Peri Labu present:
A KyuMin fanfiction
"Cruel Fairy Tale"
Backsound: Etude op. 10 no. 3—Chopin, Brahm's Lullaby with eng lirycs
.
.
.
"Ada frasa yang tidak pernah menghilang—
—bahwa aku mencintaimu."
…
Yesung mendecak sebal. Pasalnya, ia baru tiba dari Busan dan sebuah sms yang tidak ia harapkan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Ibu yang eksistensinya menghilang beberapa bulan ini pulang ke Korea, dan ia ingin segera bertemu dengan Kim sulungnya yang berkepala besar. Gosh, dia bahkan belum istirahat.
Jadi, di sinilah Yesung berada: ruang tamu mewah dengan warna-warna emas yang menyilaukan mata—rumah utama keluarga Kim. Tepat di hadapannya, seorang wanita anggun duduk di sofa besar bak ratu.
"Jadi …," Yesung mendesah lelah. "Apa yang ingin Omonim bicara, kan?"
Wanita itu mengangkat pandangannya dengan gerakan elegan ke arah laki-laki bermata sipit di hadapannya. Bahkan, gerakan bulu matanya terlihat amat anggun diusianya yang berada di penghujung lima puluhan.
"Pernikahanmu."
Satu kata itu cukup membuat Yesung mengembuskan napas lebih keras. "Omonim!"
"Sudah waktunya, Yesung-ah." Nyonya Kim melempar tatapan berbahaya—gestur yang selalu digunakannya untuk membuat warning bahwa ia tidak ingin dibantah.
"Eomma kira kau tidak pernah lupa, bahwa kau …," Wanita itu menghentikan sejenak kalimatnya. Matanya memejam kuat, meyakinkan dirinya sendiri untuk mengatakan aib terbesar yang selalu menghantuinya. "Mencintai adikmu sendiri."
Yesung merasakan tubuhnya menegang. Matanya bergerak-gerak gelisah sementara kedua tangannya terkepal erat. Yesung memang tidak pernah lupa kalau Eomma-nya tahu hal itu. Untuk kali ini saja, Yesung ingin menghapuskan kenyataan bahwa setiap ibu selalu tahu apapun tentang anaknya—entah bagaimana caranya. Atau sekalian menghapus kenyataan kalau perasaan sayangnya pada Ryeowook berada di luar batas yang seharusnya.
"Omonim, aku …,"
"Kau tahu kesalahanmu, Kim Yesung!" Wanita itu nyaris membentak. "Kita pernah membicarakan ini dan kau masih belum paham? Kau melakukan kesalahan terbesar yang pernah dilakukan seorang hyeong terhadap dongsaeng-nya! Kau tahu itu?"
Mana mungkin Yesung tidak tahu? Ia pernah hampir gila memikirkan hal ini. Yesung pernah mengalami frustasi berat sendirian saat menyadari jantungnya berdetak hebat hanya karena Ryeowook tersenyum padanya. Ia hampir gila karena ketakutan dengan perasaannya, dan ia harus menanggungnya sendiri karena ia tahu ia salah.
"Aku tahu, dan aku butuh waktu, Omonim." Yesung berkata pasrah.
Ia tahu ia harus memusnahkan perasaannya sesegera mungkin. Dan Yesung sudah berusaha. Bertahun-tahun ini, Yesung telah berusaha.
"Berapa banyak waktu lagi yang kau butuhkan? Setahun, dua tahun, sepuluh tahun? Apa perasaan itu menghilang, Yesung-ah?"
Yesung terdiam. Kepalanya menekur dalam. Ia tidak mungkin berani menggelengkan kepala dan melihat tatapan sarat kecewa dari mata wanita tercintanya itu. Tapi ia juga tidak sanggup mengangguk dan berbohong kalau perasaan itu telah menghilang.
"Tidak pernah menghilang, bukan? Eomma tahu."
Yesung masih tidak berani membenarkan perkataan ibunya. Saat ini, ia merasa menjadi pesakitan atas dakwaan yang terlalu berat.
"Yesung-ah," Suara ibunya kembali terdengar. Kali ini, bukan bentakan penuh penekanan seperti tadi. Kali ini, lebih lembut. Seolah mengisyaratkan bahwa ia hanya ingin berbicara dari hati ke hati dengan putranya. "Tuhan menitipkan kekuatan pada mereka yang bersedia mencintai seseorang sampai akhir, Yesung-ah. Dan butuh keberanian untuk melakukannya. Tapi tidak akan pernah ada kesempatan bagi mereka yang mencintai seseorang yang salah."
Tidak ada yang salah dalam hal mencintai, tidak ada orang yang salah. Hanya saja, cinta kadang menjadi sebuah kesalahan saat ia diperuntukkan pada seseorang yang tidak seharusnya. Tidak ada yang salah, hanya saja, hubungan mereka terlalu erat untuk menghadirkan cinta yang berbeda.
Tetapi, Yesung bisa bersumpah jika ia tidak pernah menyesal pernah jatuh cinta pada Ryeowook. Ia hanya menyesal karena pernah menjadi saudara pemuda itu.
..::.
Ryeowook tidak pernah mendengarkan banyak orang kecuali ayahnya yang keras dan ibunya yang lembut. Ia tidak pernah suka privasi dan daerah kekuasaannya disentuh oleh orang lain. Ia menjalani hidupnya dengan manja, segala sesuatunya tersedia bahkan sebelum ia mengatakannya. Ia hidup seperti seorang pangeran. Dan tak ada seorang pun yang boleh mengacaukan ketenangan itu.
Ketenangan yang terkadang menjadi begitu memuakkan baginya.
Ada kalanya, ia merasa segala sesuatunya membosankan. Ada kalanya, ia merasa seluruh kesempurnaan itu menjadi cacat di waktu yang bersamaan. Dan ia boleh marah, ia boleh meledak saat itu terjadi tanpa ada yang keberatan.
Tapi ia tidak pernah menyangka, bahwa Kim Yesung, kakak semata wayangnya itu, tahu bagaimana mengisi lubang-lubang cacat yang ia sendiri tak tahu di mana letaknya.
Setelah tujuh belas tahun hidupnya, Ryeowook baru tahu kalau ada sebuah lagu lembut yang dinyanyikan sebelum tidur. Sebuah lagu bernada magis yang dinyanyikan seseorang penuh sayang agar kita tertidur.
Ryeowook pernah mendengarnya. Dengan suara lembut yang merdu, Yesung menyanyi di sisinya.
Close your eyes … now and rest … may these hours be blessed ….
Ryeowook baru tahu, kalau ada lagu yang hanya mendengarnya saja, mampu mengangkat semua kelelahan. Ternyata, sebuah lullaby itu indah. Dan terdengar makin indah, saat jemari-jemari kecil Yesung mengusap puncak kepalanya.
Kali pertama Ryeowook mendengarnya, ia baru sadar, selama ini ia hanya merasa lelah.
..::.
Yesung ingat hari ketika Ryeowook mengamuk tanpa sebab lagi. Waktu itu, Ryeowook mencakarnya dari lengan hingga punggung tangan karena mencoba menenangkan. Tidak ada satupun pelayan yang berani menenangkan. Jadi, ia mencoba. Ryeowook meracau, mengatakan kalau semua orang bodoh.
Kurang dari dua jam, Ryeowook baru bisa tenang. Yesung sampai menggendongnya ke kamar karena ia kelelahan mengamuk.
"Kau pernah mendengar lullaby kan, Ryeowook-ah?"
Waktu itu, Ryeowook tidak menjawab. Tapi sinar mata karamelnya menunjukkan ketidaktahuan. Jadi, Yesung tersenyum lembut sebelum menjelaskannya dengan sabar.
"Lullaby itu lagu tidur. Setiap anak di dunia harus mendengarkan lagu tidur sebelum mereka bermimpi indah. Jadi, hyeong akan menyanyikan sebuah lagu tidur untukmu."
Semua orang tahu, Yesung memiliki suara yang amat merdu. Gurunya di sekolah bahkan mengatakan kalau Yesung adalah seniman suara. Art of voice, suaranya seperti makna namanya yang indah.
Yesung bernyanyi sangat hebat. Ryeowook bahkan dibuat terpukau. Sinar dalam matanya menunjukkan kekaguman. Saking takjubnya, Ryeowook bahkan membiarkan tangan kanan Yesung membelai puncak kepalanya, sementara tangan kirinya meremas satu tangan Ryeowook.
Tindakan yang mampu membuat siapapun terlena. Termasuk si tempramen Kim Ryeowook. Malam itu, Ryeowook tertidur dengan senyum di wajahnya yang manis.
"Semoga kau bermimpi indah, Wookie-yah."
Waktu itu, Yesung tidak tahu mengapa matanya tidak mau beralih dari wajah tidur Ryeowook yang damai. Yesung benar-benar tidak paham mengapa jantungnya juga berdetak sangat berisik. Atau mengapa ada ribuan kepak kupu-kupu di perutnya. Ia terlalu bingung hingga tidak menyadari saat wajahnya nyaris tidak berjarak dengan wajah Ryeowook.
Napas hangat Ryeowook yang teratur menerpa wajahnya, menghipnotisnya. Dan bahkan Yesung tidak lagi peduli saat bibirnya menyentuh bibir mungil itu dengan lembut.
Sekarang, di usia dewasanya, Yesung baru paham. Malam itu adalah saat kali pertama ia merasakan dengan jelas bahwa ia mencintai adiknya sendiri. Bukan cinta dalam konteks hyeong-dongsaeng. Tapi cinta sebagai seorang laki-laki.
Yesung mendesah lelah. Kepalanya bersandar di punggung kursi nyamannya. Matanya yang sipit memang memandang ke luar jendela dari ruang kantornya. Tapi kepalanya terus memutar kenangan malam itu. Malam yang ia yakini menjadi salah satu malam paling membahagiakan dalam hidupnya.
Yesung memang merasakan bahagia yang meledak-ledak saat itu, tapi ketika mengingat lagi bagaimana ibunya pernah meneteskan airmata karena mengetahui rahasianya, Yesung kembali merasakan sakit yang menyiksa. Padahal, ibunya hanya melihat sedikit momen-momen kecil yang terjadi antara dirinya dan Ryeowook saat makan malam. Tapi naluri keibuan Nyonya Kim langsung menyadari, kejadian-kejadian kecil itu bermakna dalam.
Yesung memejamkan matanya, merasai sakit yang mencabik-cabik bilik hatinya. Bibirnya secara berulang-ulang merapalkan satu kata, "Mianhae …,"
Hingga ia tidak tahan lagi, setetes airmata menyeruak keluar dari sela bulu matanya.
..::.
Kepala Kyuhyun menyembul dari balik pintu ruangan itu. Ia melongok, mencari sosok Sungmin dalam ruang minim perabot dengan warna pink elegan yang mewarnai beberapa sudut. Sungmin tidak tampak di manapun dari tempatnya sekarang mengintip. Jadi, ia memberanikan diri untuk melangkah masuk.
Sungmin tidak akan marah. Laki-laki itu sendiri yang mengirimi pesan pendek pada Kyuhyun untuk memintanya datang ke kantor. Sepertinya, sang Tuan Arsitek itu akan mempresentasikan rancangannya.
Kaki Kyuhyun terus melangkah masuk. Ruangan itu beraroma vanila. Manis, namun tidak menusuk penciuman. Dan Kyuhyun mengenali aroma itu sebaik ia mengenali wangi Sungmin. Perlahan, ia tersenyum, entah mengapa merasa sangat lega. Rasanya, Kyuhyun baru saja memasuki dunia yang tidak pernah ia lihat, tapi terasa amat familier dan nyaman. Dunia itu adalah dunia tempat Sungmin berada.
"Sungmin ssi."
Kyuhyun memanggil nama itu pelan. Langkahnya mendekat ke meja kerja milik Sungmin. Kursi besarnya menghadap ke jendela, jadi Kyuhyun meyakini kalau pemiliknya mungkin duduk di sana. Mengingat besarnya kursi dan tubuh mungil Sungmin, sudah tentu Kyuhyun tidak akan melihatnya duduk di sana.
Dugaan Kyuhyun benar. Sungmin duduk di kursinya dalam keadaan tertidur. Kakinya menyilang, satu tangannya tersampir di atas pegangan kursi, satunya lagi berada di atas pahanya, sementara punggungnya bersandar nyaman.
Kyuhyun tersenyum lagi. Wajah tidur Sungmin masih sama. Masih polos, masih cantik. Meski sesuatu seperti beban berat tampak ditahannya.
"Kau pasti sangat lelah, Ming." Kyuhyun menggumam agak pelan ketika ia telah berdiri tepat di hadapan Sungmin. Ia lantas menekuk kakinya yang panjang, berlutut di hadapan pemuda yang tertidur itu. "Maaf karena membuatmu seperti ini. Aku benar-benar meminta maaf."
Jari-jemari Kyuhyun yang panjang meraih jemari mungil Sungmin, meremasnya dengan lembut agar Sungmin tidak merasa terganggu dalam tidurnya.
"Padahal, aku pernah berjanji untuk terus menggenggam tanganmu. Tapi aku juga yang melepasmu. Maafkan aku."
Genggaman tangan itu mengerat. Erat, namun hangat. Seperti perlindungan mutlak yang menjanjikan.
"Kalau kau tidak sudi melihatku lagi seperti dulu, aku berjanji akan melindungimu dari tempat yang tidak bisa kau lihat, Ming." Kyuhyun tersenyum pedih. "Tapi berjanjilah untuk hidup dengan baik."
..::.
Sungmin lagi-lagi tidak bisa tertidur. Insomnia sialan yang selalu menahannya untuk memejamkan mata itu sudah berlangsung hampir seminggu ini. Dan hasilnya, Sungmin selalu tertidur di kelas. Setelah berguling-guling di ranjang, menghitung domba, dan mencoba metode hipnotis pada dirinya sendiri, ia malah makin tidak bisa tidur.
Alhasil, pemuda mungil itu memutuskan untuk berkeliaran di sekitaran panti asuhan. Tempat itu sepi, ini sudah pukul setengah dua belas malam, sudah lewat satu setengah jam dari waktu tidur yang seharusnya. Jadi, Sungmin sama sekali tidak heran saat tak satupun anak ditemuinya. Ia malah mesti berhati-hati kalau-kalau Shim omonim tiba-tiba muncul dan memarahinya karena gentayangan malam-malam begini.
"Mau melakukan apa?" Ia bertanya pada dirinya sendiri. Sementara kakinya terus melangkah di sepanjang koridor dekat halaman depan. Ia tidak mungkin membangunkan Siwon atau Kyuhyun untuk menemaninya insomnia ria, bukan?
"Mau main piano?"
"HYAA—hhmmphh …,"
"Sstt!" Kyuhyun mendesis, sementara satu tangannya membekap mulut Sungmin dari belakang. "Jangan berisik, Ming!"
Mata Sungmin melotot. Mulutnya masih dibekap Kyuhyun, membuatnya sulit bergerak. Setelah berhasil melepaskan kepalan tangan anak laki-laki yang muncul tiba-tiba itu, ia lantas berbalik sebal.
"Jangan mengagetkan begitu, Kyunnie!" decaknya. "Lagipula, sejak kapan kau ada di sini?"
"Sejak tadi. Aku mengikutimu." Kyuhyun menjawab dengan senyum polos. "Daripada berkeliaran begini, mau main piano?"
Sungmin menimbang sejenak. Ia tidak tahu bagaimana bermain piano. Instrumen yang dipelajarinya saat kelas musik adalah gitar. Jadi, agak ragu ia memutuskan.
"Sudah, jangan berpikir lama-lama. Kalau Omonim memergoki kita, kita akan berakhir di ruang hukuman besok."
Kening Sungmin berkerut. Ia takut dengan ruang hukuman, tapi ia lebih bingung dengan ide Kyuhyun kali ini. "Kalau main piano malam-malam begini, bukannya malah berisik, Kyu?"
Tangan Kyuhyun dengan ringan menepuk puncak kepala Sungmin. Ia tertawa lebar. "Ppabo! Main di ruang musik tidak akan kedengaran sampai asrama, Ming!"
Ah. Sungmin lupa. Ruang musik ada di bangunan lain di sisi kanan bangunan utama panti asuhan. Dan ruang tidur ada di sisi paling kiri. Hanya dengan suara piano, tidak akan kedengaran.
"Arraseo, Kyu! Kita main piano."
::0::
Kyuhyun memang pandai berpiano. Denting-denting nada itu berkeliaran—cepat, namun kadang melembut, Meloncat dari nada satu ke nada lainnya, sama seperti gerakan jemari Kyuhyun yang berpindah-pindah di atas tuts. Kadang lambat seperti kelelahan, kadang bergerak sangat cepat seperti sebuah tragedi.
Sungmin tidak pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Ia kurang akrab dengan musik klasik. Tapi musik yang dimainkan Kyuhyun saat ini terdengar indah. Menawan dalam konteks elegan. Tadinya, Sungmin berpendapat bahwa komposernya tentulah membuat lagu ini dengan teknik tinggi. Tapi ketika ia mencoba mendengar lagu itu dengan merasai jiwanya, Sungmin mulai merasa kalau komposernya menitipkan luka yang amat dalam dari hatinya melalui lagu itu.
Lagu ini sarat kesedihan, membuat Sungmin rasanya ingin menangis tanpa sebab.
"Kyu …," panggilnya pelan.
Sungmin mendongakkan kepalanya memandang Kyuhyun yang masih serius memainkan lagu itu. Pemuda tinggi itu seperti tidak mendengar saat namanya dipanggil, sebab ia sama sekali tidak menoleh. Sementara Sungmin mulai menunjukkan wajah lirih.
Kepalan tangan Sungmin meraih lengan baju Kyuhyun, mencengkramnya agar mendapat perhatian. Dan itu berhasil. Detik berikutnya, ia tidak lagi mendengar denting-denting piano. Sebagai gantinya, Kyuhyun menolehkan kepala ke sisi kanannya, tepat ke depan wajah Sungmin.
"Ada apa, Ming?"
Sungmin menggelengkan kepalanya. Keningnya berkerut-kerut khawatir dan matanya bergerak-gerak gelisah. Tampak ingin menangis. Melihatnya, Kyuhyun mulai panik sendiri.
"Wae-waeyo? Ming, Gwaenchanayo?"
Yang ditanya tidak menjawab. Tangannya yang tadi mencengkram lengan baju Kyuhyun malah berganti memeluk pemuda itu dari samping. Wajahnya terbenam di bahu pemuda yang ia peluk.
"Yang kau mainkan itu, apa judul lagunya, Kyu?" tanya Sungmin pelan, amat pelan. Kyuhyun bahkan nyaris tidak mendengarnya. "Aku merasakan seseorang yang terluka. Ia seperti sangat sedih hingga aku ingin memeluknya erat-erat seperti ini."
Senyum simpul terbit di wajah Kyuhyun. Satu tangannya terangkat untuk mengelus lengan yang melingkari tubuhnya, seakan mengunci pergerakannya itu.
"Mereka menamainya Tristesse karena nadanya yang menggambarkan kesedihan. Sama seperti yang kau rasakan, Ming" Kyuhyun mulai menjelaskan. "Chopin sendiri menyebutnya etude op. 10 no. 3. Satu dari sekian banyak karya-karya pendeknya. Menyedihkan. Tapi terdengar sangat indah kan, Ming?"
Sungmin mengangguk membenarkan. "Sedih. Tapi, aku menyukai nadanya, Kyu."
"Benarkah? Kau mau aku memainkannya lagi atau aku memainkan lagu yang lain?"
Sungmin menggeleng. Kepala dan tangannya perlahan menjauhi tubuh Kyuhyun, melepaskannya dari dekapan posesif tadi. "Aku mau mendengarnya lagi."
"Arraseo …,"
Nada itu terdengar lagi. Lagu pendek yang entah mengapa semakin di dengar, ia malah semakin menyukainya. Sungmin bukan orang yang suka berlarut-larut dalam kesedihan, ia suka tersenyum, dan tertawa lepas. Tapi lagu ini membuatnya mengerti, hidup tidak selalu sebahagia yang ia harapkan.
Jadi, Sungmin diam-diam berdoa pada Tuhan, semoga hanya sebatas lagu ini saja ia merasakan kesedihan yang menyiksa. Semoga, ia tetap dapat tersenyum.
Kyuhyun memainkan etude itu berulang-ulang selama nyaris sejam. Ia bahkan tersenyum geli sendiri. Seminggu belakangan ini, Kyuhyun berlatih beberapa lagu karya Liszt. Ia salah satu penggemar lagu-lagu romantis gubahan pianis dari zaman romantik itu. Dan ia bermaksud menunjukkan salah satu lagu cintanya untuk Sungmin.
Tahu-tahunya, ia malah memainkan lagu sedih gubahan Chopin. Nyaris sejam memainkan lagu sedih berulang-ulang memang tampak konyol. Jadi, saat ia merasa bahu kanannya mulai diberati oleh kepala Sungmin, ia memutuskan untuk berhenti bermain.
"Kenapa berhenti, Kyu?" tanya Sungmin tiba-tiba. Kyuhyun sampai kaget dibuatnya.
"Kupikir kau sudah tertidur, Ming."
Sungmin menjauhkan kepalanya dari bahu Kyuhyun, ia menggeleng semangat. "Aku insomnia!" serunya sebal saat teringat jika ia sama sekali tidak mengantuk sekarang.
Napas Kyuhyun berembus pasrah. Sungmin belum mengantuk. Tapi matanya sendiri terasa sudah digantungi banyak bandul pemberat dan jarinya mulai lelah.
"Bagaimana kalau kumainkan sebuah lagu tidur, Ming?"
Kening Sungmin berkerut bingung. Sebenarnya, ia lebih menyukai Tristesse daripada ide untuk mendengarkan lagu tidur. Hei! Sungmin sudah terlalu besar untuk mendengarkan lagu pengantar tidur. Nina bobo hanya untuk anak kecil. Tapi, sekeras apapun Sungmin menolak, mau tak mau akhirnya ia mengangguk. Kyuhyun tampak ingin sekali memainkan sebuah lagu tidur untuknya.
"Judulnya Brahm'sLullaby. Kau akan sangat menyukainya!" seru Kyuhyun percaya diri.
Detik berikutnya, jemari Kyuhyun bergerak lagi di atas bilah-bilah piano. Denting nada yang lembut terdengar memenuhi ruang musik itu. Lembut dan lambat. Berbeda dengan Tristesse yang seolah mengandung tragedi dengan nadanya yang bersahut-sahutan, Brahm'sLullaby lebih menenangkan, lebih menghanyutkan, seperti dongeng pengantar tidur yang selalu dibacakan oleh Shim omonim. Bedanya, kali ini dalam bentuk nada.
Kyuhyun benar. Sungmin sangat menyukainya. Sungmin pernah mendengar lagu tidur dinyanyikan oleh Shim omonim, tapi tidak pernah mendengar langsung versi gubahan Brahms. Ternyata, versi lagu klasiknya memang sangat indah.
"Neomujoha!" komentar Sungmin saat Kyuhyun menyelesaikan permainannya.
Kyuhyun tersenyum tipis. "Saatnya kembali ke kamar dan tidur!"
Sungmin merenggut dengan wajah berkerut tidak setuju. Untuk kali pertama, posisi terbalik. Biasanya, Sungmin yang akan mati-matian memaksa Kyuhyun untuk segera tidur. Tapi sekarang justru Kyuhyun yang memerintah untuk segera kembali.
"Aku masih ingin di sini."
Kyuhyun menggeleng. "Ani, Ming! Kita harus pergi tidur sekarang." ucapnya lembut. Satu tangan Kyuhyun yang sedaritadi bergerak menekan-nekan tuts piano kini membelai pipi chubby milik Sungmin. "Atau, kau mau kuberi mantera agar segera tertidur?"
Mata Sungmin mengerjap-ngerjap polos sebelum mengangguk antusias. Sepertinya menarik.
Kyuhyun tersenyum lagi. Tangannya yang membelai pipi Sungmin beralih menggenggam tangan milik pemuda mungil itu, meremasnya seperti yang biasa ia lakukan.
"Lee Sungmin, aku menyihirmu untuk selalu tidur dengan nyaman." Kyuhyun mulai membacakan manteranya dengan serius. Sementara Sungmin malah senyum-senyum geli melihat wajah konyol milik Kyuhyun. "Mulai sekarang, tidurlah dengan baik, bermimpi indahlah."
Tubuh Kyuhyun perlahan menghapus jarak-jarak di antara mereka. Senyum Sungmin menghilang, berubah dengan wajah tercengang saat mata Kyuhyun malah menatap intens manik onyx dalam matanya. Hanya butuh sepersekian detik saat Sungmin kemudian mampu merasakan terpaan hangat menyapu wajahnya.
Sepertinya ada yang salah! Sungmin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berpikir begitu. Ia terdiam. Akumulasi antara panik dan berdebar-debar membuatnya justru menutup mata. Kyuhyun tersenyum. Wajahnya makin mendekat, hingga akhirnya sebuah kecupan mendarat di kelopak mata kanan Sungmin.
"Besok, saat kau tidak bisa tertidur, ingatlah hal ini, Ming."
Kecupan selanjutnya mendarat di kelopak mata kirinya.
Sungmin terdiam saat ia mulai membuka matanya dan balas menatap karamel Kyuhyun. Kecupan lembut dikedua kelopak matanya terasa begitu menenangkan, terasa begitu adiktif. Sementara tangan Kyuhyun terus meremas tangannya. Rasanya, Sungmin bisa melayang. Kyuhyun tidak pernah menciumnya seperti ini. Ia hanya akan meremas tangannya atau merangkul bahunya. Tapi ciuman tadi jelas bermakna lain.
"Tidurlah dengan baik. Jangan mengkhawatirkan apapun." Kyuhyun membisik pelan. Sementara wajahnya masih belum menjauh dari Sungmin. "Karena aku akan selalu di sini untuk menggenggam tanganmu."
Sungmin mengangguk. Entah di detik keberapa tepatnya, ketika Sungmin bisa merasakan ribuah kupu-kupu baru saja beterbangan dari perutnya saat kecupan terakhir Kyuhyun mendarat di bibir pinkish-nya.
Tanpa mengatakan apapun, keduanya sudah paham. Bahwa mulai sekarang, hubungan mereka bukan lagi sekedar sahabat.
..::.
Sungmin membuka matanya pelan-pelan. Ia bisa melihat langit Seoul sudah menggelap dari balik kaca jendela. Ia mengerjapkan mata sejenak dengann tarikan napas panjang, sebelum akhirnya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya.
Pukul 19.07. Ia tertidur lama sekali.
Seperti menyadari sesuatu, punggungnya yang sedaritadi menyandar nyaman segera menegak. Ia lupa presentase yang seharusnya ia lakukan hari ini.
"Aisshi! Ppaboya, Lee Sungmin!" rutuknya sendiri.
Secepat kilat, ia memutar kursinya sendiri. Saat tangannya sudah siap menekan nomor berlabel Cho Kyuhyun, matanya terlebih dahulu menangkap selembar kertas memo yang terjepit di bawah tempat pulpennya. Sungmin menarik kertas kecil itu. Sebuah memo singkat tertulis rapi di atasnya.
"Sepertinya presentase akan diundur sampai besok. Maaf karena merepotkanmu, Sungmin ssi. Cho Kyuhyun."
Sungmin mendecak kesal. Merepotkan? Kyuhyun pasti menyindirnya. Sekarang, ia tampak seperti orang tidak bertanggung jawab atas pekerjaannya sendiri. Sungmin mengembuskan napas panjang, punggungnya kembali bersandar, teringat apa yang baru saja dilihatnya dalam mimpi. Belakangan ini, ia selalu memimpikan masa lalu.
Masa lalu yang selalu berhasil membuatnya merasa luar biasa lelah saat terbangun.
::TBC::
Labu's Note:
Saya lagi-lagi belum bales review. Mianhae … T_T
Tapi percaya deh, saya baca semuanya, kok~
Akhir-akhir ini, saya galau mikirin UAS dan Chap 7. T_T
Oh iya, yang beranggapan kalau alur fic ini lambat dan banyak flashback-nya, nanti saya jelasin di Labu's Note chap 7. Ada alasannya, kok. Karena itu, dari awal saya bilang, alurnya lambat.
Dan makasih untuk semua reader yang udah bersedia baca fic saya. *bow* *bow* Kalau gak ada reader yang luangin waktu buat review, mungkin saya udah berhenti ngetik ini fic. XD
Trailer(?) for Next Chap!
Chap 7: The Past: Cruel Fate—"Untukmu … aku bersedia."
"Ada perbedaan antara menyukai dan mencintai. Saat kau menyukai seseorang, kau tidak perlu repot-repot memikirkan masa depannya. Tapi saat kau mencintainya, tanpa sadar kau akan memikirkan segala hal yang akan membuatnya bahagia di masa depan."
"Kenapa kau harus seindah ini, Ming?"
"Apa kau pernah mencintai seseorang melebihi hidupmu sendiri? Mencintainya hingga kau mati-matian menjadi yang terbaik agar kau bisa membuatnya bahagia."
.
Salam Peri!
