Peri Labu present:

A KyuMin fanfiction

"Cruel Fairy Tale"

.

.

.

Just You

"Aku di belakangmu."

Suara alas sepatu yang beradu dengan lantai beton itu terdengar menggema meski pemiliknya enggan melangkah. Ada helaan napas berkali-kali yang dikeluarkan Seohyun sejak ia meninggalkan kamarnya demi menemui Kyuhyun di ruang musik panti asuhan. Ia sudah mengemasi semua barang-barangnya dan Kyuhyun. Mereka hanya perlu menahan taksi untuk ke bandara dan menunggu jam keberangkatan.

Setelah itu, semua kisah rumit yang memusingkan ini akan berakhir begitu saja. Berakhir dengan keputusan bodoh.

"Seohyun-ah!"

Seohyun mendongak. Dilihatnya Siwon telah berdiri dengan tegak di hadapannya, tampak terkejut.

"Annyeong, Oppa." sapanya, selengkung senyum tipis terpatri di wajahnya yang bulat manis. "Pemotretanmu sudah usai?"

Siwon mengangguk. Tak ada senyum yang menampilkan dimple di wajahnya yang tampan. Tatapannya sendu, jelas sekali jika ia juga terluka.

"Chukhahae …," ujar Siwon pelan, nyaris tak terdengar. "Sejak dulu, kau selalu menyukai Kyuhyun, kan? Sekarang, kalian akan segera menikah. Kau tidak perlu lagi diam-diam mengintipnya atau menyentuh wajahnya saat ia ketiduran seperti dulu."

Seohyun membelalak. Kedua belah bibirnya terbuka sedikit, terkejut oleh penuturan barusan. "Kenapa Oppa tahu?" tanyanya tak percaya.

Siwon tersenyum sedikit. "Karena aku selalu memerhatikanmu, Hyun-ah."

Seohyun terdiam. Sama sekali tak paham.

"Dari pertama kau datang ke tempat ini, aku selalu memerhatikanmu. Aku—"

"Seohyunnie-ya."

Suara barusan menginterupsi. Siwon menelan pernyataan apapun yang hendak disampaikannya. Pemilik nama berbalik, sementara Siwon yang berdiri di hadapannya mendongak, menatap Nyonya Shim yang baru tiba.

Awalnya, tatapan mereka mengartikan kebingungan, namun kedua mata mereka lantas membelalak begitu melihat sosok pemuda cantik berdiri di belakang Nyonya Shim. Pemuda itu diam di tempatnya, tatapan dan ekspresinya tak tertebak.

"Sungmin datang."

..::.

Ada denting nada-nada piano yang lembut di sana, mengkomposisikan sebuah lagu. Tenang, seperti air dalam yang siap menenggelamkan. Perpindahan cepat jemari-jemari itu dari bilah satu ke bilah lainnya menciptakan irama ironi. Seperti dentang kematian.

Etude op. 10 no. 3 memang selalu sesuram itu.

Tapi Kyuhyun membiarkan jemarinya terus bermain. Mungkin, ini kali terakhir ia mengungkit kenangannya tentang lagu itu. Setelah ini, Kyuhyun tidak akan memainkan Tristesse lagi. Sudah cukup. Kalau ia terus berpikir bahwa Sungmin adalah kebahagiaanya, ia tidak akan pernah bisa bahagia. Kenyataannya, Sungmin tidak akan datang untuk membuatnya bahagia.

"Chopin."

Ya. Sungmin tidak akan datang. Hanya pengharapan terakhir Kyuhyun yang terlalu kuat untuk memberinya halusinasi akan suara halus itu.

"Kau masih memainkannya?"

Kedua bola mata Kyuhyun terbuka pelan-pelan, menampilkan bola mata karamel yang sangat indah. Jemarinya berhenti bermain. Ia yakin, ia salah dengar. Halusinasinya terlalu jauh memermainkan logikanya.

Kyuhyun ingin percaya opsi itu, namun suara tapakan kaki yang mendekat ke arahnya tampak sangat nyata. Halusinasi seharusnya tidak perlu memberinya angan-angan akan tapakan kaki Sungmin, kan?

"Padahal, ini sudah lewat bertahun-tahun. Tapi kau terus saja memainkannya, Kyu."

Bola mata Kyuhyun membulat. Secepat kilat ia berbalik. Dari arah pintu, sosok yang setengah mati ia rindukan berjalan menujunya. Meski ini halusinasi sekalipun, Kyuhyun tidak ingin mengakuinya. Hanya saat berhalusinasi harapannya akan kehadiran Sungmin bisa terwujud.

"Lee … Sungmin?" panggilnya terbata. "Ming …,"

"Ne, Cho Kyuhyun."

..::.

Ryeowook membuka matanya pelan-pelan. Apa yang dilakukannya semalam … entah itu benar atau tidak. Ia tidak lagi bisa berpikir. Memeluk Sungmin dan melepaskannya—seumur hidup, Ryeowook tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya. Ini kali pertama dan rasanya … hampa!

Melepaskan ternyata memang sehampa ini, sekosong ini. Tapi mungkin ini kali pertama Ryeowook akan jujur pada dirinya sendiri. Ia memang tidak mencintai Lee Sungmin sebagai seorang pemuda, atau sebagai sepasang kekasih. Perasaan mereka tidak seperti itu. Ia mencintai Sungmin sebagai seseorang yang juga terluka. Ia mencintai Sungmin karena mereka sama-sama sakit. Ia mencintai Sungmin sebagai kakak laki-laki yang ia akui. Ia mencintai Sungmin sebagai sosok ibu yang tidak mengatakan apa-apa saat ia mengamuk, namun memeluknya begitu hangat.

Ia mencintai Lee Sungmin dengan cara seperti itu. Dan Ryeowook terlalu takut merasa sakit saat ia harus melepaskan Sungmin. Padahal, Sungmin hanya menemukannya saat Ryeowook tengah patah hati, menyelamatkannya. Membuatnya berharap begitu banyak. Ia hanya tidak ingin kehilangan semua harapan-harapan yang ia dapat dari Sungmin jika ia melepaskannya. Sayangnya, tembok kokoh tempatnya selalu bersandar itu juga perlahan rapuh karena merindukan orang lain.

Tembok kokoh juga akan rapuh jika tidak dirawat. Dan tembok kokoh bernama Lee Sungmin itu hanya akan tetap kokoh jika yang merawatnya adalah cinta Cho Kyuhyun.

Ryeowook tidak bisa melakukan apapun.

"Maafkan aku, Hyeong." Ryeowook berbisik. Matanya kembali terpejam, sementara tubuhnya tetap berbaring di atas ranjangnya, seperti tak ingin bergerak. "Tapi kau tidak perlu bertanggung jawab padaku. Aku sudah cukup dewasa bersamamu."

..::.

Sungmin masih tidak percaya jika ia telah berdiri di sini, di ruang musik panti asuhan, tepat di hadapan Cho Kyuhyun yang menggumamkan namanya. Semalaman ia mencoba menerjemahkan apa yang terjadi. Tangisan Ryeowook, tubuh mungil yang bergetar dalam pelukannya, dan kalimat yang tidak pernah ia bayangkan.

Ryeowook melepaskannya disaat Sungmin telah memutuskan untuk melupakan Kyuhyun.

Dan pagi ini, entah apa yang membuat Sungmin memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur—bukan bangun, sebab ia tidak tidur semalaman—dan segera menuju tempat ini. Mungkin akumulasi dari segala ketidakpercayaannya, mungkin ia hanya tidak ingin merasa kecewa lagi dan memastikan bahwa bersama Ryeowook telah benar. Atau—

—mungkin cinta yang pada kenyataannya memang tidak pernah Sungmin buang. Cinta paling jujur yang mendekam di sudut hatinya. Cinta yang timbul dari sisa harapannya akan ditemukan oleh Kyuhyun.

Kyuhyun telah menemukannya. Sungmin saja yang menolak untuk percaya. Tapi itu tidak lagi penting, sekarang Sungmin ingin jujur, bahwa ia ingin ditemukan.

"Chajatta!"

Entah siapa yang pertama mengemukakan hal itu. Baik Sungmin maupun Kyuhyun tidak ingin peduli. Sekarang, mereka telah menemukan satu sama lain.

"Ming …," Kyuhyun merapal nama itu lagi. Perlahan ia bergerak, bangkit dari tempatnya duduk di bangku piano. Disongsongnya Sungmin. Airmatanya meluruh, tidak peduli.

Sungmin tidak bergerak, tubuhnya seketika melemas saat Kyuhyun telah memeluknya erat seolah ia akan menguap jika Kyuhyun tidak mendekapnya sekuat itu. Sungmin memejamkan matanya, merasakan kehadiran Kyuhyun. Tubuh itu nyata, senyata air hangat yang merembes dari sela matanya yang terpejam.

"Bogoshipheo, Ming." bisik Kyuhyun pelan. Ia melonggarkan pelukannya demi menatap ke dalam mata Sungmin yang jernih. Mata paling disukainya.

Sungmin tersenyum. Sekarang, ia baru paham mengapa ia pernah meminta Ryeowook untuk jatuh cinta padanya. Karena Ryeowook memiliki bola mata yang sama dengan Kyuhyun. Ternyata, yang dilakukan Sungmin selama ini hanya mencoba mencari sosok Kyuhyun di manapun ia bisa menemukannya.

"Nado, Kyu. Nado bogo—"

Kalimat itu tidak dilanjutkan. Bibir tebal milik pemuda tinggi menempel di bibir plum itu. Kyuhyun tidak perlu mendengarnya, ia sudah tahu. Selalu tahu. Kyuhyun hanya ingin terus mencium Sungmin. Ini cara terakhir untuk membuatnya merasa yakin bahwa Sungmin yang sekarang benar-benar nyata.

Saat ini, tidak ada nafsu. Yang ada hanya mereka yang saling merindu.

..::.

Yesung sedang—sok, karena ia tidak benar-benar fokus—menyempurnakan beberapa maket bangunan saat dering ponselnya membahana. Panggilan pertama, ia mengabaikannya. Panggilan kedua, ia mulai terganggu. Hingga panggilan kelima, akhirnya ia melirik layar ponselnya. Di sana, nama Choi Siwon tertera dengan jelas.

Yesung menghela napasnya sebelum memilih untuk menjawab panggilan itu. Ia tahu, seharusnya Siwon ada jadwal pemotretan. Jadi, kalau ia menelpon di tengah jadwal, berarti lelaki itu ingin meminta bantuan atau apapun sebutan untuk merepotkan Yesung.

"Aku sibuk, Siwon-ah!" serunya malas.

Suara di seberang tidak langsung terdengar. Hening sejenak, membuat Yesung mesti memanggil nama si penelpon.

"Siwon-ah!"

'Kita berhasil, Hyeong!' bisik Siwon pelan.

Alis Yesung mengerut tak paham. Yang saat ini dipahami Yesung hanyalah, ia berhasil mendapat restu ibunya untuk bersama Ryeowook. Meski ia mendapatkan sakit kepala hebat setelahnya saat memikirkan bahwa Ryeowook tidak pernah melihatnya. Dan jelas, ia yang berusaha sendiri, Siwon tidak ada campur tangan.

"Berhasil apa?"

'Ryeowookie, melepaskan Sungmin hyeong.'

Mata bulan sabit Yesung membelalak. Kata-kata Siwon yang menerangkan kedatangan Sungmin yang menemui Kyuhyun tak lagi didengarkan oleh Yesung. Secepat kilat, laki-laki itu menyambar kunci mobilnya dan menyurukkan ponsel ke dalam saku tanpa memutuskan sambungan telpon.

..::.

Pintu ruang lukis itu dibuka dengan kasar. Seorang pemuda berkepala besar muncul dari sana, napasnya terengah-engah, namun tetap mencoba untuk bertanya. "Mana Sungmin?"

Yang ditanya tidak mengangkat kepalanya. Tangannya masih sibuk membuat lukisan abstrak dengan dominasi pink dan hitam di mana-mana. "Dia pergi mengejar kebahagiaannya."

Yesung terdiam. Ryeowook tidak mengisak, tapi air meluruh dari mata karamelnya. Ruangan itu temaram, namun Yesung bisa melihatnya di antara cahaya yang menelusup masuk dari cela jendela. Orang yang terlalu mencintai seperti Yesung, mampu melihat orang yang dicintainya bahkan dalam ruangan tanpa cahaya sekalipun. Seperti saat ini.

"Aku pernah kehilangan Eomma-ku. Lalu sekarang, aku melepaskan orang yang kucintai." Ryeowook tersenyum pedih, lebih merasa sedang mengejek dirinya sendiri. "Kurasa, Tuhan memang membenciku."

Yesung termangu. Ryeowook pernah kehilangan saat ia bahkan sama sekali tidak siap untuk itu—oke! Tidak ada orang yang benar-benar siap kehilangan, tapi Ryeowook terlalu rapuh untuk ditinggalkan saat itu. Ia mendadak kehilangan ibunya, sementara ayahnya tidak pernah benar-benar peduli, membuatnya mencoba mencari perhatian dengan cara apapun, termasuk mengamuk dan marah-marah tidak jelas pada siapapun.

"Aku rasa, aku bisa kehilangan kemampuan melukisku. Aku bisa kehilangan kemewahan yang ditawarkan Appa. Aku bisa kehilangan hal-hal seperti itu. Tapi, aku tidak bisa kehilangan orang yang kucintai." Ryeowook menggerakkan-gerakkan kuasnya ke mana-mana, membiarkan helai-helainya membentuk motif tersendiri. "Tuhan membenciku, karena itu ia mengambil Eomma-ku."

Yesung menggeleng, menunjukkan ketidaksetujuannya pada Ryeowook yang menyalahkan Tuhan. "Tapi, kemudian kau mendapatkan Eomma baru." Yesung berjalan mendekat. "Kurasa, Tuhan benar-benar menyayangimu. Kau bahkan tidak perlu menunggu lama untuk tahu bahwa ada orang yang benar-benar mencintaimu."

Ryeowook menghentikan gerakan tangannya. Tapi ia masih tidak menengadah menatap orang yang menganggunya itu.

"Ada orang yang selalu memperhatikanmu. Diam-diam mencintaimu."

"Kau salah, Hyeong." Ryeowook tersenyum sinis, mengejek dirinya sendiri. "Karena Sungmin tidak pernah mencintaiku seperti yang kau pikirkan. Berapa kali pun mencoba, kami tidak akan pernah saling mencintai. Kyuhyun tetap menjadi cinta bagi Sungmin. Dan aku …,"

"Kau akan selalu menjadi cinta yang paling berharga untukku."

Mata Ryeowook membesar, tak yakin pada pendengarannya. Sementara Yesung makin mendekatkan langkahnya, kalimat itu meluncur begitu saja. Kalimat paling jujur yang selalu ia simpan sendiri. Saat ia berdiri tepat di belakang Ryeowook, ia menunduk, memeluk bahu Ryeowook dengan erat. Seakan membuat Ryeowook mengerti, bahwa ia menunggu terlalu lama untuk mengatakan ini; "Aku mencintaimu."

..::.

Kyuhyun terus memandang wajah di hadapannya, seakan tidak ingin kehilangan satu detik pun momen ini. Sungmin bertambah cantik meski ia tampak begitu lelah. Sungmin masih tetap seperti peri kecil meski sepertinya beban selama bertahun-tahun ini tercetak jelas di wajahnya. Dan Kyuhyun masih tetap mencintainya tanpa berkurang sedikit pun.

"Kau membuatku takut, Kyuhyun!" sela Sungmin sebal. Kalimat pertamanya setelah ciuman lembut yang manis setengah jam lalu.

Kyuhyun tersenyum lebar, menampilkan barisan giginya yang rapi. Kyuhyun yakin, ia bisa menyerang makhluk manis di hadapannya ini, menumpahkan rindu bertahun-tahun yang mengendap. Namun, Cho Kyuhyun terlalu menghormati Lee Sungmin. Jadi, yang bisa ia lakukan hanya menggenggam tangan Sungmin erat-erat.

"Aku pikir, aku bermimpi." Kyuhyun mengangkat tangannya, membelai pipi Sungmin hati-hati. "Tapi kau nyata, Ming." ujarnya lembut.

Sungmin tersenyum tipis. Sejak ia berdiri di hadapan panti asuhan ini lebih dari setengah jam lalu, ia pikir, ia juga sedang bermimpi. Namun kalimat Kyuhyun membuatnya sadar, ini benar-benar realita.

"Aku nyata, Kyu." bisiknya. "Dan saatnya berbicara tentang realitas."

Kyuhyun mengangguk patuh. Sungmin menarik napas dalam-dalam. Benar. Saatnya berbicara tentang realita yang ada. Bukan hanya tentang mereka berdua, namun juga orang-orang di sekitar mereka. Tepatnya, seseorang yang berada di antara mereka.

"Kita tidak pernah berpisah baik-baik, kan, Kyu? Tidak ada kata 'putus'. Jadi, kurasa sekaranglah waktunya."

Senyum di wajah Kyuhyun menghilang, memudar, menguap begitu saja seiring dengan kalimat Sungmin. Bibirnya terbuka sedikit, kalimatnya kaku saat ia bertanya, "Apa … maksudmu?"

"Pernikahanmu harus berlangsung."

Kyuhyun menggeleng. Genggamannya pada tangan Sungmin menguat. "Tidak jika itu bukan denganmu."

"Ini bukan permainan, Kyuhyun." Sungmin turut menggeleng. "Aku sudah melakukan apa yang harus kulakukan dengan menemuimu. Kau juga harus melakukan hal yang sama dengan menikahi Seohyun."

"Tapi aku sudah melakukan hal paling tepat yang harus kulakukan; bersamamu!"

Sungmin terdiam. Ditatapnya dalam-dalam mata Kyuhyun. Ada kesungguhan di sana. Tapi ia sudah berjanji untuk tidak merebut kebahagiaan orang lain lagi seperti yang pernah ia lakukan. Ya. Sungmin pernah melakukannya. Dan sekarang, ia tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Ia sudah terlalu banyak belajar.

"Kalau kau berpikir untuk mengganti apa yang telah hilang bertahun-tahun ini, itu tidak perlu, Kyu. Aku sudah memaafkanmu saat kuputuskan untuk menemuimu di sini."

"Ini bukan tentang rasa bersalah." Suara Kyuhyun naik beberapa oktaf. "Ini tentang aku yang mencintaimu."

Sungmin mengangguk paham. "Aku tahu. Tapi kita bukan anak-anak lagi. Kau punya tanggung jawab, Kyu. Ambil tanggung jawabmu sekarang agar aku tidak perlu menanggungnya suatu saat nanti."

Kyuhyun termangu. Ia baru merasakan kebahagiaan yang bertalu-talu itu beberapa saat lalu. Tapi sejenak itu kah?

Tangan Sungmin perlahan tertarik, lepas dari genggaman Kyuhyun yang lemas. Pemuda itu bergerak pelan, mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya yang besar.

"Pergilah dan jadi dewasa. Saat kau kembali sebagai seorang suami dari seorang wanita, aku berjanji, salah satu impianmu akan menjadi nyata."

Kyuhyun tidak mengatakan apa-apa. Lidahnya kelu untuk sekedar bergerak. Sungmin berbicara seolah ia adalah ibu yang melepaskan anaknya untuk menikah. Tapi bukan kalimat itu yang membuat Kyuhyun ingin menangis. Melainkan sebuah maket rumah yang bentuk dua dimensinya selama ini disimpan Kyuhyun.

"Bawa ini, anggaplah kado pernikahan dariku. Saat kau kembali, kau boleh menagihnya."

Kyuhyun mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Rumah itu memang impiannya. Tapi bukan ditempati bersama orang lain. Ia ingin menempatinya bersama Sungmin. Hanya Sungmin.

"Kenapa kau melakukan ini?"

Sungmin tersenyum. Maket itu sudah berpindah dari tangannya. Ia sudah memutuskan untuk melepaskan Kyuhyun bahkan sebelum Ryeowook melepaskannya. Dan Sungmin tidak akan mengubah keputusan itu.

"Karena aku—"

Kali ini, bibir plum itu yang bergerak untuk menekan bibir tebal yang bergetar. Menciumnya untuk terakhir kali. Lebih singkat, lebih dewasa.

"—mencintaimu."

..::.

Yesung sudah duduk tegak di kursi dalam kafe itu saat Sungmin melangkahkan kakinya masuk. Ia menghela napasnya berat sebelum melanjutkan langkah pendek-pendeknya demi mendekat pada hyeong berkepala besar di sana. Lebih dari sejam lalu, ia meminta Yesung untuk datang. Ada hal yang harus dikatakan Sungmin. Hal penting yang harus ia selesaikan sebelum ia sendiri pergi.

Ya. Pergi. Setelah ini, segalanya akan usai, dan Sungmin akan memulai dari awal di tempat yang jauh. Jika Kyuhyun dan Seohyun ke Eropa serta Yesung dan Ryeowook di Asia, maka Sungmin akan pergi ke paling tenggara benua Australia; Oceania, tepatnya New Zealand.

Tempat damai seperti New Zealand akan membantunya menyembuhkan diri.

"Maaf, apa kau menunggu lama, Hyeong?"

Yesung mendongak selagi Sungmin menarik kursi untuk duduk. Yesung memandangnya bersalah. "Kita sama-sama menunggu terlalu lama, kan?"

Sungmin tersenyum tipis. "Bukan itu maksudku. Percayalah, pertanyaanku tadi tidak bermakna kiasan."

Yesung mengangguk. Pertanyaan Sungmin barusan memang bermakna ambigu sekarang ini. "Jadi …, hal penting apa yang ingin kau katakan?"

Sungmin lagi-lagi tersenyum. "Mianhae …," Suara halus itu terdengar begitu tulus. "Jeongmal mianhae."

Yesung mengerjap. Siapa yang bersalah dan siapa yang meminta maaf? Bukankah Sungmin menyadari betul jika Yesunglah menyebab segalanya? Ia sudah tentu tahu semua potongan-potongan cerita di masa lalu. Jadi …,

"Minta maaf untuk apa?" tanya Yesung serak.

Sejujurnya, Yesung merasa takut. Kejadian ini berlangsung terlalu cepat. Meski ia sudah tahu akan seperti ini. Yang diam-diam mengirimi alamat website firma arsitektur ini pada Kyuhyun adalah Siwon. Lelaki berlesung pipi itu sudah mengakuinya. Yang memberi jalan bagi Kyuhyun untuk menemukan Sungmin adalah Yesung sendiri. Ia bahkan sengaja memberi proyek itu pada Sungmin agar Kyuhyun mendapat kesempatan.

Jadi, Yesung sudah benar-benar tahu. Ia sudah memersiapkan diri. Hanya saja, ia tetap terkejut. Ternyata, memang secepat ini.

"Maaf karena balas dendam padamu. Aku tahu, aku salah. Maafkan aku."

Yesung mengernyit. "Apa yang kau bicarakan, Sungmin-ah?"

Sungmin tersenyum untuk kesekian kalinya. Ia menurunkan pandangan, menolak menatap mata Yesung yang polos. "Tentang Ryeowook, maafkan aku."

Kali ini Yesung terdiam. Bibirnya bergetar.

"Aku tahu, kau menyayangi Ryeowook lebih dari statusmu." Senyum itu berubah menjadi rasa bersalah yang amat dalam. "Aku juga tahu Ryeowook memiliki perasaan itu meski ia menolak untuk mengakuinya. Karena itu aku meminta Ryeowook jatuh cinta padaku."

Sungmin menjeda demi mengingat semua kejadian itu. Sementara Yesung termangu di tempatnya, antara percaya dan tidak.

"Anak yang mengamuk tanpa jelas seperti Ryeowook di masa lalu hanya anak-anak yang merasa tidak dicintai dan tidak bisa mencintai. Melihat matanya yang jelalatan meski di sana ada banyak orang, aku langsung tahu, bahwa ia mencari seseorang. Salah satu pelayan mengatakan bahwa hanya kau yang bisa menenangkannya. Saat itu, aku merasa sebagian takdir berpihak padaku."

Sungmin menghela napas. Menceritakan dosa masa lalu ternyata memang jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan sebelumnya.

"Kalau kau mencintai Ryeowook, berarti aku harus merebutnya darimu agar kau tahu bagaimana rasanya kehilangan. Kau menjauhkanku dari orang yang paling berarti dalam hidupku, jadi aku juga harus menjauhkanmu dari orang yang paling kau cintai. Semata-mata agar kau tahu, rasa sakitnya seperti akan membuatmu gila."

Yesung terperangah, tubuhnya seperti membeku. Hanya gerakan kelopak matanya yang terus mengerjap-ngerjap tak ingin percaya.

"Aku sangat jahat kan, Hyeong?" tanya Sungmin pelan. Tapi Yesung tidak menjawab.

Mereka semua datang sebagai sosok malaikat, namun ternyata menyimpan iblis dalam dirinya. Sungmin hanya menusia biasa yang bisa melakukan apa saja saat ia merasa terpojok sendirian.

"Aku tidak tahu bagaimana kau dan Ryeowook menanggapinya. Tapi, aku sudah berusaha menebus kesalahanku dengan melepaskan Kyuhyun."

Yesung membelalak. "Lee Sungmin …,"

"Hanya ini yang bisa kulakukan." Sungmin menyela. "Jadi, kumohon padamu, Hyeong, kali ini … biarkan aku melarikan diri."

..::.

EPILOG

Five years later …

Seohyun menatap benda berkilauan yang melingkar di jarinya. Selama beberapa tahun ini, menatap kilauan cahaya matahari yang menimpa benda itu menjadi favoritnya. Cincin pernikahan, sebuah tanda pengikatan yang sah.

"Yaa, Hyunsoo-ya, apa kau menunggu Appa pulang, eoh?"

Seohyun menoleh pada suara bass yang khas itu. Ia lantas tersenyum saat matanya menemukan lelaki berambut semi ikal tengah menggendong Hyunsoo, putrinya yang berusia tiga tahun.

"Tumben kau pulang sangat cepat, Oppa." sindirnya. "Apa kau tidak 'bertemu' dengan Mozart di Stavovske Divadlo?"

Kyuhyun tertawa renyah menanggapi candaan itu. Ia memang pulang cepat hari ini. Biasanya, ia akan mendekam di Stavovske Divadlo dan pulang malam saat jadwal pertunjukannya bersama kelompok orkestra sedang kosong.

"Hanya ingin istirahat lebih lama." Jawabnya santai. "Akan ada pertunjukan keliling hingga ke luar Eropa, aku harus lebih banyak mementingkan diriku saat-saat seperti sekarang ini."

Seohyun mengangguk mengerti. Kyuhyun jauh lebih dewasa sejak kepindahan lima tahun lalu. Tentu saja. Sungmin memintanya untuk menjadi dewasa. Jadi, ia melakukannya dengan patuh.

"Apa kau akan terus mencari Sungmin oppa?"

Pertanyaan sensitif dari Seohyun membuat Kyuhyun berhenti bermain dengan Hyunsoo. Ditatapnya balita yang tengah bermain lego itu. Pikirannya melayang jauh pada sosok di masa lalunya. Sekembalinya Kyuhyun dari Praha, Sungmin sudah tidak berada di Korea. Entah benar-benar tidak ada atau ia sengaja membuat keberadaannya tidak diketahui Kyuhyun.

Tidak satupun ada yang tahu, bahkan Yesung dan Ryeowook. Kim bersaudara yang akhirnya menjadi pasangan sah itu pun dalam pencariannya akan keberadaan Sungmin.

Lee Sungmin seperti tertelan segitiga bermuda. Dan seolah Tuhan menghukum mereka semua, tak ada satu pun jalan untuk menemukan Sungmin. Setidaknya hingga tahun kelima sejak ia menghilang.

"Kau menghabiskan nyaris setengah hidupmu untuk mencarinya." Seohyun tersenyum tipis. "Kau pasti sangat mencintainya. Iya, kan, Oppa?"

Kyuhyun hanya tersenyum sebagai respon, sama sekali tampak enggan untuk menjawab. Tapi, Seohyun tahu ia benar.

"Hyunsoo-ya, saat kau sudah dewasa dan jatuh cinta, jangan pernah memutuskan perkara sendirian. Menjalin hubungan berarti bersedia untuk berbagi keputusan. Kau mengerti, kan? Jangan lakukan apa yang Appa lakukan. Arrachi?"

Seohyun mendengus geli menatap Kyuhyun yang berbicara pada Hyunsoo. Putri kecilnya itu memang sudah pandai berbicara dan membalas omongan. Tapi, nasihat Kyuhyun jelas tidak pantas diucapkan pada balita seperti Hyunsoo.

"Ia tidak akan sepertimu, Oppa! Dia juga tidak akan sepertiku." Seohyun mendekat pada Hyunsoo, lantas mencium putri kecilnya itu penuh sayang. "Dia akan dicintai dan mencintai dengan baik."

Kyuhyun mengangguk. "Kau benar. Hyunsoo tidak akan seperti kita."

"Daripada itu, kali ini kau akan ke mana, Oppa? Bukankah kau akan pergi lagi?"

Kyuhyun menegakkan tubuhnya. "Ah iya, aku harus segera pergi." Ia buru-buru berdiri, bersiap ke kamar apartemennya. "Aku ada undangan untuk solo piano di salah satu negara di Oceania. Di Selandia Baru."

..::.

Sungmin menengadah ke langit. Biru menghampar bersih. Sama sekali tak ada gumpalan awan yang menggantung. Benar-benar hari yang tepat untuk melaksanakan hari pernikahan. Ia mendengus. Pekerjaannya untuk sebuah proyek perumahan belum usai dan salah satu temannya di perusahaan justru menerornya semalaman agar datang ke resepsi pernikahan ini.

"Vincent!"

Sungmin menoleh saat nama Inggrisnya terpanggil—nama yang ia gunakan lima tahun belakangan ini.

"Aku tahu kau akan datang!" Spencer—si pengantin pria—menepuk bahu Sungmin dengan akrab. "Kau harus rehat dari tumpukan pekerjaan itu, Teman!"

Sungmin tersenyum kecut. "Dan mendapati surat teguran di mejamu esoknya?"

Spencer tertawa renyah. Lelaki berwajah manis ini selalu saja serius.

"Kurasa, kali ini Spencer benar, Vincent! Sesekali, kau harus rehat dan menemukan pasangan hidup!" Kali ini, si pengantin satunya muncul. Aiden Scanfish melingkarkan lengannya ke pinggang Spencer, lantas mendaratkan satu ciuman ringan di pipi tirus kekasihnya. Aksi yang membuat Sungmin lantas mendengus ingin muntah.

"Aku tidak tahu apa kalian pernah mendengarnya atau tidak. Tapi, jodoh akan datang dengan sendirinya. Percaya padaku!"

Spencer tertawa mengejek sekarang. "Datang saat kau sudah ubanan? Ayolah, Teman! Kau sudah terlalu dewasa untuk sebuah pernikahan. "

Sungmin tersenyum kecut. Spencer mungkin tidak bermaksud buruk, tapi itu cukup menghantam hati Sungmin. "Baik, akan kupikirkan."

Sungmin tidak berbohong. Ia benar-benar akan memikirkannya. Ia sudah terlalu lama berlari. Sekarang saatnya berhenti dan menemukan seseorang di mana ia bisa tinggal. Tinggal di hatinya dan menumpukan segala kebahagiaan pada orang itu. Sungmin akan mencarinya. Ia janji.

"Bagaimana jika kukenalkan dengan seseorang?" Spencer mendadak bertanya heboh. "Ia juga hadir di sini. Sebentar lagi mungkin tiba."

"Siapa maksudmu?"

"Tentu saja Marcus, Sayang!" Spencer menjawab penuh percaya diri pertanyaan yang terlontar dari Aiden. "Laki-laki baik dan tampan yang kita temui di Inggris. Vincent akan menyukainya."

"Hah?" Sungmin melongo. Hey, ini pernikahan mereka, mengapa berbelok arah menjadi acara menjodohkan Sungmin?

"Oh, itu dia!" Spencer seperti sibuk sendiri. Sekarang, ia malah meninggalkan Aiden dan Sungmin yang melongo parah.

Sungmin tidak bisa melihat sosok 'laki-laki baik dan tampan' versi Spencer bernama Marcus itu di antara banyaknya tamu di halaman belakang kediaman Aiden—tempat acara itu berlangsung. Jadi, ia hanya menurut saat Aiden memintanya untuk ikut.

"Aku mendukung Spencer, kau akan sangat menyukainya." goda Aiden saat mereka hampir mendekat pada Spencer dan sosok Marcus yang sedaritadi dibicarakan duo pengantin itu.

Sungmin mengangguk patuh, tak ingin bicara banyak. Saat ia berdiri di belakang sosok yang dihebohkan oleh Spencer, mendadak Sungmin tercengang. Punggung itu sama sekali tampak tak asing baginya. Rambut semi ikal itu mengingatkannya pada …,

"Senang melihatmu ada di sini, Marcus Cho!" seru Aiden bersahabat.

Dan mata Sungmin mendadak melebar terkejut saat sosok itu berbalik. Sungmin bisa melihatnya dengan jelas. Marcus Cho …,

"Cho … Kyuhyun?"

..::.

Kyuhyun merasa ia tidak bisa lebih bahagia lagi dari ini. Dua kali ia kehilangan Sungmin, dan dua kali itu pula ia kembali menemukannya. Meski butuh waktu yang lama, tapi Kyuhyun tidak peduli. Yang terpenting, ia bisa menemukan Sungmin.

"Kurasa, aku boleh sombong dan mengatakan bahwa Tuhan benar-benar menyayangiku. Tuhan selalu punya cara untuk menuntunku agar menemukanmu." Kyuhyun berujar lega saat otaknya dengan cepat menganalisa semua kebetulan-kebetulan yang memertemukannya dengan Sungmin lagi. "Kalau saat ini aku mengatakan bahwa kita benar-benar berjodoh, dengan cara apalagi kau akan mengingkarinya, Ming?"

Sungmin tersenyum kecil. Matanya mengawasi orang-orang di bawah sana dari balkon lantai dua rumah Aiden. Acara pernikahan yang dirayakan dengan garden party itu masih berlangsung di bawah. Tetapi Aiden dan Spencer memberinya waktu berdua dengan Kyuhyun.

"Dengan cara melarikan diri lagi, mungkin?"

Kyuhyun menoleh tidak senang. Sungmin tampak tenang meski kalimatnya barusan benar-benar membuat Kyuhyun ingin melompat dari balkon itu sekarang.

"Butuh waktu bertahun-tahun untuk menemukanmu. Bukan sekali. Tapi dua kali. Kau tahu? Itu melelahkan!" Kyuhyun menghela napas dengan kasar. "Jangan pergi lagi. Jangan menghilang lagi. Dan jangan membuatku mencarimu lagi. Tinggallah bersamaku dan bahagia."

Sungmin mengulum senyum. Ia juga ingin tinggal dan bahagia. Lari itu melelahkan.

"Bagaimana kabar Seohyun, Kyu?"

Kyuhyun mengernyit. "Kau benar-benar ingin tahu?"

"Kurasa."

Lelaki berambut semi ikal menghela napas. "Seohyun memiliki Hyunsoo sekarang."

Sungmin tersenyum tulus. "Seorang putri kecil? Dia pasti sangat cantik. Dia mirip siapa? Ibunya atau ayahnya?"

"Kurasa ibunya." jawab Kyuhyun.

Sungmin tertawa renyah. "Berarti dia benar-benar cantik. Kalau mirip ayahnya, ia tidak akan secantik itu."

Kyuhyun ikut tergelak sekarang. "Kau benar."

"Kapan-kapan, aku akan mengunjunginya."

"Dia akan senang melihatmu."

Ada hening yang sangat panjang setelah kalimat terakhir Kyuhyun. Keduanya terdiam meski ada banyak sekali hal yang ingin dikatakan. Sementara di bawah sana, Aiden dan Spencer mulai menari bersama. Tamu-tamu dekat yang datang tergelak di sekitaran mereka. Sekilas, keduanya tampak seperti pasangan komedian.

"Apa kau sudah menikah, Min?"

Pertanyaan mutlak. Tersensitif sekaligus terpenting. Lama Sungmin tidak menjawab. Ia justru sibuk menonton pertunjukan Aiden dan Spencer di bawah sana. Sementara Kyuhyun mengamati sisi wajahnya, harap-harap cemas kalau jawaban yang akan diberikan Sungmin justru bukan yang diharapkannya.

"Setelah apa yang kulakukan pada Yesung hyeong dan Ryeowookie, kurasa lima tahun belum cukup untuk menghukum diriku."

Implisit, namun Kyuhyun sudah paham. "Mereka sudah memaafkanmu sejak lama."

"Aku yang belum memaafkan diriku sendiri."

"Kalau begitu, kenapa kau tidak mencoba?"

Sungmin terdiam sejenak. "Kau sendiri bagaimana?" tanyanya kemudian.

"Sudah kulakukan." Kyuhyun tersenyum tulus. "Melepaskan Seohyun dan membiarkan Siwon hyeong datang dan menyelamatkannya. Siwon hyeong selalu mencintai Seohyun, tapi aku merebutnya. Seohyun selalu mencintai sendirian tanpa tahu bagaimana rasanya berbalas. Karena itu, aku membiarkan keduanya."

"Kau hanya memerbaikinya, Cho! Bukan menghukum dirimu." Sungmin tertawa kecil.

Dan Kyuhyun membalasnya. "Apa mencari satu orang yang sama selama bertahun-tahun, belum bisa dikatakan hukuman?" sindirnya. "Hanya bisa terus-terusan mencintai satu orang tanpa bisa jatuh cinta pada orang lain. Kau pikir, itu bukan sebuah hukuman?"

Sungmin mengulum senyum, entah untuk apa.

"Kau tahu kalimat apa yang paling kuingat dari semua yang kau katakan, Min?" Kyuhyun mendongak menatap langit, mengalihkan pandangannya dari Aiden dan Spencer yang mulai istirahat dari sesi menari mereka.

"Apa?" suara Sungmin sangat halus saat menanyakannya.

Kyuhyun tersenyum. Ia suka suara lembut itu membelai pendengarannya. "'Orang yang telah ditakdirkan denganmu, pasti akan kau temui di masa depan.' Kau pernah mengatakannya. Dan aku selalu meminta pada Tuhan untuk mewujudkannya demi masa depan kita. Sekarang itu nyata."

Sungmin mengulas senyum tipis yang manis. Ia tidak ingat, ia pernah mengatakan hal seperti itu. Tapi sepertinya ia paham maksud Kyuhyun dengan mengungkitnya. Kedua pipi Sungmin mendadak dijalari rona merah yang cantik. "Tuhan mengabulkannya."

"Ya." Kyuhyun mengangguk setuju. "Tuhan selalu punya banyak cara untuk menggagalkan rencana termatang sekalipun untuk takdir seseorang. Bahkan sebuah pernikahan yang hampir terjadi."

"Apa kau tidak menyesal meninggalkan Seohyunie, Kyu?" tanya Sungmin pelan. Ia menatap Kyuhyun lekat-lekat, berharap Kyuhyun menjawab dengan mantap dan jujur. Apapun jawabannya.

"Tidak." Dan Tuhan mengabulkan permintaan kecil Sungmin untuk melihat kejujuran pada wajah Kyuhyun saat menjawab. "Aku yakin, aku akan lebih menyesal jika aku terus memaksakan diri untuk bersamanya. Kami tidak ditakdirkan, karena itu Tuhan tidak pernah membalik hatiku untuk melupakanmu dan jatuh cinta padanya."

Senyum itu terulas lagi di bibir Sungmin. Matanya yang bulat menatap lekat-lekat Kyuhyun, menyimpan tiap detail lekuk wajah Kyuhyun di memorinya seolah ia tidak akan bertemu lagi dengan laki-laki itu.

"Tuhan memberimu banyak sekali kesempatan."

"Tuhan selalu memberi kesempatan pada siapapun yang percaya." Kyuhyun menoleh kali ini. Pancaran matanya menunjukkan cinta yang begitu besar, syukur yang teramat dalam. "Bohong saat orang mengatakan 'kesempatan tidak datang dua kali' atau 'jika tidak mengambil kesempatan kedua, kau tidak akan mendapatkan kesempatan ketiga'. Nyatanya, kesempatan-kesempatan itu ada banyak."

"Aku anggap, kesempatan Seohyun-ah untuk tidak memilikimu sebagai kesempatanku untuk memilikimu lagi."

"Juga kesempatan untukku, Min." Satu tangan Kyuhyun terangkat, membelai sebelah pipi Sungmin yang merona. Apa kalimat itu mengartikan bahwa Sungmin menerimanya sekarang? Benar-benar menerima kembali.

"Aku tahu kesempatan itu banyak, tapi jangan membuatku menunggu lama lagi untuk menemukan kesempatan yang lain, Min. Mulai saat ini, kumohon jadilah cinta yang akan terus ada di sisiku. Jadilah seseorang yang menyempurnakan rumahku, tinggal di dalamnya, dan teruslah jadi alasan mengapa aku harus tersenyum."

Sungmin tersenyum—hampir tergelak sebenarnya. Kyuhyun berbicara seolah Sungmin tidak akan memberinya waktu untuk mengungkapkan perasaannya.

"Cho Kyuhyun ..," panggil Sungmin pelan.

"Ne?"

Sungmin bergerak, mengecup bibir Kyuhyun sekilas. Membuat laki-laki itu tersentak kaget, namun tersenyum setelahnya.

"Seterusnya, untuk alasan apapun, jangan pernah melepaskanku lagi." Sungmin mengulum senyum. Tangannya terangkat, balas membelai pipi Kyuhyun. "Kalau kau melakukannya, aku bisa menjamin, tidak ada masa depan antara kau dan aku."

"Tidak akan, Min."Kyuhyun bergerak untuk memeluk orang yang paling ia rindukan itu. "Tidak akan lagi."

~o0o~

.::Cruel Fairy Tale::.

"..:hanya cintamu yang mampu:.."

FIN

~o0o~

Labu's Note:

Akhirnyaaaaaahhhh! :D

Saya kepengen cerewet di sini, tapi entar disangka pengen ngelanggar HAM kalian, jadi saya menghapus banyak curhatan saya. :D Tapi, ini yang terakhir, lho~ *dilema*abaikan*

Warning: silakan di-skip curhatan di bawah.

Orang bilang, untuk membuat reader terharu, author harus menangis saat menuliskan kisahnya. Dan itu yang saya lakukan saat memulai menulis tiap part kisah ini. Mulai dari mengumpulkan lagu-lagu ballad—favorite saya adalah In My Dream (SJ KRY), Prelude op. 10 no. 3 (Chopin), Bernapas Tanpamu (Lyla), dan banyak lagi—sampai memaksa hati untuk merasakan rasa sakit. Dan sungguh, itu bukan hal mudah saat kenyataannya saya lagi jatuh cinta. :D

Karena itu, saya merasa perlu berterima kasih—dan maaf—kepada mereka yang meneteskan airmata saat membaca kisah ini. Celotehan-celotehan kalian di kotak review seperti satu penghargaan yang sangat berarti buat saya.

Ada satu review yang membuat saya sampai ngakak guling-guling kayak orang gila di kamar.

"Authornya pasti sering patah hati."

WKWKWKWKWK … percaya gak kalau saya nulis beberapa part fic ini saat saya lagi kasmaran? XDD

Tapi, gimanapun BTS(?) dari Cruel Fairy Tale, saya tetap ingin berterima kasih pada kalian semua. Reviewers dan juga flamers. Kalian orang-orang baik yang merelakan waktu demi membuat saya merasa tidak sendiri. Saya juga merasa perlu berterima kasih pada siders yang bersedia menyimpan cerita ini di satu momen hidup kalian.

Dan untuk ending-nya YeWook, saya gak dapat cela untuk menceritakan mereka. T_T Mungkin, dibikin side story-nya aja, ya? Kalau ada yang mau, sih. Tapi saya gak janji kapan. Dan mungkin gak di-upload di sini, mengingat akun ffn ini didedikasikan untuk KyuMin. Mungkin di blog.

At least, terima kasih dan sampai ketemu di kisah lain.

Salam Peri dari Labu—Author Abal.