"Cruel Fairy Tale"

Warnings: boyxboy. KyuMin slight MinWook. Alternate Universe. OOCness for all chara. I've warned you. So, don't like? Don't read!

enJOY!

.

.

.

Chapter 1: The Fate

Tapakan ujung sepatunya terdengar di lorong kantor itu. Ada sedikit rasa kesal yang tergambar di wajahnya yang cantik. Sementara lingkaran hitam di bawah matanya tidak lagi bisa tertutupi. Pekerjaannya untuk sebuah resort di Busan belum usai, dan sekarang bosnya di firma arsitektur itu lagi-lagi memanggil.

Lee Sungmin—pemuda cantik itu—menghela napasnya. Ia benar-benar lelah dan butuh istirahat total jika tidak ingin tumbang di lokasi pembangunan. Tapi terima kasih untuk bosnya yang gemar menyiksa itu. Sekarang, ia merasa pekerjaan baru sedang menantinya.

"Hyeong memanggilku?" tanyanya retoris begitu pintu besar berukir sederhana di ruangan itu berhasil ia buka tanpa ketukan.

Laki-laki yang duduk di belakang meja besar di hadapannya mendongak, lantas tersenyum manis. Mata bulan sabit miliknya seolah ikut tersenyum, menambah poin penting mengapa ia disebut tampan.

"Mianhae, sepertinya kau sangat lelah akhir-akhir ini, Sungminnie."

Sungmin memutar bola matanya tanpa segan. Seonbae-nya semasa di perguruan tinggi ini memang iblis berwajah malaikat.

"Aku akan segera ke Busan besok untuk melihat lokasi resort sekali lagi." kata Sungmin pelan, tidak peduli pada kalimat basa-basi laki-laki berkepala besar di hadapannya. Kakinya beranjak untuk duduk di sofa ruangan itu. "Yesung hyeong juga akan ke Jeju, kan?"

"Ani!" Yesung menyangkal tegas. "Aku meminta Donghae yang ke Jeju."

Sungmin mengerutkan keningnya. "Mana bisa begitu?"

"Tentu saja bisa!" Yesung tersenyum lebih lebar, membuat matanya makin tak terlihat. "Aku bosnya di sini, Sungminnie." ucapnya riang, seolah kata 'bos' sangat hebat untuk ukuran firma. "Lagipula, kau tidak akan ke Busan. Karena aku yang akan pergi."

Kening lebar Sungmin yang sebagian tertutup poni semakin berkerut-kerut bingung. Matanya memicing ketika perasaannya berubah jadi tidak enak dengan pengalihan pekerjaan ini.

"Dan …," Sungmin menyilangkan tangannya di depan dada. "Apa yang harus kulakukan untuk kebaikanmu, Kim Jong Woon ssi?"

Yesung tergelak riang lagi. "New job?!"

Sungmin mengerang. Ia tahu ini, firasatnya tidak pernah salah untuk beberapa hal.

"Proyeknya ada di Namiseoum." Yesung mulai menjelaskan dengan serius. "Tuan Cho baru saja menghubungiku. Ia akan pindah dari Austria ke Korea. Dan ia ingin sebuah hunian di Nami. Proyeknya tidak besar. Tapi ia sangat berharap. Aku sudah katakan tentang kondisi kesibukan kita. Jadi, kukatakan untuk bersabar dulu sampai ada yang bersedia. Bagaimana? Kau mau menerima?"

Sungmin menimbang sejenak. Daripada proyek resort, hunian jauh lebih mudah. Tapi rancangan resort yang sudah ia revisi berkali-kali itu terlalu sayang untuk ditinggalkan. Bukan masalah fee, Sungmin hanya enggan meninggalkan pekerjaannya yang baru setengah jadi.

"Kapan Tuan Cho akan datang?"

"Tergantung perjanjian kalian. Kalau kau setuju menangani proyek ini, silakan cari waktu untuk membicarakan pekerjaan."

Yesung bangkit dari kursi nyamannya, satu tangannya menyambar secarik kertas kecil di atas meja berpelitur cokelat miliknya. Didekatinya Sungmin yang masih duduk di sofa dalam ruangan besar itu, lantas mengangsurkan kertas kecil tersebut.

"Ini nomor yang bisa kau hubungi. Lusa, Tuan Cho akan tiba di Korea. Jadi …," Yesung menggantungkan sejenak kalimatnya demi merapatkan bokongnya di sofa depan Sungmin. "Sisa hari ini dan besok, kau punya waktu libur." katanya, ditutup dengan satu senyum tulus.

Laki-laki dengan rambut kelam itu memandang lekat-lekat Sungmin yang kini hanya memandangnya tidak percaya. Ia tahu Sungmin benar-benar butuh istirahat. Yesung bisa melihatnya dengan pipi chubby yang perlahan mengempes itu, ditambah dengan bola matanya yang cekung. Sedikit banyak, perubahan wajah Sungmin yang agak berisi menjadi sedikit tirus karena kesalahannya.

"Ryeowookie akan pulang hari ini." Kalimat pamungkas itu akhirnya terucap dari bibir Yesung. Membuat Sungmin kembali menatapnya makin tidak percaya.

"Ryeowook tidak mengatakannya padaku."

Yesung mengangguk kalem. "Jadi, maafkan aku karena merusak kejutannya."

Sungmin mendesah lelah. Namun akhirnya ia tersenyum. Senyum pertamanya hari ini. "Gwaenchana."

"Jadi, kau menerima proyek pulau Nami ini?"

Mata Sungmin mendelik, merasa baru saja dijebak oleh seonbae-nya itu. Tapi ia mencoba untuk tidak banyak bicara lagi. Tangannya terulur, menarik kertas itu dengan enggan, menandakan persetujuannya. Setidaknya, sekarang ia punya waktu libur.

"Aku tidak pernah gagal menjadi Hyeong-mu, kan, Sungminnie?" tanya Yesung lagi, saat Sungmin diam-diam menghela napas di antara senyum tipisnya.

Sungmin mendongak sebentar dari kertas kecil berisi angka-angka yang berderet, lantas mengangguk kecil sebagai respon atas pertanyaan Yesung. "Ne, gomawo, Hyeong!"

Pemuda mungil itu beranjak dari tempatnya, lantas melangkah keluar dari ruangan besar dengan dominasi warna cokelat pudar itu. Di belakangnya, Yesung ikut menghela napas. Ia memang tidak pernah gagal menjadi kakak yang baik untuk Sungmin.

Ya. Tidak pernah lagi.

..::.

"HYEONG!"

Sungmin tidak memiliki kesempatan untuk berbalik ketika tahu-tahu kedua lengan kurus itu memeluk pinggangnya dari belakang. Sungmin tersenyum kecil, pemuda mungil yang kini mendekapnya posesif itu masih gemar menyerang tiba-tiba. Ia bahkan tidak memberi kesempatan bagi Sungmin untuk menutup rapat pintu apartemen terlebih dahulu.

"Bogoshipeo~! Niga jeongmal bogoshipeo!" bisiknya bersemangat. Sementara wajahnya disandarkan di pundak Sungmin.

Sungmin tersenyum tipis selagi tangannya mendorong pintu putih apartemen yang mereka bagi tersebut, membiarkan pemuda manis di belakangnya bersandar manja. Kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam kelam mengangguk-angguk. "Nado, Wookie-ya. Nado bogoshipeo!"

Sungmin melepas lingkaran tangan Ryeowook di pinggangnya, lantas berbalik. Dipandangnya wajah Ryeowook. Pipinya tirus, sementara kedua manik dark honey dalam matanya berbinar-binar polos, hidungnya tinggi, membuat keseluruhan wajah itu memiliki kesan yang sama tiap saat: manis.

Perlahan, Sungmin memajukan wajahnya, mengecup kening pemuda itu penuh sayang. Ia merindukan pemuda ini ada di sekitarnya, memasak untuknya, dan mengkhawatirkannya. Tapi Sungmin sadar, Ryeowook memiliki pekerjaannya sendiri. Membuat kebersamaan mereka kadang berjarak.

"Kenapa tidak menelponku kalau kau akan pulang? Aku bisa menjemputmu segera." Sungmin menuntun langkah mereka untuk memasuki ruang tengah apartemen dengan dominasi monokrom merah muda itu, lantas mendudukkan dirinya dan Ryeowook di sofa.

Bibir mungil Ryeowook tertarik jahil. Tangannya lagi-lagi melingkari pinggang Sungmin. Sementara kepalanya telah disandarkan ke dada pemuda yang lebih tua satu setengah tahun darinya itu.

"Karena aku tahu kau sibuk, Hyeong." bisiknya pelan. "Aku tidak mau mengganggumu."

"Kau tahu aku selalu memiliki waktu untukmu." Tangan Sungmin bergerak, membalas pelukan dongsaeng-nya itu, lantas mengelus-ngelus lengan kiri Ryeowook, menawarkan kenyamanan.

"Hyeong tahu aku tidak akan menuntut waktu. Kita sepakat untuk sama-sama memahami kesibukan, kan, Hyeong?"

Sungmin tidak langsung menjawab. Dulu, ia dan Ryeowook memang menyepakati hal itu. Kesibukannya sebagai arsitek di firma baru memang cukup menyita waktu. Ryeowook sendiri sering sekali ke luar Seoul untuk melukis. Meski Ryeowook dapat mengorbakan perjalanannya, tapi Sungmin selalu tidak setuju. Bagi Sungmin, profesionalitas dan totalitas adalah segalanya dalam pekerjaan.

Baik Sungmin maupun Ryeowook tahu benar betapa mereka menikmati tiap waktu yang ada. Menjadi arsitek adalah pilihan Sungmin, begitupun dengan Ryeowook yang menekuni dunia kanvas. Mereka berdua tahu pekerjaan seperti apa yang mereka kerjakan. Ini adalah pilihan, dan mereka belajar untuk menerima segala konsekuensi atas pilihan-pilihan tersebut. Termasuk konsekuensi untuk mengorbankan waktu.

Setelah beberapa saat terdiam, Sungmin akhirnya mengangguk. Pelan ia berbisik pada Ryeowook yang masih berada dalam dekapannya. "Terima kasih karena terus memahamiku, Wookie-ya."

Ryeowook hanya mengangguk sebagai balasan. Mereka tidak lagi mengatakan apa-apa. Seperti biasa, sisa-sisa kerinduan itu mereka luapkan dalam pelukan hangat yang posesif. Tanpa mengatakan apapun, mereka tahu betapa hati mereka saling merindu. Tanpa dikatakanpun, mereka bisa mengerti.

Mengerti dan mengerti, seperti yang selama ini mereka lakukan. Saling mengerti dan terus saling mengerti satu sama lain. Saling mengobati dalam diam. Saling memahami sebagai dua orang yang pernah terluka.

..::.

"Oppa serius akan pulang?"

Pertanyaan dari gadis berwajah bulat manis itu menginterupsi sejenak aktivitasnya. Pemuda tinggi berambut ikal dalam ruang musik itu mengangkat wajahnya dari kertas partitur yang ia bereskan. Sebagai jawaban, ia mengangguk sepintas, lantas kembali menyibukkan diri dengan buku-buku tipis berisi komposisi-komposisi lagu.

"Pulang sesaat sebelum kompetisi piano diadakan?" Gadis itu nyaris meninggikan suaranya. "Apa yang Oppa pikirkan?"

"Anggap saja pesaingmu berkurang satu, Hyunnie."

Gadis itu merenggut. Demi apapun, kompetisi musim panas di Praha adalah sesuatu yang mereka tunggu tiap tahunnya. Dan sekarang, pemuda tampan yang terbiasa menjadi rival terbaiknya itu akan pulang ke negara mereka? Konyol!

"Kyuhyun oppa!" Ia ingin menghardik, namun suaranya tercekat. Bagaimanapun, ia masih menghormati pemuda yang ada di hadapannya ini. "Jangan bertingkah bodoh! Oppa tahu kompetisi ini penting. Bagaimana dengan—"

"Aku menemukannya, Seohyun-ah."

Gadis yang dipanggil 'Seohyun' oleh pemuda tinggi itu menegang. Kalimat yang sudah diujung lidahnya terdorong paksa kembali ke tenggorokannya, membuat ia nyaris tersedak oleh kalimat lirih yang pelan dari pemuda di hadapannya. Matanya yang bulat besar memandang punggung Kyuhyun. Punggung kesepian yang selama bertahun-tahun ini dipandangnya diam-diam, punggung kurus yang menahan berbagai bentuk kesakitan yang selalu berusaha dilupakannya.

"Me-menemukan siapa?" Seohyun menelan ludahnya susah payah. Seakan ia baru saja menelan sebiji dumpling tanpa mengunyahnya.

Pertanyaan retoris itu tidak langsung terjawab. Tanpa dijawab pun, Seohyun sudah tahu siapa yang sedang mereka bicara. Hanya ada satu orang yang selalu dicari Kyuhyun bertahun-tahun belakangan ini. Satu orang yang menjadi alasan mengapa Kyuhyun seperti orang gila yang siap mati beberapa tahun lalu.

"Kau tahu siapa."

Seohyun memang tahu. Karena itu, ia mencoba untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. Seohyun paham. Lebih dari kompetisi piano yang digelar tiap musim di Praha, lebih dari Ambassador Concert Series, bahkan lebih dari International Frederick Chopin Piano Competition di Warsawa, menemukan satu orang itu jauh lebih penting bagi Kyuhyun.

"Aku menemukannya." Kyuhyun mengulangi kalimat itu lagi.

Dan Seohyun mengangguk pasrah. "Di mana?"

"Seoul."

Tidak butuh berdetik-detik jeda bagi Kyuhyun untuk mengucapkan satu tempat itu. Tempat yang sudah lama ia tinggalkan demi Praha. Tempat di mana seluruh kenangan terbaik dan terburuk dalam hidupnya terjadi.

Seoul

Kalau Praha adalah kota dongeng di mana seluruh romansa klasik dapat ditemukan, maka Seoul adalah bentuk kota dongeng modern. Kalau Kyuhyun bisa menemukan magis kisah klasik yang menyentuh saat memandang Karluv Most, maka ia bisa menemukan kenangan terbaik saat mengenang Banpo bridge. Seoul memang tidak seromantis Paris, tapi di sana, ada cinta yang Kyuhyun simpan rapat-rapat. Cinta terbaik yang pernah ia miliki.

Seohyun memaksakan sebuah senyum tipis. Meski Kyuhyun sama sekali tidak melihatnya, Seohyun ingin sedikit saja merasa senang untuk pemuda itu. "Karena itu Oppa pulang?" tanyanya pelan.

Kyuhyun mengangguk lagi.

"Oppa akan membuang semuanya di Praha?" Seohyun hampir menangis. Sesuatu seperti tersangkut di kerongkongannya ketika ia kembali bertanya, "Demi dia?"

Kali ini Kyuhyun berbalik. Permata cokelat dalam matanya menatap wajah gadis santun di sana. Seohyun. Kalau ada orang yang paling berjasa menyelamatkan Kyuhyun dari kebodohannya bertahun-tahun lalu, maka orang itu adalah Seo Joohyun, gadis di hadapannya ini.

Gadis yang bersedia memberikan harapan dan impian bagi Kyuhyun.

"Aku …," Kyuhyun bergerak untuk menduduki kursi di depan satu-satunya piano dalam ruangan itu. Ujung-ujung jemarinya yang panjang bersentuhan dengan tuts. Sedikit banyak, ia merasa bersalah telah seegois ini pada Seohyun. "Aku hanya akan meminta maaf darinya. Apapun yang terjadi setelah itu, aku tidak berharap banyak."

Kedua belah bibir Seohyun terbuka sedikit. Ada harapan yang mendadak menyelusup dalam hatinya, harapan untuk melihat Kyuhyun nantinya di Praha. Kembali setelah segalanya usai. Seohyun bukannya bersikap jahat, tapi ia menyadari, harapan akan kembalinya Kyuhyun sama dengan membuat orang itu menolak Kyuhyun kembali dalam hidupnya.

Penolakan kedua yang mungkin akan menyakiti Kyuhyun sekali lagi.

'Oppa harus kembali!' Seohyun ingin sekali mengatakan itu. Tapi lidahnya kelu. Kalimat itu hanya akan menekan Kyuhyun. Dan sekalipun, Seohyun tidak ingin melakukannya. Sebagai gantinya, ia hanya bertanya lirih, "Bisakah Oppa kembali?"

Kepala Kyuhyun menoleh kepada gadis itu. Ia tidak menjawab, namun bibirnya yang tebal tersenyum. Sungguh. Ia mengerti betul perasaan Seohyun. Tapi, untuk sekali ini lagi, Kyuhyun ingin egois. Sebagai jawaban, tangan pemuda berambut ikal itu mulai bergerak di atas tuts piano, mengalunkan sebuah lagu cinta dari Franz Liszt dalam ruang musik itu.

Liébéstraum No. 3 atau dalam bahasa Inggrisnya Dreaming and Loving.

Jawaban yang terlalu ambigu untuk Seohyun. Perlahan, ujung jemari tangan kanannya meraba benda melingkar di jari manis kirinya. Sebuah benda berkilauan yang pasangannya tersemat di jari manis Kyuhyun.

Takdir itu tidak pernah berhenti.

..::.

Labu's Note:

KyuMin emang belum ketemu. Tapi chap ini menjadi pembuka untuk pertemuan mereka selanjutnya. Mianhae untuk alur yang lambat.

Salam Peri!