Perkenalkan, namanya Lee Seunghyun—atau sering dipanggil Seungri agar tidak tertukar dengan Seunghyun tua.
Pekerjaannya adalah sebagai seorang karyawan over-worked di bagian administrasi di sebuah perusahaan terkenal—dan ia bekerja di bawah nama Choi Dongwook, kepala administrasi, namun sekarang diganti dengan Dong Youngbae, bos baru yang sekarang—untuk sementara—tinggal di apartemennya.
Pekerjaan barunya: menjadi seorang bodyguard—sementara tanpa upah—seorang model terkenal dari majalah Vogue Girl, dengan sangat-sangat terpaksa.
Statusnya kali ini: Ia tidak ingin mengatakannnya, namun dari gerutuan pelannya, ia seperti mengucapkan sesuatu yang berhubungan dengan liburannya yang berantakan.
Tunggu, kenapa harus membahas soal ini?
roleplay: D. Young-bae/L. Seung-hyun
disclaimer: BIGBANG belongs with YG ENTERTAINMENT
warning:OOCness—just for safety, misstypo(s), beberapa prokem Indonesia terselip lol, BL, genre's changed, /beberapa kata vulgar muncul/, AU, fluffgagal?
summary: Status: Duda satu anak; Pekerjaan lama: Karyawan over-worked di bagian administrasi; Pekerjaan baru: Bodyguard sementara tanpa diupah. Miris. — TaeyangSeungri / Baeri ‹5/?›
genre: drama / romance
xxx
Tough Single-Parenting
「day three:new (temporary) job」
xxx
"Jadi bodyguard-mu?"
Hanya itu yang bisa Seungri respon ketika kesadarannya sudah kembali total.
Chaerin—yang duduk di lantai dan bersandar di sisi ranjang—hanya menghela napas pelan dan memainkan rambut cokelat panjangnya sembari kembali berbicara, "Semacam itu."
Seungri mengerutkan dahinya heran, dia tahu kalau pekerjaan Chaerin memang beresiko akan penguntit atau wartawan brengsek atau semacamnya, tapi baru kali ini dia merasakannya secara langsung…
Bagaimana ya,
Rasanya kok agak gimana gitu,
Seorang Lee Chaerin, diuntit orang.
Oke, Seungri, stop.
"Lalu kenapa aku?" ia merengut kesal. Kemarin ia sudah ditarik seenaknya ke taman ria tanpa persetujuannya, masuk ke apartemen tanpa ada kabar, sekarang… bodyguard? What. "Bukan aku juga tidak masalah kan?"
Wanita itu terdiam sejenak, sedikit memiringkan kepalanya dan mulai melihat Seungri—yang duduk di tepi ranjangnya sendiri—dengan pahit, "Wajahmu kan seperti orang jahat dan mesum, jadi bisa menjamin keselamatanku."
Ia sempat terenyuh dengan ekspresi Chaerin sebelum sadar apa yang ia katakan barusan. Orang jahat? Mesum? Wajah setampan dirinya itu dikatakan orang jahat? Sepertinya Chaerin harus segera memeriksakan matanya ke dokter. "Sialan kau."
Chaerin tertawa pelan sebelum menggeleng pelan, "Maaf, maaf, yang barusan aku hanya bercanda." Tawanya mulai mengeras ketika ekspresi Seungri mulai merengut kesal. "Oke—mungkin karena kau sudah berpengalaman?"
"He?"
Jemari lentiknya menunjuk wajah kebingungan Seungri dengan spontan, "Pekerjaan pertamamu itu bodyguard kan?"
"Iya sih… Tapi itu kan sudah lama sekali!" Seungri meresponnya kesal. Dia tidak mau mengingat-ingat lagi soal pekerjaan gelapnya dulu. "Dan jangan ingatkan aku soal itu. Pekerjaan itu lebih banyak kenangan buruknya daripada baiknya."
Chaerin refleks mengingat apa maksud Seungri barusan. Oh ya, karena pekerjaannya, Dara menceraikannya—"Lalu bagaimana? Kau mau tidak?"
Ia mendengus kesal sebelum melirik jam di dinding dan bangkit dari duduknya. "Aku tidak tahu. Nanti kupikirkan lagi, yang jelas sekarang aku harus menjemput Hayi." Ia mulai beranjak keluar dari kamarnya sebelum tangannya ditarik Chaerin—dan ia nyaris saja terjatuh bila saja refleksnya jelek. "Apa lagi?"
Diam sejenak, Chaerin menatap Seungri lekat, "Kumohon."
"Akan kupikirkan. Untuk sekarang, biarkan aku menjemput Hayi dulu, oke?"
Sebuah anggukan kecil dan langkah kecil menuju kamar sebelah lah jawaban Chaerin untuk Seungri.
"Maaf merepotkan."
Kedua orang tua Minzy hanya menggeleng pelan. Ibunya malah tersenyum lebar, "Tidak, sama sekali tidak, justri Hayi-ah sangat membantu kami."
Seungri melihat Hayi yang hanya tersenyum cerah dan tertawa dengan Minzy, saling mengucapkan salam perpisahan dengan tangan kirinya menggandeng tangannya. Dengan kebingungan, ia bertanya dengan heran, "Membantu… membantu apa?"
Beliau hanya tersenyum kecil dan meresponnya, "Kalau tidak ada dia, mungkin Minji bisa-bisa sudah tidak ada di rumah ketika kami pulang." Ketika melihat ekspresi Seungri yang kebingungan, ia tertawa pelan dan meneruskan perkataannya sembari membelai kepala Minzy lembut, "Dia sering pergi ke tempat latihan semacam gym atau dance seorang diri."
Ah.
Bakat tuh.
"Begitu rupanya." Seungri mencoba sesopan mungkin—di dalam hatinya sebenarnya dia tidak mau cepat-cepat tua—dan tersenyum kecil sebelum membungkuk pelan. "Kalau begitu kami permisi. Hayi, ayo."
Hayi mengangguk pelan sebelum pamit dengan polosnya, "Bye-bye, Minzy-ah!" dan melambaikan tangannya sebelum ikut Seungri ke mobil.
"Bye-bye!"
Setelah mereka masuk ke mobil, Seungri segera mengemudikannya menjauhi kediaman Gong dan kembali ke rumah mereka. Hayi menceritakan pengalamannya selama menginap dengan semangat, diselingi dengan lagu-lagu di radio yang semakin membuat Seungri sedikit melupakan kekesalannya tadi pagi.
Dia tidak mau lagi jadi bodyguard, tidak setelah kenangan buruknya dulu.
Tidak setelah kejadian itu.
Tidak.
"Ayah, mau sarapan di rumah atau di luar?"
Pertanyaan Hayi sempat menghentikan lamunannya dan terdiam sejenak sebelum merespon, "Di rumah saja, Tante Chaerin sepertinya sudah menyiapkan sarapan." Dalam hatinya sebenarnya ia tertawa dengan panggilannya barusan. Tante. Bisa-bisa Chaerin marah kalau mendengar dia memanggilnya begitu.
Hayi mengulum senyum dan menatapnya dengan berbinar, "Sungguh? Tante Chaerin datang ke rumah?"
Seungri mengangguk sebelum membelokkan mobilnya ke gedung apartemen di mana ia tinggal dan memarkirkannya di area parkir. "Iya, kemarin baru saja sampai."
"Semoga Tante Chaerin membawakanku boneka beruang lagi!" Hayi berseru semangat sebelum meraih lengan baju Seungri pelan. "Ayah, Ayah, Tante Chaerin juga berjanji mau membawaku ke taman ria, boleh tidak?"
Aku sudah tahu kok. "Girl's time… kan?" Hayi mengangguk semangat. "Boleh saja, jangan lupa bawa merchandise untuk Ayah ya." dan putri kesayangannya itu kembali mengangguk sebelum keluar dari mobil ketika mereka sudah sampai. Seungri ikut keluar sebelum mengukuti langkah ringan Hayi ke lift dekat mobilnya, menuju apartemen mereka dengan perut berbunyi hebat.
Semoga saja Chaerin memasakkan sarapan untuk mereka…
Sekarang dia sudah terlalu malas untuk memasak karena mood-nya yang memburuk.
Ketika ia memasuki apartemennya, yang ia temukan ialah sosok Youngbae yang memasak, bukan Chaerin—bukan yang ia tebak akan melakukannya.
Kok…?
"Ah, selamat datang." Sambutnya sembari memegang spatula kayu yang biasa Seungri pakai untuk memasak.
Ia mengerjapkan matanya sejenak sebelum mengunci pintu apartemennya dan membiarkan Hayi kembali ke kamarnya untuk berbenah—atau urusan perempuan, begitu Hayi menyebutnya. "Chaerin kemana?" tanyanya sembari duduk di bangku dan menyenderkan kepalanya di meja makan. Ngantuknya….
Youngbae membalasnya sembari tetap memasak sesuatu di dapurnya—yang Seungri tebak semacam tumisan daging, "Kalau tidak salah… aku terakhir melihatnya sih di laundry."
Seungri hanya merespon pendek, "Oh, begitu." sebelum merenggangkan tubuhnya pelan. Terima kasih untuk Chaerin, sekarang dia benar-benar kurang tidur. "Ngomong-ngomong—" sebelum ia menyelesaikan niatnya untuk bertanya kenapa Youngbae yang memasak, Chaerin menunjukkan batang hidungnya dari ruang laundry dengan ekspresi suntuk terplester jelas di wajahnya. "—apaan dengan wajah penuh keriput itu?"
"Kubunuh baru tahu rasa kau ya." dengus Chaerin kesal. Seungri hanya meringis pelan. "Seunghyun-ah, serius, tawaranku—"
"Tidak." Seungri menampiknya datar.
"—aku belum selesai bicara!" Chaerin pun duduk di hadapan Seungri dengan langkah terhentak—benar-benar menandakan amarahnya saat ini. "Ayolah, ini tidak seberat pekerjaanmu dulu yang pernah mengawal—hmmph!"
Dengan refleks, Seungri membungkam mulut Chaerin dengan tangannya. Youngbae sempat berbalik sekilas sebelum tidak mengindahkan ucapan Chaerin barusan dan kembali memasak. Sebelum melepas tangannya, Seungri menyentil dahi Chaerin pelan sebelum berbisik, "Kau sudah janji tidak akan mengumbar pekerjaanku dulu kan?"
Chaerin ingin protes—tapi Seungri tanpa belas kasihan membekap mulutnya dan juga hidungnya hingga membuatnya hampir kehabisan napas. Dengan cepat ia mengangguk sebelum Seungri melepas tangannya dan menarik napas panjang sebelum memarahinya dengan kesal, "Kau ingin membunuhku atau bagaimana sih!"
"Mungkin." Belum sempat Chaerin protes, ia memanggil Hayi, yang sudah berganti pakaian, dan mengajaknya bergabung dengan mereka, dengan trio tua di apartemen itu. "Hayi-ah, sini."
Dengan patuh, Hayi duduk di sebelah Seungri dengan wajah sedikit mengantuk dan bersandar di pundak ayahnya itu. Sedikit membelai kepala Hayi pelan, Seungri kembali berbicara, "Pokoknya kita bicarakan lagi nanti, aku lapar."
"… baiklah." responnya kurang ikhlas.
"Ngomong-ngomong, kenapa Hyung yang memasak?" tanya Seungri heran. Biasanya kalau Chaerin yang kemari, dia yang selalu memaksa Seungri agar dia yang memasak, tapi kok… apa jangan-jangan…
Chaerin menguap pelan sebelum merebahkan kepalanya ke meja, "Dia sendiri yang minta." Sadar dengan tatapan Seungri yang seperti meragukannya, ia kembali berbicara, "Tanya saja."
"Hyung?"
Youngbae meresponnya dengan membawa sepiring tumisan daging—yang Seungri belum pernah lihat sebelumnya—ke meja makan dan menyiapkan nasi untuk mereka, "Tidak apa, kau kan induk semang sementaraku."
"Iya sih, tapi—"
Ia tersenyum kecil, "Sudahlah, sekali-sekali tidak apa-apa kan?"
Oke, untuk yang satu ini, Seungri luluh tanpa sebab.
Dan refleks, ia hanya mengangguk pelan, menyetujui apa yang Youngbae katakan barusan. Ia segera membangunkan Hayi dan mulai ikut makan, dengan pikiran aneh masih melayang-layang di kepalanya.
Sebentar, dia tidak mungkin suka dengan Hyung barunya ini kan? Mereka berdua sama-sama laki-laki, dan dengan-amat-sangat-meragukan tidak mungkin mereka bisa memiliki hubungan kan? Mungkin untuk Jiyong dan Seunghyun bisa—walaupun dia sendiri terkadang merasa aneh dengan hubungan mereka—tapi belum tentu dia bisa kan?
Lagipula belum tentu—sebentar, kenapa dia tiba-tiba memikirkan ini? Bukan berarti dia suka—
Masa sih.
Tidak mungkin.
"Ayah?"
Seungri terbangun dari tidur siangnya—lebih tepatnya tertidur ketika menonton televisi di ruang tengah—sebelum mengusap matanya pelan dan merespon setengah sadar, "Ya?"
"Tante Chaerin dan aku mau pergi ke taman ria, Ayah jaga rumah dengan Youngbae-ahjussi ya?" pintanya dengan senyum cerah menghiasi wajahnya.
Ah.
Benar-benar seperti malaikat kecil yang sudah menemukan kebahagiaannya.
Tanpa sadar, Seungri refleks mengangguk sembari berpesan "Jangan sampai Tante Chaerin pergi ke wahana yang aneh-aneh ya."
Hayi menatapnya heran, "Aneh-aneh?"
"Yah," Seungri berpikir keras agar Hayi bisa memahami apa maksudnya tanpa diketahui Chaerin—yang saat ini mulai menatapnya tajam di balik punggungnya, "Seperti yang seram-seram atau yang Hayi belum pernah lihat sebelumnya—Hayi paham tidak?"
Hayi mengangguk kebingungan.
Pokoknya sudah kuingatkan, "Baiklah, hati-hati, jangan lupa bawakan Ayah oleh-oleh." Terusnya dengan senyum cerah dan membelai kepala Hayi pelan.
Hayi kembali mengangguk sebelum berlari ke arah Chaerin—yang sudah berada di luar apartemen—dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan Seungri dan keheningan di dalamnya.
Eh, kok sedih sih.
Seungri menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebelum beranjak dari sofa dan masuk ke dapur, berencana membuat sedikit camilan untuk perutnya yang mulai meraung meminta suplai. Sembari menyiapkan bahan-bahan masakannya, Seungri kembali memikirkan permintaan Chaerin tadi pagi dengan enggan. Dia sudah berhenti, dia tidak mau—walaupun adiknya sendiri yang meminta, dia tetap tidak bisa dengan gampangnya mengatakan "ya" ketika mulai teringat kenangannya dulu.
"Sebaiknya kita bercerai saja—"
Tidak, hentikan. Dia tidak mau lagi mengingatnya. Cukup.
"Seungri?"
Seungri tersadar dari lamunannya sebelum refleks memutar kepalanya ke sumber suara. Youngbae di sana, dengan ekspresi sedikit kebingungan terlihat jelas di wajahnya.
"Ya?"
"Kau menjatuhkan terigunya."
Manik cokelat cerahnya refleks melihat ke bawah.
Oh.
Dengan sigap, Seungri mengambil tepungnya yang terjatuh—yang untungnya bungkusnya sama sekali tidak rusak sehingga dia tidak perlu repot-repot membereskan tepung yang terbuang—dan menaruhnya di konter, kembali melanjutkan niatnya yang sempat tertunda, tanpa memperdulikan Youngbae yang masih berdiri dua meter jauh darinya.
"Err—butuh bantuan?" tawar Youngbae.
Seungri menggeleng pelan sebelum memutuskan untuk membuat panekuk dan—mungkin—affogato sebagai minuman pendamping, "Tidak usah—ngomong-ngomong Youngbae-hyung mau?"
Youngbae mengerjapkan matanya sejenak sebelum merespon ragu, "Boleh?"
Duda 32 tahun itu mengangguk pelan tanpa merespon Youngbae, terlalu fokus dengan tangannya yang mulai mencampur adonan dan menyiapkan bahan-bahan lainnya.
Youngbae menganggapnya sebagai ya sebelum mengambil duduk di meja makan dan mulai memperhatikan Seungri yang asyik memasak, dengan senyum terlukis di paras tegasnya.
"Affogato, café latte, atau Americano?" tawar Seungri sembari mulai menggoreng adonan panekuknya di teflon.
"Affogato? Apa itu?"
"Itu espresso yang dituang di atas gelato—es krim. Biasanya sih pakai rasa vanila, tapi tergantung selera sih." Seungri merespon tanpa membalikkan tubuhnya.
Youngbae berpikir sejenak sebelum merespon, "Kau tahu banyak ya."
"Yah, begitulah resiko single-parent." Seungri tertawa pelan sebelum meletakkan panekuk yang sudah matang di piring dan menyimpan sisa adonannya di kulkas—setidaknya bila Hayi minta dia tidak usah membuatnya lagi. "Pakai sirup maple, mentega cair atau es krim?"
"Sirup maple saja—oh ya, sepertinya boleh juga, aku minta affogato saja." Respon Youngbae cepat.
"Ryoukai!" seru Seungri dengan mengangkat tangannya hormat. Mereka tertawa pelan sebelum Seungri membawa panekuk dan sebotol sirup maple ke meja makan dan kembali ke dapur untuk membuat dua affogato. Dengan sigap, ia membuat espresso dan mulai menuangkannya di cangkir kecil sebelum memasukkan dua sekop es krim vanila di masing-masing mug. Setelah selesai, ia kembali membawa dua mug dan dua gelas kecil itu ke meja makan dan memberikannya satu persatu ke Youngbae. "Oke, silahkan."
Youngbae memandanginya dengan heran, "Bagaimana caranya minum ini?"
Seungri mengambil bangku di hadapan Youngbae dan mulai mengambil gelas kecil penuh espresso dan menuangkannya di mug, bermaksud mencontohkan bagaimana cara meminum affogato-nya, "Seperti ini."
Dengan sedikit ragu, Youngbae mulai mengambil gelas kecil itu dan perlahan menuangkannya di atas es krim. Ia memperhatikan es krim yang mulai larut lamat-lamat akan espresso panas sebelum mulai meminumnya dengan perlahan, mencoba merasakan minuman yang baru ia dengar dari bawahan barunya itu.
"Bagaimana?" tanya Seungri sembari mengunyah panekuknya—persetan dengan tata krama, dia sudah kelaparan.
Ia terlihat terkejut untuk sesaat sebelum berucap dengan pelan, "… enak."
Seungri tersenyum pelan—selama ini hanya Hayi yang bisa memuji masakannya (coret Chaerin dalam hal ini), dan baru ini dia bisa merasa sesenang ini dipuji orang lain—dan merespon dengan lega, "Terima kasih."
"Kau kursus memasak?" Tanya Youngbae sedikit penasaran.
Ia menggeleng pelan, "Tidak, aku tidak ada waktu untuk kursus semacam itu." Seungri berhenti sejenak untuk meminum affogato-nya dan kembali meneruskan, "Lagipula juga tidak mungkin pria ikut kursus yang mayoritasnya ibu-ibu, bisa-bisa dibilang lembek." Responnya sembari menghela napas. "Mau tidak mau aku hanya bisa melakukan apa yang kubisa."
"Kau tidak belajar dari resep atau…" belum selesai Youngbae bertanya, ia memperhatikan wajah Seungri sejenak sebelum spontan berucap, "Ada sesuatu di wajahmu."
Seungri menautkan alisnya heran, "He? Di wajahku memang ada sesuatu kan? Hidung, mulut, mata, alis, paras tampan—"
Sebelum Seungri selesai berbicara, Youngbae beranjak dari bangkunya dan meminimalisir jarak di antara mereka berdua dengan tangannya yang mulai menyentuh dagu Seungri dan menahannya dengan hati-hati. Seungri hanya bisa membeku di sana; tidak tahu harus merespon "Ah, terima kasih." dengan santai atau harus diam dengan wajah memerah seperti perempuan—sebisa mungkin ia ingin menghindari pilihan terakhir.
Dia benar-benar tidak bisa bereaksi ketika Youngbae mulai menyapukan sisa panekuk yang tertinggal di tepi bibirnya; dia membeku; dia terpaku di posisinya.
Pipi Seungri mulai memanas ketika ibu jari Youngbae mulai menyentuh bibirnya—entah sadar atau tidak, otaknya benar-benar tidak bisa memproses lagi—dan meminimalisir jarak mereka, membuat dahi mereka nyaris bersentuhan. Dia benar-benar tidak tahu lagi; dia dilema; dia ingin menolak tapi tubuhnya berkhianat padanya; dia ingin menerima tetapi dia tetap mengecam dirinya bila dia masih normal.
Ketika tersadar dari lamunannya, yang ia temukan ialah napas hangat Youngbae yang menerpa dirinya dengan lembut dan bibir mereka yang hampir bersentuhan.
Wait, what?
Tunggu.
Tunggu dulu! Dia masih belum siap!
"I WANT YOU! I NEED YOU! I LOVE YOU!"
Mereka berdua tersentak sebelum Seungri terjengkal dari kursinya dan segera mencari-cari ponselnya di kantung celananya, mengabaikan Youngbae yang membuang muka dan menutup setengah wajahnya dengan tangan kekarnya. Ia mulai menarik napasnya cepat sebelum mengangkat panggilan ponselnya dengan kikuk, "A-annyeonghaseo?"
'Seunghyun-ah! Gawat! Hayi—'
Dia diculik penguntitku.
Hayi diculik oleh pria bersuara berat dengan wajah imut.
Hayi dibawa masuk ke mobil dengan wanita cantik yang memegang kemudi.
Putri kesayangan Seungri 'dibawa' paksa oleh dua penculik—dan salah satunya penguntit Chaerin—pada saat Chaerin tengah membelikan es krim untuk mereka berdua.
Oke, how oh-so-great.
"Lalu?"
Chaerin merespon pelan, "Dan meninggalkan surat ini." sembari menyerahkan amplop kecil ke Seungri.
Seungri bergegas membuka amplop itu kasar dan membacanya dengan tergesa, diikuti dengan Chaerin dan Youngbae yang ikut membaca.
Tunggu, Youngbae?
Chaerin memicingkan matanya ke Youngbae sembari menunjuknya, "Kenapa kau ada di sini?"
"Errm, aku sendiri pun tak tahu, Seungri yang—"
Seungri menggerutu kesal sembari tetap membaca kertas yang tengah ia pegang, "Aku yang menariknya ke sini, kenapa? Aku hanya panik." Iris cokelatnya mulai menelusuri tiap untaian kata di dalam surat yang Chaerin bawa.
Je m'appelle P.C.
Boku no radi, if you want your girl return,
Datanglah kepada kami.
You must be know.
"Namaku P.C. My lady, jika kau ingin gadismu kembali, datanglah kepada kami. Kau pasti tahu." Seungri menerjemahkannya dengan tergesa dengan kerutan dahi yang semakin banyak. "Kode macam apa ini?"
Youngbae angkat bicara, "Chaerin-ssi, kau tahu di mana apartemen penguntitmu kan?"
Chaerin mengangguk pelan, "Tepat di seberang apartemen Seunghyun—"
"Oke, kita ke sana."
Seungri melirik Youngbae ragu, "Kau yakin Hyung?"
Pria berumur 34 tahun itu tersenyum pelan, "Sangat." dan mulai menarik porseneling ke angka 5. "Kencangkan sabuk kalian, kita akan kesana."
"Tunggu—"
Seruan mereka tertelan dalam deru mobil.
….
Youngbae turun dari mobilnya dengan santai, lain dengan Seungri yang—terlihat—kuyu.
That… was… hellish.
Chaerin berdecak kagum sebelum menepuk punggung Youngbae pelan, "Lain kali kau harus mengajarkan itu."
"Drift? Boleh saja. Spare your time later." Respon Youngbae dengan bangga.
Mereka gila. Seungri membatin sembari menatap mereka dengan tak percaya sebelum angkat bicara, "Uh… oke, lupakan, sekarang bagaimana?"
"Hm? Tinggal ke apartemennya saja, beres kan?" Youngbae meresponnya segera, santai, tanpa beban.
"Nan molla yo!" seru Seungri kesal. Dia benar-benar seperti dimainkan Hyung barunya ini. Kejadian tadi siang dan keyakinan bahwa putri tercintanya ada di apartemen… kecil ini… entah kenapa tapi meragukan. "Dou ii u koto desuka? Docchi no rummu ga wakaranaissuyo! Bagaimana kita bisa tahu!?"
Youngbae menepuk bahu Seungri pelan, mencoba menenangkan dongsaeng-nya, sembari merespon dengan ringan, "Kadang sesuatu yang tidak bisa kita lihat itulah yang benar."
Sebelum Seungri sempat merespon, Youngbae segera menautkan jemari mereka erat dan menariknya ke tangga, diikuti dengan Chaerin yang sedikit tertinggal di belakang. Setelah bepuluh-puluh anak tangga, Youngbae pun berhenti di lantai 6—itu yang Seungri lihat di pilar dekat tangga—dan menuntun mereka bertiga ke depan pintu apartemen, dengan berpapan nama "Park Chanyeol" terpampang jelas di hadapan mereka.
"Chaerin-ssi, kau tahu siapa dia?" Tanya Youngbae cepat.
Chaerin mengangguk pelan, "Kalau tidak salah dia pernah jadi model di Vogue, dan juga calon rapper yang akan debut sebentar lagi—tunggu." Seperti tersadar akan sesuatu, iris cokelat cerah Chaerin melebar sempurna dan menatap Youngbae dengan syok, "Dia juga pernah meminta nomor ponselku dan sering mencuri pandang padaku!"
"Apa yang terakhir bukannya kau yang terlalu pede?" komentar Seungri cuek.
Dia refleks menginjak kaki Seungri tanpa memperdulikan rintihannya dan tetap berbicara, "Dan dia yang tadi pagi menatapku selama aku mengurus laundry!"
Youngbae mengangguk paham. "Kalau begitu memang dia." Ia melepas tangannya dari genggaman Seungri dan mulai mengambil langkah mundur, "Kalian berdua, mundur."
Kuda-kuda itu…
Dengan refleks, Seungri menarik Chaerin mundur dari daerah berbahaya Youngbae—dan ia benar-benar bersyukur timing-nya pas dengan Youngbae yang mendobrak pintu hingga berkeping-keping.
Tapi pemandangan yang berada di hadapannya benar-benar jauh di luar dugaannya.
Seorang wanita cantik—atau itulah yang Seungri lihat—tengah bermain dengan Hayi, dan pria berkacamata frame lebar tengah membawa dua mug beraroma cokelat panas.
"…hah?"
Hanya itu yang bisa Seungri katakan untuk merespon.
"…Chanyeol, sepertinya setelah ini kau harus membeli pintu baru lagi." Wanita—Seungri mulai meragukannya karena suaranya terlalu manly untuk wanita—yang tengah bermain dengan Hayi hanya menghela napas sembari menunjukkan jari lentiknya ke arah mereka bertiga.
Pria berkacamata frame besar itu hanya ikut menghela napas, "Sepertinya memang aku harus membelinya lagi." dan meletakkan mug yang barusan ia pegang di meja terdekat sebelum menautkan alisnya heran. "Dan permisi, kalian siapa ya?"
Mereka bertiga hanya saling menatap kebingungan.
Youngbae dan Seungri pun refleks berlari ke dalam apartemen kecil itu untuk membekukkan mereka berdua, mengunci pergerakan mereka dengan memutar tangan mereka ke balik punggung dan membiarkan mereka mencium lantai kayu dingin mereka.
Sebelum sempat Chaerin membawa Hayi keluar apartemen kecil itu, Hayi menatap mereka dengan heran sebelum angkat bicara, "Mereka bukan orang jahat kok."
Seungri menahan pria bersuara berat itu dengan tangannya sebelum balik menatap Hayi heran, "Maksud Hayi—"
"Sebaiknya Ayah lepaskan mereka dulu." ucap Hayi pelan. Melihat reaksi Seungri yang masih bingung sekaligus panik, Hayi meneruskan dengan menunjuk pria yang berada di bawahnya, "…terlambat, mereka sudah pingsan."
…siapa saja, jelaskan keadaan di sini.
"…maafkan kami."
Kedua sosok penculik itu bersimpuh sedalam mungkin di hadapan Seungri—dengan Youngbae mengawasi mereka di belakang, benar-benar menyesal dengan apa yang sudah mereka lakukan.
Tapi di sisi lain, Seungri benar-benar masih kebingungan dengan apa yang terjadi.
"Biarkan aku memproses—" Seungri mengerutkan dahinya, mencoba memproses apa yang sudah terjadi barusan. "Namamu Byun Baekhyun," wanita—yang ternyata pria—itu mengangguk, "Dan kau, Park Chanyeol?" pria berkacamata itu pun mengangguk. "Kenapa kalian menculik anakku? Maksudku, kenapa harus anakku?"
Baekhyun angkat bicara, "…kami menggunakannya agar CL bisa kemari."
"Dan dari kabar yang kami dengar, CL ternyata memiliki kakak yang sudah beranak satu, dan tempat tinggalnya persis di seberang apartemen kami." Lanjut Chanyeol.
Youngbae menautkan alisnya heran, "Lalu apa hubungannya Hayi dengan CL-ssi?"
Baekhyun meringis pelan, "Itu…" dia menyikut Chanyeol, mencoba mencari bantuan untuk lepas dari situasi mereka sekarang, "Chanyeol, tolong jelaskan."
"Eh? Kok aku sih?" Chanyeol memprotes, "Bukannya kau yang ingin bertemu dengan CL-ssi?"
Dia mencibir kesal, "Tapi kan kau yang sudah membawa anak kakaknya pergi!"
"Kan kau yang menyuruhku!" pria berkacamata itu mulai mengerutkan dahinya kesal, "Kau sendiri yang bilang ingin bertemu CL-ssi untuk menjadi model lukisanmu—"
Tanpa mereka sadari, wajah Chaerin berada persis di hadapan mereka berdua—dan hampir membuat mereka berdua hampir terjatuh dari posisi mereka—dan mulai berkomentar, "Oke, maaf—tapi sepertinya aku mendengar seseorang ingin menjadikanku sebagai model lukisan atau telingaku yang harus ke dokter?"
Mereka menggeleng pelan.
"Kalian menggeleng untuk yang mana? Menjadikanku model atau persoalan telingaku?" Suara Chaerin mulai menurun satu oktaf.
"Kami—"
Mendadak, Chaerin menarik kerah Baekhyun dan menatapnya tajam, "Kau laki-laki bukan sih? Jawab dengan jelas!" Serunya keras.
"Whoa, nenek keriput menunjukkan kulit aslinya." Sindir Seungri sembari menutup kedua telinga Hayi dengan kedua tangannya.
Chaerin berbalik tanpa melepas cengramannya, menatap Seungri tajam sebelum kembali menatap Baekhyun, "Kau dengar tidak sih? Jawab aku!"
Sebelum sempat Baekhyun menjawab, Chanyeol menyentuh tangan Chaerin lembut dan menatap wanita itu tajam, "Tolong lepaskan dia."
"Kau—"
"Lepaskan dia."
Chaerin tersentak sebelum melepas cengkramannya dari kerah pakaian Baekhyun, dan hampir saja membuat pria itu terjatuh bila Chanyeol tidak menahannya.
Tapi entah kenapa, di mata Seungri tidak seperti itu.
"Jadi," Chaerin berdehem keras sebelum mulai berbicara, "Aku tahu niat baikmu, tapi aku akan lebih menghargai bila kau langsung ke agensiku dan mengurus segala macam kontrak, bukan dengan cara seperti ini."
Baekhyun menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wanita tua-namun-tetap-elegan di hadapannya, dan merespon pelan, "Memangnya apa yang bisa diharapkan dari pelukis gagal sepertiku?"
Seungri menautkan alisnya, begitu juga Youngbae dan Chaerin.
"Kontrak? Hah, mereka bahkan mengusir kami dari agensi Anda ketika kami mengutarakan apa niat kami." Baekhyun mendengus sarkatik, tidak mengindahkan iris cokelat gelap Chanyeol yang membesar. "Mereka bilang bahkan aku tidak pantas berdiri di gedung agensimu. Hah, lucu."
Hayi—yang sepertinya paham dengan situasi mereka sekarang, dengan umurnya yang baru 12 tahun—menarik ujung baju Seungri pelan, mencoba mendapatkan perhatian Ayahnya yang tengah fokus dengan kedua pria asing itu. Seungri mengerjapkan kedua kelopak matanya pelan sebelum merendahkan pandangannya ke Hayi dengan heran, "Ada apa?"
"Mereka tidak jahat kok." Respon Hayi yakin. "Kalau mereka jahat, mereka pasti sudah menyiksaku sampai aku tidak akan pernah bertemu Ayah lagi." terusnya dengan menatap iris Seungri lekat.
"…darimana Hayi belajar kata-kata itu?"
Hayi merespon cepat, "Televisi tengah malam."
Seungri menghela napas pelan sebelum mengangguk pelan, mengerti apa yang Hati maksud. Ia membelai kepala Hayi pelan sebelum berbisik "Lain kali jangan nonton televisi tengah malam tanpa Ayah." Dan menghampiri Chaerin, yang kekesalannya masih di puncak ubun-ubun, dan (korban) Baekhyun, yang terlihat terpuruk setelah perkataan adik perempuannya itu.
Duh.
This is the reason why he doesn't want to putting in Chaerin's matters.
"Chaerin-ah."
Chaerin menatapnya tajam, "Apa?"
"Biarkan dia melukismu." Dia bisa merasakan iris mata cokelat cerah wanita—atau pria, terserah—itu mulai terisi dengan sinar harapan, tapi Seungri membiarkannya, "Dia tidak bermaksud buruk."
"Tapi—"
"Kau tidak macam-macam dengan putriku kan?" Tanya Seungri sembari melirik mereka tajam. Mereka berdua mengangguk mantap. "Begini saja, kau, orang cantik di sana, boleh melukis Chaerin dengan satu syarat." Dia menunjuk Baekhyun dengan seringai terlukis jelas di wajahnya, "Kau berani berapa?"
Ekspresi Baekhyun mengeras.
Tertangkap kau.
Seringai Seungri semakin melebar, "Sebenarnya kau boleh saja menjadikan Nenek Tua itu model lukisanmu," Ia merasakan tatapan tajam Chaerin menguliti punggungnya hampir tandas, tapi dia tidak mengindahkannya dan terus berbicara, "Kau tahu CL-ssi model terkenal kan? Memang kau ada uang untuk membayarnya?"
"Aku—"
"Atau mungkin," ia menutup telinga Hayi rapat, "Sebaiknya kau ke Gangnam untuk satu malam dan pulang membawa uang yang cukup untuk membayarnya."
Kali ini giliran ekspresi Chanyeol yang mengeras.
Youngbae menatapnya dengan terkejut, tidak menyangka dengan apa yang Seungri katakan barusan. Seungri hanya mengedipkan sebelah matanya ke Youngbae tanpa sepengetahuan kedua penculik itu, bermaksud mengisyaratkan dia untuk diam karena dia punya rencana sendiri.
"Atau kemungkinan yang lebih baik lagi," Ia melirik Chaerin dengan seringai penuh arti—dan ia bisa menebak bila adiknya itu sangat paham dengan maksudnya, meskipun raut kesal masih terpasang di paras cantiknya—sebelum mulai melantur dengan santainya, "Kau dan teman di sebelahmu, do that, dan jual video kalian ke pasar gelap. Pasti menguntungkan sekali."
Seungri berusaha menahan senyumnya ketika ia melihat reaksi mereka; tangan mungil Baekhyun yang bergenggaman erat dengan tangan besar Chanyeol, mata Baekhyun yang berkaca-kaca namun ia tahan dengan keras kepalanya, dan Chanyeol yang menatapnya tajam.
Dia menang.
"Kau—"
Ia bisa merasakan Chanyeol mulai meraih kerahnya dan bersiap untuk menghajarnya, membuatnya babak belur dan mungkin tidak akan berbentuk lagi—hei, mungkin itu alasan yang bagus untuknya agar tak masuk kantor besok.
Tapi sebelum ia merasakan sesuatu menghajar wajahnya, tangan besar Chanyeol tertahan oleh tangan Youngbae.
Iris Seungri hanya bisa membesar tak percaya.
Sebelum sempat ia bereaksi, Youngbae berhasil membekuk Chanyeol yang penuh amarah di lantai dalam sekali serang. Seungri hanya bisa berkedip sebelum tersenyum—mungkin tersenyum aneh, idiot, atau apalah yang sering Chaerin sebut, ia tidak perduli—dan melepas tangannya dari telinga Hayi.
"Chaerin-ah, bisa kau dan Hayi pulang dulu? Aku masih ada urusan dengan mereka." Ia membelai kepala Hayi pelan sebelum menyuruhnya ke Chaerin—yang masih berdiri dengan angkuhnya di belakangnya—dan tersenyum penuh arti, "Buatkan aku tumis hanwu ya."
Chaerin hanya bisa mengangguk sebelum menggandeng Hayi pelan, mengajaknya kembali ke apartemen Seungri—yang persis di seberang apartemen dua tersangka di hadapannya—dan membalas senyuman Seungri dengan arti yang sama. Setelah memastikan mereka telah masuk ke dalam lift dan tengah menuju ke lantai dasar, Seungri kembali melihat Baekhyun yang mulai kesenggukan dan tatapan Chanyeol yang melihatnya dengan penuh benci.
Aah, enaknya masih muda.
"Youngbae-hyung, tolong lepaskan dia."
Youngbae menurut dan mulai melepaskan Chanyeol, namun tatapan tajam pria itu masih menusuk Seungri, benar-benar kesal dengan semua ucapannya yang benar-benar seperti minta di bunuh.
"Oke." Seungri menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya dan mulai berkata dengan benar-benar tulus. "Maaf untuk barusan."
Chanyeol bergegas beranjak dari posisinya dan menarik kerah Seungri kasar, "Kaupikir semuanya bisa diselesaikan dengan maaf, hah? Aku tidak perduli kau kakak model terkenal CL atau bahkan anak menteri atau apalah! Kau keterlaluan!"
Seungri menghela napas berat. Dia memang salah, dia memang kelewatan, dan dia benar-benar tahu soal itu, "Kalau kau mau menghajarku, silahkan, tapi kau mungkin kehilangan satu kesempatan untuk menjadikan Chaerin sebagai model bocah yang di sana." Jari telunjuknya mengarah ke Baekhyun—yang tangisannya mulai mereda.
Pria besar itu menurunkan cengkramannya dengan berat, "…maksudmu?"
"Sebenarnya bisa saja aku memperbolehkan kalian melukisnya," dia mulai mencengkram tangan Chanyeol kuat. "Tapi mungkin sebaiknya tidak dengan melakukan ini kepadaku atau malah kau yang dalam bahaya."
"Maksudmu sebenarnya apa—"
Satu cengkraman dan ucapan Chanyeol berganti dengan erangan.
"Ini untuk ulah kalian yang sudah menculik putriku sembarangan."
Erangan Chanyeol semakin keras ketika Seungri membantingnya ke lantai.
"Dan yang ini karena kalian sudah membuatku marah."
Baekhyun segera menghampiri Chanyeol dan tangisannya kembali deras. Seungri menghela napas sebelum mendekati mereka berdua dan mengeluarkan kartu namanya, meletakannya di atas tubuh Chanyeol yang mulai pingsan—Seungri yakin dia tidak akan mati dengan perlakuannya barusan. "Kutunggu panggilanmu sampai pukul sembilan malam, atau pacarmu ini tidak bisa terjamin masa depannnya."
Dan dengan itu, Seungri meninggalkan mereka berdua, dengan Youngbae mengikuti di belakangnya.
"…kenapa kau melakukan itu?"
Youngbae menanyakannya tepat di depan apartemen Seungri setelah mereka tak berbicara satu sama lain di mobil.
Seungri hanya menjawab dengan ringan, "Yah, kau tahu Hyung, itulah kekuatan sebagai Ayah."
Pria yang dua tahun lebih tua darinya itu hanya menatapya heran, "Tapi tak usah sekasar itu juga kan?"
Ia hanya menghela napas dan bersandar di dinding apartemennya, mendesah pelah sebelum meresponnya berat, "…aku sendiri pun tidak tahu Hyung. Hayi diculik orang, tentu saja aku panik."
Dan sekarang Seungri tidak berani menatap langsung Hyung-nya setelah tindakannya barusan.
Ia tahu ia salah, tapi dia panik; putri satu-satunya diculik, tentu saja kan?
"…maaf."
Youngbae meminimalisir jarak mereka berdua dan menepuk kepala Seungri pelan, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Bukan maksudku—aku hanya ingin mereka sadar—"
Jemari kekar Youngbae mulai menyapu air mata Seungri dengan ibu jarinya perlahan.
"Aku hanya—aku hanya tidak bisa membayangkan hidupku tanpa Hayi—"
Tubuh Seungri mulai terjerembab ke lantai dan mulai meringkuk, dengan lengan kekar Youngbae memeluknya, mencoba menenangkannya.
"Maaf—"
Seungri terhenti ketika ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh dahinya.
Suara kecupan.
Youngbae mengecup dahinya.
Sebelum sempat bereaksi dengan kejutan—kecupan?—dari Youngbae, ia mulai merasakan bibir Hyung-nya itu mulai merambah ke pelipisnya dan turun ke kedua kelopaknya, dan berbisik halus untuk menenangkannya.
Dengan sedikit kesenggukan, Seungri memejamkan matanya, benar-benar tidak berani menatap Youngbae yang turun mengecup ujung hidungnya dan pipinya, dan zona berbahayanya—
Tunggu.
Jangan bibir.
Jangan di bibir—
Dengan refleks, Seungri menahan dada Youngbae dengan kedua tangannya, mencegah pria dua tahun lebih tua darinya itu melanjutkan 'penghiburan'nya. Dia masih belum siap; setidaknya jangan sekarang—
Seperti tersadar dengan 'tingkah'nya, Youngbae hanya tersenyum sebelum membelai kepala Seungri pelan dan berbisik pelan sebelum membantu juniornya bangun dari posisinya sebelum mengajaknya masuk ke apartemen.
Dan ketika Youngbae mulai menekan kode apartemennya, Seungri masih membayangkan apa yang terjadi barusan sebelum ia merasakan tangannya tergenggam dengan halus dan tertarik pelan masuk ke dalam.
'I'll get you when the time's right.'
(Dia berbisik di telinganya dengan lembut, dengan sedikit meninggalkan napas hangat menerpa tengkuk juniornya.)
'Errm—Halo.'
Seungri mengangkat panggilannya dengan senyum lebar dan meresponnya santai, "Halo Chanyeol-ssi, bagaimana keadaanmu?"
'Terima kasih sekali, berkat Anda, sekarang saya harus menelepon Anda dengan tangan kiri.'
Ia hanya meringis pelan, "Ahahahahaha—oke, maaf."
'Bisa kita ke intinya saja?'
Oh, ada yang tidak sabaran di sini.
"Bisa saja." Seungri mulai merebahkan dirinya di ranjang kesayangannya dan kembali meneruskan perkataannya, "Sesuai yang kujanjikan, kau boleh saja datang kemari dan membiarkan pacarmu melukis Chaerin—"
'Bagaimana Anda tahu—'
Seungri menyeringai kecil, "Jangan pernah remehkan orang tua."
'Err—yah, jadi, lalu—'
"—dengan syarat." Seungri tersenyum. "Akan kuberi tahu syaratnya, tapi setelah kau kemari."
'Baik…lah?'
Ya!
"Baiklah, Park Chanyeol-ssi, datanglah ke apartemen kami bersama Byun Baekhyun besok pada pukul delapan malam. Kutunggu kau di sini." Seungri memutar tubuhnya di ranjangnya berulang-ulang sebelum kembali meneruskan perkataannya, "Oh, hampir saja aku lupa, jangan katakan ada syarat ke Byun Baekhyun-ssi ya."
Ia bisa merasakan lawan bicaranya tengah menautkan alisnya, 'Boleh saya tanya mengapa?'
"Aku ada keperluan denganmu, just two of us."
'Baik.'
Seungri tersenyum puas sebelum mengakhiri panggilan mereka, "Sampai jumpa besok~" dan menyentuh end call di ponselnya.
Oh ya.
Senyumnya menyusut dengan instan.
Besok dia harus masuk kerja.
Looks who confused here~
Kisses and touches everywhere on his skins…
And there's still more—
But yeah, before that, he must face that red devil and his annoying sister.
Tomorrow, he still has a work that he should do.
ya.
yah.
saudarasaudaraaaaaaa.
kenapa sma itu berat sekali—
/gegulingan
aaaaaaa.
ya. maaf baru update sekarang, sma itu gila aaaaaaaaaaaa.
laptop pun jarang tersentuh,
twitter jarang dibuka,
saya out-of-society,
gwaaaah.
/stopudah.
oke, saya gamau banyak ngomong, terima kasih yang sudah menunggu (dan silent reader, mungkin?), dan untuk yang review, saya sudah balas lewat pm, dan untuk anon, terima kasih sudah me-review!
maaf kalau mungkin tidak terlalu sreg, tapi yah… saya baru sempat orz
btw untuk bahasa prancisnya, saya baru latihan, jadi kosakatanya masih terbatas eue /terus
sampai jumpa di chapter berikutnya!
Adieu!
2013 © Miharu Koyama
All right reseved.
