Disclaimer: Bleach punyanya © Tite Kubo

Warning : OOC, AU

.

.

What's my fault
.

.

Chapter 2

.

Plak‼

Sebuah tamparan mendarat dengan cukup sempurna di pipi halus milikku, membuat aku terdiam untuk beberapa detik. Terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padaku. Ku tatap orang yang baru saja menamparku, wajahnya juga sama denganku terlihat kaget dengan apa yang baru saja ia perbuat.

"Kyaa! Nemu, kau baik – baik saja!" kaget Hina, cepat ia berlari menghampiriku yang masih terdiam ditempat. Ditatapnya gadis yang baru saja menamparku beberapa detik yang lalu. "Apa yang sudah kau lakukan Rukia?" tanyanya penuh amarah.

Terlihat gadis itu kaget mendapati reaksi Hina seperti itu. "A-apa? Apa yang kulakukan itu bukan urusanmu. Ini urusanku dengannya memangnya kau siapanya?" hardiknya, sepertinya ia lebih mementingkan harga diri dari pada mengakui kesalahannya.

"Ini bukan soal siapa? Tapi soal apa yang sudah kau lakukan?" geram Hina menatap Rukia kesal.

"Apa yang kulakukan itu hal yang wajar, aku sahabatnya. Jadi tidak ada salahnya aku melakukan itu padanya." Ucapnya cepat, "dan lagi ia yang salah, apa ia tidak tahu selama ini aku mencarinya. Bisa – bisanya ia menghilang begitu saja pada saat aku membutuhkannya. Sahabat seperti apa itu?"

Ucapan yang membuat Hina terlihat makin emosi mendengarnya. "Sahabat kau bilang? Seharusnya itu kalimat yang lebih cocok ditanyakan pada orang seperti mu. Apa orang sepertimu pantas disebut sahabat?"

Mendengar keduanya yang terlihat bertengkar aku hanya bisa menatap datar. Kulirik Hina yang masih terlihat membelaku, sepertinya ia benar – benar tidak terima aku diperlakukan seperti ini.

"Pantas saja semua orang membencimu, kau memang tidak punya hati. Bisa – bisanya kau mempertanyakan tentang persahabatan. Padahal kau sendiri tidak tahu maknanya. Kau bisanya hanya menuntut saja."

Pertengkaran mereka seperti seorang kekasih yang dilanda masalah. Mungkin jika tidak dalam keadaan seperti ini aku sudah tersenyum. Sayangnya hatiku sedang tidak ingin tersenyum, mataku yang tadi terdiam memperhatikan keduanya, kini beralih pada seorang pemuda. Dapatku lihat wajah kagetnya, melihat adik kesayangannya kini bertengkar dengan seseorang.

"Sahabat macam apa kau! Apa kau tahu, apa yang sudah dilalui Nemu?" Teriak Hina memandang kesal gadis itu. Membuat mataku kembali memandang mereka.

"Hina, sudah." Ucapku berusaha melerai mereka. Sayangnya hal itu tidak berpengaruh pada Hina yang terlihat kesal.

"Biar ku beri tahu, alasan kenapa ia selama ini tidak memberi kabar padamu. Ayah satu – satunya yang ia sayangi meninggal. Dan kau tahu, karena menuruti permintaan egosimu yang bisanya hanya merepotkannya. Nemu, tidak bisa bertemu untuk terakhir kalinya dengan Ayah yang paling ia sayangi. Puas kau sekarang!" bentaknya.

Perlahan aku mengurut kening ku sendiri, mengingat memori seminggu ini. Hal yang paling aku sesali. Berusaha manahan air mataku sendiri yang ingin turun membasahi pipiku. Tidak aku lihat pun aku tahu, kedua Kuchiki itu terkejut mendengar penuturan Hina.

"Eh..ah.." terdengar Rukia sedikit bingung untuk meneruskan kalimatnya.

"Kau memang orang paling jahat, Rukia. Amat jahat!" desisnya, tidak peduli bahwa apa yang baru saja ia katakan membuat Rukia membelakan mata karenanya.

"Cukup hentikan! Apa yang kalian lakukan disini!"

Dengan cepat pemuda itu menghentikan percakapan selanjutnya, menatap tajam aku dan Hina. Aku sudah tidak peduli lagi, aku sudah muak. Sepertinya Hina pun seperti itu, melihat bagaimana ia memandang kedua bersaudara itu.

.

.

.

.

"Kau yakin dengan keputusanmu, Nemu?" tanya gadis manis di hadapanku, untuk kesekian kalinya ia menghela nafas melihatku mengangguk. "Ukh, karena inilah aku tidak suka kau berteman dengannya." Menggerutu sebal.

"Hina.." ucapku pelan, memanggil gadis itu. Terlihat matanya menunjukan sesal.

"Baiklah aku paham." Menghela nafas pasrah kini ia lakukan. "…Nemu, aku pasti akan merindukanmu." Peluknya, membuat aku kaget karenanya.

"Aku juga pasti akan merindukanmu." Senyumku membalas pelukannya. "Sekarang kembalilah ke bangkumu yang hanya berjarak dua baris dariku. Aku tidak mau sampai kau mendapat masalah, karena kau tidak kembali ke bangkumu padahal bel sudah berbunyi." Candaku yang membuatnya memasang ekspresi cemberut.

"Iya-iya," dengan menggerutu ia pun kembali ke bangkunya.

Kembali meninggalkan aku sendiri yang hanya bisa diam menatap jendela. Memperhatikan awan yang berarak di langit. Seandainya saja aku bisa menjadi awan, atau paling tidak burung. Terbang bebas di langit biru, melupakan semua apa yang baru saja ku alami seminggu ini.

Kembali ku elus pipiku yang tadi di tampar gadis itu, kembali memperhatikannya yang diam di pojokan. Terlihat gadis itu mencuri pandang denganku, salah tingkahkah? Entahlah, yang jelas aku dapat melihat sesal di wajah itu.

Terkadang aku merasa kasihan dengannya, hidupnya terlalu di manjakan oleh orang di sekitarnya. Karena itulah ia menjadi egois seperti ini. Hah! Sepertinya aku harus berbicara lagi dengannya saat pulang nanti. Bagaimana pun aku ingin meninggalkan kesan yang baik pada semua orang. Walau sejujurnya aku tidak terlalu menyukai seniorku itu. Mengingat bagaimana tadi ia memperlakukan ku dan Hina, memandang kami seakan – akan orang tidak berharga.

Menyebalkan!

Karena inilah aku benar – benar tidak menyukainya, mungkin itu pulalah yang membuat Rukia berpikir hal yang sama dengannya.

~0~

"Kau membenciku kan, membenciku kan." Perkataan itu terus di ulang berkali – kali, memandang ke arahku yang kini diam terpaku melihatnya terus saja berbicara.

"Rukia dengarkan aku!" bentakku akhirnya, hal yang amat sangat jarang aku lakukan.

Bosan juga mendengarnya terus berbicara dan aku hanya diam mendengarkan. Kembali kupandang dirinya, yang terlihat mulai salah tingkah. Merasa bersalahkah? Kurasa ya, mendengar bagaimana tadi ia menyalahkan dirinya sendiri.

Puaskah aku? Entahlah, kurasa tidak. Ini tidak sebanding dengan sedihku yang tidak dapat melihat Ayahku untuk terakhir kalinya.

"Kurasa semua sampai disini." Ucapku yang mengejutkannya. "Seandainya bisa, aku ingin kembali menjadi teman mu lagi. Sayangnya itu tidak bisa." Ucapku miris.

"Ta- tapi Nemu, a- aku.."

"Baiklah, terima kasih untuk semuanya, Rukia. Sampaikan terima kasih ku juga buat Byakuya-Senpai." Senyumku tulus.

Kembali aku berjalan, tidak peduli lagi apa yang terjadi selanjutnya pada Kuchiki satu itu. Yang jelas ini semua berakhir, yah berakhir. Untuk apa aku berusaha lagi, sedangkan apa yang selama ini membuatku tetap bertahan sudah tidak ada. Yang jelas aku ingin melupakan semuanya. Yah, semuanya. Jika terus mengingatnya yang ada hanya rasa sakit hati. Sakit hati yang teramat besar. Yang sayanganya walaupun rasa itu aku tujukan pada mereka, apa yang aku sesalkan tidak akan pernah kembali.

Ayahku.

Satu – satunya keluarga yang kumiliki di dunia ini.

Ayahku.

Orang yang selama ini membuatku tetap bertahan, menahan sakit perlakuan Kuchiki bersaudara.

Ayahku.

Orang yang tidak pernah bisa ku buat bangga pada diriku, bahkan di saat terakhirnya sekalipun.

Ayahku.

Tangisku pun pecah saat mengingat orang yang paling aku kashi itu. Terduduk aku menangis di taman, tidak peduli orang – orang menatap aneh akan prilaku ku. Yang aku tahu aku hanya ingin menangis, berharap dengan cara seperti itu, rasa sakit yang kurasakan akan semakin berkurang.

End Flash back

.

Petang menjelang, menghadirkan permainan cahaya yang indah di langit sana. Warna jingga, merah, dan biru saling melebur menjadi satu dan membentuk harmoni tersendiri. Satu helaan nafas kini kulakukan, tidak kusangka aku melamun terlalu lama. Merenggangkan tubuh perlahan kini kulakukan. Sebelum akhirnya memukul pipiku sendiri.

Hah, padahal aku sudah berjanji pada diriku, bahwa aku tidak ingin mengingat itu lagi. Tapi tetap saja, pada tanggal – tanggal seperti ini pasti semua akan terus terkenang. Apalagi kejadian di mini market tadi. Cepat – cepat aku menggelengkan kepalaku, tidak peduli hal itu akan mengakibatkan efek pusing buatku. Yang jelas aku harus melupakan peristiwa tadi. Jika orang itu tahu, ia pasti cemas. Dan aku tidak ingin orang itu cemas. Tidak akan.

End Nemu Pov

~0~

Langkah kaki itu berlari dengan cepatnya. Perasaan tidak enaknya benar – benar terbukti. Setelah seharian kemarin teringat masa lalu yang tidak mengenakan. Kini ia harus berlari dari kejaran orang – orang aneh yang terus membuntutinya. Entah masalah apa yang ia lakukan, hingga ia harus dikutit oleh orang – orang aneh seperti mereka.

Seingatnya, selama ini hidupnya selalu damai nan sejahtera saja.

Apa ini ada kaitannya dengan pertemuan itu.

Pikiran – pikiran aneh terbesit tiba – tiba. Teringat dengan seorang pemuda berambut hitam yang ia temui. Mata yang menatapnya horor. Berusaha mengejarnya, yang sayangnya terlambat. Ia keburu melarikan diri saat itu.

Tapi kenapa kini, ia malah di kejar – kejar oleh orang – orang yang tidak ia kenal. Suruhan mereka kah. Tapi kenapa? Bukankah ia sudah tidak memiliki hubungan lagi dengan mereka. Yah tidak pernah, semenjak ia memutuskan pindah akhirnya saat itu.

Grep!

Cengkraman kuat terasa di tubuhnya, membuat ia ketakutan dibuatnya. Ingin ia menjerit karenanya. Sebelum sebuah suara yang ia kenal, terdengar cukup nyaring ditelinganya.

"Nemu, kau baik – baik saja?" terdengar nada khawatir saat orang itu berbicara.

Membelak kaget, dan lemas seketika saat tahu siapa yang memegangnya. "Shuuhei." Ucap gadis itu pelan.

"Ada apa?"

Menoleh ke belakang sebentar sebelum akhirnya menggeleng. "Tidak, tidak ada apa – apa?" dustanya.

Helaan nafas dari pemuda di hadapannya dapat ia rasakan. Bahkan kening yang perlahan mengernyit heran, menandakan kalau tahu ada yang ia sembunyikan.

"Baiklah, jika begitu." Seakan pasrah dengan jawaban yang diberikan oleh Nemu. "Ah, ya aku kemari ingin memberikan ini."

Sebuah bingkisan ditujukan Shuuhei padanya, membuat ia heran karenanya. Kembali di pandangnya pemuda itu dan bingkisan di tangannya, terus berulang – ulang.

"Seseorang menitipkannya padaku tadi." Ucapnya menjelaskan.

Membuat ia akhirnya paham, perlahan mengambil bingkisan itu darinya.

"Baiklah, kalau begitu. Aku pulang dulu. Berhati – hatilah!" ujarnya.

Mengangguk, membiarkan pemuda itu melewatinya. Perlahan membalikan badannya, ikut melihat kepergian pemuda itu. Sekaligus mengamati sekelilingnya, berharap orang – orang tadi lengah. Dan kembali pergi mencari jalan pintas menuju rumah.

.

.

.

Perlahan ia mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, perasaan segar habis mandi ia rasakan. Tidak pernah ia merasa selega ini, dari tadi dirinya terus saja berlari tanpa henti. Kini ia bisa beristirahat lagi.

Niatnya yang tadi ingin tidur mengistirahatkan badannya yang lelah terhenti. Begitu matanya menangkap bingkisan yang tadi ia letakan sembarangan. Rasa penasaran perlahan merasukinya. Mendekati benda itu, menimbang – nimbang sesaat antara ingin membukanya atau tidak. Terdiam untuk waktu yang cukup lama. Berpikir siapa yang memberinya bingkisan seperti ini. Terlintas di benaknya wajah – wajah yang sudah lama tidak di temuinya.

Apakah Hina? Sepupunya satu itukan sangat suka memberinya kejutan.

Kembali dirinya mengingat bayangan Hina, sebelum akhirnya menggeleng. Mengingat bagaimana sibuknya gadis itu akhir – akhir ini. Membuatnya tidak yakin.

Ataukah Unohana-san? Tapi jika ingin mengirimkan sesuatu, biasanya ia pasti akan menelpon.

Kembali menggeleng begitu teringat.

Pasrah akhirnya Nemupun membuka bingkisan tersebut. Mata itu membelak, menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya.

Dalam bingkisan yang sudah di bukanya nama yang sudah tidak asing tertulis di dalamnya. Membuat dadanya berdegup kencang karenanya. Menatap horor pada bingkisan tidak berdosa itu. Sekali lagi membaca nama yang tertulis. Masih sama tidak berubah sama sekali. Setiap huruf membentuk satu kata.

Kuchiki!

.

.

.

Nun jauh di sana, sesorang berambut hitam. Diam melamun, menatap pemandangan di luar jendela. Dalam benaknya terlintas wajah seseorang yang sempat ditemuinya beberapa waktu lalu.

Menghela nafas panjang, kembali melirik pada hpnya yang kini berbunyi. Mengangkatnya perlahan. Menunggu seseorang dari seberang sana berbicara.

["Seperti yang anda minta, barang itu sudah kami antar." Diam menunggu respon.]

"Kau yakin."

["..T-tentu saja, kami melihatnya secara langsung. Dia sendiri yang menerima kiriman itu."]

Kembali hening.

"Apa ia tahu, kalian yang mengirimnya?"

["Tidak, seperti yang anda minta. Kami menitipkannya pada tetangganya. Dan orang itu yang memberikannya langsung padanya."]

Kembali diam.

"Baiklah, nanti kalian ku hubungi lagi."

["Baik"]

Dan sambungan itupun terputus.

Kembali meninggalkan sosok berambut hitam itu yang diam. Mengambil sebuah bingkai foto, memandangi figure seseorang yang sangat dikenalnya di dalamnya, tersenyum dengan manis dan tampak bahagia.

.

.

Tbc


A/N : Akhirnya berhasil juga chapter ini update. sory setahun lebih author anggurin ini fict. salahkan aja flashdisk author yang gak tahu rimbanya. *nangisgaje*. dan maaf jika kurang memuaskan dan masih belum kelar. makasih banyak buat yang udah meluangkan waktu buat baca fict ini.

thanks to: Moku-chan dan Yuki, yang udah ingatin n ngasih saran =D

seperti biasa jika ada saran, pendapat, kritik atau apapun, silahkan tulis di kotak bawah. ^^

sampai jumpa, chapter selanjutnya.