Precious Person
- A Megami Tensei Fanfiction-
Summary :
NaoMina Fanfiction Series : The baby's finally born into this world. Naoya and Minato's life couldn't get any happier. Valentine's day draws near, Hibiki and Minato forms a plan, Yamato is pissed, Naoya's annoyed. In the end, everything was only a joke.
Warning :
YAOI, malexmale relationship. Cameos and other couples from various games / animes. MPREG. You have been warned. Last name-First name context. Hiro's name will be changed to Kuze Hibiki. Since the anime says so. Sorry for the incompetence.
Disclaimer :
Devil Survivor and Persona 3 belongs to ATLUS.
###
Episode 4 :
"Valentine Day Surprises."
###
- Naoya's and Minato's Apartment. Morning.
Dua tahun telah berlalu sejak Minato melahirkan anak mereka. Perjuangan yang tidak mudah dan dibumbui rasa sakit yang amat sangat di pihak Minato, dan rasa panik yang luar biasa saat proses kelahiran di pihak Naoya. Laki-laki yang berprofesi sebagai programmer itu melesat dari kantornya ke rumah sakit begitu Hibiki dan Minako (Yang saat itu tengah menemani Minato dirumah) meneleponnya dan memberi tahu bahwa Minato akan segera melahirkan.
Setelah berjam-jam di ruang operasi, akhirnya Naoya dapat bernafas lega karena Minato berhasil melewati masa-masa persalinannya dengan selamat, melahirkan seorang putri mungil yang dinamai Minegishi Akari yang berarti cahaya atau kesucian. Matanya bulat berwarna biru seperti Minato. Wajah bayi mereka menyerupai Minato, walau kulit pucat dan rambut silver-nya dari Naoya. Ukurannya memang cukup kecil untuk bayi normal Naoya bilang bayinya meniru Minato. (Ia langsung dipukul dengan buku setelahnya).
Sekarang Akari sudah berusia dua tahun. Ia sudah bisa berjalan, berlari, tertawa, dan sepertinya ahli melempar barang. Terbukti beberapa barang Naoya rusak akibat lemparan 'maut' Akari.
Hari ini hari sabtu. Yang berarti hari libur untuk Naoya. Ia sedang duduk diatas sofa sambil mengerjakan tugas kantornya di laptop, sementara Akari tengah sibuk bermain dengan Evoker milik Minato. Sementara sang 'Ibu' sedang berkutat di dapur, sibuk mencuci piring.
"... Waaahhh." Akari memperhatikan pistol perak yang digunakan Minato untuk memanggil Persona-nya dulu. Memegangnya, kemudian memasukkan pistol itu kemulutnya, diemut sejenak sebelum mengeluarkannya dari mulut dan melemparnya.
Dan lemparan Akari tepat mengenai laptop Naoya. Membuat cover depan laptop sang ayah retak.
Hening.
"..." Naoya berhenti mengetik dan memandang anaknya yang tertawa. Sepertinya ia tak sadar kalau tindakannya telah membuat sang ayah kesal.
"Akari..." Sebuah perempatan muncul di pelipis Naoya. Ia mengangkat anaknya dan bertatapan dengan putri kecilnya tersebut. Sang anak menatapnya dengan mata birunya yang besar dan polos.
"Ini sudah keeempat kalinya kau merusakkan barang-barang papa nak," Naoya mencubit pipi anaknya gemas. "Pertama kacamata papa kau lempar, kemudian gelas kesayangan papa kau pecahkan, lalu kau meretakkan iPad papa dengan palu mainanmu. Sekarang laptop papa? Akari nakal ya."
"Hi-hiks.. Mamaaaa..."
TANG!
Kepala Naoya dipukul dengan sendok sup Minato.
"Naoya... Berapa kali kubilang jangan mencubit atau menjewer Akari? Hm?" Minato menimang Akari dalam pelukannya. "Laptop bisa diganti, kalau Akari kenapa-napa, kau akan merasakan Armageddon dariku."
"Mamaaa..." Mata Akari berkaca-kaca dan meraih wajah Minato seolah mencari perlindungan dari ibunya. Minato tersenyum lembut dan mengusap punggung putrinya.
"Iya sayang, mama disini ya..." Minato, sembari menggendong anaknya, ia melepas apron yg membungkus tubuh mungilnya. Memperlihatkan sebuah kemeja putih dengan cardigan cokelat dibaliknya. MP3 Minato tetap setia menggantung di leher jenjang pemuda itu. Ia mengenakan celana hitam dan kaus kaki abu-abu.
"Mau kemana?" Naoya, yang melihat istrinya berpakaian rapi menoleh. Rambut perak yang dulu sebahu kini dipotong pendek. Kenapa? Tanyakan pada sang putri yang gemar sekali menjambak rambut papanya tercinta.
"Hm? Belanja. Kulkas kita sudah mau kosong. Aku akan mengajak Akari. Jaga rumah sebentar ya, Naoya." Minato menggendong anaknya dan memakaikan akari sebuah jaket pink tebal dengan tudung yang bertelinga kelinci. Lalu penutup telinga pink dengan kepala kelinci di setiap sisinya. Ditambah scarf pink tebal.
Ketiga benda diatas adalah kado ulang tahun Akari dari Hibiki-niitan. Atau begitulah Akari memanggil tetangga sebelah mereka itu.
"Jayan jayaan cama mamaaa~!" Akari berlarian dengan riang di sekitar sofa tempat Naoya duduk. Rambut anak itu dikuncir dua. Naoya, yang melihat betapa cerianya sang putri hanya bisa tersenyum.
"Kau lebih mirip orang yang akan kencan dari pada belanja, Minato."
"Iya, kencan dengan tukang daging. Berhubung sebentar lagi Valentine semua barang diskon besar-besaran di JUNES cabang Aoyama. Dan aku harus dapat sebelum kehabisan." Minato mengepalkan tangannya. Matanya penuh determinasi. Memang ya, istri-istri itu semuanya sama. Sukanya barang diskonan.
Kenapa beli barang harga penuh kalau bisa setengah harga?
Itulah yang selalu dikatakan Minato.
Pengalamannya sebagai Field Leader S.E.E.S yang menanggung semua biaya armor dan senjata, juga biaya untuk bereksperimen dengan persona compendiumnya, membuat Minato sangat pandai mengatur uang.
Aku tidak pelit, aku ini perhitungan.
Menurut Naoya, Hibiki, dan Minako (yang sudah merasakan betapa kerasnya Minato dengan uang) pelit dan perhitungan itu sama saja.
"Hmm... Begitukah? Kalau begitu kuberi bekal sedikit." Naoya beranjak dari tempatnya dan menghampiri Minato, melingkarkan tangannya di pinggang ramping pemuda berambut biru itu dan membuka beberapa kancing atas kemejanya.
Naoya menghisap, menggigit dan menciumi leher Minato beberapa kali. Membuat kissmark yang merah menyala di sana.
"Ahhh... Nnn..."
Mendengar istrinya mendesah, bukannya berhenti malah dilanjutkan. Kali ini sasaran Naoya adalah telinga Minato. Baru saja ia akan bermain dengan tubuh istrinya, tiba-tiba...
"Mamaa? Papaa?"
BUGH.
Minato menyikut perut Naoya dengan sikunya, keras.
"I-iya sayang? Ayo kita berangkat..." Naoya menatap anaknya kesal karena gagal bermain dengan Minato. Akari sendiri yang tak menyadari kalau papanya sedang kesal malah melambai dengan ceria. "Akalii belangkaat!"
"Ittekimasu." Minato memakai sepatunya dan memberi Naoya ciuman kecil di pipi. Begitu pula dengan putri kecilnya yang juga menciumi papanya.
.
.
.
= Junes Aoyama Branch =
"Akari mau cokelat atau strawberry?" Minato menunjukkan dua kotak es krim dengan dua varian rasa didepan putrinya. Setelah beberapa saat berpikir, gadis kecil itu menunjuk es krim dengan warna pink dan Minato memasukkannya ke keranjang.
Tujuan utama Minato kemari memang belanja bulanan, tapi ia juga punya maksud lain.
Ia mau beli bahan untuk membuat cokelat.
Valentine's Day tinggal menghitung jam. Esok hari semua saluran TV akan menayangkan berbagai program bertemakan cinta dan lagu-lagu cinta. Belum lagi semua toko cokelat akan penuh dengan gadis-gadis (atau laki-laki, untuk beberapa kasus) yang memborong cokelat.
Minato lebih suka membuat cokelatnya sendiri, selain lebih sehat dan bisa ia atur sendiri tingkat kemanisannya (karena Naoya tak begitu suka makanan manis), ia malas mengantri di toko cokelat.
"Mamaaa cucuuuu..." Akari menarik cardigan cokelat Minato. Sang ibu, yang tengah sibuk berebut daging dengan beberapa ibu rumah tangga lainnya ("Maaf nyonya, yang itu sudah saya pesan." "Tuan, anda laki-laki, mengalahlah sedikit." "Maaf tapi saya harus mempunyai daging tenderloin itu.") memasukkan daging pesanannya ke keranjang dan menoleh pada putrinya. "Akari haus sayang? Nanti ya sebentar lagi kita pulang."
"Pelmeen?" Mendengar mamanya tak bisa memberi susu sekarang, Akari mengganti permintaannya. Minato mengangguk dan menunjuk rak besar. "Disana banyak permen, ambil satu saja ya Akari."
"Iya mamaa~." Akari berjalan menuju rak permen besar, dan Minato kembali disibukkan dengan kegiatannya memilih bahan untuk membuat cokelat.
"Uhh.. Uuuhh.." Akari berusaha meraih sekotak permen warna-warni namun tak berhasil. Karena kesal ia menendang rak itu dan kotak cokelat yang ada di rak atas terjatuh dan menimpa kepala seorang laki-laki.
"Hei bocah, kau ya yang menjatuhkan cokelat ini?" Laki-laki berperawakan tinggi besar, bertato dan berwajah seram mendekati anak berusia dua tahun itu. Akari gemetar ketakutan dan berjalan mundur. "Ma-maaf..."
"Maaf saja tidak cukup bocah! Sakit tahu!" Laki-laki yang tampaknya mabuk ini mendekati Akari dan bersiap mencengkeram putri kecil Minato dan Naoya. Minato, yang menyadari anaknya tak kunjung kembali menoleh kearah rak. "...?! Akari!"
"Hei, mau apa kau dengan putriku?"
Suara berat dan mengintimidasi khas Naoya terdengar dari belakang laki-laki yang mabuk itu. Akari menoleh dan berlari kearah papanya. "Papaa!"
"Sini, sama papa. Mana mama?"
"Heh, jangan ikut campur. Aku masih berurusan dengan bocah sialan itu." Laki-laki itu mendekati Naoya namun sebuah tangan menghentikannya.
"Jangan ganggu Akari." Suara tenang yang dihiasi amarah dan tatapan membunuh dari pemuda berambut biru dibelakangnya membuat laki-laki itu terdiam dan langsung berlari sambil berteriak 'A-awas saja kalian!'.
"U-uweeee mamaaa papaaa..." Akari yang ketakutan langsung menangis begitu lelaki itu lari tunggang langgang. Minato menggendong Akari dan menenangkan putrinya. "Shh, mama sama papa disini sayang. Jangan menangis."
"Baru saja pergi sendiri, sudah ada kejadian seperti ini." Naoya menggeleng pelan sambil melepas topi yang menutupi kepalanya. "Nih, dompetmu ketinggalan."
Minato mengecek kantong celananya. Benar saja, kosong. Ia pasti lupa memasukkan dompetnya ke celana setelah memakaikan jaket Akari.
"Ah... Terima kasih Naoya. Untunglah kau datang..." Minato mendesah pelan dan menoleh ke anaknya yang sesunggukan di bahunya. "Ayo Akari, bilang apa sama papa?"
"Ma-makaciii..." Naoya tersenyum melihat putri kecilnya yang masih cadel itu dan menggendong Akari di pundaknya. Putrinya ini suka sekali tempat tinggi.
Kalau digendong mamanya Akari terkadang suka protes karena pemandangannya kurang tinggi.
"Kau sudah selesai belanjanya?"
"... AH, daging salmon setengah hargaku!" Minato yang melihat ibu-ibu banyak yang berebut daging salmon langsung ikut berebut.
"Mamamu dan belanjaannya, Akari ikut papa yuk ambil sesuatu." Akari yang sibuk berpengangan pada topi papanya bertanya, "Ambil apa papaaa?"
"Heh, sesuatu buat mamamu." Dengan senyuman licik itu, Naoya membawa Akari ke suatu rak dan mengambil dua buah botol berisi cairan.
.
.
.
From : Arisato Minato.
To : Kuze Hibiki.
Hibiki-kun, jadi kan rencananya? Kalau jadi kutunggu dirumahku malam ini ya.
.
.
.
From : Kuze Hibiki.
To : Arisato Minato.
Jadi kok Minato-san! Yamato sudah keluar dari tadi sore dan belum kembali. Naoya-san bagaimana?
.
.
.
"Naoya... Hp-mu bunyi."
Naoya yang tengah memangku Akari sambil menonton televisi mengambil Hpnya dan mengecek nama pemanggil.
Calling : Hotsuin Yamato.
"Mau apa bocah itu malam-malam begini?" Naoya melihat nama bosnya di JP's dan mengangkat telepon. "Ya?"
"Minegishi, kembali ke Tokyo HQ sekarang juga. Ada segel yang rusak di Osaka." Suara dingin khas Yamato terdengar dari seberang telepon. Minato yang tengah membaca buku menyeringai kecil.
"Ini sudah malam, tidak bisa besok apa?"
"Tidak bisa. Kalau demon yang disegel disana lepas, Osaka bisa hancur."
"Demon apa sih yang disegel disana?"
"Menurut informasi dari Hibiki, Yurlungur yang tersegel disana. Cepat, 15 menit lagi kita bertemu di Tokyo HQ." Dan telepon pun terputus. Naoya menggerutu kesal karena harus keluar malam-malam. Padahal ia harus melakukan sesuatu pada Minato malam ini.
"Pergilah Naoya, aku baik-baik saja dirumah. Hati-hati ya." Minato mengambil jaket hitam milik Naoya dan membantu memakaikannya. "Papa mau temana mama?"
"Mau membasmi monster. Akari sama mama dan Hibiki-niichan dulu ya." Mendengar nama tetangga sebelah mereka itu, Akari tersenyum senang. "Hibiki-niitan!"
"Untuk apa Hibiki kemari?"
"Oh, ingin minta tolong membuat skripsi. Katanya mau berangkat, pergilah."
"Aku serasa diusir dari rumahku sendiri... Baiklah aku berangkat." Naoya mengambil HP dan COMPnya. Lalu keluar rumah. Begitu Naoya hilang dari pandangan, tiba-tiba Hibiki sudah ada disamping Minato. Masuk dengan racial skill True Phantasm milik demonnya, Kresnik.
"Akhirnya berangkat. Aka-chan, lihat nii-chan bawa apaa~!"
"Hibiki-niitan!" Akari berhamburan memeluk kakak tetangga sebelahnya. Minato yang terkejut hanya menggelengkan kepalanya. "Hibiki-kun, jangan beri Akari gulali terus."
"Aaah, Minato-san ini terlalu kaku! Kan cuma sesekali!" Hibiki tertawa dan menggendong Akari di pundaknya. "Hibiki-niitan aligatoou!"
"Baiklah baiklah... Mana, kau siap kuajari cara buat cokelat?"
"Ada tidak cokelat rasa takoyaki?"
...
"Mana ada Hibiki-kun. Sudahlah, ayo kedapur. Akari, jangan banyak-banyak makan permennya." Minato mengingatkan sebelum beranjak ke dapur.
"Mohon bantuannya ya, Minato-san! Byakko, Cerberus, jagain Aka-chan dulu ya." Dua demon berbulu putih ini mengangguk dan mengaum pelan. Akari nampaknya sangat senang bisa berkeliling Apartemen diatas kepala singa.
.
.
.
.
= Osaka =
BUM BUM BUM! WHUUUSH, BLAARR!
"Ugh, demon macam apa sih ini?" Naoya menggunakan Diarahan pada dirinya sendiri sementara direktur utama JP's, Yamato Hotsuin tengah diobati oleh Amaterasu dengan Goddess Grace.
"Ini Yurlungur, demon berbentuk ular berwarna pelangi dalam mitos orang Aborigin." Yamato berdiri dan mensummon Zaou-Gongen. "Zaou Gongen, Assasinate!"
Yurlungur dan Zaou Gongen berhadapan, dengan tubuhnya yang panjang dengan mudah ia mencegah Zaou Gongen untuk menyerang dengan melilitkan tubuhnya sendiri ke demon yang bertubuh biru. Namun inilah celah bagi Naoya untuk menyerang.
"Okuninushi!" Demon dewa Jepang keluar dari COMP milik Naoya dan membelah Yurlungur menjadi dua. Sayangnya, ia kembali beregenerasi.
"... Yamato, kita butuh bantuan."
"Aku tahu, aku sedang menghubungi Hibiki. Hadang Yurlungur sebentar!"
.
.
.
"Dan masukkan ke kulkas. Tinggal tunggu beku dan semua selesai."
Dengan hati-hati Hibiki memasukkan loyang cokelat berbentuk hati itu diantara es krim dan es batu dan menutup kulkasnya. Kemudian mengelap keringat di dahinya. "Akhirnya selesai juga! Aku capek..."
"Grr.." Byakko menempelkan kepalanya di kaki Hibiki, minta dimanja. Cerberus masih sibuk dengan putri kecil Naoya dan Minato yang kini mengepang rambut Cerberus.
"Untunglah semua berjalan dengan lancar." Minato melepas apronnya. "Tumben sekali mereka belum pulang..."
I have not thought about a living, until yesterday...
CALLING : YAMATO
"Ya? Ada apa Yamato?"
BOOM! "Hibiki, kau harus kesini sekarang juga." DHUAR! "Yurlungur ini..." BRUGH! "Minegishi! Argh, Amaterasu, bantu Minegishi! ... Seperti yang kubilang tadi, kau harus kemari sekarang!" PIP.
"Sepertinya mereka butuh bantuan. Ayo Byakko. Biar Cerberus menjaga Aka-chan dirumah." Byakko bangkit dan menatap Hibiki. Begitu pula Cerberus yang membawa Akari dikepalanya.
"Tunggu." Minato memegang pundak Hibiki. "Aku ikut. Aku juga akan membantu."
"Itu akan lebih baik! Ayo Minato-san!" Minato mengangguk dan meraih Evoker dan pedangnya. Lalu menaiki Byakko dibelakang Hibiki dan menuju Terminal JP's di Diet Building.
Tanpa diketahui dua lelaki itu, gadis kecil berambut white-silver dan bermata biru diam-diam mengikuti mereka.
.
.
.
.
Sementara itu di Osaka, dua naga raksasa, Kohryu milik Yamato dan Seiryuu milik Naoya tengah beradu dengan sengit melawan Yurlungur yang tak kunjung melemah. Dua laki-laki itu mulai terengah-engah menghadapi ular yang beraneka warna itu.
"Tch.. Mana anak nakal itu?!" Naoya yang mulai kelelahan mundur sejenak untuk mengambil nafas. Tanpa diketahuinya, Demon yang dipanggil Yurlungur, Gozuki ada dibelakangnya. Bersiap membelah Naoya menjadi dua.
TRANG!
Naoya menoleh, dan menatap pemuda berambut biru yang kini tengah beradu pedang dan kapak dengan Gozuki. Hibiki mendarat dengan Suzaku disebelah Yamato.
"Ugh..." Minato yang jelas sekali kalah kekuatan dengan Gozuki, mendorong mundur demon berkepala sapi itu sedikit dan cepat-cepat mensummon personanya. "Loki! Bufudyne!"
Trickster dari norse myth itu mengangkat tangannya dan balok es besar membungkus Gozuki. Dengan cepat Minato mengayunkan pedangnya dan membelah es itu menjadi dua, membunuh Gozuki.
"Minato.. Kau.." Naoya menatap istrinya yang kembali menyarungkan pedangnya di pinggang dan menoleh untuk tersenyum padanya.
"Kau tidak apa-apa Naoya?"
"Kalian, fokus kedepan."
Yamato memfokuskan pandangannya. Begitu pula Hibiki yang sudah mensummon Byakko dan Lilith disampingnya.
Yurlungur bersiap menyerang, nampaknya akan mengeluarkan serangan berbau setruman. Begitu serangan akan diluncurkan, Cerberus (Yang sudah dipasangi Drain Elec) muncul dan melindungi mereka berempat.
Dan menjatuhkan Akari ke ibunya.
"Mamaaa!" Akari memeluk mamanya erat. Yamato, Hibiki, dan Naoya hanya bisa melongo melihat balita itu dengan cerianya tertawa di medan perang.
"Akari ngapain disini?! Kan mama bilang dirumah sama Cerberus!"
"Tapi... Akali gamawu cendili mama... Gomenacai..." Akari menunduk dan membenamkan wajahnya ke dada sang mama. Minato mendesah dan mengelus putrinya pelan.
"Menurutku dia ini harus diserang bersama dan langsung diberi pelajaran." Hibiki mengangguk dan mensummon demon terkuatnya. Lucifer.
"Kita serang bersama dan Minato yang akan memberikan pukulan terakhir dengan fusion spell." Naoya mengangguk dan mensummon Okuninushi.
"Tak ada yang boleh menahan diri." Yamato mengambil Hpnya dan Satan muncul di belakangnya.
Minato mengangguk dan memunculkan dua persona terkuatnya. Helel dan Satan.
Satan dan Lucifer menyerang Yurlungur dengan Megidolaon. Namun Yurlungur tak berhenti. Ia masih menggeliat memberontak. Namun langsung ditebas oleh Holy Strike dari Okuninushi. Setelah Yurlungur terpukul mundur, Minato mengaktifkan fusion spell terkuatnya.
"ARMAGEDDON!"
.
.
.
.
"Untunglah semuanya sudah selesai." Hibiki tertawa riang sambil menggendong 'adik' kecilnya. Yamato dan Naoya sibuk mensegel ulang Yurlungur. Namun Yamato menyadari sesuatu.
"Segelnya dibuka paksa. Tidak karena cuaca seperti di laporanmu, Hibiki."
...
Hibiki terdiam dan langsung ambil langkah seribu menggunakan Suzaku.
"Aku yakin kau juga tahu ada apa sebenarnya, Minato." Naoya melirik istrinya yang sibuk menidurkan anaknya.
"Umm.. Apa ya? Ini rencana Hibiki-kun sih. Aku hanya ikut saja. Haha... Ha." Minato sweatdrop dan mundur beberapa langkah dari dua pria berambut silver itu.
"... Terserahlah. Kalian boleh kembali sekarang." Yamato mendesah dan mensummon Cerberus miliknya. Lalu meninggalkan TKP untuk kembali ke Tokyo (dan mengintrogasi Hibiki).
Naoya mengecek jam tangannya. Jaket kulit hitam dan kaus putih yang membungkus tubuhnya membuat Minato terpana dan iri karena tidak bisa sekeren itu.
"Sudah jam satu malam." Ucap Naoya. "Selamat hari Valentine. Aku punya hadiah untukmu. Ayo pulang."
"Kau memberiku hadiah? Kapan belinya?"
"Saat kau sibuk dengan belanjaanmu. Ayo, keburu pagi."
.
.
.
"Nnn... Nnnhh..."
Minato yang mabuk karena diminumi anggur oleh Naoya (satu dari dua botol yang dibeli Naoya tadi siang) dan cokelat leleh yang juga dibeli Naoya tadi kini sudah habis isinya. Tertuang diatas tubuh ramping Minato diatas ranjang.
"Heh... Kau memang tidak bisa kuberi sedikit alkohol ya, Minato." Naoya menggigit cokelat yang dibuat Minato dan mencium sang istri dalam-dalam. Desahan Minato yang sudah tak berbusana dan tak sadar akan apa yang terjadi sudah membuat Naoya kehilangan kendali.
"Selamat hari valentine, istriku sayang."
.
.
.
- Chapter 4 End –
Author Notes :
Haiyaa... apa kabar semuanya? Maaf saya lama apdet ._.
saya mau apdet tapi kebanyakan ide dan saya bingung orz
maaf kalau chap ini jelek- bikinnya malem-malem QAQ
thank you for reading!
- Haruka Kuze -
