FIRST

DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY JURIG CAI

PAIR: NARUFEMSASU

RATED : T

WARNING: AU, OOC, TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, DLL

FIC RATED T PERTAMA AUTHOR, LEA SADAR MASIH BANYAK KEKURANGAN DALAM FIC INI JADI…MOHON SARANNYA YA..(LEA KEMBALI MENGGUNAKAN NAMA SASUKE, SETELAH MENERIMA SARAN DARI BEBERAPA READER. SEMOGA KALI INI LEBIH NYAMAN MEMBACA FIC YANG LEA BUAT).

DON'T LIKE DON'T READ

Ia berjalan pelan menelusuri jalanan yang mulai sepi.

Matahari sudah lama terbenam, membuat udara jadi terasa dingin. Ia memasukkan tangannya kedalam saku jaket, berharap bisa memberinya sedikit kehangatan. Udara musim gugur yang sejuk memang membuatnya agak sedikit menggigil. Tak berapa lama ia sudah sampai di rumahnya.

"Tadaima."

"Ah okaeri Sasuke chan, makan malam sebentar lagi siap."

"Hn, aku ganti baju dulu." Sahutnya malas.

Ayah dan kakak laki-lakinya telah menunggu di meja makan saat ia turun ke dapur. Mereka tampak sedang asyik membicarakan sesuatu yang tidak di mengerti olehnya.

Sasuke menatap datar pemandangan dihadapannya. Ayah yang sedikit kaku, ibu yang perhatian dan kakak yang sangat baik. Keluarga yang bahagia.

Dan Sasuke benci semua itu.

#(-_-)#

Pagi ini kepala Sasuke seperti mau pecah.

Si bocah pirang itu kembali mencari masalah dengannya. Dimulai dengan membuat keributan dengan anak kelas sebelah, menari girang saat tak ada guru di kelas, dan mengganggu Sakura, yang berakhir dengan pukulan tak berperi kemanusiaan menghantam tubuh si bodoh itu.

.

.

Ia butuh ketenangan.

.

.

"A..ano Uchiha san." Sapa seorang gadis, yang setahu Sasuke bernama Hinata Hyuuga. Menurutnya, ia gadis yang manis dengan rambut panjang, wajah yang selalu bersemu merah dan tutur kata yang lembut. Sayang, otaknya agak sedikit kurang waras karena bisa-bisanya ia menyukai si landak pirang. Bukan rahasia umum gadis ini menyukai si Uzumaki itu, Sasuke saja yang anak baru, tahu. Yang mengherankan adalah Uzumaki itu seperti tidak menyadarinya sama sekali. Mungkin kebebalannya sudah mendarah daging.

"Hn?"

"Ka..kau tampak kurang sehat. Aku bisa mengantarmu ke ruang kesehatan." Ujarnya malu-malu. Sasuke tampak berpikir sesaat sebelum menyetujui tawaran itu.

Akhirnya ia menemukan tempat tenang.

Sayangnya, saat mereka akan beranjak pergi, guru berambut perak datang, mengacaukan rencana Sasuke untuk bersantai.

Dia tidak sendiri, ada anak laki-laki pucat yang mengikuti dibelakangnya.

"Tolong tenang, hari ini kalian mendapat teman baru, silakan perkenalkan dirimu." Ucapnya malas, perkataannya sama persis saat Sasuke pertama kali menginjakkan kaki di kelas ini.

"Namaku Sai, mohon bantuannya." Ucapnya sopan dengan senyum yang terkesan tidak tulus di mata Sasuke. Perkenalan itu memakan waktu beberapa menit sebelum si murid baru diijinkan duduk di bangku kosong, yang kebetulan ada disamping Hinata.

Ketika istirahat tiba, beberapa murid perempuan mulai mendekati Sai.

"Ah sai kun, kau pandai menggambar ya?" Ucap Sakura yang terdengar jelas oleh Sasuke saat ia akan pergi ke taman di belakang sekolah.

"Sakura chan, ayo kita kekantin." Seru Naruto, memotong percakapan yang baru saja dimulai gadis itu.

"Aku tidak mau ke kantin bersamamu, baka. jangan ganggu aku!" Teriaknya, yang lagi-lagi menolak Naruto dengan tegas. Sasuke memilih segera pergi sebelum mendengar kelanjutan perdebatan itu.

#(-_-)#

Ada yang berbeda.

Sasuke yakin ada yang berbeda, dan semua itu terasa… salah.

Ia tidak menemukan Naruto di bangkunya, atau di penjuru kelas, padahal bel masuk sudah berbunyi. Walaupun laki-laki itu agak sedikit urakan dan bodohnya minta ampun, tapi setahu Sasuke, selama seminggu ini ia tidak pernah bolos. Lalu Sai dan Sakura juga ikut absen. Kemana mereka?

Ia segera menghampiri si gadis Hyuuga untuk meminta penjelasan, gadis yang ia tahu akan menjawab pertanyaan tanpa melebih-lebihkan seperti yang biasa dilakukan gadis lain, walaupun tentu saja, dengan sedikit tergagap.

"Hyuuga."

"I..iya Uchiha san."

"Kemana perginya si biang onar itu?" Tanyanya langsung. Ia tidak suka buang-buang waktu untuk hal tidak berguna seperti basa-basi.

"E..eh?"

"Maksudku… kemana si Uzumaki?" ujarnya, memperbaiki pertanyaan sebelumnya.

"E..eto… Naruto kun dibawa keruang kesehatan."

"Hn. lalu Haruno dan si murid baru?"

"Me..mereka juga ada di ruang kesehatan."

"Kenapa?"

"A..ano..ta..tadi… Sai san menyebut Sakura chan… je.. jelek dan Naruto marah. Tapi ia terpeleset dan menabrak Sakura chan, Sakura yang kaget tak sengaja mendorong Sai san hingga kepalanya membentur sudut meja Shikamaru kun."

"Hn, efek domino. Bagus. Tuhan memang benar-benar ada." Gumamnya tak jelas sambil berjalan kearah bangkunya.

Dengan absennya Naruto, membuat Sasuke lebih leluasa memperhatikan seluruh kelas. Di depan Hinata, Shikamaru tengah tertidur pulas tanpa peduli guru yang mengajar di depan kelas. Terkadang Sasuke agak sulit membedakan mana yang tidur dan mati suri, karena seingatnya, Shikamaru selalu tidur sepanjang hari. Lalu ada Kiba yang asyik membuka buku tentang binatang di bawah meja, Shino yang duduk tegak tanpa bergerak di kursinya, Ino yang sibuk dengan cermin, dan Lee yang masih memandang papan tulis dengan mata berkobar penuh semangat jiwa mudanya (?).

Sasuke menyadari, dengan sedikit terlambat, ia dikelilingi orang-orang aneh.

#(-_-)#

Malam ini udara kembali terasa menggigit kulit. Sasuke mengeratkan mantelnya dan dengan langkah cepat berjalan kearah gang yang merupakan jalur terpendek menuju rumahnya. Sayangnya, ia lupa jika ia harus melewati rumah kekasih kakaknya dulu sebelum bisa mencapai rumah.

Konan, nama kekasih kakaknya, mempunyai rumah yang terbilang sederhana. Tapi yang membuat rumah itu unik adalah pohon apel yang berada dihalaman. Pohon itu hanya berbuah satu apel saja, dan Sasuke ingin memakan apel itu. Sangat ingin.

Dengan ragu ia memungut batu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Apa yang akan kau lakukan dengan batu itu?" Ucap seseorang yang membuat Sasuke tersentak kaget.

.

.

Sialan.. suara itu..

.

.

"Uzumaki." Ucapnya dingin. Jantungnya masih berdebar tak karuan, kaget sekaligus kesal setengah mati saat melihat laki-laki itu. 'Kenapa diantara sekian orang yang dikenalnya harus si landak pirang ini yang memergokinya.' Batinnya tak terima.

"Hee.. kau mau memecahkan kaca ya? Ck ck tak kusangka…"

"Bukan, tolol," ucap Sasuke datar. "Targetku apel itu."

"Apel? kalau ingin makan beli saja di supermarket." Ujar Naruto heran. Sasuke yang mendengarnya hanya bisa menghela napas.

"Aku… ingin makan yang itu." Ucapnya murung. Melihat Sasuke yang terlihat menyedihkan seperti itu, entah kenapa membuat Naruto merasa tidak suka.

"Berikan batunya."

"Apa?"

"Berikan batunya." Ulang Naruto, kali ini lebih keras. "Biar aku yang lempar… kenapa hanya karena apel jadi sedih begitu sih?" Tanyanya sambil merenggut batu yang ada dalam genggaman Sasuke.

"Berjanjilah.. setelah makan apel itu kau akan kembali jadi Sasuke sombong menyebalkan yang kukenal." Serunya. Dan sebelum Sasuke mencerna kalimat itu, Naruto sudah melempar batu di tangannya dengan sekuat tenaga.

PRRAANNG

"SIAPA ITUU….?!"

"Gawat… ayo lari!"

Dan tanpa pikir panjang Naruto menggenggam tangan Sasuke dan segera menyeretnya pergi dari tempat itu.

.

.

Akhirnya, setelah merasa sudah jauh, mereka berhenti di dekat toko klontongan yang belum pernah di lewati Sasuke. Dengan napas terengah ia menatap laki-laki yang sudah menyeretnya dengan tidak beradab.

"Apa yang kau lakukan di tempat itu?"

"Itu jalan kerumahku." jawabnya singkat. Ia benci bicara saat otaknya kekurangan oksigen setelah berlari, membuatnya agak sedikit pusing.

Mereka terdiam cukup lama sampai sebuah mobil berhenti di samping mereka.

"Sasu chan?"

#(-_-)#

"Namaku Uzumaki Naruto, salam kenal." Ujar Naruto sambil membungkukkan tubuhnya.

"Wah anak yang sopan, teman Sasuke chan ya? Kalau begitu ikut makan malam disini saja." Tawar ibunya. Sasuke hanya mendengus. Sejak kapan si tolol ini jadi temannya. Naruto yang di tawari tertawa senang.

"Sampai makanannya siap, Naruto kun tunggu di kamar Sasuke chan ya."

Kali ini Sasuke menghela napasnya lelah… malam ini sepertinya ia harus membersihkan kamarnya dari kuman-kuman Uzumaki.

"Ne… ibumu baik ya." Ujar Naruto setelah mendudukan tubuhnya dengan nyaman di lantai berkarpet di kamar Sasuke.

"Hn."

"Kakakmu juga." Lanjutnya yang membuat Sasuke terdiam, sebelum dengan terpaksa bergumam tak jelas.

"Aku… tidak ingin bermaksud lancang tapi…" Suaranya menghilang, ia merasa tidak sepantasnya mengucapkan hal itu pada seseorang yang baru beberapa hari dikenalnya. Apalagi hubungan mereka memang tidak bagus. Tapi saat ia melihat ekspresi Sasuke yang merona ketika Itachi menyapanya… semua itu terasa tidak asing.

"Gomen." Ujar Naruto akhirnya. Suasana kamar jadi terasa menyesakkan.

"Aku… menyukai Itachi nii." Ucap Sasuke. Ia merasa, Naruto bisa di percaya. Dan untuk pertama kalinya ia berharap dugaannya benar.

"Bukan sebagai kakak… tapi sebagai laki-laki."

"Oh…"

"Tapi mana mungkin bisa, lagipula kakak sudah punya orang yang dicintai. Menyatakan perasaanku hanya akan menghancurkan keluarga. Aku mana punya keberanian seperti itu."

"Mmm…"

"Karena itu, aku iri padamu yang bisa menyatakan cinta pada Sakura tanpa beban." ucapnya sambil tersenyum miris. Entah kenapa semangat hidupnya kembali berkurang.

"Kalau begitu… ayo menyerah bersamaku."

"Hah?"

"Aku akan menyerah mendapatkan cinta Sakura jika kau juga menyerah mendapatkan Itachi nii."

"HAAH?"

.

.

.

tbc

#(-_-)#

fic ini makin g jelas ujung pangkalnya.

ide mentok.

lea frustasi….

ditunggu sarannya.

special thanks for;

Azusa thebadgirl, Augesteca, Nujeri29,

Aicinta, Ida, Qren (guest).

review kalian menyemangatiku.