Warning : rape scene


Sejak misi pertama kami, Tifa mulai menjaga jarak dariku. Tidak terlihat angkuh, namun terlihat terganggu. Seakan keberadaanku seperti sesosok makhluk buas yang dilepas begitu saja dan sewaktu-waktu dapat memangsanya. Tidak salah juga, mengingat semakin lama aku melihatnya, semakin ingin aku mencicipnya.

Dari mana aku tahu bahwa ia takut padaku?

Tentu saja karena Rufus Shinra mulai sering mempekerjakan aku.

Setelah berhasil mengatasi Don Corneo dan polisi kebingungan menentukan siapa pembunuhnya, Rufus menghadiahiku bonus yang lumayan. Tugas demi tugas dia berikan padaku. Mulai dari yang kecil-kecil seperti memata-matai seseorang selama beberapa hari hingga mencuri sesuatu di kantor pemerintahan. Dia merasa senang karena aku selalu melakukannya dengan sempurna dan bersih. Maka dari itu dia sering mengundangku makan malam di tempatnya. Dan setiap aku ke sana, Tifa pun ada di sana. Ia seperti ornamen untuk melengkapi kemewahan Rufus.

Malam ini adalah hari ulangtahunku. Ia menjamuku dengan makanan-makanan beraroma lezat yang tidak pernah kucicip sebelumnya. Harusnya aku makan enak malam ini. Tapi tidak dengan Tifa terus memalingkan wajahnya dariku dan terus mendekat pada Rufus seakan ia mencari perlindungan dari binatang buas. Apa ini? Aku kehilangan seorang penggemar? Semakin dia menghindariku, semakin aku menginginkannya.

Untuk suatu sebab yang tidak kuketahui, Rufus membelai dagu Tifa kemudian dengan halus menyuruhnya pergi meninggalkan kami berdua.

"Ada apa, sobat? Kau kelihatan tidak fokus dengan obrolan kita ataupun makananmu. ada sesuatu yang mengganggumu di hari ulangtahunmu ini?" Tanya Rufus sambil menyilangkan jemarinya di depan wajahnya sementara kedua sikunya bertumpu pada meja makan. Bila dia tidak menyebutkan faktor wanita, maka dia sudah curiga bahwa itu penyebabnya. "Ayolah. Bagiku kau sudah seperti sahabat. Apakah bayarannya kurang tinggi? Atau ada detektif yang mengejarmu? Minta apapun, akan kuberikan asal aku sanggup."

"Aku ingin wanitamu." Untuk apa berbohong? Lagipula itu akan menjadi hadiah ulangtahun yang menarik.

Seperti dugaan, dia tidak terkejut mendengar pernyataanku, malah ia mengembangkan senyumnya. "Hanya itu?"

Tubuh seindah itu terbalut dengan busana yang begitu sensual, pria gay pun menjadi straight hanya dengan melihatnya. "Aku seorang pria. Mau bagaimana lagi?"

"Kenapa Tifa? Aku bisa memberikanmu perempuan lain seperti gadis lugu, wanita cantik yang lebih berpengalaman, brunette, milf..."

"Aku mau Tifa." Kuletakkan sendok dan garpuku dan kubiarkan potongan daging di piringku tersia-sia. Aku serius, dia harus tahu. "Lagipula, kau tulus pada si gadis bunga itu."

Rufus menjadi kalem. Sepintas kulihat dagunya bergerak maju, aku yakin ia merasa kesal karena aku mengetahui rahasia kecilnya. Aku bersandar menunggu izin Rufus dengan senyum dingin.

"Baiklah, aku akan mengatur pertemuan kalian ..."

"Tidak perlu repot. Aku bisa mengatur pertemuan kami sendiri."

Rufus tersenyum lagi, seakan aku baru saja bercanda. "Kau yakin? Kelihatannya ia takut padamu. Ketahuilah, bila seperti itu, Tifa tidak akan mau bila bukan bosnya yang memberi tugas..."

"Tuanku yang terhormat, aku tidak ingin kencan. Aku ingin perkosaan." Aku berdiri meninggalkan kursiku dan perlahan berjalan menuju pintu. "... wajah yang ketakutan membuatku bergairah."

Sebelum aku membuka pintu, Rufus memanggilku. "Jangan celakai dia."

Aku menolehkan wajahku sedikit untuk menunjukkan senyumku padanya sebagai janji; "Tenang saja, aku bukan ingin membunuhnya, aku hanya ingin bercinta. Dia akan menikmatinya."

Kudengar Rufus tertawa kalem, "Kuberitahu hal penting, dia tidak suka bila ..."

"Tidak perlu. Nanti juga tahu." Akhirnya aku membuka pintu, namun Rufus masih saja berbicara, "Seph, bila kau ingin memaksa, kenapa minta izinku dahulu?"

Sambil menutup daun pintu, aku menyeringai, "Karena dia ornamenmu yang ingin kuambil. Terima kasih, Rufus."

Wajah Rufus masih terlihat datar tanpa ekspresi ketika aku menutup pintu ruang makannya. Dia pikir aku tidak tahu, dia selalu membawa Tifa dalam pertemuan, rapat, perjalanan bisnis, menghadiri pameran atau ulang tahun seseorang. Tapi ketika bertamasya dan waktunya bersenang-senang, ia selalu memilih pergi bersama gadis bunga itu. Dan tidak seperti ketika pergi dengan Tifa, ia tidak pernah mempermasalahkan penampilan apa yang dipilih si gadis bunga, siapapun namanya itu. Intinya, relasi bos dengan Tifa bukanlah sesuatu yang emosional. Bila bagi bos, Tifa hanyalah penghias, seharusnya aku tidak perlu merasa bersalah ketika menginginkannya. Lagipula, aku sudah minta izin.

Aku menemukan Tifa di kamar mandi khusus wanita. Begitu melihatku, ia terkejut bukan main dan reaksi yang menyusul kemudian adalah kemarahan. "Hei! Ini kamar mandi perempuan!"

Lucu. Kau pikir aku peduli, Tifa?

Dia mulai melangkah mundur sambil meraih sabun balok untuk dilempar mengenai wajahku. Tawaku mengalir keluar. akhirnya dia sadar dengan niatku. Ia mulai bertanya, "Mau apa kau?"

Takut. Ya, aku merasakannya, terbawa oleh gelombang suaranya. Suara Tifa yang ketakutan hmm ...

Ia melirik ke arah pintu di belakangku, namun melangkah mundur karena terlalu takut untuk menerobos tubuhku dan melarikan diri.

Ups! Ia sungguh-sungguh melarikan diri setelah melemparku dengan dompetnya yang terbuat dari kulit ular. Kuulurkan tanganku, dengan kuat kuraih lengan kirinya. Merasakan genggamanku yang kuat, ia menjerit menyerukan nama Rufus. Tapi percayalah, Tifa, sekalipun dia mendengarnya, dia tidak akan melakukan apapun. Aku cepat-cepat mendorongnya menubruk dinding keramik dan kukunci tubuhnya dengan kedua tanganku menahan kedua lengannya. Tifa tak berdaya memunggungiku, dengan leluasa aku memandangi lekuk tubuhnya dari belakang. Pinggangnya yang ramping, bokongnya yang montok, terlebih ia menggenakan one piece hitam yang batasnya kurang dari 10 cm di bawah selangkangan. One piece itu begitu ketat sehingga aku mampu menerka-nerka lekuk pantatnya yang kencang. Baru kusadari aku belum bernafas. Aku begitu bersemangat sekarang.

Keindahan ini ... milikku!

"Apa-apaan ini, Sephiroth? Lepaskan aku!" pekiknya, kudengar keputus-asaan terkandung di dalamnya.

Dengan cepat aku mengeras, kutempelkan tubuhku pada bagian belakang tubuhnya. Lemak kencang di bokongnya begitu lunak. Menyadari betapa dekat tubuhku menempel di tubuhnya, Tifa mulai panik. Ia berusaha melepaskan diri walau sadar sia-sia. Tenaganya tidak seberapa berarti, aku seperti menahan guling saja.

"Ini salahmu, Tifa." Ujarku sambil beraksi meraba area sensitifnya dengan bagian bawah tubuhku. "Salah sendiri kau memancingku terus sejak kemarin."

Kudengar dia sedikit terisak, "Bajingan! Aku tidak merayumu sedikitpun!"

Aku tertawa. "Ini ganjaran bagimu karena masuk ke kandang banteng mengamuk menggunakan pakaian merah."

"Kau sinting! Lepaskan aku!" Sekali lagi dia menjerit, "Rufus...!"

Kulepaskan lengan kirinya karena tangan kiriku ingin menangkap pipinya yang halus dan mulus, kemudian kukecup bibirnya. Ia hanya bisa mengeluh marah tanpa kata-kata. Bibirnya mungil, namun basah. Ada sensasi aneh yang kurasakan, ini pasti gairah yang dibangkitkan Tifa dari rasa takutnya terhadapku. Kulepas tangan kanannya ketika tangan kirinya mulai menarik rambutku, mencoba untuk menyakitiku. Tapi aku mampu mentoleransi rasa sakit. Bahkan ketika melukai wajahku sendiri dengan pisau hingga cacatpun aku tidak menjerit.

Tangan kananku segera mengusap perutnya, memberikan dia sedikit pijatan kecil di sana. Kini erangannya yang marah, melunak sedikit. Aku terus mempermainkan bibirku pada bibirnya sambil merasakan nafasnya tersengal tidak teratur menerpa pipi kananku.

Ketika tangan kananku meraba dan mengusap perutnya naik ke buah dadanya, kudengar dia sedikit terkesiap. ada pekikan kecil yang tertahan. aku tidak berhenti menikmati bibirnya. Tangan kananku mulai meremas, perlahan, namun erat. Sementara itu tangan kirinya yang menarik rambutku, kini mengendur. Seiring nafasnya mulai teratur, dan tangan kirinya melepaskan rambutku, ia menjadi lemas dan menyerah. Ia mulai membalas kecupanku sedikit, aku merasakan otot bibirnya sedikit bereaksi terhadap bibirku.

Tangan kiriku turun ke bawah sementara tangan kananku masih bermain-main dengan salah satu buah dadanya. Terima kasih pada one piece seksi ini, tangan kiriku cukup menarik ke atas pakaian seksinya dan meraba selangkangan Tifa Lockheart. Sedikit basah. Hahaha .. aku tahu dia juga menginginkanku namun menyangkalnya. Dasar wanita.

Kulepas kecupanku, ia sudah tidak berteriak lagi, mangsa sudah takhluk. Kulihat segaris jejak air mengalir dari matanya. Namun ia segera memalingkan wajah dariku, pasrah membiarkanku bermain dengan tubuhnya. Aku menemukan liang kewanitaannya dan kugesek-gesekkan jari tengahku di sana. Basah, semakin basah. Kini ia menatap cermin kamar mandi yang lebar, dan melihat refleksi dirinya menjadi boneka seks-ku malam ini. Kurasakan tangannya memijit tengkukku ketika aku menciumi lehernya yang mulai berkeringat.

Nafasnya mulai tidak beraturan. Desahan berselingan dengan gumaman, reaksinya terhadap gerakan jari tengahku yang nakal di selangkangannya.

"Kau suka itu? Itu belum apa-apa."

Dia segera menggeleng namun tidak berkata apapun. Kubaringkan tubuh bagian atasnya di atas meja washtafel terlungkup sehingga kedua tungkainya tetap memijak di atas lantai. Ia tidak melawan lagi. Wajahnya begitu dekat dengan cermin sekarang. Ia mampu melihatku melepas kemejaku, matanya berkedip lemas memperhatikan pahatan otot tubuhku.

Aku sedikit kecewa, perlawanannya berhenti sama sekali. Ia seongok tubuh yang pasrah menunggu apa yang akan kulakukan terhadapnya. Bukan masalah, kan? Aku tahu ini bukan pertama kali baginya. Rufus sudah jelas punya akses esklusif ke dalam, mungkin si rambut merah juga, belum lagi Don Corneo dan beberapa lelaki asing yang ia temui di klab malam tempat dia sering bermain. Tapi tidak masalah, di bawah sini masih terasa kencang, begitu rapat dan ketat menjepitku.

Aku mendesah nikmat, dibalas oleh sebuah keluhan kecil dari bibirnya. Kumasukkan semuanya perlahan namun pasti. Ia menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan kedua tangannya perlahan. Ini nikmat sekali, terbungkus rapat seperti ini.

Aku mulai bergerak satu tarikan dalam tiga detik yang tidak terburu-buru, dan sebuah sodokan tajam yang kencang membelesak masuk tak terbendung oleh pertahanannya. Jeritannya bergema di dinding kamar mandi. Aku tahu kau menyukainya, Tifa. Kutarik lagi perlahan, ia mengeluh tidak sabar. "Aughh... brengsek! Bajingan kau Sephiroth! Ughh ..."

Aku tertawa. Dan kembali kuhantamkan dengan keras. Kini dia merintih sambil meremas kepalanya. Kuulangi gerakan itu hingga dia terbiasa dengan ukuranku yang besar ini. Di cermin, aku mampu melihat wajah dan tubuhku memerah karena detak jantungku yang memburu. Aku mulai tidak sabar sekarang. Kupegang pinggangnya erat dan mulai bergerak lebih cepat. Ia bersuara setiap kali aku menyodok.

Semakin enak, aku bergerak semakin cepat. Tifa mencoba mencakar cermin di depannya tanpa sedikitpun melihat ke cermin itu. Ia masih terus merintih, "Aw ... ahhh... aa ... hmmm ... mmm..."

Bagaimana, Tifa? Enak, bukan? Ini belum apa-apa. Aku mempercepat gerakanku dan ia mulai kalang kabut mengimbanginya.

Kini sudah tidak terdengar lagi sumpah serapah dan caci maki dari bibirnya, hanya jeritan-jeritan yang bergema di dinding kamar mandi. Akhirnya kami klimaks bersama. Kuledek dia, "Lihat, Tifa, kita memang serasi."

"Pergi ke neraka!" umpatnya, marah. Kedua kakinya gemetar lemas dan ia jatuh terduduk di lantai kamar mandi.

Aku berbenah diri kemudian meninggalkan dia begitu saja. Aku tahu dia butuh waktu sendiri untuk menangis di kamar mandi.