Peri Labu present:
A KyuMin fanfiction
"Cruel Fairy Tale"
.
.
.
It Has To Be You
"Segala yang kuinginkan di dunia ini adalah dirimu."
…
…
Gadis itu mendongakkan kepalanya. Pintu di hadapannya menjulang tinggi, tampak intimidatif. Dan ia merasa semakin terintimidasi saat wajah seseorang melintas dalam benaknya. Di dalam sana, ada orang yang harus ditemuinya sebelum ia bertolak kembali ke Praha. Ada orang yang dengan kekuatannya, mungkin akan menghalangi kepergian itu hanya dengan satu kata saja.
Bohong kalau Seohyun bilang bahwa ia tidak bahagia dengan keputusan Kyuhyun. Ia mencintai Kyuhyun, perasaan untuk memilikinya seorang diri itu ada. Dan sebagai seseorang yang mencintai dan telah dijanjikan sebuah pernikahan, ia hanya perlu diam sampai hari pernikahan itu benar-benar berlangsung.
Jika pernikahan tersebut berlangsung, tidak akan ada alasan bagi Kyuhyun untuk meninggalkannya. Jika pernikahan tersebut berlangsung, ia bisa memiliki Kyuhyun untuk diirnya sendiri, untuk selamanya.
Tapi Seohyun masih bisa berpikir sehat untuk paham, bahwa ia harus merasa nyaman dengan keputusan itu. Dan rasa nyaman yang ia cari berarti harus menceritakan semua yang ia ketahui pada Sungmin. Ingin atau tidak.
Seohyun menarik napas berat saat kepalan tangannya mengetuk pintu itu beberapa kali. Untuk beberapa detik, tidak ada jawaban. Seohyun hampir memutuskan untuk menghentikan kelakuannya itu sebelum akhirnya pintu yang sedaritadi ia tatap terbuka pelan-pelan. Sungmin muncul dari baliknya, menatapnya datar.
Resepsionis yang ada di lantai bawah pasti sudah memberitahu Sungmin tentang kedatangannya. Seohyun menggunakan nama Kyuhyun untuk bisa bertemu dengan arsitek satu ini.
"Masuklah, Seohyun-ah."
Seohyun melangkah patuh. Sudah lama sekali Sungmin tidak memanggil namanya. Dulu, meskipun tidak akrab, tapi ia dan Sungmin punya hubungan baik. Sungmin yang dulu selalu ramah pada setiap orang, meski Seohyun seringkali harus menatap cemburu pada Sungmin yang dekat dengan Kyuhyun.
"Aku hampir menyelesaikan maketnya. Sebelumnya, apa kau punya pendapat untuk desainnya? Kupikir kau akan menambahkan sentuhan-sentuhan yang kau sukai."
"N-ne, Oppa." Seohyun menjawab kaku. Ia tidak datang untuk rumah yang dibangun tapi bukan ditujukan padanya. "A-aku tidak bermaksud untuk membicarakan hal itu."
Sungmin mengernyit tidak suka. "Maaf, Seohyun-ah. Aku tahu sudah lama kita tidak bertemu, dan sebagai teman lama yang kembali berjumpa, seharusnya kita mengobrol banyak. Tapi, aku benar-benar tidak punya waktu."
"Kalau bukan sekarang, kita tidak akan punya waktu untuk selamanya."
Sungmin mengernyit. Ia ingin bertanya, namun ketidakpeduliannya lebih besar ketimbang rasa penasaran yang ia miliki. Lagipula, bertanya atau tidak, Seohyun tetap akan mengatakannya.
"Aku dan Kyuhyun oppa akan kembali ke Praha." Seohyun menarik napas agak berat, sejenak melihat reaksi Sungmin. "Jika tidak mengatakannya sekarang, meskipun kita bertemu lagi di masa depan, semuanya tidak akan berarti apa-apa."
Sungmin menatap Seohyun lekat. Meski tidak ingin, tapi Sungmin harus mengakui bahwa pengakuan kepulangan itu membuatnya tidak senang. Kyuhyun pernah datang begitu saja setelah bertahun-tahun. Lantas sekarang, ia akan pergi seenaknya, huh? Datang hanya untuk membuat Sungmin kembali melihat dengan jelas luka lamanya, lalu pergi seolah semua tidak pernah terjadi.
Sungmin selalu tahu, Kyuhyun memang brengsek.
"Jadi apa yang ingin kau katakan?" Kali ini tatapan Sungmin berubah menjadi tajam. Sekelebat, ia benar-benar mengingat momen antara gadis ini dengan Kyuhyun saat itu di koridor asrama. Momen yang dikutuk seumur hidup oleh Sungmin. "Menjelaskan bahwa saat itu Kyuhyun memang menciummu dengan mesra? Aku tahu!"
Seohyun menelan ludahnya susah payah. Sungmin yang seperti ini yang seharusnya ia hadapi dahulu. Sungmin yang membentaknya seperti gadis remaja yang kekasihnya digoda. Tapi Sungmin yang dulu tidak melakukannya. Sungmin yang dulu justru menangis karena terlalu terluka dan terlalu tidak berdaya hanya untuk sekedar melabraknya.
"Aku memang ingin membicarakan hal itu. Tapi bukan tentang ciuman mesra yang Oppa tahu."
Sungmin mengernyit. Oh, apakah akan ada kebohongan baru kali ini? Sungguh! Sungmin akan muak mendengarkannya.
"Jadi yang seperti apa? Tentang ciuman pertamamu yang berhasil direbut oleh orang yang waktu itu diam-diam kau sukai?"
Seohyun terdiam. Kalau boleh memilih, ia ingin sekali menangis saat ini. Menangis bukan karena bentakan yang samar-samar timbul dari nada suara Sungmin, melainkan karena Sungmin mengingatkannya bahwa momen itu adalah momen pertama yang membuatnya merasa patah hati. Sayangnya, ia tidak memiliki pilihan untuk menangis. Ia hanya memiliki satu pilihan sekarang: bercerita dengan jujur.
"Pertama, aku memang menyukai Kyuhyun oppa secara diam-diam kala itu." Seohyun menarik napas panjang yang berat. Fakta pertama yang juga diketahui Sungmin sejak lama. "Kedua, ciuman itu … tidak pernah berlangsung."
Sejenak, ada kilat kejut di masing-masing manik mata Sungmin. Namun ia segera bersikap sewajar mungkin hanya untuk mengingatkan bahwa ini mungkin sekedar kebohongan. Bagaimana bisa ciuman itu tidak terjadi? Sungmin melihatnya dengan jelas.
"Kau mengajakku untuk membicarakan omong kosong." Sungmin berujar sinis.
Seohyun menggelengkan kepalanya. "Yang kukatakan itu benar." Seohyun mengingat-ingat kejadian itu. Pagi di mana Kyuhyun datang padanya dengan kepala menunduk dan permohonan maaf yang dilakukannya berkali-kali. "Kyuhyun oppa menceritakan rencana untuk menyakiti Sungmin oppa. Ia memintaku cukup berdiri di sana saja. Lalu, Kyuhyun oppa akan berpura-pura mengatakan cinta. Yang tidak kutahu, ternyata rencananya diubah sepihak. Kyuhyun oppa membuat rencana seolah-olah ia menciumku. Belakangan aku tahu, itu untuk membuat ekspresi terkejutku terjadi secara alamiah. Agar Sungmin oppa benar-benar berpikir sesuai rencana."
Sungmin terdiam. Tapi ia mendengarkan saksama. Jadi, Seohyun melanjutkan ceritanya, membacakan dongeng kejam yang selama ini disimpannya rapat-rapat.
"Kyuhyun oppa memerhitungkan semua dengan baik. Termasuk waktu kedatangan Sungmin oppa di tempat itu. Tapi sejenius apapun ia, ia tetap tidak mampu memertahakankan hatinya untuk tetap tegar."
Seohyun perlahan menangis. Airmata luruh dari kedua bola matanya yang bulat.
"Kyuhyun oppa menangis tepat saat Sungmin oppa muncul di ujung koridor. Aku tahu ia sangat terluka. Ia bahkan membisikkan kata maaf berkali-kali. Maaf yang tidak tertuju padaku. Tapi untukmu."
Seohyun menjeda. Suaranya perlahan menguap di ujung kalimatnya sendiri. Sementara Sungmin masih menatapnya dengan ekspresi tak tertebak.
"Aku tidak pernah melihat Kyuhyun oppa menangis dan serapuh itu sebelumnya. Jadi aku benar-benar ketakutan. Saat Sungmin oppa muncul, aku merasa jantungku tertarik paksa keluar. Aku terlalu syok. Kyuhyun oppa yang biasanya angkuh itu, menjatuhkan harga diri untuk menangis di hadapanku, asalkan bukan di hadapan Sungmin oppa."
Seohyun mencengram ujung rok selututnya. Bahkan setelah bertahun-tahun menghabiskan waktu bersama Kyuhyun, ia selalu ketakutan saat melihat laki-laki itu menangis. Kyuhyun yang menangis, seperti orang asing yang membuatnya harus waspada.
Dan perasaan itu muncul kemarin, saat Kyuhyun memeluknya lemah dan menangis di pundaknya.
..::.
"Aku melepaskannya, Hyun-ah. Aku melepaskannya."
Seohyun membatu. Sama seperti ketika Kyuhyun memberitahunya bahwa laki-laki itu telah menemukan cinta pertamanya, kali ini Seohyun kembali bertanya bodoh.
"Siapa?" Pertanyaan yang sebenarnya sangat tidak perlu sebab ia mengetahuinya secara pasti. Ya. Siapa lagi bila bukan Lee Sungmin? Orang yang selalu menjadi tujuan hidup Kyuhyun. "Siapa yang ingin kau lepaskan, Oppa."
Kyuhyun tidak menjawab. Tapi tubuhnya terus bergetar. Tangan Seohyun terangkat, mencengkram kedua sisi lengan luar Kyuhyun untuk melepaskan pelukan itu. tapi Kyuhyun tidak bergerak untuk menjauh. Pelukannya semakin erat.
"Kyu oppa …," panggilnya lirih.
"Kau tahu mengapa aku selalu menggenggam tangannya, Hyun -ah?" Kyuhyun bertanya dengan suaranya yang parau.
Laki-laki ini memang selalu menggenggam tangan Sungmin dahulu. Pemandangan yang selalu berhasil membuat Seohyun cemburu.
"Memang mengapa?" Seohyun memilih bertanya, meski tidak ingin tahu jawabannya.
Bukankah jawabannya bahkan tidak perlu dikatakan? Karena Kyuhyun mencintai Sungmin. Jawabannya sesederhana itu saja. Dan Seohyun sudah tahu meski Kyuhyun tidak melafalkannya sekarang.
"Sebab dulu, aku terlalu percaya, hanya dengan memegang tangannya, aku bisa melakukan apapun." Kyuhyun menarik napas kasar, meraup udara dengan rakus demi mengisi paru-parunya. "Bahwa cinta memang dapat mengalahkan apapun. Sekarang, aku tahu, itu hanya sebuah kebohongan besar."
Seohyun terdiam. Kyuhyun juga begitu. Ada jeda yang agak lama sebab laki-laki itu tengah mengatur napasnya yang hampir hilang karena tenggorokannya tercekat.
"Sekarang, bahkan ketika aku telah menggenggam tangannya, aku tetap tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tetap tidak bisa menggenggam hatinya untukku."
Bahkan ketika Seohyun telah hidup sebagai tunangannya beberapa tahun belakang, ia tetap tidak bisa menggenggam hati Kyuhyun untuknya. Bukankah, nasib Seohyun lebih buruk? Setidaknya, Kyuhyun pernah memiliki Sungmin, mencintainya dengan sangat. Seohyun tidak punya kesempatan seperti itu. Seohyun tidak penah memiliki Kyuhyun, Seohyun tidak pernah mengatakan cintanya dengan lugas lantas dibalas.
"Padahal, ia selalu menjadi alasan mengapa aku membuka mata." Suara Kyuhyun memelan. Napasnya terengah-engah seolah ia tengah mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum menutup usia. "Ia selalu menjadi yang pertama untukku, Hyun-ah. Milikku yang paling berharga."
Seohyun terdiam. Saat ini, dunia seolah-olah hanya bercerita tentang dua hal yang berkaitan kuat: orang yang meninggalkan dan yang ditinggalkan. Yang menyakiti dan yang tersakiti.
"Aku mencintainya … aku mencintainya …," Kyuhyun merapal kalimat itu seperti mantra.
"Arrayo."
"Aku mencintainya, Seohyun -ah." ulang Kyuhyun lagi.
Seohyun mengangguk. "Arrayo, Oppa. Kau mencintainya."
"Aku mencintainya."
Seohyun mengangguk berkali-kali. Dan Kyuhyun terus mengatakan hal yang sama, hingga suaranya menghilang dan berat tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Seohyun.
Laki-laki itu tak sadarkan diri.
Seohyun menggigit bibirnya kuat-kuat. Kyuhyun selalu sesakit ini tanpa Sungmin yang ada didekatnya untuk dicintai. Sakit hingga pingsan karena tak sanggup lagi bertahan.
..::.
Seohyun masih duduk di depan Sungmin. Airmata masih meluruh di sudut matanya. "Tidak peduli berapa lama kalian berpisah, satu-satunya yang Kyuhyun oppa inginkan di dunia ini adalah dirimu."
Sungmin terdiam. Ini bohong, kan? Ciuman itu tidak pernah terjadi. Kyuhyun tidak pernah benar-benar mengkhianatinya. Itu bohong, kan? Sungmin berperang dengan bathinnya sendiri. Ada bagian dalam dirinya yang merasa lega, menyesal, dan kesal. Lega karena ternyata ia tidak pernah menghilang dari hati Kyuhyun. Menyesal karena ia terlalu emosional saat itu. Dan kesal karena Kyuhyun membohonginya.
"Hari itu, aku melihat Kim Yesung dan Kyuhyun oppa berbicara …," Seohyun mengingat-ingat lebih jelas. Perbincangan penuh emosional antara laki-laki berkepala besar dengan Kyuhyun di ruang tamu siang itu. Keduanya mungkin tidak sadar, tapi Seohyun ada di sana bersama Choi Siwon. Mereka melihat pembicaraan itu, hanya saja tidak mendengar seluruhnya dengan jelas. "Tentangmu."
Sungmin masih belum mengatakan apa-apa. Ia tahu itu. Sungmin tahu persis tentang kedatangan Kim Yesung yang meminta izin Kyuhyun atas pengadopsiannya. Satu-satunya yang tidak ia tahu selama ini adalah cerita dari sisi Seohyun. Cerita yang seharusnya ia tahu sejak awal.
"Aku ingat, Siwon oppa mengatakan bahwa segalanya akan berubah menjadi begitu buruk setelah itu. Awalnya aku tidak mengerti. Tapi setelah ciuman pura-pura itu, aku jadi paham. Sayangnya, aku terlambat menemuimu."
Seohyun menatap Sungmin dalam. Salah satu hal yang juga ia sesali adalah, kondisi mentalnya yang tidak lantas tenang. Kalau saja Seohyun tidak terlalu syok, ia mungkin akan segera mengacaukan rencana mengerikan tersebut.
"Tiga hari kemudian, saat aku mencarimu, Oppa sudah tidak ada di panti asuhan. Shim omonim bilang, Oppa sudah pergi."
Sungmin membelalakkan matanya. "Tiga hari katamu?" tanyanya kebingungan. Akhirnya membuka suara.
Seohyun mengangguk.
"Bagaimana bisa? Aku diberitahu bahwa kalian meninggalkan panti asuhan esoknya."
Mata Seohyun ikut membelalak. Ia dan Kyuhyun meninggalkan panti asuhan setelah mereka lulus SMA, setahun kemudian. "Tapi, kami ada di sana." ucapnya meyakinkan.
Sungmin menelan ludahnya. Tiga hari setelah kejadian itu, ia memang telah pergi bersama keluarga Kim. Saat itu, tidak ada keputusan terbaik bagi Sungmin kecuali pergi. Pergi dan menghapus semua tentang Kyuhyun.
"Jadi, saat itu juga bohong?" Sungmin bersandar lemah. "Aku tidak hanya dibuat salah paham, tapi juga dibohongi?!"
Seohyun ikut terdiam. Ternyata, ada banyak sekali rencana di balik itu semua. Tapi, sekarang ini, apapun yang terjadi di masa lalu, mereka harus meluruskannya kembali, bukan? Karena itu, Seohyun melanjutkan kata-katanya.
"Jadi, Sungmin oppa akan kembali pada Kyuhyun oppa?" tanyanya lirih. Setengah tidak rela. Pertanyaan itu memberi satu makna yang jelas: Seohyun melepaskan tunangannya sendiri untuk orang lain. Untuk kebahagiaannya.
Sungmin tidak lantas menjawab. Wajah sendunya berubah mengeras. Ditatapnya Seohyun dingin, sama persis dengan tatapannya beberapa menit lalu saat mendapati gadis itu di depan pintu ruangannya.
"Kembali pada orang yang pernah mencampakkanku begitu saja? Membuatku salah paham dan membohongiku sangat lama?" Sungmin bertanya sinis. "Kurasa tidak, Seohyun-ah."
"Tapi Kyuhyun oppa melakukannya untuk masa depan Sungmin oppa!"
"Itu kesalahannya!" Sungmin nyaris membentak, membuat Seohyun berjengit kaget. "Seharusnya ia tahu, saat itu, masa depanku adalah dia."
"Karena itu kembalilah!" Seohyun memohon. "Kyuhyun oppa tidak bisa tanpamu, Oppa." Seohyun mengatupkan rapat-rapat bibirnya, tak ingin isakan lolos dari sana. "Ia memang bisa hidup tanpamu, tapi ia tidak pernah bisa bahagia. Ia menginginkanmu. Harus dirimu, Oppa."
Sungmin terdiam. Ia pernah sangat menginginkan kehadiran Kyuhyun. Ia pernah mendamba hingga berpikir akan gila karenanya. Tapi apa yang ia dapat? Kyuhyun tidak pernah datang padanya.
"Pulanglah, Seohyun-ah." Ucap Sungmin kemudian. Nada suaranya sangat lemah.
Seohyun menatap tak percaya. Sebegitu sakitkah laki-laki ini hingga ia bahkan tak tergerak sedikit pun?
"Oppa …," panggil Seohyun lirih. Tubuhnya merosot ke bawah, berlutut di depan Sungmin. "Kumohon, kembalilah!"
Sungmin tetap tak tergerak. Ia menatap datar Seohyun yang kini menundukkan kepalanya dalam-dalam. Menjatuhkan harga diri demi laki-laki yang ia cintai.
"Kau tahu di mana pintunya, Seohyun-ah." ujar Sungmin lagi. "Jangan memohon untuk melepaskan orang yang telah menjadi milikmu."
"Dia tidak pernah menjadi milikku, Oppa tahu itu." Seohyun menggigit bibir bawahnya. Mereka tahu fakta paling mendasar itu. "Baginya, Sungmin oppa adalah yang pertama dan terakhir. Milik Kyuhyun oppa yang paling berharga."
Sungmin merasakan tubuhnya meremang, hatinya mencelos begitu saja. Kyuhyun juga pernah menjadi miliknya yang paling berharga.
"Pulanglah, Seohyun-ah, kumohon!" usirnya. Kali ini dengan suara lirih yang terluka.
Tapi Seohyun bersikeras. Ia tidak bisa pergi sekarang.
"Dia adalah alasan mengapa aku terus membuka mataku."
Seohyun tidak bisa pergi. Karena Kyuhyun tidak akan benar-benar pergi bersamanya ke Praha setelah ini. Seohyun tidak bisa hidup bersama manusia tanpa jiwa.
"Oppa …," Seohyun mengumpulkan seluruh kekuatannya. Apa yang akan dikatakannya adalah kenyataan, tapi ia tidak ingin mengakuinya sampai kapanpun. "Kepulangan ini hanya akan berarti satu hal: sebuah pernikahan."
Sungmin tidak terkejut. Sungguh. Hanya saja, ia bisa merasakan sakit di sudut hatinya. Sakit yang tidak pernah ia inginkan.
"Datanglah dan culik ia dari pernikahannya."
Bola mata rubah milik Sungmin melebar. Ia tidak terkejut oleh pernikahan itu, tapi datang dan mengacaukannya jelas tidak akan pernah ia lakukan. Ia masih waras untuk membuat masalah ini sampai di sini saja ketimbang mengacaukan hari bahagia seseorang. Ia tahu bagaimana rasanya kebahagiaan itu direnggut saat kita sudah berada dalam kungkungannya, karena itu, Sungmin tidak akan merebut apapun. Sudah cukup yang pernah ia lakukan di masa lalu.
Baginya, semua memang harus seperti ini. Ia yang terluka. Tak apa. Selama bertahun-tahun, ia sudah menjalani hidupnya yang begini, menjalaninya lagi untuk sisa hidupnya, Sungmin rasa ia bisa.
"Baginya, pernikahan hanya sekali seumur hidup. Jika pernikahan itu terjadi, seberapapun ia mencintai Oppa, ia tidak akan kembali bahkan jika Oppa berlutut."
Sungmin menatap gadis bodoh yang masih berlutut itu. Seohyun cantik, ia masih muda. Mustahil baginya untuk tidak bisa melupakan Kyuhyun. Ia bisa mencari laki-laki lain jika tidak tahan dengan Kyuhyun. Tapi kenapa gadis ini bersikeras membuat Kyuhyun bahagia? Mudah baginya untuk lari begitu saja dari masalah pelik ini.
"Mengapa kau melakukan ini?" Sungmin menatap gadis itu. Tatapannya menghujam, menuntut untuk segera dijawab.
Seohyun mendongak. Rasa takut atau apapun namanya tidak tampak di masing-masing matanya. Hanya ada satu hal yang bisa Sungmin lihat dari gadis itu saat ini: sebuah permohonan.
"Karena aku tidak ingin menjalani sisa hidupku dengan seseorang yang jiwa dan hatinya tertuju pada orang lain." Seohyun menjawab mantap. "Karena segalanya sederhana saja, cinta itu harus bahagia. Dan Kyuhyun Oppa tidak pernah bahagia bersamaku. Kebersamaan kami hanya karena ia merasa bertanggung jawab padaku."
Dan Sungmin juga tidak ingin bersama Kyuhyun hanya karena laki-laki itu pernah melukainya. Sungmin tidak ingin menerima permintaan Kyuhyun dengan hidup bersamanya. Ditemani hanya karena pernah merasa bersalah, Sungmin tidak menginginkannya.
"Aku …," Sungmin membuka bibirnya. Ditatapnya Seohyun lekat-lekat. "Pernah memutuskan untuk melepaskannya, Seohyun-ah. Kalau ia tidak bisa bahagia bersamamu, cukup yakinkan ia untuk meninggalkanmu. Kau tidak perlu memintaku untuk menjaganya."
Seohyun membelalak, bahkan setelah semua yang ia ceritakan dengan susah payah ini, Sungmin masih tidak tergerak?
"Oppa …," panggil Seohyun lagi. "Jangan keras pada dirimu sendiri. Kau hanya terlalu kecewa karena Kyuhyun Oppa menghabiskan banyak waktu untuk menemukanmu."
Sungmin menatap tersinggung. "Jangan berlagak mengerti diriku, Seohyun-ah."
"Aku memang tidak mengerti banyak. Tapi aku tahu, Sungmin oppa tidak pernah benar-benar membenci Kyuhyun oppa. Bagaimana bisa seseorang membenci orang yang paling dicintainya? Itu mustahil"
"Seohyun-ah …," Sungmin angkat bicara lagi, mulai merasa sangat terganggu dengan segala penuturan Seohyun. "Pulanglah!"
"Kumohon." Seohyun mengeraskan dirinya untuk bertahan di sana: berlutut dan memohon. "Sungmin oppa pernah berharap untuk segera ditemukan Kyuhyun oppa, tapi Kyuhyun oppa terlambat. Kebencian itu karena Sungmin oppa merasa dibiarkan hilang terlalu lama. Bukan karena keputusan semena-mena Kyuhyun oppa di masa lalu. Aku tahu itu."
"Kau ini, terlalu menganggu, Seo Joohyun !"Sungmin menatap gadis itu tajam. Ia menyipitkan matanya. Lantas, tanpa mengatakan apapun, ia bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan keluar ruangan.
Ada bantingan pintu yang sangat keras di sana sebelum ruangan kembali hening. Seohyun menggigit bibirnya kuat-kuat. Kepalan tangannya menekan-nekan dadanya. Isakan tertahan itu menjadi suara yang kemudian menggema sangat besar di sana.
..::.
Semuanya hanya kebohongan.
Sungmin ingin sekali bersorak, berlari sekuat tenaga untuk menemukan Kyuhyun, dan memeluknya saat itu juga. Menumpahkan segala beban di hatinya. Karena jujur saja, selama ini, Sungmin sudah terlalu lelah. Ia tidak kuat lagi. Tanpa cerita itupun, Sungmin yakin ia akan luluh hanya dengan pertemuan yang terus terjadi dengan Kyuhyun.
Hanya Kyuhyun yang bisa membuatnya sangat kuat sekaligus lemah.
Tubuh Sungmin merosot ke lantai, punggungnya bersandar di pinggiran ranjang dalam kamar apartemennya. Ryeowook sedang keluar, menangis sekeras apapun, tidak akan ada yang mendengarnya sekarang. Tapi, Sungmin menahan dirinya. Pemuda itu memeluk dirinya sendiri, memastikan bahwa ia belum hancur atau sekedar menguap karena sengsara.
Kata-kata Seohyun tepat seperti yang terjadi. Sungmin memang pernah memaafkan Kyuhyun akan kejadian di koridor asrama itu. Sungmin memang patah hati hebat, tapi ia memaafkannya. Yang tidak bisa dimaafkan Sungmin adalah, ketidakhadiran Kyuhyun untuk segera menyelamatkannya. Membuatnya merasa sendirian dan takut.
Kyuhyun terlambat menemukannya. Dan kini, Sungmin terlanjur berada di dunia lain di mana Kyuhyun adalah makhluk paling tabu untuk masuk di dalamnya.
"Kyuhyun-ah …,"
Sungmin mengerang dengan mata yang tertutup rapat-rapat. Ia menggit bibirnya keras, tidak peduli pada rasa amis yang pelan-pelan terasa di indera pencecapnya. Sungmin tidak lagi ingin munafik. Ia ingin kembali. Hanya saja, tidak ada jalan untuk kembali. Dunianya sekarang adalah Kim Ryeowook. Tidak ada jalan keluar baginya.
Pelan. Bulir-bulir bening menyusup keluar dari sela-sela bulu matanya yang terpejam tanpa mampu ia tahan.
Di ujung sana, di cela pintu yang terbuka sedikit, sepasang mata karamel milik pemuda mungil menatapnya hampa. Ia baru tiba, dan suguhan pertama yang didapatinya adalah pemandangan paling tidak ia inginkan di dunia ini.
..::.
Labu's Note:
Akhirnyaaaah~~ bisa update~~ :D
Saya janjinya seminggu sekali, ya? Mianhae, butuh perjuangan bagi saya untuk nulis ini. Bukan cuma mesti nyuri waktu, tapi juga mesti patah hati biar dapet feel nulisnya. Ini seharusnya di-publish beberapa hari lalu, tapi tahu-tahu pulsa modem habis! *gelundungan*
Tapi, yang penting bisa publish. :DD
Oh iya, ada yang nanya, apa saya pakai beta reader atau gak? Saya mau buat pengakuan dosa! Saya, Peri abal-abal ini, gak pernah pakai beta reader. Jangankan pake beta reader, ngedit aja, gak! Habis ngetik, langsung publish. Kalau saya pakai editing lagi, saya gak kuat. Sumpah! Saya udah paksain patah hati buat nulis, kalau baca baik-baik dan merhatiin semuanya lagi, saya bisa galau seminggu penuh. Jadi, tolong jangan minta saya nge-edit, ya. *author abal, padahal self editing itu perlu seperlu-perlunya*jangan ditiru, Chingudeul.
Ah, satu lagi bacotan saya~ *kedip-kedip* ;D
Saya buat satu ff KyuMin baru. Tapi GS untuk semua uke. Yang minat, bisa ke pumpkinminn masih prolog. Ceritanya gak se-hurt yang ini walau ada death OC.
Oke, sekian note yang kepanjangan ini.
Thanks to all my readers~ you guys rock! Kalian yang terbaik. Makasih untuk semangatnya, ya! Love youu~~
Salam Peri!
