Hunter Agent
WARNING: di fanfic ini, Gon bakal jadi cewek dan berumur 15 tahun!
Disclaimer: HxH milik togashi-sensei, fanfic ini hanya meminjam nama dan jalan ceritanya, heheā¦
PROLOG
-Pulau Kujira, di sebuah rumah kecil di atas bukit-
Gonia Freecs membuka matanya saat mendengar suara burung-burung yang ribut berkicau di jendelanya, seolah sengaja bernyanyi memanggilnya untuk segera bangun. Gonia, atau yang biasa dipanggil Gon duduk dan meregangkan tubuhnya.
"Hai..hai.. wakatta. Aku sudah bangun." Gon tersenyum sambil menatap burung-burung itu. Seolah paham dengan perkataan Gon, burung-burung itu berkicau riang dan segera terbang ke arah hutan. Gon menatap meja belajarnya dan menyadari sesuatu saat melihat kalender digital yang terletak di atas mejanya. Ia segera melompat bangun dari kasurnya, menyambar handuknya dan berlari menuju kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia telah rapi dan segera bergabung dengan Mito-san dan neneknya menyiapkan sarapan. Setelah sarapan siap, mereka duduk bersama di meja makan.
"Mito-san, hari ini adalah ulang tahunku yang ke 15." Gon memulai pembicaraan. Mito-san tidak menanggapi pernyataan dari Gon. Ia melanjutkan suapannya seolah ia tak mendengar apa-apa.
Nenek yang melihat itu meletakkan sendoknya. "Mito, kau sudah berjanji bukan? Dewasalah dan tepati janjimu."
Setelah nenek berbicara, barulah Mito mulai bereaksi. Ia meletakkan sendoknya, dan tanpa berkata apa-apa bangkit dari kursinya, meninggalkan sarapannya yang baru setengah dimakan. Gon menatap kepergian bibinya dengan ekspresi khawatir.
"Jangan khawatir Gon. Bibimu hanya khawatir padamu karena ia terlalu menyayangimu." Sambil tersenyum lembut membelai rambutnya. "Bicaralah sekali lagi padanya. Nenek yakin ia akan mengizinkanmu pergi. Lagipula, Mito tak pernah mengingkari janjinya padamu bukan?"
Gon tersenyum kecil. "Aku tahu. Mito-san selalu menepati janjinya."
##
-Gunung Kukuru, di sebuah manor besar di puncak tertinggi-
BAM!
CRASH!
"Killua! Kembali!" seorang wanita berteriak kea rah seorang anak laki-laki berambut putih keperakan yang berlari menuju pintu keluar.
"Hell no!" Killua berlari tanpa menatap ke belakang lagi. Ia sudah muak dengan kehidupannya yang selalu diatur. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia ingin merasakan kebebasan. Akhirnya kesempatan itu datang padanya. Kakak tertuanya yang ditakutinya hari ini keluar untuk menjalankan beberapa tugas, begitu pula ayah dan kakeknya. Yang tertinggal di rumah hanyalah dua orang adik perempuannya, Alluka dan Kalluto, kakak laki-lakinya yang kedua, Milluki, dan ibunya beserta beberapa pelayan. Ia tahu, Alluka dan Kalluto tak akan ikut campur, sementara ibunya dan Milluki? Mereka bukan tandingannya.
##
-Kota Padirika, di sebuah apartemen kecil-
"Yosh, semua yang kubutuhkan sudah berada di dalam koper." Leorio menutup kopernya dan memandang apartemen kecilnya yang telah rapi dan bersih. Ia tahu ia tak akan bisa pulang untuk sementara waktu, jadi paling tidak ia meninggalkan apartemennya ini dalam keadaan yang baik.
Leorio menegakkan badannya dan merogoh sakunya. Ia mengambil sehelai tiket dari sakunya. "Dole City, huh?" batin leorio. Ia menyimpan tiket itu kembali dan berjalan kea rah meja belajarnya. Ia menatap foto yang dipajangnya di atas meja belajarnya. Foto masa kecilnya dengan temannya yang berharga.
"Maafkan aku tak bisa menyelamatkanmu Pietro. Tapi aku tak akan membiarkan orang lain untuk bernasib sama denganmu. Aku berjanji! Karena itu, do'akan aku!" Leorio mengepalkan tangannya penuh tekad. Ia mengambil kopernya dan berjalan keluar dari apartemennya.
##
-Hutan Midori, di sebuah perkampungan di tengah hutan-
"Kau masih bisa mengubah pikiranmu, dear."
"Maafkan aku nenek, tapi ini adalah tujuan hidupku. Aku sudah menetapkan hatiku semenjak 5 tahun yang lalu. Aku tak akan melupakan apa yang sudah terjadi. Ibu, Ayah, Pairo, bahkan kakek tetua yang menyebalkan itu! Semuanya direnggut dariku!"
Wanita tua itu menghela napas panjang. "Baiklah Kurapika, jika itu memang pilihanmu. Tapi ingat dear, balas dendam tak akan menghasilkan apapun. Yang tertinggal sesudah balas dendam hanyalah kekosongan."
Kurapika tak menjawab perkataan nenek itu. Ia menundukkan kepalanya menatap tanah. Ia paham dengan akhir dari jalan yang akan dipilihnya ini, namun ia tak peduli. Hanya inilah tujuan hidupnya dan tanpa hal ini, hidupnya tak berarti.
"Kau sudah menetapkan hatimu, dan aku tak bisa mengubah pendirianmu. Tapi aku tak akan pernah berhenti berharap, suatu saat aka nada yang berhasil mengubahmu dan memberimu senyuman yang tulus." Nenek itu mengelus lembut rambut Kurapika yang berwarna pirang keemasan.
##
