Peri Labu present:
A KyuMin fanfiction
"Cruel Fairy Tale"
.
.
.
Chapter 3: After A Long Time
"Karena meskipun kaku, waktu menyimpan tiap detail kenangan kita"
…
Hujan lagi-lagi turun saat Sungmin pulang ke apartemennya. Ia lelah. Satu hal yang terpikir olehnya saat ini hanya satu hal: tidur!
Lampu di ruang tengah apartemen itu mati. Mungkin Ryeowook sedang keluar. Sungmin memang pergi agak lama. Pembicaraan hari ini terasa amat berat. Bukan karena permintaan desain Kyuhyun yang rumit, namun karena klien itu adalah Cho Kyuhyun, orang yang paling tidak ingin dilihat lagi oleh Sungmin.
Sungmin meletakkan tas jinjingnya di atas meja depan sofa, lantas berderap ke dapur. Ia mengeluarkan air dingin, lalu meminumnya meski udara cukup dingin oleh hujan di luar sana. Sungmin butuh kedinginan saat ini. Ia butuh mengeraskan hatinya setelah pembicaraan panjang yang melelahkan.
"Rumahnya tidak terlalu besar, tapi saya ingin tiap detailnya diperhatikan."
Bukan permintaan rumit memang, tapi kalimat itu bisa mengarah pada hal yang berbeda. Detail. Detail. Sungmin adalah sosok perfeksionis, ia akan memerhatikan setiap detail desainnya telah sempurna atau belum. Dan Cho Kyuhyun memintanya dengan tegas.
"Ini rumah untuk seseorang. Jadi, saya ingin semuanya sempurna, termasuk desain interiornya. Karena itu, Anda boleh menyebut berapapun harga yang harus saya bayar."
Cih! Sungmin tidak butuh tahu alasan-alasan murahan begitu. Untuk siapapun rumah itu nantinya, ia tidak peduli. Ia hanya mendesain bangunan dan interiornya, hal-hal di luar itu jelas bukan urusan Sungmin. Dan ia tidak berminat untuk berurusan dengan itu.
Langkah Sungmin mendekat pada sofa panjang di sana. Tangannya meletakkan air dingin di atas meja sebelum memasang headphone dan memutar pelan Loath to Depart dari ponselnya. Ia terdiam, punggungnya bersandar pada sofa dengan mata yang terpejam.
Hujan. Loath to Depart. Dingin. Kolaborasi yang tepat untuk menghapus sejenak letih yang menggelayuti tubuhnya. Letih yang membuatnya tampak begitu rapuh harus ia singkirkan. Seorang Lee Sungmin tidak boleh terlihat lemah. Ia adalah laki-laki kuat.
..::.
Ujung kuas itu tersaput pada kanvas, memindahkan cat minyak dari palet ke kain berbingkai yang terpasang di easel. Ryeowook menggerakkan tangannya yang lentik dengan pelan, sementara matanya menatap intens tiap gerakan yang ia buat.
Satu dari sekian lukisan bertema 'Angel' yang akan segera dipamerkan itu hampir jadi. Objeknya masih sama, sesosok manusia cantik dengan kepak sayap putih di punggungnya. Masih dengan warna-warna monokrom yang menjadi latarnya. Hanya saja, dengan sudut pandang dan cerita yang berbeda.
Kadang, Ryeowook memang tidak banyak bicara. Berpasangan dengan Sungmin membuatnya tidak harus menuntut, sebab Sungmin dengan senang hati selalu memberinya tanpa meminta. Sedikit banyak ia sadar, ia berubah sejak bersama Sungmin. Ryeowook yang dulu adalah pemuda tempramen, ia harus mendapatkan apapun yang ia mau. Dari dulu, Ryeowook hanya anak manja yang akan menentang apapun yang tidak ia sukai. Namun bersama Sungmin, segala keangkuhan itu luruh. Bersama Sungmin, ia bisa memahami semua yang ada. Untuk itu Ryeowook menyetiai diri hanya pada Sungmin.
Dan rentetan lukisan yang berjumlah tujuh itu, ia dedikasikan sepenuhnya untuk Sungmin. Malaikatnya, sosok dalam lukisan-lukisan terbaiknya.
Ryeowook menghela napas panjang saat lukisan itu selesai ia buat. Ketika kepalanya menoleh keluar jendela, ribuan rintik-rintik hujan dengan deras mengguyur Seoul. Ia mendekat ke bingkai jendela dan mendongak, langit tampak muram di atas sana.
"Bi …," Ia menggumam saru.
Ryeowook cenderung tidak mendengarkan kata hatinya. Tapi entah mengapa, hujan kali ini seolah mengintimidasi. Sesuatu yang terasa buruk akan terjadi, sama seperti langit kelabu di atas sana. Warna gelap menutupi warna-warna cerah yang biasa menaungi Seoul.
Lengan Ryeowook menyandar pada tembok dekat kusen jendela. Matanya masih menatap hujan yang terus mengguyur. Dingin ini membuatnya sama sekali tak nyaman.
..::.
"Kyuhyun-ah?"
Nyonya Shim, kepala pengurus panti asuhan milik keluarga Choi membulatkan matanya terkejut. Dari balik kacamata berlensa minus miliknya, ia bisa melihat Kyuhyun dalam sosok dewasa.
"Annyeong haseyo, Shim Omonim." Kyuhyun tersenyum tipis sembari membungkukkan tubuhnya penuh hormat.
Sementara perempuan paruh baya di hadapannya masih tampak terkejut. Pagi ini Siwon datang dan sarapan bersama anak-anak panti, sesuatu yang sudah jarang dilakukan tuan mudanya itu lantaran pekerjaan yang menghimpit. Dan sekarang, hujan bahkan masih mengguyur keras di luar sana, tapi sosok itu tetap datang.
"Kyuhyun-ah." Nyonya Shim kembali merapal nama itu penuh rindu. "Benar kau Cho Kyuhyun?" tanyanya tak percaya.
Kyuhyun mengangguk, dan sedetik berikutnya, nyonya Shim telah menabruk tubuh kurus Kyuhyun. Perempuan setengah baya itu mengeratkan rangkulannya. Ia sangat merindukan anak asuhnya ini.
Kyuhyun kecilnya yang dulu senang sekali kabur dan berbuat onar, kini telah tumbuh menjadi laki-laki muda yang tampan. Kyuhyun kecilnya yang dulu gemar melayangkan protes pada setiap dongeng menjelang tidur itu, sekarang menjadi laki-laki dewasa yang tubuhnya menjulang tinggi. Kyuhyun kecilnya yang sangat ia sayangi.
"Bagaimana kabar Seohyunnie, Kyu?" tanya Nyonya Shim saat mereka telah duduk di ruang tamu panti asuhan itu.
Kyuhyun meminum teh hijau yang dibawakan Nyonya Shim beberapa waktu lalu sebelum menjawab, "Hyunnie baik-baik saja, Omonim. Minggu depan, ia mulai mengikuti kompetisi piano lagi."
Nyonya Shim mengangguk-angguk dengan senyum lega. Setidaknya, Kyuhyun sudah menjaga Seohyun—salah satu anak asuhnya juga—dengan baik. Ada rindu yang benar-benar menyeruak dalam hatinya pada gadis itu.
"Apa yang membawamu pulang, Kyu? Mengapa Seohyunnie tidak pulang denganmu? Kalian bertengkar?"
Kyuhyun menggeleng. "Kami baik-baik saja." Kyuhyun menjawab pelan. Kalimat 'baik-baik saja' sebenarnya tidak cukup tepat untuk menggambarkan kondisinya dan Seohyun terakhir kali.
Malam itu Seohyun menangis. Kyuhyun bisa mendengar isakan tangis dari gadis yang menjadi tunangannya itu di sela permainan pianonya. Kyuhyun memang memainkan lagu cinta, namun di dekatnya, Seohyun menangis terluka. Tangis yang susah payah ia redam, namun tetap sampai di telinga Kyuhyun.
"Aku ingin membangun rumah di Nami, Omonim." Kyuhyun memberitahu. "Kurasa, aku akan sangat butuh rumah saat pulang ke Korea."
Nyonya Shim terdiam sejenak sebelum mengangguk-angguk bahagia. Matanya sampai berkaca-kaca. "Rumahmu dan Seohyunnie?" tanyanya penuh harap.
Kyuhyun tidak lantas menjawab. Tapi ia hanya tersenyum. Rumah di pulau Nami itu adalah impiannya sejak kecil. Sepetak tanah tidak terlalu luas di sana adalah satu-satunya warisan orangtua Kyuhyun sebelum mereka meninggal. Dan dari dulu, Kyuhyun berniat membangun rumah kecil untuk keluarganya kelak. Tapi, siapa yang mendampinginya, masih terlalu kabur bagi Kyuhyun.
Dulu, Kyuhyun kecil sudah terlalu yakin, ia akan menghabiskan sisa hidupnya bersama Sungmin. Mereka membangun rumah mungil dan hidup berdua di sana. Tapi sekarang, mengingat bagaimana Sungmin menatapnya begitu dingin saat mereka berbincang, Kyuhyun bahkan tidak yakin ia dapat menerima maaf dari pemuda itu.
"Kyuhyun-ah …," panggil nyonya Shim pelan saat dilihatnya Kyuhyun hanya terdiam. "Kau dan Seohyun harus bahagia. Kau, Siwon, dan juga Sungminnie. Kalian pantas bahagia."
Kyuhyun lagi-lagi tidak menjawab. Senyum yang sedaritadi menggantung diujung bibirnya turut lenyap. Ia, Siwon, dan Sungmin harus bahagia. Menyebut nama mereka bertiga dengan cara seperti itu, sudah cukup jelas bagi Kyuhyun: ia tidak bisa bahagia bersama Sungmin.
Mereka harus bahagia dengan jalan masing-masing. Berdiri masing-masing.
..::.
"Aku mau protes!"
Anak laki-laki berambut ikal itu mengacungkan telunjuknya tinggi-tinggi. Nyonya Shim yang sedang membacakan dongeng Cinderella mengernyitkan keningnya tidak senang. Kalau Kyuhyun telah bersuara, ia yakin semua akan gaduh dan jam tidur lagi-lagi akan mundur dari semestinya.
"Tidak ada protes, Kyunnie!"
Kening Kyuhyun berkerut-kerut. Otak jeniusnya berputar cepat. "Omonim bilang, kita harus kritis, bukan? Aku tidak ingin tinggal diam!" tegasnya.
Nyonya Shim menghela napas. Pandangannya mengedar ke seluruh wajah-wajah anak asuhnya. Pandangan mereka kini kompak mengirimkan satu ultimatum: Kyuhyun benar.
"Ne, arrasseo. Kau mau protes apa, Kyu?"
Seringai muncul di wajah Kyuhyun. Ia sudah menahan protesnya sejak tadi. Dan sekarang, waktunya untuk memuntahkan semua yang mengganjal pemikirannya.
"Hana," Kyuhyun memulai. "Kenapa Cinderella bodoh sekali untuk mau diperbudak oleh ibu tirinya? Kalau ayahnya meninggal, ibu tirinya tidak akan dibela oleh siapapun. Bukankah Cinderella bisa melaporkan ke polisi kerajaan tentang penganiayaan terhadapnya? Kepolisian akan menemukan bekas penganiayaan dan bukti-bukti lainnya. Bukankah semua akan lebih mudah dan tidak perlu menghadirkan sosok ibu peri yang tidak nyata?"
Nyonya Shim menghela napas pasrah. Kadang, ada baiknya seseorang tidak perlu terlalu logis dalam menghadapi masalah. Sebab, kelogisan yang berhadapan dangan dongeng, membuatnya tampak kekanakan. Ah, nyonya Shim lupa! Kyuhyun memang masih anak-anak.
Anak-anak yang kelewat sok tahu.
"Dul," Kyuhyun melanjutkan. "Ini yang paling penting dari semua keganjilan yang ada! Berapa ukuran kaki Cinderella? Apa ukuran kakinya terlalu cacat hingga sepatu kaca hanya cocok dengannya?" Kyuhyun memfinalkan protesnya dengan lantang.
Nyonya Shim memijit pelipisnya. "Kyuhyun-ah," panggilnya pelan. "Bahkan anak paling kecil saja tahu, tidak ada orang yang memprotes dongeng!"
Kyuhyun merenggut. "Tapi …,"
"Kalian semua cepat tidur! Kalau masih ada yang terbangun, kalian tidak akan mendapat jatah kue untuk makan siang besok!"
"Tapi, Omonim, aku masih penasaran!" Kyuhyun menyahut keras-keras.
Nyonya Shim baru akan menjawab Kyuhyun dengan perintah tegas saat tahu-tahu Sungmin telah meninggalkan ranjangnya dan mendekat pada Kyuhyun.
"Kyunnie, tidur!" perintah Sungmin tegas.
"Tapi, Hyeong!"
"Tidur!"
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya. Tapi ia menurut. Nyonya Shim mengangkat satu alisnya. Kyuhyun memang bandel, tapi Sungmin bisa jadi pawang paling tepat untuk kenakalannya.
"Gomawo, Sungminnie." sahut Nyonya Shim lembut.
Dan Sungmin hanya mengangguk dengan senyum termanisnya.
..::.
Clek!
Kaki Kyuhyun yang panjang berderap memasuki ruangan itu. Tangannya meraba-raba dinding, mencoba mencari sakelar lampu. Begitu lampu di langit-langit ruangan kecil itu menyala, Kyuhyun bisa melihat kamar yang pernah ditempatinya ketika ia tinggal di sini. Mendadak, ribuan kenangan menyerbu kepalanya.
Dulu, di kamar ini, ia, Sungmin, dan Siwon pernah berbagi tempat sebelum keduanya kembali ke kamar masing-masing. Bahkan, kadang mereka tidur berimpit di ranjang Kyuhyun saat hujan mengetuk-ngetuk ribut jendela. Dulu, mereka bersama seolah mereka benar-benar saudara sedarah.
Dulu. Masa ketika mereka masih kumpulan anak-anak polos yang hanya tahu belajar dan bermain. Masa saat mereka tidak tahu bahwa kadang, waktu mengubah mereka, membuat mereka berkenalan dengan banyak pilihan-pilihan. Dan di antara pilihan yang pernah dihadapkan pada Kyuhyun, dengan bodohnya ia memilih melukai Sungmin.
Kyuhyun tersenyum getir. Setitik airmata tahu-tahu meleleh di ujung matanya.
"Sudah lama sekali, ne?" bisiknya pelan, bertanya pada angin yang berembus entah dari mana.
Langkah Kyuhyun mendekat ke lemari kayu yang menempel ke dinding. Ia membukanya. Lemari itu kosong. Tapi, pandangan Kyuhyun hanya terpusat pada laci kecil di sudut bawahnya. Ia berjongkok. Tangannya membuka pelan laci itu.
Dari dalamnya, Kyuhyun menarik keluar secarik kertas dari sobekan buku gambar yang dilipat delapan. Jemari-jemari kurus Kyuhyun membuka lipatan itu, dan matanya bisa menemukan gambar amatir anak kecil di atasnya. Sebuah sketsa kasar rumah mungil yang pernah ia gambar bersama Sungmin.
"Kita akan membuatnya nanti, kan, Kyu?"
"Tentu, Hyeong. Kita akan membuatnya. Rumah kita!"
Senyum getir penuh luka tersungging lagi di bibir Kyuhyun, kenangan itu seperti godam yang menghantam bilik hatinya. Ia pernah membuat janji itu bersama Sungmin.
"Keure," Kyuhyun mengeratkan genggamannya ke kertas kusut itu. "Kita akan membangunnya, Hyeong. Kau dan aku!"
Tanpa Kyuhyun sadari, airmata sudah mengalir deras dari bola mata karamelnya yang sayu.
..::.
Langit sudah menggelap disertai hujan yang mengguyur saat Yesung dan Siwon tiba di Busan. Seharusnya, waktu perjalanan bisa diminimalisir jika saja saja Yesung tidak merengek tiba-tiba untuk naik KTX. Jarak antara Seoul dan Busan menghabiskan waktu dua jam, lebih lama ketimbang menggunakan pesawat. Saking kesalnya, Siwon bahkan tergoda untuk menyarankan menggunakan bus saja yang menghabiskan enam jam.
"Selalu menyenangkan menggunakan KTX, kan, Wonnie?" tanya Yesung riang. Mata bulat sabitnya makin menyipit saat ia tertawa lebar, menjadikan matanya tak kentara.
Siwon nyaris memutar bola matanya jika tidak mengingat hal itu kurang sopan. Ia akhirnya menghela napas, lantas mengangguk. Menanggapi Yesung yang sedang autis begini rasanya percuma.
"Hyeong mau langsung menemui klien, kan? Aku akan memesankan kamar hotel untuk Hyeong." Siwon melirik jam tangannya. "Aku harus pergi menemui Manager hyeong sekarang. Hubungi aku kalau Hyeong sudah selesai."
Yesung mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia baru akan mengatakan hal yang dipikirkannya tentang KTX lagi, saat matanya yang sipit menemukan bayangan seseorang yang ia kenali sebagai pemilik kafe pemesan desain.
"Ah, aku juga harus pergi, Wonnie." katanya, lalu segera melambai pada sosok pria setengah baya di ujung terminal.
Siwon tidak sempat mengatakan apapun lagi. Laki-laki berkepala besar itu sudah menjauh darinya dan menghilang di antara kerumunan orang yang naik turun KTX. Langkah Siwon juga baru menapak beberapa kali saat tahu-tahu ponselnya berbunyi singkat, menandakan sebuah pesan yang masuk.
Tadinya, Siwon menyangka itu pesan dari managernya. Ia bahkan telah memikirkan dengan cepat alasan apa yang akan ia berikan untuk keterlambatannya. Namun, sebaris nama pengirim pesan itu membuat Siwon mengerutkan keningnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Tidak biasanya.
From: Shim Omonim
Wonnie-yah, Kyuhyunnie pulang.
Bibir Siwon terbuka sedikit saat membaca barisan pesan pendek itu. Ia tidak seterkejut itu, sungguh. Siwon tahu cepat atau lambat Kyuhyun akan pulang. Hanya saja, tidak secepat ini.
Siwon baru berhasil menemukan Kyuhyun minggu lalu. Tanpa sengaja, Siwon menemukannya di antara peserta sebuah kompetisi piano di Praha. Cho Kyuhyun dan Seo Joohyun. Setelah bertahun-tahun kedua orang itu meninggalkan panti asuhan, akhirnya Siwon dapat menemukan mereka kembali.
Ditelpon, Kyuhyun mengatakan ia akan kembali. Hanya saja, sekali lagi, Siwon tidak menyangka jika pergerakan Kyuhyun secepat ini. Mengingat tanggal kompetisi piano, sudah jelas kalau Kyuhyun memiliki alasan tersendiri mengapa kepulangannya mendadak.
Alasan yang mungkin akan membuat banyak hal rumit menjadi lebih rumit.
"Kyuhyun-ah, tolong jangan melakukan hal bodoh."
::TBC::
Labu's note:
Mianhae untuk update yang lamaaa! .
Oke, ceritanya makin aneh, tapi semoga bisa dipahami.
Waktu itu, ada yang sempat nanya, ini remake apa bukan? Saya mau jelasin. Ini sama sekali bukan remake dari sebuah novel atau tulisan fiksi lainnya. Ini murni punya saya. Cuma, bagi yang pernah nonton K-movie "Architecture 101" saya yakin gak begitu asing. Saya emang terinspirasi dari film itu. Cuma bagian dibikinin rumah sama konsep present-flashback-present-flashback aja, kok.
Tapi please, jangan tanyakan cerita film itu atau ending-nya kayak apa. Saya sendiri gak tahu. Belum pernah kelarin nonton itu film! .v
Jadi, kalau mau liat, silakan ditonton. Sekalian juga bisa tahu seberapa besar perbedaannya. ^^
Salam Peri!
