roleplay: D. Young-bae/L. Seung-hyun
disclaimer: BIGBANG belongs with YG ENTERTAINMENT
warning: OOCness—just for safety, misstypo(s), beberapa prokem Indonesia terselip lol, BL, AU, fluff gagal?
summary: Apa ada orang yang mau menghabiskan hari liburnya hanya untuk bersakit-sakitan di rumah? Jawabannya jelas, hell no! — TaeyangSeungri / Baeri ‹3/?›
genre: family / romance
xxx
Tough Single-Parenting
「day one & two: barely sick.」
xxx
"Yah."
Seungri tetap terlelap dalam tidurnya, menolak untuk bangun.
Hayi hanya menghela napas. Perlahan, ia berbisik di telinga Ayahnya (dan di dalam hatinya ia berharap apa yang ia lakukan berhasil membangunkan Seungri), "Yah, bangun, Youngbae-ahjussi ada di rumah—"
Dan sebelum Hayi selesai berbicara, Seungri pun membelakkan matanya dengan sempurna dengan sedikit mengeram karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya.
Ah, berhasil.
Tumben.
Sebelum Seungri sempat berbicara, Hayi angkat bicara dengan kebingungan mulai merangkap pikiran pemilik tubuh mungil itu, "Yah, kenapa tiba-tiba ada Youngbae-ahjussi di rumah kita? Bukannya beliau tinggal di sebelah apartemen kita?"
Seungri segera menepuk dahinya pelan.
Ah ya, ia belum menceritakannya ke Hayi.
"Uh—" Seungri mengacak rambutnya kasar sebelum menghela napas panjang dan meresponnya dengan setengah hati, "Nanti Ayah jelaskan, sekarang mandi dulu, biar Ayah siapkan sarapan untuk kalian berdua." Berdua? Damn right. "Tapi—kok Hayi tahu kalau Youngbae-ahjussi ada di sini?"
Hayi terlihat berpikir sejenak sebelum merespon dengan ringan, "Ah, tadi sewaktu aku mau membersihkan kamar tamu, ternyata ada orang. Setelah kudekati, ternyata Youngbae-ahjussi. Ya sudah, akhirnya aku keluar."
Ia mengangguk pelan.
Hayi hanya mengangguk kecil, membalas anggukan Seungri, sebelum keluar dari kamar ayahnya itu sebelum menutup pintu—yang bersamaan dengan helaan napas Seungri yang kedua kalinya, dan lebih panjang daripada yang sebelumnya.
Hari pertama.
Hari pertama bersama dengan bos barunya, di apartemennya, di tempat di mana ia seharusnya mendapatkan privasinya dan juga hak untuk beristirahat.
Bagaimana ia akan menghabiskan waktu satu minggu itu dengan bos barunya itu?
Setelah ia menyiapkan sarapan untuk tiga orang (satu orang telah masuk dalam kesehariannya), dengan apron hitam kesayangannya yang masih melekat di tubuhnya, ia pun mengetuk ringan pintu kamar Youngbae dan mulai memanggilnya dengan sopan, "Youngbae-ssi, mind to join us for breakfast?"
Tidak ada respon.
Ia menautkan alisnya dengan heran, apa dia tipe orang yang susah bangun?, ia kembali mengetuk pintu kamar Youngbae dengan sedikit lebih keras, "Youngbae-ssi?"
Dan pintu terbuka, dengan pemandangan yang jauh dari ekspetasi Seungri.
Bila ia seorang perempuan, mungkin ia akan langsung berteriak dan pingsan pada saat itu juga. Itu menurutnya. Mungkin. Ia bukan perempuan, jadi ia hanya mengira-ngira.
Sosok pria yang beberapa senti lebih pendek darinya dengan tubuh yang … well-built, dan yah, kau benar, bertelanjang dada dengan hanya menyisakan celana hitam panjang—yang Seungri tebak ia masih memakai pakaiannya semalam.
"Ah, pagi."
Ia segera merespon dengan terbata—dan itu cukup membuat Seungri mengutuk dirinya sendiri karena ia tidak bereaksi dengan normal, "Pa-pagi. Ka-kalau tidak keberatan, bi-bisa Youngbae-ssi ikut sarapan dengan kami?"
Youngbae terpaku sejenak, "Kau tidak keberatan?"
Come on, Seungri, get a grip!, "Tidak—sama sekali tidak, tapi sepertinya kita harus menjelaskan kehadiranmu ke Hayi, dia belum tahu soal ini."
"Aah."
That's it?
Ia meneguk ludahnya paksa sebelum membuang muka dan kembali berbicara, "Ka-kalau tidak keberatan, Youngbae-ssi bisa mengambil barang-barangmu yang masih tertinggal di apartemen, mumpung hari ini libur."
Bos barunya itu mengangguk kaku, "Boleh kutahu kode apartemenmu?"
"55-0987-23."
Ia kembali mengangguk dan merespon, "Baiklah, tunggu sebentar, aku akan segera menyusul."
Seungri hanya mengangguk kaku dan mulai melangkah menjauhi kamar, kembali ke ruang makan dengan rasa panas mulai menjalar di pipinya—dan ditambah juga dengan seretan kakinya yang tiba-tiba sulit untuk digerakkan. Ia mencoba menahan rasa sakit yang kembali bersarang di kepalanya, dengan kapasitas rasa yang sama persis ketika ia bangun.
Hari ini dia kenapa?
"Oh ya."
Langkahnya terhenti dan berbalik dengan kebingungan terlukis jelas di wajahnya.
"Apron itu cocok untukmu."
Ia hanya bisa mengerjapkan matanya, tidak bisa menangkap apa maksud Youngbae dengan sempurna karena rasa sakit yang semakin memberatkan kepalanya dan cukup membuatnya kesulitan untuk berpikir jernih.
He?
"Uh… terima kasih?"
"Yah."
Seungri mengerjapkan matanya—ia hampir tertidur ketika tengah menonton televisi—dan menepuk pipinya pelan sebelum merespon, "Hm?"
Ia merespon dengan sedikit ragu, "Ng—Yah, hari ini boleh tidak aku menginap di rumah teman?"
Menginap?, Seungri angkat bicara, "Bukannya besok sekolah?"
Hayi menghela napas, "Yah, kapan terakhir kali Ayah melihat kalendar?"
Tunggu, sepertinya ada yang terlupakan.
Tanpa merespon, Seungri segera beranjak ke kamarnya dan mengecek kalender. Ng—besok, besok, besok—
Irisnya membesar.
Merah.
Ia segera mengecek hari berikutnya.
Merah juga.
Libur.
Dua hari lagi ia tidak akan bertemu dengan bos setan itu lagi.
Yes.
YOLO!
"YEAH! I'M FREE BABY! WOOHOO!"
"Yah?"
Oops.
Hayi menatap Seungri dengan kesal—namun ia segera menghela napas pelan ketika Ayah kesayangannya itu mulai turun dari ranjangnya dan terduduk dengan wajah memelas. "Lalu? Boleh tidak?"
Perlahan, Seungri menengadahkan kepalanya dan menatap Hayi dengan sedikit ragu, "Hayi mau menginap di rumah siapa?"
Ia merespon dengan senyum terhias di bibir tipisnya, "Minzy-ah!"
Seungri mengerutkan dahinya heran. Minzy? Minzy, Minzy, Minzy, Minzy—ah. "Gong Minji?"
Hayi mengangguk, "Dia mengajakku untuk main ke rumahnya. Orangtuanya juga pergi selama seminggu, jadi aku berniat untuk menemaninya sampai lusa. Boleh?"
"Ng—"
"Ayah~"
Seungri terpaku sejenak.
"Ayah~ boleh yaaa?"
Yak, serangan telak untuk duda 32 tahun itu.
Putrinya, Lee Hayi, tengah memohon dengannya dengan aegyo—mata membesar dan bercahaya layaknya anak anjing yang memohon pemiliknya untuk makan malam. Imut. Imut. Imut—IMUT.
Ah, sial, fetish-nya akan aegyo masih belum bisa hilang.
Ia segera mengontrol dirinya sebelum kehabisan napas akan kemanisan putrinya itu sebelum merespon dengan helaan napas panjang, "—aish, terserah, tapi jangan sampai merepotkan mereka ya."
Senyum Hayi melebar, "Makasih Yah!"
Seungri pun ikut tersenyum lebar—lebih tepatnya menyeringai jahil, "Pelukannya mana?"
Dan hanya juluran lidah dan ucapan "Maunya!" menjadi jawabannya sebelum ia keluar dari kamar Ayah tercintanya itu.
Yah, sesekali tidak apa-apa kan?
Lagipula itu tandanya ia bisa sendiri dan bersantai di ranjangnya tanpa teriakan putrinya yang memekakkan telinga.
Ah.
Masih ada bos barunya.
Ah, ia bisa pikirkan soal itu nanti.
"Semuanya sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan kan?"
Hayi mengangguk pelan.
Perlahan, Seungri mendekati Hayi dan menepuk kepalanya pelan, "Jangan sampai membuat Minzy repot ya."
"Ne." Ia tersenyum lebar. "Kalau begitu, aku berangkat dulu."
Seungri mengangguk, "Hati-hati."
Dan Hayi hanya tersenyum sebelum menutup pintu apartemen mereka.
Seungri menghela napas sebelum kembali ke ruang tengah dengan malas-malasan dan melempar tubuhnya di sofa, mencoba merilekskan tubuhnya yang mulai memanas dan pegal. Dia sendiri sebenarnya curiga bila dia tengah demam, tapi ia singkirkan semua pikiran itu dengan beranggapan cuaca hari ini terlalu panas hingga membuat dirinya gerah.
Yap.
Bukankah sekarang sudah siang?
"Seungri-ssi?"
Seungri berusaha membuka kelopak matanya dengan susah payah dan merespon Youngbae—yang ia tebak tengah berada di hadapannya dan menatapnya dengan khawatir, tunggu, apa? "Ya?"
"Kau baik-baik saja?" Tanya Youngbae khawatir dengan punggung tangan mengecek suhu di dahi Seungri. "… Panas."
Ia menggeleng pelan, "Aku tidak apa-apa, cuacanya saja yang sedang panas."
Youngbae menautkan alisnya heran, "Cuacanya panas?"
Dengan susah payah, ia berusaha beranjak dari sofa dan membenarkan posisi duduknya, dan merespon dengan anggukan kecil, "Ne, dan … Youngbae-ssi, kenapa tanganmu dingin sekali?"
Iris gelap di balik kelopak sipitnya itu membesar, seolah-olah perkataan Seungri barusan benar-benar tidak sesuai dengan dugaannya. Ia kembali menghela napas, "Seungri-ssi," ia mulai mengecek suhu Seungri di dahinya lagi dan di lehernya—dan mendapat respon sedikit sentakan darinya, "Kau demam."
"Aku tidak—"
Youngbae segera meraih cermin milik Hayi—yang tertinggal di meja ruang tengah—dan meletakkannya persis di hadapan Seungri, "Wajahmu memerah."
Dan perkataan Seungri untuk membalasnya tertelan dalam di tenggorokannya ketika ia melihat sosoknya sendiri di depan cermin.
Ah.
Benar-benar semerah tomat.
Pantas saja dari pagi tingkahnya aneh.
"Ah… pantas saja dari pagi kepalaku sakit—" dan terhenti dengan rintihan pelan akan rasa sakit mulai terasa seperti menggenggam otaknya erat. "—tidak apa-apa, sebentar lagi juga hilang. Tidak apa."
Youngbae kembali memastikan suhu Seungri sebelum angkat bicara, "Kau harus ke dokter." Sebelum Seungri meresponnya dengan keras kepala, ia meneruskan, "Lagipula ini masih musim semi, tidak mungkin bisa membuat tubuhmu sepanas ini."
Seungri menggeleng dengan keras kepala, tidak ingin membuang masa liburan yang langka itu di rumah sakit—bahkan hanya untuk sekedar memeriksakan dirinya ke dokter pun ia tidak rela.
"Seungri-ssi."
Gelengannya semakin keras.
Sebuah helaan napas kembali keluar dari Youngbae sebelum mendekati Seungri dan berbisik tepat di telinganya, "Seunghyun-ah."
Dan dalam waktu singkat dirinya diserang oleh perasaan asing di sekujur tubuhnya.
"Seunghyun-ah," Seungri mulai merasakan bulu kuduknya berdiri—terutama di bagian telinganya yang diterpa napas hangat bosnya itu—akibat panggilan Youngbae dengan nama aslinya barusan, "Turuti atau—"
Sebenarnya bisa saja Seungri langsung menurut dan pergi ke rumah sakit, tapi keras kepalanya masih tersarang di dalam tubuhnya—walaupun umurnya sudah termasuk kepala tiga—akibat efek demamnya itu, "Aku bukan anak kecil lagi, oke? Jadi tidak, terima kasih."
Seringai kecil mulai terlukis di wajah Youngbae, "—apa harus aku menyuapi obatnya dari mulut ke mulut agar kau mau menurut?"
Seungri segera menarik kerah kemeja Youngbae dan menatapnya dengan tajam. Ia sudah tidak perduli lagi dengan perbedaan status mereka; dia hanya ingin tenang di hari liburnya, bukan diganggu oleh salah satu anak buah dari bos setan merah itu. "Maumu apa, hah? Kau gila? Mana aku mau melakukannya denganmu!"
Ia hanya merespon dengan ringan—lebih tepatnya tenang, "Kau tidak ingin Hayi-ah khawatir akan keadaanmu kan?"
Dan genggamannya pun mulai mengendur seiring dengan anggukan kecilnya.
Aish, kenapa dia jadi selemah ini sih!
Seungri menghela napas berat. Ah, ya sudahlah, "Oke, oke, tapi jangan beritahu Hayi."
Youngbae pun tersenyum tipis, "Asal kau mau menurutiku untuk pergi ke dokter."
Ia merespon dengan cibiran kecil, "Asal jangan suapi aku obat dari mulut ke mulut."
Dan sebuah gelengan dan tawa kecil pun menjadi responnya sebelum Youngbae menuntunnya ke mobil, dan mengantarnya ke rumah sakit terdekat.
"Cepat sembuh ya."
Itulah kata-kata terakhir Lee Seonwoong, Dokter langganan Seungri sebelum mempersilahkan dirinya keluar dari ruangan dengan sekantung set obat di tangannya.
Ia hanya bisa menghela napas ketika Seonwoong memvonisnya terkena demam karena over-work dan kurang istirahat. Sebenarnya Seungri pun sudah menduga itulah penyebab sakitnya, berhubung hanya dialah yang diberi 'penanganan spesial' oleh Dongwook; kerjaan tambahan dan segala macam untuk mencegahnya pulang sesuai jadwal.
Mungkin sebaiknya Seungri menuntut bos sialannya itu agar dia kapok memberikannya kerja tambahan.
Aah.
"Bagaimana?"
Seungri tersentak dari lamunannya dan menghampiri Youngbae—yang sedari tadi menungguinya—dengan langkah berat, dan merespon dengan sedikit serak, "Beliau bilang aku terkena demam karena over-work dan kurang istirahat. Paling besok juga sembuh."
Bos barunya itu pun menghela napas lega, "Baguslah."
"Bisa kita pulang? Kepalaku mulai sakit." Rengek Seungri lemah. "Ah ya, kalau bisa mampir ke mini market dekat sini, bahan di kulkas mulai habis."
Ia hanya tertawa pelan sebelum mengangguk dan merespon, "Kau benar-benar mau belanja dengan keadaan seperti ini?"
Seungri mengangguk, "Kan ada Youngbae-ssi."
"Baik, baik." Youngbae pun tersenyum dan menepuk kepala Seungri pelan—lebih tepatnya membelainya sih, "Ayo."
Namun sebelum Seungri masuk ke mobil Youngbae, manik cokelat terangnya menangkap sosok yang sama sekali tidak ia duga.
Dara.
Dara dan—
Laki-laki lain.
Seungri mengerjapkan matanya berulang kali, benar-benar tidak percaya dengan pemandangan yang disuguhkan padanya saat ini. Dara dan pria itu terlihat mesra; jemari tangan bertautan dan saling berbisik yang berakhir dengan semu merah di kedua wajah mereka. Dara yang tersenyum; Dara yang bergelayut mesra dengan pria itu; Dara, Dara yang—
Ia segera menggeleng kepalanya cepat.
Mereka sudah bercerai; mereka sudah berakhir; mereka sudah saatnya mencari yang baru. Seungri sadar, sangat sadar akan hal itu, hanya saja—dia—tidak bisa.
Bolehlah ia terlihat player atau pun playboy atau apalah, tapi dia—Tuhan, dia benar-benar ingin memiliki seseorang yang bisa berada di sampingnya pada saat ia sakit seperti sekarang, bukan dengan bos baru yang ia temui dua hari lalu.
Dia ingin mencintai dan dicintai lagi oleh seseorang.
"Seungri-ssi?"
Ia tersentak dari lamunannya dan merespon dengan gagap sebelum ikut masuk ke dalam mobil, "A-ah, maaf, tadi aku sedikit—kau tahu, blank."
Youngbae menajamkan sorot matanya ke pria yang dua tahun lebih muda darinya itu, "Blank? Apa gara-gara demammu?"
"Yah, semacam itulah." Responnya asal.
Ia harus segera pergi dari tempat itu.
Harus.
Kalau tidak, dinding kokoh yang selama ini melindungi hatinya bisa luruh pada saat itu juga—dan dalam satu ketukan, hidupnya tidak bisa sama lagi seperti sekarang.
"Jadi ke mini market?"
Seungri tidak merespon.
"Seungri-ssi?"
Kelopak mata Seungri mulai memberat, menolak untuk terbuka.
"Seungri-ssi? Seungri-ssi! Seung—Seunghyun-ah!"
Ia tidak bisa mendengar apa-apa lagi.
Pandangannya mulai menggelap, dengan bayang-bayang sosok bosnya yang mulai mengabur, dan berganti dengan sosok yang sama sekali ingin ia hindari.
Dara,
Dirinya,
Dan Hayi,
Berada dalam satu bingkai bernamakan kehangatan keluarga,
Namun serentak langsung luruh dan pecah berkeping-keping.
Hancur.
Hancur tak berbentuk.
Ia menemukan dirinya tengah berada di sebuah kamar yang gelap, dengan dahi terkompres handuk basah, dan sosok Youngbae yang tertidur di pinggir kasurnya.
Seungri mengerjapkan kelopak matanya sebelum beranjak dari posisinya dan tangan kekar namun lentiknya meraba-raba meja kecilnya, mencoba mencari saklar lampu kecilnya. Setelah ia menyalakan lampu, iris cokelat cerahnya mulai melirik ke sosok bosnya, yang saat ini tertidur dengan damai di pinggir kasurnya.
Dan ketika ia melirik ke kanan, ia menemukan sebuah mangkuk besar berisikan air dingin dan es yang mulai meleleh beserta handuk basah lainnya.
Ia mengurusku sampai—, Seungri pun melirik jam wekernya. Pukul 11 malam. —semalam ini? Serius?
"Ngh…"
Belum selesai Seungri berpikir, Youngbae mulai terbangun dengan erangan pelan terlepas dari bibirnya. Ia mengusap kelopak matanya dengan punggung tangannya sebelum angkat bicara dengan senyum lemah terlukis di wajahnya, "Ah, bagaimana keadaanmu?"
Ia merespon dengan suara serak, "Uh… sudah lebih baik—" namun terhenti karena batuk dahaknya yang mulai mengeras. "Obat—Youngbae-ssi, tolong—"
Dengan sigap, Youngbae segera menyerahkan obat sesuai prosedur di kantungnya dan segelas air putih, "Pelan-pelan."
Seungri hanya menjawab dengan anggukan kecil sebelum meminum obatnya, dengan satu persatu obat dengan berbagai bentuk itu masuk ke kerongkongannya. Aish, Seonwoong-ssi, obatmu terlalu banyak, rutuknya kesal. Pantas saja aku malas ke dokter kalau begini ceritanya.
"Maafkan aku."
Ha?
Ia segera menghabiskan minumnya dan merespon dengan kebingungan, "Kenapa Youngbae-ssi meminta maaf? Harusnya aku yang minta maaf karena sudah sangat merepotkanmu seperti sekarang—dan hei, kau bahkan merawatku sampai semalam ini."
Youngbae menggeleng cepat, "Kalau aku tahu kau langsung pingsan seperti tadi, seharusnya aku langsung membawamu pulang. Maaf."
"Bukan salahmu."
"Tapi—"
Seungri pun menepuk pipi Youngbae pelan, meresponnya dengan senyum lemah menyertai ucapannya, "Youngbae-ssi, aku tidak tahu apa alasanmu tiba-tiba memanggilku dengan nama asliku, tapi aku sama sekali tidak masalah—oke, itu keluar dari topik, maaf—dan aku sangat bersyukur kau tidak meninggalkanku sendirian di rumah sakit, kau bahkan membawaku pulang dan merawatku hingga semalam ini. Justru aku berhutang budi padamu. Terima kasih."
Youngbae hanya bisa terdiam sebelum mengangguk kecil dan merespon "Sama-sama" dengan suara pelan.
Kamar Seungri pun mulai menghening dengan suasana aneh melingkupi mereka berdua, dengan tidak ada salah satu dari mereka berniat untuk memecahkannya. Mereka hanya terdiam, dengan tangan Seungri yang mulai lepas dari wajah Youngbae namun tatapannya masih terpaku dengan manik gelap bosnya itu—begitu juga sebaliknya.
Namun suara nyaring ketel mendidih berhasih mematahkan suasana dan juga interaksi mereka.
Mereka tersentak dan langsung membuang muka ketika sadar dengan apa yang mereka lakukan. Youngbae pun hanya terdiam dan langsung beranjak dari duduknya sebelum bergumam "Sebentar." dan keluar dari kamarnya, melangkah ke arah dapur untuk membereskan pekerjaannya.
Dan Seungri hanya di sana, di kamarnya dengan wajahnya yang mulai bersemu merah pekat.
Tadi—tadi apa yang—barusan apa yang sudah kulakukan?
"Seungri-ssi?" Youngbae pun menyalakan lampu kamar Seungri dengan sebuah nampan di tangannya. "Aku membuatkanmu bubur, kalau tidak keberatan—kenapa wajahmu memerah lagi? Demammu kambuh lagi?"
Seungri menggeleng cepat, tidak memperdulikan bila tingkahnya itu mengakibatkan rasa sakit yang bersarang di kepalanya kambuh, "Ti-tidak apa-apa!"
"Kau yakin?"
Ia mengangguk cepat—namun dengan refleks ia memegangi kepalanya, mencoba menahan rasa sakit yang mulai memberati kepalanya.
Youngbae segera meletakkan nampan di meja kecil di samping ranjang Seungri dan mulai kembali mengecek suhu badan anak buahnya itu dengan hati-hati. Ia bergumam pelan, "Sudah tidak terlalu panas, tapi sebaiknya kau tidur saja lagi."
"Buburnya—"
Ia tersenyum kecil, "Lebih baik kau istirahat dulu, nanti akan kubuatkan lagi kalau kau sudah bangun." Responnya sembari merebahkan Seungri kembali di ranjangnya.
"Tapi—"
"Ssh."
Seungri pun hanya bisa mencibir pelan, "Baik, baik, aku menurut dengan suster Youngbae-ssi."
"Hyung."
Ia mengerjapkan kelopak matanya yang berat dengan kebingungan mendera kepalanya, "He?"
Youngbae pun kembali duduk di samping Seungri dengan ekspresi tak tertebak terlukis di wajahnya. Ia pun segera angkat bicara untuk menjelaskan apa maksudnya barusan, "Uh… maksudku, sepertinya kalau menggunakan honorifiks ssi sepertinya sedikit … kau tahu, aneh?"
Seungri mengangguk kecil. Memang sih, dia juga merasa aneh. Memanggil orang yang hanya dua tahun lebih tua darinya dengan embel-embel ssi itu sedikit … aneh. Dia terbiasa memanggil seseorang dengan embel-embel ssi untuk orang yang lima tahun—atau ke atas—darinya, ah, atau teman satu rekan kerjanya yang tidak terlalu dekat dengannya.
Tapi bosnya ini dia golongkan kemana?
Entah.
Tapi sepertinya ia bisa menolerirnya.
"Ah, kalau begitu Youngbae-hyung?" Responnya tanpa pikir panjang. Perlahan ia melihat reaksi Youngbae dan… hei, kenapa dia menatapnya dengan tatapan aneh? "Hyung, kau kenapa?"
Youngbae berucap dengan nada terkejut terselip di suaranya, "Segampang itu?" Menyadari bila bisa saja Seungri salah menerka maksud responnya barusan, Youngbae segera membenarkan ucapannya dengan sedikit terbata, "Ma-maksudku, kau—"
Ia hanya merespon dengan lemah—berhubung tenggorokannya mulai merasa perih, "Tidak apa kan? Bukannya malah bagus? Kita berdua tidak usah terlalu kaku, santai saja seperti hyung dan dongsaeng-nya. Lagipula kita tidak sedang berada di kantor, jadi tidak masalah."
"You sure talk a lot even now you're sick."
Seungri mendengus pelan. Duh, kenapa semua hyung-nya selalu menyebalkan pada saat ia tengah serius-seriusnya sih? "Thanks for the compliment."
Youngbae tertawa kecil, "Sama-sama." Ia pun mulai beranjak dari bangkunya dan melangkah keluar dari kamar Seungri dan mematikan lampunya. Namun sebelum ia menutup pintunya, ia berbalik dan kembali bersuara, "Istirahat yang cukup."
"I will."
Dan pintu tertutup dengan suara klik pelan.
Mungkin malam ini Seungri bisa mimpi indah berkat hyung barunya itu. Mungkin. Entah. Atau bisa saja ia mendapat mimpi yang paling indah dari semua mimpi yang pernah ia dapat.
Nanti, pada saat ia bangun, ia harus berterima kasih kepada Youngbae atas semuanya.
Nanti.
Keesokan harinya, Seungri kedatangan tamu tak diundang yang langsung masuk apartemennya dengan memasukkan kode di pintunya.
"Seunghyun?"
Seorang wanita dengan rambut coklat panjang memasuki apartemen Seungri dengan perlahan, dengan tangan membawa banyak kantung belanjaan. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling; sepi, dan… sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa ada kehidupan di sana.
Dan mau tidak mau, hal itu otomatis membuat wanita itu panik.
Ia segera melepas boot panjangnya dan menaruh kantung belanjaannya di meja makan sebelum berjalan ke kamar Seungri dengan terburu-buru; dia harus segera mengecek keadaan pria itu, kalau tidak—Tuhan, dia tidak bisa menebak apa yang terjadi nantinya.
"Seunghyun?" Ia mencoba mengetuk pintu kamarnya dengan pelan, namun respon yang ia harapkan tak kunjung muncul—dan justru membuat kepanikannya bertambah parah. "Seunghyun! Seunghyun-ah!"
Masih tidak ada respon.
Wanita itu terpaksa membuka pintu kamarnya tanpa izin dan menemukan Seungri di sana, yang tengah tertidur dengan nyaman di ranjangnya. Dengan mencoba mengontrol kepanikannya, ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Semuanya baik-baik saja; tidak ada kerusuhan atau pun tanda-tanda pencuri masuk ke apartemen itu.
Ia menghela napas lega.
Perlahan, ia segera menutup pintu kamar Seungri dan berjalan ke ruangan sebelah; ruangan yang biasa digunakan untuknya selama menginap di sana. Tanpa berpikir apa pun, ia segera membuka pintu kamar itu dengan senyum lega—namun segera menghilang dari wajahnya ketika ia menemukan sosok pria bertelanjang dada tengah berada di sana, tidur dengan wajah polos bagaikan bayi yang tidak berdosa.
Satu,
"Apa—"
Dua,
"—siapa—"
Tiga!
"PENYUSUP!"
Youngbae segera terbangun dari tidurnya dan menemukan sosok wanita bermata tajam tengah menatapnya dengan amarah yang amat sangat terlukis di wajahnya. Ia tidak bisa memproses apa yang tengah terjadi, tapi—
Ia bisa merasakan sebuah tas bermerek tengah melayang di wajahnya dan menimpanya hingga membuatnya pingsan.
Who? Who's that girl? Anyone curious who's she? No? But she'll reveal herself on the next chapter!
So, to the next chapter!
a/n.
ANNEYONG HASEO SEMUANYAAAAAAAAAAA /dan selanjutnya diusir
halohalohalo! ada yang kangen saya ga? gaada? oke, gapapa. /heh
oke, halo semuanya! saya lagi seneng: UN sudah selesai, tinggal tunggu hasil, ada waktu buat bikin ffic lagi~ :3
oke, saya gamau panjang-panjang, saya hanya ingin menyampaikan terima kasih untuk silent readers dan para reviewers (untuk yang memiliki akun sudah saya balas lewat PM dan untuk para anon/guest, maaf tidak bisa saya balas satu-satu) yang sudah bersedia untuk memberikan sebagian waktu dari hidup kalian /apa/ untuk visit ke ffic ini. tanpa kalian, mungkin project ini tidak akan pernah ada. :)
btw Lee Seonwoong itu Tablo. siapa yang tengah bersama Dara? siapa ya? kasih tahu ga ya~? :3 /stabh
sampai ketemu di chapter selanjutnya~ :D
Adieu!
2013 © Miharu Koyama
All right reseved.
