.
Flash back
"… Tidak boleh! Kau kan sudah berjanji akan menemaniku!" bentak gadis bermata violet itu.
"Tapi Rukia, aku harus pe—."
"Ck, bahkan permintaan sepele seperti ini pun tidak bisa! Apa kau benar – benar sahabatku?!" tatapnya tajam.
Menggigit bibir bawahnya perlahan, memperhatikan seorang pemuda yang perlahan melangkah mendekat.
"Jangan berkata begitu Rukia, ia tadi hanya bercanda. Tentu saja ia akan melakukan permintaanmu." Iris itu kini menatapnya tajam, jauh lebih tajam dari milik sang adik. "Benarkan Kurotshuci?"
Terperejat kaget mendengar kalimat tanya yang berisi penekanan di dalamnya. Helaan nafas berat gadis itu berikan. Mengangguk pasrah, memberikan senyum kecut yang tidak di sadari Rukia yang kini bersorak gembira.
"Aku akan meminta bibi untuk menyiapkan kasur buatmu." Serunya riang, bergerak keluar kamar. Meninggalkan dua pasang manusia yang saling menatap tajam.
Hening untuk sesaat.
Tidak ada satupun interaksi yang terjadi antara dua mahluk yang berbeda gender itu. Terlihat sibuk dengan pemikiran masing – masing.
"Berikan Hpmu." Setelah beberapa detik yang terlewati, suara baritone berat milik pemuda itu akhirnya keluar.
Memberikan tatapan menyelidik, lebih dilakukan Nemu. Terlihat tidak senang dengan perintah orang itu.
"Apa perkataanku tadi kurang jelas?" nadanya sinis, seakan ingin mengejek kalau gadis itu tuli.
"Tidak juga, aku hanya heran saja. Apa Senpai sebegitu pelitnya mengeluarkan pulsa, hingga hpku pun ingin diambil." Merogoh sakunya perlahan Nemu lakukan, terkesan malas menuruti.
Tatapan datar ia dapatkan sebagai jawaban atas pertanyaan tidak niatnya.
"Heh, memang seberapa banyak pulsa yang bisa kau harapkan dari gadis yang lebih miskin darimu." Sahutnya dingin, tidak peduli itu menyebabkan urat kekesalan Nemu muncul mendengar perkataan yang terkesan tepat sasaran. "..Hpmu aku sita untuk malam ini." Ujarnya mengambil benda itu dari tangan Nemu yang kaget.
"A-apa?! Senpai kira, Senpai guru yang bisa menyita Hpku segala." Gelengnya tidak percaya, merenggut kesal dan beranjak dari tempatnya ingin mengambil hpnya kembali. "Kembalikan!"
Mengelak saat tangan langsing itu hendak meraih benda segi empat ditangannya. "Terserah, kau ingin berpikir apa. Yang jelas aku tidak mau hpmu yang berisik itu menganggu tidur Rukia nanti malam." Sahutnya berjalan meninggalkan Nemu yang terdiam menatapnya tidak percaya.
'Yang benar saja.' Gelengnya tidak percaya, melihat punggung laki –laki itu yang berjalan menjauh. Meninggalkannya yang kini hanya bisa bengong menyadari pemuda itu serius.
End Flash back
Disclaimer: Bleach punyanya © Tite Kubo
saya hanya seorang Author yang meminjam pemainnya saja
Warning : OOC
.
.
What's my fault
Chapter 3
.
Iris hitam itu, melirik malas keluar jendela. Berguling – guling di tempat tidur, dengan perasaan yang sulit untuk dikatakan.
Kembali melirik pada sebuah benda yang berada tidak jauh darinya dengan malas. Kutukan – kutukan kekesalan ia luncurkan setiap mengingat siapa pengirim benda itu.
Tidak puaskah orang itu mengganggunya? Kenapa sekarang dia mesti datang lagi di kehidupannya setelah sekian lama.
Sebenarnya apa salahnya hingga ia harus mengalami nasib seperti ini? Membuatnya serasa di teror pembunuh gelap saja. Kesalahan apa yang diperbuatnya, hingga takdir mempertemukan mereka kembali. Membuat ia seharian di kejar – kejar orang aneh dan sekarang mendapati benda aneh mencurigakan.
Apakah salah jika ia ingin hidup tenang? Melupakan masa lalunya, memulai hidup baru. Apakah salah jika ia berharap tidak pernah bertemu mereka?
Hah, sepertinya itu harapan yang salah. Sepertinya ia juga memilih tempat yang salah. Helaan napas pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan olehnya. Kembali diperhatikannya surat yang berada tidak jauh darinya.
Haruskah ia mengikuti apa yang tertulis di surat itu, ataukah membuangnya saja. Sama seperti orang itu yang membuang perasaannya dengan begitu mudahnya.
Tersentak tak percaya.
Tertawa bagaikan orang gila sekarang.
Menggeleng tak percaya atas kalimat yang baru saja ia pikirkan. Setelah sekian lama bisa – bisanya ia berpikiran begitu.
'Cih, apanya yang membuang perasaan. Aku benar – benar gila jika menyukai mahluk tak berhati seperti itu,' membatin dengan kesal atas pikiran gila yang sempat terlintas di otaknya. 'Demi mendiang ayahku! Jika itu terjadi. Uang kontrakan akan naik tiga kali lipat,' batinnya menggila.
Helaan napas panjang ia berikan.
"Ayah!" gumamnya mengingat orang yang paling dikasihinya. "Seandainya saja waktu bisa kuputar."
.
Flash back.
Tatapan syock terlihat disorot matanya, menatap tidak percaya dengan apa yang terjadi. Kemana ayahnya yang seharusnya berbaring di dalam ruangan itu. Apa yang terjadi? Tidak mungkin kan ayahnya bangkit dan berjalan sendiri. Heh, yang benar saja.
Tepukan pelan mendarat di bahunya. Memberikan efek kaget dan rasa lega di saat bersamaan. Akhirnya ada orang yang bisa ia tanyai. Dan sebelum kalimat tanya itu keluar. Gelengan lemah memberikan firasat buruk tersendiri.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha semampunya."
"A-apa..apa maksudnya? Kalian melepaskan selang – selang itu? Kenapa? Siapa yang memerintahkan kalian‼" terdengar nada tidak terima dari dirinya.
"Maaf, Nemu-San. Ini adalah jalan yang terbaik, bagi Kurotshuci-sama"
"Omong kosong! Kalian tidak punya hak untuk itu! Seharusnya kalian tanyakan padaku!" teriaknya emosi menatap sang perawat yang diam tidak bergeming. "Aku keluarganya! Keluarganya!"
"Cukup, Nemu!" bentakan itu terdengar jelas ditelinganya.
Membuat ia tersentak, meoleh dengan wajah penuh linangan mata untuk mengetahui, siapa yang baru saja membentaknya. Tatapan tidak percaya ia lihat mengetahui siapa orang itu, langkah yang sedikit membungkuk diikuti tongkat kayunya yang berjalan mendekat. Orang yang sangat disayanginya, sekaligus orang yang sangat dihormati ayahnya. Diikuti sosok pria yang sudah dihapalnya
"..Ka-Kakek Yamamoto…" ucapnya dengan suara bergetar, sudah sejak lama memang mereka tidak pernah berhubungan.
"Kau harus merelakannya mulai sekarang?" perintahnya mutlak.
"Ta-tapi kena—."
"Ayahmu tidak akan senang mengetahui bahwa, demi kesembuhannya. Anak yang paling ia sayangi melakukan perjanjian yang mengorbankan perasaannya sendiri." Potongnya menghentikan kalimat tanya gadis itu. "Bersedia menjadi pesuruh orang lain," lanjutnya.
Mata itu membelak sempurna, tidak menyangka orang yang sudah di anggapnya sebagai kakeknya sendiri akan mengetahui hal itu. Rahasia yang selama ini ia tutup rapat – rapat.
"Ta-tapi.. hiks..a-aku.."
"Ayahmu terlampau menyangimu Nemu. Seharunya kau hapal bagaimana dirinya." Ujarnya mengelus kepala gadis itu.
"Berjanjilah Nemu, jika memang Ayahmu ini harus mati. Kau harus merelakannya." Perkataan itu terngiang di telinganya. "Jangan pernah menyulitkan dirimu dalam hal apapun karena Ayah."
"Hal itu jugalah yang diminta ayahmu pada kami. Jika, terjadi sesuatu yang buruk padanya dan menyebabkan anak kesayangannya menjadi menderita, yaitu kau Nemu." Sambung pria itu.
Membiarkan tetes air mata mengalir menuruni pipinya. Di satu sisi ia tidak terima dengan ini semua, tapi disisi lain ia tidak bisa membantah perkataan kedua orang yang sudah ia anggap sebagai paman dan kakeknya sendiri.
"Ta-tapi kenapa…hiks…kenapa kalian tidak memberitahuku… hiks…hiks…kenapa kalian mengambil semua keputusan ini sendiri…hiks..hiks…" isaknya tidak terima dengan ini semua.
"..Kami berusaha menghubungimu, Nemu-San. Tapi, hpmu tidak aktif." Ujar wanita dihadapannya menatapnya, terlihat merasa bersimpati.
'..Hp? Tidak aktif?' menatap pada sosok di hadapanya dengan tatapan kebingungan yang berrcampur air mata. 'Yang benar saja alasan apa itu,' siapa bilang hpnya tidak pernah aktif. Tidak mungkin ia tidak pernah mengaktifkan benda..'
Seakan tersadar dari pikirannya. Ia pun teringat, berada di tangan siapa benda segi empat itu berada. Tubuhnya serasa lemas seketika, merosot ke bawah. Menyesali kecerobohannya. Seharusnya, saat itu ia berusaha mempertahankannya. Seharusnya, saat itu ia mengikuti kata hatinya. Seharusnya, saat itu..
Banyak kata seharusnya yang di ucapkannya, penyesalan selalu saja datang terlambat. Ironi memang, tapi apa mau dikata. Bukankah memang seperti itu kehidupan.
Hanya satu hal yang bisa ia lakukan saat ini, badannya jatuh merosot ke bawah yang yang dengan cepat dihentikan sang paman.
End Flash back
.
Kembali gadis itu menghela nafas. Mengingat hari dimana saat itu ia benar – benar membenci pemuda Kuchiki itu. Benar – benar membencinya. Heh, benarkah (?)
Jika saja, saat itu ia tidak menuruti keinginan pemuda itu. Memilih tetap bekerja di cafe atau menjual harta berharga di rumahnya. Mungkin kedua orang itu tidak akan memberikan izin mencabuti selang penyokong hidup ayahnya. Walau sudah didesak berkali – kali oleh dokter yang menanganinya. Bagaimanapun yang mendatangani surat – surat rumah sakit dari ayahnya mulai masuk hingga keluar dengan tubuh membujur kaku-walau yang keluar ia tidak bisa melihatnya-adalah kedua orang itu.
Menyuruhnya untuk tidak usah cemas dan terus meneruskan sekolahnya, membiarkan mereka berdua bertanggung jawab mencari uang untuk pendidikannya dan biaya rumah sakit. Padahal, ia sendiri tahu bagaimana kehidupan kedua orang yang ambil bagian dalam mengasuhnya itu. Jauh dari kata millionaire. Walau bukan miskin – miskin juga, tapikan mereka juga punya keluarga. Bukan berarti ia harus berpaku tangankan dan menyerahkan semuanya pada keduanya. Yang benar saja.
Tapi tetap saja merawatnya hingga seperti ini adalah hal yang patut ia syukuri. Membuatnya merasa bersalah, begitu kedua orang itu mengetahui bagaimana ia mau – maunya menjadi pesuruh yang rela dibentak – bentak dimuka umum. Raut kecewa terlihat diwajah keduanya saat mendengar berita itu. Mungkin hal itulah yang membuat mereka mengambil keputusan berat itu.
Kembali dirinya melamun sebelum akhirnya memegang dadanya sendiri.
"Damn it!" makinya kesal, dadanya terasa sesak seketika.
Apalagi menyadari matanya memanas secara tiba – tiba. Memukul pipinya sedikit kuat hingga panas. Meringis kesakitan karena ulahnya sendiri yang terkesan bodoh, menyakiti diri sendiri.
"Shit! Gara – gara surat aneh ini." meremas selembar kertas tidak berdosa. "Hah, jadi teringat hal menyebalkan." Kali ini mengelus pipinya yang sakit.
Kembali lagi diliriknya jam yang berdetak sedari tadi, menunjukan waktu dini pagi hari. Biasanya jam segini ia masih terlelap. Terbuai akan mimpi indah bersama seseorang yang dirindukan. Yah, walau terkadang hal itu jarang terjadi.
Untuk kesekian kalinya gadis itu menghela napas panjang. Memasang wajah berpikir yang jarang ia lakukan, sebelum akhirnya menyibak selimutnya.
"Damn it! Gara – gara ini tidur ku tidak nyenyak." Rutuknya kesal menendang kotak segi empat di depannya.
Bagaimana bisa nyenyak, jika saat tidur dalam mimpi pun kau bertemu dengan orang yang kau benci. Belum lagi membawa serta ingatan masa lalu yang sudah lama ingin kau lupakan. Jika saja kalian jadi dirinya pun pasti berpikiran sama. Bahkan kalau bisa mengutuknya.
Demi jenggot kakek Yamamoto yang kelewat panjang!
Ia harus menyelesaikan urusannya segera dengan pemuda brengsek yang menganggu tidurnya hari ini. Berani – beraninya ia masuk ke dalam mimpi indahnya, menjadikan mimpi itu bagai neraka seketika, karena kehadiran yang tidak pernah ia harapkan.
Amarah menguasai gadis itu seketika, membuat ia terjaga dari tidurnya lebih awal. Memakai sendal rumahnya berjalan menuju bilik kamar mandi.
"Harus, semua harus tuntas!" amuknya sendiri.
Tidak peduli teriakannya bakal membangunkan tetangga yang sedang terbuai dalam mimpi. Dan hal itu membuatnya terlihat ooc. Serius deh, jika Hina melihat tingkahnya saat ini mungkin gadis itu akan swetdrop. Tidak menyangka karena selembar surat nista yang asalnya dari Kuchiki itu bisa membuatnya berubah.
_OO_
Lain Nemu, lain pula pemilik mata violet itu. Manik violet miliknya tidak pernah lepas memperhatikan sosok pemuda di hadapannya yang beberapa hari ini terlihat sedikit aneh. Mata itu menyipit terlihat tidak senang akan tingkah pemilik manik gray di hadapannya yang terlihat gelisah. Seperti bukan dirinya saja.
"Sepertinya klien, Nii-sama kali ini begitu penting. Hingga bisa membuat Nii-sama yang tenang begitu gelisah." Setengah bosan melihat tingkah pemuda yang tidak lain kakak kandungnya itu, membuat ia akhirnya berbicara.
Manik violet itu menatap lurus pada manik gray di hadapannya yang tersentak, tidak menyangka kini ia sudah berdiri menyandar di kusen pintu kamarnya. Memasang wajah kucing yang mendapatkan mangsa.
"Rukia? Sejak kapan kau di situ?" menyembunyikan rasa kagetnya dengan cepat.
Benar – benar orang yang hebat. Ingin rasanya pemilik violet yang bernama Rukia itu bertepuk tangan akan kehebatan kakaknya yang begitu pandai menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
Memiringkan kepala dengan ekspresi berpikir, berusaha mengingat sejak kapan ia terus memperhatikan sosok gelisah sang kakak. "Mungkin sekitar dua jam yang lalu." Sedikit mendramatisir keadaan. "..Oke..oke.. kira – kira 15 menit yang lalu." Lanjutnya begitu melihat tatapan sang kakak.
"Kau ini." Gelengnya kembali sibuk melihat ke arah lemari pakaiannya.
"Aku rasa Nii-sama terlihat keren dengan pakaian apapun." Perlahan berjalan memasuki kamar walau, tanpa izin si pemilik. Memperhatikan tempat tidur yang penuh dengan berbagai pakaian berkualitas terbaik.
Helaan napas berat dapat ia lihat kini di lakukan pemuda itu yang menghentikan gerakan mengambil pakaian. "Aku tahu." Akunya menyetujui ucapan pemilik violet yang teramat disayangnya. Tidak peduli kini Rukia swetdrop melihat kenarsisan kakaknya.
Sejak kapan pemuda itu bisa bertingkah narsis seperti ini. Padahal dulu, seperti apa pun ia memujinya tidak pernah mendapatkan respon apa pun. Selain tatapan mata angkuh yang kurang lebih sama sepertinya, yang akan memberikan respon.
Perlahan berjalan mendekati adik satu – satunya dan duduk di sebelahnya. "Apa menurutmu ia akan datang?" tanyanya terlihat berpikir, tidak yakin.
"Siapa klien Nii-sama?" tanyanya tersenyum, yang dibalas lirikan tajam. "..Hehe.." tawa garing respon yang bisa ia berikan atas lirikan itu. "Aku hanya bercanda Nii-sama." Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kembali pemuda Kuchiki itu menghela napas. Sepertinya ia memilih teman bicara yang salah. Cengiran tidak jelas muncul di wajah Rukia melihat ekspresinya. Sadar bahwa lawan bicaranya sedang dalam mood yang buruk untuk bercanda, ia pun kembali berkata.
"Aku rasa ia pasti akan datang. Dia kan membenci Nii-sama. Karena itu ia pasti kesal begitu melihat surat itu." Tertawa kecil membayangkan bagaimana wajah gadis itu setiap memandang Byakuya. Memperhatikan Byakuya yang memandangnya lembut melihat perubahan wajahnya yang tiba – tiba serius. ."..Ah, tidak, dia membenci kita, amat membenci kita. Karena itulah dia pergi." Gelengnya cepat, mengoreksi ucapannya. Semua ingatan masa lalu kembali menghantuinya. "Dia pasti akan datang.."
_00_
Decakan kekesal sekali lagi keluar dari mulut gadis itu untuk kesekian kalinya. Hatinya benar – benar dalam mood yang buruk semenjak mendapatkan surat dari orang di kehidupan masa lalunya. Belum lagi sepanjang perjalanan, entah ia yang ceroboh atau memang Tuhan tidak mendukung pertemuan mereka. Ada saja yang terjadi, dari yang kecebur got, hingga mesti berganti pakaian kembali, hampir kejatuhan vas bunga, sampai ketinggalan bus.
Ia benar – benar tidak habis pikir, apa kesalahannya?
Jangan – jangan bertemu dengan Kuchiki bersaudara itu suatu kesalahan. Dan semua kejadian yang baru saja ia alami itu merupakan peringatan Tuhan darinya.
Tangan yang hendak membuka pintu di hadapannya itupun terhenti, menggantung di udara. Memasang wajah berpikir untuk sesaat. Tepat atau tidak tepatkah, jika ia lakukan ini. Ataukah ia mesti kembali pulang, berpura – pura ini semua tidak pernah terjadi. Menganggap ini semua hanya bagian dari mimpi buruknya saja , lalu segera pindah dan memilih tempat tinggal yang lain. Rasanya itu tidak buruk juga.
Memutuskan untuk membalikan badannya, memilih untuk kembali pulang. Wajahnya yang tadi bersemangat ingin kembali ,berubah menjadi masam. Seseorang menghentikan langkahnya, lebih tepat mencegatnya. Berdiri menghalanginya untuk lewat.
"Nemu-sama, Kuchiki-sama sudah menunggu anda di dalam." Ucapnya terdengar sedikit perintah di nadanya yang menginginkan ia masuk ke dalam.
Decikan kesal ia berikan sebagi respon atas perbuatan orang itu, membuatnya kembali menghadap pintu yang sudah dibukakan oleh teman orang yang mencegatnya. Terkutuklah Kuchiki satu itu, ia pasti sudah mempersiapkan semuanya dengan cukup baik.
Dengan langkah tidak niat, ia pun masuk ke dalam. Sedikit terpana dengan kemewahan cafe yang di datanginya. Walau tidak habis pikir kenapa tempat ini begitu tidak ada pengunjung. Ralat sepertinya hanya ia dan Kuchiki bersaudara itu saja yang ada. Kembali dirinya melangkah mengikuti pelayan cafe yang menuntunnya ke bagian lain dari cafe tersebut.
.
.
Deg! Deg! Deg!
Detak jantungnya berdetak dengan cepat melihat sosok orang yang sudah lama tidak ia temui. Tangannya mendingin seketika, membuat ia memegang erat tas yang ia pegang. Wajah itu tidak pernah berubah sama seperti dulu, tampan, angkuh dan menyebalkan. Hembusan angin yang bertiup membuat helaian rambutnya ikut menambah kesan tersendiri.
Langkah itu semakin dekat, seiring dengan dua iris berbeda warna yang saling bertatapan sedari tadi. Beruntunglah tidak ada meja ataupun kursi yang menghalangi langkahnya hingga membuatnya jatuh terjerebab karena dari tadi iris miliknya hanya fokus memandang pada satu – satunya mahluk hidup-selain pelayan yang mengantarnya-di beranda luar cafe itu.
"Terlambat seperti biasanya." Sapaan khas dari mulut orang yang sudah lama tidak pernah ia temui, benar – benar tidak ada kehangatan di dalamnya. "Sifat jam karetmu itu tidak pernah bisa kau ubah rupanya," membiarkan ia duduk dengan layanan dari waiters yang mengantarnya tadi.
Senyum kecil ia berikan pada waiters yang membukakan kursi untuknya. "..Begitupula dengan sifat menyebalkan Senpai." Sahutnya begitu waiters itu pergi meninggalkan mereka berdua.
Tatap
Tatap
Kedua iris itu saling bertatapan, semua emosi terlihat tergambar jelas di dalamnya bercampur menjadi satu. Entah perasaan apa yang mendominasi, yang tahu hanya pemilik iris masing - masing dan Tuhan saja.
.
.
tbc
Hola saya datang lagi! Saya harap saya jauh lebih cepat dari sebelumnya, sesuai dengan harapan saya. jadi kalau masih ada typo mohon dimaklumi.
Thanks buat yang udah review dan ngasih saya saran, pujian, semangat buat ngebut update fict ini: Moku-Chan, Botol Pasir, AAind88, Mine
Byakuya dan Nemunya sudah ketemu tenang saja/ Makasih/ Iya ini udah update/ Semoga tidak penasaran lagi.
Makasih buat review and alertnya. Seperti biasa jika ada saran, pendapat, kritik atau apapun, silahkan tulis di kotak bawah. ^^
sampai jumpa, chapter selanjutnya.
PTK, 190413
