Hello-hello, Cha disini!
Sebelum cerita berlanjut, ada beberapa pengumuman yang akan diberikan
1. Setting cerita ini adalah AU
2. Tidak ada nen, dalam cerita ini, namun diganti dengan teknologi yang canggih.
3. Walaupun tak ada nen, kemampuan super masih tetap ada, misalnya indra super gon, kuku super killua, dsb.
Untuk sementara, cukup sekian..
Enjoy it minna!
CHAPTER 3
Kurapika berhenti berlari ketika ia tidak merasakan lagi hawa membunuh dari Hisoka.
"Apa yang terjadi?" batin Kurapika. Tiba-tiba Kurapika merasakan firasat buruk. "Leorio?" dia segera berbalik dan kembali berlari.
##
Gon masih terduduk dan menatap tangannya yang gemetar.
"Perasaan apa ini? Takut? Senang? Khawatir? " Gon berusaha memahami perasaan yang baru kali ini dirasakannya. "Takut?"
Gon kembali bertanya-tanya. Bukannya ia sombong, tapi ia tak pernah merasa takut seumur hidupnya, sampai saat ini. Ia tak takut saat terjatuh dari pohon saat ia berumur 5 tahun, tersesat di hutan saat ia berumur 8 tahun, atau bahkan saat pertama kali bertemu dengan kitsuneguma. Well, kitsuneguma memang besar dan punya cakar yang tajam, namun Gon tak pernah takut pada binatang. Ia selalu bisa merasakan perasaan hewan-hewan yang ia temui, karena itu ia tak takut, bahkan kalau ia bisa menggambarkan perasaannya saat itu, ia merasa bersalah..
##
(flashback)
Gon menatap induk Kitsuneguma yang berdiri dengan marah dihadapannya. Seluruh bulunya tegak dan ia mengacungkan cakarnya yang tajam pada Gon.
"Maafkan aku…" bisik Gon dengan suara gemetar. Ia sama sekali tak menyangka kalau hal ini akan terjadi. Pada awalnya ia mendengar suara kecil dibalik semak-semak dan karena rasa penasarannya selalu lebih besar daripada akal rasionalnya, ia mengintip semak-semak itu dan melihat seekor bayi kitsuneguma yang bersembunyi. Tanpa pikir panjang, Gon mengambil bayi kitsuneguma itu dan memeluknya. Gon lupa bahwa kitsuneguma tak pernah jauh dari bayinya, dan kitsuneguma memiliki daya penciuman yang tajam. Beberapa saat kemudian, Gon menemukan dirinya berlari menjauhi induk kitsuneguma yang marah.
Gon menatap kitsuneguma yang sudah mengacungkan cakarnya. Ia memejamkan matanya, menunggu rasa sakit yang akan segera menyerangnya.
BUM!
Rasa sakit itu tak pernah datang. Gon membuka matanya dengan ragu-ragu. Alih-alih seekor kitsuneguma marah, dihadapannya sekarang berdiri seorang remaja dengan rambut putih panjang dengan topi biru yang sedang berbicara dengan sebuah boneka badut melayang. Gon mengejapkan matanya sekali lagi untuk meyakinkan dirinya, namun ketika ia membuka matanya, boneka badut melayang itu sudah menghilang.
"Salah lihat?" pikir Gon. Ia kemudian menatap penyelamatnya yang sekarang menghadap ke arahnya. "Te-"
"Dasar bodoh! Kenapa kau masuk ke daerah ini? Apa kau tidak melihat kalau ini adalah kitsuneguma?" remaja itu berteriak sambil menunjuk ke arah salah satu pohon. "Lihat! Pohon ini sudah ditandai! Orang bodoh macam apa yang tetap masuk ke daerah kekuasaan kitsuneguma walaupun sudah melihat tanda ini? Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu? Tch..aku merasa bersalah sudah membunuhnya." Remaja itu berteriak dengan marah sambil menggerutu.
Gon terdiam. Ucapan terima kasih yang akan diucapkannya tersangkut di tenggorokannya. "Tak punya.." gumamnya.
"Huh?" remaja itu menatap Gon dengan heran.
"Aku tak punya ibu ataupun ayah. Mito-san dan nenek adalah satu-satunya yang kumiliki." Gon kembali bergumam.
Mendengar hal itu, ekspresi remaja itu melembut. "Ah, maafkan aku. Aku tidak tahu. Tapi tetap saja kau tak boleh masuk kedalam hutan sembarangan."
"Un." Gon mengangguk.
Remaja itu mengambil sesuatu dari ransel kecil yang dibawanya dan memberikannya pada Gon. "Pakai ini." Ia melirik ke arah tubuh Gon yang dipenuhi luka goresan.
"Terima kasih." Gon menatap ke arah tubuh induk kitsuneguma yang sekarang yang sudah tak bernyawa. Dilihatnya bayi kitsuneguma yang tadi dipeluknya mendorong-dorong tubuh induknya. "Apa yang akan kau lakukan dengan anaknya?" Tanya Gon saat melihat remaja itu mendekat ke arah bayi kitsuneguma itu.
"Membunuhnya tentu saja." Jawab remaja itu. "Ia melihat induknya dibunuh oleh manusia, mungkin saja nanti ia menyimpan dendam dan akan membahayakan orang-orang yang tinggal di sekitar daerah ini."
"Tidak!" Gon berteriak. Ia berlari dan kembali memeluk bayi kitsuneguma itu. "Aku akan menjaganya."
"Kitsuneguma bukanlah binatang jinak." Remaja itu mengangkat alisnya.
"Aku – akan – menjaganya." Gon kembali mengulangi kata-katanya.
Remaja itu menatap mata Gon yang bersinar penuh tekad. Ia seakan melihat mata gurunya, mata coklat jernih yang selalu penuh tekad dan keyakinan, yang membuat orang selalu percaya dan tak pernah meragukannya.
"Gadis kecil, siapa namamu?"
"Gon."
"Nama belakangmu?"
"Mito-san berkata bahwa tak boleh memberikan nama belakangku kepada orang asing."
Remaja itu tersenyum. "Bibimu benar. Tapi mungkin aku bisa menebak namamu."
Gon menatap remaja itu tak percaya. "Siapa?" tanyanya dengan nada menantang.
"Freecs." Jawab remaja itu.
"Ehh? Bagaimana kau tahu?"
Remaja itu kembali tersenyum. "Ayahmu adalah guruku. Dan ngomong-ngomong, kau bisa memanggilku Kaito."
"Guru?" Gon kembali bertanya.
"Tanyakan pada bibimu. Dia berbohong padamu. Ayahmu masih hidup dan aku saat ini sedang dalam perjalanan untuk menemukannnya sebagai ujian terakhirku." Jelas Kaito.
Gon menggelengkan kepalanya. "Aku tak bisa bertanya pada Mito-san." Ucapnya. "Aku tak ingin membuat Mito-san sedih. Jika ia memang berbohong padaku, ia pasti punya alasannya sendiri. Karena itu, bisakah kau menceritakan tentang ayahku, Kaito-nii?"
Kaito duduk disamping Gon. Ia merasa serba salah. Ia tak bisa menceritakan segala sesuatu tentang gurunya, mengingat pekerjaan mereka adalah sesuatu yang amat sangat rahasia. Namun ia juga tak ingin berbohong pada gadis kecil yang baru ditemuinya ini.
"Hmm…aku tak bisa mengatakan banyak hal tentang ayahmu. Itu adalah tugasmu untuk menemukannya sendiri." Kaito segera merasa menyesal setelah mengatakan hal itu. Ia menatap Gon yang menunduk dengan ekspresi kecewa.
"Tapi kau akan menemukannya, aku yakin." Kaito kembali merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu. "Ini adalah milik ayahmu. Aku yakin kau bisa memanfaatkannya untuk menemukan ayahmu."
Gon menerima kartu itu. "Kartu kredit?" tanyanya.
"Bukan. Itu kartu identitas milik Ging, ayahmu."
"Tapi kartu ini seperti kartu kredit biasa."
"Percayalah padaku." Kaito berdiri. "Aku harus segera pergi. Tadinya kukira aku bisa menemukan guruku di pulau tempat kelahirannya, tapi ternyata dia tidak ada disini. Yah, namun kunjunganku tidaklah sia-sia." Kaito tertawa kecil.
"Kau akan pergi, Kaito-nii?"
"Aku harus melanjutkan perjalananku." Kaito menjawab dan menyandang tasnya. "Dan bisakah kau memanggilku Kaito? Kaito-nii terdengar terlalu resmi.
"Tapi Mito-san bilang aku harus menghormati orang yang lebih tua dariku."
Kaito mengangkat bahunya. "Terserah padamu kalau begitu. Oh, petunjuk terakhirku, carilah informasi tentang 'Hunter agent'. "
(flashback end)
##
Kurapika sampai di titik awal tempat pertemuannya dengan Hisoka tadi, namun ia tak melihat Hisoka ataupun Leorio disana. Kurapika mengedarkan pandangannya ke sikitar daerah itu dan menemukan sebuah sosok samar yang duduk, tak jauh darinya. Dengan ragu Kurapika mendekati sosok itu.
"Gon?" Kurapika menyapa sosok itu begitu ia mendekat.
Gon tak merespon panggilan Kurapika. Ia tetap duduk dan menatap tangannya yang gemetar.
Kurapika bergegas berlari kesamping Gon. Ia berjongkok dan menepuk pundak Gon. Lagi-lagi tak ada respon yang ia dapatkan. Kurapika memegang pipi Gon dan keget saat merasakannya begitu dingin. Tanpa pikir panjang, Kurapika memeluk Gon.
"Gon, sadarlah! Apa yang terjadi padamu?"
Kurapika merasakan tubuh Gon yang menegang. "Ini aku, Kurapika." Ucapnya dengan lembut. Perlahan tubuh Gon mulai rileks dan ia berhenti gemetar. Kurapika melepaskan pelukannya dan menatap Gon.
"Apa yang terjadi, Gon?"
##
Gon menceritakan semua yang terjadi pada Kurapika.
"Menurutmu kenapa Hisoka tak membunuhku ataupun Leorio?"
Kurapika berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Gon. "Kurasa Hisoka melihat potensi pada dirimu dan Leorio. Dia menyukai tantangan dan ia berpikir membunuhmu sekarang sia-sia. Mungkin ia ingin menunggumu cukup kuat untuk bertarung dengannya."
"Begitukah?"
"Ah, maaf Gon. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu." Kurapika segera menambahkan. "Secara pribadi, aku berpikir Hisoka tak memiliki kualitas untuk menjadi seorang hunter, namun ia memiliki insting, kekuatan, dan kepintaran,- oh baiklah, kelicikan yang jauh diatas rata-rata. " Kurapika mengganti kata-katanya begitu melihat tatapan Gon padanya.
"Dan mungkin juga ia melihat kualitas yang sama ada dalam dirimu dan Leorio."
"aku tidak licik!" Gon berkata dengan nada kesal.
"Pintar, kalau begitu." Kurapika menjawab sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, kau yakin ini arah yang benar Gon?"
"Un." Gon mengangguk. "Bau parfun Leorio sangat unik, karena itu mudah mengikutinya."
"Ah, so…."
##
Killua menatap sekitarnya. "Mana gadis aneh itu?" tanyanya dalam hati. Killua kembali teringat dengan kata-kata Gon sebelum mereka berpisah.
(flashback)
"Kenapa?" Gumam Killua.
"Karena mereka adalah temanku!" sahut Gon sebelum ia menghilang ke dalam kabut.
"Teman?" Killua menatap kepergian Gon dengan ekspresi bingung.
(flashback end)
"Kenapa ia rela membuang kesempatannya demi orang lain?" Killua kembali bertanya-tanya dalam hati. Kata teman adalah kosakata yang asing baginya yang dibesarkan sebagai seorang assassin.
(flashback)
"Seorang assassin yang baik tak membutuhkan teman, Killu.."
"Kenapa, aniki?"
"Teman adalah beban tak berguna. Siapa tahu suatu saat kau akan mendapat tugas untuk membunuh seseorang yang mungkin saja 'teman' mu."
"Bagaimana dengan Milluki? Dia punya teman.."
"Aah..Milluki berbeda. Lagipula teman-teman Milluki tak berbahaya karena mereka tidak hidup."
Killua kecil menganggukkan kepalanya dengan patuh.
"Lagipula jika suatu saat temanmu itu jadi lebih kuat daripada dirimu, maka assassin nature mu akan membuatmu membunuhnya. Kita sebagai assassin terlatih untuk menyingkirkan ancaman, apapun bentuknya."
(flashback end)
"Apa itu teman?" Killua menatap ke arah hutan dengan ekspresi bingung.
##
"Yaay! Kita sampai!" Gon berteriak dengan nada riang. "Mana Leorio?" Gon mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba Gon merasakan tubuhnya merinding, seakan seseorang mengawasinya. Ia membalikkan badannya dan melihat Hisoka tersenyum menatapnya dan menunjuk ke suatu arah dengan telunjuknya.
Gon mengikuti arah yang ditunjukkan Hisoka dan menemukan Leorio tak sadarkan diri, sedang bersandar di salah satu pohon. Gon berlari mendekat, diikuti oleh Kurapika.
"Gon, Kurapika?" Leorio tersadar dan memegang kepalanya. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Hal terakhir yang kuingat adalah kita berlari ditengah kabut, setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi."
Gon berbisik kepada Kurapika. "Sebaiknya kita tak memberi tahu apa-apa padanya."
Kurapika mengangguk setuju.
Sementara itu Leorio membuka tasnya yang diberikan Gon, mengambil cermin, dan sesaat kemudian terdengarlah teriakannya.
"Wajah tampanku!"
##
Tepat saat jam menunjukkan pukul 12 siang, terdengar denting lonceng. Gerbang besar yang ada dihadapan para peserta ujian terbuka, menampakkan sebuah halaman yang luas, dipenuhi dengan meja-meja. Ditengah halaman tersebut, duduk seorang laki-laki dan wanita dengan santainya.
Selamat datang di ujian tahap kedua. Aku Menchi, penguji kalian." Wanita dengan rambut hijau dan pisau dipingganggnya menyapa para peserta ujian.
"Dan aku Buhara. Aku juga penguji kalian." Tambah laki-laki besar dan gemuk yang duduk di belakang Menchi.
Para peserta ujian menatap kedua penguji mereka dengan waspada. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh keras. Para peserta ujian menatap sekeliling mereka, dan menyadari kalau suara itu berasal dari perut Buhara, penguji mereka.
"Mou… Buhara.. Kau lapar lagi? Padahal kau baru saja makan." Menchi menatap Buhara dengan ekspresi heran.
"Aku lapar.. Karena itu akulah yang lebih dahulu akan memberikan ujian." Buhara menatap para peserta ujian.
"Aku ingin, BABI PANGGANG!" Teriak Buhara. "Kalian bebas menggunakan babi jenis apa saja yang bisa kalian temukan di hutan ini." Tambahnya.
Tanpa menunggu lama setelah Buhara memukul perutnya (yang berbunyi seperti gong), para peserta ujian segera berlari ke arah hutan.
"Jenis apa saja?" Menchi bertanya sambil menatap Buhara. "Kau kejam juga ya. Hanya ada satu jenis babi di hutan Biska ini bukan?"
Buhara tersenyum. "Kuharap mereka tidak terbunuh."
##
Para peserta segera berpencar didalam hutan. Gon, Kurapika, dan Leorio berjalan bersama. Tiba-tiba Gon berhenti berjalan dan menoleh ke salah satu arah.
"Oi, Gon, kau mau kemana?" Leorio bertanya begitu melihat Gon berjalan ke salah satu arah.
"Ketemu." Gumam Gon.
"Apanya?"
Kurapika menatap ke arah yang sama dengan Gon. "Bahan masakan kita, Leorio." Jawabnya.
Leorio menatap ke arah yang sama. "Aku hanya ingin memastikan ini, tapi apakah mereka sedang mengunyah tulang?"
Gon dan Kurapika mengangguk serentak.
"Sepertinya mereka karnivora." Tambah Kurapika.
KRAK!
"Hieeeee!" (a/n: gimana sih efek suara babi marah?) Babi-babi itu merasakan kehadiran makhluk lain selain mereka dan jelas tidak menyukainya.
Gon, Kurapika, dan Leorio tak butuh aba-aba untuk mulai berlari.
##
"The Great Stamp, jenis babi paling ganas di dunia ini. Dengan ukuran tubuh yang besar dan hidung yang juga besar dan kuat, menangkapnya bukanlah hal yang mudah. Hidungnya yang besar dan kuat berfungsi sebagai senjata." Buhara menatap ke arah hutan.
"Kuharap banyak peserta yang gugur." Menchi memutar-mutar pisaunya.
##
Gon menatap sekelilingnya sambil tetap berlari. Ia terpisah dari Kurapika dan Leorio saat berlari menghindari kejaran gerombolah babi marah. Gon lengah sesaat dan babi itu menyeruduknya dengan hidungnya yang besar.
"Hupp!" dengan refleknya yang terlatih semenjak kecil, Gon berhasil melompat tepat waktu dan babi itu menghantam salah satu pohon apel yang sedang berbuah lebat. Gon memperhatikan dengan seksama saat beberapa apel terjatuh karena hantaman yang kuat dan menimpa kepala babi itu. Apel bukan Sesuatu yang berat, namun gerakan babi itu terhenti.
"Hmmmm…" Gon menarik pancingnya, hadiah ulang tahunnya yang ke 10 dari Mito-san. Moto-san berkata kalau dulu itu adalah milik ayahnya.
"Hiyaaa!" Gon melompat dan menghantam babi itu dengan tongkat pancingnya, tepat di dahi babi itu. Dengan segera babi itu kejang dan tidak bergerak lagi. Gon menatap hasil buruannya dengan puas. Ia bersiap mengangkat babi itu, namun ia mendengar teriakan Leorio. Kelihatannya Leorio masih dikejar oleh buruannya.
"Leorio, Kurapika!" Gon berteriak, tak peduli apakah orang lain mendengar suaranya atau tidak. "Pukul dahinya! Itu kelemahannya!"
Peserta lain yang berada disekita sana mendengar teriakan Gon dan tersenyum licik. Yah, itu memang bukan salah mereka, dan Gon tak mungkin pergi berbisik ke tempat Kurapika ataupun Leorio bukan?
##
Beberapa saat kemudian, para peserta yang sudah menangkap buruan mereka kembali ke lokasi ujian, tempat Buhara dan Menchi sudah menunggu. Tanpa membuang waktu, mereka segera memanggangnya.
"Wah..wah..70 orang? Peserta tahun ini cukup banyak yang berbakat." Satotz mengamati dari atas pohon. "Tapi setelah ini adalah giliran Menchi untuk memberikan tugas, dan itulah saatnya masalah dimulai."
##
BURP!
"Dia menghabiskan 70 ekor babi panggang sendirian?" salah seorang peserta bergumam tak percaya sambil menatap Buhara yang duduk dihadapan tumpukan tulang yang menggunung.
"Oi, Buhara! Jadi berapa orang yang lulus?" Menchi bertanya dengan tak sabar.
"Semuanya enak, karena itu semuanya lulus!" jawab Buhara.
"Semuanya? Kau benar-benar terlalu baik, Buhara." Menchi berbalik dan menghadap ke arah peserta ujian. "Jangan terlalu berharap aku sebaik itu."
"Ya..ya.." Salah seorang peserta melambaikan tangannya dengan tidak sabar. "Bisakah kau segera memberikan tugasnya agar kami tak terlalu lama membuang waktu disini?"
TWITCH!
Menchi tersenyum manis. "Hoo..kau yakin sekali bisa lolos dari ujianku."
"Tentu saja." Peserta itu menjawab dengan nada yakin.
TWITCH!
"Dasar bodoh." Tonpa bergumam.
Gon yang berada di dekat Tonpa mendengar gumaman itu. "Siapa dia Tonpa-san? Kelihatannya dia berhasil membuat Menchi-san marah."
"Dia Todo. Ahli beladiri." Tonpa menatap Gon dengan heran. "Kau bisa tahu kalau penguji kita marah?"
"Bukannya itu terlihat jelas?" Gon balik bertanya.
"Haha… I-iya… Terlihat jelas." Tonpa menjawab sambil tersenyum gugup. Mereka kembali mengalihkan perhatiannya pada Menchi.
"Baiklah! Kalau begitu, untuk ujian tahap kedua bagian kedua ini, kalian akan memasak sushi!" Menchi mengumumkan dengan ekspresi puas.
"Haah? Apa itu?"
##
"Sushi? Apa kau pernah memasaknya sebelumnya, Kurapika?" Leorio bertanya kepada Kurapika yang sudah masuk dalam mode berpikirnya.
"Aku tak pernah mendengarnya sebelumnya." Gon menatap meja-meja memasak yang tersusun di halaman yang luas itu. "Aku selalu membantu Mito-san memasak dan Mito-san belum pernah memasak itu."
"Hmm…kurasa aku pernah membaca tentang masakan itu di salah satu bukuku." Kurapika mencoba menggali kembali ingatannya. "Kalau tidak salah, itu makanan yang berasal dari salah satu Negara bernama Japan."
"Kau ingat apa bahannya?" Gon mendekati mejanya. "Disini ada beras, bumbu-bumbu dan beberapa bahan lain yang tak kukenal."
"Maaf Gon, aku tak terlalu ingat karena aku tak terlalu perhatian saat itu. Tapi yang pasti bahan utamanya adalah ikan dan nasi."
"Ikan?" Leorio berteriak.
Telinga-telinga disekitar mereka berdiri (a/n: hanya istilah .) saat mendengar itu dan segera saja halaman itu kosong karena seluruh peserta berlari ke arah sungai.
"Leorio, kau harus belajar mengecilkan suaramu." Kurapika menatap Leorio dengan kesal.
"Maaf…maaf…" Leorio menatap Kurapika dengan menyesal.
"Maa..maa.. ini bukan masalah besar Kurapika. Toh mereka juga akan tahu nanti." Gon tersenyum menenangkan.
"Hmph!"
##
"Yare..yare.." Satotz mengamati keadaan dengan teropongnya. "Ini akan jadi masalah.."
##
That's it!
Hontouni arigatou buat Moku-Chan(okee… *smile*), Rechan Koharu (ini update nya yang ditunggu.. ^^), dan Mira Misawaki (iyaa…yang indo kayaknya jarang *ato gak ada yang bikin genderbend ya?* ini adalah pelampiasan pribadi author.. #plak *ditampar Killua*) yang udah singgah..
Please R&R minna… *puppy eyes look*
