Warning : Gaje, abal, humor krenyes, gak lucu, OOC.

Pairing : GOM x Reader

Rate : T

Genre : Humor and Romance

CEKIDOOOOT!


Kiseki Sentai

Kuroko no Basuke Milik Fujimaki Tadatoshi-san

Kiseki Sentai adalah khayalan bejad sang author


Chapter 3 : Ayo, coba gaya!


.

.

Sebulan kemudian setelah pertemuan kalian.

.

.

.

Aura gelap terasa di sudut ruangan. Mereka sudah tidak sanggup lagi. Mereka ingin pulang.

"Aku mau pulang saja!", Aomine Daiki sedang bicara sekarang sembari merapikan barang-barangnya.

"TIDAK BOLEEEEH!", kau berteriak di telinganya lagi-lagi menggunakan mic yang entah dari mana kau dapatkan. Apa kau sangat terobsesi jadi idol sampai-sampai kau membawa mic kemana-mana?

"[name]-san, jangan gunakan mic-mu lagi, telingaku sakit," keluh kesah seorang yang punya keberadaan minim ternyata cukup berarti. Tak lupa, dia berkata sambil menutup telinganya yang pengang.

"Ah, gomen, Tetchan. Kau tidak apa-apa kan?" sepertinya kau sangat perhatian dengannya. Ehem.

Hari ini pertama kalinya kalian berlatih gaya ala sentai. Kau menyuruh mereka untuk meniru gaya sentai yang mereka tau sebagai referensi. Tapi sepertinya tidak berjalan lancar.

"Kenapa kau tidak membuat dialognya saja langsung nanodayo, kita kan tidak perlu repot begini."

"Tapi Shin-chan, aku tidak punya ide untuk buat skenario."

GUBRAK!

"Ano, [name]-cchi, jadi sejak tadi kau menyuruh kami bergaya karena kau tidak punya ide? Bagaimana caranya kau mau membuat acara tv bagus kalau ide saja tidak punya."

"AH? EH? EMM…MASA BODOH!" kau ngambek.

"[name]-chin~ badanku gatal-gatal, apa baju ini sudah dicuci?", kata Murasakibara sambil menggaruk-garuk bokongnya. Sebenarnya bukan salah bajunya, tapi mungkin si besar ungu itu lupa mandi tadi pagi.

"Dan kenapa kita harus pakai kostum seperti ini sih? Seperti orang bodoh, aha ha ha ha," Aomine bicara disertai tawa yang menyakitkan. Semalukan itukah dia memakai baju seperti itu?

Mari kita lihat pakaian seperti apa yang mereka kenakan.

Mereka memakai kostum super ketat ala sentai dan tentunya sesuai warna rambut mereka masing-masing. Tak lupa dihiasi dengan garis-garis berwarna putih seperti pola bola basket. Di punggung mereka berkibar bendera merah putih yang siap dihormati—ehem, maaf. Maksudnya di punggung mereka ada jubah panjang berbentuk seperti sayap yang cukup panjang menutupi pundak. Tidak seperti sentai biasanya, mereka tidak pakai penutup kepala seperti helm, tapi hanya memakai penutup mata berbulu, alasannya sih kau ingin menunjukkan rambut mereka dan menunjukkan pada pemirsa bahwa itu rambut asli bukan dicelupkan ke pewarna cap kodok yang dijual dipasaran.

"Jangan bicara begitu, kalian keren kok!" serumu dengan gaya ala guru guy sambil mengancungkan jempol dan menunjukkan senyum pepsoden 5 jari.

DUAK!

"APANYA YANG KEREN‼", teriak mereka bersamaan sembari memukul kepalamu.

"Aduh! Sakit!"

Setelah merasakan pukulan super sakit itu, kalian terus saja berdebat tentang pakaian mengerikan yang sedang mereka pakai. Sebenarnya, kostum itu belum dalam tahap yang sempurna, namun karena kau ingin sekali cepat-cepat latihan gaya sentai maka dipaksakanlah menggunakan kostum ala kadarnya.

"Hentikan berdebat," sang ketua geng akhirnya bicara—siapa lagi kalau bukan ranger merah kita, Akashi. Mahluk merah itu sejak tadi berusaha untuk membenarkan jubahnya—karena kebesaran—tubuhnya yang mungil jadi terpendam di dalam jubah itu tetapi dengan begitu tubuhnya yang menggunakan pakai ketat jadi tidak begitu terlihat—fuuh, syukurlah.

"Oi, Akashi. Kau tidak malu pakai kostum konyol seperti ini?" Aomine bertanya pada Akashi dengan nada kesal—yang ditanya hanya mengangkat alis.

"Memang kau pikir apa yang aku rasakan sekarang, Daiki?" Wajah dan tatapan Akashi mendingin secara tiba-tiba sukses membuat Aomine merinding. Aomine hanya bisa menelan ludah dan tidak bertanya lagi.

Akashi pun melanjutkan, "—sudahlah, cepat selesaikan ini. Kalau tidak, sepertinya gunting kesayanganku sudah tidak sabar ingin minum darah segar," Akashi mengelus-elus gunting merah kesayangannya sembari senyum mengerikan.

"Hiiiiii….ranger merah paling berbahaya yang pernah ada," kata kau dan kisedai (minus Akashi tentunya) bersamaan.

Kau berjalan ke hadapan mereka dan berkacak pinggang, "Sip, lakukan dari awal secepatnya sebelum kita—" Kau melirik sejenak ke Akashi yang masih menyeringai, sukses membuatmu menelan ludah, "—ya, sebelum kemusnahan generasi sentai terjadi."

"HAH?"

"Sudah tidak usah protes, lanjutkan! Dari awal!"

Mereka pun bersiap-siap pada posisi masing-masing. Mereka berdiri sesuai dengan warna mereka. Murasakibara dipinggir sebelah kanan, sebelah Murasakibara ada Midorima, di paling kiri ada Aomine lalu Kise dan Kuroko sedangkan Akashi sebagai pemimpin para sentai berada di antara Kise dan Midorima. Jika diurutkan, Murasakibara-Midorima-Akashi-Kise-Kuroko-Aomine.

"Oke? Action!"

Aomine mulai bergaya memperlihatkan otot-ototnya seperti para petinju, "Uhhh..uhhhh. yeaaaah…Kiseki Blue—Aomine Daiki!"

Satu siku kesal muncul.

"Kiseki Black—Kuroko Tetsuya—" Kuroko membungkukkan badan,"—desu."

Dua siku kesal muncul.

Lanjut Kise bergaya model sedang berjalan di catwalk sambil lambai-lambai tangan, "Kiseki Yellow—Kise Ryouta-ssu yooooooo~ teheee.." Tangan kanannya memukul kepalanya sendiri sembari menjulurkan lidah.

Tiga siku kesal muncul.

"Kiseki—nyam nyam—Purple—Kraus Kraus—Murasakibara—Chomp Chomp—Atsushi—Glup, aaaah…EEERRRGHH~" ucap Murasakibara sembari makan Maiubo dan minum jus rasa anggur lalu bersendawa.

Empat siku kesal muncul.

"Ki—seki," Wajah Midorima mulai memerah,"—Green, Midorima Shintarou," Midorima berusaha sok cool dengan menaikkan kacamatanya, "—nanodayo."

Lima siku kesal muncul.

Akashi mengibaskan jubah dan bergaya setengah berjongkok seperti preman ketinggalan jaman—seandainya saja dia menggunakan rambut regent style mungkin akan benar-benar terlihat seperti preman ketinggalan jaman—tolong jangan dibayangkan ya! AHAHAHAHA.

"Kiseki Red—" Akashi mengacungkan gunting merah kesayangannya, "—Akashi Seijuuro."

Enam siku kesal muncul.

"Kami berenam Basket Sentai—Kiseki Sentai! Basuke Kitaaaaaa!"

DUAAAAR! –ada efek suara ledakan disertai asap warna warni dibelakang mereka.

Tujuh siku kesal muncul. Kau diam.

"Kami berenam Basket Sentai—Kiseki Sentai! Basuke Kitaaaaaa!"

DUAAAAR!

Mereka diam menunggu reaksimu lalu,

"Kami berenam Basket Sentai—Kiseki Sentai! Basuke Kitaaaaaa!"

DUAAAAR!

Diulang lagi. Kau masih diam. Wajahmu menghitam. Delapan siku kesal muncul.

"Kami berenam Basket Sentai—Kiseki Sentai! Basuke Kitaaaaaa!"

DUAAAAR!

Bertumpuk-tumpuk siku kesal sudah menutupi seluruh wajahmu sampai-sampai mereka sudah tidak bisa mengenali wajahmu lagi.

"Kami—"

DUAAAAR!

"Kami—"

DUAAAAR!

"Kami—"

"STOOOOOOOOOOOOOP!" Kau berteriak lagi menggunakan mic, membuat mereka menutup telinga rapat-rapat, "AKU TAU! TIDAK USAH DIULANG-ULANG! LAGIPULA DARIMANA ASALNYA LEDAKAN ITU, HUH?!"

"Dari sana," Kuroko menunjuk ke pojok ruangan bagian belakang. Ternyata ada radio. Radio itu memutar suara ledakan sejak tadi.

DUAAAAR!

DUAAAAR!

DUAAAAR!

Radionya pun tak ada hentinya memutar adegan suara ledakan. Kau facepalm.

DUAAAAR!

Akhirnya, kau tak memperdulikan radio tersebut. Bisa terlihat garis-garis hitam seperti yang ada di komik-komik pada radio tersebut karena tak diacuhkan oleh kalian.

"KALIAN! APA-APAAN GAYA KALIAN TADI!"

DUAAAAR!

"Itu gaya yang kami dapatkan saat berdiskusi tadi-ssu," seru Kise masih dengan pose ala modelnya.

DUAAAAR!

"Masih bagus kami punya ide, daripada kau, kerjanya menyuruh-nyuruh saja," cerocos Aomine sembari mengupil. Bayangkan, pahlawan seperti apa yang suka mengupil?

DUAAAAR!

"Ya kalau begitu gayanya yang keren dong! Masa begitu! Kalian seperti grup lawak!"

DUAAAAR!

"Tapi itu ide dari Akashi-kun," ceplos Kuroko tanpa sadar sudah mempermalukan seseorang. Orang yang disebut namanya cuma bisa sok gaya sambil ancung-ancung gunting.

DUAAAAR!

"Dari Akashi-kun?" Kau memandangi orang yang bersangkutan dan dibalas tatapan mengerikan. Kau hanya bisa tertawa garing, "Ha ha ha—" habisnya, mana mungkin kau melawan raja setan itu. Jadi tidak bisa protes.

DUAAAAR!

"Aku hanya ikutan saja nanodayo. Padahal ini memalukan!" lanjut Midorima yang masih merah-merah malu-malu. Kau cuma bisa sweatdrop melihat tingkahnya ditambah lagi sejak tadi—

DUAAAAR!

DUAAAAR!

DUAAAAR!

"SIAPAPUN! KUMOHON—"

DUAAAAR!

DUAAAAR!

DUAAAAR!

"—TOLONG MATIKAN RADIO SIALAN ITU! BERISIK! KALAU PERLU BUNUH SEKALIAN!"

DUAAAAR!

DUAAAAR!

DUAAAAR!

Entah kenapa volume suara radio itu malah semakin keras. Sepertinya radio itu marah karena dicueki.

DUAAAAR!

Pada akhirnya, Murasakibara—yang sejak tadi hanya makan—menghampiri sang radio dan mematikannya. PIP.

"Kasihan sekali kamu, Radio-chin. Kamu pasti kesepian karena kita cueki ya? Hiks.." Murasakibara mulai ngaco bin selamet. "—semoga hidupmu bahagia di alam sana."

"JANGAN BICARA DENGAN BARANG ELEKTRONIK!"

Capek. Tidak hanya capek teriak-teriak tapi juga capek meladeni mahluk-mahluk abstrak ini. Sejenak kau berfikir, apa mungkin ini bukanlah yang seharusnya terjadi? atau memang bukan mereka lah orangnya? Tapi—kau memandangi mereka—mereka warna-warni dan juga tampan jadi cocok! Batinmu dalam hati. Sepertinya ada yang salah dengan konsep persentaian dalam otakmu.

Kau berusaha menenangkan diri dengan memijat-mijat kening sesaat.

"Baiklah, mari kita bahas gaya kalian tadi. Aku tidak bisa protes karena—" Kau melirik Akashi diam-diam. "—kurasa itu bagus juga." Ya, itu yang kau katakan pada mereka padahal dalam hati kau berkata 'Karena masih sayang nyawa.'

"—Hanya saja, mungkin harus ada yang diperbaiki, begitu.." lanjutmu berusaha untuk tidak menyinggung seseorang kalau tidak, akan ada paket scissor special attack darinya. "—supaya sesuai dengan image sentai. Ehem."

Mereka memperhatikanmu dengan seksama. Tumben sekali. Atau mereka juga takut dengan sang pengusung ide? Entahlah.

"Pertama, Daiki—" kau memandang Aomine dengan tatapan malas, ya sebenarnya kau malas berdebat dengannya karena akan berakhir pertengkaran sambil teriak-teriak. "—kenapa kau pamer otot begitu? Kurasa Akashi-kun tidak akan mengusulkan seperti itu."

Akashi angguk-angguk.

"Kata Akashi, kita harus menunjukkan kelebihan kita. Habisnya bagian yang keren dariku adalah otot dan kulitku 'kan?" katanya dengan bangga. Sisi hidungmu naik turun mendengar pernyataan sok bangga darinya.

"KATA SIAPA, HUH?"

"KATAKU LAH! Yang bisa mengatakan aku keren hanya diriku saja, eh? LOH?" Aomine berusaha mempraktekan kata keren pada catch phrase-nya (note : Yang bisa mengalahkanku hanya diriku saja) namun hasilnya sesuai dugaan—SUNGGUH SESUAI KENYATAAN.

"Ya, itu benar," kau mengangguk dengan wajah penuh kepuasan.

"HAHAHAHAHAHA," sedangkan Kise tertawa terguling-guling. Yang lain berusaha menahan tawa bahkan ada yang menahan kentut. Akhirnya, Kise pun mendapatkan pijatan cuma-cuma lagi dari Aomine.

"Lalu, Tetchan—" katamu lirih. "—tidak ada sentai di dunia ini yang memperkenalkan diri dengan sopan begitu!"

"Maafkan aku, [name]-san. Aku tidak mengerti jadi aku pakai cara yang biasa kupakai untuk memperkenalkan diri," balas Kuroko dengan tampang polos bak keset belum diinjak.

"Lagipula [name]-chin, memangnya di dunia ini benar-benar ada sentai apa?"

"Aku tau! Biar saja! Itu kan salah satu khayalan anak remaja perempuan masa kini! Jangan menghancurkannya seenakmu."

"HAH?"

"Sejak kapan impian anak perempuan jadi begitu? Kukira impian anak perempuan adalah bertemu lelaki tampan seperti di otome games nanodayo," kata Midorima, sepertinya dia sudah expert dalam bidang ini, "—bu-bukannya aku memperhatikan ataupun mengintip mereka main game ya!" Padahal dia sering lihat adiknya di rumah main otome games sambil teriak-teriak.

"Kurasa otakmu memang kurang waras, [name]!" Aomine ceplas ceplos sambil korek telinga.

Setelah ini, adegan disensor karena kau dan Aomine baku hantam menyebabkan timbulnya penyakit asam urat dan dakian.

"Baiklah, habis itu, Ryou-tan. Aku tau kalau kau model tapi masa iya sentai gaya ala model begitu? Dan apa maksudnya 'tehe' diakhirnya itu?!"

"Beberapa hari yang lalu aku nonton anime moe moe dan ada adegan itu jadi berusaha aku praktekkan-ssu. Imut 'kan? tehe!" Di akhir katanya, Kise lagi-lagi menjulurkan lidah sok manis.

Kau menangkap kedua pundak Kise dan mengguncang tubuhnya keras-keras, "Ryou-tan! Kau itu laki-laki kenapa malah nonton anime moemoe dan menirunya segala! Lagipula, sentai itu pahlawan keren! Tunjukkan kejantananmu bukan keperawananmu!" Eh? entah kenapa ada yang ambigu dengan kata-katamu.

Kau masih menguncang-guncang tubuh Kise sampai Kise merasa pusing 2000% keliling, " Hen—tikan, otak—ku berputar-putar-ssu!"

"AAAAARRRGGHHH!" Kau melepas Kise dan berteriak frustasi, sedangkan Kise jatuh perlahan sembari berputar seperti tisu toilet yang disiram di wc.

Kau mengalihkan pandangan ganas pada Midorima.

"Shin-chan! Kau juga jangan malu-malu begitu. Tidak ada super hero tsundere!"

"Aku bukan tsundere nanodayo!" protes Midorima sembari menutupi tubuhnya dengan jubah, sepertinya dia terlalu tsundere buat pakai kostum seperti itu.

"Kenapa kau tidak gaya seperti pahlawan bertopeng saja?" katamu polos. "—'Aku pahlawan bertopeng tsundereeee!' Dan tertawa terbahak 'AHAHAHAHAHA' sambil mengangkat kedua tanganmu seperti ini." Kau mempraktekkan gaya pahlawan bertopeng yang ada disalah satu anime.

"Sudah kubilang, aku bukan tsundere nanodayo! Kenapa harus pahlawan bertopeng?" Midorima bertanya-tanya, "—lagipula, pahlawan bertopeng bukan sentai."

"Loh? Bukannya Shin-chan suka nonton pahlawan bertopeng dan mengaguminya?" lagi-lagi dengan tampang inosen kau berkata. Ya, Shin-chan yang ada di anime Crayon Shin-chan suka nonton pahlawan bertopeng.

"SIAPA, HUH? JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN SHIN-CHAN YANG ITU!"

Midorima berusaha melemparimu dengan berbagai macam barang yang ada didekatnya. Semua yang ada disana hanya diam saja melihat Midorima mengejar-ngejarmu. Serial drama siang bolong dengan judul 'Kejar Daku dan Kau Kulempar Ke Ring' yang diperankan olehmu dan Midorima akhirnya berakhir dengan tepar dilantai karena kelelahan main kucing-kucingan.

Setelah berhasil meraih ritme nafasmu lagi, kau melanjutkan pembahasan, sekarang giliran Murasakibara.

"—Murapyon! Dari semuanya, kau yang paling mengerikan!"

"Apa maksudmu, [name]-chin?"

"Sendawamu diakhir perkenalan!"

"Maksudmu 'EEEERGGHHHH~'," dan Murasakibara mengulanginya lagi, "—EEEEERGGGGH, EEEEERGGGGH, EEEEERGGGGH, EEEEERGGGGH, AAAAHHH~"

"Sudah hentikan! Aku tidak mau membahasmu!"

Entah kenapa sendawa Murasakibara terasa seperti iklan minuman 'cepirit'.

Kau teringat dengan orang terakhir yang seharusnya menjadi poin utama disini. Bagaimana pun juga keberadaannya adalah sebagai leader dari para sentai—kenyataannya dia juga leader para kisedai disini—tapi gayanya tidak menunjukkan kepemimpinan yang keren dan ancungan gunting malah menambah suasana horor.

"A—no, Akashi-kun. Kau jangan mengacungkan gunting. Mana ada pahlawan mengancungkan gunting, nanti anak-anak pada takut—" belum selesai bicara, Akashi sudah bertampang seakan mau memakanmu bulat-bulat, "—eto, jangan memandangku begitu. Ku-Kumohon!" Kau gemetaran. "—baiklah, baiklah, aku tidak akan protes!" Padahal Akashi belum bilang apa-apa, kau sudah kalang kabut.

"Kalau begitu kau mau yang seperti apa?" tanya Akashi padamu. Tumben-tumbenan tidak ada gunting melayang, ditambah lagi kata-katanya seakan mengijinkanmu untuk memberikan saran.

"Misalnya, kalau sentai suka pakai senjata yang keren seperti pistol atau katana! Nah, nah, nah, kurasa katana cocok dengan imagemu, Akashi-kun."

"Katana?"

"Iya, image tradisional kurasa cocok untukmu."

"Hmm. Baiklah, akan kucoba."

"Hei! Kenapa kalau sama Akashi kau tidak protes?" omel Aomine sembari mendorong pundakmu ringan. Kau memberikan pandangan mata 'mana-aku-berani-protes-bodoh'. Aomine pun ikut membalas pandanganmu yang seakan berkata 'ah-lo-gitu-aja-gak-berani' padahal dirinya sendiri ciut kalau berhadapan dengan Akashi. Akhirnya kalian main kontes debat melalui tatap menatap tanpa suara.

Setelah selesai berdebat dengan hasil seri, kau melanjutkan lagi pembahasan gaya mereka. "Kurasa kata-kata terakhir saat barengan itu sudah lumayan oke, apa tadi?"

Mereka bersiap di posisi masing-masing dan bergaya, "Kami berenam Basket Sentai—Kiseki Sentai! Basuke Kitaaaaaa!"

"EH? Tapi, tunggu dulu? Basuke Kita? Kalian itu sentai bukan kamen rider!"

(Note : Basuke Kita adalah plesetan dari Uchuu Kita catch phrase-nya Kamen Rider Fourze setiap dia selesai henshin).

"Ya, tidak apa-apa, kreatif kan? kita gabungkan sentai dan kamen rider-ssu!" seru Kise asal saja, "—lagipula, Akashicchi setuju."

Oke, mendengar nama itu disebut lagi kau jadi tidak bisa berkutik. Kau hanya mengangguk saja.

"Habisnya Tetsuya memberikan saran aneh kupakai saja itu," lanjut Akashi sambil mengalihkan pandangan menuju Kuroko. Yang dipandang hanya berwajah datar.

"Aneh?"

"Dengan kekuatan ignite pass kai, aku akan menghukummu!" Tiba-tiba Kuroko melakukan gerakan dorongan dengan tangan kanannya—entah kenapa terlihat seperti gaya KameHAHmeHAH. Ditambah lagi, saat mengucapkan itu wajahnya datar sedatar wajan di rumahmu.

Kembali facepalm. "TETCHAN! KURASA KAU HARUS HENTIKAN TONTONANMU ITU!"

"Habisnya aku tidak punya ide lain," balasnya tanpa dosa. "Atau mau pakai ide Murasakibara-kun?"

"Hee~ Aku?"

Kau penasaran dengan ide Murasakibara sampai-sampai tidak sadar memandanginya terus.

"[name]-chin, jangan melihatku begitu. Mau sampai kapanpun aku tidak akan memberikan cemilanku padamu!"

"DASAR PELIT! Lagipula, siapa yang mau minta, huh? Tunjukkan idemu padaku!"

Informasi baru sampai di otak Murasakibara. Sepertinya dari setadi dia tidak mengerti arti tatapanmu. Pikirannya melanglang buana dibuai renyahnya keripik kentang yang dipegangnya.

Murasakibara meletakkan keripik kentangnya dan beralih mengambil Maiubo yang ada di tasnya. Kau memperhatikannya dengan seksama apa yang akan Murasakibara katakan. Murasakibara mengacungkan Maiubo-nya.

"Kami berenam Basket Angels—Kiseki Sentai! Basuke Peaaaachhhh!"

Gedubrak!

Kau jatuh terjengkang. Tak hanya phrase-nya yang aneh, tapi cara bicaranya yang malas dan kekanakan menambah kesan mengerikan. Lagipula, untuk apa dia mengacungkan Maiubonya?

"KURASA ADA YANG SALAH DENGAN MASA KECIL KALIAAAAAAN!"

Latihan hari ini diakhiri dengan teriakan frustasimu. Sekian dan terima kasih.

.

.

.

.

TBC..


Ya, minna. Akhirnya ini gue update. Sori ya lama, soale ide ceritanya sempet mabur gitu. Yaudah lah yg penting udah update.

Maap yak kalo kurang lucu, selera orang juga beda2. Abisan setelah udah lama gak update ini fic, sense humor gue buat ini fic jadi hilang entah kemana.

Ini chapter langsung loncat ya, nanti ada flashback kenapa mereka mau jadi super sentai kok. Sepertinya ini fic pertama gue yang pake [name] reader ya? Gpplah. Disini reader manggil mereka pake nama2 panggilan unik kecuali Akashi krn reader gak berani sama Akashi. Kuroko jd Tetchan, Kise jd Ryoutan, Midorima jd Shin-chan *ngikutin panggilannya si shinchan dr anime crayon shinchan*, Murasakibara jd Murapyon tp Aomine cuma Daiki doang krn reader berantem melulu ma bang mine*apa hubungannya coba?*

Diatas ada beberapa parody, kek kamer rider fourze, sailormoon dan wedding peach. Nti gue juga mau bahas gaya mereka berubah kalo ini kan baru gaya mereka setelah berubah. Setiap member akan punya item buat berubah. Kalau ada yang punya saran dan ide maupun kritik buat kelanjutan fic ini dipersilahkan. Kalo bisa sih kasih ide buat kostum, dan gayanya mereka. bingung gue, udah lama gak nonton sentai, gue lagi membabat habis kamen rider sih.

Untuk fic gue yang lain, akan diusahakan update karena SAYA SUDAH LIBUR! UWAHAHAHAHAHAHA.

Sip, gue akan sangat tersanjung jika anda semua mau memberikan review, fav, dan follow. Untuk supportnya selama ini gue ucapan terima kasiiiiiih!

So, mind to write some reviews? Douzo..