Ketika Seungri terbangun dan keluar dari kamarnya, hal yang pertama kali ia lihat ialah Youngbae yang terikat di kursi meja makan dan sosok wanita yang tengah memasak sesuatu di dapurnya.
Ia mengerjapkan matanya sebelum mengusapnya dengan punggung tangannya, tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Tunggu, Youngbae terikat? Sosok wanita?
"Ah, Seunghyun, kau sudah bangun?"
Dan sosok wanita itu berbalik dengan senyum polos terlukis di wajahnya.
Rahang Seungri serasa terjatuh di lantai.
"Cha-Chaerin," Dengan sedikit gagap, ia menunjuk Youngbae—yang perlahan kesadarannya mulai kembali—dengan tangan gemetar dan angkat bicara, "Kau—apa yang kaulakukan—"
Lee Chaerin—sosok wanita yang tersenyum polos itu—hanya merespon dengan enteng, "Oh, Penyusup ini? Aku menemukannya di kamar biasa aku menginap, tapi tenang, dia tidak berbahaya kok. Ngomong-ngomong Hayi mana?"
Seungri speechless.
"Cha-Chaerin-ah—"
Senyumnya masih belum menghilang dari wajahnya.
Ia meneguk ludahnya dengan paksa sebelum melanjutkan perkataannya, "—dia—dia bos di tempatku bekerja."
Senyum itu segera menghilang dengan instan.
"Serius."
Ia segera mengangguk cepat.
"Oops."
Ia bisa merasakan tatapan Youngbae mulai menusuk tajam ke tubuhnya, meminta penjelasan di balik semua ini.
Tuhan, sepertinya hari ini tidak akan bisa selesai semudah yang ia impikan semalam—dengan sakitnya yang mulai membaik, dan… kesalahpahaman di antara adiknya dan bosnya itu.
Aish.
Mungkin hari ini adalah hari terberat untuknya.
Mungkin sih.
roleplay: D. Young-bae/L. Seung-hyun
disclaimer: BIGBANG belongs with YG ENTERTAINMENT
warning: OOCness—just for safety, misstypo(s), beberapa prokem Indonesia terselip lol, BL, genre's changed, AU, fluff gagal?
summary: Ketika bayangan hyung barunya itu memenuhi benaknya sementara di sisi lain adik perempuannya datang dengan sangat tidak epik. — TaeyangSeungri / Baeri ‹4/?›
genre: drama / romance
xxx
Tough Single-Parenting
「day two&three: little mess」
xxx
"…mianhamnida."
Dan sebuah permintaan maaf pun keluar dari bibir Chaerin—walaupun dari mimik wajahnya sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia menyesal telah mengikat Youngbae.
Youngbae pun hanya menghela napas ketika mendengar seluruh penjelasan dari Seungri—walaupun dengan napas tersengal karena hidungnya yang tersumbat—dan melepaskan dirinya dari ikatan tambang Chaerin. Ia pun mulai menatap Chaerin dengan pandangan meneliti—dan ia pun mulai angkat bicara, "Jadi namamu Lee Chaerin dan juga adik Seungri?"
Wanita itu mengangguk kecil.
"Dan ruangan yang kutempati sebenarnya kamar yang sering kaupakai bila berkunjung ke sini?"
Ia kembali mengangguk.
"Dan—" Youngbae mencoba mengingat-ingat apa yang barusan Seungri beritahukan padanya, "—pekerjaanmu adalah seorang model di sebuah majalah terkenal?"
Chaerin kembali mengangguk.
Youngbae menghela napas, "Dan minggu ini kau berencana untuk menginap di sini untuk bermain dengan Hayi?"
Ia akhirnya angkat bicara dengan sedikit kesal, "Dan sayangnya aku tidak bertemu Hayi di sini. Seunghyun, seharusnya kau bilang kalau Hayi tidak ada di rumah, seminggu yang lalu kau sudah kuhubungi kalau aku mau ke sini kan?"
Seungri hanya bisa menggaruk pipinya yang tidak gatal dan merespon, "Aku lupa—"
"—Dia sakit, wajar saja kalau dia lupa." potong Youngbae sembari menatap Chaerin dengan tatapan datar. "Tapi dari wajahnya dia memang terlihat seperti orang pelupa sih."
"Hyung!"
Ia membiarkan respon dongsaeng barunya itu dan kembali mencoba mengorek informasi selengkap-lengkapnya dari wanita bertampilan modis itu, "Kalau boleh tahu, berapa umurmu?"
Chaerin merespon dengan sedikit kebingungan—mungkin ini baru pertama kalinya ia ditanyai umurnya secara terang-terangan, "31 tahun, kenapa memangnya?"
Iris kelam Youngbae terlihat memecah sebelum menghela napas dan menjawab dengan nada heran, "Sepertinya seluruh keluarga kalian dianugerahkan wajah awet muda ya."
"Ha? Barusan kau bilang apa?"
Youngbae menggeleng pelan, "Lupakan." Ia pun mulai memperhatikan Seungri yang beranjak dari bangkunya dan melanjutkan masakan Chaerin yang sempat tertunda. "Ngomong-ngomong—"
Belum selesai Youngbae berbicara, Chaerin angkat bicara dengan nada seolah-olah memang mencegah pria itu menanyainya lebih jauh lagi, "Seunghyun-ah, bagaimana kalau hari ini kau menemaniku pergi ke taman ria?"
Seungri menghela napas, "Tidak mau." Ia mulai mengambil beberapa penyedap dan memasukannya ke dalam panci. "Aku lebih suka di rumah."
"Hei—"
Chaerin mencibir pelan, "Ayolah, kita kan sudah lama tidak pergi berdua seperti dulu, kebetulan jadwalku juga sedang kosong." Tak ada respon. Ia menghela napas, sepertinya dia memang harus menggunakannya. "Seunghyun—"
Seolah-olah tahu apa yang akan Chaerin lakukan selanjutnya, Seungri segera mencegahnya dengan datar, "Jangan gunakan itu lagi. Karena itu juga kau hari ini kau tidak bisa bermain dengan Hayi tahu."
"—ah sial, ketahuan."
Seungri menghela napas pelan dan kembali mengaduk isi panci sebelum mencoba rasanya. Hambar. Ia segera berbalik ke Chaerin—yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya—dan berkomentar, "Kenapa rasa sup buatanmu hambar sekali?"
Chaerin mendengus, "Bodoh, kau kan sedang sakit."
Oh ya.
Pantas saja.
Wanita itu menghela napas, "Sudah, sini, biar aku saja yang memasak." Ia mengambil alih sendok sayur yang tengah Seungri pegang dan mendorong kakaknya itu pelan agar kembali ke kamarnya. "Sebaiknya kau mandi, bau tahu."
Seungri pun berbalik mendengus padanya, "Iya, iya, cerewet." sebelum masuk ke kamarnya dengan pelan—namun sebelum ia menutup pintu kamarnya, ia berbalik dan angkat bicara sembari menunjuk Chaerin yang masih memasak, "Youngbae-hyung, hati-hati dengan wanita di sana ya, salah-salah kau bisa dicakar."
"Sialan kau. Seunghyun-ah! Awas kau—"
Sebelum Chaerin selesai bicara, ia menutup pintu kamarnya dengan siulan panjang, dan tertawa pelan sebelum beranjak ke kamar mandi.
Setidaknya hari ini tidak seburuk yang ia duga.
Setelah ia selesai membersihkan tubuhnya, Seungri keluar dari kamar mandi dengan helaan napas panjang menyertainya.
Kenapa Chaerin harus datang sih?
Semoga saja ia tidak merusak hari ini…, batinnya terbebani sebelum mulai berpakaian santai seperti biasa, kaus hitam dengan deretan tulisan berwarna putih dan celana training hitam, dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk sebelum keluar dari kamarnya dan juga menemukan sosok adiknya yang masih berada di dapur, menata meja makan untuk porsi tiga orang dengan apron hitam miliknya terpasang manis di lekuk tubuh indahnya.
Sayangnya Seungri tidak tertarik.
"Sudah selesai?" tanya Chaerin sembari menyiapkan sarapan di meja.
Ia mulai melangkah menghampiri meja makan dan menyentil dahi Chaerin sebelum duduk dengan helaan napas panjang, "Kau tidak lihat aku yang sudah tampan begini? Aigo…"
Chaerin mencibir, "Narsis." Sebelum meletakkan tiga mangkuk sup ayam di meja dan ikut duduk di sebelahnya. "Hei, Seunghyun-ah."
Seungri mulai mengambil sumpitnya—namun sebelum sempat mencicip sup, punggung tangannya ditampar pelan oleh Chaerin dan membuatnya mengurungkan niatnya. "Apa? Dan panggil aku Oppa, aku ini lebih tua tahu."
Namun Chaerin hanya menganggapnya angin lalu dan tetap meneruskan ucapannya, "Siapa nama bosmu barusan? Dan… kenapa bos—baru—mu bisa tinggal di sini? Memangnya dia tidak punya tempat tinggal?"
"Namanya Dong Youngbae. Kau tadi tidak dengar ya?" Seungri hanya bisa menghela napas dan meminum air mineral—yang terasa pahit di lidahnya—sebelum meneruskan responnya, "Tentu saja dia punya dan seharusnya dia tinggal di sebelah apartemen ini, hanya saja kata Jaesung-ssi sistemnya bermasalah, jadi—kupikir kau tahu apa lanjutannya."
"Kau sebenarnya ingin menolak tetapi ketika kau melihat wajahnya yang memelas akhirnya kau melunak dan malah mengajaknya masuk lalu membiarkannya tinggal di sini." Chaerin segera menukasnya dengan cepat namun monoton. Melihat ekspresi Seungri yang terlihat 'kenapa-kau-bisa-tahu?', ia hanya bisa menghela napas, "Tuhan, Seunghyun, kau benar-benar gampang ditebak."
Seungri mengerutkan keningnya, meragukan apa yang Chaerin katakan barusan. Is he that easy to read?
Belum sempat Seungri membalas, Chaerin angkat bicara dengan sedikit malas, "Lihat, lihat," Chaerin segera menunjuk wajah Seungri dengan jemari lentiknya, "Ekspresimu sekarang seperti mengatakan 'ah, masa sih?' dengan wajah mesummu itu."
"Yah! Aku tidak mesum!" bantahnya tanpa ragu.
Dan Chaerin hanya menyeringai kecil, "Katakan itu kepada orang yang menyimpan AV—dan juga JAV—di balik lemari pakaiannya."
Yak! Serangan telak untuk Seungri!
Seungri hanya bisa terpaku dengan pipi sedikit bersemu merah dan keringat dingin mulai turun melewati pelipisnya, benar-benar terasa seperti terpojok dalam sudut mati, "…itu masa lalu oke, lupakan, ya, ya, ya?" responnya sembari mengibaskan kedua tangannya, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong bagaimana pekerjaanmu? Apa tidak ada masalah mengambil cuti selama itu?"
Ia menggeleng kecil, "Tidak juga. Lagipula minggu ini aku kosong, jadi tidak masalah." Setelah mendapat respon anggukan kecil dari Seungri, Chaerin mulai angkat bicara, "Kau tidak ambil cuti?"
Seungri menggeleng lemah, "As if I can."
"Kabur saja." celetuk wanita itu cepat.
Ia hanya bisa menatap wanita yang tengah berada di sampingnya ini dengan 'are-you-kidding-me' sebelum memijat pelipisnya dan menghela napas panjang, "Chaerin-ah, aku itu bukan kau, yang bisa kabur tapi tetap memiliki sponsor. Aku hanya karyawan biasa yang… over-worked tapi gaji pas-pasan."
Namun respon Chaerin jauh dari perkiraan Seungri—dia berpikir adiknya ini akan merespon dengan 'Kau berlebihan.' dengan tawa khasnya, tapi tidak, respon wanita di depannya sekarang hanya mengerutkan keningnya dan menatapnya dengan datar.
Merasa ada yang salah dengan perkataannya, Seungri kembali berucap dengan heran, "Ada yang salah dengan kata-kataku?"
"Kau sudah hampir empat tahun kerja dan sama sekali belum mendapat promosi di tempat kerja keduamu ini?" tanyanya dengan keterkejutan tergambar jelas di perkataannya. "Dan over-worked—maksudmu—"
"Kalau kau penasaran kenapa sampai sekarang aku belum mendapat promosi, yah, silahkan tanyakan bos setan merah itu. Dia selalu memberikan berkas yang seharusnya dia yang mengerjakannya dan membuatku pulang telat. Mungkin karena itu juga kemarin aku sakit." Potongnya dengan pasrah. "Aish, mentang-mentang sudah punya istri, seenaknya saja menyuruh orang."
Chaerin hanya bisa menggeleng tak percaya dan merespon pelan, "Sebaiknya kau juga cepat menikah, agar bila dia menyerahkan tugasnya padamu, kau bisa menolak dengan alasan istri dan anakmu menunggu di rumah."
Menikah…
Seungri masih belum siap—dan belum tentu juga Hayi mau.
Ia menopang dagunya dan mulai menghela napas, "Aku belum siap… dan yah, aku belum punya calon."
Chaerin menyandarkan kepalanya di meja dan berbicara dengan pipi kanannya mencium meja, "Kalau begitu, siapa orang yang akhir-akhir ini menyita perhatianmu? Siapa tahu bisa membuka peluangmu jatuh cinta lagi."
Menyita perhatiannya?
Jujur saja, semua penampilan wanita dari departemen di mana ia bekerja memang menarik, hanya saja… dia sama sekali tidak tertarik—lebih tepatnya, ketika ia mencoba menggaet salah satu dari mereka, reaksi mereka tidak sesuai yang ia harapkan.
Semua reaksinya mengecewakan.
"Sebenarnya sih belum—" namun sebelum ia selesai menjawab, bayangan Youngbae berkelebat di pikirannya; Youngbae yang membujuknya dengan keras ke rumah sakit, Youngbae yang mengantarnya dengan sukarela ke rumah sakit, Youngbae yang merawatnya semalaman, Youngbae yang terkadang enggan padanya, Youngbae—Youngbae yang… semalam menatapnya dengan tatapan lembut namun hanya sejenak.
Mau tidak mau hal itu membuat pipinya sedikit bersemu merah dan menggeleng cepat, berusaha menghilangkan bayang bos barunya itu yang tiba-tiba muncul di otaknya.
Kenapa—kenapa Youngbae yang—
"—atau ada namun baru kausadari barusan?" tukas Chaerin dengan seringai kecil.
Belum sempat Seungri membantah, Youngbae menampakkan dirinya di dapur—dan juga ruang makan—dengan wajah datarnya—atau lebih tepatnya, wajah polosnya. Dan jujur saja, hampir membuatnya terjatuh dari kursinya.
"…uh, apa aku mengganggu pembicaraan kalian?" tanya Youngbae dengan ekspresi sedikit bersalah terlukis di wajahnya.
Seungri segera menggeleng cepat, "Ti—tidak, sama sekali tidak." Dan mencolek Chaerin untuk mengikuti kebohongan kecilnya. Melihat Chaerin yang mengangguk kecil, ia menghela napas lega dan mulai angkat bicara, "Hyung tidak ikut sarapan dengan kami?"
Youngbae menggeleng kecil, "Aku tidak ingin mengganggu kalian, sebaiknya aku sarapan di luar saja—"
Seperti mengerti situasi di antara mereka berdua, Chaerin angkat bicara, "Tapi aku sudah menyiapkan sarapan untuk Anda." Sembari menunjuk ke meja makan.
Ah ya, tadi Chaerin sudah menyiapkan sarapan untuk tiga orang.
Ia bisa melihat hyung barunya itu terdiam sejenak dan melihat meja makan dan kembali menatap mereka berdua dengan ragu, "Apa tidak apa-apa?"
"Mochiron desu." Respon Chaerin, tanpa sadar menggunakan bahasa Jepang. "Ah, maaf, aku terlalu lama di Jepang untuk pekerjaan—"
Youngbae refleks merespon dengan bahasa yang sama, "Hontou desuka? Boku, koko ni tabemasu?"
Chaerin tersenyum penuh arti, "Tentu saja, tidak masalah." Dan melirik Seungri yang menatapnya bosan. "Shall we eat then?"
Seungri mengangguk kecil, tidak berusaha untuk ikut dalam percakapan mereka—walaupun ia sangat mengerti apa yang mereka bicarakan.
Well, belajar bahasa jepang selama 9 tahun tidak bisa dianggap enteng kan?
Setidaknya ia tertolong dengan pembicaraan Chaerin barusan, jadi ia tidak usah panik ketika Youngbae mempertanyakan ekspresinya—yang mungkin—berubah aneh.
Tunggu, kenapa dia harus memikirkannya?
"37,5°C."—angka itulah yang tertulis di termometer ketika Seungri mengecek suhu tubuhnya.
Pria itu menghela napas lega dan mulai bergulingan di ranjangnya, mencoba merasakan tubuhnya yang mulai sehat kembali. Bagus, kalau begini ia bisa menikmati liburan berharganya—dua hari emasnya!
Sebelum ia bisa menyuarakan kebahagiaannya itu dalam teriakan tertahannya, pintu kamarnya terketuk berirama dengan pelan, dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk melakukannya.
Siapa sih?
"Seungri? Ini aku."
Ah.
Dengan refleks, Seungri segera beranjak dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya dengan sedikit gugup—antara kebingungan bagaimana ia akan menghadapi Youngbae karena pikiran anehnya tadi pagi dan juga heran dengan maksud hyung-nya.
Siapkan hatimu—tunggu, apa?
"Seungri?"
Ia segera membuka pintu kamarnya dan menemukan sosok Youngbae tengah berdiri di depan kamarnya, dengan ekspresi datar terlukis jelas di wajahnya.
Dengan refleks ia hanya bisa merespon pendek, "Uh… ya?"
"Bagaimana kondisimu?" tanyanya datar sembari mencoba mengecek suhu tubuh Seungri dengan punggung tangannya. "Masih pusing?"
Memang kau ini ibuku ya—namun ucapannya tertahan dalam batinnya ketika tangan dingin Youngbae menyentuh keningnya, membuatnya sedikit tersentak akan rasa asing yang mendadak menyentuh kulitnya. Ia hanya terdiam ketika melihat bosnya itu mengecek suhunya pula di leher dengan jemarinya. Nyaman dan… how should he put this… lembut?
No, definitely not.
"Ti—tidak juga." Ia menggeleng kecil dan tersenyum lemah ketika mengingat apa yang sudah Youngbae lakukan semalam—merawatnya hingga semalam itu. "Ngomong-ngomong, terima kasih sudah merawatku semalam." Ucapnya sembari sedikit membungkukkan tubuhnya. "I can't thank you enough."
Youngbae hanya tersenyum sebelum menarik pipi Seungri pelan—ia hanya bisa mengaduh tanpa banyak protes ketika dia melakukannya, "Sudah kubilang tidak masalah. Kau ini menggemaskan ya."
Sontak, pipi Seungri merah padam—entah itu karena demamnya yang masih tersisa atau akibat perkataan Youngbae barusan—dan menggeleng dengan pipi masih tertarik, "Aku tidhak—"
"Kau menggemaskan kok." potongnya dengan senyum lembut sembari melepas tangannya dari pipi Seungri.
Sebelum sempat Seungri membalas ucapan Youngbae, ia bisa merasakan kedua pipinya ditepuk pelan olehnya—dan cukup membuat pria berumur 32 tahun itu menatapnya heran. Ha? Sedang apa dia?
Youngbae tersenyum kecil, "Balasan tadi malam."
"Balasan—"
Ah.
That moment.
"—o-oh." Hanya itu yang bisa Seungri katakan.
Sebelum sempat Youngbae kembali berbicara, ia bisa mendengar suara langkah khas Chaerin mulai mendekati mereka. Dengan refleks ia menoleh ke kanan, dan menemukan sosok wanita dengan kaus kebesaran dan juga celana jeans selutut menghampiri mereka dengan senyum lebar dan tiga tiket di tangan kanannya.
Tunggu, tiket?
"Itu… tiket… apa?" tanyanya refleks sembari menunjuk ke tiket yang tengah Chaerin genggam.
Senyum wanita itu semakin melebar—dan Seungri benar-benar paham apa maksudnya. "Tiket taman ria, apa lagi?"
Dahi Seungri mengerut kesal, "Sudah kubilang aku tidak mau—"
"Youngbae-ssi ikut kan?" tanyanya tanpa memperdulikan respon Seungri.
Youngbae—yang keberadaannya terlupakan untuk sesaat—hanya bisa terdiam sembari menatap Chaerin dengan datar, antara kebingungan dengan kemunculan wanita itu dan tidak tahu harus merespon apa.
Seungri melototinya dengan kesal, "Bukannya tadi kau bilang kalau ingin ke taman ria dengan Hayi? Kenapa tidak menunggunya saja—"
Dan lagi-lagi perkataannya terpotong oleh respon enteng Chaerin, "Well, beli lagi saja tiketnya. Mudah kan?"
"Omae ra—"
"Boleh saja."
Dan Seungri segera menatap Youngbae dengan syok, benar-benar tidak percaya dengan responnya barusan.
Youngbae membalas tatapannya dengan heran, "Kenapa? Bukannya kalian berdua sudah lama tidak bertemu? Anggap saja sebagai reuni."
Bukan itu masalahnya…!
Seungri benar-benar ingin menolak ajakan Chaerin—namun ketika ia melihat ke paras ayunya, yang ia temukan ialah sosok vampir wanita yang seolah-olah akan menghisap darahnya bila ia tidak mau menuruti segala kemauannya.
Ia hanya bisa menelan ludahnya paksa sembari keringat dingin mulai turun melewati pelipisnya.
"Oke. Seunghyun-ah, kau ganti baju dulu sana, kutunggu di parkiran." Ucapnya dengan senyum kemenangan sebelum keluar dari apartemen Seungri sembari bersiul kecil.
Seungri hanya bisa menghela napas dan terjerembab di lantai sebelum menunduk dalam kesuraman, tidak memperdulikan Youngbae yang merendahkan tubuhnya dan menanyainya dengan heran. Parah. Parah. Dirinya dalam bahaya. Kalau Chaerin mengajaknya ke taman ria dengan senyum lebar itu berarti—gawat.
Gawat. Gawatgawatgawat.
Nyawanya terancam.
Roller coaster, cek.
Arung jeram, cek.
Kamar cermin, cek.
Rumah hantu, cek.
Bungge jumping, cek.
Pendulum, cek.
Twister, cek.
Bumper Cars, cek.
"Chaerin-ah—"
Chaerin berhenti melihat brosur taman ria yang tengah ia pegang dan berbalik dengan polos, "Ya?"
"Gimme a break, kakakmu ini masih sakit—"
Namun ia hanya membalasnya dengan senyum polos, "Hmm? Tadi masih pemanasan kok."
Seungri—yang sedari tadi berusaha menahan mualnya—menatap Chaerin dengan tak percaya, "I don't believe you! Kita sudah main delapan wahana nonstop—rumah hantu sih tidak masalah, tapi roller coaster?—dan kaubilang itu pemanasan? Kau gila!"
Wanita itu hanya bisa menghela napas dan menunjuk Youngbae—yang sebaliknya malah terlihat senang dan menatap ke sekeliling dengan kagum, "Seunghyun-ah, bosmu yang bahkan lebih tua darimu saja bisa sesemangat itu, masa kau yang lebih muda saja kalah?"
"Itu tidak ada hubungannya dengan umur!" sorak Seungri kesal. "Lagipula aku kan masih belum sembuh total! Kau kejam!"
Ia hanya menatapnya dengan remeh, "Heeh, ternyata Seunghyun-ah sudah tua ya, seperti kakek-kakek saja."
"Dan kau benar-benar seperti tante-tante cerewet yang mengejar obral ya." balasnya tak mau kalah. Melihat respon Chaerin yang mulai menatapnya marah, ia tersenyum lebar. "Lihat, bahkan keriputnya sudah mulai nampak. Kowaii~"
"Seunghyun-ah." Seringai Seungri semakin melebar ketika melihat dahi wanita itu mulai berkedut marah. "AKU TIDAK SETUA ITU—"
"Hei, lihat! Itu CL dari Vogue Girl!"
Dan perhatian Chaerin dan Seungri teralihkan ke kumpulan perempuan yang menunjuk mereka dengan semangat.
Chaerin mulai tersenyum ramah dan menarik telinga Seungri sekilas sebelum berbisik, "Satu jam lagi kita bertemu lagi di depan gerbang." dan menghampiri kerumunan perempuan—yang sepertinya mulai bertambah beberapa lelaki—dan mulai meladeni mereka.
Seungri menghela napas lega—dan di dalam hatinya ia berterima kasih kepada penggemar yang mulai mengerumuni Chaerin—sebelum menghampiri Youngbae yang kembali dengan tiga botol air mineral.
Bagus, dia memang sedang butuh minum.
Sebelum Seungri sempat mengajaknya bicara, Youngbae menyerahkan satu botol air mineral kepadanya dan melihat ke kerumunan di sekitar Chaerin yang semakin ramai, "Dia benar-benar terkenal ya…"
Ia menerimanya dengan senang hati dan segera meminumnya sebelum merespon sembari menghela napas, "Yah, begitulah. Sayangnya aku bukan pengikut fashion."
"Mau istirahat dulu?" tanyanya sembari menunjuk kursi di bawah pohon teduh.
Tawaran bagus!
"Kimi hontou ni saiko daa!" serunya setuju sebelum memeluk Youngbae erat. Akhirnya dia bisa istirahat! Yeeey! Hasta la vista!
Youngbae sedikit tersentak dengan pelukan Seungri yang tiba-tiba, namun ia hanya tersenyum kecil sebelum menepuk kepala dongsaeng barunya itu pelan dan mulai menyeret tubuhnya ke kursi kosong itu. Setelah Seungri melepaskan pelukannya dan merebahkan punggungnya di sandaran kursinya, ia menarik napas dan memejamkan matanya sejenak, mencoba menikmati angin semilir di bawah pohon—yang ia tidak perduli apa namanya—dan menghela napas panjang.
Nyamannya….
"Kau senang?"
Ia hanya tersenyum dan mulai merenggangkan tubuhnya sebelum merespon, "Yah, setidaknya aku bisa lepas dari pekerjaanku walau hanya sehari atau dua hari." Dan kembali meminum air mineral yang diberikan Youngbae.
Youngbae hanya mengangguk kecil sebelum melepas topinya dan menggunakannya untuk mengipas tubuhnya, "Oh ya, ngomong-ngomong…"
Seungri sedikit memiringkan kepalanya dan menatapnya dengan heran, "Ya?"
"Kenapa tadi kau kelihatannya benar-benar seperti ingin menolak kemauannya? Bukannya ini kesempatan kalian untuk… semacam reuni?" Tanyanya heran.
"Ah, itu." Seungri menatap langit cerah Seoul sekilas sebelum angkat bicara, "Sebenarnya sewaktu melihat kedatangannya, aku ingin membiarkannya istirahat, tapi yah, dia memang keras kepala." Dan aku juga sebenarnya malas keluar sih. "Lagipula niat awal Chaerin kan seharusnya dengan Hayi, bukan dengan kita."
Ia mengangguk paham dan kembali menyentuh dahi Seungri, mencoba mengecek suhu anak buahnya itu. Sejuk—yang jelas tangan Youngbae sedikit lebih dingin daripada dahi Seungri.
Ia hanya tersenyum sebelum memakaikan topi miliknya ke kepala Seungri. Belum sempat Seungri menanyakan kenapa ia melakukannya, ia menarik pelan topinya ke bawah dan berkata dengan pelan, "Tubuhmu masih sedikit panas. Pakai saja." dan menepuk kepalanya lagi.
Oh.
So he's a pure type boy—hei, salah, bukan itu yang Seungri maksud.
Baik.
Dia baik.
Perempuan manapun pasti akan meleleh pada perlakuannya—buktinya Seungri iya… tunggu, dia pria, bukan perempuan.
"Terima kasih."
Seungri bisa merasakan bosnya itu hanya mengangguk kaku. Ia hanya tertawa kecil sebelum beranjak dari kursi, dan meraih tangan Youngbae dengan tersenyum kecil, "Mau coba bianglala di sana?" dan menunjuk wahana besar yang tidak jauh dari tempat mereka beristirahat.
"Tapi tetap saja seleramu seperti anak-anak." Ucapnya dengan sedikit tertawa.
"…kalau kau mengucapkan kata-kata itu di depan Chaerin aku berani bertaruh sekarang kau pasti berada di rumah sakit."
"Kutarik ucapanku."
Ia hanya bisa tertawa sebelum menarik Youngbae pelan dan tersenyum lebar, "Ayo."
Dan respon yang ia dapat hanya sebuah anggukan kecil dan langkah yang mengikuti dirinya.
Setelah memuaskan Chaerin untuk bermain di taman ria, mereka sempat mampir di restoran untuk makan malam sebelum pulang ke apartemen Seungri. Dengan susah payah, Seungri membopong Chaerin, yang tertidur di bahunya, ke kamarnya sebelum menyelimutinya dan ke beranda, mencoba melepas lelah yang mulai kembali bersarang di tubuhnya.
Capek…
Dia butuh Hayi untuk dipeluk…
"…sedang apa kau?"
Dan ia menemukan sosok Youngbae—yang membawa dua gelas berisi… soju?—tengah menatapnya dengan aneh.
Dengan refleks, ia menjawab seasalnya, "Ng… melihat bulan?"
"Lalu kenapa tanganmu terlihat seperti ingin membunuh orang?" tanyanya lagi sembari menujuk tangan Seungri dengan dagunya.
Dengan sedikit kebingungan, Seungri refleks melihat tangannya—dan setelah itu pipinya sedikit memanas dan segera menarik tangannya, sadar bila sedari tadi tangannya mengangkat seperti vampir cina berkepang panjang di televisi. "Bu—bukan apa-apa."
"…oke." Ia pun menyerahkan satu gelas—dan diterima Seungri dengan senang hati. "Tidak masalah kan kalau hanya segelas?"
Seungri hanya mengangguk pelan sebelum mulai meminumnya seteguk dan kembali menatap bulan purnama malam itu. Sudah lama ia tidak melihat bulan seterang ini; benar-benar terlihat seperti ingin melahap bumi bulat-bulat.
Seandainya ia bisa melihatnya dengan Dara—
Stop, Seungri, jangan.
"Maaf, karena Chaerin, kau jadi terseret ke taman ria." Seungri segera angkat bicara dengan helaan napas panjang, mencoba mengusik pikirannya agar berhenti berpikir tentangnya. "Dia memang selalu seenaknya."
Ia menggeleng pelan, "Tidak apa, kebetulan aku juga ada waktu luang." Dan meneruskannya dengan menepuk bahu Seungri pelan. "Ngomong-ngomong, kapan Hayi pulang?"
Seungri terdiam sejenak sebelum mencoba mengingat apa yang Hayi ucapkan kemarin. Kalau tidak salah… dia memintanya untuk menjemputnya kan? Oh ya. "Besok pagi akan kujemput."
"Oh."
"Kenapa, kau merindukannya Hyung?" tanyanya dengan seringai iseng terlukis di wajahnya.
Youngbae tertawa pelan, "Yah, mungkin. Baru kali ini aku bertemu dengan gadis berumur 12 tahun yang bersikap sesopan itu."
Refleks, Seungri membusungkan dadanya dengan sedikit tertawa, "Siapa dulu ayahnya, Lee Seunghyun!"
Spontan, mereka tertawa pelan sebelum saling melempar senyum dan terpaku, dengan dua pasang mata saling bertatapan.
Lagi…
Perlahan, Youngbae meminimalisir jarak diantara mereka berdua dengan senyum lembut mulai terlukis di wajahnya. Ia berbisik pelan, "Tapi jujur saja aku lebih mengagumi Ayahnya, yang berhasil membesarkannya dengan baik."
Seungri hanya bisa bersemu ketika sadar dengan jarak mereka yang semakin tipis. "Terima kasih—Hyung, kau terlalu dekat—"
Youngbae terdiam sejenak—namun ia hanya menepuk kepalanya pelan sebelum mengacak-acak rambut Seungri dengan senyum yang tidak bisa ia lihat—ah, sayang sekali, manik matanya berkhianat padanya. "Baiklah, selamat malam." sebelum kembali masuk ke apartemen dan melangkah ke kamarnya dengan pelan.
Dan Seungri hanya bisa terpaku sebelum memproses apa yang barusan terjadi.
Tadi itu maksudnya… apa?
Jangan-jangan—
…masa sih.
"Se-ung-hyun!"
Seungri tetap menolak untuk bangun dari tidurnya.
"Seunghyun! Bangun!"
Ia masih ingin meringkuk di selimut hangatnya.
"Seunghyun! Bangun! Teme! Okiroyo!"
Dan sebelum Seungri sempat merespon, Chaerin berhasil menarik selimutnya dan sukses membuatnya terjatuh dari ranjang hangatnya.
Tuhan…
Dengan teramat sangat terpaksa, Seungri membuka kedua kelopak matanya dengan susah payah sebelum merengut kesal, "Kau apa-apaan sih—"
Sebelum Seungri menyelesaikan ucapannya, Chaerin mendiamkannya dengan membekap bibirnya dan mulai berbisik pelan dengan panik, "Ssh, bantu aku!"
Ia hanya menautkan alisnya heran.
"Di luar, di luar ada—"
Seungri menghela napas dan mulai bangkit dari tempat dimana ia dijatuhkan Chaerin, dan meresponnya asal, "Apa? Stalker?" dan mengembalikan selimutnya ke ranjangnya. Ia berkacak pinggang sebelum berbalik dan mencoba membalasnya dengan sarkas, "Jangan bilang di luar ada stalker baru dan sekarang dia ada di seberang apartemen dan mengawasimu dari balik jendelanya semenjak kedatangamu di sini?"
Ekspresi Chaerin berubah drastis.
Jangan bilang—
"Bohong."
Chaerin mengangguk kaku.
Seungri speechless saat itu juga.
...oke, baiklah, liburannya hancur berantakan. Terima kasih, terima kasih sekali. Chaerin, kau luar biasa.
Be a Bodyguard?
No fees were given?
You must be kidding me…
a/n.
ah, halo.
maaf baru update, banyak urusan terhadang di depan mata. cari sekolah itu susah ya… (sebetulnya sudah diterima, cuma ngundurin diri orz).
dan maaf juga kalau kesannya bertele-tele, aku bingung cara ngembangin hubungan baeri-nya, soalnya aku belum pernah buat cerita bertipe seperti ffic ini, dan juga biasanya aku buatnya yang one-shoot. orz
oke, yang review sudah saya balas lewat pm—dan untuk anon, terima kasih reviewnya!—dan bagi yang pm-nya belum di-enable, tolong segera di enable ya, biar aku mbalesnya gampang ' '/
sampai jumpa di chapter berikutnya!
Adieu!
Glossary:
[1] Mochiron desu : tentu saja.
[2] Hontou desuka? Boku, koko ni tabemasu? : Benarkah? Boleh aku makan di sini?: Really? Can I eat here?
[3] Teme! Okiroyo!: Kau (kasar)! Bangun dong!
2013 © Miharu Koyama
All right reseved.
