Hunter Agent
WARNING: di fanfic ini, Gon bakal jadi cewek dan berumur 15 tahun!
Disclaimer: HxH masih milik togashi-sensei, fanfic ini hanya meminjam nama dan jalan ceritanya, hehe…
yume sora: arigatou buat review nya!
CHAPTER 1 - PERTEMUAN
"Sampai jumpa Mito-san!" Gon melambaikan tangannya dengan penuh semangat. Mito hanya menatap kepergian Gon dengan senyum. Ia akhirnya berdamai dengan perasaannya dan melepas Gon untuk pergi.
Flashback
"Kenapa kau ingin pergi?" Mito bertanya dengan suara serak. "Apa yang ingin kau cari dari laki-laki yang sudah meninggalkanmu tanpa tanggung jawab?"
Gon menatap bibi nya dengan mata penuh tekad. "Aku ingin bertemu dengannya dan mencari tahu, apa yang membuatnya rela meninggalkanku dan tak pernah menemuiku. Apapun itu, pastilah jauh lebih berharga dariku, putri tunggalnya." Gon menurunkan nada suaranya. "Aku pasti akan kembali, Mito-san, karena ini adalah satu-satunya rumahku dan kau adalah satu-satunya ibuku. Karena itu, kumohon mengertilah dan izinkan aku pergi. Aku tak akan bisa pergi dengan tenang jika kau bersikap seperti ini padaku, Mito-san." Gon berkata dengan suara yang semakin mengecil.
Mito terdiam mendengar pernyataan dari keponakannya. Akhirnya ia menegakkan badannya dan memeluk Gon dengan lembut. "Kau berjanji akan pulang?"
"Un." Gon menganggukkan kepalanya.
"Kurasa aku tak punya pilihan lain." Mito mulai tersenyum. "Selama kau berjanji menjaga dirimu dengan baik dan pulang dalam keadaan selamat, kau boleh pergi."
Gon mempererat pelukannya pada Mito. "Arigatou Mito-san."
Mito tersenyum kecil. Ia tak bisa menolak takdir. Seperti yang selalu dikatakan ibunya, darah Ging mengalir di tubuh Gon, dan ia tak bisa mengingkari hal itu. Mengawasi Gon tumbuh besar, ia seperti melihat replica Ging, hanya saja dengan gender yang berbeda.
"Tapi Gon, kenapa harus dengan kapal?" Mito bertanya dengan tiba-tiba.
End of Flashback
Gon menatap Pulau Kujira yang terlihat semakin jauh. Bahkan saat ini saja, ia sudah mulai merindukan Mito-san, neneknya, dan teman-teman hewannya. Namun Gon sama sekali tidak menyesali keputusannya.
"Haah.. tak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini." Gon menatap laut yang tenang dengan ombak yang kecil. Tiba-tiba matanya menangkap pemandangan yang menarik. Gon tersenyum dan menyadari apa yang bisa ia lakukan untuk menghabiskan waktunya.
##
Leorio mengamati kegiatan-kegiatan di atas kapal dengan malas. Dilihatnya orang-orang yang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang bermain lempar pisau, minum-minum, atau berbaring dengan malas seperti dirinya.
Leorio mengedarkan pandangannya ke arah tiang kapal. Dilihatnya seseorang bersandar dengan tenang disana, matanya hampir terpejam seolah tak peduli dangan keadaan disekitarnya. Leorio menatap orang itu dengan penasaran. Umurnya mungkin sekitar 17 tahun, dengan wajah yang cantik untuk ukuran seorang laki-laki dan rambut pirang keemasan.
Seakan sadar dia sedang diamati, ia membuka matanya dan menatap Leorio dengan tajam. Leorio terkejut dan segera mengalihkan pandangannya kea rah lain. Hal berikut yang menarik pandangannya adalah seorang gadis yang dengan santainya duduk di tepi kapal sambil memancing. Umurnya mungkin baru sekitar 15-16 tahun. Wajahnya manis dengan rambut hitam sepunggung diikat dengan model ekor kuda. Gadis itu duduk dengan tenang, ekspresi wajahnya terlihat bahagia, dan itu membuatnya terlihat seperti bersinar. Sama seperti kejadian sebelumnya, gadis itu juga menyadari pandangan Leorio padanya. Namun yang berbeda, ia balas menatap Leorio dan tersenyum manis padanya.
Leorio tergeragap dan kembali mengalihkan pandangannya. Saat itulah terdengar suara ribut pertengkaran. Leorio menegakkan kepalanya dan melihat salah seorang penumpang kapal telibat perkelahian dengan seorang anak buah kapal. Leorio menatap pertarungan itu dengan tertarik. Well. Ia tidak ingin terlibat, tapi tetap saja ia ia tertarik dengan hasilnya.
Penumpang kapal yang lain juga mulai berkumpul di sekeliling 2 orang tersebut. Tak lama kemudian, Seorang laki-laki paruh baya menghardik orang-orang yang berkumpul tersebut dengan suara keras.
"Hentikan pertengkaran ini sekarang juga!"
Seluruh penjuru kapal langsung hening. Laki-laki itu menatap kedua orang yang bertarung tadi dengan ekspresi marah.
"Gatso, aku tahu niatmu baik, tapi lakukan dengan cara yang benar tanpa menimbulkan keributan seperti ini!"
Laki-laki yang dipanggil Gatso itu menundukkan kepalanya. "Maafkan saya Kapten." Ucapnya dengan suara penuh penyesalan.
"Dan kau anak muda, melempar-lempar pisaumu di atas kapal ini bukanlah ide yang bagus. Aku tak peduli jika pisau itu mengenai salah satu dari kalian, namun aku tak ingin ada goresan di kapalku akibat kecerobohanmu!" Kapten itu menarik napas sebelum melanjutkan luapan amarahnya. "Jika aku menemukan tingkah seperti ini lagi, aku akan melempar kalian ke laut tanpa ampun!"
Hening..
Suasana kapal yang hening dipecahkan oleh celetukan dari ujung kapal.
"Badai akan datang."
Sang Kapten menatap sumber suara, gadis yang duduk di tepi kapal dengan pancingnya.
"Bagaimana kau tahu?" Tanya Kapten itu setelah terdiam sesaat.
"Aku bisa merasakannya. Angin mulai terasa lembab dan asin. Dan burung-burung itu memperingatkanku."
"Tch!" Leorio menatap tidak percaya. "Kau pikir kami akan percaya? Memangnya kau mengerti bahasa burung?"
Gon tersenyum kecil, sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan Leorio. "Aku tidak terlalu mengerti bahasa burung, tapi aku bisa memahami beberapa." Jawab Gon. "Dan dari tadi, mereka terus berteriak, 'bahaya..bahaya..'"
Kapten itu tersenyum menatap Gon. "Jadi menurutmu, seberapa kuat badai itu dan berapa lama lagi kita akan mencapai pusat badai itu?"
Gon terdiam. Ia mencoba mencium bau sesuatu di udara. "Hmm.. burung-burung itu berkata bahwa badainya cukup kuat, dan menurut perkiraanku, kita akan sampai kira-kira dalam waktu 2 jam."
"Kalian dengar itu? Tunggu apa lagi? Naikkan layarnya!" Kapten itu tertawa lebar. "Aku sudah berlayar selama bertahun-tahun, namun baru 2 orang yang bisa melakukan hal seperti ini. Kau yang kedua, nak." Kapten itu berlalu sambil menepuk kepala Gon.
"Yang kedua?" Batin Gon.
##
Sesuai perkiraan Gon, badai datang dengan tepat waktu. Seluruh kapal bergoncang. Sang Kapten berkeliling kapal sambil mengamati keadaan penumpang-penumpangnya.
"Che, kalian mempunyai tubuh kekar tapi hati yang kecil." Kapten itu menatap orang-orang yang hampir pingsan di kabin dalam. "Tak adakah orang yang berguna menumpang di kapalku tahun ini?" batin Kapten. Saat ia akan menutup pintu kabin, gerakannya terhenti saat menatap salah satu sudut kabin. Dilihatnya seorang laki-laki sedang sibuk memakan apel, seorang remaja yang ia tak yakin apakah laki-laki atau perempuan tertidur dengan nyenyaknya di tempat tidur gantung dan terakhir gadis yang tadi berbicara dengannya sedang asyik bermain acrobat diatas barel yang sedang berguling-guling diatas kapal yang tak stabil.
"Hmm…" kapten itu tersenyum penuh arti sebelum akhirnya menutup pintu.
Beberapa jam kemudian….
Gon berdiri di haluan kapal. Badai telah berlalu dan lautan sedang terlihat tenang, namun ia tahu, ini belum berakhir. Gon kembali mencium bau sesuatu di udara dan berdiri sesaat sambil menutup matanya. Tanpa disadarinya, sang Kapten telah kembali berada di belakangnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, nak?"
Gon menoleh dengan kaget. "A-ano… badai akan datang kembali…"
"Benarkah? Di laut yang tenang ini?"
"Aku yakin." Gon menatap kapten itu tanpa berkedip.
Kapten itu tersentak. Sekelebat ingatan masa lalu terbayang olehnya. "Nak, apa kau dari Kujira Island?" tanyanya setelah terdiam sesaat.
Gon hanya mengangguk.
"Apa tujuanmu bepergian sendiri? Padahal usiamu masih muda dan kau perempuan. Apa kau tidak takut?"
"Aku ingin mencari ayahku!" Jawab Gon dengan semangat. "Aku akan baik-baik saja karena aku sudah berjanji pada Mito-san dan Mito-san percaya padaku."
Kapten itu tertawa. "Ging, putrimu benar-benar tumbuh seperti dirimu." Batin sang Kapten. Ia kembali menepuk kepala Gon dengan lembut. "Siapa namamu, nak?"
"Gonia Freecs! Tapi anda bisa memanggilku Gon!" Gon menjawab dengan semangat yang sama.
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kau ikut kembali bersamaku kedalam kabin. Aku ingin bertemu dengan beberapa temanmu."
Gon mengikuti sang Kapten dengan pandangan bertanya-tanya. "Teman?" pikir Gon dengan heran.
##
Leorio menatap Kapten itu dengan pandangan tak percaya. Ia dipanggil ke kabin utama ruangan tempat Kapten hanya untuk ditanyai. Memangnya siapa kapten itu sehingga ia berhak menanyainya? Namun ia tak bisa membantah saat kapten itu mengancam akan melemparnya ke lautan yang sedang mengamuk tanpa ampun jika ia tak menjawab pertanyaannya.
"Baiklah..baiklah…" Leorio mengangkat kedua tangannya sebagai tanda pernyataan menyerah. "Namaku Leorio, dan tujuanku ke Dole City adalah untuk mencari uang. Tujuan hidupku adalah uang! Apa kau puas sekarang?"
Kapten itu mengangguk puas. Ia mengalihkan pandangannya kearah Kurapika. Kurapika menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang Kapten.
"Aku Kurapika. Tujuanku ke Dole City adalah untuk memulai pencarian mata suku ku yang dibantai 5 tahun yang lalu."
Kapten itu kembali mengangguk puas dengan jawaban Kurapika. Ia menoleh kearah Gon. "Sebaiknya kau kembali memperkenalkan dirimu pada mereka."
Gon mengangguk. "Aku Gonia, namun kalian bisa memanggilku Gon. Aku baru memulai petualanganku untuk mencari ayahku."
"Bagus..bagus.. Kalian sepertinya punya cita-cita yang menarik. Aku menyukai semangat kalian." Kapten itu menepukkan tangannya dengan senang.
"Tch..apanya yang menarik?" Leorio berkata dengan kesal. "Yang satu ingin mencari ayahnya yang mungkin sudah mencampakkannya dan yang satu lagi ingin mencari mata. Mungkin akan lebih masuk akal jika ia bilang ingin mencari permata." Leorio bergumam kecil, yakin bahwa Kurapika ataupun Gon tidak mendengarnya. Namun Kurapika dan Gon bukanlah orang biasa.
Gon hanya mengangkat bahunya dengan tak peduli, namun Kurapika langsung membalas dengan tak kalah sengitnya.
"Kau pikir menjadikan uang sebagai tujuan hidupmu adalah sesuatu yang pantas dibanggakan?"
"Itu lebih baik daripada tujuan anehmu. Mengumpulkan mata? Huh! Mendengarnya saja aku sudah merinding!"
"Tarik kembali ucapanmu Leorio! Jangan pernah meremehkan suku ku!" KUrapika berkata dengan marah.
"Tidak akan! Apa yang aku katakana benar adanya bukan?" Leorio menjawab tak mau kalah.
"That's it! Keluar Leorio! Kita akan menyelesaikan ini sekarang juga!"
Kurapika berjalan keluar diikuti oleh Leorio.
"Oi..oi.." Kapten akan bangkit dari duduknya, namun Gon sudah berdiri disamping Kapten itu.
"Biarkan saja mereka, Kapten. Mito-san berkata bahwa jika kita ingin mengenal seseorang, kita harus mengetahui apa saja yang bisa membuat mereka marah. Dengan demikian, kita akan memahami orang tersebut."
"Baiklah..baiklah..aku tak akan mengganggu mereka." Kapten itu ikut berjalan keluar. "Namun aku penasaran dengan pertarungan mereka. Kau mau ikut?"
Gon hanya mengangguk dan mengikuti kapten itu berjalan keluar.
##
Kurapika dan Leorio berdiri tanpa peduli pada kapal yang bergoyang ataupun hempasan ombak. Mereka sudah akan menyerang, saat terdengar teriakan.
"Gatso!" Kapten berteriak saat melihat salah seorang anak buahnya terlempar dari kapal karena hempasan ombak yang kuat.
Kurapika dan Leorio segera melupakan pertarungan mereka dan berusaha menangkap Gatso sebelum ia terlempar ke laut, namun reaksi mereka terlambat.
"Hupp!" Tiba-tiba Gon melompat ke laut tanpa ragu dan berhasil menangkap kaki Gatso. Kali ini Kurapika dan Leorio bereaksi tepat waktu dan berhasil menangkap Gon.
"Kau benar-benar ceroboh!" Kurapika dan Leorio berteriak dalam harmoni kepada Gon saat mereka telah mengangkat Gatso kembali ke atas kapal.
"Hehehe.." Gon melepaskan ikatan rambutnya. "Tapi kalian berhasil menangkapku bukan?" Gon tersenyum. "Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan."
Kurapika dan Leorio terdiam.
"Kau percaya pada kami?" Kurapika bertanya dengan nada tak percaya.
"Uh-huh." Gon mengangguk. "Aku tak tahu dengan tujuan kalian, tapi begitu menatap mata seseorang, aku tahu apakah aku bisa mempercayai orang tersebut atau tidak, dan aku tahu aku bisa percaya pada kalian."
"Tapi mungkin saja suatu saat kau salah dalam menilai seseorang bukan?" Leorio bertanya dengan penasaran.
"Tak mungkin! Mito-san bilang, mulutmu bisa berbohong, namun mata tak bisa berbohong." Gon menjawab dengan yakin. "Lagipula selama ini aku tak pernah salah! Jika perasaanku bilang kalian bisa dipercaya, maka aku akan selalu mempercayai kalian."
"Meskipun kita baru bertemu?" Kurapika mengulurkan tangannya untuk membantu Gon berdiri.
"Ya!" Gon menjawab dengan riang. "Ah, bajuku basah. Aku harus kedalam dan menggantinya!" Gon berlari kedalam kapal.
Kurapika terdiam menatap kepergian Gon. Ia berbalik dan menatap Leorio.
"Aku minta maaf." KUrapika dan Leorio berkata serentak. Mereka kembali terdiam, namun kemudian tertawa bersamaan.
Leorio mengulurkan tangannya. "Maafkan semua perkataanku yang sudah menyinggungmu, KUrapika."
Kurapika menyalami Leorio. "Aku juga meminta maaf padamu, Leorio."
Kapten mengamati kejadian tersebut dengan senyum. "Mereka cocok untuk menjadi kandidatku tahun ini." Gumamnya.
##
"Arigatou ne, Kapten." Gon menyalami Kapten itu saat mereka sudah turun di pelabuhan Dole City.
"Sama-sama. Kalian membuat pelayaranku kali ini bertambah menyenangkan." Kapten itu tertawa terkekeh. "Oh, Kurapika, Leorio, tunggu sebentar." Kapten itu mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. Ia kemudian memberikan kertas itu pada Gon. "Ikuti alamat pada kertas ini, mungkin kau akan menemukan petunjuk tentang ayahmu, Kurapika mungkin akan menemukan petunjuk tentang mata suku mu, dan Leorio akan mendapatkan uang yang dibutuhkannya."
Gon menerima kertas itu dan menyimpannya di saku. "Hontou ni arigatou, Kapten. Aku akan mengikuti alamat ini."
Kapten itu menatap Gon yang berjalan menjauh diikuti oleh Kurapika dan Leorio disampingnya. Sebelum dia berbelok diujung jalan, Gon sempat berbalik dan melambaikan tangannya dengan bersemangat. Kapten itu kembali tersenyum.
"Benar-benar seperti Ging. Aku jadi penasaran, apakah Ging tahu putrinya sudah mulai mencarinya?"
##
That's chapter 1!
Please review ne minna... :)
