YOOOOSH! Ini Ch. 4 w)9
Ada yang nunggu atau nggak sabar? OwO (mimpi)
Baca ya OwO
Hope you like!
Penindasan ini rasanya menguntungkan...
Karena 'DIA' membelaku!
Orang yang kusukai membelaku!
'DIA'... 'HIBIKI'...
Aakh! Rasanya senang sekali!
Dia menyelamatkanku!
Rasanya mau meledak!
"Kalian sedang apa?", tanya Hibiki dengan nada dingin.
"Ha? Apa maksudmu? Dasar cowok jelek! Pergi sana!", balas SNP.
Hibiki menghela nafas kemudian menatap mereka dengan sinis.
"Mau kulaporkan pada pangeran kalian... Si LEN?", tanya Hibiki lagi.
Keenam orang itu merinding saat melihat tatapan Hibiki dan mereka langsung lari terbirit-birit.
"Te... Terima kasih Hibiki-kun!", kataku dengan wajah merona.
"Tidak apa-apa. Hati-hati, ya, pada penggemar gila seperti mereka!", balas Hibiki sambil tersenyum manis.
Huwaaa! Rasanya benar-benar sudah meledak!
Senyumnya indah! Menawan! Tampan sekali!
Aku menutupi mukaku lalu berlari, rasanya benar-benar nggak karuan deh.
Perasaan senang, sedih, kecewa, marah, dan tak enak bercampur menjadi satu.
Dan perasaan yang campur aduk itu berubah menjadi... Debaran hati...
Syukurlah... Aku senang sudah menyukainya...
Bel masuk telah berbunyi, anak-anak berlari ramai-ramai ke dalam kelas.
Semuanya duduk tenang menunggu guru kelas masing-masing.
Sementara yang lain menunggu dengan ekspresi formal, aku menunggu sambil senyum-senyum sendiri dengan wajah memerah.
"Duuuh! Seandainya tadi aku sempat memotretnya! Tapi memegang ponsel saja tak sanggup...", gerutuku dalam hati.
Aku ingin melihat senyum Hibiki lagi... Sangat ingin...
"Gumi! Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?", tanya Yuzuki Yukari, sahabatku.
"Eh... Suka suka aku dong!", jawabku.
"Iya, sih... Tapi menurutku kamu jadi kayak orang gila! Gimana kalau sampai dilihat Hibiki?", tanya Yukari lagi.
"Mana mungkin! Dia 'kan dikelas A!", balasku.
"Begitu? Kau tidak kepikiran atau tidak menyadari kalau aku memotretmu tadi?", tanya Yukari untuk yang ke tiga kalinya.
Ekspresiku langsung berubah seketika.
Dia memotretku tanpa ijin! Menyebalkaaaaaan!
"Yukari, kamu me...", seruku, tapi terpotong oleh ucapan Hibiki Lui, cowok kecil sok imut. Anaknya Ring Suzune kayaknya (._. Habis nggak cocok dibilang pacar, umurnya aja masih 12).
"Kalian manggil?", tanyanya.
Aku dan Yukari menatapnya dengan tajam dan sinis.
"Jangan ke-GR-an deh bocaaaah!", seru kami bersamaan.
Lui langsung terpental jauh ke Kutub Utara(?).
"Tadi kamu mau ngomong apa?", tanya Yukari.
"Kamu itu terlalu me...", jawabku dengan suara keras histeris, tapi terpotong lagi oleh kata-kata IA, cewek cantik tapi aneh.
"Boleh aku ikutan? Aku juga mau ngobrol! Bosan nih!", tawarnya.
Aku dan Yukari menoleh tajam padanya dan kembali berteriak, "Nggak usah! Dengerin aja sana!".
IA-pun ikut terpental bersama Lui.
"Apa? Nggak dengar nih?", tanya Yukari beberapa menit kemudian.
"Kamu itu terlalu men...", seruku, tapi terpotong lagi! Kali ini karena Tei Sukone, cewek yandere berbahaya yang cantik.
"APA LAGI!?", seruku dan Yukari yang sudah kesal.
"Kalian lihat Iroha?", tanyanya dengan senyum yandere.
Aku dan Yukari bungkam karena takut sekali.
Kami berdua hanya menggeleng pelan.
"Oh begitu... Terima kasih, ya... Dasar tidak berguna!", balasnya sambil tersenyum yandere.
Rasanya tubuhku sampai berkeringat dingin dan lemas.
Aku tak bisa berkata-kata lagi, begitupula Yukari.
Tapi di saat seperti ini, penolong datang!
Dia membuatku dapat menghilangkan takutku.
Siapa lagi kalau bukan Gumo?
Saudara jauhku itu.
Tapi rasanya kalau diingat-ingat... Dulu pernah terjadi kejadian seperti ini...
Saat aku ketakutan dan Gumo berusaha melindungiku...
Kenapa akhir-akhir ini ingatan seperti itu muncul?
"Ada apa Gumi?", tanya Gumo sambil berjalan mendekatiku.
Tapi aku tak bisa menjawabnya dan hanya bisa tertunduk dengan wajah yang merah merona.
"kamu ketakutan sama si Tei?", tanya Gumo lagi.
Aku tak bisa menjawab dan tak mau menjawab.
Selain malas, aku juga malu.
"Hei! Jawab dong!", kata Gumo sambil menarik pipiku.
"Duh! Sakit!", kataku pelan.
Aah! Gumo menyebalkan!
Jangan tarik pipiku!
Eh... Tapi... Rasanya...
Delapan tahun lalu juga persis seperti ini...
Kenangan yang...sangat...
Bersambung...
Don't forget to review X3
