"Cruel Fairy Tale"
Warnings: boyxboy. KyuMin slight MinWook. Alternate Universe. OOCness for all chara. I've warned you. So, don't like? Don't read!
enJOY!
.
.
.
Chapter 2: To Back
…
"CHO KYUHYUN!"
Tubuh Kyuhyun mendadak menegang begitu hardikan itu sampai di telinganya. Ia berbalik pelan-pelan, dan sosok cantik bersuara tenor yang baru saja memanggil namanya telah berdiri beberapa meter di sana. Kyuhyun menelan ludahnya, sementara sosok itu menatapnya muak.
"Kau brengsek, Cho Kyuhyun!" Sosok itu mengumpat, sementara kedua rahangnya terkatup rapat, menahan amarah yang membuat kedua kepalan tangannya mengerat.
"Tuan …!"
Seluruh tubuh Kyuhyun bergetar selagi ia berlari mengejar sosok yang barusan membentaknya. Langkahnya tersaruk, namun ia tetap berlari sementara tubuhnya semakin kebas. Tidak sekalipun—bahkan dalam mimpinya—Kyuhyun melihat kedua bola mata rubah itu menatapnya penuh kebencian. Tidak sekalipun, mata rubah yang terbiasa berbinar ceria itu terlihat sangat terluka.
Fakta terakhir itulah yang membuat Kyuhyun memutuskan untuk mengejar, mencoba memastikan bahwa luka di mata indah milik sosok itu tidak nyata.
"Tunggu!"
"Tuan!"
Keringat bercucuran di pelipis Kyuhyun. Tepat sebelum tenaganya habis, tangan kecil milik sosok yang sedaritadi dikejarnya itu berhasil ia raih.
"Lepaskan!"
Hardikan itu lagi. Suara penuh penekanan oleh kebencian yang menyakitkan pendengaran Kyuhyun.
"Tunggu, dengarkan dulu!"
"Jangan mengatakan apapun, Cho!"
Pergelangan dalam genggaman Kyuhyun tersentak-sentak, mencoba untuk melepaskan diri. Namun Kyuhyun mengeratkan genggamannya.
"Dengar! Aku—"
"DIAM!"
"Tuan! Tuan!"
Kyuhyun terpaku di tempatnya. Seumur hidupnya, sama seperti dengan tatapan asing yang kini didapatnya, bentakan itupun tidak pernah didengar Kyuhyun. Ia terbiasa mendengar sosok di hadapannya ini berkata lembut, kalaupun kadang memaksa atau mengancam, namun intonasinya tidak segetir ini, tidak sesakit ini. Kyuhyun merasa, seluruh jiwanya baru saja melayang.
"Jangan menjelaskan apapun, Cho!" Kalimat itu kembali dipenuhi penekanan, dingin, menyakitkan. "Jangan berusaha untuk pura-pura peduli padaku!"
Sayangnya, Kyuhyun peduli. Kyuhyun selalu pedulinya.
"Kau tahu aku tidak pernah berpura-pura padamu!"
"DIAM KUBILANG! Berhenti berbohong dan jangan berpura-pura jika kau tidak benar-benar peduli!"
Sosok itu menghentakkan tangannya keras. Sangat keras, cukup untuk membuat Kyuhyun nyaris terjungkal dari tempatnya, cukup untuk melepaskan genggaman kuat Kyuhyun yang menahannya.
"Tunggu!"
"Tuan!"
Mata Kyuhyun terbelalak kaget, sementara keringat dingin mengucur di wajahnya. Sebuah tangan mengguncang-guncang pundaknya, membuatnya terbangun dari mimpi barusan. Kyuhyun menelan ludahnya disela aturan napasnya yang memburu.
"Are you okay, Sir?"
Suara lembut sang pramugari hanya ditanggapi dengan anggukan oleh Kyuhyun. Setelah pramugari itu beranjak pergi, Kyuhyun mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Mimpi itu lagi. Mimpi yang nyaris menghantuinya beberapa tahun lalu itu kini datang lagi. Mimpi tidak mengenakkan tentang kejadian pahit yang pernah dialaminya. Kesalahan terbesarnya.
Ia menggerakkan tubuhnya, menyamankan dirinya sendiri dengan seat belt yang masih terpasang mengikatnya dengan kursi. Ia tidak tahu berapa lama ia tertidur, rasanya ia telah menutup mata beberapa menit setelah pesawat meninggalkan landasan pacu Vaclav Havel Airport di Praha. Dan begitu kepalanya bergerak sedikit untuk melongo keluar, bangunan besar berbentuk setengah lingkaran menjadi objek pertama yang ia kenali.
Incheon International Airport.
Ia resmi pulang.
..::.
"Pulau Nami?"
Ryeowook menolehkan kepalanya dari panci sup ke arah Sungmin. Pemuda yang kini duduk di kursi meja makan itu sibuk menekuri iPad, keningnya sedikit berkerut, sementara bibirnya yang berbentuk 'M' tertekuk ke bawah.
"Ya. Hunian." Sungmin menjawab sepintas. Matanya menyipit sejenak sebelum melarikan lagi jemarinya di layar iPad. "Kata Yesung hyeong, proyeknya tidak terlalu besar. Sekedar villa mungkin."
Ryeowook mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Matanya kembali mengintip ke dalam panci sup yang kini bergelembung banyak. Sementara microwave di sisinya berbunyi, menandakan kentang yang beberapa waktu lalu dipanggangnya telah matang.
"Aku boleh ikut?" tanya Ryeowook tanpa menoleh.
Sungmin mendongakkan kepalanya, ia tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Pertanyaan itu yang sedaritadi ditunggunya. Agak lama ia memberi jeda untuk menyahut. Hingga Ryeowook usai menata kentang ke atas piring, Sungmin baru menjawab kalem.
"Kupikir kau tidak akan menanyakannya."
Pemuda yang sibuk dengan menu makan mereka itu berbalik. Bibirnya mencebik, merasa telah digoda oleh si Tuan Arsitek itu. Tapi ia tidak banyak bicara. Segera diletakkannya dua piring berisi kentang panggang ke atas meja, lalu mulai sibuk lagi dengan sup ayamnya.
"Bisakah kita menginap?" tanya Ryeowook lagi. "Semalam saja. Aku benar-benar ingin liburan bersama hyeong. Sudah lama sekali rasanya kita tidak pergi bersama."
Senyum di wajah Sungmin kembali mengembang. Entah mengapa, tiap ada Ryeowook di sekitarnya, ia tidak pernah lelah untuk tersenyum. Ryeowook seperti magnet bagi bibirnya untuk terus melengkung ke atas. Dan ini senyumnya yang entah keberapa hari ini.
"Apapun untukmu."
Sungmin memang bukan orang romantis. Memberikan maket rumah dan melamar kekasih seperti yang dipraktekkan teman-teman semasa kuliahnya, tidak bisa ia lakukan. Sungmin tidak bisa melamar Ryeowook. Setidaknya, bukan saat ini. Jadi, hal paling romantis yang bisa ia lakukan hanya meluangkan waktu berdua dan menuruti permintaan Ryeowook.
"Hyeong."
"Ne?"
"Di masa depan, aku ingin sekali rumahku dibuat olehmu."
Sungmin mengerjap sesaat. Permintaan pelan nyaris menggumam dari Ryeowook membuatnya terdiam sejenak. Suara Ryeowook sedikit dipaksa, terdengar setengah ragu saat mengatakan kalimat itu.
"Tentu, Wookie-ya." Sungmin menjawab diplomatis. "Akan kubuat rumah seperti yang kau inginkan."
"Tapi, hyeong …," Ryeowook menjeda beberapa detik. Ia masih memunggungi Sungmin, tak berniat untuk menatap wajah pemuda yang dicintainya itu. "Aku ingin kau ada di dalamnya sebagai seseorang yang paling penting."
Sungmin membuka bibirnya sedikit. Meski tidak ingin mengakui, tapi ia sedikit terkejut mendengar permintaan itu. Kalimat barusan bukan permintaan biasa, bukan pembicaraan antara klien yang memesan desain rumah pada seorang arsitek. Kalimat Ryeowook barusan adalah bentuk lamaran untuknya. Lamaran yang seharusnya terkatakan dari bibir Sungmin.
Sungmin terdiam. Ia tidak menjawab, tapi tubuhnya perlahan bangkit dari kursi. Ia mendekat pada Ryeowook, lantas memeluknya dari belakang.
"Keurom, Wookie-ya. Kita akan membuat rumah kita berdua."
Ryeowook tersenyum bahagia. Bukan maksudnya untuk mendesak Sungmin dan berhenti menunggu pemuda itu untuk mengikat hubungan dalam ikatan resmi. Juga bukan maksudnya untuk bersikap agresif. Ryeowook hanya ingin menegaskan hatinya. Itu saja.
"Kau janji, Hyeong. Kau sudah janji."
Sungmin lagi-lagi tidak menjawab secara verbal. Tapi pelukannya di perut Ryeowook mengerat.
..::.
"Cepat datang atau aku meninggalkanmu, Hyeong!"
Siwon berdecak setengah sebal pada orang di seberang sambungan telponnya. Ia melirik jam yang melingkar di pergelangannya sekali lagi, saat suara Yesung menenangkannya.
"Pokoknya cepat datang!" perintahnya lagi, sebelum akhirnya memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
Siwon menghela napas. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan salah satu hyeong-nya itu. Seharusnya, Siwon sudah ada di Busan untuk pemotretannya, tapi dengan seenaknya Yesung meminta untuk berangkat bersama hari ini. Sialnya lagi, menejer Siwon malah menyetujui permintaan Yesung.
"Appa …,"
Panggilan dari suara imut itu membuat Siwon menundukkan kepalanya. Seorang gadis kecil dengan kedua kuncir di puncak kepalanya mendongak, menunjukkan buket bunga berpita putih buatannya pada Siwon.
"Appaga eodiga?" tanyanya polos.
Siwon tersenyum ramah, memamerkan kedua dimple yang menghiasi sepasang pipinya. Ia berjongkok, menyetarakan tinggi dengan gadis kecil di hadapannya. "Appa ada pekerjaan di Busan. Anh Yeol tunggu Appa di sini, dan belajar yang baik. Arrachi?"
Anh Yeol mengangguk-angguk, yang lantas membuat Siwon mengusap-ngusap kepalanya sayang.
Anh Yeol dan seluruh anak-anak yang ada di sini adalah yatim piatu penghuni panti asuhan milik keluarga Siwon. Beberapa dari mereka bahkan dirawat sejak bayi. Sungmin sendiri menghabiskan masa kecilnya di sini, hingga saat ia remaja, Yesung membawanya ke Inggris, kuliah arsitektur dan kembali lagi ke Seoul setelah bertahun-tahun.
Siwon bisa mengingat semua bahkan setelah bertahun-tahun lamanya. Dulu, ia terbiasa bersama Sungmin. Di mata Siwon, Sungmin mirip malaikat. Mungil, cantik, dan sangat baik. Meski kecil, Siwon tetap memanggil Sungmin dengan sebutan 'hyeong'. Karena Sungmin pula, Siwon memutuskan untuk tinggal di sini, berbaur dengan anak-anak dengan nasib yang tidak seberuntung dirinya.
Siwon, Sungmin, dan seseorang lagi. Mereka terbiasa bersama. Tapi itu dulu. Dulu sekali sebelum semuanya berubah menjadi begitu rumit.
Siwon telah menarik tangannya dari kepala Anh Yeol ketika ia kembali tersadar dari lamunan sejenaknya. Anak di hadapannya itu tersenyum lebar, lantas menyurukkan buket buatannya ke tangan Siwon.
"Untuk Appa." ucapnya sebelum berlari pergi dengan teman-temannya.
Senyum di wajah Siwon kembali terukir. Ia memang membiarkan anak-anak itu memanggilnya 'Appa'. Siwon hanya tidak ingin kata 'appa' terlalu asing untuk mereka ucapkan. Seperti yang Sungmin alami. Hyeong-nya satu itu terlalu banyak menyimpan lukanya. Luka karena tersisih, dan luka pengkhianatan.
Tanpa sadar, Siwon kembali bergerak untuk merogoh ponsel dalam sakunya. Sebaris nomor atas nama Sungmin ia sambungkan. Agak lama hingga akhirnya Sungmin menjawab.
"Yeoboseyo," Siwon membalas sapaan Sungmin dari seberang sana. Terdengar suara Sungmin yang agak kesal, sepertinya Siwon menelpon di waktu yang tidak tepat. "Ani, Hyeong. Aku hanya ingin mendengar suaramu. Apa aku mengganggu?"
Siwon bisa mendengar Sungmin mendesah kesal, namun menjawab pertanyaannya agak serius. Siwon tersenyum, namun airmata jatuh lamat-lamat dari matanya saat mendengar suara-suara di seberang sana. Sungmin bersama Ryeowook. Itu sudah tentu. Seharusnya Siwon bisa bahagia. Setelah apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, hanya pada Ryeowook, Sungmin bisa membuka dirinya.
'Mianhae' Siwon merapalkan satu kata itu dalam hatinya. Entah meminta maaf pada siapa. Rasanya, ia terlalu bersalah pada Sungmin dan pada semua yang ada di masa lalunya.
..::.
Yesung sudah ada di luar ruang kantornya dan sedang mengunci pintu saat langkah kaki laki-laki itu membuat ia menoleh. Mata bulan sabitnya menyipit sejenak.
"Nuguseyo?" tanyanya sopan, sekaligus penasaran.
Laki-laki berambut ikal kecokelatan yang baru tiba itu menundukkan kepalanya sekilas. "Annyeong haseyo, Kim Yesung ssi. Cho Kyuhyun imnida."
Yesung tampak terkejut sekilas, namun ia memilih untuk menyunggingkan senyum ramah. Tubuhnya menghadap Kyuhyun, lantas balas menundukkan kepala sebentar. "Ne, annyeong haseyo, Cho Kyuhyun ssi." balasnya.
Pintu yang tadi Yesung kunci kembali dibukanya. Ia memersilakan tamu tak disangkanya itu untuk masuk. Ya. Tidak ia sangka. Seharusnya, Kyuhyun datang besok, sesuai pembicaraan mereka di telpon tempo hari. Tapi nyatanya, sekarang laki-laki tinggi itu sudah duduk di sofa ruang kerja Yesung.
"Maaf karena datang tanpa pemberitahuan, Yesung ssi." Kyuhyun berucap bersalah. Sedikit banyak, ia menangkap gerak enggan Yesung saat melirik jam.
"Gwaenchana, Kyuhyun ssi." Yesung menyamankan duduknya. "Saya sudah membicarakannya dengan Sungmin ssi dan ia menerima pengerjaan hunian Anda."
Kyuhyun tersenyum lega.
"Saya akan meminta Sungmin ssi datang. Jadi, kalian bisa membicarakan pekerjaan." Yesung buru-buru mengeluarkan ponsel, lantas menelpon sang arsitek terbaiknya. Ia harus segera memanggil Sungmin dan buru-buru menemui Siwon.
Pembicaraan udara itu disaksikan Kyuhyun dengan was-was. Orang di ujung sambungan seperti sedang kesal, kentara dari wajah Yesung yang tampak berusaha menenangkan orang di sana dan helaan napas berkali-kali darinya.
Nyaris sejam Kyuhyun duduk di sana saat akhirnya pintu ruangan Yesung terketuk dari luar. Yesung sendiri, sejak menelpon Sungmin, kembali disibukkan dengan telpon sana-sini. Laki-laki yang lebih tua daripada Kyuhyun itu hanya meminta maaf berkali-kali karena membuat Kyuhyun seperti diabaikan. Mau tak mau Kyuhyun tersenyum maklum. Tampak jelas jika Kyuhyun benar-benar datang saat tidak tepat.
"Silakan masuk, Sungmin ssi." Ujar Yesung agak keras. Sebelum ia kembali berbicara dengan seseorang di telpon dan memutuskannya.
Dari arah Selatan ruangan itu, tepat dari balik pintu, Kyuhyun bisa melihat seorang pemuda mungil memasuki ruangan. Bibirnya melengkung ke bawah, tampak tidak senang. Sementara wajahnya yang imut jelas berkerut-kerut keberatan untuk datang.
"Anda memanggil saya, Sajangnim?" tanya Sungmin pelan. Matanya memicing ke arah Yesung.
Tadi, seharusnya Sungmin menikmati waktu berdua dengan Ryeowook sebelum akhirnya Siwon mengganggu. Dan Sungmin bahkan belum memakan masakan Ryeowook saat giliran Yesung yang memaksanya datang ke kantor. Alasan yang cukup untuk membuat Sungmin memandang kesal.
"I-ini, Tuan Cho Kyuhyun." Yesung menelan ludahnya. Sungmin yang memandang begitu hanya berarti satu hal: ia akan dihabisi Ryeowook. "Ini klien yang mengajukan proyek di pulau Nami."
Sungmin tidak mengatakan apa-apa. Tatapan tajam matanya beralih dari wajah gugup Yesung ke arah laki-laki yang sedaritadi berdiri di sana. Laki-laki yang baru Sungmin sadari kehadirannya.
Cho Kyuhyun.
Mata Sungmin bisa melihatnya dengan jelas. Laki-laki berambut ikal kecokelatan itu berdiri di hadapannya. Sungmin mengenalinya, dan masih sangat mengingatnya. Sangat jelas, sejelas ia melihat sosok itu kini. Rambutnya yang ikal, mata karamelnya, dan bibirnya yang tebal. Tepat seperti yang selalu dilihat Sungmin dalam mimpi terburuknya.
"Annyeong haseyo, Lee Sungmin ssi. Jae ireumeun Cho Kyuhyun imnida."
Sungmin mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat. Ia benci namanya tersebut dari bibir laki-laki itu. Ia benci melihatnya. Sungmin benci apapun mengenai Cho Kyuhyun. Untuk kali pertama setelah bertahun-tahun ini, Sungmin kembali merasakan hatinya nyaris meledak karena kebencian.
..::.
Lutut Kyuhyun melemas. Ia nyaris mati bahagia. Sosok itu ada di hadapannya. Hidup dengan baik dan tampak sehat. Demi apapun, hanya melihatnya baik-baik saja, Kyuhyun merasa sudah sangat bahagia. Bentuk kebahagiaan yang tidak dirasakannya selama bertahun-tahun belakangan.
Ini yang seperti Kyuhyun harapkan. Sungminnya, Minnienya hidup dengan baik selama ini. Bahkan sangat baik.
Ada rasa yang sangat lapang di hati Kyuhyun. Selama ini, sesuatu berbentuk beban rasa bersalah menghimpitnya, membuatnya nyaris tidak bisa bernapas. Tapi sekarang, hanya dengan memandang sosok cantik di hadapannya, Kyuhyun merasa Tuhan telah menghadiahkan hal terbaik yang pernah ia terima.
"Terima kasih karena tetap hidup, Sungmin-ah."
..::.
Labu's Note:
Saya mau konfirmasi sedikit. Hubungan MinWook itu resmi sepasang kekasih! Dan alurnya ini benar-benar bakal lambat. Dan tentang Seohyun, ya, dia tunangannya Kyuhyun.
Tapi, terlepas dari semua pair awal, saya mau ingatkan, fic ini bakal berakhir dengan KyuMin. Pokoknya memang KyuMin. Mereka diciptakan untuk bersama.
Salam Peri!
