Peri Labu present:

A KyuMin fanfiction

"Cruel Fairy Tale"

.

.

.

Listen to Me

"Sebuah Permohonan."

Ryeowook selalu suka saat ia duduk berhadap-hadapan dengan ibunya di halaman belakang kediaman utama keluarga Kim. Ditemani dengan dua cangkir teh beraroma mawar dan berbagai kudapan manis bertema cokelat. Seolah-olah, masa-masa paling membahagiakan ketika ia kecil, berkumpul di sana, menari-nari di sekitar mereka dan Ryeowook tengah menontoninya satu-satu sambil tertawa.

"Eomma akan kembali ke London." ujar nyonya Kim saat cangkir berbentuk bunga teratai ia letakkan di tatakannya, di atas meja.

Ryeowook mendongak dari piring cake-nya, lantas mengerutkan kening dengan kecewa. "Jinjjayo?" Ia membuang napas seperti anak kecil yang tengah mencoba merajuk. "Tinggallah lebih lama, Eomma!"

Nyonya Kim tersenyum kecil. "Daripada tinggal, Eomma punya rencana lebih baik, Wookie-ya!"

Ryeowook berhenti memasang wajah merajuk, ia terdiam penasaran. "Mwoya?"

"Pergi bersama ke London, meninggalkan Korea untuk selamanya."

Ryeowook terdiam. Otaknya berputar amat cepat untuk memahami maksud kalimat itu. Ia mengerti, hanya tidak ingin menerima asumsi yang muncul dalam kepalanya.

"Tapi …, aku tidak bisa …." ucapnya pelan-pelan.

Nyonya Kim terdiam sejenak. "Karena Sungmin?" tebaknya.

Ryeowook termangu. Entah tebakan itu bermakna apa. Tapi Ryeowook menjawabnya ragu, "Salah satunya. Maksudku, pekerjaanku ada di sini, Eomma! Inspirasiku, impianku ada di sini."

"Apa Sungmin yang menjadi inspirasimu? Juga impianmu, Kim Ryeowook?" Nyonya Kim terus mendesak dengan suaranya yang halus. Namun Ryeowook mendengarnya begitu memburu. "Berhenti mencintainya, Wookie-yah!"

Kedua bola mata karamel Ryeowook membelalak. Ia tidak pernah menyangka kalimat itu akan terdengar olehnya. Terutama dari ibunya sendiri. Yang lebih mengejutkan, ia tidak pernah menduga bahwa ibunya tahu rahasia besar itu; bahwa ada hubungan lebih dari sekedar hyeong-dongsaeng antara dirinya dan Sungmin. Hubungan yang tidak siap untuk dikatakan oleh Ryeowook.

"Bagaimana Eomma tahu?" tanya Ryeowook menimpali, tidak ingin berbohong dengan mengelak.

Bagaimana Nyonya Kim tahu? Ia tidak buta. Ia bisa melihat bagaimana berbedanya Ryeowook saat memandang Sungmin. Hanya saja nyonya Kim baru benar-benar tidak bisa menganggapnya biasa setelah kejadian saat makan malam waktu itu. Ryeowook yang menggenggam tangan Sungmin di bawah meja, Ryeowook yang terus mencuri pandang pada Sungmin dalam intensitas yang tidak wajar, dan Sungmin yang menatap balik seperti meminta pertolongan.

Itu bukan gestur biasa antara hyeong-dongsaeng. Terutama saat candaan mengenai rencana pernikahan itu terlontar, nyonya Kim bisa melihat betapa pucatnya wajah Sungmin dan Ryeowook, betapa genggaman tangan di bawah meja itu mengerat. Nyonya Kim sungguh tidak bisa menutup mata untuk mengabaikannya.

Dan mungkin puncak segalanya ada saat pameran lukisan. Lukisan-lukisan di ruang khusus itu menjelaskan semuanya. Sosok malaikat dalam ekspektasi Ryeowook adalah Lee Sungmin. Tidak terbantahkan meski nyonya Kim ingin berteriak bahwa itu salah.

Dahulu, ia menentang perasaan Yesung terhadap Ryeowook. Lantas si Sulung membawa Sungmin, orang yang kemudian menyamankan diri bersama bungsunya. Jika dirunut, ia turut andil dalam semuanya. Awal permasalahan yang terlalu pelik ini.

"Eomma!" panggil Ryeowook tidak sabar. "Bagaimana Eomma tahu?" ulangnya.

Nyonya Kim menghela napas. "Karena aku eomma-mu, Ryeowook-ah. Eomma selalu tahu."

"Karena kau adalah eomma-ku!" Ryeowook menundukkan kepalanya. Cairan merah kehitaman dalam cangkirnya memantulkan wajah mungil yang manis—meski tanpa ulasan senyum. "Karena kau adalah eomma-ku, jadi jangan pinta aku untuk berhenti mencintainya. Kumohon."

"Tapi, Ryeowook-ah—"

"—Aku bersedia berdosa bersamanya, Eomma!" Ryeowook memandang nyonya Kim tegas. Menunjukkan bahwa ia tidak sedang merajuk atau apapun seperti anak kecil. Ia ingin menunjukkan bahwa ia cukup dewasa saat ini untuk memertahankan keputusannya. "Jika aku melakukan dosa besar dengan tidak mendengarkan Eomma, aku bersedia menanggungnya. Asalkan aku bisa bersama Sungmin."

"Wook …,"

"Orang yang terluka bisa melakukan apa saja untuk menghilangkan rasa sakitnya, Eomma. Begitupun kami." Ryeowook mengigit bibirnya. Tubuhnya bergerak dengan amat pelan untuk berdiri. "Jeongmal mianhae, Omonim. Tapi aku tidak akan melepaskan Sungmin."

Nyonya Kim terdiam. Ia merasa seketika gagal melakukan apapun untuk kedua putranya saat melihat punggung Ryeowook bergerak menjauhinya. Pembicaraan hangat itu resmi berakhir dengan suram—dengan tetesan yang menyusup di sudut matanya.

..::.

Yesung menatap diam kepergian Ryeowook dari balik tembok pembatas antara rumah utama dan halaman belakang. Dari jaraknya, ia cukup bisa mendengar pembicaraan ibu dan adiknya itu. Dan mendengar penegasan Ryeowook untuk tidak pernah melepaskan Sungmin rasanya ia mendadak pusing.

Dahulu, Yesung berpikir, dengan membiarkan Ryeowook dan Sungmin tersenyum bersama, maka segalanya usai. Biar dia saja yang sakit seorang diri. Tapi, mengetahui bahwa Kyuhyun tidak pernah move on dari luka hatinya, ia merasa segalanya mulai memburuk. Dan sekarang, saat ternyata eomma-nya turut menentang, segalanya berubah menjadi begitu salah. Ia benar-benar melakukan dosa besar.

Sungmin seharusnya tetap menjadi milik Kyuhyun. Dan ia hanya butuh memerjuangkan Ryeowook untuk jadi miliknya atau sama sekali melarikan diri dan melupakan cintanya pada sang Dongsaeng. Seharusnya, ia tidak perlu bertemu dengan Sungmin dan bepikir bahwa ia jatuh cinta pada sosok peri kecil itu.

Atau, kalau memang takdir harus memertemukan mereka, setidaknya Yesung bertemu dengan Sungmin saat Yesung cukup dewasa untuk tidak melakukan kesalahan macam ini. Sayangnya, dulu Yesung terlalu muda untuk memahami semua dampak perasaannya.

"Omonim …," Yesung bergerak menyeret langkahnya untuk mendekat pada sosok wanita paling cantik yang sangat dicintainya itu.

Nyonya Kim mendongak. Terburu ia menyeka airmata itu dari pipinya, lantas memberikan senyuman ramah pada sang Sulung.

"Yesungie." sapanya.

Yesung tidak membalas senyum di wajah ibunya. Ia menatap hampa—penuh permohonan. Saat ia hanya butuh dua langkah lagi untuk bisa mendekap wanita itu, ia justru berlutut di atas rumput, membuat nyonya Kim mengerutkan kening kebingungan.

"Yesungie-ya."

Nyonya Kim hampir berdiri dari tempatnya duduk untuk menghentikan aksi Yesung saat laki-laki itu berucap dengan kepala menunduk dan nada yang amat rendah.

"Restui aku dan Ryeowook …," pintanya.

Nyonya Kim berhenti bergerak. Tubuhnya membeku.

"Kim Yesung …,"

Yesung masih menunduk, tidak berani mengangkat kepalanya. Tapi bukannya bangkit dari posisi itu, ia justru menggerakkan tubuhnya untuk bersujud, membuat nyonya Kim membulatkan matanya terkejut. Tangannya menutup mulutnya sendiri, tak menyangka Yesungi-yanya akan melakukan hal macam ini untuk memohon.

"Sekali ini saja, tolong katakan bahwa Eomma merestuiku dan Ryeowookie."

Nyonya Kim menutup matanya rapat-rapat, menggigit bibirnya kuat, sementara airmata merembes dari bulu matanya lagi. Apa yang bisa ia pilih? Merestui atau tidak, kedua opsi itu sama-sama berarti dosa.

Entah berapa tahun nyonya Kim menentang, entah berapa tahun ia meminta Yesung untuk melupakan perasaannya. Ia bahkan tidak ingat. Tapi seberapa lama pun ia melarang, seberapa banyak pun ia meminta Yesung berhenti, ia tidak pernah berhasil. Terutama karena Yesung tidak pernah menganggap Ryeowook sebagai adiknya secara sah.

Tidak pernah.

Hati kecil Yesung tidak bisa berpura-pura bahwa hitam di atas putih menjadikan Ryeowook terlarang baginya. Logikanya memang menerima, namun tidak dengan hatinya.

Kim Yesung telah jatuh cinta pada Kim Ryeowook saat pertemuan pertama mereka, saat pernikahan kedua orang tua masih berupa rencana yang matang. Tapi Yesung baru menyadari perasaannya adalah cinta yang berbeda saat ia beranjak dewasa.

Dulu, nyonya Kim mengabaikannya karena berpikir, Yesung hanya senang mendapatkan dongsaeng. Tahu-tahu, rasa senangnya adalah satu keping puzzle nasib yang menyusun takdir yang ada sekarang.

"Eomma pernah mengatakan padaku, bahwa Tuhan menitipkan kekuatan pada mereka yang bersedia mencintai seseorang sampai akhir. Dan kurasa, Tuhan benar-benar menitipkannya padaku, Eomma." Yesung masing menumpukan dahinya di punggung tangannya di atas rumput. Suaranya lirih, namun berubah tegas saat ia membuktikan kalimat yang ia maksud dengan mengatakan, "Tuhan menitipkan padaku kekuatan untuk mencintai Ryeowook."

Yesung pasrah memohon dengan cara apapun sekarang. Asalkan Ryeowook bisa melepaskan Sungmin, asalkan Ryeowook bisa melihatnya—

—asalkan Ryeowook menjadi miliknya.

Nyonya Kim bernapas melalui mulutnya. Tidak ada apapun yang bisa ia lakukan. Kim Jung Soo,ayah Ryeowook, laki-laki kedua yang pernah ia nikahi, telah meninggal dunia sejak lama. Mungkin ini waktunya untuk melepaskan status Ryeowook sebagai putra dan membiarkan Yesungnya bahagia.

"Kim Yesung …," Nyonya Kim bergerak untuk berdiri, kemudian berjongkok di hadapan Yesung. Dibantunya putranya itu itu bangkit dari posisi sujudnya. Saat Yesung sudah duduk di kedua lipatan kakinya, nyonya Kim lantas mendekapnya erat-erat dan berbisik amat pelan. "Berjanjilah untuk bahagia atas apapun yang kau pilih."

..::.

Hingga saat ini, hal yang paling diingat Ryeowook dari Sungmin adalah sosok yang memeluknya dan memintanya jatuh cinta dengan cara yang aneh. Ryeowook tidak pernah lupa bagaimana kedua lengan Sungmin mengelilingi tubuh mungilnya dan berbisik dengan suara paling asing yang pernah ia dengar.

Kejadian absurd itu menjadi titik tolak mengapa ia ada di ruangan ini sekarang; tinggal di apartemen yang sama dengan seseorang berstatus kekasihnya. Kekasih yang dengan suara lirih sarat frustasinya merapalkan nama orang lain.

Ryeowook yakin benar jika ia pernah patah hati. Dulu. Dulu sekali. Saat ayahnya masih hidup—tepat saat ibu kandungnya meninggal. Lalu, ia kembali patah hati beberapa saat lalu, saat ia menyadari maksud kedatangan Cho Kyuhyun. Dan sekarang, ia patah hati lagi.

Di dalam sana, Sungminnya tengah menekuk tubuh menahan luka. Luka tak terlihat dengan tetesan darah, namun Ryeowook yakin sakitnya melebihi tikaman belati. Ryeowook bisa saja masuk dan memeluknya, membagi kekuatan agar Sungminnya merasa lebih baik. Tapi Ryeowook tidak bisa melakukan hal itu pada Sungmin yang terus merapalkan nama Kyuhyun.

Tidak bisa. Saat ini, yang dipanggil Sungmin adalah Kyuhyun, bukan dirinya—fakta paling menyakitkan yang tidak ingin ia ketahui, tapi terpaksa ia tahu.

"Aku tidak bisa melepaskanmu, Hyeong!" Ryeowook menatap pasrah. "Tidak bisa membiarkanmu pergi."

..::.

Sungmin keluar dari kamarnya saat jam makan malam telah lewat. Ia bahkan tertidur dengan pakaian kerjanya—di lantai. Ryeowook sama sekali tidak membangunkannya. Sungmin maklum. Mungkin Ryeowook mengira ia belum pulang. Nyatanya, pemuda mungil itu sekarang duduk bersila di sofa sembari menonton reality show, lengkap dengan popcorn yang terus tersuplai ke mulutnya. Kalau Ryeowook menyadari kepulangan Sungmin, pemuda itu tentu membangunkannya.

Sungmin berjalan mendekat. Didudukkannya dirinya di sebelah Ryeowook. Sungmin tidak mengatakan apa-apa, tapi tangannya lantas menarik pinggang Ryeowook untuk mendekat, mendekapnya erat. Sama seperti sebelum-sebelumnya, ia butuh Ryeowook.

"Hyeong?"

"Kau terlalu sibuk sampai tidak menyadari kehadiranku, Ryeowook-ah?" tanyanya sembari menenggelamkan kepala di pundak Ryeowook.

Sang pemuda mungil tidak bereaksi. Dibiarkannya Sungmin bermanja tanpa membalas pelukannya. Dulu, Ryeowook tidak akan menunggu waktu untuk segera membalasnya dan ganti bermanja-manja. Tapi sekarang, Ryeowook tidak ingin melakukannya lagi. Tidak pada Sungmin.

"Hm … sepertinya iya, Hyeong."

Bohong. Ryeowook sadar betul kehadiran Sungmin. Ia bahkan duduk di sini demi menunggu hyeong-nya itu untuk keluar kamar. Malam ini, Ryeowook akan menegaskan hubungan mereka. Setuju atau tidak, Sungmin juga harus tegas pada dirinya sendiri.

"Hyeong …," panggil Ryeowook pelan, namun tak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. Ia melepaskan dekapan Sungmin di pinggangnya demi menatap mata laki-laki itu lekat.

Sungmin mengerutkan keningnya. Ia masih butuh memeluk Ryeowook untuk meyakinkan bahwa ia tidak perlu pergi dari dunia mereka. Tapi pancaran tegas dari karamel Ryeowook membuatnya menelan kembali semua protes yang hampir terlontar.

"Ne, Wook-ah?"

"Apa kau mencintaiku, Hyeong?" tanya Ryeowook tanpa basa-basi.

Sungmin makin mengerutkan keningnya tak paham. Selama mereka bersama, ini kali pertama pertanyaan itu terlontar.

"Apa yang—"

"Jawab saja, Hyeong!" potong Ryeowook cepat.

"Tentu." Sungmin menjawab meski sama sekali tak mengerti pembicaraan macam apa yang ingin dimulai oleh Ryeowook. "Tentu saja aku mencintaimu."

"Apa yang membuatmu mencintaiku, Hyeong?"

Sungmin mengerjap. Tubuhnya menegak, tidak lagi mencoba untuk bersandar pada Ryeowook. "Ryeowook-ah!"

"Apa kau mencintaiku karena aku butuh dicintai? Apa karena kau berpikir bahwa kita sama-sama terluka, jadi perlu bagi kita untuk saling menyembuhkan?" Ryeowok memburu dengan pertanyaan cepat, membuat Sungmin sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa. "Atau …," Ryeowook menggantungkan pertanyaannya sejenak demi menatap mata rubah milik Sungmin. "Apa kau mencintai warna mataku?"

Sungmin terdiam. Pandangan Ryeowook yang menghujam ke dalam matanya seakan menelanjanginya untuk tidak mengatakan kebohongan apapun.

"Aku …,"

"Kita sepasang kekasih, kan, Hyeong?" Ryeowook kembali memotong tidak sabar.

Sungmin mengangguk, memilih untuk membiarkan Ryeowook melontarkan seluruh pertanyaannya. "Tentu."

"Berapa banyak ciuman yang pernah kita lakukan?"

"Ne?" Sungmin menggugu. "Ryeowook -ah … apa kau sakit?"

"Bukan itu jawabannya, Hyeong!" Ryeowook tersenyum amat manis. "Jawabannya nol. Tidak ada. Tidak pernah."

Sungmin terdiam.

"Sepasang kekasih yang sudah dewasa tapi tidak pernah berciuman satu kali pun. Bukankah itu aneh, Hyeong?" Ryeowook bergerak pelan. "Kita harus melakukannya!"

Dengan gerakan amat cepat, Ryeowook mendekatkan tubuhnya, menubruk Sungmin begitu saja. Sungmin refleks menutup mata. Tubuhnya bergerak ke belakang karena Ryeowook yang lantas memberati sedikit keseimbangannya. Sungmin tidak tahu bagaimana, tapi selama beberapa detik, ia merasa sama sekali tidak ada bibir lain yang menekan bibirnya saat ini.

"Sewaktu di Nami, aku bisa saja mencuri ciumanmu, Hyeong. Tapi aku tidak melakukannya." aku Ryeowook pelan. Posisinya masih tidak berubah.

Hanya butuh beberapa mili lagi hingga bibirnya menyentuh bibir Sungmin. Namun ia menahan dirinya. Perlahan, Sungmin ikut membuka matanya, balas menatap karamel milik Ryeowook yang menatapnya intens.

"Kau tertidur, dan aku tahu kau tidak akan senang jika aku melakukannya. Sekarang, bahkan ketika kau membuka matamu dengan lebar, kau tetap tidak menginginkannya."

Sungmin menelan ludahnya. Ia terlalu terkejut. Tubuhnya bergerak menjauh dari Ryeowook tanpa ia sadari.

"Kita bisa melakukannya sekarang." Sungmin memberanikan diri.

Ryeowook menggeleng. Tubuhnya bergerak menjauh dari Sungmin, mengembalikan jarak yang tadi mengantarai mereka.

"Apa kau pernah melakukannya, Hyeong?"

Sungmin terdiam lagi. Ia pernah melakukannya—tidak! Maksudnya, Sungmin pernah mengalaminya. Dulu. Saat Kyuhyun menciumnya. Dan saat itu—

—Sungmin menerimanya. Sama sekali tidak menolak seperti refleksnya barusan.

Tetapi itu dulu. Dulu sekali. Sekarang, bahkan itu tidak lagi penting.

"Kita tidak pernah saling mencintai, kan, Hyeong?" ujar Ryeowook pedih. "Kita hanya hidup bersama dan berpikir bahwa kita adalah sepasang kekasih. Kita mengatakan cinta seolah itu yang ada dalam hati kita. Tapi sebenarnya kita tidak pernah mencintai satu sama lain."

"Kau salah."

"Itu benar!" tukas Ryeowook tegas. "Dua orang yang saling mencintai, tidak seperti ini. Tidak memaksa dan tidak terpaksa."

Tapi Sungmin ada di sini, tidak karena terpaksa. Ia ikhlas bersama Ryeowook. Sungmin pernah meminta, Ryeowook menerima dan memberi. Proses yang sudah benar selayaknya pasangan kekasih.

"Aku marah, Hyeong!" ujar Ryeowook lagi. Suaranya lembut, namun mengintimidasi Sungmin. "Aku marah saat aku tahu, orang yang selalu ada dalam hatimu adalah orang lain. Aku sudah tahu itu sejak lama, tapi aku baru tahu nama dan rupa laki-laki itu belum lama ini." Ryeowook tersenyum sinis. "Cho Kyuhyun. Seberapapun ia melukaimu, kau tetap mencintainya. Jadi, dengan cara seperti apa lagi aku harus memertahankanmu? Sementara orang-orang yang kuharap mendukungku, justru turut mencegah."

Ryeowook teringat pembicaraan dengan ibunya. Ia lagi-lagi tersenyum pedih. Tidak ada yang berdiri di pihaknya, bahkan Sungmin sendiri. Ryeowook tahu. Ia memahami Sungmin luar dalam. Sudah sejak lama ia sadar bahwa Sungmin mencintai seseorang di masa lalunya, seseorang yang membuatnya terluka, seseorang yang memiliki cerita tentang etude op. 10 no. 3.

Mendengar lagu itu diputar hingga berjam-jam nonstop, orang bodoh pun tahu, bahwa ada kisah penting yang pernah diiringi musik instrumental itu. Kisah penting itu tentu saja kisah yang sangat manis. Sebab, tidak akan ada orang yang cukup bodoh untuk terus mengingat kisah buruk.

Ryeowook mendengarkan lagu itu karena Sungmin. Yesung mendengarkan lagu itu juga karena Sungmin. Dan Sungmin mendegarkan lagu itu untuk mengenang seseorang yang pernah sangat berarti dalam hidupnya. Orang yang ia kenang dan tidak ingin orang lain tahu. Musik rahasia di mana hanya mereka berdua yang paham maknanya.

Sepaham apapun Ryeowook tentang Sungmin, ia tetap tidak mampu memahami makna lagu itu.

"Mengapa kau mendengarkan lagu yang sama meski itu lagu sedih, mengapa kau menjadi arsitek, dan mengapa kita kembali ke negara ini, bukankah itu semua hanya memiliki satu alasan, Lee Sungmin?" Ryeowook bertanya tajam, seolah yang ada di hadapannya ini bukan hyeong-nya yang selalu ia hormati. "Alasan itu adalah Cho Kyuhyun. Benar, kan?"

Sungmin terdiam. Ia tidak ingin munafik untuk menampik. Itu benar. Semua yang keluar dari bibir pemuda mungil itu tidak salah barang sekata pun.

"Selama ini, kau menunggu untuk ditemukan olehnya. Jadi, kau berusaha berada di tempat di mana Kyuhyun bisa menemukanmu. Kalau kau membencinya seperti katamu, bukankah seharusnya kau menghilangkan semua bentuk interaksi yang memungkinkan Cho Kyuhyun tidak menemukanmu? Tapi kau tidak."

Itu sama persis dengan yang dikatakan Seohyun. Sungmin sudah mengakuinya—meski dalam hatinya. Sungguh. Tapi …

"Selama ini, yang kulakukan adalah bertahan. Memersiapkan diri untuk segala kemungkinan terburuk. Menerka-nerka kedatangannya cepat atau lambat. Aku memersiapkan diri jauh-jauh hari. Tapi, saat menghadapinya, aku tahu ini tetap sulit. Kenyataan selalu lebih menyakitkan, bukan? Sesiap apapun aku, aku tetap tidak bisa menghadapinya. Aku tetap menginginkanmu. Aku tetap berharap, bahwa orang yang kau cintai belum datang. Tapi, mendengar kau menyebut namanya, aku tahu, inilah saatnya."

Sungmin terpaku. Kalimat yang sangat panjang dari Ryeowook membuat kepalanya berdenyut sangat keras. Segoyah inikah dirinya hingga Ryeowook tahu sedetail-detailnya?

"Tapi aku ingin denganmu, Kim Ryeowook." Sungmin mencoba bersuara lagi. "Kita berjanji untuk tidak saling melepaskan."

Ryeowook tersenyum sinis, "Untuk itu aku ada di sini, Hyeong." Ryeowook menelan ludahnya. Matanya yang sedaritadi memanas kini mengeluarkan airmata. Ia tidak mengisak, air itu keluar sendiri, mengalir sendiri.

Sungmin terdiam. Ia tahu. Ryeowook tidak akan melepaskannya. Airmata itu cukup menjelaskan perasaan Ryeowook.

"Untuk itu aku ada di sini …," pemuda mungil itu goyah. Ia menunduk dalam-dalam, mulai menangis dengan jujur.

"Aku tahu …," Sungmin turut menelan ludahnya susah payah. Tubuhnya bergerak mendekati Ryeowook, mendekapnya bersamaan dengan hatinya yang mencoba melepaskan Kyuhyun, merelakan nama Cho itu menghilang sepenuhnya.

Sungmin rela. Ia tidak punya jalan. Ia tidak bisa keluar. Melepaskan Kyuhyun dengan sukarela adalah jalan terbaik bagi mereka. Kyuhyun lebih kuat dari Ryeowook. Ia pasti mengerti pada keputusan ini.

"Untuk itu aku ada di sini …," Ryeowook terus mengulang kalimat itu. Ia balas mendekap pelukan Sungmin, menangis tersedu di pundaknya.

"Untuk meluruhkan janji itu—"

Mata Sungmin yang hampir terpejam pedih mendadak membelalak begitu kalimat Ryeowook selanjutnya berbisik dengan jelas di telinganya.

"—untuk melepaskanmu."

..::.

Labu's Note:

Update-nya lama lagiiiiiii! Mianhae … T_T

Saya sibuk, jadi tolong maafkan author abal-abal ini. T_T

Chap ini sebenarnya udah hampir selesai waktu Lost in Love di-publish. Cuma penyelesaiannya aja—yang beberapa baris itu—belum diketik. Jadi belum bisa di-publish bersamaan. Sebenarnya, saya mau narget berapa review yang masuk sebelum update, tapi gak jadi. Saya berpikir, kalau silent reader yang bejibun itu gak review, itu berarti saya emang gak pantas buat dapat review. Walaupun, suka patah semangat juga liat viewers fic ini. Perbandingan dengan yang review, jaaaaauuuuuh banget.

Karena itu, saya sangat berterima kasih pada mereka yang bersedia mengetikkan beberapa kalimat buat saya.

Saya senang banget baca-baca review yang masuk. Makasih banget. Kalian yang terbaik. Jeongmal gomawo.

Salam Peri!