Disclaimer : Hetalia belong too Hidekazu Himaruya
.
.
Esok paginya di sekolah..~
Mungkin pagi ini adalah hari keberuntungan untuk Willem, ia bertemu dengan Kirana ketika hendak masuk gerbang sekolah.
"H-hai." Willem menyapa Kirana dengan sedikit malu-malu.
"Hai." Kirana kembali menyapa Willem. Lalu mereka berbincang sambil jalan menuju kelas.
"Apa kau selalu berangkat sekolah sepagi ini?" Willem memulai percakapan dengan basa basinya.
"Datang sepuluh menit sebelum bel berbunyi kau bilang itu pagi?"
"Iya, biasanya aku tidak sepagi itu."
"Lalu apa yang membuatmu datang lebih pagi hari ini?"
"E-eh entah lah, mungkin karena tadi aku bangun lebih pagi hari ini."
"Oh begitu."
"Yah begitu lah."
Kirana tersenyum, lalu dari kejauhan ia melihat Arthur, ia juga teman sekelas Willem, Antonio, dan Kirana. Arthur pun menghampiri mereka. "Hei, aku tidak tahu kalau kalian sudah saling mengenal." Kata Arthur, "Tidak, kita baru berbincang untuk yang pertama kalinya tadi." Jelas Kirana.
"Oh begitu, oh ya kau tidak lupa kan akan janjimu itu?" Tanya Arthur kepada Kirana.
"Tentu, sehabis istirahat kan?"
"Iya."
Sadar bahwa ia hanya mematung ditengah pembicaraan antara Arthur dan juga Kirana, Willem memutuskan untuk pergi.
"Oh ya, aku ada janji dengan seseorang, sampai nanti lagi ya?" Kata Willem mencari alasan, padahal ia sedang tidak ada janji dengan seorang pun.
"Okay." Kirana tersenyum ramah.
Lalu Arthur dan Kirana bersama masuk ke kelas sementara Willem pergi menuju toilet.
"Aah apa Arthur itu pacarnya Kirana?" Willem bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap wajahnya di cermin. "Mereka juga terlihat sangat dekat, tidak mungkin jika hanya teman, aku yakin pasti lebih dari itu, bisa aja tidak, bisa juga iya, tidak, iya, tidak, iya, tidak, iya, tidak, iya, tidak, iya, iya?!" Ia menjadi sedikit aneh ketika memikirkan hubungan Arthur dan Kirana dengan menghitung menggunakan sepuluh jarinya itu. Willem menyipitkan matanya lalu berbicara kembali pada dirinya, "Mungkin iya, ah sudahlah kenapa aku menjadi seperti ini? Lebih baik aku segera masuk ke kelas!"
.
.
Saat pelajaran pertama dimulai.. ~
"Maafkan saya pak, saya terlambat!" Kata Antonio terengah-engah sambil membuka pintu kelas tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ia datang dengan keadaan yang tidak rapi. Rambutnya masih acak-acakan, dan bajunya masih belum dimasukkan. Lantas sang pak guru itu bertanya, "Bagaimana kau bisa terlambat selama ini?!"
"Memangnya saya terlambat berapa menit, pak?"
"Kau terlambat dua puluh menit penuh!"
"Ah, tadi saya kesiangan bangunnya, pak. Apakah saya tidak boleh masuk?"
"Kau boleh masuk setelah kau merapikan rambut dan merapikan bajumu itu!"
"T-terima kasih, pak. Saya mau ke toilet dahulu." Sebelum guru itu menjawab, ia sudah lari terlebih dahulu. Pak guru itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian melanjutkan pelajarannya.
Beberapa menit kemudian, Antonio kembali masuk ke kelas, ia langsung menempati tempat duduknya. "Jarang sekali kau terlambat selama ini?" Tanya Willem.
"Semalam aku main game baruku sampai larut, sehingga paginya aku bangun kesiangan."
"Ah kau ini,beruntung guru yang ini masih megizinkanmu masuk."
"Iya, fusososo."
"Oh ya, ada yang ingin kutanyakan."
"Apa itu?"
"Nanti saja sewaktu istirahat."
"Kau membuatku penasaran, baiklah."
Willem hanya tersenyum.
.
.
Saat bel istirahat sudah berbunyi.. ~
"Cepat Antonio sebelum perempuan itu mengejarmu lagi!" Willem memerintah Antonio untuk segera menuju kantin. "Ah iya kau benar, ayo!" Kata Antonio sambil menggeret tangan Willem untuk segera menuju kantin. Ketika sudah hampir sampai Willem melihat Arthur dan Kirana sedang berjalan bersama. "Eitt sebentar!" Willem menghentikan langkahnya. Langkah Antonio pun ikut berhenti, "A-ada apa?" Tanya Antonio.
"Kau lihat itu? Arthur bersama Kirana." Nada Willem merendah.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Apa kau tidak mengerti perasaan ku?!"
"Ah i-iya aku mengerti, kau cemburu?"
"Iya." Nada Willem merendah.
"memangnya apa hubungan mereka?."
"Entahlah."
"E-eh sebentar, sebaiknya kita harus lari sekarang, para gadis itu sudah hampir di dekat kita!"
"Kau benar, cepat!"
Setelah rasanya sudah tidak dikejar lagi, mereka langsung menuju tempat duduk yang kosong di kantin. "Hei, di sana ada Arthur dan juga Kirana." Kata Antonio kepada Willem sambil mengarahkan jari telunjuknya ke bangku kantin yang berada di pojok itu, disitulah tempat Arthur dan Kirana duduk.
"Ya aku tau, menurutmu apakah mereka mepunyai hubungan yang spesial?"
"Eh, ee tidak tau sepertinya tidak, semoga saja."
"Jika iya?"
"Kau jangan berpikiran yang tida tidak kita kan juga belum tau pasti."
"Ah iya kau benar juga."
"Oh ya katamu kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Iya, jadi hampir lupa, ahaha." Willem tertawa kecil.
"Kau ini, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang—"
"Kirana?" Dengan cepat Antonio bisa mengetahuinya.
"I-iya."
"Ada apa dengannya?"
"Aku pikir saat ini aku sudah benar-benar menyukainya, jadi apa pendapatmu jika aku mengajaknya untuk berkencan?"
Antonio tidak sengaja menyembur jus jeruk yang ia pesan. *sejak kapan ia pesan jus jeruk itu?lupakan.
"K-kenapa Antonio?"
"Ah tidak apa apa kok."
"Lalu apa pendapatmu?"
"Menurutku kau jangan terlalu cepat untuk melakukan itu, atau kata lainnya kau harus melakukan pendekatan dengannya, apa kau pernah berbicara padanya?"
"Pernah, sekali, tadi pagi."
"B-benarkah? Itu bagus sekali! Apa itu berlangsung lama?"
"Sayangnya tidak, saat itu Arthur datang jadi hanya bisa mengobrol sedikit."
"Kenapa begitu?"
"Mereka malah berbincang berdua, aku hanya diam saja waktu itu, lalu pergi."
"Oh begitu, sabarlah."
"Tak apa, lalu bagaimana pendekatan yang kau maksud itu?"
"Mmm, mungkin kau harus mencari tau banyak tentangnya."
"Dalam hal apa?"
"Apa saja."
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Minta saja nomor ponselnya, dengan begitu kau bisa berbincang banyak dengannya."
"Apakah aku harus memintanya—langsung?"
"Pastinya!"
"Baiklah akan kucoba setelah pulang nanti."
"Siip, eh iya Arthur sekarang duduk sendiri, kemana perginya si Kirana?"
"Memangnya kenapa?"
"Ah tidak kok, tidak apa-apa."
"Ooh, sudah bel masuk, ayo ke kelas."
"Iya."
.
.
Setelah bel tanda pulang berbunyi..~
Semua murid di SMA itu sudah keluar dari kelas mereka masing-masing, kecuali kelasnya Antonio dan teman-temannya yang masih belum keluar karena gurunya datang telat sebelumnya. "Aah kenapa belum keluar juga sih? Aku ingin segera meminta nomor ponselnya." Willem berkata pada dirinya sendiri dengan pelan, tetapi Antonio mendengarnya.
"Ehem."
"Eh? Ada apa?"
"Tidak, hanya saja sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk meminta nomor ponsel seseorang, fusoso."
"He? Apa kau tadi mendengarnya?"
"Begitulah, fusososo."
"Kenapa kau selalu tertawa sih?"
"Itu hakku dong."
"Kau menyebalkan."
"Terserah,tadi kau bilang 'kenapa belum keluar juga sih? Aku ingin meminta nomor ponsel Kirana' fusososo."
"Antonio! Aku tidak menyebutkan namanya tadi, kalau dia dengar bagaimana?!"
"Ugh, maaf will, aku tidak sengaja tadi."
"Aku mendengarnya—"
^bersambung..
Note :
Jika berkenan berikan saran ato komentar ato protesan (bahasanya -_-) di review, mksh.. ^^ maaf kalo typo..
