Precious Person
- A Megami Tensei Fanfiction –
Summary :
NaoMina fanfiction series 2 : FLASHBACK. Minato and Naoya are still dating. Naoya's 23 years old, Minato's 19 years old still in university, they are living together. Naoya received an invitation to attend a university reunion. It's stated on the invitation that Naoya could bring his lovers / wives. But why did Naoya refuse to bring Minato along?
Disclaimer :
Devil Survivor and Persona 3 belongs to ATLUS.
###
Episode 2 :
"He is MINE."
###
- Naoya's Apartment. Evening. a year back.
Aoyama tengah hujan lebat hari itu. Pria berambut silver dan mengendarai sebuah Mercedes-Benz GL Grand Edition tengah memasuki area apartemennya. Jangan tanya darimana ia mendapat mobil itu. Laki-laki bermata merah itu memarkir mobilnya dan berlari masuk ke lobi apartemen. Langsung menaiki lift untuk mencapai 'rumah'nya.
"Aku pulang..." Suara Naoya terdengar dari pintu masuk apartemen. Laki-laki berpostur tinggi itu melihat sepasang sepatu kets hitam di rak sepatu. Sepatu milik kekasihnya yang sudah pulang kuliah kira-kira beberapa jam yang lalu.
"Selamat datang, Naoya." Suara Minato yang tenang dan minim emosi menyambut dari dapur. Wangi khas daging yang sedang dimasak serta suara desis penggorengan yang tengah digunakan dengan lincahnya oleh Minato membuat Naoya lapar. Ia memasuki dapur dan memeluk mahasiswa yang berstatus sebagai 'pacar rahasia' Naoya sejak beberapa bulan yang lalu. Tubuhnya sedikit basah karena berlari menerobos hujan dari mobil ke lobi.
"Mandilah dulu, kau basah dan tanganmu dingin. Nanti kau sakit." Minato mendongak keatas dan bertemu sepasang mata merah yang menyeringai ke arahnya. Naoya melepas headset yang menempel di telinga Minato dan mencium bibir pemuda itu singkat. "Kalau aku sakit, toh ada dirimu yang menjagaku kan?"
Wajah pemuda berambut biru itu memerah seketika. Walaupun ia terlihat pendiam dan cool diluar, jika Naoya bersamanya, seluruh dinding-dinding pertahanan yang selama ini dia bangun agar tak banyak memperlihatkan emosi runtuh semuanya. Hanya Naoya yang dapat membuat emosinya berkecamuk, membuat dirinya lepas kendali atas semua emosinya, membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, membuatnya haus akan perhatian dan sentuhan-sentuhan Naoya padanya. Dan... Membuatnya merasakan apa yang belum pernah ia rasakan. Yaitu 'Cinta'.
"Mmhm... Ah, tadi saat aku datang, aku menemukan undangan di kotak surat. Untukmu." Minato menunjuk meja makan. Terdapat sepucuk undangan mewah disana. Naoya melepas pelukannya sejenak. Ia melihat isi undangan itu dan langsung menaruhnya kembali dimeja.
"Undangan apa itu?" Tanya Minato penasaran sambil tangannya terus memotong sayuran.
"Hmm... Reuni kuliah." Naoya melepas haori dan kausnya yang basah, memperlihatkan tubuhnya yang bisa dibilang atletis. Minato yang tak sengaja menoleh cepat-cepat kembali berfokus pada masakannya. Naoya yang melihat reaksi polos Minato langsung tertawa mengejek dan mencolek pinggang si pemuda yang badannya lebih kecil darinya.
Dan Minato benci sekali dicolek-colek, dimanapun itu.
(Karena walau tak ingin mengakuinya, tubuh Minato sangat sensitif. Atau GELIAN.)
"AHH! Naoyaaaaa...!" Minato yang sangat kesal hendak memukul seme-nya, hanya untuk dipegangi tangannya dan Naoya kembali mencium Minato.
Sebuah tindakan kecil yang mampu membuat Minato speechless.
Naoya kembali tertawa melihat kepolosan Minato, yang baru dicium sedikit saja sudah memerah sampai ke telinga. Sebelum kekasih kecilnya itu kembali memukulnya, Naoya bergegas memasuki kamar mandi. Minato yang kelewat malu hanya bisa melanjutkan masak-memasaknya. Ketika ia selesai, ia menata makanan-makanan itu diatas meja dan melepas apron yang ia kenakan. Sambil menunggu Naoya selesai mandi, ia mengintip isi undangan itu.
"Undangan reuni Universitas Tokyo di Mandarin Oriental Tokyo Hotel... HAH? I-itu kan hotel mewah... Dan aju baru tahu Naoya lulusan Todai, Naoya memang hebat. Boleh membawa kekasih, suami/istri maupun anggota keluarga anda."
Minato terdiam. Kekasih ya... Ia sebenarnya ingin ikut. Ia ingin tahu seperti apa Naoya saat kuliah. Tapi apa boleh? Tak lama setelah Minato menaruh kembali undangannya, Naoya masuk dengan menggunakan kemeja cokelat dan celana panjang hitam.
"Naoya..." Alih-alih memberikan koran malam, Minato membuka pembicaraan.
"Hm?"
"Boleh aku ikut ke acara reuni itu?" Pertanyaan singkat Minato membuat Naoya kaget. Tak biasanya Minato ingin ikut ke tempat ramai kecuali memang perlu.
"Tumben kau ingin ikut. Ada apa?" Mata Naoya memandangi Minato lekat-lekat.
"Um.. Yah.. Katanya boleh membawa kekasih kan?" Wajah Minato sedikit bersemu merah ketika mengucapkan kata 'kekasih'. Naoya berfikir sejenak dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak boleh."
"Kenapa? Kan di undangannya boleh." Minato protes pada Naoya. Kenapa? Toh boleh kan membawa... Ehm, kekasih?
"Pokoknya tidak boleh." Naoya tetap melarang. "Kalau sampai ketahuan bagaimana? Kau mau kita ketahuan?"
"Kan hotel itu bukan daerah sini!"
"Tetap tidak boleh."
"Kenapa sih!?"
"Pokoknya... Itu bukan tempat untuk anak-anak."
'Kenapa Naoya berkata seperti itu?' Hanya itu yang ada di kepala Minato saat ini.
Seolah...
Aku ini belum jadi kekasihnya.
PLAK! Koran yang Minato gulung ia pukulkan kearah Naoya. Pria yang dipukul hanya diam sambil memandangi Minato yang ternyata berurai air mata.
"TERSERAH!" Minato langsung berlari keluar apartemen. Diluar masih hujan lebat. Naoya tetap diam pada posisinya. Sambil makan, ia menggumam.
"Ngambek deh."
.
.
.
"Oooh... Jadi Naoya berani bicara begitu pada kakak?" Minato yang berlari menyusuri jalan tanpa arah, bertemu dengan adik perempuannya, Minako. Gadis berambut cokelat kemerahan itu membawa sang kakak yang tengah sedih itu kembali ke apartemennya.
"Ugh..." Minato memang sudah berhenti menangis. Setelah ia mandi dan mengganti pakaian, ia duduk diruang tengah dengan selimut dan susu panas. (Minato tak suka cokelat. Kecuali cokelat batangan)
"Sudahlah kakak, biar aku, Minako Arisato yang menyelesaikan kegundahanmu!" Minako menepuk kedua pundak kakaknya. Minato memandangi adiknya dengan tatapan bingung. Sementara sang adik tersenyum-senyum sendiri memikirkan apa yang akan ia lakukan pada kakaknya yang manis ini.
Salah memang keputusan Minato berkonsultasi pada adiknya.
Karena Minako ini dikenal selalu memiliki ide-ide yang kelewat 'unik'.
.
.
.
- Mandarin Oriental Tokyo Hotel, Hall.
Banyak sekali orang-orang dewasa disini. Sebagian tengah mengobrol, sebagian lagi tengah menyicipi makanan yang tersedia. Naoya Minegishi tengah berbicara dengan dua teman kuliah-nya, Seijuurou Akashi dam Reo Mibuchi.
"Kau datang sendiri, Naoya?" Pria berambut merah pemain shogi mengubah arah pembicaraan. Ia memakai kimono merah lengkap dengan haorinya. Reo memakai jas hitam dengan dasi ungu.
"Begitulah, kau sendiri Akashi?" Naoya, karena pulang kerja langsung kemari ia memakai pakaian biasanya. Kaus biru, celana panjang abu-abu dan haori hitam dengan motif angka-angka matrix hijau.
"Yah, aku juga datang sendiri. Tapi kudengar kau sudah punya pasangan bukan?"
"Kau juga sudah punya kan? Kenapa tidak kau bawa juga?"
Reo memandangi dua orang yang bersuara mirip dengan pandangan 'astaga-kalian-ini-jangan-membuatku-pusing'. "Hei kalian berdua, sudahlah! Bagaimana kalau kita mengambil minuman? Kau mau juga Sei-chan?"
"Mmhm, boleh saja. Ambilkan aku tapi jangan terlalu banyak." Perintah mantan kapten tim basket Rakuzan itu pada mantan Shooting Guardnya. Reo yang dulu terbiasa disuruh-suruh Akashi dan masih tidak berani melawannya, menurut dan pergi mengambilkan minuman untuk Akashi dan Naoya.
.
.
"... Minako. Kenapa kau mendandaniku seperti ini?" Minato dan Minako tengah berada di kamar mandi wanita. Kenapa Minato bisa masuk? Lihat saja sebentar lagi.
"Fufufu, kakak sangat manis seperti ini. Salahkan wajahmu yang ambigu itu." Minato tanpa ragu memukul kepala adiknya dengan kipas yang ia bawa. Wajah yang ambigu? Apa maksudnya?
"Pertama, wajahku tidak ambigu. Kedua, kenapa kau mendandaniku seperti WANITA?! Aku ini—mmph!" Minako dengan cepat menutup mulut Minato. Kenapa? Nyaris saja Minato membuka identitas aslinya, karena beberapa wanita di toilet ini sudah memandangi mereka dengan tatapan aneh.
"Sssh! Hanya ini caranya agar kau dapat masuk dengan aman tanpa membuat Naoya tampak aneh Bakanii!" Bisik Minako sedikit kesal.
"... Aneh? Atau jangan-jangan ini alasan Naoya tak mengajakku karena kami sama-sama laki-laki?" Ujar Minato pelan. Minako mendesah, kadang kakaknya ini memang suka over-thinking terhadap sesuatu. Berbeda dengannya yang suka langsung bertindak tanpa berpikir.
"Hus! Sudahlah sana masuk! Keburu acaranya selesai!" Minako mendorong kakaknya masuk kedalam hall. Wangi sake, rokok, dan parfum orang dewasa langsung menyapa Minato.
Pemuda itu mengenakan mini dress hitam turtleneck tanpa lengan dengan selendang putih keunguan. Sepasang high-heels dikaki jenjangnya. Di dadanya... Ya, ia dipaksa memakai bra oleh Minako. Dan entah apa yang gadis itu masukkan kedalamnya. Rambutnya tetap dibiarkan pendek namun di jepit dengan jepit bunga mawar. Kalau melihat Minato yang seperti ini, takkan ada yang menyangka kalau Minato adalah laki-laki.
Disini banyak sekali orang dewasa, tak ada anak-anak. Namun bukan itu yang dipikirkan Minato, tujuannya kemari adalah menemukan Naoya. Namun itu adalah hal sulit melihat betapa banyak orang dewasa disini. High heels yang ia pakai juga sangat tidak nyaman.
"Ah.. Maaf!" Minato beberapa kali menabrak wanita-wanita dewasa yang ada di sana. Kemudian salah seorang pelayan membawakannya minum. Ia kira itu adalah jus jeruk, melihat warnanya yang mirip. Tetapi...
'Sa-sake!?' Minato yang kaget langsung menjatuhkan minumannya, dan terpeleset jatuh. Ia belum boleh meminum sake! Usianya masih 19 tahun!
"Hei, kau tidak apa-apa? Sudah mabuk ya?" Salah seorang laki-laki mengulurkan tangannya untuk membantu Minato berdiri, pemuda bermata silver ini berdiri sempoyongan karena high-heelsnya menyakiti kaki Minato yang tidak terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. Setelah menuturkan kalimat 'terima kasih', Minato berjalan menjauhi kerumunan orang. Kedekat sebuah kaca besar.
Ia melihat dirinya sendiri, 'Ini bukan aku.' Pikirnya.
'Naoya benar, seharusnya aku tidak kemari. Aku sangat berbeda dari orang-orang ini. Mereka semua orang dewasa. Sementara aku? Aku masih... Anak-anak, jika dibandingkan dengan mereka. Aku bahkan tak bisa meminum sedikit sake!' Minato menyentuh kaca dihadapannya dengan tatapan nanar.
'Naoya pasti malu, dunianya dengan duniaku sangat berbeda. Seandainya aku menurutinya tetap di rumah selama ia pergi, ini takkan terjadi. Aku... Aku ini tak pantas bersama Naoya... Sebaiknya aku pulang saja.'
.
.
"Hei Naoya, kapan menikah? Ingat umur~!" Satu lagi kawan Naoya, Kotarou Hayama tertawa sambil mengobrol dengan si programmer.
"Berisik, nanti pasti ada waktunya." Naoya meminum segelas screwdriver pesanannya. Matanya melihat sekeliling Hall. Matanya menangkap sesosok... Wanita? Yang terlihat sangat familiar dimatanya. Wanita yang mirip Minato, sama-sama berambut biru, poni emo itu, dan mata itu...
Tak salah lagi, itu memang Minato.
"Permisi sebentar." Naoya beranjak pergi dari posisinya.
"Kau mau kemana Naoya?" Reo mencoba menghentikan Naoya, karena reuni mereka belum selesai.
"... Istriku mencariku."
Reo, Akashi, dan Kotarou sukses dibuat bengong. "YANG MANA ISTRIMU?!"
.
.
Minato kesulitan menemukan pintu keluar karena Hall ini sangat besar. Saat ia tengah mencari-cari pintu keluar, dua orang laki-laki menghampirinya.
"Sendirian saja nona, anak jurusan apa?" Salah satu dari mereka bertanya. "Atau kau tersesat? Bagaimana kalau kami temani, dengan begitu kan tidak akan kesepian." Pria itu mencolek pinggang Minato. Pemuda berambut biru itu harus menutup mulutnya untuk menahan teriakan keluar dari bibirnya.
'Ini salahku, seandainya aku tidak kemari... Maaf Naoya, maafkan aku...'
Sebelum Minato sempat menyelesaikan pikirannya, sebuah tangan kekar yang sangat dikenal Minato melingkarkan dirinya ke pinggang ramping laki-laki berparas manis ini. Dalam beberapa detik, Minato sudah aman dalam pelukan hangat Naoya.
"Na-Naoya?" Minato mendongakkan kepalanya agar bisa bertemu mata dengan kekasihnya. Wajah Naoya yang biasanya dihiasi seringaian kini terlihat begitu marah.
"Jangan sentuh dia seenaknya." Ucap Naoya dingin. "Dia ini milikku."
'Milikku katanya...' Minato menyentuh pipinya yang memerah. 'I-itu sih lebih hebat dari pacar.' Wajah minato semakin memanas ketika pelukan Naoya di pinggangnya semakin erat.
"Kita takkan menang melawan Minegishi..." Dua orang laki-laki seusia Naoya tadi mendesah tanda menyerah dan beranjak pergi. Saat kedua laki-laki tadi menghilang dari pandangan, Naoya langsung menarik Minato keluar. "Kita pulang."
"Na-Naoya pelan-pelan... Kakiku sakit.." Naoya tak menjawab namun memelankan cara jalannya. Minato menatap Naoya, lalu ia berhenti. "... Maaf Naoya..."
Tanpa banyak bicara, Naoya menarik Minato kembali ke pelukannya dan langsung melumat habis bibir Minato dalam sebuah ciuman panas. Tak mempedulikan kalau mereka tengah berada di muka umum. Naoya melepaskan ciumannya ketika ia merasa kalau Minato mulai kehabisan nafas.
"Ki-kita di depan umum..." Wajah Minato memerah karena kehabisan oksigen dan karena malu.
"Takkan ada yang tahu kalau kau laki-laki dengan penampilan begini." Naoya kembali mengunci bibir mereka berdua. Tak mempedulikan tatapan-tatapan orang di sekitar mereka.
"Maaf.. A-aku berlaku kekanak-kanakan! Aku tidak pantas jadi kekasih Naoya. Kau pasti marah kan.." Naoya terdiam. Ia melingkarkan tangannya pada pinggang Minato dan mengelus pipinya perlahan.
"Kau itu ngomong apa sih. Aku tidak marah padamu. Hanya sedikit... Kesal saja. Seenaknya kau datang kemari dengan penampilan semanis itu. Kamu itu seperti masuk kandang singa lapar, tahu tidak?" Naoya mencubit pipi Minato dengan gemas.
"Kau sendiri tahu kan disini banyak laki-laki? Lihat kejadian barusan! Seandainya aku tidak datang, sudah habis kau jadi makan malam mereka."
"... Maaf Naoya..." Minato menunduk tanda ia merasa bersalah. Ini pertama kalinya Naoya memarahinya. Biasanya dia yang mengomel pada Naoya.
"Aku lebih tenang kalau kau ada dirumah.." Naoya mendekap erat Minato. Membiarkan lelaki berambut biru itu merasakan hangat tubuhnya. "Aku tak ingin memperlihatkanmu pada siapapun. Jadi mana mungkin aku membawamu ketempat yang banyak laki-lakinya seperti itu?"
...
Minato mengerti sekarang. Naoya bukan tak mengakuinya sebagai kekasih. Naoya tidak mau memperlihatkan kekasihnya pada orang lain. Karena menurut Naoya, yang boleh melihat dirinya hanyalah Naoya seorang.
Minato baru tahu kalau Naoya adalah orang yang posesif.
"Maafkan aku." Minato memeluk Naoya erat sambil membenamkan wajahnya di dada bidang programmer bermata merah itu.
"Kalau merasa bersalah, permintaan maafnya dengan ciumanmu saja." Naoya menyeringai licik. Minato menatapnya dengan wajah memerah dan berjinjit untuk mencium Naoya. Namun...
Apadaya, ia tidak sampai.
"U-uuhh... Maluuuu..."
"Malu atau tidak sampai?"
PLAK! Kipas merah Minako bertemu dengan pipi Naoya. Pria yang lebih tinggi itu menggerutu kesakitan sementara Minato berbalik arah. Ngambek.
"Maaf maaf, ayo pulang." Naoya menggandeng Minato menuju mobilnya. Keduanya merasa lega dan senang karena menurut Minato mereka menjadi semakin dekat. Atau istilahnya saat SMA dulu, 'Social Link, Rank Up!'.
.
.
.
"Kami pulaaanggg..." Baru saja Minato melepas sepatu hak tingginya, ia sudah digendong bridal style kekamar dan dijatuhkan ditempat tidur. Naoya tiba-tiba sudah berada diatas Minato, menindihinya.
"Na-Naoya?"
"Kau kira aku akan menyia-nyiakan penampilanmu yang manis ini? Tidak akan." Naoya berbisik langsung ditelinga Minato. Membuatnya bergidik dan memerah. Naoya dengan cepat berpindah ke leher jenjang Minato, menghisap titik-titik sensitif yang dia hafal betul dimana tempatnya. Membuat laki-laki bermata silver kebiruan itu mendesah pelan.
"Aku ingin melihat apa isi dadamu itu. Seingatku malam kemarin masih datar."
.
.
Esoknya, Minato tidak masuk kuliah, dan Naoya bermain dengannya SEHARIAN.
Episode 2 : He's Mine. End.
Author Notes :
Uwaahhh terima kasih untuk Ai yang sudah meripiu fanfic saya. Saya beneran girang! Banzaai!
Ide fanfic ini saya ambil dari manga 'The First One' karya Mitsuki Kaco! Terima kasih banyak atas inspirasinya!
Chapter ketiga saya usahakan cepat di upload asalkan saya dapat review lagi! Arigatou Gozaimasuu!
Ciao!
Velvet Roses
