Peri Labu present:

A KyuMin fanfiction

"Cruel Fairy Tale"

.

.

.

More Than Words

"Kamu … kenangan terbaik yang tidak pernah meluruh."

"Jangan dekati dia! Anak yang tidak punya orang tua!"

Ledekan itu tidak asing bagi Sungmin kecil, tapi tiap kali mendengarnya, ia tahu rasa sakitnya selalu sama. Sungmin tidak pernah memahami bagaimana tepatnya rasa sakit itu, tapi ia bisa merasakan sesuatu tiba-tiba menghilang di balik dadanya. Kosong dan membuatnya kesulitan bernapas dengan benar.

Mereka bilang, ia tidak punya orang tua. Awalnya, Sungmin tidak tahu siapa itu orang tua. Bagaimana seseorang bisa disebut orang tua. Ia hanya tahu Shim eomma. Tapi, wanita yang dipanggil eomma oleh seluruh penghuni panti itu mengatakan bahwa orang tua adalah orang yang akan selalu menyayangimu, ada di dekatmu, dan membuatmu merasa nyaman. Sama seperti yang dilakukan nyonya Shim terhadapnya.

Awalnya, Sungmin percaya dan yakin kalau nyonya Shim adalah orang tuanya. Seluruh penghuni panti memercayai itu, dan Sungmin sangat bangga telah memiliki orang tua.

"Shim ahjumma? Dia bukan orang tuamu. Dia pengasuhmu, Bodoh!"

"Kalau kau tinggal di panti asuhan, itu berarti orang tuamu membuangmu. Kau tidak diinginkan!"

Sungmin tidak ingin memercayai anak-anak nakal itu. Ia punya banyak teman di panti asuhan. Jika orang tua adalah orang yang menyayangi kita, mengapa ada banyak anak yang tidak diinginkan? Sungmin tahu anak-anak nakal itu berbohong. Sungmin tahu. Hanya saja, Sungmin tidak bisa mengatakan kalau ia baik-baik saja dan telah melupakan ledekan itu. Ia merasakan kekosongan itu lagi dalam dirinya. Membuatnya menangis.

Sungmin tidak ingin memiliki orang tua. Sungmin benci pada mereka yang disebut orang tua, siapapun itu. Sungmin tidak ingin ditolak. Jika ia ada di panti asuhan, berarti ia ditolak.

Penolakan itu sakit, sesak, dan menyebalkan. Sama seperti yang selalu dirasakan Sungmin saat anak-anak nakal itu mulai memandang rendah dan mengatainya. Penolakan itu sesuatu yang tidak baik. Yang terpenting, Sungmin merasa penolakan itu membuatnya selalu merasa sendiri—kesepian.

Sama seperti hari ini. Saat pulang sekolah, Sungmin melihat anak kecil seusianya menangis, dan seorang wanita dewasa datang, memeluknya, dan membujuknya untuk berhenti menangis. Mereka bilang, begitulah orang tua.

Sekarang Sungmin menangis. Tetapi tidak satu pun ada yang datang untuk memeluknya dan membujuknya untuk berhenti menangis. Sungmin merasa, orang tuanya benar-benar tidak baik.

"Kenapa menangis?"

Sebuah suara agak nyaring khas anak kecil mengagetkan Sungmin. Begitu kepalanya mendongak, matanya dapat menemukan bocah tinggi kurus dengan rambut semi ikal. Sungmin mengerjapkan matanya, tapi ia masih mengisak sesekali.

"Nuguya?" tanyanya pelan.

Anak laki-laki itu tersenyum agak lebar. Tangannya terulur, berniat menyalami Sungmin yang masih duduk di bangku panjang di sana.

"Kyuhyun." Anak itu menjawab mantap. "Jae ireumeun Cho Kyuhyun imnida."

Mata bulat Sungmin mengerjap-ngerjap. Ia tahu semua penghuni panti. Nama Cho Kyuhyun tidak pernah ada dalam daftar anak-anak panti asuhan ini. Mungkin Cho Kyuhyun ini hanya anak orang kaya yang biasa datang untuk memberikan sumbangan.

"Aku penghuni baru di sini. Salam kenal!" Kyuhyun menjelaskan tanpa diminta, seolah ia memang memahami wajah kebingungan Sungmin.

Sungmin tidak banyak bereaksi. Matanya seperti laser yang langsung mengidentifikasi Kyuhyun. Bocah tinggi dengan wajah tampan, rambutnya agak ikal—atau mungkin memang ditata berantakan, bibirnya tebal, dan bentuk wajahnya lonjong. Tetapi, anehnya proporsi seluruh fitur-fitur wajahnya itu terlihat pas. Secara keseluruhan, sebenarnya Han Kyuhyun terlihat sangat good looking.

Tapi keberadaannya di sini cukup diartikan Sungmin sebagai anak yang memiliki nasib sama sepertinya.

"Kau anak yang tidak diinginkan."

Senyum ramah di wajah Kyuhyun mendadak hilang, ia tampak sangat terkejut dengan kalimat dingin yang dilontarkan oleh Sungmin barusan. Matanya yang tanpa lipatan kelopak atas mengerjap-ngerjap.

"Apa maksudmu?"

Sungmin tidak mengubah ekspresi datar di wajahnya yang masih dijejaki air mata. Ia hanya menatap bocah bernama Kyuhyun itu agak lama, hingga akhirnya ia mendengus. Sebuah senyum kecut tersungging di bibirnya yang berwarna merah muda.

"Semua anak di sini, tidak punya orang tua." Gumam Sungmin pelan. Suaranya agak serak. Sementara tangan kanannya mengusap kasar airmata di pipinya.

Kyuhyun mengamati gerak-gerik bocah di hadapannya. Kyuhyun tidak tahu mengapa, tapi anak laki-laki berpipi chubby itu terlihat sangat … terluka.

Ah. Dia baru menangis.

Perlahan, tubuh kurus Kyuhyun bergerak untuk menduduki bangku kayu panjang di bawah pohon akasia itu. Ia tidak mengatakan apa-apa awalnya, tapi tangan kanannya terulur untuk menyeka sisa-sisa airmata di pipi Sungmin. Anak laki-laki yang baru menangis itu tersentak kaget. Tubuhnya secara reflek mundur ke belakang saat dirasainya tangan Kyuhyun menyentuh kulit wajahnya.

Sebelum Sungmin menghardik kelakuannya barusan, Kyuhyun buru-buru mengeluarkan suaranya. "Bukan tidak punya, kita yang berada di sini hanya sedang tidak bersama orang tua kita."

Mata rubah milik Sungmin menyipit saat ia memandangi karamel dalam mata Kyuhyun. Permata onyx dalam matanya mengamati lekat-lekat bocah sok dewasa itu. Jangan tanya bagaimana, tapi rasanya Kyuhyun langsung tahu, onyx yang sedang mengintimidasi karamelnya ini sedang ingin mengadu.

"Seumur hidup, aku tidak pernah melihat orang tuaku." Aduan itu terlontar, sampai di telinga Kyuhyun sebagai suara sinis yang menyimpan luka.

"Tidak melihat, tidak bersama, bukan berarti tidak memiliki." Kyuhyun menelan ludahnya. Berpikir sebentar untuk menemukan kata-kata yang tepat. "Di manapun mereka, mereka selalu menyayangimu." lanjutnya kemudian.

Kyuhyun mengerjap-ngerjap sendiri, merasa kalimat penutupnya terlalu tidak meyakinkan. Jelas! Kyuhyun kehabisan ide. Ia hanya bocah yang usianya bahkan belum cukup sepuluh tahun. Sejenius apapun otaknya, ia tetap tidak bisa memikirkan kalimat yang lebih bijak daripada itu.

"Ja-jadi, kau hanya perlu percaya, kau ada di dunia karena mereka mencintaimu lebih dari apapun." Kyuhyun menambahkan pendapatnya saat dilihatnya Sungmin hanya terdiam.

Sungmin memang tidak mengatakan apapun, bahkan sikap kikuk Kyuhyun yang berusaha meracuni kepalanya dengan semua pernyataan-pernyataan itu, terdengar konyol. Tapi Sungmin memikirkannya. Dari semua penjelasan yang diuraikan padanya, baru kali ini Sungmin merasa kata-kata Kyuhyun lah yang paling tepat.

Kalau ia memang tidak pernah diinginkan. Ia tidak akan terlahir. Tapi sekarang, ia ada di dunia. Hidup, bernapas, melihat, dan merasakan. Itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa orang tuanya—terutama ibu yang melahirkannya—pernah mengizinkan ia untuk melihat dunia.

Ia bukannya tidak diinginkan. Ia hanya tidak sedang bersama orang tuanya. Apapun alasan di balik keabsenan sosok orang tuanya, Sungmin tidak lagi peduli. Yang terpenting, dulu, ibunya pernah bertaruh nyawa untuk menghadirkannya ke dunia. Fakta terbaik yang akan selalu ia percayai.

"Y-ya! uljima!" Kyuhyun berseru agak keras saat airmata Sungmin lagi-lagi menetes. Ia tidak tahu mengapa. Tapi sepertinya sosok cantik itu mudah sekali menangis.

Sungmin tidak menghentikan tangisannya. Ia ingin menangis lagi sekarang. Untuk hal baru yang ia ketahui, untuk perasaan nyaman yang baru ia rasakan di dekat orang asing semacam Kyuhyun.

Tangan Kyuhyun sontak meraih tangan Sungmin, meremasnya untuk menenangkan anak laki-laki itu. Kyuhyun ingat, dulu, saat ia menangis, ayah atau ibunya akan memegang tangannya, membuatnya merasa nyaman dan aman dalam kungkungan tangan yang hangat.

"Kau bilang, kau tidak pernah melihat orang tuamu, kan?" tanya Kyuhyun hati-hati. Kedua tangannya kini menangkup satu tangan Sungmin. Tapi anak laki-laki itu masih menundukkan kepalanya dan menangis sesenggukan.

"Kalau begitu, aku akan menjadi orang tuamu …," Kyuhyun menelan lagi ludahnya. Ia benar-benar tidak tahu suara siapa yang mengatakan janji barusan. Tapi ia merasa lidahnya tidak berhenti bergerak. Di tatapnya Sungmin lekat-lekat. "Aku janji akan terus menggenggam tanganmu seperti ini. Jadi, jangan menangis lagi."

Kyuhyun memang merasa salah bicara saat ia mengatakan akan menjadi orang tua Sungmin. Tapi, saat ia mengatakan untuk terus menggenggam tangan mungil milik Sungmin, ia tahu, ia tidak sedang bermain-main.

Detik berikutnya setelah janji itu terlontar dari bibir Kyuhyun, Sungmin mengangkat kepalanya. Matanya yang memerah karena menangis memandang Kyuhyun. Tangan bocah itu terasa hangat saat melingkupi satu tangannya.

Sungmin tidak mengatakan apa-apa. Tidak juga dengan ucapan terima kasih singkat. Ia hanya mencoba terus merasai perasaan damai di tangannya. Kenyamanan itu terus mengalir dari tangan Kyuhyun, diserap hangat oleh tangan mungilnya yang terasa dingin beberapa saat lalu.

Rasa nyaman yang membuat Sungmin tidak ingin beranjak ke manapun.

..::.

Kyuhyun menatap telapak tangannya sendiri. Jari-jari dan sela di antaranya itu, terasa amat pas saat jemari Sungmin tertaut di sana. Kyuhyun masih mengingat dengan baik ketika ia menautkan kedua tangan mereka dahulu. Hanya sebuah tautan tangan, tapi Kyuhyun sudah merasa telah memiliki seluruh dunia. Bahwa saat ia menyatukan tangannya dan tangan Sungmin, kesempurnaan seakan menyambangi seluruh sendi hidupnya.

Dan hal terburuk dan terpincang yang pernah ia rasakan adalah, saat Sungmin menangis frustasi sementara ia tidak melakukan apa-apa. Hari saat di mana untuk kali pertama Sungmin menatapnya penuh kebencian, hari di mana untuk kali pertama Kyuhyun mendengar tangisan paling menyakitkan itu, ia hanya berdiri dengan tubuh kaku. Seharusnya, Kyuhyun ada di sisi Sungmin, menyeka airmatanya dan menggenggam kedua tangan Sungmin dalam dekapannya.

Tapi tidak, Kyuhyun tidak melakukannya. Tindakan paling bodoh yang ia sesali hingga kini: membiarkan Sungmin menangis sendiri saat itu.

"Mianhae."

Kyuhyun mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia lelah. Sungguh. Mengingat apa saja yang pernah dilaluinya bersama Sungmin, membuat rasa bersalahnya semakin membesar. Rasa bersalah yang nyatanya tidak pernah menghilang bahkan setelah bertahun-tahun berlalu. Rasa bersalah yang melatarbelakangi keputusan untuk meninggalkan Seoul demi Praha.

Helaan napas panjang lagi-lagi dikeluarkan Kyuhyun. Tangannya merogoh isi ransel yang ia bawa ke Nami beberapa hari lalu. Detik berikutnya, sebuah kertas lusuh berhasil ia keluarkan. Pada akhirnya, Kyuhyun tidak sempat memerlihatkan sketsa itu pada Sungmin.

Mungkin lain kali, saat mereka duduk berdua membicarakan rancangan.

"Kyuhyun-ah, kau di dalam?"

Pertanyaan itu terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu kamar Kyuhyun. Laki-laki bermata karamel itu mendongak sejenak sebelum tersenyum. Ia mengenali suara dalam barusan.

"Sebentar, Siwonnie hyeong!" serunya.

Langkahnya mendekat pada pintu, lalu membukanya dengan sekali gerakan. Seorang laki-laki tinggi dengan senyum cerah berdiri persis di depannya. Kyuhyun balas tersenyum.

Choi Siwon. Satu-satunya orang yang akan menerima serbuan kata terima kasih dari Kyuhyun. Tapi, untuk saat ini ia akan menahannya.

"Baru pulang, eoh?" tanyanya santai.

Siwon mendelik mendengarkan pertanyaan tak wajar itu sembari mengikuti pemuda tinggi itu masuk ke dalam kamar. "Berapa tahun kita tidak bertemu, hah? Kau menanyakan hal salah. Seharusnya kau menanyakan kabar, Kyunnie." Siwon mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. Alisnya terangkat, berniat menyindir. "Atau memang seperti ini orang-orang di Praha?"

Gelak tawa berurai dari bibir Kyuhyun selagi ia mendudukkan dirinya di lantai. Siwon selalu pandai melemparkan lelucon ringan. Anehnya, Kyuhyun selalu tergelitik untuk tertawa.

"Kau tampak sangat sehat, Hyeong. Untuk apa menanyakan basa-basi?"

Kedua bahu Siwon terangkat. Tak peduli lagi. Bersilat lidah dengan Kyuhyun adalah pekerjaan sia-sia. Anak itu selalu punya segudang kata-kata untuk membalasnya.

"Omong-omong, kau punya hutang penjelasan atas kepulangan mendadakmu ini, Kyuhyun-ah." ucap Siwon efisien. Memang itu alasan utamanya mengunjungi Kyuhyun.

Pemuda dengan manik karamel dalam matanya itu mendongakkan menatap Siwon. Alisnya bertaut bingung. "Maksud, Hyeong?"

"Maksudku, kompetisi piano, Kyu!" jawabnya to the point. "Violinis Jenius Asal Korea Selatan, Kyuhyun Cho, Mengundurkan Diri dari Kompetisi Musim Panas." Siwon mengingat-ingat sebaris judul berita yang ditemukannya di internet beberapa saat lalu.

Kyuhyun tampak terkejut, tak menyangka jika Siwon masih tertarik pada halaman website yang memuat info-info tentang kompetisi piano yang didaftarinya itu. Ia bahkan tidak sempat mengelak saat suara Siwon lagi-lagi mencecarkan pertanyaan padanya. "Sejak kapan Cho Kyuhyun jadi pengecut?"

Untuk beberapa detik, Kyuhyun hanya terdiam. Ia tahu, Siwon tidak bermaksud membentaknya. Bahkan, kalimat terakhirnya sebenarnya bukanlah bentakan. Tapi, Kyuhyun merasa mendengarnya seperti itu.

"Kupikir, Hyeong yang paling tahu mengapa kompetisi itu tidak bisa menahanku untuk segera pulang." Kyuhyun menjeda kalimatnya demi melihat ekspresi di wajah Siwon. Ada keterkejutan samar di wajah tampannya. "Dan aku sangat berterima kasih untuk itu."

Lihat? Cho Kyuhyun selalu punya cara untuk membalikkan pukulan telak melalui kata-katanya. Bahkan cecaran Siwon hanya dibalasnya dengan intonasi amat pelan.

Siwon mendesah. Tetapi tersenyum kecil setelahnya, mengalah. "Jangan membuatku seperti orang yang harus bertanggung jawab untuk apapun yang akan kau lakukan setelah ini."

Kyuhyun tersenyum. Kepalanya menggeleng. "Tidak akan."

"Sudah seharusnya. Karena aku hanya menjawab pertanyaanmu."

"Benar." Pemuda yang lebih muda setahun itu menganggukkan kepalanya, bibirnya menyampirkan sebuah senyuman.

Mendadak, Siwon merasakan seluruh tubuhnya merinding. "Ya! Sejak kapan setan kecil sepertimu jadi patuh?"

Tawa Kyuhyun meledak lagi untuk beberapa saat. Ternyata mereka masih seakrab dulu. Siwon telah berubah menjadi laki-laki amat tampan, dengan pekerjaannya sebagai model, siapapun bisa menikmati wajah rupawannya di sampul majalah-majalah fashion, music video, atau bahkan di kemasan produk makanan dan minuman terkenal. Ditambah dengan lamanya mereka tidak bertemu, tadinya Kyuhyun merasa akan sangat kaku jika bertemu kembali dengan Siwon.

Nyatanya, sama sekali tidak. Siwon masih sama sejak terakhir kali Kyuhyun melihatnya dalam sosok remaja. Siwon masih sama sejak pembicaraan mereka di telpon tempo hari. Nyatanya, ada hal-hal yang masih tidak berubah banyak. Dan Kyuhyun diam-diam bersyukur untuk itu.

"Kurasa, Kim Yesung tidak lagi mengenaliku." gumam Kyuhyun samar. Berniat mengalihkan candaan Siwon dengan pembicaraan serius.

Laki-laki berlesung pipi itu mengangkat satu alisnya. Merasa Kyuhyun kembali mencandainya dengan kalimat barusan. "Kau bohong, kan? Mana mungkin Yesung hyeong tidak mengenalimu. Kau bahkan tidak berubah."

Kyuhyun menoleh tersinggung. "Sayangnya, aku tidak sedang berbohong. Dia benar-benar tidak mengenaliku." ucapnya cepat, dengan setengah kesal, ia bahkan buru-buru menambahkan. "Dan aku berubah! Aku menjadi dewasa sekarang."

Siwon menelengkan kepalanya, mengamati Kyuhyun. Dengan kalem, akhirnya ia berkata, "Oke, anggap saja kau memang berubah. Tapi, tidak mungkin Yesung hyeong tidak mengenalimu. Maksudku, kalian terlibat pembicaraan panjang waktu itu. Berdua. Kau tahu persis bagaimana hubungan kalian."

Kalimat itu sukses membuat Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari wajah Siwon. Ia membuang pandangannya jauh ke luar jendela. Adegan di mana ia duduk berdua dengan Yesung di ruang musik panti asuhan bertahun-tahun lalu kembali terbayang di depan matanya. Seolah ia sedang menonton sebuah film kenangan yang telah berdebu.

Kenangan yang menyakitkan.

"Kau bisa kan, Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun tidak pernah lupa bagaimana tepatnya intonasi dalam pertanyaan Yesung waktu itu. Ia juga tidak pernah lupa bagaimana ia terdiam dalam kalut yang membuatnya pusing memahami maksud Yesung. Saat itu, hanya ada satu hal dalam kepala Kyuhyun: ia tidak bisa. Tidak pernah bisa. Tapi, lidah dan kepalanya berkhianat.

Hari itu, Kyuhyun melepaskan Sungminnya.

"Sejujurnya, aku lebih lega karena Kim Yesung tidak mengenaliku." gumam Kyuhyun akhirnya, menyuarakan hal yang ada dipikirannya. "Untuk orang yang berhasil membahagiakan Sungmin, sesaat aku berpikir untuk berterima kasih."

Siwon terdiam. Di luar dugaan, satu sisi hatinya sakit mendengar pengakuan itu.

..::.

Ada tarikan pendek di ujung bibir pinkish itu ketika mata pemiliknya memandang objek di atas kanvas. Ujung jemarinya yang terbiasa menyentuh gambarnya sendiri kini menyentuh perpaduan warna-warna pastel yang lembut di sana.

"Hyeong suka?"

Pertanyaan Ryeowook selaku pelukis berhasil membuat Sungmin menganggukkan kepalanya puas. Di atas kanvas itu, satu sisi wajahnya dilukis hati-hati. Dengan rambut pirang pucat sebahu—tempak berkibar tak beraturan, dan sepasang sayap putih yang terkepak cantik. Sungmin dalam lukisan itu terlihat seperti malaikat, peri, bidadari—atau apapun sebutannya.

"Ini sempurna, Wookie-yah." komentarnya senang.

Ryeowook tersenyum lebar. Matanya mengikuti gerakan anggun Sungmin yang memilih duduk di sofa. Sofa panjang itu berimpit dengan tembok ruang lukis milik Ryeowook, tempat paling pas untuk melihat semua lukisan-lukisan yang terpajang rapi di sana.

"Kau jadi membuat pameranmu sendiri?"

Kali ini Ryeowook mengangguk semangat. "Pihak galeri sudah menghubungiku. Mereka setuju untuk memamerkan beberapa lukisan. Aku juga akan memerkenalkan lukisan-lukisan ini sebagai tema utama." Ryeowook tampak memilin-milin jemarinya sendiri dengan wajah merona. Ia masih berdiri di hadapan Sungmin. "Pameran itu akan dibuka minggu depan dan galeri sudah dipersiapkan. Jadi, saat pembukaan pameran, bisakah hyeong hadir?"

Sungmin tidak langsung menjawab. Kepalanya mendongak memandang wajah kekasihnya yang tengah menginggit bibir bawahnya sendiri. Sungmin yakin benar jika mereka telah menjalani hubungan ini selama bertahun-tahun. Tapi gestur Ryeowook sekarang seakan menunjukkan kalau mereka baru menjalani hubungan ini kemarin.

Melihat itu, Sungmin kembali mengulum senyum.

"Berapa kali harus kukatakan, Wooki-yah? Apapun untukmu."

Perlahan, senyum cerah terbit di wajah Ryeowook. Sungmin masih mengulum senyumnya. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa jauh dari tempatnya sekarang, seseorang tengah mengobrak-abrik kenangan yang pernah ia kubur dalam-dalam.

Seseorang dengan senyum yang sama persis dengan cara Ryeowook tersenyum lebar sekarang.

..::.

"Kau sudah bertemu dengan Kim Ryeowook?" tanya Siwon setelah ia berhasil membawa Kyuhyun keluar dari kamarnya.

Pembicaraan emosional tentang masa lalu tidak akan menyenangkan jika mereka terus berada dalam kamar sempit Kyuhyun. Terlalu sesak. Dan Siwon butuh pengalihan perhatian jika ia ingin tetap berpikir jernih.

Kyuhyun tidak menoleh. Matanya liar mengamati anak-anak panti asuhan yang berlarian ke sana-ke mari, meskipun pikirannya melayang jauh. Ada kilatan menyakitkan yang baru saja menyambar jantungnya saat mendengar nama tersebut. Meski tidak ingin, tapi otak Kyuhyun secara otomatis mengingat malam ketika Kim Ryeowook mencium Sungmin di halaman belakang penginapan itu.

"Mereka … serasi." Kyuhyun tahu, ada nada yang amat enggan dalam suaranya barusan. Tapi ia tidak peduli. Toh, ia tidak akan repot-repot menjelaskan apapun. Siwon adalah orang yang paling tahu seberapa dalam perasaan Kyuhyun pada Sungmin.

"Kim Ryeowook …," Siwon menghentikan kalimatnya sebentar demi menarik napas dalam. "Dia adik Kim Yesung."

Mata Kyuhyun membelalak. Perlahan ia menoleh pada hyeong yang hanya tua setahun darinya itu. "Mereka bahkan tidak mirip."

"Aku tahu." Siwon menghela napasnya. "Awalnya aku juga tidak percaya."

Kyuhyun menelan ludahnya susah payah. Bentuk hubungan-hubungan itu terasa makin rumit. Kim Yesung adalah orang yang ada di sisi Sungmin setelah Kyuhyun membuatnya merasakan sakit hati yang paling hebat. Lalu sekarang, setelah lama waktu berselang, ada Kim Ryeowook yang justru menjadi kekasih Sungmin.

Mendadak, Kyuhyun merasa kalau takdirnya dengan Sungmin dan Kim bersaudara itu terlalu ruwet, terlalu melelahkan. Membuatnya merasa pening.

"Sungmin tidak pernah membuka dirinya pada siapapun sejak saat itu. Bahkan padaku." Siwon mulai bercerita, pelan. "Aku sudah bersusah payah membuatnya mengerti. Tapi ia bergeming. Baginya, dunia hanya ada dirinya, tidak ada orang lain. Tapi ketika ia bertemu dengan adik Yesung hyeong, ia membuka mata. Dia menyadari satu eksistensi lain. Dan itu adalah Kim Ryeowook."

Kyuhyun tidak banyak bicara. Ia mendengarkan. Tapi tangannya terkepal erat. Sungmin tidak pernah menutup dirinya. Sungmin adalah anak ceria yang selalu bersemangat. Ia selalu senang bertemu orang lain, selalu senang bercerita banyak hal, dan selalu senang tertawa.

Membayangkan Sungmin yang berubah menjadi apatis, cukup membuat Kyuhyun merasakan remasan kuat di balik dadanya. Ia pernah mengubah Sungmin kecil menjadi sosok yang selalu tersenyum dan optimis. Tapi jutsru dirinya yang kembali membuat Sungmin seperti boneka hidup.

"Ryeowook itu tempramen. Ia tidak akan segan berteriak histeris dan merusak barang saat mood-nya buruk. Kau tidak akan percaya, Yesung hyeong pernah mendapatkan banyak bilur merah bekas cakaran di kedua tangannya saat Ryeowook mengamuk tanpa alasan." Siwon menarik napasnya panjang. "Tapi saat kali pertama aku bertemu dengannya, ia tampak sangat jinak. Dan aku tahu, itu terjadi setelah ia bertemu dengan Sungmin. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya, tapi mereka berdua mampu memahami satu sama lain dengan cepat."

Kyuhyun masih tidak mengatakan apapun hingga Siwon menyudahi ceritanya. Kakinya yang panjang berhenti melangkah ketika mereka sampai di halaman depan panti asuhan. Halaman itu luas, jejeran pohon sakura dan akasia tumbuh subur dengan batang-batang yang agak besar. Namun rantingnya dipangkas rapi.

Sungmin tidak pernah membuka dirinya.

Kyuhyun tersenyum pedih. Belasan tahun lalu, ia juga berdiri di tempat ini—beberapa meter dari bangku piknik di bawah salah satu pohon akasia berbunga putih. Sungmin kecil duduk di bangku itu sendiri, jauh dari anak-anak lain yang bermain riang. Anak kecil itu menangis, tampak rapuh dan lemah. Anehnya, saat itu Kyuhyun kecil tertarik untuk mendekat.

Waktu itu, Kyuhyun memang tidak paham mengapa ia harus mendekati bocah penyendiri yang cengeng macam Lee Sungmin. Tapi, sekarang ia paham, ada takdir besar yang ditulis Tuhan untuk mereka.

Bahwa Cho Kyuhyun memikul tugas untuk membawa kebahagiaan bagi Lee Sungmin—dulu, entah sekarang.

"Menurut Siwon hyeong, mana yang lebih cepat? Aku atau Kim Ryeowook?"

Mendapat pertanyaan barusan, Siwon malah mengernyitkan keningnya. Ia berpikir sejenak, namun tidak mendapat ide untuk menjawab.

"Menurut Siwon hyeong, mana yang lebih baik? Dipahami atau memahami?"

Kyuhyun tidak menunggu jawaban dari hyeong pemilih panti asuhan itu. Langkahnya menapak pelan, menggelar memori-memori lama yang tidak pernah dibuangnya. Kenangan yang tidak pernah menghilang.

Ia juga pernah berjalan mendekati bangku kayu itu.

Kyuhyun mendudukkan dirinya di sana—sama seperti yang pernah ia lakukan. Kepalanya menoleh pada ilusi sosok anak kecil yang menangis sesenggukan. Pelan tangan Kyuhyun terangkat, menyeka airmata pada ilusi yang ia ciptakan sendiri dari kenangannya.

"Maaf karena pernah melepaskan tanganmu."

Beberapa meter dari situ, Siwon terdiam. Matanya melirik lirih pada apapun kecuali pada pemuda ringkih yang berusaha mencari sisa-sisa kebahagiaan dari kenangannya itu.

::TBC::