Peri Labu present:

A KyuMin fanfiction

"Cruel Fairy Tale"

Backsound: In My Dream—Super Junior KRY feat Sungmin & Donghae

.

.

.

The Past: Cruel Fate

"Untukmu, aku bersedia …,"

Sungmin sedang menyiapkan proyektor di ruang presentase dalam ruang kerjanya saat Kyuhyun masuk. Pemuda itu hanya mendongak sebentar, sekedar menunjukkan kalau ia menyadari kehadiran Kyuhyun di sana.

"Silakan duduk, Kyuhyun ssi!" serunya, lebih mengarah ke perintah ketimbang menyilakan tamu untuk duduk.

Kyuhyun menunduk sebentar untuk menghormati Sungmin, meski pemuda itu sama sekali tidak menoleh padanya. "Kamsahamnida." katanya, lantas menduduki kursi di ujung meja panjang itu, tepat berhadapan dengan si Tuan Arsitek yang kini sibuk dengan persiapan presentasinya.

Kyuhyun masih terdiam saat Sungmin tahu-tahu mematikan lampu, menyisakan cahaya dari proyektor yang menampilkan wallpaper berbentuk garis-garis tidak beraturan—yang anehnya memberi kesan artistik—berwarna pink dari laptop Sungmin.

"Kita mulai dari denah, Kyuhyun ssi." ucap Sungmin, memecah hening dalam ruangan itu. Layar putih besar di belakangnya menampilkan sebuah denah—lengkap dengan ukuran-ukuran dan simbol yang seketika membuat Kyuhyun mengernyit.

"Sesuai yang Anda inginkan: dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, ruang keluarga, satu toilet, dan kamar mandi, serta ruang santai di lantai dua. Jendela akan lebih banyak berukuran besar di lantai dua untuk memberikan kesan lapang. Karena Anda juga menginginkan ruang tamu luas, saya sudah mengaturnya dengan ruangan lain agar sesuai. Lalu, perbedaan tinggi lantai …,"

Sungmin terus menjelaskan. Sementara Kyuhyun masih berusaha memahami. Ia merasa melihat denah itu menyebalkan. Kyuhyun tidak pernah melihat denah lengkap sebuah rumah. Ia bahkan tidak tahu mengapa ada dua garis di setiap batas ruangan, atau mengapa gambar—yang Sungmin sebut lantai—itu hanya diberi satu garis tipis?

Rasanya, pembicaraan awal saat menentukan letak posisi tiap ruangan lebih menyenangkan dan sederhana ketimbang melihat gambar kompleks di layar. Bahkan gambar tiga dimensinya pun tetap terlihat aneh dan—kecil?

"Ini rancangannya, apa Anda masih merasa kurang cocok?" tanya Sungmin setelah ia selesai menjelaskan semuanya.

Kyuhyun melirik-lirik layar, bergantian melirik Sungmin yang menatapnya seakan mengintimidasi—menuntut jawaban.

Kyuhyun menelan ludahnya. "Apa kita bisa mengubah rancangannya? Rasanya, saya masih sedikit kurang cocok dengan yang ini."

Mata Sungmin memicing tajam. Pelan, singkat, dan penuh penekanan ia bertanya. "Mengubah?"

Kyuhyun mengangguk salah tingkah. Sedikit banyak, ia merasa bersalah. "Saya pernah mengatakan, ini rumah yang sangat berarti. Jadi, bisakah desainnya diubah seperti yang saya mau?"

"Ini sudah seperti yang pernah Anda katakan."

"Tidak! Maksud saya …," Kyuhyun menggeleng beberapa kali sebelum merogoh sesuatu dari dalam saku jasnya. Selembar kertas lusuh kemudian ia angsurkan ke hadapan Sungmin "Maksud saya, bisakah kita menggunakan desain ini?"

Sungmin berusaha untuk tidak mengatakan apapun. Tangannya membuka lipatan kertas lusuh yang lipatan-lipatannya kentara jelas. Seperti kertas yang dilipat dan dibiarkan terlalu lama dalam keadaan seperti itu.

Kyuhyun menahan napasnya. Saat Sungmin berhasil membuka lebar kertas itu, Kyuhyun bisa melihat mata rubahnya perlahan membelalak samar.

Kau bisa mengenalinya, kan, Ming?

..::.

"Heyo, Hyeong!"

Kening Yesung berkerut-kerut bingung saat mendapati Siwon tahu-tahu duduk di sofa tamu dalam ruangannya. Entah kapan tepatnya laki-laki tinggi berpostur atletis itu masuk, ia sama sekali tidak menyadarinya. Yesung menanggalkan kacamatanya, lalu memberesi kertas-kertas pekerjaan di atas meja sebelum berjalan mendekat tamunya itu.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Yesung mengangkat satu alisnya. "Jangan bilang kalau kau mendadak ingin membangun rumah!"

Siwon tertawa renyah, memamerkan lesung pipi yang selalu berhasil melelehkan hati penggemarnya. "Datang ke firma arsitek bukan berarti ingin membangun rumah, kan, Hyeong?"

Yesung mengangguk-angguk. "Jadi, kau mau bilang kalau sekarang kau tengah mengunjungiku? Baiklah, Siwonnie, sepertinya aku memang sedang ingin ditraktir makan."

"Tidak juga. Tapi aku akan mengingat untuk mentraktirmu lain kali, Hyeongie." Siwon menjawab diplomatis. Ia kembali tersenyum saat Yesung malah memasang wajah kecewa. "Aku datang bersama Kyuhyun. Dia sedang di ruangan Sungmin sekarang."

"Oh. Kurasa Sungmin sedang mempresentasikan desainnya."

Siwon menatap Yesung lekat-lekat. Pandangannya tidak tajam, tapi cukup untuk membuat Yesung merasa jengah.

"Waeyo?"

"Ani." Siwon menggeleng. "Kurasa, lain kali aku harus memerkenalkanmu dengan seorang produser, Hyeong. Kau bisa jadi aktor yang sangat hebat."

Kening Yesung kembali berkerut-kerut bingung, sepertinya Siwon kerasukan atau apa. "Museun suriya?"

Siwon lagi-lagi memamerkan senyum 10.000 voltnya. "Beberapa hari lalu Kyuhyun mengadu padaku, dia bilang, Hyeong tidak mengenalinya lagi." jelasnya tanpa basa-basi.

"Cho Kyuhyun ssi? Selain fakta bahwa ia klien kami, aku memang tidak mengenalinya."

Siwon terdiam sebentar. Punggungnya yang sedaritadi menegak kini menyandar pada sofa. "Aku mulai belajar di kelas akting, Hyeong. Aku tahu bagaimana ekspresi seseorang ketika sedang berakting dan mana ekspresi seseorang saat ia menjadi dirinya sendiri."

"Kau tidak sakit, kan, Siwonnie?" Yesung mengernyit khawatir, setengah kebingungan dengan arah pembicaraan Siwon.

Yesung sudah cukup pusing memikirkan pembicaraan dengan ibunya tempo hari. Sekarang, Siwon malah makin memberati pikirannya dengan berkata hal-hal aneh.

Siwon tersenyum tipis—sedikit pedih, kepalanya menggeleng pelan. "Aku tidak tahu bagaimana Hyeong memertimbangkannya. Tapi, terima kasih karena memberi Kyuhyun kesempatan."

Cukup lama Yesung terdiam setelah Siwon mengucapkan terima kasihnya. Laki-laki bermata sipit itu menghela napas, lantas mengikuti posisi Siwon yang menyandarkan punggungnya.

Kelihatannya, ia memang tidak bisa berbohong pada laki-laki ini.

"Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang kulakukan." keluh Yesung akhirnya.

"Hyeong melakukan hal yang benar. Sekarang, kita semua tengah memerbaiki masa lalu. Kita—terutama kalian—hanya perlu sakit hati sekali lagi."

Yesung tidak mengatakan apapun. Tapi ia membenarkan kalimat Siwon dalam hatinya. Tiba-tiba saja, ia merasa semua akar permasalahan yang rumit itu baru saja terjadi kemarin.

Kemarin yang menyesakkan.

..::.

Yesung menatap lekat-lekat bola mata karamel milik remaja yang lebih muda tiga tahun darinya itu. Beberapa menit lalu, Yesung bisa melihat binar ekspresif penuh semangat dari matanya, tapi sekarang, ia hanya bisa melihat keterkejutan memenuhi karamel itu.

"Kau ingin mengadopsi Sungmin?" tanyanya, mengulangi hal yang telah ditegaskan oleh Yesung barusan. "Ada banyak anak di sini. Kenapa kau memilih mengadopsi remaja tujuh belas tahun sepertinya?"

"Karena Sungmin memiliki impian yang harus kuselamatkan."

Kyuhyun menyipitkan matanya. "Dan kenapa kau harus peduli pada impiannya? Sungmin ingin menjadi apa, kurasa itu bukan urusanmu."

"Apa kau menyukainya, Kyuhyun ssi?"

Napas Kyuhyun tertahan. Pemuda di hadapannya itu menebak sangat tepat alasan utama mengapa ia tidak menyetujui pengadopsian Sungmin. Sebenarnya, tanpa persetujuan Kyuhyun sekalipun, siapa saja dapat membawa Sungmin pergi—asalkan Sungmin sendiri menyetujuinya. Sayangnya, Sungmin memang tidak ingin pergi.

Kim Yesung. Kyuhyun bertemu dengannya sebulan lalu saat ibunya datang memberi bantuan. Pertama kali melihat bagaimana Yesung menatap Sungmin, Kyuhyun langsung tahu, pemuda itu tertarik. Dan hal yang paling dikhawatirkan Kyuhyun akhirnya terjadi: Yesung datang untuk membawa Sungmin pergi.

"Apa penting bagimu untuk mengetahui apa aku menyukainya atau tidak?" Kyuhyun bertanya sengit. Karamelnya menatap tajam ke dalam onyx milik Yesung. "Bukankah Sungmin sendiri sudah menolak?"

"Kurasa kau salah paham. Sungmin tidak menolak, ia hanya mengatakan untuk memertimbangkannya." Yesung buru-buru mengoreksi. "Lagipula, kalau memang kau menyukainya, aku yakin kau akan memikirkan masa depannya."

"Jadi maksudmu, jika ia bersamamu, masa depannya akan lebih baik, begitu?"

Yesung mengangkat bahunya tak acuh. "Aku tidak menjanjikannya. Tapi, aku menjanjikan jalan yang pasti untuknya. Kalau ia berusaha, aku yakin masa depannya akan lebih baik." Yesung menghentikan sejenak kalimatnya demi memerhatikan reaksi Kyuhyun. Remaja itu diam mendengarkan, entah apa yang ada dipikirannya.

"Terus berada di sini, tidak memberi kepastian pada Sungmin. Kurasa kau juga tahu, ada orang yang akan menyerah pada impiannya karena berpikir kondisi tidak memungkinkan—"

"Dan kau berpikir, bahwa kondisi Sungmin benar-benar tidak memungkinkan karena ada banyak anak yang harus dibiayai di sini."

Yesung mengangguk puas. Ia sudah mendengar dari Nyonya Shim sebelumnya bahwa Cho Kyuhyun adalah remaja jenius. Jadi, ia sama sekali tidak heran dengan kemampuannya membaca situasi.

"Aku akan membawa Sungmin ke Inggris dan memastikan ia mendapat pendidikan dan kehidupan layak. Itu yang kujanjikan padamu."

Kyuhyun terdiam lagi. Tapi Yesung bisa melihat rahangnya mengeras menahan emosi.

"Aku juga akan memastikan kelayakan pendidikanmu." Yesung tersenyum tipis. Satu tangannya menyerahkan sebuah amplop putih kepada Kyuhyun.

Anak laki-laki berambut ikal itu membukanya. Sebuah surat penerimaan di universitas Ceko terlampir jelas atas namanya di sana.

"Kau ingin menjadi pianis dunia, kan, Kyuhyun ssi? Aku tidak tahu banyak tentang musik klasik, tapi setahuku, Praha adalah salah satu yang terbaik."

Kyuhyun mendongak dari kertas itu. Matanya kembali menatap Yesung setelah memastikan bahwa surat penerimaan itu benar-benar asli. "Kau mencoba membeli keputusan kami dengan ini?"

Yesung menggeleng. "Kalimatmu membuatku menjadi orang yang jahat, Kyuhyun ssi. Begini, anggap saja, aku tengah menyelamatkan dua orang jenius sekarang. Bagaimana?"

Kyuhyun terdiam. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya. Ini bukan tentang dirinya. Ini tentang Sungmin. Kyuhyun tidak peduli apa ia mampu kuliah atau tidak nantinya. Ia hanya bertekad untuk mewujudkan impian Sungmin.

Kebahagiaan Sungmin adalah impiannya. Apapun bisa ia lakukan untuk membahagiakan Sungmin. Apapun bisa ia lakukan demi masa depan orang yang dicintainya itu. Apapun. Bahkan jika harus menjual jiwa pada iblis sekalipun, rasanya Kyuhyun rela.

"Aku tidak meminta jawabanmu sekarang. Tapi, kuharap kau setuju untuk membujuk Sungmin agar menerima tawaranku. Kau bisa kan, Kyuhyun ssi?" Yesung beranjak dari sofa ruang tamu panti asuhan itu tanpa menunggu jawaban Kyuhyun, meninggalkan remaja yang masih duduk diam di tempatnya itu.

Sebelum ia benar-benar menghilang dari sana, Yesung tahu-tahu menoleh lagi pada Kyuhyun. "Ada perbedaan antara menyukai dan mencintai. Saat kau menyukai seseorang, kau tidak perlu repot-repot memikirkan masa depannya. Tapi saat kau mencintainya, tanpa sadar kau akan memikirkan segala hal yang akan membuatnya bahagia di masa depan."

Kyuhyun mendongak, menatap Yesung yang kini menghela napas dengan senyum tipisnya.

"Aku tidak memaksamu. Tapi persepsimu terhadap dua hal itu akan membantumu berpikir. Annyeong, Kyuhyun ssi."

::0::

"Kau kenapa?" tanya Sungmin ragu-ragu, setengah jengah.

Kyuhyun tidak menjawab secara verbal, tapi kepalanya menggeleng. Setelah makan malam, Kyuhyun tahu-tahu menariknya ke bangku piknik di bawah pohon akasia—tempat kali pertama mereka bertemu. Tapi, Kyuhyun terus diam sejak sepuluh menit lalu. Remaja kurus itu hanya terus menggenggam tangan Sungmin dan memandanginya seolah ada partitur lagu paling disukai Kyuhyun di wajahnya.

"Kenapa kau harus seindah ini, Ming?" tanya Kyuhyun meracau.

Wajah Sungmin seketika merona. Well, Kyuhyun biasa meremas tangannya lembut, biasa memandangnya, dan pernah menciumnya di ruang musik. Tapi, Kyuhyun tidak pernah sekalipun memujinya dengan kata-kata seperti tadi.

"Ka-kau kenapa?"

"Aku baik-baik saja. Aku hanya khawatir karena kau terlalu indah."—terlalu indah hingga orang lain menyadari keindahanmu. Kyuhyun tersenyum—yang tanpa disadari Sungmin, senyum itu adalah senyum terpedih yang pernah Cho Kyuhyun lakukan. "Kau juga bersinar. Aku bahkan tidak butuh cahaya lampu untuk melihatmu."

Kyuhyun sukses membuat Sungmin speechless. Ia terdiam, tidak yakin apakah jantungnya akan baik-baik saja jika terus bekerja di luar batas normal begini.

"Saranghae, Lee Sungmin. Saranghandago."

Dan untuk kali pertama setelah bertahun-tahun, Sungmin baru paham bahwa tidak semua orang bisa menggenggam tangan orang lain seperti cara Kyuhyun menggenggam tangannya. Sungmin baru paham, jika ada seseorang yang menggenggam tanganmu dengan lembut dan erat di waktu yang bersamaan, itu hanya berarti satu hal: ia mencintaimu dengan tulus. Sama seperti yang Kyuhyun lakukan untuknya.

"Nado, Kyu. Nigajeongmalsaranghanda."

::0::

Sungmin baru usai dari ruang musik di panti asuhan ketika ia menelusuri koridor menuju asrama. Ia terlalu bahagia. Hari ini, ia sudah bisa memainkan sedikit prelude dari Brahm's Lullaby dan juga Tristesse. Ia tidak terlalu pandai bermain piano, apalagi musik klasik yang memiliki komposisi sulit. Tapi Kyuhyun sudah mengajarinya kunci dan letak nada pada tuts piano.

Senyum di wajah Sungmin kembali mengembang bahkan ditambah dengan semburat merah muda di pipinya. Langkah-langkahnya semakin riang. Sesekali, ia bahkan tidak sadar telah melompat-lompat saat ingatannya kembali memutar kejadian semalam, saat Kyuhyun mengatakan bahwa ia mencintainya.

Sungmin tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Jantungnya berdentum-dentum cepat, tapi anehnya Sungmin menyukai dentuman itu. Seperti ada desir-desir hangat yang mengirimkan satu ultimatum ke otaknya, membuatnya tidak berhenti tersenyum. Sungmin sampai-sampai berpikir kalau ada yang salah dengan hormon dopamine-nya hingga ia mengalami kebahagiaan berlebih seperti ini.

Brahm'sLullaby dan Tristesse adalah dua lagu paling indah yang pernah ia dengar. Ia bahkan tidak peduli bahwa Tristesse adalah lagu sedih. Mungkin, bukan semata-mata lagunya, tapi kenangan yang tersimpan bersama orang yang pernah memainkannya.

Lagu indah dari seseorang yang ia cintai. Dua lagu yang kemudian ditutup dengan kecupan di kedua kelopak matanya. Sungmin masih bisa mengingat bagaimana kecupan Kyuhyun. Kecupan itu lembut, singkat, namun terasa adiktif dan menenangkan bagi Sungmin. Membuatnya nyaris meledak karena bahagia.

Bagi Sungmin, Kyuhyun selalu punya cara untuk membuatnya begitu istimewa.

"Oppa …,"

Sungmin berhenti melompat riang saat telinganya sayup-sayup mendengar suara itu. Ia terdiam. Tepat beberapa meter di depannya, ia bisa melihat punggung Kyuhyun. Kedua tangannya tertempel di tembok dan Sungmin bisa melihat ada seseorang yang sedang dikurung Kyuhyun di antara lengannya itu.

Seseorang—seorang gadis yang Sungmin kenal.

"Kyuhyun-ah … Seohyun-ah?" Lidahnya menyebut dua nama itu tanpa sadar. Senyum lebarnya menguap entah ke mana. Perasaan senangnya berganti dengan kekhawatiran yang tidak ia sukai. "Apa yang kalian lakukan?"

Sungmin merasa kakinya tidak lagi menapak di lantai. Tubuhnya kebas, bersamaan dengan pandangannya yang tahu-tahu mengabur. Semalam, Kyuhyun membuatnya merasa bahagia luar biasa. Semalam, Kyuhyun menggenggam tangannya dan mengatakan hal paling magis sedunia: aku mencintaimu.

Tapi sekarang, Kyuhyun membuatnya merasakan patah hati paling perih yang pernah ia rasakan.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Kyuhyun tengah mencium Seohyun.

"Kau jahat, Kyuhyun-ah!"

Airmata meluruh di sudut mata Sungmin, membanjiri pipi yang semalam bersemburat merah karena Kyuhyun memandanginya penuh arti. Sekarang, Sungmin paham, apa yang Kyuhyun lakukan semalam tidak lebih dari kebohongan. Tidak lebih dari kepura-puraan semata. Kyuhyun hanya mempermainkannya. Dan Sungmin membencinya. Sungmin benci mengingat semua kejadian semalam. Ia benci saat mengingat tangannya digenggam, ia benci suara bass milik Kyuhyun yang membisikinya kata cinta, ia benci—

Ia benci Cho Kyuhyun.

Dengan sisa kekuatannya, ia mengusap kasar airmatanya. Sungmin tidak akan pernah rela membiarkan Kyuhyun melihat airmatanya sekarang.

"CHO KYUHYUN!"

Sungmin menghardiknya keras. Kyuhyun berbalik pelan-pelan. Seketika, Sungmin merasa begitu muak melihat wajahnya.

"Ming …,"

"Kau brengsek, Cho Kyuhyun!"

Kedua kepalan tangan Sungmin mengepal, berharap ia bisa mengumpulkan seluruh emosinya di sana. Sementara rahangnya mengeras menahan segala beban yang seakan mendadak menjatuhinya bersama-sama, membuat hatinya lumpuh seketika.

"Ming …,"

Sungmin tidak ingin mendengar lagi. Langkahnya berbalik pergi, tidak peduli meski Kyuhyun terus menerus memanggil namanya. Ia tidak ingin mendengar apapun. Ia tidak ingin melihat Kyuhyun saat ini.

Cho Kyuhyun, orang yang paling ia percaya, orang yang kepadanya, Sungmin letakkan kebahagiannya.

"Tunggu!"

Langkah kaki Sungmin yang berlari semakin cepat. Sungguh, ia tidak ingin melihat wajah Kyuhyun. Ia tidak bisa menatap wajah itu sementara hanya ada kebencian dan kekecewaan dalam hatinya. Ia terlalu takut untuk mencap Kyuhyun sebagai pemuda brengsek seperti yang bibirnya teriakkan tanpa sadar.

"Ming!" Teriakan lirih itu terdengar bersamaan dengan tangan Kyuhyun yang mencekal tangannya. Terasa dingin dan bergetar.

"Lepaskan!"

Dan Sungmin tidak bisa berhenti untuk membentak. Ia terlalu sakit, terlalu kecewa, dan terlalu tidak percaya dengan kejadian barusan.

"Tunggu, dengarkan dulu!" Suara Kyuhyun melirih, tampak seperti kehabisan tenaga hanya untuk berbicara.

"Jangan mengatakan apapun, Cho!"

Sungmin berontak. Dingin yang mengalir dari cekalan tangan Kyuhyun padanya terasa begitu menakutkan. Sungmin takut mendengarkan apapun. Ia takut akan luluh jika Kyuhyun menjelaskan sesuatu.

"Dengar! Aku—"

"DIAM!"

Tidak! Sungmin sama sekali tidak menyadari saat nada suaranya tahu-tahu telah melengking, membuat pemuda di hadapannya seketika membeku. Tapi Sungmin tidak peduli.

"Jangan menjelaskan apapun, Cho! Jangan berpura-pura untuk peduli padaku."—Karena pura-pura dipedulikan itu lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.

"Kau tahu aku tidak pernah berpura-pura padamu."

"BERHENTI KUBILANG!"

Sungmin nyaris kehabisan napas saat memorinya justru mereka ulang tiap hal yang Kyuhyun lakukan untuknya. Kyuhyun yang selalu mencemaskannya, Kyuhyun yang berjanji akan membawanya ke pulau Nami, Kyuhyun yang berjanji akan membangunkan sebuah rumah untuknya, dan semua hal-hal kecil macam mantera agar tertidur.

Awalnya, itu semua tampak begitu nyata bagi Sungmin. Awalnya, ia bisa melihat kebahagiaan terpampang jelas tepat di depan matanya saat Kyuhyun mulai mengisi cela kosong antar jemarinya. Tapi sekarang, Sungmin hanya melihat itu semua sebagai kebohongan. Sebuah kepura-puraan hanya untuk menyakitinya.

"Berhenti berbohong dan berpura-pura jika kau tidak benar-benar peduli!"

Sungmin menghentakkan tangannya keras. Berada di dekat Kyuhyun begini, melihat wajahnya, mendengar suaranya, dan bahkan mencium aromanya, Sungmin merasa ia bisa gila. Rasanya menyakitkan saat kau dibawa terbang terlalu tinggi ke awang-awang, lantas dijatuhkan begitu saja—dengan sekali sentak.

"Tunggu!"

Sungmin tidak lagi peduli. Secepat kilat ia berlari menjauh. Dan tepat di depan Kyuhyun, untuk kali pertama ia membanting pintu kamarnya dengan kasar.

Dikuncinya pintu itu rapat-rapat, lantas menyandarkan punggungnya di sana. Sungmin terlalu lelah. Rasanya, ia tidak lagi memiliki kekuatan hanya untuk melangkah dari tempatnya bersandar. Akumulasi dari segala bentuk perasaan hancur itulah yang kini meluruhkan air dari sudut mata rubahnya.

Airmata yang mati-matian ia tahan. Airmata dari kekecewaan yang tidak ia harapkan dan kemarahan yang ia sesalkan.

Kenyataannya, Sungmin menyesal. Ia menyesal pernah mencintai Kyuhyun, ia menyesal pernah percaya bahwa ia bisa bahagia bersama Kyuhyun selamanya. Ia benar-benar menyesal karena terlanjur yakin bahwa ada kisah dongeng manis yang dapat menjadi nyata.

Dongeng antara ia dan Kyuhyun. Tadinya, Sungmin percaya bahwa Kyuhyun adalah pangeran berkuda putihnya. Ternyata, dongeng memang sekedar dongeng, kisah pengantar tidur agar seorang anak tersenyum—tidur dengan senyum hasil kebohongan. Dongeng hanya manis untuk fantasi, tidak untuk diharapkan menjadi nyata.

Dan Sungmin telat menyadari bahwa di dunia ini, tidak pernah ada pangeran berkuda putih, begitupun dengan Kyuhyun. Kyuhyun yang mencintainya, tidak pernah ada. Yang ada, hanya seorang anak laki-laki pembohong yang memberinya banyak fantasi.

Sayangnya, Sungmin terlanjur bergantung pada sosok yang ia anggap sebagai malaikat yang dikirim Tuhan itu. Bergantung hingga sakit rasanya saat dilepaskan.

"Aku membutuhkanmu, Kyu …," Sungmin mencengkram depan bajunya erat, berharap dengan begitu, ia bisa menghentikan sakit di baliknya. Airmatanya tidak juga berhenti mengalir. "Aku—hiks … terlalu membutuhkanmu …,"

Sungmin tidak pernah merasakan sesesak ini. Sungguh. Kyuhyun pernah berjanji akan menjadi keluarganya. Kyuhyun pernah menyeka airmata di pipinya, pernah menggenggam tangannya hingga ia merasa begitu dilindungi. Demi apapun, Sungmin hanya butuh Kyuhyun untuk tetap ada di sampingnya. Terserah hidup seperti apa yang akan datang padanya. Sungmin tidak peduli asalkan Kyuhyun ada.

Tapi sekarang, Sungmin nyaris tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Ia tidak ingin percaya bahwa sekarang, Kyuhyun mendorongnya untuk menjauh.

"Kyu … hiks … Kumohon …,"

Sungmin benci merasakan hal ini. Ia benci merasakan bahwa dadanya terhimpit, seperti ada beban yang sangat berat tengah menindih tulang rusuknya hingga patah. Sepertinya jantung dan paru-parunya mengkerut, membuatnya merasa kesulitan hanya untuk menghirup udara.

"Jangan menyakitiku, Kyu. Jebal …!"

::0::

Kyuhyun tidak pernah merasa sesakit ini. Tidak saat orang tuanya meninggal dalam kecelakaan, tidak saat ia tahu ia akan sendiri menjalani hidupnya. Melihat kebencian dalam mata Sungmin adalah apa yang selama ini paling ditakuti oleh Kyuhyun. Melihat punggung mungil itu berlari dan menjauhinya seakan membuat jantungnya melompat keluar dan memutuskan kehidupannya saat itu juga.

Dan mendengar isak tangis itu dari balik pintu cukup membuat Kyuhyun merasa dibunuh berulang-ulang kali. Seperti ada tambang-tambang imajiner yang meliliti lehernya, menggantungnya tinggi-tinggi, dan tepat saat nyawanya nyaris keluar, sesuatu seperti mendorongnya kembali masuk. Seperti tersayat-sayat, dibuat menderita lebih lama tanpa interupsi.

Tubuhnya merosot di depan pintu kamar Sungmin, merasai pemiliknya yang juga menyandar di sana. Punggung mereka hanya dibatasi pintu itu, hingga Kyuhyun dapat mendengar dengan jelas tangisan Sungmin. Tangisan frustasi yang menyakitkan.

"Maaf … maafkan aku!" Kyuhyun menutup mulutnya rapat-rapat dengan kepalan tangan, tak ingin Sungmin mendengarnya menangis di sana.

"Maaf membuatmu menangis sendirian, Ming …,"

::0::

Yesung terdiam di tempatnya. Kedua tangannya bergetar. Ia bisa melihat semua kejadian tadi sore. Sungmin yang ia lihat dari kejauhan datang dengan senyum ceria, Kyuhyun yang mencium Seohyun, Sungmin yang pergi, Kyuhyun yang menyusulnya, lantas Seohyun yang tersungkur dengan wajah pucat pasi.

Yesung hanya meminta Kyuhyun membujuk Sungmin untuk menerima tawarannya. Hanya seperti itu saja. Yesung sama sekali tidak menyangka kalau Kyuhyun akan berbuat seperti itu. Ini di luar yang bisa ia pikirkan.

"Sungmin akan ikut denganmu. Aku bisa memastikannya."

Yesung bisa mendengar suara parau itu mengudara saat bibir Kyuhyun bergerak. Sudah tentu. Kyuhyun menangis sepanjang sisa sore tadi. Bahkan Sungmin lebih parah, ia belum keluar kamar hingga jam makan malam lewat. Seohyun sendiri seperti gadis parno saat bertemu Kyuhyun. Dan itu semua sedikit banyak karena kesalahan Yesung.

"Kenapa kau melakukannya sejauh ini?"

"Kau mau jawaban yang jujur atau bohong?"

Yesung terdiam. Matanya mengerjap-ngerjap sebelum pandangannya beralih ke segala arah—menjauhi pandangan intens Kyuhyun.

"Karena Sungmin tidak akan pergi jika bukan aku yang melepaskannya."

Pandangan mata sipit itu kembali pada Kyuhyun. Bodoh kalau Yesung percaya bahwa Kyuhyun baik-baik saja seperti yang ia perlihatkan saat ini. Kyuhyun terluka, dan Yesung bisa melihatnya sangat jelas. Pelan dan susah payah ia mengatur suaranya agar dapat bertanya, "Dan kenapa kau tiba-tiba setuju melepaskannya?"

"Karena seperti katamu, aku mencintainya."

Tenggorokan Yesung tercekat. Apa sebegitu kuat perasaan di antara mereka hingga Kyuhyun harus melukai Sungmin sedemikian rupa agar ia pergi? Bukankah Kyuhyun dan Sungmin hanya sekedar cinta monyet semata? Mereka masih remaja yang bahkan belum benar-benar dewasa. Lantas, mengapa? Yesung meneguk ludahnya, kepalanya sedikit pusing memikirkan kejadian cepat ini.

"Kau pernah jatuh cinta, Yesung ssi?"

Yesung menyukai Sungmin kali pertama ia melihatnya. Yesung langsung menginginkan Sungmin dipertemuan pertama mereka. Entah itu bisa disebut 'jatuh cinta', Yesung tidak tahu. Tapi, ia pernah jatuh cinta—pada orang lain. Cintanya pada orang itu yang membuat Yesung menginginkan Lee Sungmin.

"Apa kau pernah mencintai seseorang melebihi hidupmu sendiri? Mencintainya hingga kau mati-matian menjadi yang terbaik agar kau bisa membuatnya bahagia. Kau pernah merasakannya, Yesung ssi?"

Yesung pernah merasakannya. Jatuh cinta pada orang yang tidak semestinya. Mencintainya tanpa henti meski tahu itu salah. Selalu menjadi yang terbaik dalam memahaminya meski dipandang berbeda dari yang ia inginkan. Yesung merasakannya. Dan ia mengerti.

"Aku menyukainya. Sangat menyukainya hingga merelakan diri untuk jatuh terlalu dalam demi mencintainya."

"Kau tidak memertahankannya untuk tetap kau cintai?"

Kyuhyun menggeleng. Yesung sendiri tidak tahu mengapa ia harus menanyakan hal demikian. Tapi sepertinya ia merasa bersalah telah meminta Sungmin pada Kyuhyun.

"Kadang, setia berarti melepaskan," Kyuhyun tersenyum pedih. Ia sendiri merasa bingung kenapa harus mengambil keputusan seberat ini. Melepaskan orang yang ia cintai demi orang lain. Kyuhyun tidak pernah sebodoh ini sebelumnya. "Aku mencoba untuk menyetiai diri demi kebahagiaannya. Bahkan jika kau adalah Lucifer yang berjanji menukarkan jiwaku dengan kebahagiaannya, aku bersedia memberikan jiwaku."

Yesung terdiam. Apapun yang keluar dari mulut Kyuhyun terdengar begitu mengerikan. Yesung merasa ia baru saja berubah menjadi monster yang menyerap habis jiwa seseorang.

"Bolehkah aku meminta satu hal, Yesung ssi?"

"Apa?"

"Bolehkah aku menukarkan Universitas Praha dengan Seohyun?"

Yesung terdiam, tapi keningnya berkerut penasaran.

"Seohyun tidak tahu apa-apa. Tapi, ia harus menanggung sebagian kesalahanku." Kyuhyun menarik napas panjang. "Aku hanya tidak ingin menjadi laki-laki brengsek yang meninggalkannya tanpa penjelasan apapun. Sudah cukup aku menjadi buruk di hadapan Sungmin."

..::.

Mata Sungmin perlahan membelalak begitu ia melihat sketsa yang dibawa Kyuhyun. Dan tepat saat ia mengangkat pandangan melihat mata laki-laki itu, Sungmin bisa merasakan seluruh kenangan masa kecilnya di panti asuhan berdesakan di depan matanya. Tepat satu setengah meter di hadapannya. Kenangan itu tepat berada dalam mata karamel milik Kyuhyun.

"Saya …," Kyuhyun bersuara. Pandangannya melirih, namun tidak sedetikpun beralih. Ia nyaris tidak berkedip, seakan mengizinkan dirinya tenggelam dalam tatapan dingin Sungmin yang mengikatnya. Diam-diam, ia berharap waktu berhenti hanya untuknya, agar ia bisa berlari dan memeluk tubuh Sungmin tanpa ditolak.

"Saya ingin desainnya seperti sketsa itu …,"—Seperti yang pernah kau inginkan.

Sungmin terdiam, tapi matanya menyipit berbahaya. Sedetik, dua detik—ia meremas sisi kertas lusuh itu erat. Saking eratnya, siapapun bisa melihat buku-buku tangannya yang memutih. Sementara pandangannya masih menatap sengit, menatap penuh amarah pada sosok Kyuhyun.

"Seseorang pernah menggambarnya dengan senang. Jadi …," Kyuhyun menjedakan kalimatnya, tenggorokannya mendadak tercekat, seperti tidak sanggup memintanya begitu pandangan tajam Sungmin berubah menjadi tatapan jijik. "Ja-jadi … tolong buat persis seperti itu."

Sungmin lagi-lagi tidak mengatakan apapun. Remasan tangannya melemas, namun ia segera berdiri. "Saya akan segera menghubungi Anda begitu desainnya selesai." Ucapannya final.

Sang Arsitek itu berjalan cepat, meninggalkan Kyuhyun sendiri dalam ruangannya. Ada bantingan pintu yang amat keras di sana ketika akhirnya Sungmin menghilang, menyisakan hening yang membungkam Kyuhyun.

Hening yang segera diisi oleh detakan jarum jam. Detakan yang terus bergerak angkuh tanpa memberi Kyuhyun kesempatan untuk menatap Sungminnya lebih lama.

..::.

Labu's Note:

Huuufffttt … akhirnya sampai di chap ini! X)

Kenapa ada banyak flashback sampai-sampai alurnya lambat? Karena saya mau menunjukkan pada Chingudeul, kalau sakit hati Ming itu benar-benar beralasan. Dia pernah dibuat sangat-sangat bahagia oleh Kyu. Dijanjikan perlindungan, ditemani, diperhatikan, dikhawatirkan melebihi orang lain. Dan TIDAK BANYAK orang yang bersedia melakukan hal itu untuk orang lain, bahkan untuk orang yang dicintai, bukan? Tapi Kyu melakukannya HANYA untuk Ming. Bagi orang yang kehilangan makna keluarga, perhatian dari seseorang itu adalah segalanya. Dan Ming menempatkan Kyu sebagai orang teristimewa yang dia miliki. Sama seperti orang tua—keluarganya yang paling dekat.

"Orang yang paling kau cintai adalah orang yang akan menyakitimu paling dalam."

Kenapa? Karena pada orang yang kau cintai, kau menyimpan bertumpuk-tumpuk harapan yang kau bisikkan pada Tuhan, bahwa kepada orang itu, Tuhan menitipkan kebahagiaan untuk diberikan padamu.

Dan Ming menyimpan harapan-harapan tentang masa depan yang bahagia pada Kyu. Terlalu banyak, terlalu tinggi. Sampai saat Kyu mendorongnya menjauh, Ming terluka.

Kayak kamu lagi nunjukin jantungmu ke orang yang paling kamu percaya, terus orang itu tahu-tahu memutuskannya, membunuhmu seketika. Bisa membayangkannya?

Itu kenapa saya ngasih banyak flashback tentang kedekatan mereka. Fic ini sejatinya cuma nempel-nempel teka-teki. Dari prologue, di kasih teka-teki, nah sejalan dengan alur, teka-teki itu diisi dikit-dikit.

Kalau masih ada yang pengen protes/ditanyain, silakan. :)

Salam Peri!