Ini ch. 2-nya X3

Hope You Like!


"Aku bersumpah akan melindungimu selamanya! Jadi jangan lihat orang lain selain aku, ya!".
"Iya! Aku takkan menyukai orang lain selain kamu, Gumo!".
####
Saat terbangun aku hanya bisa diam dan menatap ke langit-langit.
"Mereka... Siapa?", tanyaku dengan suara yang sangat pelan, aku bertanya pada diriku sendiri sih.
**PIP PIP PIP**
"Ah, ponselku!", kataku yang terkaget-kaget.
Aku segera mengambil ponselku dan melihat pengirimnya.
"GU...MO...", pikirku saat mengeja nama pengirim itu.
Hah!? Aku langsung sadar. Apa maksudnya!?
"GUMO!?". Sejak kapan dia dapat nomorku!?
Pokoknya kubaca dulu deh...
Aku membuka ponselku dan melihat e-mail yang dia kirim.
"Sudah sembuh?
Senang tidak di Ruang Kesehatan?
Sudah bangun?"
Kemudian dia mengirim e-mail berisi fotonya sedang bergaya peace.
Menyebalkan!
"Huh! Foto ini... Ku...ha... Ngg...", gerutuku.
Aku ingin menghapus foto ini tapi kenapa tanganku tak mau menghapusnya. Duuh!?
Rasanya wajahku panas!
**PIP PIP PIP**
"Duuh, siapa lagi?", pikirku dengan kesal sambil melihat pengirimnya.
"Raika Ibuki... Raika!?", lanjutku.
Aku sangat senang! Rasanya otakku bisa di-refresh dari si 'Gumo'.
Aku membaca e-mail dari Raika.
"Hai Gumi! Kudengar dari Gumo-sama kalau kamu pingsan.
Sakitmu kambuh, ya?
Oh iya! Katanya Hibiki mau minta e-mailmu! Aku sudah memberinya!
Nih e-mailnya Hibiki!
****-**** ****.*** (sensor bro XD).
Simpan, ya! Please confirm kalau sudah terima!".
Uwaa! Hibikii! Aku punya e-mail Hibiki!
Kyaaa! Senangnya!
Oh iya!
Orang yang kusukai adalah Ibuki Hibiki, saudara Raika.
Sedangkan Raika suka pada Mikuo, saudara jauh Miku.
"Hm... Balas e-mail Raika, ah!", pikirku.
"Arigatou e-mailnya Raika!
Arigatou juga soal e-mail Hibiki.
Ada apa sih?
Balas cepat, ya!".
Dan segera kukirim.
**PIP PIP PIP**
"Haah!? Siapa?", gerutuku.
Dan kulihat lagi, pengirimnya adalah Neru Akita! Gadis tsundere manis itu.
"Gumi! Besok kamu ke rumah Raika segera!
Kalau mau bersamaku, kutunggu di depan stasiun XXX pukul 10.00!
Harus cepat dan rapi!".
Aah! Rumah Raika=Rumah Hibiki!
Aku nggak sabaar!
Semoga besok kondisiku membaik!
Aku membalas e-mail Neru secepat kilat.
"Ok! Tunggu aku, ya!".
Aaaa~ rumah Hibikii...
**PIP PIP PIP**
"Cih...", keluhku kesal.
Kali ini pengirimnya adalah...
Sukone Teiru!?
"Gumi-chan sudah sembuh?".
Hanya segitu saja.
"Ya. Terima kasih...".
Dan langsung muncul balasan dari Teiru.
"Besok, bisa ketemu aku di stasiun XXX pukul 10.00? Kita ke rumah Raika bareng. Mau?".
"Tentu saja! Aku juga sudah janji dengan Neru!", jawabku.
Dan setelah itu muncul e-mail balasan dari Raika.
"Besok kamu harus sampai di rumahku dan Hibiki pukul 11.00! Tidak boleh lebih!
Kita akan diskusi soal sesuatu!".
"Aah, iyaaa...".

Esoknya, mendadak badanku demam. Saat kuukur, suhunya 38.6 derajat.
Mukaku terasa seperti kepiting rebus, panas, tak enak.
Kalau begini terpaksa aku tak pergi...
Aku menelepon Neru, Raika, dan Teiru.
Aku berkata takkan pergi karena mendadak ada urusan.
Aku tak mau mereka tahu masalahku sekarang...
Tiba-tiba bel rumahku berbunyi.
"Gumi, aku masuk!".
Aku hanya bisa terbatuk-batuk saat ingin menjawab, "YA".
Orang itu membuka pintu dan masuk, kemudian ia membuka pintu kamarku.
"Gu... Gumo?!...uhuk!", kataku dengan pelan, tapi 'uhuk'-nya keras.
"Kau baik-baik saja?", tanya orang itu.
Benar sekali! Dia adalah Gumo, saudaraku.
Aku hanya mengangguk tanpa menatap matanya.
Rasanya mukaku semakin panas.
"Tunggu sebentar di sini! Aku akan membuatkan makanan!", kata Gumo sambil melempar barang-barangnya dan berlari ke dapur dengan terburu-buru.
Kenapa rasanya aku ingin tersenyum?
Padahal... Tak ada yang lucu...
Rasanya jantungku juga berdebar keras sekali... Apa maksudnya?

Beberapa menit berlalu, aku hanya tidur-tiduran dikasur dengan keadaan tak enak.
Rasanya udara di sekitarku panas lalu dingin lalu panas lagi lalu dingin lagi.
Nggak nyaman...
Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu dan aku mencium wangi makanan.
"Ini... Untukmu!", kata Gumo sambil menyerahkan sebuah nampan berisi makanan dan satu kotak obat.
Dan saat dia meletakkannya, aku berpikir, "Jangan bersikap baik seperti ini dong...".
Dan tiba-tiba ada satu memori lagi yang berputar di kepalaku, tanpa sadar aku langsung menitikkan air mata.
Gumo yang melihatku menitikkan air mata mematung dan terdiam hingga lama.
Aku tak menyadarinya karena suasana sepi dan aku masih di dalam ingatanku itu.
Di ingatanku itu... Aku...

To Be Continued... (Sok Inggris XD)