FIRST
DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO
STORY BY AZALEA RYUZAKI
PAIR: NARUFEMSASU
RATED : T
WARNING: AU, OOC, TYPO, BAHASA ANCUR, PLOT BERANTAKAN, DLL
FIC RATED T PERTAMA AUTHOR, LEA SADAR MASIH BANYAK KEKURANGAN DALAM FIC INI, JADI…MOHON SARANNYA YA..
SEBELUM LUPA, FIC INI TERINSPIRASI DARI SERIAL CANTIK BERJUDUL APPLE TREES, FILM BOLLYWOOD LAWAS: KUCH-KUCH HOTA HAI, AVATAR MOVIE DAN OTAK ERROR AUTHOR.
(LEA KEMBALI MENGGUNAKAN NAMA SASUKE, SETELAH MENERIMA SARAN DARI BEBERAPA READER. SEMOGA KALI INI LEBIH NYAMAN MEMBACA FIC YANG LEA BUAT).
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
"Sasuke lah temanku."
Pernyataan yang terlontar beberapa saat lalu dan diucapkan tanpa pikir panjang itu, kini sukses membuat Hinata terpuruk. Sekarang, dengan terlambat, ia baru merasa bersalah pada Sakura.
Hinata merasa telah melakukan sesuatu yang buruk, ketika dilihatnya gadis itu pergi dengan murka dan kesal. Wajahnya yang tampak terluka tidak membuat Hinata merasa lebih baik. Ino yang menyusul kemudian, mungkin untuk menghibur temannya itu, justru makin membuat Hinata merasa terpuruk.
Kini, setelah dirinya di tinggal sendiri… lagi. Hinata dapat mengevaluasi semua hal dengan lebih leluasa.
Termasuk perasaannya sendiri.
Dan entah kenapa, ia malah kembali teringat pada penolakan yang dialaminya beberapa bulan lalu, saat kabar rasa sukanya pada Naruto menyebar keseantero Konoha. Saat itu, ia melihat dengan jelas bagaimana Ino memandangnya dengan tatapan meremehkan, seakan ia adalah gadis terbodoh didunia karena dengan tidak warasnya menyukai seorang Naruto, yang terkenal dengan sifat bodohnya. Sementara Sakura hanya memberinya tatapan tak percaya.
Sikap diskriminasi itulah yang membuatnya merasa tidak nyaman, bahkan cenderung membatasi diri, saat ia berinteraksi dengan kedua gadis itu.
Meskipun selama ini ia mengakui hubungan mereka tidak terlalu dekat untuk bisa disebut teman, tetap saja ada perasaan tak enak hati yang memenuhi benaknya.
Ia merasa telah menjadi gadis yang jahat.
Tapi… jika ia mengingat kembali bagaimana Sakura dengan lancang memojokan Sasuke, temannya, mau tidak mau membuat Hinata kesal.
Ia memang lemah, tak ada yang berani menyangkal kenyataan itu.
Namun ia menolak jika harus memojokan temannya sendiri demi seorang gadis yang baru menyadari perasaannya.
Ironis.
Mengingat dulu Sakura selalu mengabaikan sosok pemuda berambut pirang cerah yang dikagumi Hinata. kini, gadis itu terkesan tidak rela saat orang yang diacuhkannya berpaling menjauhi dirinya. Hal yang sebenarnya selalu Sakura tekankan untuk dilakukan Naruto… agar pemuda itu menjauh darinya.
Hinata tidak membenci Sakura, ia hanya… tidak suka.
Terlebih jika ia mengingat saat Sakura mengucapkan kata benci dengan mudah pada Naruto yang setiap hari dan setiap waktu mengejar dirinya.
Walaupun Hinata mengakui Naruto termasuk sosok yang tingkat kepekaannya bisa dikatakan lemah, tetap saja pemuda itu mengerti arti kata penolakan. Dan setangguh apapun dirinya, seorang Naruto juga bisa merasakan kesedihan.
Ya, kan?
Jadi, saat Sasuke datang dan dengan perlahan mengalihkan dunia Naruto dari pesona Sakura…jujur saja, ia bersyukur.
Saat itu ia berpikir, dengan keberadaan Sasuke didekat Naruto, membuat pemuda yang dikaguminya tidak akan pernah tersakiti lagi.
Tidak ada penolakan.
Atau pengabaian.
Tidak ada.
Namun sekarang ia ragu, apakah sikapnya bisa dikatakan benar?
Sakura pantas mendapatkan kesempatan kedua dan berhak untuk bahagia. Gadis itu juga bebas melakukan apapun untuk meraih keinginannya tanpa dihalangi oleh siapapun. Termasuk Hinata.
Ya, kan?
Tapi masalahnya… kenapa sekarang?
Karena Sakura merasa kehilangan?
atau hanya keegoisan?
Mungkin… keduanya.
Hinata berpikir itu sesuatu yang masuk akal. mengingat seseorang yang selalu ada di dekatmu, tiba-tiba menjauh dan sulit digapai. Siapapun pasti akan merasa kehilangan.
Dan kesepian.
Tapi hal itu bukan pembenaran tentang sikap Sakura yang kini terasa memaksa.
Meskipun begitu, Hinata tetap merasa sudah sepatutnya ia memberikan sesuatu pada gadis itu sebagai permintaan maaf karena sikapnya yang kurang sopan siang tadi.
Boneka sepertinya cocok untuk kasus ini.
Atau cake?
Saat pikirannya masih dipenuhi tentang jenis hadiah yang akan ia berikan pada Sakura, tiba-tiba tubuhnya tersungkur menghantam ubin dingin saat ia menabrak tubuh tegap di tikungan menuju koridor tempat kelasnya berada.
Sambil meringis menahan sakit di bagian bokongnya, Hinata bergumam minta maaf pada sosok yang berdiri dihadapannya. Merasa sosok itu tetap tak bergeming, Hinata mendongakkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas siapa yang ditabraknya barusan.
Hal pertama yang dilihatnya adalah rambut hitam kelimis yang sangat rapi. Mata lelaki itu yang berwarna hitam pekat menjadi perhatian selanjutnya. Dan terakhir kulit pucat yang tak biasa, karena jarang sekali yang memiliki kulit sepucat itu.
"Sa-Sai-san?" Gumam Hinata heran dan sedikit gemetar. Ia tentu masih ingat dengan jelas alasan Sai, si murid baru, tidak masuk selama hampir 3 hari. "Ka-kau sudah baikan?" Tanyanya lagi, berharap pertanyaan basa-basi itu mampu mencairkan suasana yang terasa mencekam ini.
"Kura-kura." Ujar Sai tidak nyambung, yang membuat Hinata kembali menatap pemuda itu bingung.
"Kau mengingatkanku pada kura-kura jelek yang kumakan tempo hari." Lanjutnya ramah. Hinata yang merasa ada ketidak-sinkronan antara ucapan dan ekspresi wajah pada lawan bicaranya, hanya tersenyum tak yakin.
"Membuat perutku melilit mual saat mengingatnya." Ujar Sai lagi sembari menyunggingkan senyuman termanis andalannya. Dan pemuda itu kembali melangkahkan kakinya yang sempat tertunda tanpa menghiraukan si sulung Hyuuga yang nampak masih berusaha mencerna perkataannya barusan dengan wajah terguncang.
'Apakah… ia baru saja dihina… secara frontal?!' Batin Hinata tak percaya.
.
.
$(*_*)$
.
.
.
Déjà vu.
Ia benci situasi ini.
Sangat benci.
Seperti saat pertama kali masuk sekolah ini sebagai murid baru, ia benci menjadi pusat perhatian, dimana seluruh mata mengawasi gerak geriknya dan mengacuhkan privasinya.
Dan ia paling benci saat semua orang tak pernah membiarkannya sendiri.
Ia lebih suka… diabaikan.
Tak adakah seseorang yang menyadari hal sederhana seperti itu?!
Mood Sasuke benar-benar buruk ketika ia menginjakan kakinya dikelas pagi ini.
Seharusnya hari ini berjalan seperti biasa, dengan rutinitas yang biasa. Dimana semua penghuni kelas akan mengabaikan keberadaannya sehingga ia bebas mengacuhkan siapapun, Bukannya berusaha untuk tampak acuh.
Perasaannnya benar-benar tidak enak.
Disampingnya, Naruto masih menggandeng tangannya dengan wajah tenang, yang justru tampak ganjil di wajah pemuda berkulit tan itu.
Membuat siapapun yang melihat akan merasa curiga.
"Bisa tolong lepaskan? Kau membuatku risih."
"Nanti." Balasnya enteng. "Aku suka menggenggam tanganmu." Lanjutnya lagi tak kalah santai yang membuat Sasuke memutar matanya kesal.
Sangat kesal.
Hingga tak memperhatikan wajah suram yang memperhatikan mereka dengan tatapan sendu.
.
.
.
Firasat buruknya benar-benar terjadi.
Entah ada angin apa, tiba-tiba seorang Sakura kembali mengajak Sasuke bicara berdua, yang sebenarnya merupakan prediksi kesekian dalam daftar bencana paling di hindari seorang Uchiha Sasuke.
Sederhana.
Sasuke tidak pernah merasa perlu menanggapi dengan serius apa yang sedang atau telah dipikirkan gadis berambut sewarna bunga musim semi itu.
"Aku ingin tahu… bagimu…Naruto itu apa?" Tanya Sakura tajam saat mereka berdua telah sampai ditaman belakang sekolah. Tempat sepi yang jauh dari pandangan penggosip.
"Dulu…kau bilang tidak sudi berteman dengannya. Sekarang yang kulihat justru kebalikannya. Apa sebenarnya maumu?"
"…"
"Apa ini salah satu leluconmu? Mempermainkan Naruto?" Tanya Sakura dengan nada tinggi saat Sasuke tak juga merespon pertanyaannya. Emosi yang ia rasakan membuatnya tak bisa mengendalikan diri, termasuk air mata yang kini tampak menggenang di pelupuk matanya.
"Aku menyukai Naruto."
"…"
"Walaupun terlambat, aku akan terus memperjuangkannya sampai akhir, karena dia bodoh, juga keras kepala. Tapi, saat ia menyadari perasaannya tak bisa lepas dari ku… kuharap kau tidak mengganggu."
"…"
"Hanya itu yang ingin kukatakan, ku harap kau bisa mengerti." Ucap Sakura akhinya, Bosan dengan sikap diam Sasuke. Ia akan membalikan tubuhnya untuk bergegas pergi, saat lawan bicaranya memilih bersuara.
"Sakura…sepertinya kau salah paham."
"Apa?"
"Aku tidak pernah dan tidak akan menghalangimu mendekati Naruto." Ucap Sasuke datar, sembari mendekati gadis berambut merah muda yang sudah dengan berani memojokan dirinya beberapa saat lalu.
Tidak ada seorangpun yang bisa menggertak seorang Uchiha!
Sakura tanpa sadar melangkah mundur dengan ekspresi waspada saat melihat wajah dingin Sasuke yang makin mendekat.
"Aku hanya akan membuatnya sedikit sulit untukmu." Bisik Sasuke tepat di telinga Sakura, dan pergi meninggalkan gadis yang masih terdiam itu seolah tak pernah terjadi apapun.
.
.
.
"Sasukeeeee…." Teriakan cempreng itu terdengar saat Sasuke tengah terburu-buru menuju kelasnya. Dengan kesal sasuke melihat ke sekeliling. Perhatiannya tertuju pada remaja berkulit tan yang tampak berlari girang ke arahnya.
Aish! Tampaknya ia harus membiarkan Hinata menunggu lebih lama.
"Nah! Untuk mu." Ujar Naruto. Tidak terpengaruh pada wajah ketus gadis di depannya, ia segera mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna oranye yang menyolok mata, yang diterima sasuke dengan perasaan was-was. Perlahan, masih sangat ragu, Sasuke membuka kotak yang tampak seperti hadiah itu.
Jepit rambut.
Isinya jepit rambut berwarna biru yang…sangat…biasa.
Lelaki ini… niat tidak sih ngasih hadiah?
"Saat melihatnya aku jadi teringat padamu." Jelasnya tanpa diminta, yang lagi-lagi di ucapkan dengan semangat. Wajah tertekuk Sasuke yang seharusnya tampak jelas, luput dari perhatiannya.
"Nanti di pakai, ya." Seru Naruto lagi tak kalah riang.
Namun, senyuman cerianya sedikit memudar saat Sasuke menatapnya datar.
Jemari halus yang selalu digenggamnya, kini mencengkram kerah seragamnya erat. Kemudian menariknya pelan, membuat tubuh tegap Naruto sedikit membungkuk.
Pemuda itu merasa tidak bisa bernapas saat wajah Sasuke yang bersih tanpa noda terasa makin dekat… dan makin jelas.
Tubuhnya yang selalu di aliri energy berlebihan, kini tampak tak bisa berkutik.
Pikirannya kosong.
Udara terasa menipis saat ia berusaha menghirup sedikit oksigen untuk menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh dengan susah payah.
Saat ia merasa sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya, ia bersumpah, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Sentuhan ringan itu hanya terjadi dalam beberapa detik. Namun mampu mengacaukan semua perasaannya.
Naruto bahkan lupa caranya bernapas.
"Baka." Bisik Sasuke pada Naruto yang tampak membeku. "Bisakah kau sedikit lebih tenang?" Lanjutnya lagi dan pergi dengan anggun, meninggalkan pemuda itu mematung dalam posisi yang sama.
.
.
"Sasuke-chan…darimana saja? Aku mencarimu dari tadi." Keluh Hinata saat gadis itu melihat Sasuke menghampirinya dengan langkah santai.
"Ada hal tidak penting yang harus ku urus." Jawabnya acuh. "Kenapa? Ada tempat yang ingin kau kunjungi sebelum pulang?" Tanya Sasuke saat melihat wajah antusias gadis berambut indigo yang entah sejak kapan menjadi sangat dekat dengannya.
Mendengar tawaran itu, mata besar Hinata langsung berbinar senang.
"Umm! Ayo makan es cream. Aku yang traktir."
Yuks!
Sasuke menyesal sudah bertanya.
Tanpa bisa menolak, ia berjalan gontai disamping Hinata yang tak berhenti bersenandung riang. Langkah ringan mereka sangat bertolak belakang dengan kehebohan yang terjadi di depan gedung olah raga.
"DOKTERRRRR….SIAPAPUN… PANGGIL DOKTER KEMARI!" Jerit seseorang dengan kalang kabut ditengah-tengah murid yang berkerumun.
"Sudah kubilang, pertama-tama ukur suhu tubuhnya dulu!"
"Tidak! Lebih baik kita segera membawanya kerumah sakit.
"Narutoooo, sadarlah…. jangan berkunjung ke dunia lain seperti ini…"
Namun… sosok Naruto yang terus berdiri mematung dengan mata terbelalak dan rahang terbuka lebar tak juga berubah. Membuat semua yang hadir disana makin merinding ngeri.
.
.
tbc
.
.
for next chap:
"Bantu aku menyingkirkannya."
"Sakura… dia di rawat dirumah sakit sejak kemarin malam."
"Kau hanya ingin membalasku, kan? Ya, kan?! Naruto…"
"Beri aku kesempatan."
"Sakura… Biarkan aku disisimu…menjadi pendukungmu…untuk mencari sosok yang lebih baik dariku."
"Aku tidak akan minta maaf."
"Sasuke…kau benar-benar menyebalkan."
"Aku tahu. Sudah ada dalam darahku."
.
.
.
$(*.*)$
.
.
.
special thanks for:
ariesta87, Ken D Uzumaki, Ujumaki no gifar, Nivellia Neil, Veisa kazu nara, Sachi Alsace, Beautiful Garnet, MORPH, Aicinta, CindyAra, Aristy, Qren, AkemiYamato, Fuyuki Fujisaki, Noirouge, Rey, mocha-mochin.
I love read your reviews so much.
maaf lea gak bisa merespon satu-satu…harus ngedit fic lain soalnya. #sok sibuk.
review lagi yaaaa…
ku tunggu…
jaa.
