Kami menurunkan Tifa di jalanan sepi di tepian sebuah jalan setapak yang remang berkat lampu jalan. Ia menunggu sambil merokok. Ia mengenakan one piece merah berry yang hanya menutupi tubuhnya sebagaimana sehelai handuk mampu menutupi tubuh seorang perempuan. Lekuk payudaranya tergaris cukup panjang, tampaknya pakaian itu membuat kedua buah dadanya memumbul kencang ke atas. Dan pakaian itu bisa memamerkan kakinya yang mulus hingga garis batas selangkangan. Tidak tertutup apapun kecuali bagian kaki yang menggunakan sepatu boot dengan hak setinggi nyaris sepuluh senti. Karena dingin, ia menggunakan jaket bulu bercorak macan tutul dan tas merah yang mungil terjepit pada salah satu lengannya. Rambut hitamnya ia biarkan tergerai lepas, ia siap disantap.
Kami mengawasinya dari dalam mobil, mematikan mesin dan membuka sedikit kaca jendela. Beruntung sekarang musim gugur sehingga hawa di dalam mobil tidak sedemikian panas. Si rambut merah terus memandanginya lekat tanpa berpaling sambil mengobrol dengan si botak. Sudah ketiga kalinya dia mengeluh, "Dia tidak harus menerima kerjaan ini, Rude."
Setelah sepuluh menit menunggu, datanglah limo hitam berhenti menjemput Tifa. Perempuan itu masuk ke dalam mobil. Bila aku jadi Don Corneo, dengan gadis secantik itu berpenampilan seperti itu masuk ke dalam limoku, aku akan terlebih dahulu meraba bagian kakinya, kemudian bagian atas tubuhnya. Membuatnya panas sejenak sementara limo melesat menuju kediamanku dimana aku dapat menikmati pelacurku sampai puas.
"Cepat! Cepat! Sebelum dia menghilang!"
"Jangan dulu, belum jauh. Aku tidak mau ketahuan!" si botak menghitung sampai sepuluh baru kemudian ia menyalakan mesin dan menjalankan mobilnya. Si rambut merah terus berisik menyuruhnya berputar ke jalan pintas untuk memotong jalur pulang si mafia pirang itu.
"Graviello! Graviello!" seru si rambut merah berulang-ulang. Bila aku tidak ingat tentang Rufus Shinra, sudah kupotong lehernya sejak tadi.
"Gimana sih? Kenapa belok ke kiri? Mereka ke kiri, kita harus ambil kanan!" seterusnya si rambut merah mengomel-ngomel pada si botak yang sibuk mencari penjelasan atas kekeliruannya. Aku tidak tahan lagi! Pemuda itu mengomel seperti ibu-ibu, lebih baik aku pergi saja sebelum lidahnya kutarik sampai lepas!
Dengan sikutku, kupecahkan kaca belakang mobil yang dekat dengan tempat dudukku. Kubersihkan sisa-sisanya dan merayap keluar dari mobil. Melompat dan mendarat tanpa celaka sementara mobil masih menderu tanpa mengurangi kecepatan. Baru ketika aku sudah mendarat di aspal, si botak menginjak rem. Benar-benar duo tidak berguna! Kenapa Rufus masih mempekerjakan mereka?
Sementara materia es kupasang di tangan, si rambut merah turun dari mobil dan bersiap untuk mengomel lagi "Hoi! Gila kau?"
Sebelum ia melanjutkan bicaranya, kulempar sebongkah kebekuan yang kemudian menempel di mulutnya dan membekapnya untuk tidak bicara apapun lagi. Sedikit puas, aku berlari menuju titik yang telah kami tentukan untuk mencegat limo Don Corneo. Jalur yang kulalui melewati taman dan semak, aku tiba di titik tersebut tiga puluh detik sebelum lampu limo Don Corneo terlihat dari belokan.
Kucabut katanaku yang panjang…
Limo itu sedikit mengurangi kecepatan, namun dalam beberapa detik, ia menambah kecepatan seakan ingin menabrak tubuhku begitu saja.
Kuembuskan udara yang mengepul menjadi titik uap beku berkat dinginnya malam ini…
Ketika jarak mobil untuk membenturku tinggal tiga detik, kuayunkan katanaku sehingga membelah limo menjadi dua bagian yang terpisah dan masing-masing tergelincir di aspal, melontarkan tiga orang yang sedang berada di dalamnya ke jalanan.
Salah satu tubuh limo menabrak tebing rendah dan berputar seperti pinsil yang digelincirkan sementara yang satu lagi—bagian yang diduduki si supir—menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang. Bagian itu kemudian meledak.
Tubuhku selamat tanpa luka sedikitpun.
Aku menoleh ke belakang, dan melihat sebuah lengan tergeletak di atas aspal. Lengan itu terpasang kain sebuah jas, jari-jarinya yang gemuk terpasang cincin bermata berlian. Itu lengan Don Corneo, karena tidak mungkin itu lengan milik Tifa.
Si babi berdiri sambil memegangi tangan kirinya yang telah buntung. Bila ia menggunakan jas berwarna putih, pasti warna merah sudah mendominasi bagian kiri tubuhnya. "Egh … bajingan … apa maumu?"
Sudah jelas aku mau nyawamu, babi! Sekali lagi kuayunkan katanaku menunjuk aspal ketika aku melangkah tanpa terburu menghampirinya. Senyum tipis yang sombong terulas di wajahku, kusadari daguku sedikit terangkat dan kutatap babi itu lekat.
Nyawamu di tanganku.
Darah segar yang hangat memuncrat mengotori wajah dan pakaianku. Sudah lama aku ingin membunuh babi ini. Bukan demi kemanusiaan, bukan demi keadilan apalagi kebenaran. Persetan dengan konsep itu, aku hanya tidak suka dengan wajah jeleknya dan pikiran mungilnya yang kudengar melalui wawancara di tv setelah ia memenangkan sidang penyeludupan narkoba.
Puas menikamnya berkali-kali, aku mengistirahatkan katanaku. Ho… dia pasti sudah kenyang darah malam ini.
Telinga kiriku menangkap suara, refleks mataku melirik ke sana.
Kulihat Tifa lockheart, gemetar ketakutan melihat mayat Don Corneo yang berserakan—atau melihatku?
"Korek." pintaku.
Cepat-cepat dan gugup, Tifa merogoh kantung jaket macan tutulnya yang sudah tersibak menampakkan tulang bahunya yang ramping. Setelah menemukannya, ia melempar korek itu padaku. Kebetulan tempat Don Corneo mati cukup dekat dengan genangan bensin limonya yang tercecer di aspal, bergabung dengan darahnya.
Kunyalakan korek itu dan kulempar ke genangan bensin yang tercecer. Perlahan cincangan tubuhnya terbakar. Sambil tersenyum puas, aku berbalik untuk memungut lengan kiri Don Corneo yang tersisa. Hadiah untuk Rufus.
