Flash back

"..Hpmu aku sita untuk malam ini." Dengan cepat tangan itu mengambil sebuah benda yang terulur di hadapannya.

Tersentak kaget atas perbuataan pemuda beriris gray di hadapannya. "Yang benar saja! Senpai kira, Senpai guru apa? Main sita segala." Tangan itu terulur ingin mengambil miliknya kembali.

Seulas senyum tipis terlukis di wajahnya melihat tangan gadis itu berusaha menggapai benda elektronik di tangannya yang di angkatnya tinggi.

Kembali berwajah datar seperti biasa, sebelum sempat disadari oleh gadis itu. "Terserah kau ingin berpikir apa, yang jelas aku tidak mau hpmu yang berisik itu menganggu tidur Rukia nanti malam." Berjalan meninggalkan gadis itu yang kini shock akan tingkahnya keluar dari ruangan, dan berbelok menuju kamarnya sendiri.

Kembali senyum tipis ia tunjukan mendengar teriakan terdengar dari dalam ruangan. "Akh! Aku benar – benar membencimu senpai!"

Drrtttt!

Drrttt!

Getaran hp ditangannya, membuat ia tersadar. Sebuah pesan telah masuk.

Tanpa izin si pemilik, ia membuka sms itu. Wajah yang tadinya tersenyum, berubah masam membaca siapa pengirimnya.

Uryu Ishida.

Memejamkan matanya di ambang pintu kamarnya. Berjalan perlahan masuk ke dalam kamar menuju akuarium di dekat bupet. Membalik benda kecil itu dan sekali lagi tanpa izin si pemilik ia masukan benda itu ke dalamnya.

Tidak peduli, keesokan harinya wajah horor si pemilik kini muncul, melihat hpnya rusak dengan sukses hasil kerjaannya tadi malam. Sementara iris violet yang sempat melihat perbuataannya lebih memilih memasang wajah cuek, seolah tidak tahu apa pun. Lagian ia tahu, Kuchiki sulung pasti akan menggantinya nanti.

Benar – benar adik beradik yang kompak.

~0*0~

"A-apa? Bisa kau ulangi?" pertanyaan bernada tidak percaya keluar dari bibir seorang pemuda.

Raut kebingungan jelas terlihat di wajah tampannya, menatap pada sang adik yang kini menangis.

"Dia pasti marah padaku…hiks..hiks.. dia pasti membenciku..," perkataan itu kembali di ulang, membuat sang kakak semakin bingung. "Karena itu dia tidak ingin menjadi temanku lagi… dia tidak ingin…hiks..hiks..," tangis itu semakin menjadi.

"Kenapa kau bisa bilang begitu. Dia pasti bercanda." Berusaha menghibur. Walau di dalam hatinya sendiri berusaha menyangkal perkataan itu.

Menggeleng perlahan, "Hari ini juga dia tidak masuk…" sahutnya membiarkan gray yang menatapnya terbelak lebar. "Ku-kudengar kemarin dia pindah…" lanjutnya menyadari kalimat penyangkalan itu akan keluar.

Zderrrr!

Bersamaan dengan langit yang berbunyi. Rasa sakit di dadanya pun muncul.

Terbelak tidak percaya mendengar penuturan sang adik yang masih menangis.

"A-apa maksudmu dia pindah?" mencengkram kedua bahu mungil di hadapannya yang kaget akan responnya. "Katakan padaku Rukia!" bentaknya.

"A-aku ti-tidak tahu, Nii-sama." Gelengnya takut sedikit terbata – bata. "A-aku hanya mendengarnya dari Hina." Tangisnya menjadi.

Sedikit tidak percaya kakak yang paling menyayanginya kini mencengkram kedua bahunya dengan kuat. Menimbulkan rasa sakit yang teramat sangat.

"..Hiks..hiks…Nii-sama sakit." Rengeknya merasakan cengkraman di bahunya tidak juga berkurang kekuatannya.

Tersadar dari rasa shocknya barusan, perlahan iapun melepaskan cengkramannya. Terlihat sedikit sesal di mata itu.

"Maaf." Ucapnya pelan.

Memilih berbalik arah dari pada memandang wajah Rukia.

Tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang kini terlihat berbeda dari biasanya.

Langkah tegap yang di lakukan Byakuya, tidak membuat iris violet itu lengah. Perlahan tapi pasti wajah itu tersirat rasa kesal dan sedih di saat yang bersamaan. Melihat tangan itu terkepal erat.

~0*0~

Untuk kesekian kalinya foto itu di pandangnya. Foto yang di dapat hasil kerja sang adik yang ingin mengabadikan liburan mereka saat itu. Foto terakhir dan satu – satunya yang bisa mengingatkannya pada wajah gadis itu.

Kembali mengingat kejadian tadi siang.

Wajah itu masih sama, ekpresi itu masih sama. Dan tawa itu masih sama.

Entah karena sadar ada yang memperhatikannya dari sebrang jalan. Gadis itu pun menoleh, tanpa sengaja sorot mata itu saling bertemu, iris hitam yang tadinya biasa saja berubah seketika, terlihat shock. Memilih memanfaatkan jalanan yang ramai untuk cepat kabur dari pandangannya. Menghiraukan namanya disebut oleh pemilik iris gray yang mendecak penuh kekesalan akan tingkahnya.

"Kau kira kau bisa kabur dariku!" Mengepalkan tangannya erat. "Itu tidak akan pernah terjadi, Kurotshuci!" aura hitam keluar dari tubuhnya. Tidak peduli itu menyebabkan Kuchiki bungsu di sebelahnya merinding karena perbuatannya.

End Flash back


Disclaimer: Bleach punyanya © Tite Kubo

Saya hanya meminjam chara buat kepentingan fict abal yang udah lama dianggurin.

Warning : OOC, AU,

.

.

What's my fault


"Kenapa kau menghilang begitu saja Nemu?" Terdengar nada suara itu sedikit emosi.

Iris gray milinya menatap tepat pada iris hitam milik Nemu yang kini terbelak kaget mendengar pertanyaannya. Mungkin tidak menyangka hal itu akan keluar dari mulut pemuda yang terlihat cuek dan angkuh itu.

"..I-itu bukan urusanmu." Berusaha untuk tidak terlalu kaget akan pertanyaan si sulung Kuchiki.

"Apa? Ini urusanku juga." Memegang cangkirnya erat, terlihat menahan kesal.

"Sejak kapan ini jadi urusanmu? Memang apa pedulimu? Aku mau kemana juga itu urusanku." Menyunggingkan senyum sinis. "Kau bukan siapa – siapa ku!" tepat sasaran tidak peduli akan ekspresi orang di hadapannya.

"Jangan lupa perjanjian kita, Nemu." Desisnya. "Kita sudah sepakat."

Mata itu sedikit kaget mendengar penuturan itu.

Lagi – lagi membahas perjanjian, dan akan selalu seperti itu sampai kapanpun.

Karena memang yang terpenting bagi orang ini hanya Rukia dan akan selalu begitu.

"Perjanjian? Perjanjian itu tidak ada artinya setelah ayahku tiada." Menghindari kontak mata, sebelum akhirnya kembali menatap iris gray itu. "Dan lagi itu sudah lewat Byakuya. Sudah tidak penting lagi."

"Bagiku penting."

"Penting?" dengusan meremehkan ia berikan. "Sejak kapan kau menganggap hal sepele ini penting. Atau karena ini ada kaitannya dengan Rukia."

"Apa maksudmu?"

"Maksudku? Tidak ada. Aku hanya mengatakan apa adanya, karena memang selalu seperti itukan." Terdengar sarkastik. "Bagimu, tidak ada apa pun yang penting di dunia ini selain adikmu itu." Menatap gray itu lebih lama. "Kau tahu Byakuya, karena itulah aku membencimu."

Iris gray itu terlihat kaget mendengar penuturannya.

"Kau tahu, seandainya saja malam itu aku tidak menuruti kalian. Tentu akan lain ceritanya." Mengalihkan tatapannya ke arah lain, menggigit bibir bawahnya pelan. Memori kejadian malam itu melintas lagi di benaknya. Menimbulkan kesedihan teramat dalam.

Gurat penyelasan terlukis di wajah Byakuya, "..maaf, aku tidak bermaksud—."

Menarik tangannya di meja dengan cepat, sebelum berhasil di pegang Byakuya yang ingin menenangkannya. "Kenapa? Kau datang lagi dalam kehidupanku Byakuya? Kenapa kalian menggangguku lagi." Memotong ucapan Byakuya. "Apakah kalian tidak puas membuatku menderita seperti ini? Apakah kalian tidak puas menyakitiku? Apa salahku pada kalian?"

Membelakan mata mendengar perkataan barusan. "Dengarkan dulu, maksudku bukan begitu?"

"Lalu apa?!" berteriak geram, tidak peduli hal itu akan menganggu orang di sekelilingnya.

Toh lagian tempat ini sepi.

Sepertinya Kuchiki di hadapannya ini khusus memesan cafe ini untuk mereka berdua saja. Melihat dari tadi tidak ada satu orang pun pengunjung yang datang.

Memijat keningnya perlahan, berusaha menenangkan diri. Byakuya sendiri hanya bisa diam melihat Nemu mengeluarkan semua emosinya. Menunggu gadis itu tenang, mungkin.

"..Aku lelah Byakuya. Aku lelah dengan sifat kalian. Bagi kalian semua orang itu tidak ada artinya." Kembali berucap setelah merasa cukup tenang. "Aku tidak ingin bertemu kalian lagi, cukup ini jadi yang terakhir." Pintanya menatap Byakuya yang terlihat tidak siap dengan perkataannya.

"A-Apa? Apa maksudmu?"

"Maksudku sudah jelas, kita akhiri semua ini sampai di sini. Anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya." Memandang lurus pada Byakuya yang menggengam gelasnya erat. "Soal Rukia, aku benar – benar minta maaf. Tapi aku rasa dia—."

"Lupakan Rukia!"

Eh?

Sedikit bingung sekaligus tersentak mendengar bentakan di saat yang bersamaan.

Membuatnya terdiam.

Berkedip beberapa kali memandang wajah pemuda di hadapannya. Apa tadi pendengarannya bermasalah atau ia memang mendengar pemuda itu berkata hal yang tidak mungkin terjadi.

"..A.." sedikit ragu kembali Nemu ingin berkata.

"Aku bilang lupakan Rukia untuk saat ini." Seakan paham kebingungan di wajah Nemu yang kini memandangnya.

'Lupakan Rukia? Bukannya tujuan ia disuruh kemari karena ingin membicarakan itu bukan.' Batinnya bingung memandang Byakuya. "Tapi.." ragunyanya.

"Apa maksud perkataanmu dengan kita tidak pernah saling kenal, Nemu?" tatap mata itu terlihat tidak terima akan perkataannya. "Apa memang itu yang kau inginkan?"

Mata itu membulat sempurna mendengar pertanyaannya. Memilih memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata. "Tentu saja," tersenyum kecut akan pertanyaan yang dilontarkan. "Dengan begitu kita tidak akan saling mengganggu lagi bukan. Ah maksudku.. kau tidak akan menggangguku lagi." Mengintip dari balik poninya yang sedikit panjang.

"Dan kau bebas menggangguku, begitu!" hardiknya.

Eh?

"A-apa maksudmu?" alis itu terlihat sedikit naik, pertanda heran akan maksud perkataan pemuda di hadapannya. "Mengganggu? Kapan aku mengga—."

"Tidak bisakah kau berhenti memasuki mimpiku, Nemu." Potongnya cepat, tidak peduli mata itu berkedip bingung sekarang. "Tidak bisakah kau.."

"A-apa?!" gantian memotong perkataan Byakuya, ingin memastikan pendengarannya tidak bermasalah hari ini.

"Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau pergi begitu saja. Tidak tahukah kau! Kau hampir membuatku gila mencarimu selama ini!"

Seakan masih belum paham maksud perkataan Byakuya di hadapannya. Nemu hanya bisa memberikan wajah bodohnya saja. "Kenapa? Aku rasa aku tidak berhutang apa pun lagi padamu."

Krik!

Frustasi itu yang dirasakan Byakuya sekarang. Bisa – bisanya ada gadis sebodoh ini. Memijat keningnya perlahan, membiarkan iris onyx itu memperhatikan tingkahnya.

"Bodoh! Apa kau masih belum paham juga!" menggeram kesal membiarkan Nemu kaget akan tingkahnya yang tiba – tiba berubah. "Aku mencintaimu, bodoh!" pernyataan cinta yang tidak ada manis – manisnya.

Entah karena saking kesal akan kebodohan Nemu atau perasaan tidak sabar yang terlihat meluap di hatinya.

Wajah bodoh itu kembali terpasang, antara tidak percaya atau terlalu gugup. "Eh! Mencintaiku?" tanyanya memastikan pendengarannya. "Bagaimana mungkin? Apa ini semua demi Rukia?" terdengar nada sangsi dari suaranya.

Ingin rasanya Byakuya mengantukan kepalanya ke meja menyadari kebodohan gadis itu.

"Tidak bisakah kau mengenyampingkan Rukia kali ini saja, Nemu!" terdengar nada frustasi dari suaranya.

"Kenapa? Apa salah? Bukankah selama ini memang begitu, kau lebih mementingkan Rukia dari apa pun. Bahkan kau menganggap orang lain itu tidak ada artinya sama sekali. Benar—." terdengar nada sakastik seiring dengan kalimatnya yang langsung dipotong oleh Byakuya.

Mata itu membelak dengan lebar, saat tangan itu meraih kerah kemejanya dengan cepat. Menariknya untuk lebih maju mendekat. Tanpa persiapan apa pun, bahkan untuk bereaksi apa pun. Byakuya menariknya dari sebrang meja, mendekatkan tubuhnya, ralat lebih tepat wajah mereka.

Ciuman itu terjadi tanpa bisa Nemu prediksi sebelumnya.

Tubuh itu terlalu kaget dengan apa yang terjadi, terdiam saat kedua bibir itu saling menyatu. Merasakan rasa teh yang baru saja di cicipi pria itu beberapa detik yang lalu. Dapat ia cium aroma mint yang menguar dari tubuh di hadapannya.

Tersadar saat tubuh di hadapannya berusaha mengeksplorasi dalam mulutnya.

Dengan cepat ia menolak tubuh itu menjauh.

Wajahnya kini memerah dengan sempurna. Detak jantungnya berdetak dengan cepat, seiring dilihatnya beberapa waiters yang mengintip dari jendela. "A-apa ..hah..hah..Apa yang kau lakukan?!" tanyanya histeris berdiri dari kursinya

"Kupikir cara itu lebih efisien untuk membuatmu paham maksud perkataanku." Perkataan yang terkesan datar dan tenang, seolah apa yang baru saja ia lakukan bukanlah hal yang besar.

"Ka-kau gila!" ucapnya masih tidak percaya. "Berhenti mempermainkanku Byakuya!" geramnya menggebrak meja di hadapannya.

Menggeleng perlahan akan sikap keras kepala Nemu yang solah menutup hatinya terlalu rapat hingga masih belum paham akan maksud ini semua.

"Bagaimana cara agar kau bisa paham maksudku." Mengusap wajahnya, kelewat frustasi akan sikap Nemu.

Iris itu memperhatikannya dalam diam, membiarkan Byakuya yang kini terlihat lelah. Jujur bukannya dia tidak paham maksud dan tingkah laku pria di hadapannya. Tapi bisakah ia mempercayainya setelah apa yang telah terjadi selama ini.

Bisakah ia melupakan begitu saja semuanya.

Memilih memalingkan wajahnya, " tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan bukan. Aku pulang!" ucapnya datar, mengambil tas yang berada di sampingnya.

Berjalan meninggalkan meja tempatnya tadi duduk.

Langkah itu terhenti, seiring dengan lengannya yang dicengkram dengan erat.

"Duduk! Kita masih belum selesai, Nemu!" perkataan itu jelas terdengar jauh lebih tegas dari sebelumnya.

Berusaha melepaskan tangan yang makin mencengkramnya lebih kuat. "Ti-tidak ada lagi yang harus kita bicarakan."

"Duduk sekarang juga, atau kau akan menyesal!" Ancamnya yang membuat mata itu kini melebar sempurna.

Shock!

Gurat kecewa terlihat di wajahnya. Dengan kasar menepis tangan yang mencengkramnya dengan kuat.

"Lalu kau mau apa, jika aku tidak ingin menuruti keinginanmu? Apalagi yang akan kau lakukan? Tidak puaskah kau dengan apa yang sudah kau lakukan selama ini? Apa kejadian saat itu masih kurang?!" tanya menantang ancaman dari Byakuya yang terdiam akan perkataannya "Tidak bisakah kau tidak mengancamku?!" menatap penuh amarah pada Byakuya. "Apa hanya cara ini saja yang bisa kau lakukan?!" menggeleng tidak percaya pada pemuda itu. "Kau tidak pernah berubah. Kau tetap saja angkuh dan memaksakan kehendakmu." Membalikan badannya, berjalan menjauhi pemuda itu.

"Tu-tunggu! Dengarkan aku dulu!" berjalan mendekat kembali memegang pergelangan tangan gadis itu yang kembali dihempaskan oleh Nemu.

"Jangan sentuh aku!" bentaknya menatap pemuda itu nyalang.

Diam, keduanya sama – sama terdiam. Byakuya yang terlihat kaget akan respon si gadis, dan Nemu yang terlihat memandang benci padanya. Menggelengkan kepalanya perlahan, dan berlari keluar meninggalkan Byakuya yang terdiam di tempat dengan kecewa.

"Damn it!" makinya kesal menendang salah satu bangku di cafe itu. "Shit! Apa yang sudah kulakukan." Mengacak rambutnya frustasi.

Dirinya hanya bisa terdiam melihat Nemu berjalan menjauh, lebih tepatnya berlari meninggalkan cafe. Ditemani tatapan frustasi oleh Byakuya.

~0*0~

Suara alaram di pagi hari membangunkan Nemu. Matanya serasa berat untuk terbuka hari ini. Bagaimana tidak berat, setelah seharian menangis semalaman gara – gara kejadian kemarin, wajar saja.

Helaan napas kecewa ia lakukan.

Seharusnya ia memang tidak menemui pria itu, yang ada rasa sakit di hatinya makin menjadi.

"Bodoh! Apa kau masih belum paham juga! Aku mencintaimu, bodoh!"

Perkataan itu kembali masuk dalam ingatannya.

Membuat ia mengacak rambutnya frustasi.

Damn it!

"Bastrad, kau Byakuya!" geramnya kesal memukul boneka beruangnya dengan kuat.

Berkali – kali ia lakukan itu, hingga lelah sendiri. Dan akhirnya memeluk boneka itu.

Terdiam untuk sesaat. Memperhatikan langit yang mulai perlahan menampakan cahayanya dengan mata sendu.

"Kenapa mesti kau katakan itu bodoh!" perlahan liquid bening kembali jatuh ke pipinya. Membentuk aliran tersendiri. "Kenapa kau juga tidak pernah mau berubah?!" tanyanya sedih menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Bagaimana mungkin aku bisa mempercayaimu…setelah apa yang kau perbuat selama ini." Isaknya lemah memeluk lebih erat boneka beruangnya. "Kau bodoh, aku membencimu!" kembali ia terisak.

Pagi itu yang dilakukan Nemu di apertemennya hanya menangis saja. Menangisi pertemuan dan kejadian masa lalu yang tidak mungkin dapat dirubahnya seperti apa pun caranya. Matanya sudah bengkak akibat tangisan yang tiada henti. Bahkan telpon dari sahabatnyapun tidak ia hiraukan. Ia hanya ingin sendiri, menikmati harinya. Menikmati kesedihannya tanpa ada yang menggangunya.

.

.

.

.

Krukkk!

Suara perut yang berbunyi membuat gadis itu menghela napas. Perlahan mematikan kompor dan mengangkat ceret ke meja. Menuangkan isinya ke dalam cup mie yang ia sudah siapkan tadi. Sepertinya ia hari ini harus makan hidangan ala kadarnya.

Kembali ia berjalan menuju cermin setelah menaruh ceret tadi. Menunggu beberapa menit hingga mie yang ia buat siap untuk di santap.

Diperhatikan wajahnya yang tadi terlihat berantakan karena habis menangis.

Wajahnya sudah jauh lebih baik dari tadi pagi. Matanya yang tadi membengkak kini sudah berkurang. Mengembalikan wajah cantiknya kembali.

Perlahan ia raih kertas yang tergeletak di meja dan membacanya. Memperhatikan apa saja yang harus beli untuk kebutuhan selama seminggu.

Gara – gara kejadian kemarin, ia sampai lupa membelinya.

Perlahan mencoret tulisan yang menurutnya kurang penting untuk ia beli minggu ini, sambil sesekali menyeruput mi insatan yang ia buat.

Beberpa menit ia lakukan dengan kegiatan yang sama. Hingga makanan dan coretan itu selesai ia lakukan. Merenggangkan tubuhnya sebentar dan bergerak dari meja makan. Membuang cup mie yang sudah habis isinya ke tempat sampah.

Kembali merapikan dirinya sebentar di depan cermin. Tersenyum puas melihat penampilannya tidak terlalu buruk untuk keluar hari ini.

Perlahan ia raih jaket yang tergantung tidak jauh dari cermin di hadapannya. Sekali lagi memperhatikan dirinya.

"Oke sempurna." Serunya berusaha bersikap riang.

Perlahan ia melangkah menjauh menuju pintu keluar. Membukanya perlahan dengan wajah senyum masih menghias di wajahnya.

Tersentak kaget begitu melihat seseorang yang familiar berdiri tepat di depan pintu yang ia buka.

Membelakan mata tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dengan cepat tangannya berusaha menutup pintu itu kembali. Sayangannya gerakan itu kalah cepat dengan apa yang dilakukan oleh lawannya, menahan pintu dan berhasil membukanya. Tenaga Nemu kalah kuat dengan pemuda yang lebih tua darinya ini. Membuat ia kalap dan ingin berteriak, namun dengan cepat tangan yang jauh lebih besar itu membekap mulutnya dan mendorongnya masuk ke dalam apertemen.

"Kumohon dengarkan aku dulu, Nemu!" suara itu memelas, melepaskan bekapannya.

"Pergi kau! Aku membencimu! Aku tidak ingin mendengarkan apa pun!"

"NEMU, DENGARKAN AKU‼" pintanya yang lebih tepat jika dikatakan perintah. Menekan kedua tangan gadis itu ke lantai hingga tidak bisa bergerak.

"Apa lagi yang kau mau?! Tidak cukupkah kau menyakitiku." Tidak peduli akan posisi mereka yang kini terlihat berbahaya. "Tidak cukupkah, kau membuatku tidak bisa bertemu ayah untuk terakhir kalinya!" berusaha berontak.

"… Maafkan aku, Nemu! Maaf, aku benar – benar menyesal!" Byakuya dengan bersungguh – sungguh mengucapkannya, terdengar dari nadanya yang mulai melembut.

"…" bingung bagaiamana harus bereaksi begitu melihat nada kesungguhan dari pemuda arogan di hadapannya. Tatapan rasa bersalah tersirat di kedua iris gray itu.

"Aku minta maaf atas apa yang terjadi padamu. Aku tidak tahu bahwa apa yang ku lakukan membuatmu harus seperti ini." Terdengar menyesal menatap iris hitam di bawahnya. Perlahan melepaskan cengkramannya dan duduk.

Perlahan bangun, ikut membetulkan posisi. Memalingkan wajah, menghindari iris gray yang menatapnya. "..kenapa kau lakukan itu Byakuya? Kenapa kau harus sampai seperti ini?" Suara itu terdengar sedikit melunak. "Apa kau tidak tahu rasanya.. bahkan untuk terakhir kalinya..aku..hiks.." terlihat susah untuk melanjutkan. Gara - gara menangis seharian tadi malam, ia jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan liquid bening itu kembali.

Memilih diam sebentar, terlihat ragu untuk mengatakannya. "..Bukankah sudah ku bilang karena aku mencintaimu."menatap Nemu yang terperejat kaget dan sontak menoleh, "dan aku tidak berbohong tentang itu. Aku sungguh – sungguh mencintaimu." Kembali melanjutkan menyadari Nemu terlihat ingin membantah walau wajah itu kini memerah mendengar pengakuannya. "..Aku cemburu melihat kedekatanmu dengan si mata empat." Berusaha jujur selagi ada kesempatan, melihat bagaimana gadis itu kini diam.

Berharap bahwa apa yang di katakan gadis yang kini menunggui ia di mobil bersama adiknya itu benar. Bahwa Nemu memiliki perasaan yang sama dengannya, dan masih ada perasaan cinta itu untuknya. Cinta yang bisa membuat rasa benci itu hilang. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi dendam. Tapi cinta juga bisa membuat dendam itu menghilang bukan. Karena itulah cinta, sebuah kata yang tidak pernah bisa diprediksi.

Terlihat sedikit berpikir, mengingat siapa orang yang di maksud. "I-Ishida?" tanyanya tidak percaya.

Decakan kesal mendengar bagaimana Nemu memanggil nama pemuda itu. Tapi saat ini bukan waktunya memikirkan rasa cemburunya. Bagaimana pun ia harus menyelesaikan ini semua. "Ya." Angguknya menatap ke arah lain. "Tapi sungguh, aku tidak bermaksud.." terlihat bingung untuk melanjutkan.

Shit!

Pikirannya serasa buntu, ia bisa gila jika seperti ini terus. Kembali menatap ke arah gadis itu yang diam memandangnya. "Aku akan berusaha untuk berubah lebih baik. Karena itu kita mulai semua dari awal lagi. Kumohon!" Pintanya memohon, suatu hal yang tidak pernah ia dengar sebelumnya dari seorang Kuchiki. "..Aku mencintaimu, Nemu." Mengulurkan tangan kanannya perlahan mengarah pada wajah gadis di hadapannya. "Aku sungguh - sungguh mencintaimu Nemu. Karena itu aku melakukan itu semua, tapi sungguh aku tidak bermaksud membuatmu harus seperti ini."

Iris hitam hitam itu terlihat kaget dengan perbuatan pria di hadapannya.

Niatnya ingin menghentikan tangan itu, urung ia lakukan melihat iris gray yang menatapnya lembut.

Membiarkan tangan yang jauh lebih besar darinya itu menyentuh wajahnya dengan lembut, menghapus sisa lelehan air mata yang tadi mengalir. Iris hitam itu perlahan di tutup kelopak mata miliknya. Membiarkan kelembutan dari tangan yang mengusap wajahnya.

Sungguh, sulit baginya untuk melupakan rasa sakit yang pernah di buat oleh pemuda ini.

Tapi.. ia tidak bisa memungkiri, entah sejak kapan hatinya tertambat pada orang yang selalu di bencinya, selalu menjadi lawan bertengkarnya. Walau terkadang menyebalkan, tapi pemuda ini selalu melindunginya -setelah Rukia tentunya. Bagaimana ia selalu memastikan bahwa dirinya selalu aman saat pulang menuju rumahnya. Bagaimana cara pemuda itu memperhatikannya dengan cara yang berbeda dan terkesan angkuh. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merindukan saat - saat mereka bersama.

Perlahan ia membuka kelopak matanya, menatap pria itu jauh lebih lembut dari sebelumnya. Memegang tangan besar yang masih berada di pipinya. "Yah, kita mulai semuanya dari awal, Byakuya." Ucapnya lembut.

Sesaat iris gray itu terlihat melebar, mungkin tidak menyangka dengan perkataan gadis di hadapannya. Balas tersenyum lembut. "Aku tidak akan mengecewakanmu kali ini, Nemu." Perlahan Byakuya mendekatkan wajah mereka. "Aku berjanji!"

Tertawa kecil mendengar penuturan itu. Tidak peduli kini pemuda itu sedikit heran akan tingkahnya. Karena ia tahu, sekali berjanji pemuda dihadapannya ini akan menepatinya. "Aku tahu." senyumnya ikut mendekatkan wajahnya pada Byakuya

.

.

.

omake


Yeah! sampai juga kita di akhir fict ini *tepuktangan*disorakin*.

Maaf buat typo yang berserakan dan ending yang gaje dari fict ini. Thanks buat readers yang udah nyempatin waktunya buat baca nih fict sampai kelar. Gomen buat yang ngarapin fict ini berakhir hebat. Saya hanya seorang Author yang masih banyak belajar.. *ngeles*


Sepesial thanks buat : Moku-Chan dan Botol Pasir.

Semoga kali ini fictnya udah cukup panjang dan ngejawab keanehan dari fict ini ^_^

.


Seperti biasa- jika masih berkenan- saran, pendapat, kritik atau apapun, silahkan tulis di kotak bawah. ^^

Luv u All

.

.


Wajah itu terlihat manyun, sekali – kali melihat ke arah jam di hpnya. Menghela napas untuk kesekian kalinya, dan kembali memandang keluar jendela mobil. Sudah beberapa puluh menit mereka menunggu seorang pria yang tadi katanya hanya sebentar saja ingin menjenguk seseorang.

"Hey, Hina. Apa kau yakin mereka akan baikan?" menoleh pada gadis yang entah sejak kapan kini menjadi dekat.

"Hmm.., tentu saja. Aku mengenal bagaimana Nemu luar dalam." Sahutnya acuh, sibuk dengan kegiatan membaca majalah yang baru ia beli.

"Luar dalam?" alis itu terlihat mengernyit mendengar perkataan barusan.

"Ish, kau ini. Maksudku, aku sudah hapal benar bagaimana sebenarnya perasaan Nemu pada kakakmu yang menyebalkan itu."

"Kakakku tidak menyebalkan tahu, dia hanya susah untuk mengeluarkan ekspresinya saja." Belanya melihat Hina yang memutar mata bosan.

"Yeah, terserah kau saja." Acuhnya terkesan tidak peduli akan pembelaan Rukia.

Hening.

Kembali keduanya terdiam dengan kegiatannya masing – masing.

"Hei, Hina. Kenapa Nii-sama lama, yah?" pertanyaan itu kembali terlontar dari bibir Rukia.

Pasrah hanya hal itu saja yang di lakukan Hina akan tingkah Rukia. "Ck, baru 30 menit santai sajalah." Ucapnya membalikan majalah.

"Siapa bilang? Sudah hampir satu setengah jam tahu." Mengerucutkan bibirnya. Tidak peduli Hina yang mendelik akan perkataannya dan terlihat berpikir. "Apa mereka berkelahi, ya?"

Kekehan kecil terdengar dari suaranya. "Aku rasa tidak," memperhatian horden di apertemen yang entah sejak kapan kini tertutup. "Sebaiknya kita pulang saja."

"Heh? Bagaimana dengan Nii-sama?"

"Ah, dia bisa pulang jalan kaki." Sahutnya acuh. Memaksa supir pribadi keluarga Kuchiki itu menjalankan mobilnya. Tidak peduli akan Rukia yang kini membelakan mata karena perkataannya barusan.

.

End omake

.