The Runaway : Survivor From the West
Chapter : 01 - Fellow
.
.
.
Alfred kembali menghela nafasnya untuk yang ketiga kalinya di hari itu. Jari telunjuk tangan kanannya terus menggerakkan scroll mouse, ke atas dan kebawah. Kedua bola mata biru tertuju pada monitor LCD di hadapannya, membaca berbagai daftar berita dengan topik yang sama untuk yang kesekian kalinya. Mulutnya berkata-kata apa yang ia baca dengan suara yang membosankan.
"..Sekelompok Penjelajah Hutan Ditemukan Tanpa Jantung. Warga Wellington Digemparkan Dengan Ditemukannya Kulit Manusia. 3 Orang Peneliti Swedia Hilang Secara Misterius. Terror Jack The Ripper?! Pfftt.. Yang benar saja!" Alfred mendengus menahan tawa, dan melanjutkan membaca.
Alfred tidak menyadari suara ketukan pintu beberapa menit kemudian, dilanjuti dengan suara pintu yang dibuka lalu ditutup, menandakan ada yang datang ke apartemennya.
"Al, berita bagus! Kita dapat project lagi! Kali ini pihak Universitas Auckland meminta kita untuk mendokumentasikan acara kelulusan mahasiswa mereka bulan depan," suara riang Sean mengisi ruangan apartemen yang hening itu. Alfred yang tidak menyadari kedatangan temannya, kaget dan hampir terjatuh dari kursinya.
"A-ah! Sean! Sejak kapan kau datang?" kata Alfred sambil mengusap lututnya yang tidak sengaja terpentok meja komputer saat ia kaget tadi.
"Baru saja. Kaget ya? Tadi aku sudah mengetuk pintu, tapi kau tidak menjawab," jawab Sean polos sebelum melihat layar komputer yang sedang Alfred pakai, "Membaca berita lagi, eh? Masih tentang kanibalisme?"
Alfred menghela nafas (yang keempat kalinya), "Iya, akhir-akhir ini semakin banyak berita tentang hal itu. Dan yang membuatku takut adalah kebanyakan dari berita itu terjadi di Amerika, tepatnya di Florida," ia menundukkan kepalanya.
"Kau pasti mengkhawatirkan keluargamu, iya 'kan Al?"
"Tentu saja! Bagaimana tidak, pertama, berita-berita kanibalisme ini banyak terjadi di Florida, kedua, sejak 2 minggu yang lalu, aku tidak bisa menghubungi keluargaku! Aku mencoba menelpon mereka, tapi tidak pernah diangkat, aku mengirim surat kepada mereka, tapi tidak pernah dibalas! Dan Matthew, aku sering mengirimnya e-mail, tapi terakhir kali ia membalas e-mailku 2 minggu yang lalu! Tepat saat terakhir kali aku menghubungi keluargaku!"
"..Dan aku sering melihat kalian video chat di Skype hampir setiap malam," tambah Sean.
"..Benar. Akhir-akhir ini Matthew tidak pernah online lagi di Skype. Aku menunggunya setiap malam, tapi tidak, dia tidak pernah online," Alfred menundukkan kepalanya, "Tidak sama sekali,"
Sean bergumam 'hmmm', seperti biasanya saat ia sedang berpikir, "Apa kau pernah coba menghubungi teman-temanmu?" sarannya.
"..Selasa kemarin aku mengirim e-mail kepada Ryan dan Fred, tapi mereka tidak membalasnya sampai sekarang," Alfred terdiam sebentar, lalu kembali menghela nafasnya untuk yang kelima kalinya, "Sean, aku.. Aku khawatir. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi di Florida? Bagaimana jika keluargaku.. mereka.."
"..Apa kau berpikir hal yang sama denganku?"
Alfred mendongakkan kepalanya, menatap Sean, "Maksudmu, kau juga berpikir ada yang terjadi disana?"
"Umm.. I-iya sih, tapi.. Kalau pun memang benar, bukankah seharusnya beritanya sudah tayang di TV? Maksudku, memang sudah ada beberapa yang ditayangkan di TV, tapi itu seperti hanya sekedar sebuah berita biasa yang tayangnya cuma sekali-dua kali, dan bukan sebuah 'berita besar' atau 'hot news' yang ditayangkan berulang kali seperti berita Tsunami di Jepang tahun lalu," Sean menggaruk bagian belakang lehernya, "Err.. kau mengerti maksudku 'kan?"
Alfred tampak sedang berpikir sesaat, lalu ia mengangguk, "Kau mungkin benar,"
"Jadi, apa yang akan kau lakukan tentang ini?
Alfred terdiam sebentar, lalu ia menatap Sean dengan mantap, "Aku akan menjenguk keluargaku di Florida,"
Sean mengangguk, "Kurasa itu yang terbaik,"
"Lusa depan,"
Sean terkejut, "E-eh?! A-apa itu tidak terlalu cepat?"
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama, Sean. Aku benar-benar mengkhawatirkan mereka," Alfred kembali ke komputernya dan mengetik sebuah alamat situs di browsernya.
"Bagaimana dengan bookingnya?"
"Sedang kulakukan, aku yakin mereka bisa menerima booking dekat hari. Aku belum pernah memesan di maskapai ini,"
"Kurasa," Sean tersenyum kecil, "Kau mau pizza?"
OoOoOoOo
Dua hari menjelang penerbangannya ke Florida terasa begitu lama bagi Alfred. Namun ia mencoba bersabar walaupun ia sangat tidak sabar (ia bukanlah tipe orang yang penyabar). Selama dua hari tersebut ia mencoba untuk tidak membuka Yahoo!News maupun US News, dan lebih menghabiskan waktunya bermain game (non-zombie) untuk menghilangkan kekhawatirannya walaupun hanya sementara. Ia juga menonton kembali beberapa film favoritnya, walaupun film-film itu sudah berkali-kali ia tonton.
Setelah terasa seperti 2 minggu, tibalah hari penerbangan Alfred ke Florida. Ia bangun lebih pagi dari biasanya dan segera bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Saat ia sedang merapikan baju-bajunya, Sean mengetuk pintu kamarnya.
"Hey, Al. Aku beli sarapan, kutaruh di meja ya!" sahut Sean di sisi lain pintu.
"Ah, ya! Nanti aku makan!" balas Alfred.
"Ngomong-ngomong, jam berapa penerbangannya?"
"Jam 10 nanti," Alfred keluar dari kamarnya, membawa sebuah koper kecil dan menggunakan tas ransel berukuran medium favoritnya, sebuah ekspresi tidak sabar terlihat di wajahnya, ia menunjuk jam tangannya, "Dua jam lagi," tambahnya.
Sean mengangguk, "Umm.. apa kau yakin tentang ini?"
Alfred mendengus, "Heh, kenapa kau baru bertanya sekarang? Tentu saja aku yakin! Aku sangat meng—"
"..Khawatirkan keluargamu, aku mengerti," kata Sean memotong perkataan pemuda Amerika tersebut, "Err.. hanya saja, aku.. punya perasaan tidak enak," ia mengangkat bahunya, "Tapi kurasa itu hanya perasaanku saja,"
"Heh, kau itu sering sekali punya perasaan buruk, kau tahu itu 'kan?"
"Yah, kurasa begitu,"
"Ayolah Sean, aku hanya akan berada di Florida selama.." Alfred berpikir sebentar, "seminggu, kurasa,"
Sean kembali mengangguk, "Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku akan mencari taxi dulu. Sambil menungguku, kau makan saja dulu sarapanmu!" ia menepuk pundak Alfred lalu pergi.
Alfred menghela nafas, "Bukan kau saja yang mempunyai perasaan buruk," gumamnya, lalu ia duduk di meja makan dan memakan sarapannya; beberapa jenis pastry yang Sean beli dari sebuah pabrik roti yang tidak jauh dari apartemen mereka.
Sekitar 20 menit kemudian, Sean datang dan memberitahu bahwa taxi telah menunggu dibawah. Alfred segera membawa ranselnya, sementara koper mini-nya dibawakan oleh Sean. Setelah kedua freelancer muda tersebut masuk ke taxi, Alfred memberi alamat bandara yang dituju kepada supir dan mereka pun berangkat.
Selama perjalanan menuju bandara, mereka berbicara apa pun yang dapat mereka pikirkan untuk menghindari keheningan yang akan membuat keduanya memikirkan hal-hal yang buruk. Sesekali Alfred mengajak bicara sang supir (dan syukurlah, supir yang mereka dapatkan cukup ramah) dan mengatakan beberapa humor yang membuat mereka semua tertawa.
"Hey Al, aku baru ingat, kita ada project dari Universitas Auckland bulan depan," kata Sean sambil terengah-engah setelah tertawa.
"Oh iya, foto kelulusan mahasiswa, ya? Tenanglah, aku hanya seminggu di Florida,"
"Aku tau, tadi kau sudah bilang. Hanya mau memberi tahu saja, kalau misalnya kau mau lebih lama lagi di Florida, hubungi aku. Jadi setidaknya aku bisa meminta bantuan kepada Jake untuk bersiap menggantikanmu,"
Alfred mengangguk, "Oke!"
Perjalanan menuju bandara tidak lama, biasanya hanya menempuh waktu sekitar 30 menit. Namun, hari ini sepertinya kota Auckland sedang sangat sibuk, karena Alfred sempat terjebak macet selama 15 menit ("Dasar macet sialan,") dan membuatnya hampir telat menuju penerbangannya.
Sesampainya di bandara, setelah melakukan pengecekan barang, mereka agak terkejut dan bersyukur karena pesawat yang akan Alfred tumpangi belum berangkat, ia pun memutuskan untuk menunggu penerbangannya di sebuah kios makanan tidak jauh dari pelataran pesawat untuk membeli beberapa makanan kecil dan snack ("Apa salahnya kalau aku makan lagi? Tenang saja, kue-kue kecil tidak akan membuatku mual di pesawat, kok!"). Melepas ranselnya sebentar, Alfred mengecek jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15, sementara seharusnya pesawatnya sudah berangkat 15 menit yang lalu. "Hmmm.. penerbangannya sudah telat 15 menit," gumam Alfred.
Sean mengangguk pelan, "Mungkin pesawatnya sedang ada sedikit perbaikan?" Alfred berpikir sebentar, "Tapi, bukankah seharusnya ada pengumuman?"
Sebelum Sean dapat membalas, tiba-tiba hanphonenya berbunyi, tanda ada yang menelponnya. Ia segera mengizinkan diri sebelum menekan tombol Call lalu berjalan pergi ke area yang lebih sepi, dimana Alfred tidak bisa mendengar percakapannya dengan si pemanggil. Alfred bergerutu pelan, Sean memang selalu begitu saat menerima panggilan, menurutnya percakapan lewat handphone atau telephone itu sangat privat, dan tidak sopan bila ada yang mendengar apalagi menguping.
Setelah lama menunggu Sean yang tidak kunjung berhenti berbicara di telepon, Alfred mulai mengetuk-ngetuk meja dengan jemari tangan kanannya, membuat sebuah nada asal-asalan, seperti biasanya saat ia sedang bosan atau sedang menunggu sesuatu. Pandangannya pun tertuju pada sebuah jam besar yang dipajang di dinding kios, bersebelahan dengan beberapa pajangan lukisan-lukisan abstrak yang terpajang di dinding. Jam itu menunjukkan pukul 10.23.
Penerbangannya terlambat 23 menit.
'Maskapai macam apa yang penerbangannya bisa telat selama ini?! Apa-apaan yang sedang kru pesawat lakukan sekarang?' Alfred mulai tidak sabar, ia pun menebak-nebak alasan apa saja yang bisa membuat penerbangannya terlambat. Alasan yang paling kuat adalah perbaikan pesawat, mungkin saja pesawatnya mengalami beberapa kerusakan karena penerbangan sebelumnya, tapi bukankah harusnya mereka umumkan itu sedari tadi? Atau mungkin karena cuaca yang buruk? Itu pun seharusnya juga diumumkan. Oh, awas saja kalau keterlambatan penerbangan ini dikarenakan pilotnya yang tidur kebablasan.
Sebelum Alfred dapat berpikir yang lainnya, Sean yang sudah selesai menelpon menghampiri dan menepuk pundaknya. "Al, aku dapat panggilan dari Jake. Ia memintaku untuk membantu pamannya mengurusi koala-koalanya," kata Sean, "Tidak apa 'kan kalau aku pergi sekarang?"
Alfred mengangguk pelan, "Tidak apa kok! Aku bisa sendirian," ia mengacungkan jempolnya dengan mantap
Sean tersenyum, "Baiklah, semoga perjalananmu lancar ya, Al! Beritahu aku bila kau sudah sampai di Florida, sampai jumpa!" dengan sebuah tepukan terakhir di pundak Alfred, Sean lalu melambaikan tangannya dan berjalan pergi, seketika menghilang di antara rombongan orang-orang yang berlalu-lalang. Setelah beberapa detik memandang ke arah hilangnya Sean, Alfred menghela nafas, "Dasar, padahal aku belum berangkat," gumamnya. Tidak lama kemudian, ia mengeluarkan handphonenya dan bermain game Temple Run sambil menunggu pengumuman keberangkatan pesawatnya.
Setelah beberapa menit (dan beberapa kali karakternya berhasil diterkam oleh monyet-monyet hitam), Alfred memutuskan untuk berhenti bermain dan matanya kembali melihat jam.
Sudah pukul 10.45
"Oh! Mereka pasti bercanda!"Alfred bergerutu keras. Menaruh kembali handphone di saku jaketnya, ia memasukkan bungkus-bungkus makanan ringan yang ia beli ke dalam tas ransel dan kembali memakainya. Ia pun menarik koper mininya, bergegas pergi menuju Information Center, dalam hatinya ia terus mengatakan 'Aku tidak akan terbang dengan maskapai ini lagi!' dengan kesal.
Sesampainya di sana, Alfred mendapati seorang perempuan muda yang sedang menerima telpon dengan wajah cemas. Alfred hanya bisa melihatnya dengan kesal, terlalu malas untuk mencoba mendengar apa yang ia bicarakan. Tidak lama kemudian, perempuan itu menutup telponnya dan menulis sebuah catatan di selembar kertas, tidak mengetahui keberadaan Alfred yang tepat berada didepannya.
Perempuan itu kaget ketika ia baru menyadari Alfred yang berdiri didepannya setelah Alfred mengeluarkan suara dari tenggorokkannya, wajahnya langsung memerah karena gugup, "Ah! M-Maaf! A-ada yang bisa saya bantu?" ia berkata dengan terbata-bata, saat itu juga Alfred yakin perempuan ini pasti baru di pekerjaannya. Ia menghela nafas kesal.
"Permisi," Alfred memulai dengan nada sedikit kurang sopan, "Saya mau tanya, kapan pesawat maskapai Nations Air Line tujuan Florida dengan nomor penerbangan B-257-L berangkatnya? Saya ingat jadwal pesawatnya akan lepas landas jam 10.00, tapi sekarang sudah jam 10.45," kata Alfred dengan kesal, jarinya menunjuk ke jam tangan Swatchnya untuk membuktikan kalau ia tidak salah waktu.
Mendengar keluhan Alfred, perempuan itu kembali terlihat cemas dan segera mengambil selembar kertas yang ia tulis tadi, mengamatinya dan dengan terbata-bata, ia berkata, "A-ah, iya.. M-maaf, baru saja saya menerima panggilan dari pihak bandara Amerika. M-mereka mengatakan semua bandara di sana ditutup karena keadaan darurat selama sebulan—"
"SEBULAN?! YANG BENAR SAJA!" dengan reflek Alfred membentak meja informasi, mengagetkan perempuan tersebut yang terlihat semakin ketakutan dan memancing perhatian orang-orang yang berjalan disekitarnya.
Tiba-tiba seorang pemuda, teman perempuan itu duduk menggantikannya, ekspresi wajahnya datar, "Maaf pak, kami baru saja mendapatkan informasi dari pihak US Air Line, semua bandara internasional di Amerika ditutup untuk sementara, perkiraan mereka sampai bulan depan. Mereka sedang melakukan penutupan jalur keluar masuk antar negara dari berbagai pihak. Tidak hanya bandara saja, mereka juga menutup pelabuhan, dan jalan tol di perbatasan negara. Dan karena itu, semua penerbangan menuju negara tersebut di semua bandara dibatalkan sampai ada informasi terbaru dari pihak sananya," beritahunya dengan suara yang juga datar.
Menghiraukan cara pemuda itu menyebutnya 'pak' (karena ia masih muda, dasar!) Alfred menggertakkan giginya, "Kenapa mereka melakukan itu? Memang apa yang terjadi disana? Bagaimana dengan penerbangan saya?!"
Pemuda hanya mengangkat bahunya, "Mereka hanya mengatakan sedang dalam keadaan darurat, hanya itu yang kami ketahui karena itu saja yang mereka katakan pada kami. Maaf, penerbangan anda telah dibatalkan. Jika itu saja yang ingin anda tanya, silahkan pergi, karena masih ada banyak orang lain yang ingin bertanya, sekali lagi kami minta maaf," pemuda tersebut menggestur tangannya ke arah belakang Alfred, dimana banyak orang telah berbaris menunggu giliran mereka untuk bertanya, beberapa dari mereka ada yang sedang duduk di bangku terdekat.
Alfred mendengus kesal, dengan sebuah gumaman 'Terima kasih' ia pergi dengan kecewa, menarik koper mininya kembali sambil berjalan menuju sebuah tempat duduk tidak jauh dari kios makanan yang tadi ia datangi. Dari tempat duduk ini ia bisa melihat berbagai pesawat mendarat dan lepas landas.
Ia menatap ke berbagai pesawat, beberapa ada yang baru datang, dan ada yang baru lepas landas. Ia menghela nafas panjang, 'Bagaimana aku bisa ke Florida sekarang? Aku tidak tahu bandara lain selain ini di kota Auckland,'. Alfred menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya, mengambil nafas dalam-dalam.
Tidak lama kemudian, ia mendengar alarm tanda pengumuman,
'Perhatian, bagi penumpang pesawat seluruh maskapai bertujuan Washington, Texas, Florida dan California. Karena sebuah keadaan darurat, kami terpaksa membatalkan seluruh penerbangan. Sekali lagi, perhatian bagi penumpang pesawat seluruh maskapai bertujuan Washington, Texas, Florida dan California. Karena sebuah keadaan darurat, kami terpaksa membatalkan seluruh penerbangan. Kami memohon maaf atas ketidak nyamanan anda. Untuk informasi lebih lengkap, silahkan tanya kepada Information Center. Terima kasih.'
Pengumuman tersebut diulang dua kali, dan Alfred dapat mendengar beberapa orang disekitarnya terkesiap dan berkomentar setelah mendengar pengumuman tadi. Tidak sedikit dari mereka berkomentar kesal.
"Apa-apaan ini?! Kok bisa begitu sih?!"
"Kenapa pengumumannya baru sekarang?"
"Aah! Padahal aku sedang buru-buru kesana!"
"Sudahlah! Kita pindah bandara saja!"
"Payah!"
Alfred menghela nafas, menghiraukan suara berisik seorang pria yang terdengar sedang marah-marah ke salah satu karyawan. Tiba-tiba pikirannya kembali ke kata-kata pemuda di Information Center tadi, "Penutupan jalur keluar masuk antar negara," bisiknya, "Itu berarti, tidak ada orang yang boleh masuk ke sana, juga tidak ada yang boleh keluar dari sana," Alfred terdiam sebentar.
Mata birunya pun membesar ketika ia menyadari sesuatu, ia melepaskan kedua telapak tangannya dari wajahnya, "Keadaan darurat," ia berkata sendiri, "Orang itu bilang ada keadaan darurat. Keadaan darurat yang sampai membuat Amerika menutup jalur keluar masuk ke negara," gumamnya pelan.
"Pertama, berita-berita aneh di Yahoo!News itu, lalu Matthew dan ibu yang susah sekali dihubungi, Ryan dan Fred yang tidak pernah membalas e-mailku, dan sekarang ini. Tidak salah lagi, pasti ada yang sedang terjadi disana!"
Ia berhenti sebentar, "Berarti, dugaanku benar. Tapi, zombie? Apa mereka benar-benar ada? M-mereka pasti hanya ada di game dan film, iya 'kan?" keringat dingin mulai mengucur di dahinya, Alfred segera mengelapnya menggunakan lengan tangannya. "Zombie atau bukan, tetap saja aku tidak bisa pergi ke Amerika! Pindah bandara pun sama saja, semua pesawat tidak akan ada yang kesana," Alfred lesu, harapannya hilang. Ia kembali menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya, "Mungkin memang sebaiknya aku tidak pergi kesana,"
Beberapa saat kemudian, Alfred pun beranjak dari bangkunya. Menggenggam gagang koper mininya, ia hendak berjalan keluar dari bandara.
Dan disaat itulah tidak sengaja ia mendengar sebuah percakapan.
"Oh! Mon ami, kau sudah sampai? Dimana kau sekarang? Ah, kau tunggu disana, nanti aku akan menjemputmu. Aku sedang membeli makanan dulu sebentar. Hey, apa kau yakin kita akan berangkat ke Florida sekarang? Maksudku, kau baru saja sampai disini, kau pasti kelelahan,"
Mata Alfred kembali membesar ketika ia tidak sengaja mendengar percakapan seseorang yang tidak jauh darinya. Ia melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari asal suara tersebut.
Rupanya suara itu berasal dari seorang pria yang sedang menelpon seseorang sambil duduk di kursi kios makanan tempat Alfred membeli beberapa snacknya tadi. Pria itu duduk membelakanginya, Alfred hanya bisa melihat rambut pirang cerahnya yang dikuncir dan jaket hitam bertuliskan Marseille yang ia pakai. Kalau saja Alfred tidak mendengar suaranya, ia pasti akan mengira orang ini adalah seorang wanita.
"A-ah, yasudah yasudah, terserah kau sajalah. Ehh, tidak perlu pakai emosi begitu, Artie. Kau itu biarpun kelelahan masih saja marah-marah. Oui, aku juga mendengar pengumuman itu. Aneh 'kan? Kurasa memang sedang ada yang terjadi disana. Yah, kita bicarakan ini nanti saja saat kutemui kau. Sudahlah, diam ditempat sana, jangan berani kemana-mana. Aku terlalu malas memutari bandara besar ini hanya untuk mencarimu!" kata pria itu mengakhiri panggilannya lalu mengantongi handphone Samsungnya.
"Tuan, hot dog pesanan anda," seorang pelayan kios memberi pria tersebut sebuah hot dog berukuran sedang, dengan sebuah 'Terima kasih' pria itu memberinya beberapa lembar uang, mengatakan si pelayan boleh mengambil kembaliannya. Ia lalu mengambil hot dognya dan beranjak dari kursinya.
Tanpa berpikir panjang, Alfred bergegas menghampiri pria tersebut, "U-umm.. Hey!" panggilnya.
Pria itu terhenti, merasa dirinya dipanggil, ia menoleh kebelakang. Alfred pun bertemu dengan dua pasang mata biru seperti miliknya. Setelah cukup dekat, ia bisa melihat sebuah janggut tipis di dagu pria itu. Dari wajah dan tingginya yang melebihi Alfred, ia menebak pria ini berumur sekitar 25 tahun.
"Oui? Ada yang bisa kubantu?" tanya pria tersebut. Alfred pun menyadari sebuah aksen berbeda dari pria ini. Aksen yang terdengar familiar, namun ia tidak bisa menebak apa.
"Ah, umm.. M-maaf sebelumnya, aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan temanmu saat kau menelponnya tadi. Apa kau benar akan ke Florida? Hari ini?"
Pria itu mengangguk dan berkata, "Oui, aku dan temanku akan pergi ke Florida hari ini. Kami ada urusan disana,"
"Boleh aku ikut denganmu?"
Sesaat, pria tersebut terlihat kaget, ia memiringkan kepalanya, "Pardon moi?"
Alfred menghela nafasnya dan mengulang kembali pertanyaannya, "Boleh aku ikut denganmu? Aku hanya ingin menumpang saja, aku juga ingin ke Florida hari ini, aku juga ada urusan penting disana, tapi mereka membatalkan semua penerbangan ke Amerika. Kau juga mendengar pengumumannya bukan? Aku tidak akan merepotkanmu. Janji!" kata-katanya terdengar penuh dengan harapan. Dan sepertinya pria ini memang harapan terakhir Alfred.
Pria itu memegang dagunya, ia menutup kedua matanya, sebuah gestur ia sedang berpikir. Keras. "Hmm.. Entahlah, maksudku, aku mau saja mengantarkanmu ke Florida, tapi temanku bukanlah orang yang senang bertemu dengan orang asing. Maksudku—"
Tidak. Alfred tidak akan mendapatkan penolakan. Ia tidak akan membiarkan pria ini mengatakan 'Tidak'. Lagipula, ia selalu mendapatkan apa yang ia harapkan. Biasanya. "Oh ayolah! Dengar, aku memiliki keluarga disana. Sudah lebih dari setahun aku tidak bertemu dengan mereka. Aku selalu mengontak mereka, namun akhir-akhir ini tiba-tiba saja aku tidak bisa menghubungi mereka. Lalu, ada berita-berita aneh di beberapa situs di internet mengatakan banyak kasus kanibalisme terjadi di Florida dan entah kenapa aku jadi memiliki perasaan buruk! Aku ingin memastikan mereka baik-baik saja di Miami—"
"Jadi, kau tahu?" tiga kata tersebut berhasil menghentikan perkataan Alfred.
"..Hah?" gumam Alfred, menatap bingung pria didepannya.
"..Oh, lupakan. Ngomong-ngomong, aku berubah pikiran. Maaf, aku tidak bisa membawamu ke Florida, si vous m'excusez," dengan sebuah lambaian tangan, pria itu berbalik dan mulai berjalan pergi. Namun, sebelum ia dapat menghilang di kerumuman orang-orang yang berlalu lalang, Alfred segera mengejarnya.
"H-hey! Tunggu sebentar!"
Pria itu menghiraukannya, ia terus berjalan dan jika diperhatikan, laju jalannya sedikit dipercepat. Alfred bergerutu kesal namun terus mengikutinya, menjaga jarak beberapa kaki dibelakangnya. "Dengar, aku tidak tau apa yang kau maksud tadi. Tapi jika yang kau maksud ada sesuatu yang terjadi disana, aku tahu itu! W-walaupun aku hanya menebak-nebak, tapi aku yakin pasti ada yang sedang terjadi disana! Aku tidak tahu apa, tapi pastinya ada hubungannya dengan berita-berita tentang kanibalisme itu!"
Alfred yakin pria berambut pirang itu berpura-pura tidak mendengar perkataannya, karena ia nyaris berteriak mengatakan kata-katanya tadi. Dengan sebuah geraman, Alfred mempercepat langkahnya dan menghalangi jalan pria tersebut. Ia merentangkan kedua tangannya, dan menelan ludah ketika melihat ekspresi sedikit kesal yang sekarang terpasang di wajah pria tersebut.
"Maaf, tapi aku tidak bisa menerima 'Tidak' sebagai jawabanmu. Tidak saat aku bisa memaksamu, tidak saat aku tidak bisa berhenti memikirkan keluargaku di Miami," kata Alfred dengan sedikit terengah-engah (bagaimana tidak, daritadi ia menarik koper mininya yang berat dan membawa tas ranselnya yang juga berat. Susah sekali mengejar seseorang dengan kedua barang tersebut!)
"Kenapa kau tidak coba menghubungi mereka saja?"
"Sudah kubilang, akhir-akhir ini aku tidak bisa menghubungi mereka! Kalau saja mereka bisa ku kontak, aku tidak akan di bandara ini! Aku tidak akan disini, di depanmu, memohon agar kau mau mengizinkanku ikut denganmu dan temanmu ke Florida! Aku hanya ingin bertemu dengan ibu dan adikku! Hanya mereka lah keluargaku yang masih hidup! Tolong bayangkan bagaimana perasaanmu jika—"
"..Baiklah,"
Alfred kaget dengan jawaban pria didepannya yang dadakan. "H-hah?"
Pria tersebut menghela nafas, "Baiklah, aku akan membawamu ke Florida dengan temanku," ia mengangguk kepada Alfred, "Aku.. tahu rasanya bagaimana terpisah dengan satu-satunya keluarga, dan.." sesaat, Alfred dapat melihat kesedihan di matanya. Namun, pria itu menutup kedua matanya dan tersenyum kepada Alfred, menawarkan tangannya yang tidak sedang memegang hot dognya yang ia beli tadi. "Perkenalkan, namaku Francis Bonnefoy,"
Alfred hanya menatap 'Francis', masih agak kaget dengan mudahnya ia mengubah jawabannya. Saat menyadari Francis sedang menawarkan tangannya, Alfred segera menjabatnya dengan mantap. "Alfred. Alfred F. Jones," katanya sambil tersenyum.
Setelah keduanya berkenalan dan mengobrol sebentar, mereka berjalan menuju sebuah food court dimana teman Francis sedang menunggunya. Selama berjalan, keduanya menceritakan beberapa hal tentang diri mereka sendiri (Francis sambil memakan hot dognya yang mulai dingin). Francis adalah seorang freshman broadcaster dari Perancis yang kebetulan tinggal di New Zealand karena mendapatkan beasiswa di sebuah universitas berlokasi di Wellington. Umurnya mendekati 23 tahun, dan ia memiliki sebuah akun YouTube bernama FrancisWentFilming yang memiliki cukup banyak subscriber. Dan temannya yang akan mereka temui di food court nanti bernama Arthur Kirkland dari Inggris.
Arthur adalah teman lama Francis, mereka bertemu di sekolah menengah pertama di Manchester, saat itu Francis adalah anak pindahan dari Marseille yang ikut ayahnya pindah ke Inggris karena urusan bisnis. Ia menjadi kakak kelas Arthur di sekolah dan keduanya nyaris tidak pernah akrab hanya dikarenakan saat itu Arthur sangat membenci orang Perancis, dan selalu memanggil mereka dengan sebutan 'kodok'. Mereka ternyata tinggal di satu jalan yang sama, itu membuat mereka tidak bisa menghindarkan pertemuan dengan satu sama lain setiap harinya yang selalu diakhiri dengan perkelahian. Alfred tidak bisa menahan tawaannya saat Francis menceritakan beberapa perkelahian konyolnya dengan Arthur.
Keduanya juga masuk di sekolah menengah awal yang sama, membuat keduanya sangat kaget. Setelah bertahun-tahun menjadi musuh yang tidak jelas alasannya, keduanya memutuskan untuk mencoba mentoleransikan satu sama lain, ini membuat mereka mulai dekat dan menjadi cukup akrab, dan siapa sangka mereka masih berteman dan berkontak sampai keduanya kuliah, walaupun sudah terpisah beberapa ratus kilometer.
Dari sekian cerita yang Francis ceritakan tentang Arthur, Alfred menyimpulkan bahwa Arthur adalah orang yang keras, sensitif, mudah marah, namun sangat loyal dan dapat dipercaya.
Dan Francis tidak pernah menceritakan mengapa ia ingin ke Florida, ada urusan apa dia disana.
Saat Alfred sedang sibuk memikirkan itu, ia tidak sadar mereka sudah sampai di food court yang mereka tuju. Ia pun kaget ketika tiba-tiba ia mendengar Francis berseru, "Oh, itu dia! Hey, Arthur!" sapanya.
Alfred mendongakkan kepalanya (sejak kapan ia menunduk?) dan melihat-lihat ke sekelilingnya, mencari orang yang mungkin saja adalah Arthur. Beberapa menit kemudian, seseorang menghampiri mereka dan Alfred melihat dua pasang mata terhijau yang pernah ia lihat. Arthur, atau Francis sering memanggilnya Artie, memiliki rambut berantakan berwarna pirang seperti warna rambut milik Francis. Matanya berwarna hijau seperti dedaunan, kulitnya putih agak pucat. Tingginya lebih pendek dari Francis, dan Alfred yakin ia juga lebih pendek darinya. Namun yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa adalah alisnya. Francis benar-benar tidak berbohong ketika ia mengatakan Arthur memiliki alis yang sangat tebal, karena memang benar. Alis Arthur sangat tebal. Alfred harus bersusah payah menahan tawanya.
"Francis," sapa Arthur dengan nada kasual dan terdengar agak bosan.
Francis menjabat tangan Arthur dan menepuk pundaknya, "Ah, sudah lama tidak bertemu, hm? Bagaimana kabarmu, mon ami? Alismu masih tebal saja,"
Arthur memukul kepala Francis, dan dari suara yang Francis keluarkan, ia memukulnya keras, "Bloody Hell! Harus berapa kali kukatakan jangan komentar apa-apa tentang alisku, bodoh!"
Francis hanya mengusap bagian kepalanya yang dipukul dan tertawa lemas, "Ahaha.. sulit sekali untuk tidak berkomentar tentang alismu yang abnormal itu,"
Arthur hendak memukulnya lagi, namun pandangannya tidak sengaja tertuju pada seorang pemuda bermata biru dan berkacamata yang sedari tadi berdiri di belakang Francis, ia memakai sebuah tas ransel berwarna hitam, berukuran medium dan membawa sebuah koper mini. Arthur memicikkan matanya, "Dan siapa dia?" tanyanya sambil menunjuk ke arah pemuda tersebut.
Pemuda yang ditunjuk hanya bisa menelan ludahnya, "A-aku Alfred—"
"Dia akan ikut dengan kita ke Florida. Dia hanya ingin menumpang saja kok," lanjut Francis sambil menepuk pundak Alfred yang lalu menganggukan kepalanya dengan agak grogi. Tatapan Arthur yang sinis mengatakan padanya bahwa idenya untuk ikut dengan Francis dan Arthur adalah ide buruk. Shit.
Arthur, setelah beberapa detik mendengar kata-kata Francis, langsung menariknya dengan kasar dan membawanya beberapa meter dari jangkauan pendengaran Alfred. "Francis," mulainya dengan nada mengancam, "Apa kau lupa dengan keadaan Florida sekarang atau kau memang terlalu idiot sampai mengizinkan anak bocah sepertinya ikut dengan kita kesana! For God's sake, apa yang kau pikirkan?! Dia bisa saja terbunuh dan hukuman kita akan semakin berat!" ia mengepal kerah Francis dengan kuat dan hampir menggeram.
Francis menelan ludah. Ia pernah melihat Arthur semarah ini sebelumnya, dan harus ia akui, itu sangat menakutkan. Seingatnya ia mendapati mata kirinya babak belur dan bagian bawah bibirnya sobek, darahnya mengalir ke baju putihnya dan mewarnainya dengan bercak besar berwarna merah. Tidak lupa dengan kepalanya yang terasa sangat sakit dan perawatan di rumah sakit selama kurang lebih seminggu. Itu pertama kalinya ia menghina alis Arthur. Ia bergidik ketika kembali mengingat memori beberapa tahun yang lalu tersebut.
Francis mengangkat kedua tangannya, "Mon Dieu, A-Arthur, dengar, kalau kau ingin menghajarku seperti beberapa tahun lalu, setidaknya jangan disini. Lagipula, anak itu hanya ingin menumpang saja, setelah kita sampai di Florida, ia akan pergi ke arah yang berbeda dengan kita,"
"Sendirian?! Francis, apa kau ingin membunuhnya?! Aku tidak ingin ada korban jiwa di urusan kita ini, apalagi korbannya adalah bocah ingusan yang tidak tahu apa-apaan yang terjadi di tempat tujuannya! Katakan padanya kau berubah pikiran lalu suruh ia pulang dan lupakan tujuannya untuk pergi ke Florida! Tempat itu bukanlah tempat untuk liburan lagi!" Arthur mulai meninggikan nada suara, ia menekan setiap katanya.
"T-tapi, Arthur—"
"Sudahlah! Jangan buang-buang waktu kita! Kita harus berangkat ke Florida hari ini juga! Katakan saja padanya kau berubah pikiran atau apalah! Aku yakin ia juga akan langsung me—"
"Mon Dieu, Arthur! Ia memiliki keluarga disana!"
Kata-kata itu berhasil membuat Arthur kehilangan suaranya untuk sementara, juga membuat Alfred yang sedari tadi melihat ke sekelilingnya melirik bingung ke arah mereka yang terlihat tengah bertengkar. Francis pun mengambil kesempatannya untuk segera melanjutkan, "Ia hanya memiliki ibu dan seorang adik, sudah lebih dari setahun ia tidak bertemu dengan mereka. Ia hanya ingin memastikan keduanya dalam keadaan baik-baik saja karena ia memiliki perasaan buruk setelah mengetahui beberapa kejadian di Florida lewat berita di internet! Arthur.. dari awal, ia sudah curiga. Ia sudah mengetahui apa yang terjadi di Florida dan itulah kenapa ia akan pergi kesana. Ia hanya ingin bertemu dengan keluarganya. Ia memiliki tujuan yang sama denganmu,"
Arthur (yang sedari tadi menundukkan kepalanya) menggertakkan giginya, ia mengangkat tangan kanannya, menyuruh Francis untuk tidak melanjutkan perkataannya lagi. Setelah menunggu beberapa lama, Francis mendengar Arthur menghela nafas panjang, dan ia tersenyum kecil. Ia tahu apa jawaban dari teman lamanya ini.
"..Terserah kau sajalah," gumam Arthur, ia mengangkat kepalanya dan menatap Francis dengan kesal, "Tapi pastikan kau memberitahu anak itu apa yang sebenarnya terjadi di Florida sekarang,"
"Memang apa yang terjadi di Florida sekarang?" Arthur dan Francis seketika kaget dan segera melihat ke asal suara.
Alfred yang masih membawa kopernya berdiri tidak jauh dari mereka, tatapannya penuh dengan penasaran. Sesaat kemudian, ekspresinya berubah menjadi agak panik dan grogi, dan ia menggaruk bagian belakang lehernya. "Ah! M-maaf aku menguping! Aku mendengar Francis menyebutkan keluargaku dan aku menjadi penasaran—"
"Non, non, ce n'est pas grave, maaf aku mengatakannya terlalu keras," Francis menghampiri Alfred dan segera menepuk pundaknya, ia melihat ke Arthur dan mendapatkan sorotan tajam mata temannya yang mengatakan 'Beritahu. Padanya. Sekarang'. Francis bergidik dan mengangguk pelan, "Ah, ngomong-ngomong.. Ada yang ingin ku beritahu padamu, ini tentang Florida," kata Francis pelan.
Alfred seketika terlihat penasaran, ia melihat Francis dengan tidak sabar. Francis lalu menggestur kepalanya ke pintu keluar Bandara, "Kuberitahu di mobilku saja, oui? Disini terlalu ramai," Saat Alfred mengangguk, Francis tersenyum kecil lalu berjalan disampingnya, diikuti Arthur yang terlihat masih ragu berjalan dibelakang mereka, menuju ke luar Bandara.
Kuharap aku membuat keputusan yang tepat mengizinkannya ikut kesana.
OoOoOoOo
Alfred F. Jones, adalah seorang pemuda berumur 21 tahun, berasal dari Miami, Florida, Amerika Serikat. Selama masa kecilnya, ia habiskan bersama keluarga tercintanya, bermain bersama teman-temannya dan menjahili Matthew, adik kandungnya yang memiliki sifat yang jauh berbeda darinya.
Saat umurnya menjelang 9 tahun, ayahnya pergi bekerja ke sebuah tempat yang jauh dari rumahnya, dan tidak pernah kembali, atau pun memberi kabar berupa apapun. Setiap akhir tahun, Alfred selalu menunggu kedatangan ayahnya untuk merayakan natal dan awal tahun bersamanya. Namun ayahnya tidak pernah pulang. Alfred bahkan tidak tahu apa pekerjaan ayahnya.
Saat umurnya menginjak 12 tahun, kakeknya memberinya sebuah kamera mini sebagai hadiah ulang tahunnya yang lalu Alfred gunakan untuk memfoto apapun yang menurutnya menarik. Sejak itu pun, Alfred tertarik dalam bidang fotografi, terlebih ketika ibunya membelikannya kamera professional saat ia berumur 16 tahun.
Hobinya dalam bidang fotografi berkembang menjadi bakat. Berkali-kali ia memenangkan kontes fotografi di kotanya, maupun di internet. Ia mulai mencintai dunia fotografi, dan bercita-cita menjadi seorang fotografer professional yang dikenal banyak orang.
Suatu hari, ia bertemu dengan Sean Austin, seorang freelance photographer muda dari New Zealand lewat Tumblr. Saling memiliki minat dan hobi yang sama membuat mereka akrab dalam waktu dekat, Sean yang lalu melihat banyak hasil foto luar biasa Alfred kemudian mengajak Alfred untuk menjadi partnernya dalam pekerjaannya, yaitu seorang freelancer. Alfred pun segera menerimanya dan beberapa bulan kemudian, ia berangkat ke New Zealand, meninggalkan ibunya bersama dengan Matthew dan anjing kesayangannya di Miami.
Kini Alfred sudah menjadi seorang freelancer bersama dengan Sean kurang lebih selama 2 tahun, mereka tinggal di sebuah apartemen di kota Auckland.
Sering kali Alfred menghubungi ibunya dan Matthew di rumah, mengirimi mereka e-mail maupun menelpon (walaupun bertarif cukup mahal), dan terkadang video chat lewat Skype.
Namun, semenjak sebuah berita besar di Florida beberapa minggu yang lalu, Alfred kesulitan untuk menghubungi mereka. Setiap kali ia mencoba mengontak mereka, ia selalu mendapat respon nihil. Hal yang sama juga terjadi saat ia mencoba menghubungi teman-temannya di Florida maupun di beberapa kota di Amerika.
Ini membuat Alfred khawatir sekaligus curiga akan keadaan keluarga maupun teman-temannya di Florida, dan memutuskan untuk berangkat kesana.
Dan disinilah dia, dengan dua orang asing yang baru ia temui tidak sejam yang lalu. Berjalan keluar Bandara dan menuju sebuah mobil Terrano, sambil memikirkan apa yang sedang terjadi di kampung halamannya disana.
.
.
.
Chapter 01 : End
Note :
Gomenneeeeeeee.. QAQ
yaampun, udah hampir setahun saya gak update ini fic! Maaf banget! DX Saya asli sibuk banget sama sekolah soalnya sekarang tahun terakhir saya di smp QwQ Jadi jangankan nulis cerita, megang komputer aja jarang. Ditambah saya sempet kosong ide beberapa bulan, tapi thanks banget sama film World War Z yang awesome dan om Brad Pitt, semangat saya balik lagi buat terusin fic ini! Beserta dengan ide baru dan perubahan plot sedikit~ xD Semoga chapter panjang ini membayar penungguan lamanya ya! QwQ #dor
Maaf zombienya belom muncul, maaf isinya cuma basa-basi doang, silakan yang mau protes di review aja—#plak
Baidewei, Sean itu New Zealand, di headcanon saya human name dia itu xD
Entah kenapa saya pilih NZ, mungkin karena saya pengen banget kesana—#kokcurhat
Translation :
Oui = Ya
Non = Tidak
Mon ami = Temanku
Mon Dieu (My God) = Ya Tuhan
Pardon moi (Pardon Me) = Maaf
Si vous m'excusez (If you excuse me) = Permisi
Ce n'est pas grave (It's okay / It doesn't matter) = Tidak apa-apa (yang ini sama yang atas pakai gugel translet jadi maaf kalau salah x'D)
Makasih banyak buat yang review!
Maaf saya gak bisa bales reviewsnya lewat DM, jadi saya bales disini aja ya~ ;w;
Uchiha Ry-Chan : makasih Ry-chaan~ xD bahasa berita tuh emang asli ketje gimanaa gitu (?) xD
..ah itu.. ewe kayaknya musti tunggu satu ceritaku selesei dulu deh ya ewe #plak
Darkness Maiden : Hellooow Sayaka~ xDD Semoga chapter kedepannya greget ya xDD
Ichigo Kenji : aaaaaaaaa ternyata silent reader XDD makasih udah mau review the runaway yang ini ya~ XD
Mitsuru Kaoki : Hellooooooowwww~~ XDD Tenang, aku masih inget dirimu kook XDDD #pelukmonitor
Wkwkwkkwk, mungkin karena berita kedua sebenernya aku ambil idenya dari internet? xD itu asli beneran ada loh—#teruskenapa
Devil ArtShy : Ada kok~ ;3
Kagamine Yukimura : Zombie beneran ada sebenernya ewe tapi bukan mayat hidup, mereka asli manusia kanibal xDD suku-suku pedaleman di afrika (atau amerika ya?) tuh~ #itunamanyabukanzombie
Lanjut lah~ XD
Raras-chan : huwaaaaaaaaaaaaaaa QwQ maaf ceritanya baru di update!
Dan makasih banget atas reviewnya Raras-chan~ gak kok, saya asli gak marah.. justru reviewmu salah satu yang bikin saya langsung lanjutin cerita ini XDD sekali lagi makasih~
Seperti biasa~
Tolong review dan saya asli bakal usahain update cerita ini lebih cepet lagi~ QwQ Maaf kalau kesannya ngemis, saya butuh penyemangat buat terusin fanfic dan reviews adalah penyemangatnya QwQ #sokdramatis #plak
Kritik dan saran terbuka lebaar~ Lowongan(?) beta pun juga terbuka lebar selebar sawah deket rumah saya~ XDD #tebarpadi
Until next time~!
