INI CHAP 3 XD #caps jebol
Maaf kalau gaje, aneh, dll ._.
Aku... Aku ini payah... Kenapa aku bisa lupa... Kenangan di masa kecil pada waktu itu...
.
.
.
.
.
.
==5 Years Ago==
"Gumo!", panggilku dengan riang.
"Lho, Gumi sudah boleh keluar dari rumah sakit?", tanya Gumo.
Aku menjawabnya dengan anggukan semangat dan berlari memeluk Gumo.
"Aku kangeen! Aku ingin cepat-cepat ke toko buku dengan Gumo!", ujarku dengan penuh semangat.
Gumo tersenyum mendengarnya kemudian dia menggandeng tanganku dan membuatku sedikit merona.
"Ayo kita ke toko buku!", ajak Gumo.
Aku tersenyum dan menggenggam balik tangannya yang besar dan hangat.
Tapi tepat jam sembilan malam, aku ambruk di rumah.
"Gumi! Kamu tidak apa-apa 'kan!?", tanya Gumo sambil mengguncang-guncang tubuhku yang tak bertenaga itu.
Dia menggendongku hingga kamar dan merawatku hingga pagi tanpa tidur.
Dan ketika aku bangun, tercium wangi masakan khas Gumo.
Dia datang membawakanku nampan berisi makanan dan sekotak obat.
Dia juga menyeduhkanku teh hangat.
Aku yang masih merasa pusing dan tak bertenaga kembali merasa segar.
"Gumo... Terima kasih banyak!", kataku dengan lembut.
Seketika, pipi Gumo langsung bersemu merah seperti bunga sakura. Manis sekali...
Tapi mungkin itu, adalah hari bahagia kami yang terkhir...
Karena kondisiku semakin parah, aku kembali ke rumah sakit dan harus dirawat di ruang darurat.
Kondisi kritisku saat itu membuat Gumo khawatir dan saat ingin menjengukku, dokter malah marah-marah dan melarang kami untuk bertemu.
Sejak itu... Gumo seperti menjaga jarak denganku...
.
.
.
.
.
.
.
"Gu... Gumo...", kataku dengan suara pelan.
"Ya?", tanya Gumo sambil tersenyum.
Dan senyumannya membuatku makin ingin menangis.
"Terima kasih...", lanjutku dengan senyuman lembut tapi terpaksa.
Air mataku rasanya tak bisa berhenti mengalir walau sudah berkali-kali kuhapus dengan tanganku.
Gumo hanya tersenyum dan kemudian meninggalkanku.
Setelah dia pergi, aku menangis sendirian di dalam kamar.
Aku sendiri tak tahu... Apa alasanku menangis? Untuk apa aku menangis? Apa yang membuatku ingin menangis?
Yang ada di pikiranku saat ini hanyalah... Hatiku yang terluka tanpa sebab...
***
Esoknya, aku sudah kembali sembuh dan dapat masuk sekolah dengan semangat.
Tapi entah mengapa... Rasanya aku tak semangat...
"Pagi Gumi!", sapa seorang gadis berambut turquois dengan model rambut twins ponytail.
Dan pastinya semua kenal. Jadi tak perlu ba-bi-bu lagi.
"Pagi...", balasku dengan lesu.
Aku malas bertemu dengan orang saat ini, apalagi bicara.
Duuh... Aku ini kenapa, sih?
Dipaksa-paksa semangat juga nggak bisa...
Miku yang menyapaku tadi terlihat memandangiku dengan cemas.
Dan tiba-tiba saja terdengar ramai-ramai dari arah gerbang.
"Itu Len! Leeen! Pangeran sekolah! Raja Osis!", kata seorang anak cewek.
Pasti dia salah satu fans gila.
Tapi Len cuek pada mereka dan berjalan ke arahku.
"Gumi, maafkan aku... Aku tak membantumu mengangkut buku-buku berat itu... Aku tak tahu dan tak menyangka kalau kau bakal pingsan...", kata Len sambil menggenggam kedua tanganku.
Tapi justru aku makin kesal.
Cowok macam apa dia?
Bikin repot lalu malah meninggalkan orang sembarangan! Tidak ber-perikemanusiaan.
"Huh. Awas kalau kau melakukannya lagi! Aku takkan memaafkanmu!", balasku dengan ketus dan tatapan mengamuk besar.
Len memandangku dengan tatapan takut.
"Sudah pergi sana!", seruku.
Dan Len lari terbirit-birit seperti anak ayam. Hahaha... Senangnya...
Banyak para fans Len menatapku penuh amarah, tapi yaa... Biasa saja. Ngapain juga takut?
Dan bos dari geng "Len-Kun Forever!", SF-A2 Miki datang ke arahku.
"Ada apa?", tanyaku.
"Boleh bicara sebentar di tempat lain?", tanya Si Nama Panjang.
"Baiklah!", jawabku.
Dia bersama 5 anak buahnya membawaku ke tempat yang sepi.
"Kau dekat dengan Len-sama, ya?", tanya SNP (Si Nama Panjang/SF-A2 Miki).
"Aku 'kan anggota osis," jawabku santai.
"Kau sombong sekali, ya. Gumi Megpoid dari kelas 2-B!", kata anak buahnya, Sonika.
"Lalu kenapa?", tanyaku kesal.
"Kau pasti tahu akibatnya! Remu!", kata bos-nya sambil memberi aba-aba pada anak buahnya yang bernama Komorine Remu.
Si K.R itu memojokkanku di tembok dan anak buah satunya lagi, Galaco, bersiap-siap meninjuku.
Tapi...
"Tunggu!", seru seseorang.
Aku terkejut saat melihatnya.
Dia membelaku? Bukan main rasanya... Rasanya berdebar-debar campur senang... Karena dia adalah...
Bersambung...
