roleplay: D. Young-bae/L. Seung-hyun
disclaimer: BIGBANG belongs with YG ENTERTAINMENT
warning: OOCness—just for safety, misstypo(s), beberapa prokem Indonesia terselip lol, BL, AU, fluff gagal?
summary: Kehidupan Seungri sebagai single-parent memang sulit; pekerjaan dan mengurus anak dalam waktu yang bersamaan bukanlah hal yang mudah untuknya. Yah, mungkin tidak terlalu susah setelah perusahaannya menerima manager baru di management-nya. — TaeyangSeungri / Baeri ‹1/?› ‹1/?›
genre: family / romance
xxx
Tough Single-Parenting
「kau tahu tidak sih kalau mengurus anak sendirian itu susahnya seperti apa?」
xxx
"Hayi, cepatlah, Ayah hampir telat!"
Teriakan Seungri yang menggema di apartemen cukup membuat Lee Hayi—putri satu-satunya—segera mempercepat gerakannya dalam memakai seragamnya dan meraih tasnya sebelum keluar dari kamarnya dan duduk manis di meja untuk menyantap sarapan yang sudah Ayahnya buat.
Seungri—Lee Seunghyun, lebih tepatnya—segera mengikat dasinya asal sebelum mengecek semua bawaan Hayi. Tas: cek. Seragam rapi: cek. Rambut tersisir rapi: cek. Oke, semuanya beres.
"Apa semuanya sudah—"
Hayi memotong perkataan Seungri dengan sedikit kesal, "Ayah, aku sudah 12 tahun! Setidaknya Ayah pasti tahu kan bila aku sudah bisa mengurus yang kubisa sendirian?"
"—tapi setidaknya biarkan Ayahmu ini mengingatkanmu, oke?" Seungri menghela napas pelan sebelum memakai sepatunya dan mengambil kunci mobil di balik pintu kamarnya. "Setelah selesai sarapan, letakkan saja piringnya di cucian. Ayah keluarkan mobil dulu. Jangan lupa kunci pintunya."
Putri kesayangannya itu hanya mengangguk pelan sebelum mempercepat kunyahannya dan meminum susu coklat hangat yang sudah Seungri siapkan, mencoba menghabiskan sarapannya secepat mungkin dan menyusul Ayahnya yang sudah keluar dari apartemen mereka dan berlari menuju lift, menghemat waktu agar ia tidak terlalu telat nantinya.
Seungri segera menekan tombol 'PL' di lift dan menunggu pintu lift tertutup. Ia menghela napas, sudah nyaris enam tahun ia mengalami rutinitas semacam ini secara berkala. Semua ini berawal setelah perceraiannya dengan Dara karena alasan umum: dia sudah tidak tahan dengan dirinya yang kurang memberikan perhatian padanya dan terlalu fokus kepada pekerjaan. Katanya ia lelah dengan semua ini atau sudah tidak bisa sabar atau alasan semacam itu yang ia paparkan pada saat sidang perceraian mereka.
Lelah?
So he is.
Terkadang dia memang menyesal karena tidak berhasil membuat Dara merasa bahagia dengan dirinya—namun itu hanya pada awalnya. Dia perlahan bangkit dari keterpurukannya dan mencoba berpikir positif bahwa mungkin memang itu yang terbaik untuk mereka. Hayi pun sama dengannya, dia baru bisa menerima perceraian kedua orangtuanya ketika Seungri mencoba menjelaskan baik-baik padanya; dengan sebisa mungkin menghindari penggunaan kata 'cerai' dengan 'tidak akan bertemu lagi' pada saat ia berumur 10 tahun.
Sekarang ia berumur 32 tahun dan ia masih belum berminat untuk mencari pengganti Dara.
Entah, ia masih belum mau hatinya terisi orang lain selain mantan istrinya—lebih tepatnya, ia masih belum siap tersakiti untuk kedua kalinya.
"…Permisi?"
Seungri segera mengerjapkan matanya sebelum merespon sosok lelaki yang sedikit lebih pendek darinya itu dengan gugup, "Ng—eh? Maaf?"
Pria itu menunjukkan jari telunjuknya ke arah layar, "Apa Anda yang barusan menekan tombol 'PL'?"
Bagaimana dia bisa tahu?, "Err—saya memang menekan tombol 'PL'—" Ia segera tersadar bila ia sudah sampai di tujuannya. "—ah, terima kasih sudah memberitahu. Saya permisi." Dan segera keluar dari lift dan menuju mobilnya dengan Hayi yang sudah menunggunya dengan bibir yang mengerucut dengan manis, menurut Seungri.
Tanpa ia tahu bila pria yang barusan mengingatkannya tersenyum kecil akan perilakunya yang terlihat kerepotan.
Setelah merasa lega karena telah mengantar Hayi ke sekolah dengan menahan dirinya dari omelan putri kesayangannya, ia segera membanting setirnya ke kantor di tempat ia bekerja dan memarkirkan mobilnya di dalam gedung. Setelah memastikan penampilannya rapi, ia segera memasuki gedung perusahannya dan kembali memasuki lift dan menekan tombol '5'; lantai dimana ia bekerja.
"Whoa, pagi Panda!" Seniornya, Kwon Jiyong, menyapanya persis setelah ia sampai di lantai lima dengan wajah riang terlukis di wajahnya. "Kusut sekali wajahmu, Hayi mengomel lagi ya?"
Seungri menggeleleng pelan dan berjalan menghampiri meja kerjanya; yang terletak persis di sebelah Jiyong, "Tidak salah sih, tapi yah, seperti biasanya." Ia menghela napas, "Aish, single-parenting was too much!"
Jiyong mendengus pelan, "Kau berbicara seperti itu berulang kali tapi tetap saja masih belum punya calon." Tanpa menunggu Seungri merespon, ia menyerahkan tumpukkan berkas padanya dan kembali berbicara, "Ngomong-ngomong, hari ini kita kedatangan bos baru."
Ia mengerjapkan matanya, kebingungan, sebelum meresponnya dengan heran, "Memang ada apa dengan Dongwook-ssi?"
Jiyong mengangkat bahunya pelan, "Dia? Ia dipindahkan ke management lain, menurut yang kudengar, katanya untuk meningkatkan salah satu cabang yang kurang berkembang. Katanya." Ia menghembuskan napas pelan, "Sayang sekali bos baru kita bukan wanita."
"Hyung, kalau kau berbicara seperti itu bisa-bisa Seunghyun-hyung marah lho." Seungri mengingatkannya dengan tersenyum lebar. Ah, mood-nya sudah kembali. Melihat ekspresi sunbae-nya yang berubah drastis menjadi semerah buah plum, ia hanya tertawa pelan sebelum mengabaikannya, memilih untuk fokus ke pekerjaannya.
Yah, setidaknya ia berharap bos baru mereka tidak separah Dongwook yang selalu mengerjainya dengan memberikan dirinya tugas hingga membuatnya kerja lembur.
Satu jam setelah ia melakukan pekerjaannya, ia mendengar suara tangan tertepuk beberapa kali hingga membuat ia dan seluruh karyawan menghentikan kegiatan mereka dan menatap heran ke manager mereka, Choi Dongwook, dan sosok beberapa senti lebih pendek darinya berdiri di sebelahnya dengan tatapan datar terpasang di wajahnya.
Apa itu manager atau bos baru mereka?
Dongwook akhirnya angkat bicara, "Baiklah, perhatian semuanya, selama beberapa bulan kedepan, ia akan menggantikanku dalam memimpin kalian." Ia tersenyum kecil sebelum mempersilahkan pria itu memperkenalkan dirinya, "Silahkan, Dong-ssi."
Seungri terpaku sejenak. Tunggu, sepertinya ia pernah melihat sosok itu, tapi… di mana?"
Ia hanya mengangguk dan membungkukkan tubuhnya, "Dong Youngbae, mohon kerjasamanya."
Suara itu.
Tinggi yang tidak jauh berbeda dari dirinya.
Jangan-jangan—
"Aah! Kau!" Tanpa sadar, Seungri berteriak dan refleks menunjuk bos barunya itu dengan jari telunjuknya."
Sosok itu terlihat terkejut sebelum berdehem pelan dan meresponnya dengan tenang, "Ah, kau yang barusan melamun di lift itu kan?"
Sebelum Seungri sempat merespon, Dongwook segera menatapnya tajam dan memotong suasana dengan angkat bicara, "Baik, baik, cukup basa-basinya. Lee-ssi, turunkan tanganmu, dan Dong-ssi, maafkan atas perilakunya yang tidak sopan, dia memang terkadang seperti itu; masih seperti anak remaja."
Pipi Seungri segera memanas seperti terbakar karena saking malunya dan segera duduk dan menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, mencoba menghilangkan rasa malu yang terlalu memuncak hingga ubun-ubun kepalanya.
"Baiklah, cukup untuk perkenalannya. Dong-ssi, akan kutunjukkan ruang kerjamu yang baru. Ayo." Ucapnya sebelum mengantar Youngbae keluar dari ruang kerja mereka.
Tanpa memperhatikan senyum Youngbae yang semakin melebar akan reaksinya barusan.
"Ya, ng, maaf Umma, kerjaanku masih menumpuk—jadi tolong jaga Hayi sampai aku pulang. Ne, ne. Terima kasih Umma! Saranghae~"
Dan Seungri segera memutuskan panggilan dengan menekan tombol merah di ponselnya.
Salahkan Dongwook, dia yang sudah membuatnya kembali lembur dan terpaksa harus kembali menitipkan Hayi di rumah Umma-nya. Ia sampai sempat berpikir bahwa tidak ada gunanya juga ada bos baru bila Dongwook masih berkuasa seperti ini.
Dengan helaan napas panjang, ia kembali mengerjakan berkas yang Dongwook berikan padanya dengan perasaan sedikit tidak rela mengganjal di hatinya. Setan. Dasar Setan Merah sialan. Mentang-mentang punya istri, seenaknya saya menangguhkan tugas ke orang lain. Sialan!
Seandainya Jiyong masih di sini, mungkin dia akan merengek ke seniornya yang dua tahun lebih tua darinya itu untuk mempercepat penyelesaian berkas ini, sayangnya… well, kencan.
Yap, Jiyong dan kekasihnya, Seunghyun.
Seungri hanya bisa gigit jari ketika tersadar akan statusnya yang masih sendiri.
Seandainya ia tidak sesibuk sekarang, pasti ia setidaknya memiliki waktu untuk mencari calon ibu baru untuk Hayi. Setidaknya. Tapi ia kembali berpikir, bila ada waktu pun belum tentu ia mendapatkan calon yang cocok. Kenapa ia berani berbicara seperti itu? Beberapa temannya sudah pernah mencoba mengajaknya ikut kencan buta; dan hasilnya nol.
Ah, betapa miris hidupnya sekarang.
"Hei."
Ia tersentak dari lamunannya dan segera menatap ke atas, dan juga menemukan sosok bos barunya tengah memandangnya dengan senyum tertahan terlukis di wajahnya.
Siapa tadi namanya? Dong Young-blah?, lupa dengan nama keluarga bos barunya itu, ia merespon dengan sebisanya, "Uh—ya, Bos?"
Ia tertawa pelan. Seungri sedikit memiringkan kepalanya, kebingungan dengan respon bosnya yang di luar dugaan. Apa ia barusan mengatakan sesuatu yang lucu atau apa? Bukannya ia hanya merespon dengan sangat kelewat pendek namun sopan?
"Tidak usah terlalu kaku, aku tahu kau lupa namaku." Ia bisa merasakan pipinya semakin memanas akan perkataannya barusan. Tunggu, sejak kapan dia jadi selemah ini? "Dong Youngbae, kalau kau?"
Seungri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari menjawabnya dengan susah payah, "Uh... Lee Seunghyun, namun karyawan di perusahaan ini terbiasa memanggil saya—"
Youngbae tersenyum, "'Aku' saja tidak apa-apa."
Ia segera membenarkan perkataannya, "—mereka terbiasa memanggilku Seungri."
Mata sipitnya mengerjap beberapa kali. Dengan refleks ia merespon, "Seungri? Pemenang?" Belum sempat Seungri merespon, Youngbae segera menengahinya dengan cepat, "Kenapa mereka memanggilmu begitu?"
Ia terdiam sejenak. Kenapa? Dia sendiri lupa soal itu. Ia sudah terlalu terbiasa dengan panggilan itu hingga ia sudah tidak memikirkan darimana nama itu berasal. "Mungkin karena… wajahku terlihat seorang pemenang?" Responnya asal.
"Ha?"
"Err, victory, victory!" dan selanjutnya Seungri mengutuk dirinya sendiri. Bodoh, mereka berdua sama-sama orang Korea, untuk apa ia menggunakan bahasa Inggris untuk berbicara dengannya? "Uh… maksudku—" ia mencoba mengingat-ingat. Seungri. Seungri. Seung—Seunghyun. Choi Seunghyun—ah! Itu dia! "Ka-karena ada dua Seunghyun dan aku yang lebih muda, agar mereka tidak bingung, mereka memanggilku Seungri. Nah, i-itu alasannya!"
Youngbae hanya menahan tawanya—walaupun ia yakin bos barunya ini belum (dan tidak akan pernah) mengerti apa yang ia maksud—dan angkat bicara, "Apa tidak orang yang pernah bilang padamu kalau kau itu lucu?"
Lucu?
Halo, Lee Seunghyun, pria (yang menurutnya) paling tampan di management ini dibilang lucu oleh sesamanya?
Pasti bos barunya ini salah makan sewaktu jam makan siang.
"Tidak—tidak juga, mungkin ini baru pertama kalinya." Seungri segera meresponnya dengan senormal mungkin. Tidak mungkin ia menanyakan 'Dong-sshi, barusan kau salah makan ya?' dengan polosnya atau bisa-bisa besok pagi ia menerima surat peringatan di atas meja kerjanya. Jangan sampai. "Baru Dong-ssi yang memberitahuku."
Ia menggelengkan kepalanya pelan, "Youngbae. Cukup panggil Youngbae—ngomong-ngomong berapa umurmu?"
"Uh… 32 tahun." Seungri perlahan menganalisa bos barunya ini dengan heran. Baru kali ini ia bertemu dengan orang yang tergolong fleksibel sepertinya; tidak terlalu terikat dengan aturan namun masih bisa terlihat sopan di matanya. "Dong—maksudku, Youngbae-ssi?"
Jawaban singkat, "34 tahun."
Tunggu. 34 tahun?
"Aku tahu kau mempertanyakan tinggiku, tapi sebaiknya jangan terlalu dipikirkan, aku sendiri tidak tahu kenapa." Ah, ketahuan. "Tapi tidak kusangka juga, kukira umurmu masih sekitar 20-an."
Sepertinya mulai saat ini Seungri harus selalu bersyukur dianugerahi wajah awet muda oleh Tuhan. "Terima kasih."
Ia mengangguk kecil sebelum mencuri pandang berkas yang tengah Seungri kerjakan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kantor. Ia tidak melihat karyawan lain; yang ia lihat hanyalah Seungri yang kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sepi. Di kantor itu hanya ada mereka berdua dengan suara pendingin yang terdengar lebih keras dari biasanya dan suara ketikan menjadi musik penggiring.
"Kau tidak pulang?" Tanyanya heran. Dari jadwal yang Dongwook berikan padanya, seharusnya seluruh karyawan pulang pada pukul tujuh malam; dan membuatnya kebingungan ialah sekarang sudah pukul sembilan dan Seungri masih sibuk dengan pekerjaannya. Atau dia mengambil shift malam juga?
Seungri menggeleng lemah, "Seharusnya, tapi… Choi-ssi tiba-tiba memberikan berkas ini pada menit-menit terakhir." Ia mendesah pelan dan menunjuk berkas yang menumpuk di sampingnya. Sedikit lagi. Sedikit lagi dan ia bisa pulang dan memeluk mesra dan bergulat manja guling di atas ranjangnya. Sedikit lagi, sedikit—
"Setelah ini ada waktu?"
Ia menghentikan jemari tangannya tepat di atas keyboard dan menatap bos barunya itu dengan heran, "Eh?"
Youngbae terlihat salah tingkah dan refleks mengibaskan tangannya, "Ah, tidak, tidak apa, pasti ada istri yang menunggumu di rumah—"
"—kami sudah cerai kok." Seungri menjawabnya dengan ringan. Ia meneruskan perkataannya sembari melanjutkan pekerjaannya. "Mau mengajakku minum? Terima kasih, tapi aku menolak. Hayi sudah menungguku di rumah."
"Hayi?"
"Putriku satu-satunya."
"Pasti berat ya, sampai membuatmu melamun di lift tadi pagi." Wajah Seungri memanas. Tuhan, sudah berapa kali wajahnya memanas hanya karena perkataan pria yang tengah berada di atasnya itu?
Seungri kembali menggeleng pelan, "Tidak juga, aku sudah terbiasa—selesai! Wohoo!" Setelah puas berteriak penuh kebahagiaan, ia segera menyimpan datanya dan mematikan komputernya sembari membereskan berkas yang tercecer di mejanya. Ranjangku sayang, aku datang! "Mungkin kalau Youngbae-ssi mengajakku di lain waktu, akan kupikirkan. Is that okay with you?"
"Dengan senang hati." Youngbae tersenyum. Ia menepuk kepala Seungri pelan sebelum berjalan ke arah lift, "Kalau begitu aku duluan, sampai jumpa minggu depan."
Seungri terpaku.
Tunggu, kenapa tiba-tiba jantungnya bergemuruh? Ah, mungkin hanya perasaannya saja. Mungkin dia sudah terlalu lelah hingga jantungnya meronta meminta istirahat. Mungkin. Mungkin ia terlalu rindu kepada ranjangnya dan tubuhnya sudah meronta ingin istirahat. Mungkin. Mungkin saja.
Tidak mungkin tepukan kepala bisa membuatnya sampai seperti ini. Tidak, tidak tidak tidak. Sama sekali tidak mungkin.
…ya kan?
Ah, sebaiknya dia pulang saja.
"Ayah pulang—whoa! Hayi, kau mengagetkan Ayahmu yang tampan ini!"
Umma-nya pun hanya menghela napas ketika Seungri dengan narsisnya memuji dirinya sendiri ketika Hayi menerjangnya dan memeluknya erat. Entahlah, semenjak ia bercerai dengan Dara, sifatnya berubah sekali.
Atau entah, itu hanya perasaannya saja.
Beliau hanya tersenyum kecil ketika Seungri memeluk Hayi balik dan menyeret dirinya masuk ke apartemen, mendekati dirinya yang berdiri di dekat pintu dengan ekspresi lega terpasang di wajahnya. "Seunghyun-ah, bagaimana pekerjaanmu?"
Seungri membalas senyumnya dengan senyuman lebar, "Seperti biasa, tidak ada yang berubah."
"Baiklah, sepertinya peran Umma sudah selesai. Umma pulang dulu, istirahat yang cukup." Ia mengambil tasnya dan memeluk mereka berdua sebelum berjalan keluar apartemen. "Ah ya, tadi Umma dengar ada tetangga baru di pintu sebelah. Jangan lupa sapa mereka besok."
Pemilik kantung mata seperti panda itu mengerjapkan matanya heran, "Siapa?"
Beliau hanya mengangkat bahu, "Entah, Umma juga tidak kenal. Sudah ya, selamat malam." Ia mencium kening Hayi pelan, "Kau juga Manis."
Hayi membalasnya dengan mengecup pipi Neneknya pelan dan melambaikan tangannya ketika beliau berjalan keluar apartemen mereka, "Hati-hati Nek!"
Setelah memastikan Umma-nya pulang, Seungri segera menggendong Hayi dan membawanya kembali ke kamarnya, memastikan putri kesayangannya tersebut bisa tidur dengan lelap. Hayi tidak melawan, ia suka di saat-saat Ayahnya tersebut memberi perhatian. Mereka jarang sekali menyisihkan waktu bersama karena Seungri yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya, karena itu Hayi memanfaatkan wajah imutnya dengan aegyo andalannya yang merupakan kelemahan Ayahnya yang satu itu dan—well, bisa dilihat sendiri hasilnya.
"Ngomong-ngomong, sepertinya kau tambah berat—" belum selesai Seungri berkomentar, Hayi mencubit kedua pipi Ayahnya itu dan menariknya selebar mungkin, "—ahaha, aduh, aduh sakit!"
Hayi mengerang kesal, "Yah! Aku tidak seberat itu!"
Ia tertawa pelan, "Kenyataannya memang begitu—aduh, aduh, kalau Hayi tarik pipi Ayah terus-terusan nanti Hayi tidak punya Ayah tampan lagi lho!"
"Narsis!" tapi Hayi tetap menarik pipi Seungri hingga mereka sampai di kamarnya.
Setelah mereka sampai di kamarnya, Seungri segera menurunkan Hayi ke ranjang berkover biru langit yang dipenuhi boneka beruang berwarna biru dengan berbagai macam ukuran dan mengecup dahinya pelan. "Oke, sekarang saatnya Putri Lee Hayi yang merupakan putri tercantik dari Raja Tertampan Lee Seunghyun," pipi putihnya tertarik oleh jemari lentik putrinya, lagi, "untuk tidur dan berpertualang di dunia impiannya. Ya?"
Hayi mengangguk kecil dan melepas tangannya.
"Selamat tidur Sayang." Seungri pun mengecup pipi Hayi sebelum menepuk kepalanya lembut dan mematikan lampu kamarnya dan keluar. Sebelum ia menutup pintunya, Hayi pun segera merebahkan tubuhnya dan menyamankan dirinya di bawah selimut, bersiap ke alam mimpinya. "Jangan lupa mimpikan Ayah tampanmu ini ya~" dan ia pun menutup pintunya sebelum terkena lemparan beruang 'I ‹3 HI' darinya.
Nah, saatnya Ayah tampan yang satu ini untuk tidur dan bermanja-manja dengan ranjang kesayangannya~
Sekarang sudah pukul tujuh pagi dan Seungri masih terlelap di bawah selimut hangatnya.
Hayi mencoba membangunkan Ayahnya yang satu itu, berulang-ulang, dan hasilnya nol. Menarik selimut; selimutnya ditarik lagi, menarik pipi Ayahnya seperti biasanya; ia tetap terlelap seperti bayi, mencubit daerah pinggang; ia hanya mengerang pelan dan kembali terlelap.
Kebo!
Lelah dengan cara-caranya yang gagal, dengan pasrah ia mengingatkan apa yang diamanatkan Neneknya tadi malam dengan membisikkannya di telingan Seungri, "Yah, katanya hari ini mau mengunjungi tetangga baru? Jadi tidak?"
Setengah sadar, Seungri meresponnya dengan sedikit mengerang (yang terdengar) frustasi, "Biarkan aku tidur—"
"AYAH!"
Seungri refleks menutup kepalanya dengan selimut, mencoba menghindari teriakan putrinya yang tergolong memekakkan telinga, "—baik, baik, satu jam lagi dan Ayah akan siapkan Hayi sarapan, oke? Sana mandi dulu."
"Aish." Hayi hanya bisa menghela napas panjang dan keluar dari kamar Seungri dan menuruti apa yang Ayahnya barusan suruh: mandi. …yah, dia memang belum mandi sih.
Seungri menggeliat malas di ranjangnya sebelum kembali terlelap di dalam tidurnya, mencoba menikmati liburan akhir pekan yang terasa seperti tiket surga untuknya. Sudah cukup dengan jumlah tumpukan berkas tak berperikemanusiaan dari Dongwook, yang ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat untuk menghadapi monster pekerjaannya lagi besok senin.
Istirahat.
Istirahat.
Tidur—
Dan terlelap!
"Yah."
Masih tidak ada respon.
"Ayaaaaah."
Sedikit respon; menggeliat namun kelopak mata memaksa untuk terpejam.
"Ayah," Hayi menghela napas. "Ayahku yang tampan dan gagah berani bagaikan laksana penjunjung keadilan," err, dimana ia bisa menemukan kantung muntah? "Bangunlah, putri kesayanganmu ini sudah tidak sabar menunggu sarapan spesial buatan Ayahandanya yang paling ia cinta. Karena itu, BISA AYAH BANGUN SEKARANG?" rayunya dan mengakhiri perkataannya dengan menaikkan oktaf suaranya hingga setinggi yang ia bisa.
Serangan telak.
Seungri spontan terbangun dari tidurnya dan mengerang kesal. Ah, hancurlah harapannya untuk bisa bersantai dan bermesraan lebih lama dengan ranjangnya. "Yah! Setidaknya bangunkan Ayahmu ini dengan cara yang lebih halus! Kau ingin Ayah cepat tua ya?"
Dengan polos Hayi menggeleng, "Tidak, sama sekali tidak. Bukannya Ayah yang barusan bilang 'satu jam lagi dan akan Ayah buatkan sarapan'? Ini sudah pukul delapan; yang menurut materi yang kupelajari di sekolah, itu berarti sekarang adalah waktu yang dijanjikan Ayah."
Pria yang tengah terduduk karena saking kagetnya oleh teriakan putrinya itu hanya menghela napas. Aish. Sifatnya sama persis seperti Dara—atau malah dia sendiri? "Baik, baik!" Ia merenggangkan tubuhnya sebelum menepuk pipinya keras agar ia terbangun dengan sempurna dan beranjak dari ranjangnya, berjalan ke arah kamar mandi. "Tunggu di ruang televisi, Ayah mandi dulu."
Hayi tersenyum, "Siap!" dan keluar dari kamar Seungri dengan tidak lupa menutup kembali pintunya.
Dengan malas, Seungri melepas pakaiannya dan mulai masuk ke ruang shower, membiarkan tubuhnya terbasuh seluruhnya oleh rintik air yang menghujaminya dengan hangat. Berbagai pikiran mengenai menu sarapan apa yang harus ia buat mulai berterbangan di dalam otaknya, memaksanya untuk menghilangkan kenikmatan kantuknya dan segera membersihkan tubuhnya secepat yang ia bisa dan keluar dengan buru-buru. Jujur saja, dia memang mulai terbiasa dengan sosoknya yang berupa single-parent, hanya saja terkadang ia merindukan seseorang yang mengurus dirinya dan menemani dirinya di saat ia kesepian.
Dia kesepian; ia rindu dengan sentuhan kasih sayang di tubuhnya; ia rindu dengan seseorang yang bisa mengurus dirinya dengan senyum hangat; ia rindu semuanya, tentu. Tapi… ia hanya terlalu malas untuk memulai sebuah hubungan khusus dengan orang lain.
Walaupun wajahnya tergolong lumayan, belum tentu ada wanita yang mau dengan pria yang sudah memiliki satu anak berumur 12 tahun dengan ikhlasnya.
Setelah merasa cukup kering, Seungri segera berpakaian sesantai yang ia bisa dan keluar dari kamarnya dengan rambutnya yang masih berantakan karena basah. Dengan malas, ia berjalan ke dapur dan mulai mengambil apron hitam yang menggantung di pintu dan mulai mengambil bahan-bahan dari kulkas. Tunggu. Ia belum memikirkan menunya. "Sebentar—" ia kembali menutup kulkasnya dan menatap ke Hayi yang asyik menggambar di buku barunya. "—Hayi, kau mau makan apa?" tanyanya sembari memakai apronnya.
Hayi menghentikan kegiatannya dan memejamkan matanya, mencoba membayangkan sarapan apa yang ia inginkan sekarang. "Ng—bagaimana kalau Lasagna Yah?"
Seungri berpikir sejenak. Boleh juga. Ia sedikit bosan dengan sarapan roti panggang dan dua buah telur mata sapi seperti biasanya. "Boleh, tunggu ya."
"Yaaa."
Ia segera melanjutkan kegiatannya mengambil bahan dan mulai memasaknya. Setelah ia mencampur seluruh bahannya dan memasukkannya ke dalam sebuah loyang, ia memasukkan loyang itu dalam oven dan meng-setting-nya selama 30 menit dengan suhu 75°C sebelum menutupnya dan mulai menyiapkan salad dan saus untuk pelengkap. Sibuk. Sibuk.
Sampai ia mendengar suara bel apartemennya bunyi.
"Hayi, bisa tolong bukakan pintunya? Ayah masih memasak." Suruhnya dengan tangan masih memegang spatula. Tidak mungkin sekali ia membukakan pintu untuk tamu dengan keadaannya sekarang; kaus putih dengan celana training hitam, rambut berantakan, dan memakai apron. Mau ditaruh mana mukanya nanti?
Tanpa menjawab, Hayi hanya mengangguk dan mulai berjalan ke arah pintu, membukakan pintu dengan senyum cerahnya, "Selamat pagi, ada yang—"
"Pagi."
"—bisa saya bantu?" terusnya dengan senyum masih terpasang di wajahnya.
Jujur saja, Hayi sedikit terkejut dengan sosok pria yang tengah berada di hadapannya saat ini. Tingginya tidak setinggi Ayahnya; mungkin beberapa senti lebih rendah darinya. Wajahnya lumayan tampan; model rambutnya yang mohawk terlihat kontras dengan matanya yang sipit dan senyumnya yang terlihat manis (walaupun di dalam hatinya ia mengaku bahwa Ayahnya masih lebih tampan darinya). Tapi kelihatannya baik, batinnya ketika melihat tatapannya yang melunak terhadapnya.
"Err—apa orang tuamu ada di rumah?" Pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kebingungan dengan apa yang harus ia katakan. "Ngomong-ngomong, salam kenal dan mohon bantuannya, aku baru saja pindah di pintu sebelah, namaku—"
Seungri segera menghampiri Hayi dengan merapihkan rambutnya dengan jemari tangannya sekilas, "Hayi, siapa yang datang? Ahjumma yang biasanya?"
Hayi menggeleleng pelan, "Bukan, beliau yang Nenek bilang tadi malam."
Masih belum melihat sosok di hadapannya, ia hanya mengangguk pelan, paham dengan situasinya sekarang. "Ah, begitu?" Perlahan ia menatap ke arah pintu, "Salam kenal, nama saya—"
Dan ia merasa sama sekali tidak berpijak di tanah saat itu juga.
"Yo-Yo-Youngbae-ssi?"
Ia bisa melihat sosok yang berada di hadapannya menatapnya dengan shock; iris hitam kelamnya memecah dengan sempurna di balik kelopak mata sipitnya.
"Seungri-ssi?"
Iris coklat mahoni milik Seungri ikut memecah, terkejut dengan apa yang ia lihat di hadapannya saat ini. Dia, Dong Youngbae, yang merupakan bos barunya satu hari lalu, tengah berada di hadapannya, di depan apartemennya, dengan tangan membawa kantung plastik putih bertuliskan sesuatu—yang Seungri tebak nama sebuah toko roti—dan menatapnya dengan bingung bercampur kaget terlukis di wajahnya.
Hayi menatap kedua pria di sebelahnya dengan kebingungan, "Ayah kenal dia?"
Ia mengangguk kaku, "Sa-sangat kenal."
Melihat situasi yang mulai aneh, Youngbae segera menengahi dengan memberikan bungkus plastik putih itu ke tangan Hayi dan angkat bicara, "Halo Hayi, namaku Dong Youngbae, dan aku bos baru Ayahmu—dan juga akan menjadi tetangga barumu mulai saat ini. Salam kenal." Dan mengakhirinya dengan senyum tipis.
"Ah, begitu ya?" Hayi mengangguk paham—namun Seungri benar-benar meragukannya. "Namaku Lee Hayi, umur 12 tahun, salam kenal!" lanjutnya dengan membungkuk sopan.
Seungri masih terpaku di posisinya. Ia benar-benar masih tidak bisa memproses semua peristiwa yang ia alami akhir-akhir ini: bos baru, sikap yang tidak biasa, hatinya yang tiba-tiba berdebar kencang ketika melihat sosoknya, dan—tunggu, tadi dia bilang apa?
Berdebar-debar?
Dia?
Tuhan, mimpi apa dia semalam?
Dan perasaan tidak enak apa yang tiba-tiba mendera batinnya ketika ia melihat Youngbae berada di hadapannya?
Apa ini yang orang katakan dengan… bencana tak tersurat?
His story's still left unwritten.
So, to the next chapter!
anneyonghaseo! haseo anneyong! /ditampar
yak, saya kembali dengan ffic multichap yang tibatiba terlintas di otak dan hanya diselesaikan dalam waktu dua hari pada saat malam dengan pair yang baru saya suka akhirakhir ini! /dan kemudian di headbang/
mungkin terlalu ooc? deskrip yang terlalu santai? ending yang absurd? atau… Seungri yang kelewat narsis? I deserve fluff! /woi
ehm, maaf.
sekali lagi, halo semuanya!
kenapa pair-nya baeri alias taeyang dan seungri? jujur saja, setiap saya membuat ffic gtop/topgd, bawaannya pasti mau buatnya angst—dan jujur saja saya frustasi karena pasti ujung-ujungnya WB, belum lagi sequel OMN yang bahkan belum selesai dan juga… UN DI DEPAN MATA SAUDARA-SAUDARA DAN SAYA DENGAN SANTAINYA MENULIS FANFIKSI INI. /udah
dan yah, di fandom ini kelihatannya sepi dengan penggemar baeri. jujur, kalau kita tossing aside-kan perihal bae yang alim, bae dan riri itu cukup unyu untuk dijadikan kopel. riri yang player dan bae yang masih suci akan dunia 'kekasih' /apa ini/ itu… terlihat… perfect dan fuwafuwa. entah kenapa.
But I still ship gtop/topgd though, it just that I write this fanfiction and baeri just came nowhere but popped up in my mind.
btw Lee Hayi itu Lee Hi, salah satu artis baru YG Entertainment yang debut pada tahun 2012 dan mendapat julukan Monster Rookie karena banyaknya penghargaan yang ia dapat despise her age dan lamanya dia debut. amgee, umur dia baru 16 tahun dan suaranya, suaranya itu… kelewat husky dan dewasa! HiHeel for lives (after VIP)!
kenapa dia yang jadi anaknya seungri? gapapa, karena nama marganya sama, jadi pakai dia aja. btw juga dia itu unyu :3 /alasanapaini
sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Adieu!
2013 © Miharu Koyama
All right reseved.
