Antonio mematikan PSPnya, "Lebih baik kau pikirkan Kirana." lalu Antonio pergi meninggalkan Willem tanpa melirik sedikit pun wajah Willem. "Apa maksudmu, Antonio? Jangan pergi dulu aku ingin bicara padamu!"
Unknown V
Hetalia © Hidekazu Himaruya
Antonio tidak mempedulikannya, ia terus saja berjalan entah kemana, menjauh dari Willem. Willem yang masih berada di dekat pohon besar itu memutuskan untuk tidak mengejar Antonio. "Mungkin dia sedang ada masalah, atau mungkin hanya sekedar ingin sendirian? Lebih baik aku jangan ganggu dia dulu saja beberapa saat." pikir Willem.
Pada waktu yang sama, Antonio berkata dalam hati, 'Sebenarnya aku tidak ingin bersikap cuek padamu, Will. Tapi kini kau berbeda, tidak seperti dulu yang selalu memperhatikanku, dan peduli padaku. Karena sekarang, kau lebih memperhatikan dan peduli pada Kirana.' Lalu ia memberhentikan langkahnya. Ia mencari bangku yang kosong untuk duduk dan melanjutkan gamenya yang padahal, murid lainnya sedang sibuk belajar bersama untuk ulangan selanjutnya yang akan mulai sekitar lima belas menit lagi.
Bel tanda masuk berbunyi, Antonio beranjak dari tempat duduknya dan mematikan PSPnya. Lalu ia berjalan menuju kelas. Ketika hampir sampai di depan kelasnya, ia melihat ada empat murid perempuan yang sedang berbisik-bisik sambil menatap Antonio dengan tatapan sinis. 'Aku mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan itu bagus, aku bisa terbebas dari kejaran dan teriakanmu yang mengganggu dan berisik itu, perempuan menyebalkan!.' Katanya dalam hati yang membuatnya senang.
.
.
Ulangan pada hari ini pun selesai sudah. Dan lagi-lagi Antonio masih bersikap cuek pada Willem, ia langsung pergi meninggalkan sahabatnya itu setelah membereskan alat tulisnya. Dan Willem masih juga memutuskan untuk tidak menganggu Antonio. 'Willem tidak menanyaiku lagi kenapa aku cuek padanya. Cih, memang benar sekarang dia hanya peduli pada Kirana!' batin Antonio setelah keluar dari kelasnya itu.
Beep, beep, beep. Suara tanda adanya pesan baru masuk di ponsel Willem. Si rambut jabrik itu pun memeriksa ponselnya. 'Kirana?' batinnya dalam hati setelah mengecek pengirim pesan yang barusan ia terima, lalu ia melihat isi dari pesan itu. 'Hai, Will. Aku sedang ada di cafe dekat sekolah bersama Arthur, dan teman-teman lainnya. Apa kau mau bergabung? Ajak juga Antonio. Kami tunggu, loh!' begitu isi pesan dari Kirana. "Antonio? Apa dia mau kuajak kesana yang padahal ia sedang bersikap cuek seperti itu padaku?" Willem berpikir sejenak, "Tidak, pasti dia tidak mau. Yah, kukatakan saja pada Kirana kalau aku tidak ingin bergabung, walaupun sebenarnya aku sangat ingin."
.
.
Antonio baru saja sampai di rumahnya. Lalu ia duduk di sofa ruang tamunya, melempar kunci mobilnya di atas meja dan menghidupkan AC yang ada di ruang tamu itu juga. Ia merasa sangat lelah, dan gerah, "Ah, kenapa hari ini panas sekali?"
Tiba-tiba ibu Antonio duduk di samping Antonio, "Sudah pulang, anakku? Bagaimana ulangannya tadi?" tanya ibu Antonio ramah dan juga mengagetkan Antonio.
"Eh, ibu." Antonio tidak sadar kalau ada ibunya, lalu ia mencium tangan ibunya, "Ulangan tadi? Sedikit susah, bu. Tapi semoga saja nilainya bagus. Hehehe"
"Makanya kurangilah bermain game. Dan seriuslah ke pelajaran. Kau sudah tidak kecil lagi, Antonio. Kau sudah kelas tiga SMA."
"Ya aku tau kalau aku sudah kelas tiga SMA, bu." Antonio memutar kedua bola matanya.
"Baiklah. Lekas ganti pakaianmu. Ibu mau pergi dulu."
"Pergi kemana, bu?"
"Hari ini cuaca panas sekali. Ibu ingin membeli es krim."
"Biar aku saja yang beli, bu."
"Baiklah. Tapi ganti dulu pakaianmu. Sementara kau pergi, ibu akan menyiapkan gelas untuk es krim yang akan kita makan nanti."
Antonio menganggukkan kepala lalu pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia turun dan menuju ruang tamu untuk berpamitan pada ibunya. "Aku pergi dulu, bu." Katanya sambil mengambil kunci mobilnya yang ditaruhnya di atas meja tadi.
"Iya, Antonio. Berhati-hatilah di jalan."
"Pasti, bu." dan Antonio pun pergi mencari toko es krim terdekat.
.
.
Tidak lama setelah Antonio berkeliling di sekitar rumahnya untuk mencari toko es krim, akhirnya toko itu pun dijumpai olehnya. Dengan segera Antonio memakirkan mobilnya di tempat parkir mobil yang telah disediakan oleh pemilik toko es krim tersebut.
"Pasta Ice Cream? Nama yang aneh. Mereka ini menjual pasta atau es krim, sih?" Antonio terheran-heran setelah membaca nama toko es krim yang ia datangi tersebut memiliki nama yang aneh, dan bahkan tidak ada hubungannya. Setelah berhenti di depan pintu hanya untuk melihat papan nama toko es krim yang aneh itu, akhirnya Antonio masuk untuk membeli es krim.
Setelah masuk, ia langsung menuju ke tempat pemesanan.
"Vee~ selamat datang di Pasta Ice Cream~! Kami hanya membuat es krim yang terbaik untuk pelanggan kami." Salah satu pekerja di toko itu menyambut kedatangan pelanggannya. Anehnya ia justru membawa pasta dan bendera warna putih dikedua tangannya.
"Begitu, ya?"
"Ee? Kenapa anda cuek sekali~? Ada yang bisa kami bantu?"
"Ya. Aku hanya ingin membeli dua mangkuk es krim."
"Baik. Mau rasa apa?"
"Mmm. Coklat brownies dan vanilla masing-masing satu mangkuk."
"Okay! Tapi berhubung coklat browniesnya habis, akan diambilkan dulu oleh kakakku dari dapur. Silahkan duduk dan tunggu sampai kakakku datang, yaa~"
"Ya, baiklah." kata Antonio sambil menganggukkan kepalanya pelan. Ketika sang pekerja tadi itu melayaninya, Antonio sempat melihat nama pekerja tersebut yang tergantung di celemek milik pekerja tersebut. Feliciano namanya.
Tidak lama Antonio menunggu, seorang anak lelaki yang sepertinya seumuran dengannya keluar dari pintu dapur toko tersebut. Tapi, pekerja yang ini nampak tidak ramah. Antonio pun berdiri dan berjalan menuju tempat pemesanan tadi.
"Feli, ini coklat browniesmu! Cepat berikan pada pelanggan kita sebelum es krimnya meleleh!"
"Santai saja. Pasti akan kulakukan dan jangan membentakku seperti itu." Feliciano merasa sedikit takut. "Hahaha. Aku tidak membentak, hanya melakukan tugas. Dan kau tau itu!"
"Terserah kau saja. Bantu aku memindahkan es krim ini ke dalam mangkuk, Lovi."
"Itu kan pekerjaanmu!"
"Maaf. Eh, Lovi?" Antonio menyela pembicaraan kedua kakak-beradik ini.
"Iya kenapa?!"
"Sebaiknya kau bantu adikmu. Ia nampak kesusahan sepertinya."
"Itu memang pekerjaannya! Tapi karena pelanggan yang meminta, baiklah akan kubantu kau, Feli."
"Ah, terima kasiih?" Feli membesarkan matanya dan menatap Antonio.
"Aku? Ah, panggil saja Antonio."
"Baik Antonio-san. Ini pesanan dan billnya. Kalau kurang puas boleh protes dan minta ganti pada kami!"
"Baik. Tapi, apa aku boleh bertanya?"
"Tentu. Apa itu Antonio-san?"
"Kenapa kau membawa pasta dan bendera putih?"
"Vee~ pasta ini terbuat dari es krim. Bendera ini...umm, tidak apa aku hanya senang memegangnya. Tetapi kalau sedang membungkuskan es krim seperti ini aku akan menaruhnya sejenak."
"Iya, tapi kau masih memegang pasta es krimmu. Jadi kau bekerja hanya dengan satu tangan dan itu merepotkan, bukan?"
"Kau ini banyak tanya, Antonio! Ini toko kami, dan beginilah pelayanan kami. Jadi kau tidak ada hak untuk protes! Dan juga, cepat bayar es krim itu pada Feli!"
"Iya." Antonio melihat bill yang diberikan oleh Feli tadi dan membayarnya, "Sebenarnya tadi itu hanya saran, Lovi. Baiklah, aku akan pulang dulu."
"Pergilah. Dan serig-sering lah beli es krim disini!"
"Itu terdengar seperti paksaan." Kata Antonio sambil berjalan keluar toko.
"Ah, maaf, kak Antonio. Maksudnya dia bukan seperti itu. Selamat jalan~"
Antonio melambaikan tangan tanpa membalikkan badannya. Dan segera menuju tempat parkir lalu pulang.
.
.
"Aku pulang, bu."
Ibu Antonio menghampirinya, "Kenapa lama, nak? Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, bu." Antonio meletakkan kedua es krim di atas meja ruang tamu, "Tadi hanya aku mengobrol sedikit oleh pekerja di toko itu."
"Oh begitu. Ya sudah, ayo kita makan es krimnya. Kau membeli rasa apa?"
"Coklat brownies dan vanilla."
"Umm, rasa vanilla akan lebih enak jika ditambah buah-buahan. Tunggu sebentar, ya."
"Iya, baiklah. Terserah ibu saja."
Dan ibu Antonio pergi ke dapur untuk mengambil buah-buahan. Tak lama kemudian ibu Antonio kembali sambil membawa buah-buahan tentunya.
"Nah, ini gelas es krimmu, Antonio." Ibu Antonio memberikan gelas es krim kepada Antonio.
"Terima kasih, bu." Lalu Antonio mulai mengambil beberapa sendok es krim rasa vanilla, dan menambahkan buah stroberi dan anggur. Setelah memakan satu sendok es krim vanilla yang dicampur buah itu, tiba-tiba ia terbayang wajah sahabatnya, Willem. Seketika ia melamun, 'Kenapa tiba-tiba aku terbayang wajah Willem yang menyebalkan itu? Apa karena itu? Karena—aku menyukainya lebih dari sahabat? Yah, aku tahu kita sesama laki-laki. Tapi..'
Belum selesai Antonio berbicara dalam hatinya sendiri, ibunya menyela, "Kenapa tiba-tiba kau melamun, Antonio?"
"Tidak juga, bu. Aku tidak melamun. Jelas-jelas aku sedang makan es krim."
"Iya, tadinya. Setelah kau makan satu suap, kau langsung melamun, ada apa? Apa ada masalah?"
"Mmmm.." Antonio berpikir lebih baik ia ceritakan ke ibunya, atau tidak. Dan pada akhirnya ia menceritakannya pada ibunya. Kecuali masalah kalau ia menyukai Willem lebih dari sahabat.
"Mmmm? Apa itu Antonio? Ada masalah apa?"
"Jadi begini, bu. Sahabatku si Willem itu, dia sedang menyukai seorang gadis yang sekelas dengan kita."
"Lalu? Apa kau juga menyukai gadis itu?"
"Tidak, bu. Aku tidak menyukainya."
"Lantas?"
"Aku berpikir, bahwa Willem jadi lebih peduli dan perhatian pada gadis itu. Da tidak lagi peduli padaku. Dan tadi di sekolah, aku sempat bersikap cuek padanya."
"Kalau begitu kau cemburu. Loh, tapi bukannya kau dengan Willem itu bersahabat sejak awal masuk sekolah?"
"Iya, memang."
"Biasa lah, jika sedang menyukai seorang gadis, pasti yang ia perhatikan itu adalah gadis yang ia sukai. Menurut ibu itu wajar. Dan pasti sebenarnya Willem masih peduli padamu. Tapi kenapa kau cemburu? Jangan bilang kalau kau menyukai Willem lebih dari sahabat?!" nada bicara ibu Antonio naik, dan itu membuat Antonio kaget. Bagaimana tidak? Karena yang di curigai oleh ibunya itu adalah benar. Ia memang menyukai Willem lebih dari sahabat.
"Hah?! Menyukainya lebih dari sahabat?! Je-jelas tidak, bu. Aku ini masih normal." Antonio berusaha bersikap tenang.
"Hmm, kalau begitu bagus. Sudah, kau jangan bersikap cuek lagi pada Willem. Dan akan membuat Willem bahagia apabila kau bisa membuat Willem dan gadis itu bersama."
"Bersama? Maksud ibu mereka berpacaran, begitu?"
Ibu Antonio mengangguk sambil tersenyum.
Antonio membuang nafas lewat mulut, "Hufft. Baiklah kalau bisa."
"Bagus. Sekarang lanjutkan makan es krimnya dengan cepat sebelum meleleh."
'Bagus katanya? Itu sama sekali tidak bagus, bu. Sangat tidak bagus.' Kata Antonio dalam hati.
.
.
Setelah menyantap habis dua mangkuk es krim bersam ibunya, Antonio pergi ke kamarnya. Ia teringat akan kata ibunya bahwa ia tidak boleh bersikap cuek lagi pada Willem. "Kalau begitu, mungkin aku akan memulainya dengan mengiriminya pesan." Antonio mengambil handphonenya dan mencoba mengirimi Willem sebuah pesan. 'Hai, Will. Apa jadwal ulangan untuk besok?' begitu isi pesannya. Padahal sebenarnya Antonio sudah tahu apa jadwal ulangan untuk besok. Setelah mengirim pesannya itu kepada Willem, Antonio menunggu balasan dari sahabatnya sambil bermain game di PSPnya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, handphone Antonio bergetar tanda ada pesan baru masuk. Dengan cepat ia mempause gamenya dan langsung mengecek hanphonenya. "Dari Willem. Willem membalas pesanku. Dan itu artinya dia tidak marah padaku. Syukurlah, Willem memang baik, ya. Tapi terkadang juga pelit." Antonio sedikit lega setelah melihat nama pengirim pesan yang baru masuk itu adalah Willem. 'Besok? IPA dan matematika. Berjanjilah dan belajar yang rajin juga jangan terus-terusan memainkan gamemu itu.'
"Selalu saja mengingatkan seperti itu. Persis seperti ibu. Menyebalkan."
'Terima kasih. Aku tidak berjanji. Fusososo :p' Antonio menambahkan emoticon dipesannya. Dan seterusnya, ia dan Willem saling mengirim pesan. Dan tentu saja Antonio sambil memainkan game di PSPnya. Belajar? Hanya sedikit saja.
.
.
Esok harinya..
"Aku datang duluan daripada Willem? ternyata aku ini hebat juga, ya." Kata Antonio dengan bangganya setelah masuk kelas dan ia belum melihat Willem di dalam kelas tersebut. Setelah itu Antonio meletakkan tasnya dan bermain game di PSPnya.
Tak lama kemudian Willem datang.
"Antonio? Kau datang duluan dari aku, ya?"
"Pasti. Itulah hebatnya aku." Ujar Antonio sambil memainkan gamenya itu.
Willem meletakkan tasnya lalu duduk, "Hei, Antonio. Bisakah kau hentikan dulu permainanmu itu?"
"Tentu." PSP Antonio pun telah dimatikan, "Ada apa, Will?"
"Apa kau tahu ada hubungan apa Kirana dengan Arthur?"
'Kirana lagi.' Batin Antonio, "Mana aku tahu. Tanya saja sendiri."
"Tidak. Aku tidak cukup berani untuk tanya hal seperti itu padanya."
"Ya sudah kalau begitu."
"Cih, cuek sekali. Ngomong-ngomong aku minta maaf tentang hari kemarin."
"Minta maaf untuk apa?"
"Apa saja."
"Oh."
"Aku serius, Antonio."
"Iya, deh. Aku maafkan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak tahu apa salahmu." Antonio pura-pura tidak mengerti.
"Syukurlah. Oh ya, kali ini aku benar-benar suka dengan Kirana."
'deg' Antonio terkejut. Ia cemburu. Kecewa. Dengan berat hati ia bertanya kepada Nether, "Lalu apa yang akan kau lakukan? Mengencaninya?"
"Iya. Setelah ujian ini berakhir."
'Will. Seandainya aku ini wanita aku akan langsung mengungkapkan perasaanku. Tapi sekarang apa yang harus kulakukan? Mendukungmu? Ah, tapi kata ibu jika aku bisa membuat kau berhubungan dengan Kirana itu akan membuatmu senang. Baiklah, Will. Akan kucoba.' Antonio berpikir sedikit lama.
"Itu waktu yang bagus! Ajaklah Kirana kencan di cafe tempat biasa aku datangi. Masalah harga akan kutanggung. Dan aku akan bernyanyi untuk kalian berdua."
"A-apa kau serius, Antonio?"
'TIDAK!' kata Antonio dalam hati. Antonio tersenyum dan memejamkan matanya, "Iya, Will. Aku serius."
"Terima kasih, Antonio." Spontan Willem memeluk Antonio dengan erat. Beruntung di dalam kelas itu hanya ada mereka berdua. Antonio pun senang, karena ia sedang dipeluk oleh orang yang ia sukainya.
Dua ujian pada hari kedua pun selesai. Kini, saatnya para siswa untuk pulang..
Antonio dan Willem berjalan bersama keluar kelas setelah mengemasi tas mereka, "Oh, ya. Menurutmu, aku harus mengatakan pada Kirana tentang kencan itu kapan?" tanya Willem bahagia.
"Terserah." Antonio menjawab dengan singkat. Dan memalingkan wajahnya dari Willem.
"Heii, kau kenapa lagi, Antonio? Kau menjawab begitu singkat dan tidak menatap wajahku."
Antonio diam dan menundukkan kepalanya, "Apa yang kau perhatikan? Segerombolan semut di bawah yang sedang membawa makanan itu?"
"Iya, Will! Semut-semut itu bahkan lebih menarik daripada kau!" Antonio sedikit membentak.
"Hei, hei. Kenapa kau tiba-tiba marah?"
'Dan akan membuat Willem bahagia apabila kau bisa membuat Willem dan gadis itu bersama' lagi-lagi kalimat ibu Antonio itu muncul dipikiran Antonio, "Fusoso. Tidak, Will. Maafkan aku tadi sedikit membentakmu. Aku tidak marah, sungguh."
"Kenapa sekarang kau jadi aneh? Apa kau sakit?"
"Sakit? Tidak. Apa kau mengkhawatirkanku?"
"Ya, tentu saja. Kau satu-satunya sahabatku yang paling aku sayang."
"Sa-sayang? Apa itu berarti—"
"Sayang sebagai sahabat, pastinya. Nah, kembali ke Kirana tadi. Menurutmu kapan aku harus mengatakannya?"
Antonio kecewa dengan arti kata 'sayang' dari Willem, "Mungkin akan lebih baik jika dihari ulangan terakhir."
"Hmm. Terakhir, ya? Okay! Mungkin itu ide yang bagus! Baiklah,aku pulang duluan, ya. Daah."
Antonio melambaikan tangannya pada Willem. Bzzt bzzt, handphone Antonio bergetar tanda ada panggilan masuk, "APA?! Kapan itu terjadi?! Baik, aku akan segera kesana! Dan pastikan semua baik-baik saja!" Antonio langsung beranjak dari sekolahnya.
^bersambung~
Notes :
Udah nyampe chapter V, ya? X3 oh ya, terima kasih, loh buat yang mau baca.. xD
Dan juga makasi reviewnya, terutama Mecchan. Kyaa, maaf enggak bisa dibales lewat PM. Lewat sini aja, ya. Jadi, terima kasih udah suka sama yang chapter IV #slap. Dan itu emang beneran suka.. :D tebakanmu benar, huehehe. Pokoknya terima kasiiiiiii.. X"D
Main tu riviu? /apaanlusokinggris. Review sangat dibutuhkan, loh. Silahkan kalau berkenaan.. :D
TNT~
