang itu membuka suara sebelum Sasuke sempat bertanya apapun.
Seorang berambut merah bata sedang berdiri di depan pintun masuk. Tubuh tegapnya menandakan seorang profesional dalam hal bertarung, tatapan matanya yang datar namun membawa beban dapat terpancar meskipun Sasuke melihatnya dari atas panggung.
Sasuke tidak merubah ekspresi datarnya namun pikirannya bertanya-tanya. Jika mahluk semacam itu berdiam di dalam tubuh manusia, hanya akan menghasilkan kehancuran. Hal itu sudah ia rasakan di masa lalu dan selalu menjadi luka yang tidak akan hilang di dalam benaknya.
"Gadis ini temanku satu-satunya, aku tidak ingin dia hancur karena sesuatu yang menjadi tanggung jawab orang lain," ya, dia tidak akan membiarkan hal bodoh yang sama kembali terulang dalam kehidupannya.
"Dia spesial, dia akan menjadi bagian dari sesuatu yang akan menyelamatkan dunia ini,"
Oh, alasan itu..., sepertinya dia pernah mendengar alasan yang mirip dengan itu? Ah, alasan yang membuatnya muak dengan dunia. Alasan yang pernah ia dapatkan hanya untuk berjalan menuju kebiadapan...alasan yang mengambil kehidupannya yang dulu...
"Heh...," Sasuke menunduk dan terkekeh pelan.
"Sebaiknya kau cari orang lain untuk menggantikan Naruko," Ucapan sasuke penuh dengan kebencian dan sinar matanya seperti sebuah hewan buas yang menatap mangsanya. Dia harus menahan diri agar tidak melesat dengan bodohnya untuk membuanuh orang itu sekarang juga.
"Tidak ada yang lain, dia yang terpilih dan sebaiknya kau jaga dia dengan baik, jika yang ada di dalam dirinya hancur, maka segala yang ia miliki akan mengikuti," orang itu menyentakkan tangan kanannya. Pedang yang tadi dia lemparkan langsung melesat kembali kepada genggamannya. Lalu dia mulai berbalik, rambut merah batanya terlihat mencolok meski dalam kegelapan.
"Dengan kata lain, Dia akan mati jika kau membunuh Bijuu Seed yang ada di dalamnya," debu yang ada disekitar orang itu bekumpul menutup tubuhnya. "Kita akan bertemu lagi, Sasuke-kun," dan dia menghilang bersama dengan debu yang tersapu angin.
Sasuke hanya dapat memandang tajam serta memikirkan perkataan orang itu dengan senyuman kecil yang terlihat berbahaya. Jika saja memungkinkan, dia akan kejar orang itu dan memaksanya untuk menjelaskan segala rahasia yang ada di dalam tubuh Naruko. Kebanaran sejati biasanya menyakitkan, tetapi dia akan tetap mendapatkannya suatu saat nanti.
"Sialan...," ucapnya pelan, senyumnya menghilang, tubuhnya mulai melemas, dan dia hanya bisa menelan pahit kenyataan bahwa dirinya hampir membunuh Naruko.
Dia hanya bisa meredam amarah sambil menahan rasa perih yang timbul dari mata kanannya yang mulai mengeluarkan darah.
Thank you for all people who have a great heart to review on this boring Fanfic and Sorry for I am not a faithful author. It took a long time for me to update, what a shame...
Well, Thank you again and see ya in the next chapter.
