HORA *O*
Ini chapter 5-nya ._.
Maaf membuat kalian menunggu .-.#slap
Selamat membaca ^w^
Saat aku masih kecil...
Saat aku masih bersama Gumo...
Dan bahagia bersama...
Di saat suka, duka...
Di saat aku takut, aku menangis, aku tertawa... Gumo selalu...
.
.
.
.
.
.
.
.
"Gumi! Selamat pagi!", sapa Gumo dengan riang dan semangat.
"Ngg... Gumo...?".
Dia melihatku yang menangis terisak karena ketakutan.
Aku yang masih kecil saat itu sangat takut pada petir karena selalu teringat kenangan berdarah.
"Kenapa Gumi?!", tanya Gumo sambil berlari menghampiriku.
"A...aku... Aku takut petir! Huweee... Aku takut!", jawabku sambil menangis.
Gumo memelukku yang ketakutan dan menenangkanku.
"Sudahlah Gumi! Ada aku disini! Aku akan melindungimu!", kata Gumo sambil tersenyum.
"Ja... Janji?", tanyaku.
Tak terasa air mataku berhenti mengalir.
"Iya! Aku janji! Ayo janji kelingking!", jawabnya.
Kamipun melingkarkan kelingking kami dan berjanji...
Tapi aku tahu, itu takkan mungkin...
.
"Gumi?", tanya Gumo resah.
Lagi-lagi air mataku menetes karena mengingat kenangan masa kecil.
Kenapa begini?
"Aku hanya menguap kok! Ngantuk, sih. Pagi ini 'kan dingin! Aku mau cuci muka dulu, ya!", ujarku lalu pergi ke toilet.
Di toilet aku terus menangis disertai oleh hujan lebat yang mendadak.
"Gumo bodoh...", isakku sambil mengusap air mataku.
Kenapa jadi begini?
Padahal seharusnya aku benci padanya... Apa artinya?
"Huwa!", pekikku.
Aku lupa! Pelajaran pasti sudah dimulai! Aku keasyikan nangis di toilet nih!
Aah! Mau ke kelas juga takut. Gimana nihh!?
Dan tiba-tiba terdengar sensei memanggil namaku.
"Nona Megpoid Gumi, 60".
Ha?! Kaget aku...
Apaan?
Hasil ujian?
Aku dapat 60? Mepet banget!
Nilai rata-rata sekolah 45, rata-rata kelas 30, rata-rata pribadiku 90.
Haaaaaa! Jauh banget dari rata-rata pribadiku!
A...apa biang keladinya?
Aku harus cari tahu!
Tapi tiba-tiba suara sensei terdengar lagi.
"Megpoid Gumo, 80!".
Dan terdengar sekelas tepuk tangan dan menyahut-nyahut.
Apa-apaan ini!?
Jangan-jangan ini ulah Gumo yang membuatku repot...?
Setelah hasil tes diberi tahu, rasanya aku jadi malas masuk sekolah.
Aku lebih pilih belajar di rumah.
Lagipula rasanya aku darah rendah sekarang.
"Masak dulu ah...", pikirku.
Aku menuju dapur dan membuat tamago tofu.
Aku bisa makan dan belajar dengan tenang sampai jam lima nanti.
Rasanya damai dan tenang...
Beberapa menit kemudian, Tamago Tofu telah siap! Aku juga sudah lapar!
Aku meletakkan di meja kemudian makan sambil membaca buku pengetahuan.
Setelah selesai membaca 100 halaman, aku membaca buku lainnya.
Tentu saja buku pelajaran! Aku membacanya dengan senang hati sambil mencicil tamago tofu-ku.
"Ah, habis...", pikirku.
Aku meletakkannya di dapur dan hanya membilasnya.
"Seandainya aku punya tutor pribadi...", pikirku lagi.
Aku pasti dapat lebih pintar.
Padahal sebelum Gumo pindah kemari, rasanya tenang, nyaman, dan lain-lain. Nilai-nilaiku juga lebih bagus.
Tapi... Rasanya hampa...
Apa aku memang lebih suka jika ada Gumo?
Pukul lima sore, aku iseng menjemput Gumo di stasiun.
Aku menunggu reaksinya, apakah dia akan terkejut saat melihatku? Hehe.
Tiba-tiba aku melihat ada seorang laki-laki sebayaku yang berambut hijau.
Itu pasti Gumo!
Tapi...
"Gumo-kun hebat, ya! Pintar sekali!", kata seorang gadis berambut ungu dan pink keputih-putihan.
Sepertinya aku mengenal suara mereka.
"Gumo-kun juga tampan!", kata seorang gadis lagi. Kali ini berambut biru.
Sepertinya aku mengenal mereka bertiga. Tapi... Kenapa aku tak senang Gumo dikelilingi anak-anak cewek?
"Ehm... Terima kasih, ya... Aoki-chan, Yuzuki-chan, dan IA-chan!", jawab Gumo sambil tersenyum canggung.
Aah... Gumo bodoh! Kenapa...? Kenapa kamu bersama mereka bertiga!?
"Gumo-san!", sapa seorang gadis berambut kuning dengan balutan perban-perban di matanya.
Itu... Olivia!?
"Eh... Olivia-san...", balas Gumo.
"Eng... Begini... Bisakah kita berbicara besok sepulang sekolah? Berdua saja, ya!", ajak Olivia dengan malu-malu.
Tampak tiga gadis yang tadi bersamanya sangat kesal.
"Oh, baiklah! Besok, ya!", jawab Gumo.
Wajahnya tampak merona dihadapan Olivia.
Gumo... Apa maksud semua ini?
Apa aku harus men-stalking-mu sampai besok?!
Dasar bodoh!
Lho... Tunggu... Kok aku jadi kesal begini? Masa bodo sama si Gumo!
Tapi kenapa aku begini sih?
"Gumo! Sebelum bertemu Olivia, aku ingin bicara sebentar!", kata Yukari.
"Aah! Jangan! Besok main saja denganku!", ajak IA sambil memeluk lengan Gumo.
"Ti...tidak! Besok aku ada acara dengan Gumo!", balas Lapis dengan mantap.
Kenapa mereka memperebutkan Gumo dan... Kenapa aku jadi kesal sekali?
Gumo bodoh! Bodoh! Bodooooh sekali!
Aku takkan bicara padamu sampai aku selesai menjadi stalker-mu besok!
Lihat saja Gumo dan anak-anak cewek itu! Aku akan menghancurkan rencana kalian!
Hohoho!
Tunggu saja besok!
Kutinggal, deh, si Gumo. Tak jadi kujemput.
Aneh, ya? Biar, deh.
###
Pulangnya, Gumo sama sekali tak mampir ke rumahku.
Benar-benar mencurigakan!
Jangan-jangan dia ada harem dengan anak-anak cewek tadi?
Cih... Gumo bego! Pokoknya lihat saja besok!
Aku sudah tak sabar!
Bersambung...
REVIEW ^o^
Ulalaa~ XD#slap
