Peri Labu present:

A KyuMin fanfiction

"Cruel Fairy Tale"

.

.

.

Just Look at You

"Aku melihatmu—

—di antara rindu yang menggugu."

Sungmin mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia masih ada di sofa, tapi tubuhnya tidak lagi tidur dalam keadaan setengah duduk. Kini ia telentang. Headphone yang menyumbat telinganya sudah menghilang, sebuah bantal tersemat di bawah kepalanya, dan selembar selimut tebal yang hangat menutupi tubuhnya hingga nyaris mencapai leher.

Sungmin tersenyum tipis, terutama saat menyadari penghangat ruangan membuatnya tidak merasakan dingin sisa hujan semalam. Ini sudah jelas hasil pekerjaan tangan Ryeowook. Pemuda mungil itu tidak akan membiarkannya tidur dalam posisi tak nyaman.

Kaki-kaki ramping Sungmin berjalan ke arah dapur. Sosok Ryeowook sedang membelakanginya. Dan Sungmin bisa mencium aroma ginseng yang menguar dalam ruangan itu. Sungmin mendekat, dan berdiri tepat di sebelah Ryeowook yang tengah menyeduh ginseng.

"Pagi, Wookie-yah!" sapa Sungmin pelan.

Sedikit tersentak kaget, Ryeowook menoleh. "Kau sudah bangun, Hyeong?" tanyanya retoris.

Sungmin hanya mengangguk. Matanya terpejam saat menghirup aroma ginseng yang khas. "Terima kasih untuk bantal dan selimutnya, Chagi."

Ryeowook balas tersenyum. "Kau tidak boleh lelah, Hyeong. Aku tahu Yesung hyeong merepotkanmu."

Sungmin tidak mengatakan apa-apa. Ada perasaan tenang tersendiri saat Ryeowook mengkhawatirkannya. Sungmin tidak tahu mengapa, tapi rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir kali ia merasa ada orang yang bersedia khawatir padanya.

"Berkemaslah, Wookie. Hari ini kita ke Nami." ucap Sungmin pelan. Tangannya segera terulur demi meraih mug miliknya.

Ryeowook melongo sebentar, mata karamelnya menatap Sungmin yang menyesap kalem teh ginseng buatannya. "Kita akan pergi hari ini, Hyeong?"

Kepala Sungmin mengangguk-angguk.

"Arrasseo, Hyeong!"Ryeowook berseru riang. "Aku akan menyiapkan keperluanmu juga." katanya, lantas melompat-lompat gembira meninggalkan Sungmin di pantry.

Sungmin mengulum senyum tipis, sebelum Ryeowook menghilang dari dapur menuju kamarnya, Sungmin kembali memanggil nama kecil Ryeowook, "Wookie-yah."

Ryeowook tahu-tahu berhenti melompat, lalu menoleh ketika mendengar namanya terpanggil. "Ne?"

Agak lama bagi Sungmin mengulur waktu untuk menjawab, ia tampak ragu, Ryeowook sampai mengernyitkan keningnya. "Waeyo, Hyeong?"

'Apapun yang terjadi, jangan pergi dariku.'

Sungmin ingin mengatakan hal itu, tapi akhirnya ia hanya menggeleng. "Ani. Cepatlah berkemas dan buat sarapan. Sepertinya aku lapar."

Ryeowook tersenyum kecil, lantas mengangguk.

Sungmin menghela napasnya setelah Ryeowook tak lagi terlihat. Pelan ia kembali merasai hangat teh ginseng seduhan Ryeowook. Jujur saja, untuk beberapa detik yang lalu, Sungmin merasa ia bisa saja kehilangan Ryeowook. Pemikiran yang buruk. Karena Ryeowook tidak akan meninggalkannya.

Mereka ditakdirkan bersama. Mereka diciptakan untuk satu sama lain. Terserah bagaimana orang lain memandang hubungan mereka. Terserah bagaimana orang-orang di luar sana mencibir. Sungmin tidak peduli. Sungmin terlalu percaya, ia hanya ada untuk Ryeowook.

..::.

Sungmin melirik jam dipergelangan tangannya untuk kesekian kali, berganti melirik ponselnya yang tidak menunjukkan adanya panggilan. Sungmin mendecak sebal. Kalau ada hal paling dibencinya kecuali masa lalu, itu sudah jelas menunggu. Dan satu opsi itu benar-benar tidak ada dalam schedule-nya hari ini.

Sudah hampir setengah jam sejak telpon terakhir dari Kyuhyun yang menyambangi nomornya. Si Tuan Cho itu meminta sedikit waktu telat karena harus mengurus sesuatu. Tapi sebentar dalam kamus Sungmin, berarti benar-benar sebentar. Bukan nyaris setengah jam!

Sungmin tidak perduli urusan laki-laki tinggi kurus itu, ia hanya ingin segera berlayar ke pulau Nami, memesan penginapan hingga besok, dan menghabiskan sela waktu untuk berlibur bersama Ryeowook. Itu urusan mudah saja kalau Kyuhyun tidak seenaknya telat.

"Apa masih lama, Hyeong?" tanya Ryeowook gelisah. Matanya bergerak-gerak mengekori antrian orang-orang di dermaga yang siap naik ferry.

"Tunggu sebentar lagi, Wookie." Sungmin menjawab seadanya.

Laki-laki bergigi kelinci itu menjauh sedikit dari Ryeowook, lantas mengutak-atik ponselnya untuk menemukan sebaris nama yang membuatnya kesal pagi-pagi begini.

"Saya akan berangkat lebih awal, Cho Kyuhyun ssi. Kita bertemu di sana." sahut Sungmin datar begitu sambungan dijawab oleh orang di seberang.

Kyuhyun tampak menahan, sebab raut wajah Sungmin berubah menjadi lebih berkerut tidak senang.

"Maaf, Tuan! Tapi menghabiskan waktu saya dengan cara seperti ini tidak masuk dalam pembicaraan pekerjaan." Sungmin berkata final.

Tangannya segera menyentuh tombol off, mengakhiri sambungan itu tanpa menunggu kata-kata Kyuhyun selanjutnya. Sungmin mendekat lagi ke arah Ryeowook, lalu memintanya untuk berjalan masuk barisan antrian setelah sebelumnya mereka membeli tiket masuk pulau itu.

"Chakkamma!"

Sungmin dan Ryeowook baru saja mengambil tempat di barisan paling belakang dari antrian, saat tahu-tahu suara Kyuhyun merambat ke pendengaran Sungmin. Suara bass yang tidak disukainya. Sungmin berbalik, dan ia bisa melihat seorang pemuda tinggi memanggul ransel tidak terlalu besar di belakangnya baru saja turun dari bus.

"Maaf membuat Anda menunggu lama, Sungmin ssi." Ucap Kyuhyun sopan.

Sungmin tidak menanggapi. Matanya melirik sinis sebelum mengangguk sepintas. Kyuhyun sendiri menelan ludahnya. Ia cukup puas dengan perlakukan Sungmin yang demikian. Setidaknya, sejak kemarin, Sungmin tidak menjauhi Kyuhyun. Sungmin tidak berlari atau menunjukkan gestur ingin memberontak saat Kyuhyun mendekat.

Ini sudah lebih dari cukup untuk Kyuhyun.

Kyuhyun baru berniat membeli tiket saat matanya menangkap sosok mungil yang berbicara dengan Sungmin. Kyuhyun memerhatikan mereka. Pemuda mungil di depan Sungmin tampak berbicara dengan semangat, sementara Sungmin hanya mengangguk dengan senyum di wajahnya. Sesekali, Sungmin menanggapi dan pemuda mungil itu akan tersenyum lebar.

Kening Kyuhyun berkedut bingung. Sungmin tidak seramah itu padanya ataupun pada Kim Yesung. Senyum di wajah Sungmin saat ini terlihat begitu berbeda. Dan Kyuhyun tahu ia tidak suka melihat itu. Tanpa sadar, giginya mulai menggigit bibir bawahnya, menahan gejolak yang aneh.

Harapannya untuk melakukan perjalanan berdua dengan Sungmin habis sudah. Padahal, Kyuhyun terlanjur bahagia berlebih semalam. Di dalam ranselnya sekarang, ia bahkan membawa sketsa rumah yang pernah digambar Sungmin kecil.

..::.

Perjalanan kapal ferry itu hanya beberapa menit. Beberapa menit yang diam bagi Kyuhyun. Sebab, sejak dari dermaga penyeberangan, Sungmin lebih sibuk mengobrol dengan Ryeowook, mengabaikan total keberadaan Kyuhyun di dekat mereka.

Ketika kapal berbendera negara-negara di dunia itu merapat di dermaga pulau Nami, Sungmin dan Ryeowook bergegas turun. Kyuhyun hanya berjalan pelan-pelan mengekori mereka. Ryeowook seperti menyebut-nyebut penginapan, membuat Kyuhyun seketika melirik ransel Sungmin.

"Kalian akan menginap?!" tanya Kyuhyun tiba-tiba, tidak benar-benar ingin bertanya sebenarnya.

Ryeowook menoleh ke belakang demi melihat Kyuhyun, bibirnya yang mungil baru akan terbuka untuk menjawab, namun suara Sungmin memotong terlebih dahulu.

"Kita bisa langsung melihat lokasi pembangunan, Cho Kyuhyun ssi." kata Sungmin singkat. Suaranya terdengar datar, tanpa intonasi.

Ryeowook kembali mematut pandangannya pada Sungmin. Keningnya berkerut sesaat, namun mengerti jika tujuan utama Sungmin ke sini bukan untuk liburan. Bagaimanapun, ia harus bekerja.

"Kalau begitu, aku akan mencari penginapan. Hyeong bekerja saja." sahut Ryeowook.

"Kau boleh ikut, Wookie-yah. Kita bisa menyewa kendaraan. Tidak masalah kan, Kyuhyun ssi?"

Kyuhyun melirik Ryeowook sebentar. Pemuda mungil itu tampak tidak nyaman dengan ide Sungmin.

"Kurasa Ryeowook ssi butuh istirahat. Kita sebaiknya mencari penginapan sebelum pergi." usul Kyuhyun kemudian. Nada suaranya dibuat sekhawatir mungkin pada pemuda mungil yang terus menempeli Sungmin itu.

"Kau lelah, Wookie?"

Ryeowook mengerjapkan matanya. Jujur saja, ia memang lelah. Sungmin memutuskan untuk tidak menggunakan mobil pribadi dari apartemen mereka di Seoul menuju Gapyeong. Dan perjalanan kurang lebih 63 Km itu ditempuh menggunakan subway dengan berkali-kali transfer. Sungmin mungkin lupa, tubuh Ryeowook agak lemah untuk perjalanan melelahkan seperti itu.

"Se-sebenarnya, aku bisa mencari hotel sendiri. Hyeong dan Kyuhyun ssi pergi saja." Ryeowook tersenyum enggan. Satu tangannya mengelus tengkuknya sendiri, kikuk.

"Kalau begitu, biar kutemani." Sungmin mengamit lengan Sungmin, seolah menunjukkan intimasinya dengan Ryeowook di hadapan Kyuhyun. "Anda bisa menunggu sebentar kan, Kyuhyun ssi?"

Kyuhyun ingin menjawab bahwa ia keberatan, namun begitu matanya melirik Ryeowook, mau tak mau ia merasa kasihan. Pemuda itu tampak rapuh tanpa Sungmin di dekatnya. Sama seperti Kyuhyun yang jarang keluar rumah, sepertinya pekerjaan Ryeowook tidak membutuhkannya untuk selalu keluar. Kondisi semacam itu jika tidak diimbangi dengan olahraga, dapat membuatnya lemah. Dan Ryeowook terlihat seperti itu.

Setelah beberapa detik, Kyuhyun akhirnya mengangguk kalah. "Saya akan menunggu di sini."

Baik Sungmin dan Ryeowook tidak mengatakan apa-apa. Sesegera mungkin, Sungmin menarik cepat Ryeowook dari situ, meninggalkan sendiri Kyuhyun yang diam-diam menghela napas. Ya. Kyuhyun menghela napas, sedikit lega. Ryeowook akan mendekam di hotel, itu berarti ia akan memiliki waktu berdua dengan Sungmin. Setidaknya, seperti yang kemarin ia harapkan.

..::.

Yesung terbangun dari tidur nyamannya saat sebuah pesan singkat membuat ponselnya bernyanyi riang. Ia masih lelah untuk dibangunkan, meski matahari memang telah berada di puncak. Pengerjaan resort yang sebelumnya di tangani Sungmin itu nyatanya melelahkan. Klien kali ini adalah ahjussi bawel yang plin-plan, segala desain ditolaknya. Cukup untuk membuat Yesung stress.

Ponsel itu masih bernyanyi. Yesung ingin sekali membiarkannya. Tapi nada pesan yang kemarin iseng-iseng ia pasang, ternyata memang terlalu berisik. Dengan mata yang masih setengah terpejam, tangannya terulur untuk meraih benda mungil di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Matanya yang tadi tampak segaris mendadak membuka sepenuhnya, mengusir kantuk yang menari-nari di sana.

From: Ryeowookie

Gomawo untuk liburannya, Hyeong. Kami sedang di Nami.

Yesung tersenyum kecil, terasa getir ketika membaca barisan pesan pendek itu. Meski harus berdebat habis-habisan dengan Sungmin yang menolak pekerjaan dari Kyuhyun waktu itu, setidaknya Ryeowook bisa bahagia sekarang. Ya. Yesung hanya perlu sedikit keras kepala untuk membahagiakan dongsaeng-nya.

Sungmin dan Ryeowook. Yang satu, Kim Ryeowook, dongsaeng yang ia dapat sebagai hadiah dari orang tuanya. Yang satu, Lee Sungmin, dongsaeng yang ia temukan sendiri. Dua orang yang paling ingin dibahagiakan oleh Yesung. Dua orang yang paling disayanginya. Dua orang yang—

To: Ryeowookie

Cheonmaneyo, Wookie. Bersenang-senanglah dengan Sungminnie.

—diam-diam Yesung simpan dalam hatinya sebagai orang teristimewa.

..::.

"Apa pulau Nami itu sangat cantik?"

Kyuhyun dan Siwon yang saling melontarkan celutukan lucu mendadak menoleh pada pemilik suara barusan. Sungmin sedang mendongak, menatap poster sebuah drama yang mengambil syuting di pulau Nami. Mereka sedang berjalan-jalan bersama—hasil melarikan diri yang direncakan Kyuhyun.

"Sepertinya sangat cantik." Sungmin terus menggumam. Matanya menatap takjub tempat yang ada di poster. Barisan pohon Matasequaia yang meranggas berjejer rapi di bawah pesona musim dingin. Lengkap dengan putihnya salju di mana-mana.

Kyuhyun dan Siwon mendekat. Mereka turut mendongakkan kepala.

"Winter Sonata." Siwon yang pertama menggumamkan tulisan besar di poster.

"Kau ingin ke sana, Hyeong?" Dan Kyuhyun menjadi orang pertama yang menawari.

Sungmin berbalik dengan mata berbinar-binar cerah. "Kita bisa ke sana, Kyunnie?"

Anak laki-laki berambut ikal itu mengangguk semangat. "Tentu saja! Kita akan ke sana bersama. Iya, kan, Siwon hyeong?"

"Tentu! Kita bertiga akan ke sana nanti."

Mata Sungmin makin berbinar ceria ketika ia merapal ulang janji mereka. "Kita akan ke sana."

Sungmin mengalihkan lagi pandangannya ke arah poster. Sungmin tidak pernah melihat tempat seindah itu sebelumnya. Selama ini ia ada di panti asuhan, tidak pernah pergi. Dan ide untuk ke pulau Nami adalah ide terhebat yang pernah ia bayangkan.

"Gomawo, Kyunnie, Wonnie!"

..::.

Kadang, ada janji yang tidak bisa dipenuhi. Kadang pula, ada janji yang perlu disimpan cukup lama agar terpenuhi nantinya. Dan janji pulau Nami diingat Kyuhyun sebagai janji yang harus ia penuhi. Meski tahun-tahun yang lewat itu telah berada di hitungan yang tidak sedikit, Kyuhyun tetap harus meluruhkannya.

Tampak sangat memaksa memang, tapi siapa peduli? Sekarang, Kyuhyun ada di sini, mencoba untuk meluruhkan segala janji yang pernah terucap kepada Sungmin. Janji untuk ke pulau Nami bersama—meski tidak dengan Siwon. Dan janji untuk membangun rumah impian mereka dulu. Sekarang, Kyuhyun tengah berusaha.

Meski pada akhirnya Sungmin akan tetap mendepak Kyuhyun dari hidupnya, setidaknya Kyuhyun telah berusaha memberikan apa yang tidak pernah ia berikan pada Sungmin dahulu. Kyuhyun tahu ia telah terlambat dengan semua usaha untuk menepati janji ini. Tapi ia percaya, cinta tidak pernah terlambat. Jika mereka memang dua orang yang ditakdirkan, selama apapun, tidak akan ada yang terlambat untuk perasaan masing-masing.

"Kita bisa pergi sekarang, Kyuhyun ssi?"

Suara tenor yang Kyuhyun hapal betul itu terdengar sengit. Kyuhyun menoleh, dan ia bisa melihat laki-laki berparas imut tengah menatapnya tanpa ekspresi. Kyuhyun masih berdiri di tempat yang sama sejak Sungmin dan Ryeowook meninggalkannya, sama sekali tidak beranjak meski orang-orang yang lewat di situ mulai melirik aneh.

Bahkan, saat ini pun, Sungmin tengah menatapnya aneh. Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk berdiri selama nyaris sejam demi menunggu seseorang, kan? Tidak ada, kecuali Cho Kyuhyun!

"Saya akan menyewa kendaraan."

"Bisakah kita berjalan?" Kyuhyun bertanya pelan, mencegah Sungmin yang tahu-tahu sudah bersiap ke arah penyewaan kendaraan dekat situ.

Sungmin yang berada beberapa langkah di depan Kyuhyun menoleh. Matanya menatap berbahaya. Tapi Kyuhyun tidak gentar. Hanya satu yang hatinya rapalkan sejak tadi: semoga Tuhan mengabulkan permohonan kecilnya untuk memenuhi janji bertahun-tahun itu.

"Terserah Anda, Cho ssi."

Dan Tuhan memang mengabulkannya. Walau panggilan formal Sungmin makin memberati telinga Kyuhyun.

..::.

Kyuhyun mengambil kesempatan. Itu mungkin benar. Tapi yang sekarang Kyuhyun lakukan adalah, memberikan kesempatan yang ia curi itu untuk Sungmin. Kyuhyun memang berjalan setidaknya tiga langkah di hadapan Sungmin, tetapi Kyuhyun bisa merasakan bahwa Tuan Arsitek itu tengah terpukau dengan keindahan pulau cinta ini.

Korea masih berada di penghujung musim panas, tapi pohon-pohon di pulau Nami perlahan telah berubah warna. Beberapa dedaunan pohon gingko mulai menguning, memberi corak kecantikan yang ceria. Serasi dengan barisan pohon-pohon birch yang berjejer rapi di pinggir pantai.

Sungmin sendiri, harus mengakui bahwa ia memang menyukai tempat ini. Sebelumnya, ia tidak pernah ke sini. Waktu-waktu kencannya dengan Ryeowook habis di apartemen, pameran lukisan, dan pameran desain. Beberapa waktu, mereka bisa ke kafe berdua, atau makan malam yang kadang mengikutkan Yesung—bahkan kadang berempat dengan Siwon. Sama sekali tidak ada perjalanan ke tempat romantis begini.

Mata bulat Sungmin mematut punggung kurus di hadapannya. Laki-laki bermarga Cho itu berjalan santai, menuntunnya menuju lokasi yang akan dibanguni rumah hasil desainnya nanti.

"Apa masih sangat jauh, Cho ssi?" tanya Sungmin. Suaranya masih sedatar tadi.

Kyuhyun tampak tidak mendengar. Laki-laki itu terus berjalan. Kepalanya sesekali menoleh ke kanan-kiri, seperti wisatawan yang datang untuk berlibur. Padahal, area tempat mereka kini berjalan, sudah minim pengunjung.

"Cho Kyuhyun ssi!" Suara Sungmin meninggi.

Langkah kaki Sungmin nyaris memblokir jalan Kyuhyun jika saja laki-laki itu tidak segera membalikkan tubuhnya. Kyuhyun menarik sedikit ujung bibirnya, tersenyum diam-diam. Dipandangnya Sungmin yang tampak kesal dengan mata yang memicing tajam.

"Kita sampai, Sungmin ssi." ucapnya pelan, kontras dengan suara tenor Sungmin yang melengking.

Mata rubah milik Sungmin mengedar, menjelajahi tempat itu sejenak. Mereka ada di lahan hijau agak luas. Terasa sunyi, namun damai dengan suara-suara burung yang bersahutan. Sungmin bahkan bisa melihat beberapa tupai yang melompat di antara pepohonan.

Tempat ini seperti kotak kecil dreamland. Seperti sepetak mungil dunia dongeng.

"Saya tidak tahu berapa luasnya. Tapi, batas-batas tanah sudah ditandai dengan batu." ujar Kyuhyun pelan, seperti setengah hati mengatakannya. Saat ini, Kyuhyun bisa melihat kekaguman di mata Sungmin. Dan sungguh, Kyuhyun tidak tega mengganggunya.

Seperti tersadar dari penjelajahan kagum yang dialaminya, Sungmin segera melarikan pandangannya pada Kyuhyun. Ia tidak lantas mengatakan sesuatu, tapi tangannya merogoh isi ransel yang ia bawa sedaritadi. Kyuhyun sempat menaikkan satu alisnya penasaran, namun detik berikutnya, sebuah meteran telah dikeluarkan Sungmin.

"Tunjukkan batu batasannya, Kyuhyun ssi."

Kyuhyun mengangguk patuh. Ia berjalan beberapa langkah, lantas duduk berjongkok dan menunjuk sebuah batu tidak terlalu besar yang menyembul dari dalam tanah. "Ini. Batasnya ada di ujung, berbentuk persegi panjang. "

Sungmin melihatnya sebentar. Tanpa berbasa-basi, tangannya menarik ujung meteran dan mengangsurkannya pada Kyuhyun. "Maaf, tapi saya tidak membawa meteran lain. Jadi, tolong pegang angka nolnya di sini."

Kyuhyun menerimanya tanpa mengatakan apapun. Sementara itu, Sungmin mulai berjalan ke depan, mencari batu batasan lain yang Kyuhyun maksud.

Sungmin sudah berjalan beberapa meter di depan Kyuhyun, membuat Kyuhyun mampu melihat punggung mungil Sungmin yang bergerak menjauhinya. Perlahan, Kyuhyun merasa de javu. Ini seperti beberapa tahun lalu, saat Kyuhyun menatap kepergian Sungmin darinya. Saat diam-diam, Kyuhyun menangis sendiri melihat punggung Sungmin yang perlahan menghilang dari pandangannya.

Tepat seperti yang terjadi waktu itu, kini airmata kembali meluruh di sudut mata bermanik karamel milik Kyuhyun. Sekali lagi, laki-laki itu menangis demi cinta seumur hidupnya. Cinta terbaik yang ia simpan rapat-rapat dalam hatinya.

"Mianhae, Minnie-yah. Mianhae."

Jarak di antara mereka semakin jauh, dan pandangan Kyuhyun semakin mengabur oleh airmata. Di sela buram penglihatannya itu, Kyuhyun bisa melihat meteran di tangannya seolah menjadi penghubung antara ia dan Sungmin. Satu-satunya hal yang mendekatkan dirinya dan laki-laki yang ia cintai itu.

Entah penghubung itu berbentuk apa selama ini. Mungkin saja rindu Kyuhyun. Mungkin juga rasa bersalahnya. Atau mungkin, penghubung itu berupa benang merah yang akan terus mengikat takdir mereka.

Takdir untuk bersama akhirnya.

..::.

Langkah Kyuhyun menapak pelan-pelan lantai penginapan yang terasa dingin. Ia baru usai dengan makan malamnya, saat merasa kebosanan menyerangnya habis-habisan. Ia tidak menemukan Sungmin—ataupun pemuda mungil yang mengekori Sungmin itu—di manapun.

Kakinya berderap malas menuju balkon yang menghadap halaman belakang penginapan. Di pulau Nami, jaringan internet sama sekali tidak ada. Jadi, hiburan yang bisa dicari Kyuhyun cukup memandangi kehidupan malam pulau mini ini saja.

Ia baru saja akan menghirup dalam-dalam udara bersih saat matanya tanpa sengaja menemukan sosok yang sedaritadi memenuhi pikirannya itu. Sosok tersebut duduk bersandar di bangku halaman belakang penginapan. Ia sendirian. Duduk dengan kedua tangannya yang terlipat di depan dada.

Langit malam, cahaya keperakan bulan, angin yang berembus pelan, dan Sungmin. Kombinasi paling tepat untuk melegakan dada Kyuhyun yang sedaritadi terasa dihimpit kuat. Ujung bibirnya tertarik, matanya memandang lembut. Bahkan dari jarak sejauh ini, mata Kyuhyun hanya bisa menangkap Sungmin dengan baik.

..::.

Ryeowook tersenyum riang dengan langkah yang mantap. Di kedua tangannya saat ini, secangkir kopi hitam dan strawberry frappuccino duduk manis di atas nampan. Kakinya menapak pelan-pelan mendekat pada Sungmin yang masih duduk bersandar di bangku kayu.

Sungmin tertidur. Ryeowook bisa meyakininya saat ia meletakkan kedua cangkir itu di atas meja di sisi Sungmin. Sungmin baru kembali ke penginapan saat sore. Wajahnya tampak begitu lelah. Ryeowook sampai-sampai tak tega membangunkannya.

"Istirahatlah, Hyeong." Bisiknya seduktif. Tangannya dengan sigap melepas sweater cokelat yang ia pakai, lantas menutupi tubuh Sungmin dari serangan angin malam.

Ryeowook menggigiti bibir bawahnya ragu saat ia kembali menatap wajah Sungmin. Wajah itu damai, bibirnya terbuka sedikit, sementara rambutnya bergerak-gerak saat angin membelainya. Sungmin terlihat seperti anak kecil polos saat tertidur.

Tanpa sadar, tangan Ryeowook sudah membelai pipi Sungmin. Kulitnya halus tanpa cela, seperti kulit bayi.

"Kau tahu, Hyeong?" Ryeowook bertanya amat pelan, meski tahu Sungmin tidak akan menjawab. "Aku sangat mencintaimu."

Wajah Ryeowook perlahan mendekati wajah tertidur Sungmin. Hanya butuh beberapa centi lagi hingga bibir mereka bersentuhan. Dalam jarak sedekat ini, Ryeowook bahkan bisa merasakan napas hangat Sungmin membelai wajahnya sendiri. Hanya sekali lagi pergerakan, namun Ryeowook memilih untuk terdiam. Matanya menatap wajah Sungmin agak lama sebelum akhirnya menarik diri.

Ia tersenyum kecut. Agak kecewa dengan keputusannya sendiri. Tetapi akhirnya ia menghela napas. Bagaimanapun, ia yang paling tahu, Sungmin tidak akan senang jika ia mencuri ciumannya dengan cara seperti ini.

Ryeowook menghela napasnya sendiri—untuk kesekian kalinya. Kedua pipinya menggembung sebelum tersenyum dengan wajah merona setelahnya.

Tanpa Ryeowook sadari, jauh dari tempatnya duduk, di tempat yang tidak ia tengok, seorang pemuda di balkon kamarnya baru saja tersaruk jatuh ke lantai.

::TBC::

Labu's note:

Salah satu bagian yang saya sukai adalah, ngebacot di sini. XD

Padahal, review dari chingudeul belum saya bales. Mianhae …

Saya cuma mau bilang, makasih udah meluangkan waktu untuk menulis review. Saya senang sekali membaca tiap review yang masuk. Rasanya, kayak mau ngelompat ke depan komputer dan lanjut ngetik.

Kebahagiaan itu relatif. Dan sebenarnya, untuk bahagia itu sederhana saja. Seperti saya yang bahagia baca review, atau seperti Kyu yang bahagia hanya ngeliat Ming dari jauh.

Jadi, ELF, selamat berbahagia di manapun kalian berada.

"Kita tidak tersenyum karena kita bahagia. Tapi kita tersenyum karena itu membahagiakan."—Yesung.

Nb: saya nulis tentang kebahagiaan karena gak mau tanggung jawab kalau-kalau ada reader yang mendadak galau baca chap ini. XD

Salam Peri!