Yahoo, ini dia chapter duanya, maaf banget, habisnya ini kehabisan ide malah maksa mau nge publish. Kalau begitu, silakan dibaca.

^.^

.

.

Summary : perjuangan karin dan kazune dalam mencari cinta pertama mereka. berbagai kesulitan harus mereka hadapi, apalagi dengan status mereka sebagai tunangan. mampukah mereka menemukan cinta pertama mereka?

.

Kamichama Karin © Koge Donbo

Rated : T

Pair : kazunexkarin

Warning : GaJe, OOC, OOT, Miss Typo, dll.

Genre : Romance and Humor

MY FIRST LOVE IS MY FIANCE

Chapter 2 : a Deal

Kelas II B, yang merupakan kelas Karin sedang heboh sekali. Walapun biasanya juga seperti itu, tapi kali ini berbeda. Katanya akan ada murid baru di kelas mereka. Mulailah murid-murid bergosip ria tentang seperti apa murid baru itu.

"Apa mungkin murid baru itu laki-laki? Aku harap dia tampan!"

"Aku harap dia gadis yang bodinya . . . wow!" dan lain lagi. Suara-suara itu tak terdengar lagi saat sensei masuk. Semuanya menatap sensei dengan penuh harap.

"Baiklah anak-anak, kita kedatangan murid baru. Ayo masuk!" Semua murid menatap pintu yang perlahan di geser. Tampaklah seorang laki-laki tampan berambut blonde dan bermata safir. Murid-murid perempuan langsung berteriak histeris melihatnya. Tapi lelaki itu terlihat tidak peduli.

"Namaku Kujyo Kazune. Salam kenal." Katanya singkat dan dingin. Karin yang dari tadi sibuk mencorat-coret kertas mengangkat alisnya mendengar nama lelaki itu. 'Kujyo? Rasanya aku pernah dengar' batinnya. Tapi dia langsung membuang pikiran itu dan terus menyibukkan diri dengan kertasnya, tanpa berniat menoleh ke arah murid baru itu.

"Baiklah, Kujyo. Kamu bisa duduk di bangku kosong sebelah Hanazono Karin-san." Karin mendongakkan wajahnya karena terkejut. Dia langsung melihat murid perempuan lainnya (minus Miyon) mendeathglarenya. Memang bangku di sebelahnya itu kosong karena teman sebangkunya itu pindah sekolah. Jadi Karin hanya bisa bergidik ngeri. Sayang Jin tidak bisa menolongnya. Oh, baru kali ini dia rindu dengan pacarnya itu.

Kazune berjalan dengan cuek menuju bangkunya. Karin terus menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian, sensei mulai memberikan pelajaran. Karin mencoba fokus dengan pelajaran walapun pikirannya pergi entah kemana. Tiba-tiba Kazune mengajaknya bicara.

"Kau Hanazono Karin, kan?" Tanyanya. Karin meliriknya dengan tatapan heran. Bukankah sensei tadi sudah mengatakannya? Dia hanya mengangguk pelan.

"Kau Hanazono Karin, anaknya Hanazono Fujisaki, pemilik hanazono corp itu kan?" Ulangnya. Karin jadi heran. Darimana murid baru ini tahu tentangnya? Karena otaknya agak sulit memproses (bahasa kerennya lemot), dia hanya mengangguk.

"Aku Kujyo Kazune . . ." Katanya lagi. Karin semakin heran. Bukankah dia sudah memperkenalkan diri?

"Anak Kujyo Kazuto, pemilik kujyo corp." Lanjutnya. Otak Karin masih memproses kata-kata Kazune, membuat Kazune menjadi tak sabar. Dia menghela napas, kemudian dengan cueknya berkata, "Calon. Tunanganmu."

1 detik.

2 detik.

3 detik.

4 detik.

5 detik

Dan . . .

"APA?!" Karin langsung berdiri dari bangkunya sambil menatap Kazune yang masih dengan wajah stoicnya. Semua mata memandang kearahnya. Sensei menatapnya heran. Karin langsung meminta maaf dan duduk kembali. Dia merutuki nasibnya. Selain nilainya yang rendah, sekarang dia menambah nilai buruknya di depan sensei. Sial sekali.

"Dasar perempuan, heboh sekali," Baru Karin duduk, Kazune langsung menghadiahinya kata 'pemacu emosi' itu. Ingin sekali dia menonjok wajah sok coolnya Kazune itu, tapi dia tidak ingin dapat nilai buruk di mata sensei lagi. Lagipula dia pasti dimusuhi semua murid perempuan. Karin mencoba tidak mempedulikan Kazune dan fokus dengan pelajaran lagi.


Bel istirahat berbunyi. Tak seperti biasanya, murid perempuan segera mengerumuni bangku Karin. bahkan ada yang mendorong Karin menjauh dari bangkunya. Dan semua ini karena Kazune. Karin menatap Kazune dengan kesal. Bagaimana mungkin dia tidak menolongnya yang harus menderita karena fansnya itu?

Kazune menoleh ke arahnya, kemudian berjongkok di depan Karin yang sedang terjatuh. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Karin membuat Karin sedikit merona. 'Di atap sekolah, kutunggu,' bisiknya sebelum pergi. Karin hanya bisa melongo. Kemudian tak berapa lama dia berjalan menyusul Kazune, bersama dengan tatapan 'manis' murid perempuan lainnya.

Karin POV

Aku berjalan menuju atap sekolah dengan perasaan campur aduk. Antara heran, kesal, shock, takut dan perasaan lainnya. aku menghela napas. Seberapa besar dosaku sehingga aku harus mengalami ini? Masalah perjodohan saja masih belum selesai, sekarang ditambah masalah 'calon tunangan' yang muncul tiba-tiba.

Tak lama kemudian, aku sampai di atap sekolah. aku melihat Kazune sedang menungguku sambil bersandar di dinding pembatas. Sepertinya dia tidak menyadari kedatanganku karena dia sedang sibuk menatap langit. Semilir angin menggerakkan rambutnya. Aku sempat terpesona sebentar akan ketampanannya. What? Tampan? Yah, kuakui dia memang tampan. Pantas saja semua murid perempuan langsung jatuh hati padanya. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, membuat wajahku merona karena ketahuan memperhatikannya.

"Oh, kau sudah datang," Ujarnya. Kemudian dia memejamkan matanya. "Kita langsung saja. Aku tidak ingin mengulur waktu. Apa kau menerima perjodohan ini?" tanyanya. Apa aku harus jujur? Tapi mengapa aku harus bohong? Argh, aku pusing!

"Jangan menerima perjodohan ini karena terpesona dengan ketampananku. Aku tidak akan pernah menerimamu. Jadi menyerahlah." Aku melotot. Tampan? Dia benar-benar narsis. Walaupun memang kenyataannya begitu tapi setidaknya dia tidak tidak boleh terlalu percaya diri.

"Kau pikir aku mau dengan lelaki sombong sepertimu? Lagipula aku sudah punya pacar!" dan orang yang kusuka' Tambahku. Aku benar-benar tidak tahan dengannya.

"Baguslah. Dengan begitu kerja sama ini akan lebih mudah dilakukan."

"Maksudmu?"

"Dengar, Orang tuaku tidak tahu aku ada di Tokyo. Ya, mungkin sekarang mereka sudah tahu. Mereka bahkan sudah memblokir semua ATM dan kartu kreditku. Terutama ibuku! Dia pasti akan melakukan segala cara agar pertunangan ini tetap berjalan." Aku jadi bergidik ngeri membayangkannya. Ternyata Kazune juga memiliki ibu yang tak jauh mengerikan dari ibuku. Pantas banyak suami yang takut istri.

"Tapi paling tidak mereka tidak mengetahui keberadaanku. Beruntung aku sudah menduganya." Tambahnya.

"Jadi kau melarikan diri kesini?"

"Kurang lebih seperti itu." Wah, Kami-sama benar-benar mendengar doaku. Calon tunanganku benar-benar seorang pembangkang. Aku jadi sedikit kagum padanya.

"Seperti yang kukatakan tadi, kau dan aku sama-sama tidak menerima perjodohan ini. Jadi aku mengajakmu bekerja sama."

"Untuk apa aku harus bekerja sama denganmu?"

"Kau tidak mau? Bukankah kau sudah punya pacar? Kau mau memutuskan hubunganmu begitu saja hanya karena perjodohan bodoh ini?"

"Aku tidak mencintai pacarku. Jadi tidak ada untungnya aku menolongmu." dia menghela napas berat.

"Tapi, bukannya kau menolak perjodohan ini?" aku tertunduk. Tentu saja aku menolaknya.

"Atau . . . . kau sudah terpesona denganku?" wajahku langsung merona.

"E-enak saja! Sudah kubilang, kan? Lelaki sepertimu itu bukan tipeku! A-aku juga sudah punya orang yang kusuka." Jantungku berdetak kencang. Kenapa aku gugup di dekatnya?

"Kalau begitu, kau tidak punya alasan untuk menolak kerjasama ini, kan? Kau ingin bersama laki-laki itu, kan?"

"A-aku memang ingin bersamanya. Tapi bukan berarti aku harus bekerja sama denganmu! Lagipula tanpa bantuanmu pun aku pasti bisa menggagalkan perjodohan ini!" dia menatapku tajam, membuatku terdiam.

"Kau yakin? Apakah kau pikir kau bisa melakukannya? Melihat ekspresimu tadi sepertinya tidak mungkin." Dia mendesah sebelum melanjutkan kata-katanya. "Tujuanku kesini adalah mencari seorang perempuan yang tidak menepati janjinya. Ibuku berpikir jika aku terus menunggu perempuan itu aku mungkin tidak akan punya pacar seumur hidup." Aku terkejut melihat kazune yang tersenyum. Dia benar-benar tampan! Oh, apa yang kupikirkan?

"Jadi jika kau berhasil menemukan perempuan itu mungkin pertunangan kita akan batal?"

"Ya. Tapi aku tidak terlalu mengenal wilayah tokyo ini, sedangkan waktuku tidak banyak. Jika ibuku sudah menemukanku, maka aku pasti tidak akan punya kesempatan untuk mencarinya. Dia pasti akan menjagaku dengan ketat, bahkan mengurungku. Karena itu aku ingin kau menolongku."

"Kalau aku tidak mau?" dia menyeringai.

"Akan kupastikan kau akan 'menikah' sebulan lagi." Wha-oh, aku benar-benar membencinya!

"K-kau mengancamku?"

"Mungkin. Dan aku serius. Melihat dari situasinya juga tidak mustahil. Aku yakin kau tau itu." Aku menelan ludah. Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Aku menghela napas lega.

"Pikirkan baik-baik. Aku menunggu jawabanmu, Karin." Dia langsung berlalu pergi meninggalkanku.


Normal POV

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Karin melangkahkan kakinya dengan gontai. Karin berhenti di depan sebuah taman. Dia terdiam. Di taman itu terlihat anak lelaki dan anak perempuan yang sedang bermain bersama. Karin langsung mengambil sesuatu di dalam tasnya. Cincin pemberian laki-laki itu. Dia mengusap-usap cincin itu. Tiba-tiba dia teringat kata-kata kazune di atap tadi. Kau ingin bersama laki-laki itu, kan? Tentu saja, dia ingin bersamanya. Jika dia ada disini. Jika dia masih mengingatnya. Karin mendesah. Lebih baik dia menyegarkan pikirannya.

Sesampainya dirumah dia langsung naik ke atas, menuju kamarnya. Karin bahkan belum mengganti bajunya. Dia merebahkan diri di kasurnya sambil menatap cincin itu. Melihat cincin itu membuatnya teringat dengan Kazune. Kazune juga menunggu seseorang yang dia suka. Dia bahkan berjuang keras begitu hanya untuk menemukannya. Sedang kan dia . . . 'mungkin aku harus menunggu lebih sabar lagi,' batin Karin.

Karin segera bangkit. dia mengganti bajunya kemudian segera ke ruang makan. Perutnya benar-benar lapar. Tadi dia tidak sempat makan siang. Saat mendekati ruang makan, langkah Karin terhenti saat mendengar suara yang sudah tak asing bagi telinganya. Itu suara ibu dan ayahnya. Karin berniat pergi tapi keinginan tersebut langsung hilang saat dia mendengar orangtuanya menyebut namanya. Mereka mebicarakannya! Karin langsung menguping.

"Sayang, Karin menolaknya, kan? Terus bagaimana? Akankah lebih baik kita biarkan dia memilih saja." Karin mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan ibunya.

"Tidak bisa. Kita tidak bisa mebiarkannya terus-terusan berangan-angan seperti itu. Laki-laki yang ditunggunya mungkin saja sudah melupakannya. Hal itu justru membuatnya lebih terluka," Karin tertegun. Ayahnya benar. Dia terus-menerus berharap hal yang tidak mungkin.

"tapi sayang, dia masih muda. Masih punya banyak kesempatan. dia juga sudah punya pacar, kan? Yang namanya Kuga Jin itu."

"aku tidak suka dia pacaran dengan idol itu," Karin cemberut. 'aku juga tidak suka dengannya,' batinnya. "lagipula kita sudah janji dengan Kazuto dan Suzuka. Mereka mitra kita dari dulu. Membatalkan perjodohan ini sama saja dengan kita ingin bermusuhan dengan mereka. Dan itu akan berakibat fatal bagi perusahaan kita," Karin menunduk. Tangannya terkepal. Dia kecewa dengan orang tuanya. "kau benar. Karin pasti mengerti," setelah itu, Karin tidak mendengar perkataan orang tuanya. Rasa laparnya langsung menghilang. Dia segera masuk kamar dan mambanting tubuhnya di kasur empuknya.

Karin pasti mengerti. 'Apanya yang mengerti? Demi aku? Semuanya hanya untuk bisnis!' pikir Karin. Tubuhnya bergetar, matanya berkaca-kaca. Kau yakin? Apakah kau pikir kau bisa melakukannya? Melihat ekspresimu tadi sepertinya tidak mungkin. Karin tertegun. 'Kazune benar. Aku tidak bisa melakukannya sendiri.' Aku mengajakmu bekerja sama. Kata-kata itu terus terngiang dipikirannya. Dia menatap cincin di meja belajarnya itu lama sebelum akhirnya menghela napas berat. Setelah melakukan itu dia langsung mengambil handphonenya, menekan nomor seseorang, dan menelponnya. Tak lama kemudian, orang itu mengangkatnya. Karin segera bicara. "aku ingin bicara denganmu. Ku tunggu di cafe dekat sekolah jam 18.00 nanti." Katanya sebelum menutup telponnya. Setelah itu Karin menatap cincin itu dalam. 'kau pasti mengngingatku, kan? Kau akan menjemputku, kan?'


Jam 18.00. di cafe dekat sekolahnya. Sesuai perjanjian. Karin sudah duduk di salah satu bangku di cafe itu bersama dengan orang yang di telponnya tadi yang tak lain adalah Kazune.

"Sebelum itu, aku ingin bertanya, apa alasanmu ingin mencari perempuan itu?" kata Karin memulai pembicaraan.

"Dia tidak menepati janjinya. dan membuatku menunggu selama ini. Tapi . . . karena aku mencintainya, aku akan mengejarnya," jawab Kazune mantap. Karin menghela napas.

"Baiklah. Kalau begitu berikan fotonya padaku. Mungkin aku pernah melihatnya," Kazune menyeringai.

"Jadi . . ."

"Ya, aku akan membantumu."

.

.

To Be Continue