Title : Roommate
Author : YS
Main casts :
1. Cha Sun Woo a.k.a Baro
2. Lee Jung Hwan a.k.a Sandeul
3. B1A4 members as cameo
Genre : Romance, little humor, school life
Rate : M now
Status : 2shot [2 of 2]
.
.
IT'S YAOI !
.
.
DON'T FORGET TO REVIEW
.
.
ENJOY MY FIC
.
.
[Previously]...
"Ck, pervert" Sandeul memukul pelan lengan Baro dengan wajah yang memerah.
"Hei, lihat ada bebek terbang!" Baro menunjuk ke arah langit.
"Mana?!" Sandeul segera mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Baro, namun
CHU~ Baro mengecup pipi Sandeul sekilas dan segera berlari sambil tertawa.
BLUSH~ Sandeul merasakan pipinya memanas kembali seperti saat Baro mengecup pipinya malam itu. Sandeul tetap terdiam di tempatnya. Merasa Sandeul tak menyusulnya, Baro segera kembali dan duduk di hadapan Sandeul.
"Hey, kau marah?" tanya Baro lembut.
"Ani"
"Lalu?"
"Aku...aku malu" Sandeul menutup wajahnya dengan kedua tangan mungilnya. Baro semakin gemas melihatnya dan mencubit pipi namja manis tersebut.
"Yak! Kenapa kau malah mencubitku?!" Sandeul malah memputkan bibirnya kembali, mengabaikan Baro yang kini terlihat kesulitan menelan salivanya karena menatap bibir merah yang seperti minta dilumat tersebut.
"Karena kau sangat lucu! Yak, sudah ku bilang jangan poutkan bibirmu seperti itu atau aku benar-benar akan menciummu!" Baro kembali menggoda Sandeul. Sandeul bangkit perlahan.
"Traktir aku makan kimchi, baru kau boleh menciumku" Sandeul tersenyum nakal.
"Mwo?!"
-Chapter 2-
.
.
.
.
.
"Kalau ku traktir kimchi, aku benar boleh menciummu?!" Baro bertanya dengan wajah girang. Sandeul hanya menundukkan kepalanya sembari mengangguk.
"Baiklah, kajja kita beli kimchi !" dengan semangat Baro menarik tangan Sandeul ke tempat kimchi favoritnya.
"Ahjumma, kimchinya 2 porsi, seperti biasa" pinta Baro dengan sopan. Ahjumma penjual kimchi tersebut hanya mengangguk sembari tersenyum manis.
"Baro, kita duduk di sana saja" Sandeul menunjuk tempat sepi di salah satu pojok kedai tersebut. Baro hanya mengangguk dan mereka pun menuju ke sana.
YellowShipper©BaDeul
"Baro, kau semangat skali hendak menciumku saja. Bagaimana kalau kau tidak boleh menciumku?" Sandeul memeletkan lidahnya ke arah Baro.
"Aku akan tetap menciummu"
"Yak!" Sandeul mempoutkan bibirnya.
"Haha, kau ini lucu skali. Sudahlah, lupakan ciuman itu. Aku hanya bercanda," Baro mengusap-usap rambut Sandeul, sementara sang pemilik mulai blushing.
"Ish, berhenti! Kau merusak tatanan rambutku" Sandeul menjauhkan tangan Baro dan kembali merapikan rambutnya. Baro memandang Sandeul dengan kedua tangan menopang di dagu. Sandeul lama-lama merasa risih juga ditatap seperti itu.
"Ba..Baro.. jangan memandangku seperti itu" Sandeul menundukkan kepalanya.
"Wae? Kau manis, aku suka memandangmu" goda Baro dan mengedipkan sebelah matanya.
BLUSH~ Sandeul merasa wajahnya sudah memerah sempurna sekarang.
"Ish, dasar gombal" Sandeul kembali mempoutkan bibirnya, menghiraukan Baro yang mulai menelan salivanya kasar.
Tak lama kemudian makanan pesanan mereka pun datang. Baro yang rupanya benar-benar lapar pun makan dengan lahap, sementara Sandeul makan dengan tenang sembari tertawa kecil memperhatikan cara makan Baro yang seperti anak-anak.
"Pelan-pelan Baro, mulutmu belepotan" nasehat Sandeul dengan tiba-tiba dan mengarahkan jari jempol tangan kanannnya membersihkan makanan di sudut bibir Baro. Waktu terasa berhenti tiba-tiba saat Sandeul melakukan itu, apalagi Baro menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Sandeul terkejut saat Baro menggenggam tangannya yang tengah digunakan membersihkan sudut bibirnya.
"Wa..wae? Aku hanya membersihkan mulutmu" Sandeul membulatkan kedua matanya.
"Gomwo" Baro menyahut dan mencium punggung tangan Sandeul, membuat Sandeul semakin terkejut dan segera menarik tangannya. Mereka kembali makan, kali ini hening.
YellowShipper©BaDeul
"Baro, ini pukul berapa? Mengapa sudah sepi?"
"Pukul 07.00 KST. Yah, ini musim dingin. Tentu lebih nyaman berada di rumah bukan?" jelas Baro sembari menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Jujur saja, ia juga kedinginan.
"Baro, kau juga kedinginan? Mulutmu berasap"
"Yeah, ini sudah biasa saat musim dingin, Deullie" Baro mencoba tersenyum walaupun rasanya bibirnya nyaris beku.
"Biar aku bantu hangatkan, Baro" Sandeul meraih tengkuk Baro dengan tangan kanannya dan menempelkan bibir cherrynya pada bibir tipis Baro.
Baro terkejut. Sangat. Apalagi dilihatnya Sandeul memejamkan matanya dan tampak menikmati penyatuan bibir mereka. Dengan sedikit keberanian yang muncul, Baro menarik pinggul Sandeul dan mempersempit jarak mereka, sehingga bibir mereka semakin menempel. Baro mendorong tubuh Sandeul ke arah batang pohon di belakang mereka dengan perlahan, sementara bibirnya mulai berani melumat pelan bibir cherry itu. Baro menumpukan tangannya pada batang pohon di belakang Sandeul, sementara Sandeul mengalungkan kedua tangannya ke leher Baro.
"Eungh.. Baroh.." satu desahan meluncur dari bibir manis Sandeul. Baro pun mengentikan ciumannya dan menatap Sandeul dalam.
"Wae?"
"Aku.. aku malu" Sandeul menundukkan kepalanya dan meremas ujung hoodienya.
"Hahaha, kau ini lucu skali, padahal tadi kau yang memulai" Baro mengusap ujung bibir Sandeul yang basah oleh saliva entah milik siapa.
"Baro.. kajja kita kembali"
"Ya sudah, kajja" Baro menggandeng tangan Sandeul dan kembali melalui jalan saat mereka pergi tadi.
YellowShipper©BaDeul
"Baro, tunggu!"
"Waeya? Kau melihat sesuatu?"
"Itu.."
"Ah, kedai soju. Waeya?"
"Kajja kita kesana?"
"Untuk apa?"
"Euhm, sudah lama aku tidak minum soju" Sandeul tersenyum manis sehingga membuat kedua matanya menyipit.
"Mwo? Kau minum soju? Mian, tapi aku tidak minum"
"Ah begitu ya" Sandeul bergumam pelan. Nada kecewa tersirat dalam kalimatnya.
"Tapi jika kau mau minum, aku bisa menemanimu" kini gantian Baro yang tersenyum memamerkan dua gigi tupainya.
"Jinjja?! Kajja kita kesana!" Sandeul menarik tangan Baro dengan semangat, Baro hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ahjussi, sojunya 1 tolong dibawa ke meja disana" Baro memesan soju untuk Sandeul, kemudian segera mengikuti Sandeul yang sudah duduk duluan.
"Sudah kamu pesan?"
"Nde sudah" Baro mengangguk pelan. "Hei, bagaimana jika kamu nanti mabuk?"
"Mabuk? Ah ani, biasanya aku jarang mabuk" Sandeul tersenyum manis. Baro kembali mengangguk pasrah. Pasrah, pasrah jika dirinya nanti harus memapah Sandeul yang mabuk kembali ke asrama mereka.
"Permisi, saya mengantarkan pesanan" seorang maid datang dan meletakkan dua gelas serta satu botol soju di hadapan mereka.
"Gamshahamnida" Sandeul membungkuk sopan. "Baro, kau benar-benar tidak minum?" Sandeul bertanya memastikan.
"Ah ani. Aku harus tetap sadar" jawab Baro.
"Sadar?"
"Ah, ani lupakan saja. Sudah, cepat minum sojumu lalu kita pulang sebelum pintu asrama dikunci."
"Um. Baiklah" Sandeul mulai menuangkan separuh botol soju ke gelas nya. Perlahan meneguk minuman beralkohol itu dan mengecap rasanya. Aneh, ia merasa pusing. Padahal terakhir kali dia minum soju, Sandeul tak pernah merasa seperti itu.
"Sandeul-ah? Gwaenchana?" Baro bertanya khawatir melihat raut wajah Sandeul yang berubah dan pipinya yang memerah.
"Ne, gwaenchana" Sandeul tak terlalu memusingkannya dan kembali meminum sojunya. Lagi dan lagi, hingga isi botol itu benar-benar habis dan Sandeul pun terkapar(?) di meja kedai itu.
"Sandeul-ah? Kau mabuk eoh?" Baro bertanya dengan ekspresi datar. Ya, sebenarnya Baro sudah tahu. Orang yang baru pertama kali meminum soju setelah sebelumnya tidak pernah meminum lagi, pasti rasanya akan aneh.
"Baro.. hik.. aku.. hik.. tidak mabuk.. hik.. kok.." entah sadar atau tidak, Sandeul menjawab pertanyaan Baro.
"Ck, kau itu namanya mabuk! Sudah, kajja kita pulang" Baro segera membayar dan kembali untuk memapah Sandeul.
"Ish, Baro.. hik.. aku.. hik.. bisa.. jalan kok.. hik" Sandeul melepaskan diri dari genggaman Baro dan mencoba melangkah normal, namun malang malah menabrak pintu kedai itu. Sandeul pun limbung, untung ada Baro di sampingnya.
"Yak! Kau itu sudah mabuk masih saja sok kuat" Baro kembali memapah Sandeul, kali ini benar-benar kembali ke asrama mereka. Beruntung gerbang asrama itu belum dikunci oleh penjaga sekolah. Baro memapah Sandeul kembali ke kamar mereka dan membaringkan Sandeul di kasurnya. Setelah membuka sepatu dan kaos kaki Sandeul, Baro pun ke kamar mandi untuk sikat gigi serta mencuci kaki dan tangannya sendiri. Baro kembali ke kamarnya dan berganti piyama, kemudian segera berbaring di samping Sandeul, menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur. Jujur saja, ia cukup lelah hari ini. Baro tersenyum memandang Sandeul di sampingnya yang tertidur dengan wajah masih memerah gara-gara efek soju. Perlahan tapi pasti, Baro mulai kehilangan kesadarannya dan menuju ke alam mimpi..
BRUGH~
"Baro..."
"Ish.. menjauh.."
"Baro-ah.. bantu aku.."
"Ck, aku mengantuk..."
Baro cukup terkejut saat membuka matanya di tengah malam dan menemukan Sandeul yang tengah menindihnya dengan keadaan topless dan pipi memerah. Baro memandang jam sekilas, pukul 01.00 KST.
"Deulie, apa yang kau lakukan?!"
"Badanku dingin Baro.."
"Mwo?! Mengapa dingin?! Lalu aku harus bagaimana?" Baro menyentuh dahi Sandeul dengan telapak tangannya. "Tidak panas kok?! Kamu tidak demam"
"Tapi akuh kedinginan.." Sandeul mengarahkan tangan Baro menuju selangkangannya dan ternyata junior Sandeul sedang menegang di dalam sana.
"Sa..sandeul.. Apa yang kau lakukan?" Baro menelan salivanya panik, sibuk memilih antara akal sehat dan napsu yang sedikit mulai merambati dirinya.
"Hangatkan aku Baro" Sandeul mengecup sekilas bibir tebal Baro.
GLEG~
"Kau yang menggodaku Deullie" akal sehat Baro ternyata terkalahkan oleh napsunya. Dengan cepat Baro segera membalik keadaan sehingga kini Sandeul yang berada di bawahnya.
"Aghh.. pelan-pelan Baro" Sandeul mempoutkan bibirnya. Keadaannya masih antara sadar dan tidak.
"Kau yang menggodaku, Deullie. Jadi jangan salahkan aku jika ini 'sedikit' menyakitkan" Baro menggigit pelan pipi Sandeul.
"Ne Baro, i'm yours tonight" Sandeul mengalungkan kedua tangannya ke leher Baro, menariknya dan melumat pelan bibir Baro, menunggu respon dari sang empunya.
Baro tak menyia-nyiakan keagresifan Sandeul, malahan ia senang karena ia tak perlu susah-susah membujuk uke manis ini. Baro melumat lembut bibir Sandeul, menghisap-hisap bibir bawahnya hingga sedikit membengkak. Lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ganas dan panas tatkala Baro menelusupkan lidahnya ke mulut Sandeul dan mengabsen semua yang ada di dalam sana.
"Eungh.." Sandeul melenguh merasakan nikmat yang mulai menjalar dalam tubuhnya walaupun ini baru sekedar foreplay.
"Menikmatinya baby?" Baro turun ke leher Sandeul, menjilat-jilat dan menggigit leher mulus itu, menciptakan kissmark yang mulai saat ini menandakan bahwa Sandeul miliknya.
"Ahhkk... appo Baro"
"Mianhae baby" Baro kembali menjilat leher Sandeul guna sedikit menghilangkan sakit yang diciptakannya sendiri.
Sandeul membuka kancing piyama Baro satu-persatu, mengelus dada bidang itu dan mencubit nipple Baro.
"Ahk.. nappeun uri Deulie" Baro menggesek-gesekkan kejantanan mereka yang masih tertutup kain, sehingga menciptakan desahan yang lebih menggoda dari bibir cherry Sandeul.
"Sudah tegang eoh" Baro merangkak turun menghadap selangkangan Sandeul, mengecup junior itu dari luar celana dan menggigit-gigit kecil batang tegang itu.
"Baroh..bukah" Sandeul mengarahkan tangan Baro agar membuka celananya, cairan cum sudah menetes deras dari ujung juniornya.
Baro menurunkan celana Sandeul sekaligus underwearnya, sehingga kini tampaklah pemandangan yang mengagumkan, Sandeul naked dengan junior tegang berlapis(?) sperma.
"Baroh.. jangan diliath sajaah.."
"Sudah tak sabar ne?" Baro menggenggam junior Sandeul dan memaju mundurkan dalam tangannya, menjilat ujung junior Baro dan memasukkan lidahnya ke slit Sandeul.
"Baroh... jebalh masukan.."
"As you wish baby" Baro pun mengulum junior Sandeul dengan irama pelan, namun lama kelamaan semakin cepat dan semakin cepat.
"Ah.. ku.. akan.. sampaih.. Baroooo~!" Sandeul menjeritkan nama Baro tatkala titik putih membutakan matanya dan cairan sperma mengucur deras dari lubang juniornya. Baro menelan habis cairan Sandeul tanpa jijik sedikitpun.
"Sekarang manjakan aku baby"
Baro membuang kemejanya sembarang arah, serta menurunkan celananya beserta underwearnya sehingga terpampanglah 'little Baro' yang sanggup membuat Sandeul blushing menatapnya. Bagaimana tidak? junior Baro berukuran dua kali lebih besar dari milik Sandeul, dengan cairan precum di ujungnya dan urat-urat yang menonjol menunjukkan betapa tegangnya milik Baro.
"Kau menyukainya?" tanya Baro menggoda dengan mengoral juniornya di hadapan Sandeul.
"Ne. Bolehkah?" Sandeul menggenggam junior Baro perlahan.
"Tentu saja. Ini milikmu baby, nikmatilah" Baro memasukkan juniornya ke mulut Sandeul, tentu saja itu tak dapat masuk semua mengingat ukuran junior Baro yang dibandingkan dengan mulut mungil Sandeul.
Sedikit tersedak, Sandeul tak menghentikan kegiatannya. Sandeul mengulum junior Baro dari ujung bawah ke atas serta memainkan twinsballnya. Beberapa menit kemudian, Baro merasa cairannya akan segera datang, dengan tergesa ia segera mengeluarkan juniornya dari mulut Sandeul.
"Yak! Waeyo?!" protes Sandeul.
"Menungging baby.."
YellowShipper©BaDeul
"...aahh.. fasterh Baroh..."
"Eoh? Suara apa itu?"
Terlihat CNU mengendap naik melalui pagar asrama. Pakaiannya santai dengan jaket hitam yang membantu menghangatkan dirinya dari dinginnya udara Seoul malam hari. Baru habis kencan sepertinya. CNU segera masuk dan naik ke lift yang akan membawanya ke kamar asramanya sendiri. Namun CNU cukup terkejut mendengar suara aneh yang tercipta dari pintu kamar yang baru dilewatinya. CNU membaca tagname di pintu,
"Cha Sun Woo & Lee Jung Hwan"
"Mwo?! apa yang mereka lakukan semalaman ini?!"
Rasa penasaran mendorong CNU untuk membuka pintu itu, dan semakin terkejut pula karena ternyata pintu kayu itu tak terkunci. Pemandangan yang ada di dalam cukup membuat CNU membulatkan kedua mata sipitnya dan langsung noseblood saat itu juga. Bagaimana tidak?! Terlihat Sandeul yang sedang menungging dengan Baro di atasnya yang memaju mundurkan juniornya dengan kecepatan brutal(?) di hole namja manis itu.
Tak ingin mata sucinya(?) semakin ternoda, CNU kembali menutup pintu itu dan masuk menuju kamarnya sendiri. Bibir pucatnya menunjukkan betapa ia masih shock saat ini.
YellowShipper©BaDeul
"Annyeong Baro~!"
GLUP~
Baro cukup terkejut mendengar semua teman sekelasnya menyapanya pagi itu.
"A..annyeong. Wae?" Baro bertanya bingung.
"Ah ani." Balas mereka kembali serempak.
"Sepertinya kau mendapat keuntungan tinggal di asrama khusus namja ini, Baro" Gongchan menaik-turunkan alisnya.
"Apa? Apa maksudmu?"
"Maksudnya, jika kau mau tidur sebaiknya jangan lupa kunci pintu asramamu!" kali ini CNU yang angkat bicara.
"Mwo?!" sepertinya kini Baro mengerti apa yang terjadi~
END
Annyeong para readers yg baik hati~!
Cuma mo minta maaf gara2 update lama banget. Beberapa waktu ini sibuk weh :3
#soksibuk
Tapi makasih ya buat yang udah setia nunggu ampe akhirnya aku update lagi
#emangadayangnunggu? ._.
Aku ga pinter cuap-cuap, intinya aku cuma mo minta maaf karena telat update.
Akhir kata, review di tunggu banget!
Gomawo ^^
*bow bareng BaDeul*
