FIRST

DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO

STORY BY JURIG CAI

PAIR: NARUFEMSASU

RATED : T

WARNING: AU, OOC, TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, DLL

FIC RATED T PERTAMA AUTHOR, LEA SADAR MASIH BANYAK KEKURANGAN DALAM FIC INI, JADI…MOHON SARANNYA YA..

(LEA KEMBALI MENGGUNAKAN NAMA SASUKE, SETELAH MENERIMA SARAN DARI BEBERAPA READER. SEMOGA KALI INI LEBIH NYAMAN MEMBACA FIC YANG LEA BUAT).

DON'T LIKE DON'T READ

.

.

"Sasuke…" Panggil Naruto pelan seraya membuka pintu kamar Sasuke perlahan.

"Pergi." Gumam Sasuke dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. "Biarkan aku sendiri."

Ya, Sasuke memilih mengurung diri di kamar setelah makan malam mengerikan itu selesai. Tanpa membuang waktu, ia segera bergegas masuk ke kamarnya. Mengacuhkan panggilan ibunya yang tengah memotong bolu gulung isi tomat kesukaannya.

Ia sudah tidak peduli pada apapun.

Yang ia butuhkan sekarang ini hanyalah ketenangan.

Dan itu sulit, saat Naruto memilih bergabung bersamanya.

"Kau baik-baik saja?"

"Pergi." Sahutnya lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih tinggi.

Ia bisa mendengar Naruto yang tengah menghela napas berat, sebelum merasa tempat tidurnya bergerak karena tambahan beban.

"Apa yang kau lakukan?"

"Menemanimu."

"Tidak butuh." Gumam Sasuke ketus.

Mereka kembali terdiam dalam kamar yang remang-remang. Sasuke dapat merasakan Naruto yang menghela napas berat beberapa kali sebelum lelaki itu membuka suara.

"Mungkin… ini waktu yang tepat untuk mu menyerah." Ucapnya lirih, yang membuat Sasuke membalikkan badan, menatap sinis pemuda tidak tahu diri itu.

"Kenapa harus aku?" Tanyanya tajam.

"Apa?"

"Aku yang pertama mengenalnya, yang pertama menyukainya… tapi kenapa aku juga yang pertama kali harus menyerah mendapatkannya?" Ujarnya lagi.

Naruto tampak berpikir sesaat sebelum balas menatapnya. Dalam keremangan kamar, Sasuke dapat melihat mata biru itu memandangnya serius.

Ia bahkan tidak pernah menyangka pemuda urakan ini bisa serius.

"Karena itu hal termudah yang bisa kau lakukan agar tidak menyakitinya." Jawabnya pasti. yang membuat Sasuke bungkam, sibuk dengan pikirannya.

"Jika menyerah bisa semudah itu…" Gumamnya lirih setelah terdiam cukup lama. "Aku tidak akan kesulitan seperti ini."

"Aku tahu." Balas pemuda itu tenang, yang lagi-lagi membuat mereka kembali terdiam dalam kecanggungan yang menyebalkan.

Cukup lama mereka saling berdiam diri, membuat suasana makin sunyi.

Dan tenang.

Saat matanya terasa berat dan kepalanya mulai pusing karena mengantuk, samar-samar Sasuke dapat mendengar suara Naruto yang bergumam pelan di telinganya.

"Menyerahlah, agar kau bisa sepenuhnya jatuh cinta padaku."

.

.

.

"Na-Naruto-kun sepertinya berubah ya." Ucap Hinata membuka suara ketika mereka makan siang di taman belakang sekolah. Taman yang awalnya menjadi tempat rahasia Sasuke. Namun ia tidak keberatan membagi taman ini dengan gadis Hyuuga itu.

"Hn?"

"Ma-maksudku ia jadi lebih tenang."

"Hn."

"A-aku tidak bermaksud buruk…a-aku hanya merasa…ia berbeda." Ujarnya lagi setelah menyadari komplikasi dari kalimatnya barusan.

"Hn."

"Sa-Sasuke-chan." Panggil Hinata ragu.

"Hn?"

"Ha-hari ini... ma-mau pulang be-bersamaku?" Tanyanya penuh harap.

"Kenapa?"

"A-ano… aku ingin mencoba pulang bersama…te-temanku."

"Boleh."

"Be-benarkah?'

"Hn."

"da-dan…bi-bisakah kita mampir ke toko ice cream?"

.

.

.

"E-enak ya." Gumam Hinata senang saat mereka keluar dari toko ice cream langganannya. Sambil menjilati ice cream blueberry kesukaannya, Ia mencoba membuat langkahnya beriringan dengan langkah Sasuke yang terbilang cepat.

"Hn."

"Sa-Sasuke-chan pernah kemari?"

"Belum."

"Ka-kalau teman-teman Sasuke-chan?"

"Aku tidak punya teman."

"Syukurlah."

"Apa?!"

"Ti-tidak… a-anoo.. aku senang Sasuke-chan tidak punya teman…" Ucap Hinata dengan maksud menenangkan. Tapi efeknya malah sebaliknya. Bukannya tenang, Sasuke justru menatapnya dengan tatapan mengerikan yang membuatnya ketakutan.

"Ma-maksudku… itu artinya aku teman pertama Sasuke-chan kan?"

"…"

"Aku senang menjadi teman pertamamu." Gumamnya dengan senyum malu dan wajah merona, yang membuat Sasuke menatap gadis disampingnya bingung.

'Kepala gadis ini…memang tidak beres.' Batinnya ngeri.

.

.

.

"Sasukeeeee!"

Teriakan memekakan telinga itu datang dari arah belakangnya, tepat ketika ia berpisah dengan Hinata di stasiun kereta. Tanpa menoleh pun ia tahu siapa pemilik suara cempreng itu.

"Kukira kau ada kegiatan club."

"Ya… harusnya. Tapi hari ini Kakashi sensei mengizinkan kami pulang cepat."

"Hn."

"Kupikir kau yang seharusnya sudah sampai rumah duluan."

"Aku makan ice cream dulu."

"Eeeeeeehhh?" Jeritnya ngeri. Bukan apa-apa, tapi selama ini ia yakin betul Sasuke menghindari makanan manis, minuman manis dan apapun yang beraroma manis.

Singkatnya, Sasuke benci manis.

"Diajak Hinata" Akunya, yang membuat pemuda itu kembali terperangah dengan rahang hampir jatuh, sebelum tawanya meledak.

Hinata… tentu saja. Akhir-akhir ini Sasuke memang terlihat akrab dengan gadis itu.

Sebenarnya, Naruto tidak terlalu mengenal sosok Hinata, selain fakta bahwa ia keturunan Hyuuga. Salah satu keluarga bangsawan ternama di daerah itu. Sifatnya yang pemalu dan memiliki kecenderungan menyembunyikan diri dari perhatian orang-orang disekitarnya, membuat Naruto kesulitan bergaul dengan gadis itu.

Lagipula ada Hyuuga Neji, sepupu langsung Hinata.

Awalnya Naruto tidak percaya saat Sakura mengatakan mereka sepupu, mengingat laki-laki itu terkenal bengis dan tanpa ampun. Hal itu ia buktikan sendiri ketika mereka berdua berkelahi memperebutkan lapangan sepak bola beberapa waktu silam.

Sejak kejadian itu, Naruto selalu mengaitkan nama Hyuuga pada sosok Neji dan melupakan fakta ada Hyuuga lain yang perangainya lebih lembut dan santun.

Naruto masih terpingkal saat Sasuke memukul lengannya kesal.

Namun, tawanya lenyap ketika mereka sampai di depan rumah Konan, dimana apel merah yang mendekatkan mereka masih menggantung di pucuk tertinggi. Melihat Sasuke yang masih memandang apel itu dengan sorot tertarik membuatnya kembali mengernyitkan dahi.

"Kenapa kau begitu ingin memakannya?" Tanyanya kemudian. Mengingat bagaimana dulu mereka hampir terlibat masalah karena apel itu.

Sasuke hanya menghela napas panjang, sebelum kembali meneruskan langkahnya.

"Apel itu…simbol." Ucapnya acuh, yang makin membuat Naruto bingung.

Setelah sekian lama dekat dengan gadis ini, ia memahami satu hal, Sasuke selalu melontarkan kata-kata yang sulit ia pahami. Apa gadis itu tidak menyadari dirinya punya keterbatasan otak?

"Simbol apa?"

"Penyatuan cinta," Ujarnya lagi. "Itu yang dikatakan Itachi-nii pada Konan."

"…"

"Benda itu dikaitkan dengan cinta? Memuakkan, kan?"

"…"

"Aku ingin memakannya…memakan penyatuan cinta mereka. Berharap setelah memakan benda konyol itu, aku bisa lepas dari rasa tidak berdaya ini." Gumamnya lirih. Kalau boleh jujur, ia tidak menyukai keadaan yang membuatnya tersiksa seperti ini. Membuatnya seperti terkekang.

Ia hanya ingin, walaupun hanya satu hari, hidup seperti gadis remaja pada umumnya yang jatuh cinta secara biasa.

Percintaan normal tanpa perlu menghancurkan keluarga.

"Kalau begitu kau ingin memakannya? Sekarang?"

"Tidak…aku sudah tidak menginginkannya lagi."

"Kenapa?"

"Aku… sudah menyerah." Ucapnya sambil tersenyum pasrah. Walaupun dalam hati mengakui ia tidak bisa sepenuhnya mengenyahkan perasaan cinta yang ditujukan pada kakak kandungnya, tapi ia bertekad menghapus rasa itu.

Mulai detik ini.

"Apa kau yakin?"

"Hn."

"Kalau begitu…apa kau mau…setidaknya mencoba…untuk…melihatku?"

'Ha?'

"Aku memang bukan Itachi-nii, tapi aku menyukaimu." Ucapnya lagi dengan raut wajah yang baru pertama kali dilihat Sasuke. Dan entah kenapa saat melihat hal itu, jantungnya berdebar kencang menanti lanjutan ucapan Naruto dengan waspada dan penuh antisipasi.

"Maukah kau menjadi kekasihku?"

.

.

.

.

tbc

.

.

author notes; lagi-lagi pendek ya… alurnya juga kecepetan.

mood lea kurang bagus setelah putus…

gomen ne..

nulis fic manis dalam suasana patah hati…

hard….

.

.

special thanks for:

nujeri29 (yups, sasuke emg g suka konan yang dia anggap merebut kakak tercintanya, ),

nivellia yumie (salam kenal juga, hope you like this chap. thx juga bwt reviewnya, ya. dan soal pihak k 3, sebenarnya sih, kalo aja lea pinter nulisnya, di chap sebelumnya udah sedikit menggambarkan siapa pihak k3 di fic ini. sayangnya… lea slalu kesulitan merangkai kata jadi…yumie-san harus tunggu chap slanjutnya. disana akan terlihat dengan jelas siapa tokoh k3 sebenarnya, hehehe. gomen ne.),

CindyAra (chap ini udah lebih panjang dari chap kemarin, kan? hehe),

Aicinta (semoga chap kali ini memuaskan),

Aristy (dengan karakter sasuke yang kaya gini, jujur aja, lea kesulitan nulis adegan romance-nya, gomen ne.),

MORPH (reviewmu menyemangatiku,thx.),

fuyukifujisaki ( I know…that's my…style? terbiasa nulis pendek-pendek si. btw, thx reviewnya ya),

guest (please, let me know your name. hmm komik itu yang ceritanya si tokoh utama cewek pengen dpt apel pake lempar batu, tp malah mecahin kaca? trus gara-gara itu juga ketemu cowo rese yang maksa bwt jd pacarnya? klo iya, lea emg terinspirasi dari sana. moment kedekatan tokoh lewat hal aneh kaya gt rasanya…sweet bgt. judulnya apel tree ya? chap depan lea tulis sebelum disclaimer. thx a lot for info nya yaaa…).

ariesta 87 (salam kenal, thx reviewnya yaaa.)

guest (please, let me know your name, thx reviewnya, hope your like this chap.)

terimakasih juga pada semua reader yang telah memfolow dan memfav fic gak jelas ini.

hontou ni arigatou

ada yang terlewat?

gomen, lea update lewat hp, jadi gak bisa ng-edit. gomen ne..